Anda di halaman 1dari 47

TRAUMA PADA

ANAK
Pendahuluan
Cedera tetap menjadi penyebab paling sering menyebabkan kematian dan kecacatan di masa kanak-kanak.

10 juta anak hampir 1 dari setiap 6 anak di Amerika Serikat membutuhkan perawatan gawat darurat karena
cedera. Setiap tahun, lebih dari 10.000 anak-anak di Amerika Serikat meninggal karena cedera yang serius.

Kegagalan untuk mengamankan jalan napas yang terganggu, mendukung pernapasan, dan mengenali dan
merespons intraabdomen dan perdarahan intrakranial adalah penyebab utama terjadinya kegagalan
resusitasi pada pasien anak dengan trauma berat.

Karenanya, dengan menerapkan prinsip ATLS untuk perawatan anak-anak yang terluka, anggota tim trauma
dapat menimbulkan dampak signifikan dalam mempengaruhi kelangsungan hidup.
Jenis dan Tipe Cedera
Tabel 10-1 Mekanisme umum Cedera dan Jenis terkait cedera pada pasien anak
Mekanisme Cedera Jenis Cedera
Pejalan kaki ditabrak  Kecepatan rendah: dapat terjadi fraktur ekstremitas bawah.
motor  Kecepatan tinggi: Multiple trauma, cedera kepala dan leher, fraktur ekstremitas bawah

Tabrakan yang dialami  Tidak terkendali: Multiple trauma, cedera kepala dan leher, kulit kepala dan laserasi wajah
penumpang motor  Dapat terkendali: cedera thorax dan abdomen, fraktur tulang belakang bagian bawah

Jatuh dari tempat  Rendah: Fraktur ekstremitas atas


tinggi  Sedang: Cedera kepala dan leher, fraktur ekstremitas atas dan bawah
 Tinggi: Multiple trauma, cedera kepala dan leher, fraktur ekstremitas atas dan bawah
Jatuh saat bersepeda  Tanpa helm: laserasi kepala dan leher, laserasi kulit kepala dan wajah, fraktur ekstremitas atas
 Dengan helm: fraktur ekstremitas atas
 Terkena stang sepeda : cedera intraabdomen
Karakteristik Unik Pada
Anak
Karakteristik anatomi dan fisiologis yang unik dari populasi ini menyebabkan mekanisme cedera
untuk menghasilkan jenis cedera yang berbeda.

Misalnya, cedera pada anak-anak yang serius adalah cedera tumpul yang melibatkan otak.
Adanya apnea, hipoventilasi, dan hipoksia terjadi lima kali lebih sering daripada hipovolemia
dengan hipotensi pada anak-anak yang mengalami trauma yang serius.

Karena itu, protokol perawatan untuk cedera pada pasien anak menekankan pada manajemen
airway dan breathing secara agresif.
Ukuran, Bentuk dan Area
Permukaan
Anak-anak memiliki massa tubuh yang lebih kecil daripada orang dewasa, energi yang diberikan dari
bagian kendaraan yang menabrak atau akibat jatuh, menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Energi
yang terpusat ini ditransmisikan ke tubuh yang memiliki lebih sedikit lemak, lebih sedikit ikat
jaringan, dan organ yang berada lebih proksimal dibandingkan pada orang dewasa

Faktor-faktor ini mengakibatkan frekuensi tinggi terjadinya multiple cedera terlihat pada populasi
anak. Selain itu, kepala anak secara proporsional lebih besar dari orang dewasa, sehingga
menghasilkan lebih banyak cedera tumpul pada otak.

Rasio area permukaan tubuh anak dengan massa tubuh paling tinggi pada saat lahir dan menurun
saat anak dewasa. Kehilangan energi panas adalah faktor yang berat. Hipotermia dapat berkembang
dengan cepat dan menjadi penyulit pada perawatan pasien anak dengan hipotensi.
Skeleton (Tulang Rangka)
Pada anak, kalsifikasi belum lengkap, kerangka anak terjadi pertumbuhan aktif, dan lebih lentur
dari pada orang dewasa.

Oleh karena itu, patah tulang lebih kecil kemungkinannya terjadi pada anak-anak, bahkan ketika
mereka mengalami kerusakan organ internal.
Status Psikologis
Kemungkinan terjadinya trauma psikologis harus dipertimbangkan pada anak-anak yang
mengalami cedera.

Pada anak kecil, ketidakstabilan emosional sering terjadi mengarah ke perilaku psikologis regresif
ketika stres, rasa sakit, dan ancaman lain yang dirasakan dalam lingkungan anak

Kehadiran orang tua atau pengasuh lainnya selama evaluasi dan perawatan, termasuk resusitasi,
dapat membantu dokter dengan meminimalkan anak yang terluka ketakutan dan kecemasan
alami
Efek Jangka Panjang dari
Cedera
Pertimbangan utama dalam merawat anak-anak yang terluka adalah efek dari cedera itu pada
pertumbuhan dan pengembangan selanjutnya.

Anak-anak harus pulih dari peristiwa traumatis dan kemudian melanjutkan pertumbuhan dan
perkembangan yang normal.

Potensi efek fisiologis dan psikologis cedera pada proses ini dapat terjadi, terutama dalam kasus-kasus
melibatkan fungsi jangka panjang, deformitas pertumbuhan, atau perkembangan abnormal berikutnya.

Trauma tidak hanya berbicara mengenai selamanya anak dari kematian, tetapi hal yang juga penting
adalah kualitas kehidupan anak pada masa yang akan datang.
Bila terjadi cedera pada tulang paha (femur)dapat terjadi adanya ketidaksesuaian panjang
kaki sehingga menyebabkan kesukaran dalam berlari atau berjalan.

Bila terjadi fraktur mengenai pusat pertumbuhan tulang vertebra torakalis dapat
mengakibatkan terjadi scoliosis, kifosis bahkan kelainan pada gibbus

Beberapa pasien melaporkan kualitas hidup yang baik, dan kebanyakan mendapatkan pekerjaan
yang menguntungkan, sehingga membenarkan dilakukannya tindakan resusitasi yang agresif.
Peralatan
Keberhasilan penanganan awal dan penatalaksanaan
trauma pada anak didukung oleh tersediannya dengan
segera alat-alat dengan ukuran yang sesuai
Resusitasi Tape. A. Pita resusitasi berbasis panjang, seperti Pita Darurat Anak Broselow®,
adalah yang ideal tambahan untuk secara cepat menentukan berat berdasarkan panjang
untuk volume cairan yang tepat, dosis obat, dan ukuran peralatan. B. Detail, menunjukkan
dosis obat yang direkomendasikan dan kebutuhan peralatan untuk pasien anak
berdasarkan panjangnya.
AIRWAY
Jalan napas yang baik dalam rangka untuk mencukupi oksigenasi merupakan tujuan utama.

Ketidakmampuan dalam memperbaiki dan atau menjaga jalan napas yang baik dengan
kegagalan oksigenasi dan ventilasi adalah penyebab utama yang tersering dari cardiac arrest
(henti jantung) pada anak.

Oleh karena itu jalan napas pada anak merupakan prioritas utama.
ANATOMI
Semakin kecil seorang anak, semakin besar terdapatnya disproporsi antara ukuran tulang kepala
dengan wajah, hal tersebut mengakibatkan daerah daya topang daerah belakang faring sebagai
penyangga dibutuhkan lebih besar sesuai dengan kekuatan fleksi pasif dari tulang leher pada
occiput yang relative lebih besar.

Sehingga jalan nafas anak dilindungi oleh posisi wajah yang agak mendongak yaitu: sedikit
kearah atas dan depan (“Sniffing Position”: Posisi menghirup)
GAMBAR 10-2 Positioning untuk Pemeliharaan Airway.
A. Penempatan anak yang tidak tepat untuk
mempertahankan jalan napas paten.
Ketidakseimbangan antara ukuran tengkorak anak dan
midface menyebabkan kecenderungan faring posterior
untuk melengkung ke depan. Oksiput yang besar
menyebabkan fleksi pasif dari tulang belakang leher.
B. Penempatan anak yang benar untuk
mempertahankan jalan napas paten. Hindari fleksi pasif
dari tulang belakang leher dengan menjaga bidang
muka tengah sejajar dengan papan tulang belakang
dalam posisi netral, alih-alih dalam "posisi mengendus."
seluruh tubuh bayi atau balita akan mempertahankan
penyelarasan kolom tulang belakang yang netral.
PENANGANAN
Jalan nafas lurus dioptimalkan dengan bidang wajah dalam posisi parallel dengan alas stretcher/
tandu dan dipertahankan dalam kesegarisan posisi netral. Jalan nafas juga dapat dibuka dengan”chin
lift" atau “jaw thrust maneuver”.

Setelah rongga mulut dan orapharynx dibersihkan dari kotoran yang ada, baru diberikan oksigen.

Bila pasien dalam keadaan tidak sadar, mempertahankan jalan nafas sebaiknya dilakukan secara
mekanis.

Sebelum dicoba tindakan untuk mempertahankan jalan nafas secara mekanis, pasien anak tersebut
harus diberikan oksigen terlebih dahulu
1. Oral Airway
Alat ini hanya digunakan bila anak dalam keadaan tidak sadar, sebab bila masih sadar biasanya
akan terjadi muntah.

Tindakan pemasangan oral airway seperti kepada pasien dewasa (dimasukan secara terbalik
kemudian diputar 180° didalam mulut) tidak dianjurkan dilakukan pada pasien anak trauma
dan atau pendarahan dari struktur jaringan lunak oropharynx.

Pemasangan alat ini sebaiknya dimasukan langsung kedalam oropharynx dengan hati-hati dan
gentle dan bila diperlukan dapat dibantu dengan spatula lidah.
2. Intubasi Orotracheal
Indikasi:
Anak yang mengalami trauma kepala berat yang membutuhkan hyperventilasi
kondisi dimana anak tidak dapat dipertahankannya jalan nafas secara adekuat
Anak yang menunjukkan tanda-tanda kegagalan ventilasi
Anak yang menderita hipovolemia signifikan yang menderita dan memiliki sensorium yang
tertekan atau memerlukan intervensi operatif
Intubasi Orotracheal merupakan cara yang paling aman untuk menjamin jalan nafas dan ventilasi anak.

Teknik sederhana untuk mengukur ukuran ETT yang diperlukan untuk pasien tertentu adalah
memperkirakan diameter nares eksternal anak atau ujung jari terkecil anak dan menggunakan tabung
dengan diameter yang sama.

Penderita yang memerlukan tindakan intubasi harus selalu dilakukan pre-oksigenisasi terlebih dahulu

Intubasi Orotracheal dengan mobilisasi dan proteksi terhadap tulang leher adalah metoda yang sangat
dianjurkan untuk memperoleh jalan nafas yang terkontrol
Setelah glotis terbuka, tube endotracheal diletakkan pada jarak 2-3 cm di bawah pita suara.

Auskultasi dilakukan pada kedua hemitoraks di daerah aksila untuk meyakinkan tube telah terletak
pada posisi yang tepat dan kedua sisi dada (paru) mendapat ventilasi yang adekuat (tidak masuk ke
cabang utama brochus kanan).

Dokter harus mengevaluasi suara napas secara berkala untuk memastikan bahwa tabung tetap pada
posisi yang sesuai dan mengidentifikasi kemungkinan terjadinya disfungsi ventilasi.

Jika ada keraguan tentang penempatan ETT yang benar yang tidak dapat diselesaikan secepatnya,
lepaskan tabung dan segera ganti
Kebanyakan pusat trauma menggunakan protokol untuk intubasi emergensi yang dikenal sebagai
“Drug Assisted lntubation” , sebelumnya dikenal sebagai “Rapid Sequence Intubation” dimana
harus diperhatikan dan dicatat mengenai berat badan, tanda-tanda vital (nadi dan tekanan
darah) dan derajat kesadaran untuk memilih jalur ”algorithm" mana yang akan dipilih sesuai
protokol
3. Krikotiroidotomi
Ketika jalan napas/airway tidak dapat dipertahankan atau dikontrol dengan ventilasi bag mask
valve atau intubasi orotracheal, laryngeal mask airway (LMA), intubasi LMA atau jarum
cricothyroidotomy diperlukan

Krikotiroidotomi dengan pembedahan (Surgical krikotiroidatomi) sangat jarang dilakukan pada


bayi dan anak, dan biasanya dilakukan pada anak yang lebih besar dimana membrane
cricotiroidnya lebih mudah dipalpasi (Biasanya umur 12 tahun).
BREATHING
Faktor-faktor dalam mengevaluasi dan mengelola pernapasan dan ventilasi pada pasien trauma
pediatrik yang cedera adalah adanya pertukaran gas yang terganggu

Oksigenasi dan eliminasi karbondioksida yang dihasilkan dari perubahan pernapasan yang
disebabkan oleh masalah mekanis seperti pneumotoraks dan cedera paru-paru akibat memar
atau aspirasi.

Dalam kasus tersebut, lakukan tindakan pencegahan yang sesuai seperti tabung torakostomi dan
ventilasi dibantu.
PERNAFASAN DAN
VENTILASI
Frekuensi pernafasan pada anak menurun sesuai umur. Bayi mempunyai frekuensi 30 sampai 40
kali per menit sedangkan pada anak yang lebih besar sekitar 15 sampai 20 kali per menit.

Tidal Volume spontan normal bervariasi dari 4-6 nL/ kg untuk bayi dan anak., meskipun
diperlukan sedikit lebih besar sekitar 6-8 ml/kg dan adakalanya diperlukan hingga 10 mL/Kg
untuk ventilasi.

Ketika ambu bag dewasa digunakan untuk ventilasi pasien anak, risiko barotrauma meningkat
secara signifikan. Penggunaan masker pediatrik dianjurkan untuk anak di bawah 30 kg.
Hipoxia adalah penyebab tersering dari ”cardiac arrest” pada anak. Walaupun demikian sebelum
terjadi ”cardiac arrest”, hypoventilasi menyebabkan respirasi asidosis yang merupakan kelainan
keseimbangan asam basa tersering yang terjadi selama resusitasi pada pasien trauma anak.

Dengan ventilasi dan perfusi yang adekuat, pasien anak akan mempunyai kemampuan untuk
memper-tahankan PH yang relatif normal.

Ventilasi dan perfusi yang tidak adekuat pada saat pemberian sodium bicarbonat sebagai usaha
untuk koreksi asidosis, malahan berakibat hypercarbia serta memperburuk asidosis.
Needle dan Tube
Thoracostomi
Cedera yang memerlukan dekompresi pleura (Tension Pneumothorak) diperlukan pemasangan
needle tepat diatas iga ke 3 pada linea mid clavicula dengan memakai jarum nomer 14 sampai
18 untuk bayi dan anak kecil.

Chest tube yang dipakai adalah yang ukurannya kecil (tabel 10-3) dan dimasukan kedalam
rongga dada ke arah superior posterior, dengan membuat lubang saluran di atasnya setelah
dilakukan insisi terlebih dahulu di atas iga yang bersangkutan.

Lokasi insersi chest tube sama seperti pada dewasa yaitu pada ruang antar iga ke-lima di
anterior garis midaksila.
SIRKULASI DAN SYOK
Faktor-faktor dalam mengevaluasi dan mengelola sirkulasi
pada pasien trauma pediatrik termasuk mengenali
kompromi peredaran darah, menentukan secara akurat
berat dan volume peredaran darah pasien, memperoleh
akses vena, mengelola cairan resusitasi dan / atau
penggantian darah, menilai resusitasi, dan termoregulasi.
Penilaian Sirkulasi
Cedera pada anak-anak dapat menyebabkan kehilangan darah yang signifikan.

Cadangan fisiologis anak yang meningkat memungkinkan untuk mempertahankan tekanan


darah sistolik dalam kisaran normal, bahkan dalam keadaan syok

Diperlukan hingga 30% penurunan volume darah sehingga terjadi penurunan tekanan darah
sistolik anak. Ini dapat menyebabkan klinisi yang tidak mengenal perubahan fisiologis anak-anak
pada syok hipovolemik.
Meskipun respons utama seorang anak terhadap hipovolemia adalah takikardia, tanda ini juga
dapat disebabkan oleh rasa sakit, ketakutan, dan stres psikologis

Tanda-tanda lain kehilangan darah pada anak-anak termasuk progresif melemahnya denyut
perifer, penyempitan tekanan nadi menjadi kurang dari 20 mm Hg, bintik kulit (yang
menggantikan kulit lembab pada bayi dan anak kecil), ekstremitas dingin dibandingkan dengan
badan kulit, dan penurunan tingkat kesadaran dengan respons nyeri tumpul.
Tabel 10-4 Respons sistemik kehilangan volume darah pada pasien anak
Sistem Kehilangan Volume Darah ringan Kehilangan Volume Darah sedang (30- Kehilangan Volume Darah berat
(<30%) 45%) (>45%)
Kardiovaskular Peningkatan denyut jantung; lemah, Peningkatan denyut jantung secara Takikardia diikuti oleh bradikardia;
pulsa perifer sudah; nyata; lemah, denyut nadi sentral; pulsa sentral sangat lemah atau tidak
tekanan darah sistolik normal (80 - 90 tidak ada denyut perifer; tekanan ada; tidak ada denyut perifer;
+ 2 x tahun dalam tahun); tekanan darah sistolik normal rendah (70 - 80 + hipotensi (<70 + 2 × tahun dalam
nadi normal 2 × tahun dalam tahun); tekanan nadi tahun); tekanan nadi menyempit
menyempit (atau tekanan darah diastolik tidak
terdeteksi)

Sistem Saraf Pusat Gelisah,Iritabel, bingung Letargis, respon tumpul terhadap Koma
nyeria
Kulit Dingin, berbintik, CRT memanjang Sianosis, CRT memanjang dengan Pucat dan Dingin
nyata
Urin Outputb Sedikit hingga sangat sedikit Minimal Tidak ada

a. respons tumpul seorang anak terhadap rasa sakit dengan kehilangan volume darah sedang dapat menunjukkan penurunan respons
terhadap pemasangan kateter IV.
b. Monitor urin setelah dekompresi awal oleh kateter urin. Normal rendah adalah 2 ml / kg / jam (bayi), 1,5 ml / kg / jam (anak kecil), 1 ml /
kg / jam (anak lebih tua), dan 0,5 ml / jam / jam (remaja). Kontras IV secara palsu dapat meningkatkan output urin.
Penilaian Berat Badan dan
Volume Sirkulasi Darah
Metode paling sederhana dan tercepat untuk menentukan berat badan anak untuk menghitung
volume cairan dan dosis obat secara akurat adalah bertanya kepada orang tua anak. Jika tidak
didapatkan data, dapat menggunakan alat resusitasi berbasis panjang sangat membantu

Metode terakhir untuk memperkirakan berat dalam kilogram adalah rumusnya ([usia 2 x dalam
tahun] + 10).

Tujuan dari resusitasi cairan adalah untuk dengan cepat mengganti volume yang beredar.
Volume darah bayi dapat diperkirakan 80 mL / kg, dan anak usia 1-3 tahun pada 75 mL / kg, dan
anak di atas usia 3 tahun pada 70 mL / kg.
Akses Vena
Perifer perkutan (dua percobaan) - Fossa intubital (e) atau vena saphenous di pergelangan kaki
Penempatan intraoseus— (1) Tibia antteromedial, (2) femur distal. Komplikasi dari prosedur ini termasuk
selulitis, osteomielitis, sindrom kompartemen, dan fraktur iatrogenik. Situs yang disukai untuk kanulasi
intraosseous adalah tibia proksimal, di bawah tingkat tuberositas tibialis. Situs alternatif adalah femur
distal, meskipun tibia proksimal kontralateral lebih disukai. Kanulasi intraoseus tidak boleh dilakukan
pada ekstremitas dengan fraktur yang diketahui atau diduga.
Penempatan perkutan — Vena femoralis
Penempatan perkutan — vena jugularis atau subklavia eksternal atau internal (harus dicadangkan untuk
ahli anak; jangan gunakan jika ada gangguan jalan napas, atau kerah serviks diterapkan)
Venous Cutdown — vena saphena di pergelangan kaki
GAMBAR 10-5 Infus Intraoseus, A. femur distal, B.
proksimal tulang kering. Jika akses perkutan tidak
berhasil setelah dua upaya, pertimbangkan memulai
infus intraoseus melalui jarum sumsum tulang (18
gauge pada bayi, 15 gauge pada anak kecil)
Resusitasi Cairan dan
Penggantian Darah
Resusitasi cairan untuk anak-anak yang cedera berdasarkan berat badan, dengan tujuan
mengganti volume intravaskular yang hilang. Adanya perdarahan mungkin terbukti dengan
hilangnya 25% dari volume darah.

Pemberian intravena larutan kristaloid isotonik sebagai bolus 20 mL / kg awal, diikuti oleh satu
atau dua bolus kristaloid isotonik tambahan 20 mL / kg sambil menunggu anak respon. Jika anak
menunjukkan bukti perdarahan setelah bolus kristaloid kedua atau ketiga, 10 mL / kg PRC dapat
diberikan.
Memantau anak-anak yang cedera dengan hati-hati untuk respons terhadap resusitasi cairan
dan kecukupan perfusi organ. Adanya perubahan hemodinamik stabil di lihat dari:
•Memperlambat denyut jantung (usia sesuai dengan perbaikan tanda-tanda fisiologis lainnya)
•Adanya sensasi
•Kembalinya nadi perifer
•Kembalinya warna kulit normal
•Ektremitas teraba hangat
•Peningkatan tekanan darah sistolik dengan kembali normal sesuai usia
•Tekanan nadi meningkat (> 20 mm Hg)
•Keluaran urin 1 hingga 2 mL / kg / jam (tergantung usia)
Anak-anak umumnya memiliki satu dari tiga respons terhadap resusitasi cairan:
Kondisi sebagian besar anak-anak akan distabilkan dengan hanya menggunakan cairan kristaloid,
dan darah tidak diperlukan; anak-anak ini dianggap sebagai “responden”. Beberapa anak
merespons kristaloid dan resusitasi darah; anak-anak ini juga dianggap sebagai responden.
Beberapa anak memiliki respons awal terhadap cairan kristaloid dan darah, tetapi kemudian
terjadi kemunduran; kelompok ini disebut "responden sementara.“
Anak-anak lain sama sekali tidak menanggapi cairan kristaloid dan infus darah; kelompok ini
disebut sebagai "nonresponders." Responden sementara dan nonresponders adalah kandidat
untuk infus cepat produk darah tambahan, aktivasi protokol transfusi dan pertimbangan untuk
operasi awal. Sama seperti resusitasi orang dewasa, pemberian produk darah sebelumnya pada
pasien refraktori mungkin tepat.
GAMBAR 10-6 Diagram Alir Resusitasi untuk Pasien Anak dengan hemodinamik
normal dan abnormal.
Produksi Urin (Urine Output)
Produksi urin bervariasi sesuai dengan usia dan ukuran: Produksi urin pada bayi adalah 1-2 mL / kg /
jam; untuk anak-anak di atas usia satu hingga remaja tujuannya adalah 1-1,5 mL / kg / jam; dan 0,5
mL / kg / jam untuk remaja.

Pengukuran Produksi urin dan gravitasi urin spesifik adalah metode yang dapat diandalkan untuk
menentukan kecukupan resusitasi volume.

Ketika volume darah yang bersirkulasi telah dipulihkan, output urin harus kembali normal

Pengunaan kateter urin dapat megukur produksi urin yang akurat dari output urin anak untuk pasien
yang menerima resusitasi volume besar.
Termoregulasi
Adanya perbandingan yang besar dari luas permukaan tubuh terhadap masa tubuh pada anak,
meningkatkan pertukaran panas sesuai dengan suhu lingkungan dan berefek langsung terhadap
kemampuan anak untuk mengatur suhu dalam tubuh (core temperature).

Kulit yang tipis serta kurangnya jaringan lemak bawah kulit pada anak berakibat lebih
meningkatkan kehilangan panas (secara evaporasi) dan pengeluaran kalori tubuh.

Kondisi hipotermia akan sangat mempengaruhi pasien trauma anak sehingga refrakter terhadap
pengobatan, memperpanjang waktu koagulasi dan mempengaruhi fungsi susunan syaraf pusat
(SSP).
Sehingga pada saat pasien anak sedang dilakukan pemeriksaan awal
(”initial survey”) dari dalam fase resusitasi seharusnya diberi lampu
pemanas di atas tubuhnya atau pemanas lain berupa ”heater” atau
selimut penghangat untuk mempertahankan suhu tubuh.
Penghangatan ini juga dilakukan terhadap kondisi ruangan, cairan
infus, transfusi darah dan lain-lain.
Resusitasi Kardio-Pulmo
Anak-anak yang diresusitasi kardiopulmoner (CPR) di lapangan dengan kembalinya sirkulasi
spontan sebelum tiba di pusat trauma memiliki sekitar 50% kemungkinan neurologis utuh dapat
bertahan hidup.

Anak-anak yang datang ke unit gawat darurat masih dalam serangan jantung traumatis memiliki
prognosis yang buruk.

Anak-anak yang menerima CPR selama lebih dari 15 menit sebelum kedatangan ke UGD dapat
tidak selamat.
Trauma Dada
Adanya trauma pada dada merupakan tanda kemungkinan adanya trauma organ tubuh yang
lain, karena lebih dari dua pertiga anak yang mengalami trauma dada ditemukan pula adanya
cedera organ tubuh yang lain.

Kejadian trauma dada pada anak kebanyakan adalah akibat trauma tumpul pada kecelakaan
kendaraan bermotor. Kondisi elastis dan lemahnya dinding dada anak memungkinkan transmisi
kekuatan trauma dari tulang-tulang dada ke arah paru-paru dan mengakibatkan cedera jaringan
paru-paru tersebut

Mobilitas dari struktur mediastinum membuat pasien anak lebih sensitif terhadap terjadinya
tension pneumotoraks.
Cedera secara bermakna pada satu tempat jarang terjadi, dan biasanya seringkali menjadi
komponen dari trauma multi organ yang berat.

Kejadian trauma dada meningkat setelah usia 10 tahun. Sebagian besar trauma dada pediatrik
dapat berhasil dikelola dengan menggunakan kombinasi yang tepat dari perawatan suportif dan
tabung torakostomi. Thoracotomy umumnya tidak diperlukan pada anak-anak.
Trauma Abdomen
Kebanyakan trauma abdomen pada anak terjadi sebagai akibat dari trauma tumpul terutama
yang berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas dan akibat jatuh.

Luka tembus abdomen memerlukan pertolongan yang tepat dengan bantuan seorang ahli
bedah. Keadaan hipotensi pada seorang anak dengan luka tembus abdomen memerlukan
intervensi bedah secepat mungkin.
Penilaian