Anda di halaman 1dari 8

SEMINAR KELOMPOK

LAPORAN PRAKTIK KEPERAWATAN GERONTIK


DALAM KONTEKS ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA
DI RUANG GERIATRI DASAR RSUP DR KARIADI SEMARANG

Disusun Oleh :
Kelompok X
Latar Belakang
Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan
secara degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan
15 pada diri manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif,
perasaan, sosial dan sexual. Begitu rentang terkena penyakit akibat
menurunnya sistem imunitas (Azizah, 2011).
Benigna Prostat Hipertropi adalah pembesaran prostat yang
mengenai uretra, menyebabkan gejala urinaria (Nursalam dan
Fransisca, 2006). Pada pasien BPH usia lanjut sangat memerlukan
tindakan yang tepat untuk mengantisipasinya. Sebagai salah satu
tindakan yang akan dilakukan adalah dengan operasi prostat atau
prostatektomi untuk mengangkat pembesaran prostat. Dari
pengangkatan prostat, pasien harus dirawat inap sampai keadaannya
membaik, guna mencegah komplikasi lebih lanjut. (Suwandi, 2007).
Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan kelompok
lansia dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH) yang di rawat
di ruang geriatri dasar RSUP DR Kariadi Semarang.
2. Tujuan Khusus
• Mendeskripsikan tentang konsep penuaan
• Mendeskripsikan tentang konsep Benigna Prostat
Hipertropi (BPH)
• Menjelaskan tentang asuhan keperawatan kelompok lansia
dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH) yang di rawat di
ruang geriatri dasar RSUP DR Kariadi Semarang.
Tinjauan Teori

PENUAAN BPH

Menua atau menjadi tua adalah suatu


Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH )
keadaaan yang terjadi didalam
adalah pembesaran jinak
kehidupan manusia. Proses menua
kelenjar prostat, disebabkan oleh
merupakan proses sepanjang hidup,
karena hiperplasi beberapa atau
tidak hanya dimulai dari suatu waktu
semua komponen prostat
tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
meliputi jaringan kelenjar /
kehidupan. Menjadi tua merupakan
jaringan fibromuskuler yang
proses alamiah, yang berarti seseorang
menyebabkan penyumbatan
telah melalui tiga tahap kehidupannya,
uretra pars prostatika
yaitu anak, dewasa dan tua.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
• Biodata
Klien bernama Tn.S berusia 60 tahun berjenis
kelamin laki-laki, pendidikan terakhir klien adalah
SMP, suku jawa dan beragama islam. Klien tinggal di
Semarang, klien masuk rumah sakit pada tanggal 18
April 2019 dengan diagnosa medis Benigna Prostat
Hiperplasia. Penanggung jawab Ny berusia 55
tahun, hubungan dengan klien adalah sebagai
seorang istri, pendidikan terakhir SMP dan
merupakan seorang Ibu Rumah Tangga (IRT).
• Analisa Data
Data yang didapat dari hasil pengkajian : Klien mengatakan nyeri saat
BAK,BAK tidak tuntas,BAK bewarna merah, kepala pusing dan tengkuk terasa
kaku. P: pasien mengatakan nyeri saat BAK, nyeri berkurang saat istirahat, Q:nyeri
yang dirasakan seperti tertimpa benda berat , R: nyeri yang dirasakan diperut
bagian bawah , S: skala nyeri 7, T: nyeri yang dirasakan hilang timbul, nyeri
selama kurang lebih 10 menit. Data objektif yang didapat adalah Klien tampak
meringis, VAS Skala nyeri 7 (0-10), Klien tampak lemes dan pusing . TTV : TD:
160/80 mmHg N: 85x/m S:S:36,50CTB: 156cm BB: 50kg RR: 22X/m SpO2 :99%.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
cedera biologis.
Data selanjutnya yang ditemukan di klien adalah : Klien mengatakan
mengatakan kepala pusing, leher bagian belakang terasa kaku dan kencang, klien
juga mengatakan merasa lemas dan dada berdebar debar. Data objektif yang
didapat Klien tampak lemah, CRT 3 dtk, TD: 160/80 mmHg N: 85x/m S:36,50C TB:
156cm BB: 50kg RR: 22X/m SpO2 :99 %. Diagnosa Keperawatan yang muncul
adalah Gangguan Perfusi jaringan otak berhubungan dengan Penyumbatan
pembuluh darah- vasokontriksi.
Data lain yang ditemukan adalah : Klien mengatakan bagian anggota
tubuh sebelah kiri mengalami stroke. Data objektif yang didapat adalah Klien
tampak lemes, Bagian anggota tubuh sebelah kiri tidak bisa digerakkan. TTV: TD:
160/80 mmHg N: 85x/m S:36,50C TB: 156cm BB: 50kg RR: 22X/m SpO2 :99 %.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah
B. PERENCANAAN

HAMBATAN MOBILITAS
NYERI AKUT
FISIK

NIC : PAIN NIC : Excercise


MANAGEMENT Therapy
D. Evaluasi
Evaluasi pada diagnosa keperawatan yang pertama antara lain : S :
Pasien mengatakan setelah diberikan terapi non farmakologi nyeri
berkurang, O : Klien kooperatif, Klien tampak rileks dan nyaman, A :
Masalah nyeri akut pada klien teratasi sebagian, P : Pertahankan
intervensi. Diagnosa keperawatan yang kedua : S : Pasien mengatakan
setelah diberikan terapi latihan isometric, pasien merasa nyaman O :
Klien kooperatif dan Klien tampak rileks dan nyaman , A : Masalah
ganggu perfusi jaringan serebral pada klien teratasi, P : Pertahankan
intervensi. Sedangkan untuk diagnosa keperawatan yang ketiga : S:
Klien mengatakan sudah bisa menggerakan badannya sedikit-sedikit,
O: Nampak klien miring kanan dan kiri, A: masalah hambatan
mobilitas fisik pada klien teratasi sebagian , P:Lanjutkan intervensi