Anda di halaman 1dari 46

BASIC SEA SURVIVAL

DATE
Latar Belakang :

Basic training untuk pekerja di industri Oil & Gas


1. Basic Fire Fighting
2. First Aid Training
3. Basic Sea Survival
Tujuan Pelatihan
1. Meningkatkan keahlian dalam bidang
pencegahan dan penyelamatan diri terhadap
kecelakaan di perairan.
2. Memberikan pengetahuan dan keterampilan
untuk mampu bertahan hidup saat terjadi
kecelakaan.
Keadaan Darurat
Faktor Penyebab Keadaan Darurat :

Manusia / Crew

Teknis

Alam
Kecelakaan di laut bisa
diklasifikasikan menjadi 2 (dua) :

1. Controlled
Bila terjadi accident dan masih memiliki waktu
cukup, personal on board dapat dievakuasi
menggunakan alat-alat keselamatan yang tersedia
baik di kapal maupun offshore platform (misal:
sekoci, lifecraft).
2. Uncontrolled
Melompat ke laut merupakan tindakan yang
terakhir dilakukan bila diperkirakan tidak memiliki
waktu cukup untuk pindah ke peralatan-peralatan
keselamatan yang tersedia baik di platform
maupun kapal.
Prinsip Bertahan Hidup di Laut
 Pengetahuan, peralatan dan kemauan hidup adalah modal utama
 Jangan panik, jangan buka pakaian dan jangan buang alat keselamatan
 Lakukan dengan tertib perintah pimpinan
 Jangan meloncat ke laut bila tidak perlu
 Bila pakai rompi penolong jangan melompat dari ketinggian ≥ 4,5 – 5
meter
 Berusaha untuk tetap hangat, jika mungkin untuk tetap kering.
 Jangan berenang kecuali sangat diperlukan.
 Gunakan perlengkapan survival sesuai dengan petunjuk.
 Gunakan peralatan yang anda temukan.
 Jangan makan / minum bahan – bahan yang mengandung alcohol,
bahan-bahan yang mengandung protein (susu) ”menambah haus”
 Jangan minum urine atau air laut karena akan menambah kebutuhan
air / haus.
Resiko – resiko bahaya yang mungkin
terjadi di laut lepas maupun daerah2
tepi perairan :

1.Man Over Board (terjatuh ke laut)


2.Kebakaran
3.Kapal tenggelam
4.Kecelakaan saat transfer pekerja dari jetty ke
boat, dari boat ke kapal
Contoh musibah – musibah di perairan
Alat – alat Keselamatan (Life Saving
Appliance )
 Alat penolong perorangan (personal) :
1.Pelampung penolong (Life bouy)
2.Baju penolong ( Life Jacket)
Life Jacket dan Life Buoy, adalah alat untuk mengapungkan orang
yang menggunakannya dengan benar diatas air / laut.

3. Sarana pelindung panas (Thermal Protectiv Aid)


Adalah pakaian yang terbuat dari bahan isolasi yang berfungsi untuk
melindungi orang yang menggunakannya, sehingga panas tubuh yang
hilang karena suhu dingin dapat dikurangi.

4.Pakaian cebur (Immersion suit)


yaitu suatu pakaian yang digunakan untuk melindungi tubuh dari
hilangnya
suhu tubuh dan mempertahankan suhu tubuh terhadap cuaca dingin.
Alat – alat Keselamatan (Life Saving
Appliance )
 Alat-alat penolong beregu (Team Work) :
1.Sekoci penolong Life boat)
adalah pesawat yang dapat digunakan untuk menyelamatkan jiwa orang yang dalam keadaan
bahaya sewaktu orang tersebut meninggalkan kapal.

2.Rakit penolong (Life raft)

3.Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft)


adalah suatu rakit yang tidak kaku dan berongga. Pesawat diisi gas agar mengapung yang digunakan
untuk menyelamatkan orang yang mendapat kecelakaan di kapal dan terapung di laut.

4.Rakit penolong tegar (Rigid Life Raft)

5.Sekoci penyelamat ( Rescue Boat)


adalah sekoci yang dirancang untuk menyelamatkan orang dalam keadaan bahaya (Man Over Bord)
dan membantu sekoci penolong (Survival craft)

6.Alat pelempar tali ( Line Throwing Apparatus)


yaitu perlengkapan untuk melemparkan tali yang menghubungkan antara kapal atau lifeboat /
liferaft yang membutuhkan pertolongan.
Alat – alat Keselamatan (Life Saving
Appliance )
 Alat-alat Komunikasi ( Emergency Signal) :
1. Isyarat kasat mata (Visual Signal) :
- Obor tangan (Red Hand Flare)
- Obor parasut (Parachute Signal)
- Isyarat asap apung (Buoyant Smoke Signal)
2. Isyarat Radio (Radio Signal) :
- Search And Rescue Radar Transponder (SART)
- Very High Frequency (VHF / Radio Transciver)
- Emergency Position Indicating Radio Beacon
(EPIRB)
Terdapat 5 jenis tipe life jacket atau pelampung, yaitu :

1. Tipe I : Offshore Life Jacket adalah pelampung yang digunakan untuk lokasi kerja di offshore,
pelampung jenis ini akan menopang kepala korban sehingga dalam posis bagaimanapun (misal:
pingsan) kepala korban akan berada di atas permukaan air.
2. Tipe II : Near Shore Vest adalah pelampung untuk lokasi kerja di near shore. Digunakan di
perairan tenang dan tidak berarus.
3. Tipe III : Flotation Aid adalah pelampung tipe standard yang banyak digunakan orang,
bentuknya nyaman, banyak variasi dan bentuknya.
4. Tipe IV : Throwable Device adalah Bantal atau cincin pelampung yang dirancang untuk dilempar
kepada seseorang yang dalam kesulitan.
5. Tipe V : Special Use Device adalah pelampung yang di desain khusus, menggunakan rompi
khusus yang bisa digunakan untuk bekerja , biasanya juga ditambah peralatan tiup untuk
mendukung daya apung lebih tinggi.
Alat – Alat penolong

Immersion Suit Life Jacket Ring Buoy

Parachute
Signal

Redhand
flare
Pelampung penolong (Life bouy)

Life Jacket & Immersion Suit


Alat – Alat penolong

Bouyance Smoke
Signal
Alat – Alat penolong
Sekoci Penolong Rakit Penolong
Alat – Alat penolong
Survival Craft
Rescue Boat
Prosedur Isyarat Radio
SAR (Search And Rescue)
EVAKUASI PERSIAPAN MENINGGALKAN KAPAL
(Apabila ada di atas kapal)

MENINGGALKAN KAPAL
Perintah meninggalkan kapal merupakan keputusan terakhir yang di ambil oleh seorang NAHKODA. Apabila
ada perintah meninggalkan kapal maka seluruh awak kapal harus menuju ke stasiun Pesawat Luput Maut
untuk melaksanakan tugas sesuai sijjil meninggalkan kapal.

PERSIAPAN PERORANGAN SEBELUM MENINGGALKAN KAPAL TINDAKAN PERTAMA MENDENGAR ISYARAT


TANDA BAHAYA
1. Gunakan seluruh pakaian sebagai pelindung.
2. Kenakan jaket / rompi berenang (life jacket).
3. Terjun ke laut pakai baju berenang.
4. Terjun ke laut memakai Pelampung penolong.

PENGUASAAN DIRI DARI KEPANIKAN


Faktor penting di dalam penguasaan diri dari kepanikan :
1. Kemauan yang besar untuk tetap hidup.
2. Jangan lari dari ketakutan itu, ambillah tindakan untuk mengurangi rasa takut tersebut.
3. Sembahyang atau berdoa adalah cara yang tepat untuk memperkuat mental pribadi dan jangan malu
mengerjakannya.
Persiapan Evakuasi Meninggalkan Kapal
1. Berdiri di deck yg tidak terlalu tinggi (usahakan
dibawah 5 m) dan memeriksa air dari puing-puing
2. Periksa untuk melihat apakah life jacket adalah terikat
dan
pastikan semua tali terikat kuat
3. Memegang hidung Anda dan tutup mulut Anda dengan
tangan kiri Anda
4 Menyilangkan tangan kiri dengan tangan kanan Anda dan
tahan kerah jaket pelampung aman.
5. Memegang siku Anda ke sisi Anda sebanyak mungkin.
6. Menjaga kepala dan mata lurus ke depan. Jangan melihat
ke bawah.
7. Mengambil satu langkah menggunakan kaki baik.
Note :
Membawa kaki trailing Anda di belakang kaki Anda yg di
muka sehingga mereka bersilangan di pergelangan kaki.
Ini akan melindungi Anda jika Anda harus mendarat di
puing-puing mengambang.
Jumping in Water
Pada kondisi di permukaan air terdapat 3 (tiga)
bahaya :

1. Mati karena tenggelam


2. Exposure kepada elemen alam (misal
sinar matahari, meminum air
laut,luka yang bisa mengundang
binatang laut, dan dinginnya air laut
bisa mengakibatkan hypothermia)
3. Ter-expose kembali ke bahaya awal.
Hypothermia
Seseoang dianggap mengalami hypothermia
apabila temperatur tubuhnya berada di
bawah 35° C. Hilang atau berkurangnya
temperatur tubuh manusia berasal dari
kepala (25%), selangkangan, ketiak dan dada.
Air bisa menyebabkan hilangnya panas tubuh
20-26 kali lebih cepat ketimbang angin.

Gejala-gejala hypothermia :
menggigil (kedinginan), mati rasa, mengigau
(mengeluarkan kata-kata yang tidak
beraturan), amnesia, halusinasi,
pembengkakan pada kaki dan tangan, dan
cyanosis (bibir, ujung jari-jari kaki dan
tangan menjadi biru).
Perawatan pada Korban Hypothermia :
- Memberikan tempat berteduh,
- Tutupi tubuh korban menggunakan selimut,
- Peluk tubuh korban (hangatkan dengan panas
tubuh penolong),
- Lepaskan pakaian basah yang melekat pada
tubuh korban, lakukan monitor pada bagian-
bagian vital,
- Jangan memijat atau menggosok tubuh
korban karena pada saat kondisi tersebut
lapisan kulit korban menjadi fragile atau
brittle (getas).
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan
kemampuan bertahan hidup seorang
korban saat berada di laut :

1. Kekuatan fisik
2. berat badan
3. pakaian yang digunakan  pakaian
yang
tebal juga bisa menjadi penolong
sementara
4. penggunaan alat bantu apung.
pengetahuan yang baik mengenai
penggunaan alat bantu apung bisa
menambah probabilities korban untuk
bisa bertahan hidup sampai tim
penolong datang ke lokasi
Posisi Terapung di Air
1. Posisi HELP (Heat Escape
Lessening Procedure)
Apabila korban seorang diri.
Posisi ini bertujuan untuk
mengurangi kehilangan panas
tubuh dari ketiak, dada dan
selangkangan. Posisi HELP
adalah seperti pada saat
seseorang dalam posisi
tidur/berbaring karena
kedinginan.
2. Posisi HUDDLE
Bila jumlah korban lebih dari 3
(tiga), kaitkan tangan-tangan
korban membentuk lingkaran
penuh. Posisi ini berfungsi untuk
bisa saling menghangatkan tubuh-
tubuh korban, selain itu bila ada
korban yang terluka atau dalam
keadaan lebih lemah bisa
diletakkan di tengah-tengah
lingkaran. Putar tubuh 180° dan
tetap pada posisi melingkar bila
ada ancaman bahaya dari luar.
Manfaat lain yang juga penting dari
posisi HUDDLE ini adalah agar
para korban bisa melakukan
komunikasi satu dengan lainnya.
PROSEDURE PADA SAAT JATUH KE LAUT (MAN
OVERBOARD)
* Pada saat kita menjadi korban hal yang harus dilakukan, Berusaha tinggal/menjaga posisi
tetap di wilayah yang sama di mana kita jatuh, terutama pada malam hari dan dalam cuaca
buruk. Tetap diposisi yang sama akan membuatnya lebih mudah bagi kapal pengintai spot kita,
karena mereka umumnya akan tahu mana mencarinya.

Korban jatuh ke laut dapat membantu pengawasan terhadap diri korban dengan hal
berikut:
 Membuat diri korban lebih terlihat.
Korban dapat membantu untuk membuat dirinya lebih terlihat dengan melambaikan
tangannya, sapu tangan, kaosnya (jika air tidak terlalu dingin) atau benda berwarna cerah
yang mungkin memegang atau mengenakan ketika ia pergi ke laut. Jika dia memakai
pelampung ketika ia jatuh, dan dia tidak membutuhkan untuk tetap bertahan, ia dapat
mengapung di dalam air. Namun, jika air berombak atau jika dia adalah perenang yang kurang
bias berenang, maka ia tidak harus melepas pelampung nya.
 Membuat diri korban terdengar.
 Berteriak (jika dalam jarak pendengaran).
 Percikan air (yang juga dapat meningkatkan visibilitas nya).
 Membunyikan peluit (jika dia memakai pelampung dengan peluit ketika ia jatuh ke laut).
PROSEDURE PERTOLONGAN ORANG
JATUH KE LAUT
(MAN OVERBOARD)
 Segera melihat seorang Anggota kru yang jatuh di atas sisi, Berteriak Menyebut kata-
kata "Man Overboard!" untuk personil jaga di atas kapal. Pastikan untuk menyertakan
posisi mana dari kapal orang jatuh ke laut tersebut.

 Tandai posisi orang jatuh ke laut tersebut :


- Pada Saat Siang Hari :
 Lemparkan Ring Buoy dengan tali ke posisi orang jatuh ke laut tersebut.
 Lemparkan smoke signal ke posisi orang jatuh ke laut tersebut
 Lemparkan alat Pelampung di dekat orang jatuh ke laut tersebut untuk bantuan
mengapung korban.
- Pada Saat Malam Hari:
 Lemparkan Ring Buoy dengan tali dan lampu signal ke posisi orang jatuh ke laut
tersebut.
 Nyalakan Search light kapal dan arahkan ke area korban.
 Lemparkan alat Pelampung di dekat orang jatuh ke laut tersebut untuk bantuan
mengapung korban.
 Note : Apabila kapal sedang bergerak dengan mensin kapal harus diposisikan
Buritan menjauhi korban menjaga korban tersedot baling-baling kapal.
PENGENALAN TENTANG LIFERAFT (RAKIT
PENOLONG)
 Inflatable Liferaft adalah sebagai perangkat penting
penyelamatan.Oleh karena itu, sangat penting untuk belajar tentang
desain saat ini dari Liferaft dan mendapatkan informasi perkembangan
dan pengoperasian peralatan tersebut.

 Inflatable liraft harus sesuai standar IMO atau otoritas setempat yang
yang berwenang. Liferaft memiliki berbagai ukuran. Kapal-kapal yang
tidak melakukan perjalanan internasional mungkin memiliki Liferaft
yang dapat menampung 4 sampai 26 orang. Kapal-kapal yang route
Nya perjalanan internasional mungkin memiliki rakit yang dapat
menampung 6 hingga 25 orang. Kapasitas (jumlah maximum daya
angkut Liferaft) ditandai pada container / kapsul Liferaft. Nama
produsen juga dituliskan pada container. Liferaft (lengkap dengan
peralatan) beratnya tidak lebih dari +/- 200 Kg.

 Liferaft disimpan di cradle / rak di dek terbuka. Hal ini dilakukan


sehingga mereka dapat float / mengembang secara otomatis jika
kapal tenggelam sebelum Anda dapat secara manual melepasnya.
PENGENALAN TENTANG LIFERAFT (RAKIT
PENOLONG)
PENGENALAN TENTANG LIFERAFT (RAKIT
PENOLONG)
PENGENALAN TENTANG LIFERAFT (RAKIT
PENOLONG)
PELUNCURAN LIFERAFT SECARA MANUAL
 Langkah-Langkah melaksanakan peluncuran Liferaft secara manual adalah
sebagai berikut :

1. Tarik hook pengait pada automatic rilis hidrostatik untuk melepaskan tali tiedown.
2. Amankan tali operasi. Pastikan bahwa tali operasi tidak kusut.
3. Jangan lepas tali band pengikat wadah. Pengikat container tersebut akan secara
otomatis terbuka ketika tali operasi ditarik.
4. Dengan dua atau lebih anggota awak, melemparkan rakit dalam container ke laut.
5. Setelah Contaner rakit di dalam air, selanjutnya tarik tali rakit secara otomatis akan
mengembang.
6. Melepaskan tali operasi yang terikat pada cleat kapal.
7. Naik rakit sesegera mungkin.
8. Ambil pisau dari saku pada kanopi rakit.
9. Potong tali operasi untuk membebaskan rakit dari kapal tenggelam.
10.Baca manual book yang ditemukan dalam rakit. Ini akan memberikan petunjuk
lengkap tentang apa yang harus dilakukan saat Anda berada di rakit.
PELUNCURAN LIFERAFT SECARA MANUAL
PELUNCURAN LIFERAFT SECARA OTOMATIS
 Setelah kapal tenggelam ke kedalaman
10 - 15 kaki, Automatic hidrostatik
release secara otomatis akan
melepaskan container rakit. Container
akan naik ke permukaan daya tarik
kapal tenggelam yang akan
menyebabkan band container untuk
memicu Liferaft mengembang otomatis.
Liferaft akan benar-benar mengembang
dan siap untuk boarding dalam 30
detik. Daya apung rakit akan
menyebabkan kabel operasi putus.
CARA BOARDING KE LIFERAFT
 Naik / Boarding dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Memanjat tangga Melompat ke kanopi yang sudah terbuka

Naik rakit dari laut


CARA MENOLONG PERSONIL SAKIT BOARDING KE
LIFERAF
 Menolong/membantu personil yang sakit Naik / Boarding dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :

1. Posisikan lutut mereka menempel di bagian


atas tabung apung.
2. Mengubah posisi orang yang terluka dengan
membalikkan dengan arah punggung ke arah
mereka.
3. Ambil jaket pelampung orang yang terluka
dengan tangan sisi dalam dan ambil lengan
korban bagian atas dengan tangan kita sisi luar.
4. Mendorong orang yang terluka sedikit ke bawah
ke dalam air dan, menggunakan daya apungnya
untuk membantu mereka naik ke rakit, dengan
posisi punggung terlebih dahulu.
5. Kedua Penyelamat menjatuhkan badan ke sisi
samping lantai rakit. Hal ini untuk
memungkinkan orang yang terluka jatuh antara
mereka.
CARA MEMBALIK / MELURUSKAN POSISI
LIFERAFT YANG TERBALIK
* Berenang Mendekati kapal rakit
terbalik
dan menaiki sisi terapung Liferaft

* Berdiri di sisi tepi rakit dan pegang


tali
pembantu yang terdapat di sisi tsb.
 Lutut ditekuk dan posisikan badan
untuk pemberat sehingga membantu
proses Liferaft untuk terbalik ke posisi
yang seharusnya

Note :
Jangan panik jika rakit mendarat di atas Anda. Karena bagian bawah rakit lembut dan
fleksibel,
Anda dapat membuat sebuah kantong udara dengan menekankan tangan atau kepala ke
lantai. Ini akan memberi Anda kesempatan untuk menangkap menghirup udara.
Menggunakan lengan dan berenang dengan wajah menghadap ke permukaan keluar
dari bawah rakit. Jika Anda mencoba untuk berenang posisi telungkup, Rakit dapat
menutup di belakang baju pelampung. Jika ini terjadi, maka akan sulit bagi kita untuk
keluar dari bawah rakit.
Selama berada di lifecraft terdapat 4 (empat) langkah
yang dilakukan oleh kelompok tersebut yaitu :
1. Protection.
Segera pasang anchor sea agar lifecraft tidak terombang-ambing terlalu jauh oleh
gelombang maupun arus laut. Periksa survival kit yang berada di dalam lifecraft,
selanjutnya periksa dengan seksama seluruh bagian lifecraft sebagai antisipasi bila
terjadi kebocoran. Gunakan dayung pada 2 sisi lifecraft untuk menjauh dari sumber
bahaya.
2. Organize
Lakukan pembagian tugas dengan menyerahkan tanggung jawab penggunaan survival
kit kepada seluruh anggota kelompok. Berikan obat anti mabuk sebelum anggota
kelompok merasa mabuk laut dengan waktu 8 jam sekali atau 3 kali dalam 24 jam. Bila
ada anggota kelompok yang terlanjur akan muntah, gunakan plastik yang tersedia,
jangan membuang muntahan di laut karena bisa mengundang binatang laut yang
berbahaya, begitu juga dengan darah bila ada korban yang terluka. Leader menjelaskan
cara penggunaan survival kit tersebut sekaligus mengatur jadwal jaga dan istirahat
anggota kelompok. Selain itu, Group Leader juga harus bisa melakukan pendekatan
persuasif bila ada anggota kelompok yang mulai kehilangan kepercayaan diri dan
kemauan untuk bertahan hidup.
3. Location
Langkah ini dilakukan untuk memberitahukan kepada regu penolong mengenai
posisi lifecraft korban kecelakaan. Segera lepas EPIRB ke permukaan laut
dengan mengikat terlebih dahulu tali EPIRB tersebut pada salah satu bagian
lifecraft, yakinkan sebelum dilepas tombol dalam posisi On (menyala). Posisikan
radar reflector dengan ketinggian lebih dari 1 meter dari permukaan laut
sehingga bisa terdeteksi oleh kapal-kapal atau regu penyelamat. Bila mendengar
suara mesin pesawat, helicopter, atau kendaraan lain segera nyalakan signal
asap (bila siang hari) dan signal api (bila malam hari). Saat regu penyelamat
atau kendaraan lain sudah dapat terlihat segera gunakan signal mirror (pada
siang hari) ke arah kendaraan atau regu penyelamat tersebut. Prinsipnya,
gunakan alat-alat pemberitahu lokasi tersebut seefektif dan seefisien mungkin.
Hal tersebut berlaku juga untuk makanan dan minuman. Jangan mengonsumsi
makanan atau minuman yang terdapat dalam survival kit sebelum 1 x 24
jam. Usahakan mencari sumber lain terlebih dahulu, misal dengan
memancing dan mengumpulkan air tawar. Air tawar bisa berasal dari air
hujan, embun, maupun proses penyulingan air laut dengan alat-alat yang
tersedia atau gunakan plastik untuk menyuling manually.
4. Comfort
Setelah semua langkah-langkah dijalani dengan baik, selanjutnya adalah
memikirkan tentang kenyamanan, Keringkan lantai lifacraft menggunakan
alat yang tersedia, jemur pakaian dan pelampung sehingga bisa digunakan
sebagai alas tidur. Lakukan forum-forum diskusi atau sekedar bercerita
antar anggota kelompok sehingga moral dan kemauan bertahan hidup
anggota kelompok dapat tetap terjaga sampai dengan bantuan datang. Bila
ada salah satu anggota kelompok yang meninggal, segera lakukan
musyawarah untuk menentukan langkah apa yang musti dilakukan.
Proses penyelamatan korban
bisa dilakukan dengan berbagai
cara, misal dengan kapal boat,
kapal pesiar, kapal nelayan atau
dengan helicopter. Pada saat
penyelamatan dilakukan dengan
helicopter, segera keluar dari
lifecraft dengan tetap
berpegangan pada tali agar tidak
terpencar karena arus maupun
gelombang laut. Pastikan tali
penolong telah menyentuh air
agar efek listrik statis hilang
terlebih dahulu.
Secara umum, kemungkinan bertahan
seorang korban kecelakaan di laut adalah
bersumber dari dirinya sendiri. Sikap mental
yang positif untuk tetap berkemauan
bertahan hidup dan pelatihan-pelatihan
safety yang diikuti bisa menjadi modal
signifikan agar bisa tetap bertahan dalam
situasi dan kondisi apapun. Persiapkan segala
sesuatu sebelum berangkat ke lokasi kerja dan
selalu mematuhi aturan keselamatan yang
berlaku di manapun serta tidak bertindak
ceroboh merupakan tindakan preventif untuk
meminimalisasi kejadian kecelakaan yang
bisa berakibat fatal.
“ A Way to be Good Believe in God “
TERIMA KASIH