Anda di halaman 1dari 58

EKUITAS : Modal Disetor

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu:


1. Menjelaskan mengenai struktur kepemilikan perusahaan dan
pelaporannya
2. Menjelaskan mengenai ekuitas pemegang saham dan komponen-
komponen yang terkait
3. Menjelaskan mengenai jenis saham yang diterbitkan perusahaan
4. Menjelaskan proses dan pencatatan penerbitan saham
5. Menjelaskan pembagian dividen untuk saham preferen
6. Menjelaskan rasio keuangan terkait dengan ekuitas perusahaan
PT Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul (SIDO) melakukan penawaran saham perdana (IPO=Initial
Public Offering) pada tanggal 18 Desember 2014. IPO ini merupakan salah satu penawaran saham yang
ditunggu-tunggu mengingat reputasi SIDO selama ini.
Berdiri sejak tahun 1940, SIDO berkembang pesat di bawah tangan Irwan Hidayat. Dikenal dengan
kepedulian social yang tinggi, yang diwujudkan dalam beberapa program seperti mudik bersama
pedagang jamu sejak tahun 1992, operasi katarak gratis, hingga iklan-iklan yang menampilkan figure
public seperti Mbah Marijan, Olga Lidya, hingga Dahlan Iskan, SIDO kini tidak hanya merambah dunia
jamu. Dari produk-produk jamu tradisional seperti Kuku Bima Ginseng dan Tolak Angin, kini SIDO juga
mengembangkan produk modern seperti minuman egergi, suplemen makanan, bahkan permen.
Tentunya ekspansi bisnis seperti ini memerlukan pendanaan yang kuat.
Salah satunya adalah meraih dana dari investor yang berminat untuk menjadi pemilik ekuitas
perusahaan, melalui kegiatan penawaran saham perdana di pasar modal atau IPO. Melalui proses IPO
tersebut, SIDO melepas 1,5 miliar lembar saham, dengan porsi kepemilikan pubik menjadi 10% dan
harga perdana sebesar Rp580 per lembar.
Sesuai prospektus, penggunaan dana hasil IPO diatur sbb:
- 56% untuk modal kerja
- 42% untuk kegiatan investasi
- 2% untuk pengembangan teknologi informasi.

Sebagaimana cerita pembuka diatas, banyak perusahaan yang bermaksud untuk memperkuat struktur
permodalan dengan menambah jumlah ekuitas. Perusahaan menerbitkan saham, yang kemudian dibeli
oleh para investor, sebagai bukti kepemilikan dalam perusahaan. Pendanaan perusahaan dapat berasal
dari utang atau ekuitas. Penerbitan saham merupakan bentuk pendanaan yang berasal dari ekuitas.

Sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com dan http://finane.detik.com, 18 Desember 2013.


Struktur Organisasi Perusahaan
Berdasarkan bentuk kepemilikan, struktur organisasi perusahaan dapat
dibedakan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:
1. Perusahaan Perorangan, adalah perusahaan yang dimiliki oleh
perseorangan.
2. Perusahaan Persekutuan, adalah perusahaan yang dimiliki oleh dua
orang atau lebih yang membentuk persekutuan. Di Indonesia, bentuk
yang umum adalah Firma (Fa) atau Perusahaan Komanditer (CV).
3. Perusahaan Perseroan Terbatas, adalah perusahaan yang dimiliki oleh
lebih dari dua orang/badan hukum, melalui penerbitan surat saham.
Mayoritas perusahaan besar di dunia, juga di Indonesia, berbetuk Perseroan
Terbatas (PT). Oleh karena itu, bab ini akan berfokus pada permodalan PT.
Karakteristik PT

Ada 2 macam PT, yaitu PT Tertutup dan PT Terbuka.

PT Tertutup, selanjutnya dikenal sebagai PT saja, adalah perseroan yang


tidak menerbitkan saham untuk publik.

PT Terbuka, dikenal sebagai PT, Tbk., adalah perseroan yang menerbitkan


saham di pasar modal sehingga publik dapat membelinya.

Perusahaan Perseorangan dan Perusahaan Persekutuan diatur dalam Kitab


Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) atau Commercial Law. Hal ini
antara lain membuat tanggung jawab pemilik perusahaan bersifat tidak
terbatas, artinya apabila terdapat kerugian perusahaan, maka pemilik
perusahaan bisa diminta bertanggung jawab hingga dana dan kekayaan
pribadinya. Pemilik perusahaan tidak terpisahkan dari kondisi perusahaan.
Sementara itu, tanggung jawab pemilik perusahaan dengan bentuk
Perseroan Terbatas (PT) dinyatakan terbatas, yaitu hingga kekayaan yang
ditanamkam dalam perusahaan. Pemilik tidak dapat diminta bertanggung
jawab dengan menggunakan harta pribadi untuk menutup kewajiban
perusahaan, kecuali jika terdapat hal-hal yang bersifat kriminal.
Selain sifat tanggung jawab pemilik yang terbatas, keunggulan PT lainnya
adalah sbb:
1. Berbentuk badan hukum terpisah dari pemilik dan merupakan para
pihak dalam kasus hukum.
2. Dilindungi oleh undang-undang dan negara.
3. Keberlangsungan usaha tidak terpengaruh oleh kondisi pemilik,
seperti meninggal dunia.
4. Reputasi yang lebih kuat dan diakui oleh sejumlah pihak penyedia
fasilitas pendanaan, seperti perbankan atau pasar modal.
5. Kekayaan PT terpisah dari kekayaan pemilik (investor).
Di Negara lain, bentuk PT ini dikenal dengan beberapa nama. Untuk PT Tbk., anatara lain sbb:

Tabel 1 Nama-nama PT Terbuka di Berbagai Negara

No. Negara Istilah Berlaku


1. Inggris Public Limited Company (PLC)
2. Amerika Serikat Corporation (Corp.)
3. Belanda Naamloze Venootschaap (NV)
4. Jerman Aktiengesselschaft (A.G)
5. Perancis, Italia, Spanyol, SA (dengan beragam sebutan, dengan istilah
Portugis, Polandia mengacu pada Society Anonim)
6. Malaysia Sendirian Berhad (Sdn. Bhd)
7. Swedia Aktiebolag (AB)
Sementara untuk PT yang tertutup, antara lain sbb:

Tabel 2 Nama-nama PT Tertutup di Berbagai Negara

No. Negara Istilah Berlaku


1. Inggris Limited Company (LLC/Ltd)
2. Amerika Serikat Corporation Limited (Co.Ltd)
3. Belanda Besloted Venootschaap (BV)
4. Jerman Gesselschaft mit benschrankter Haftung (GmBH))
5. Perancis, Italia, Spanyol, SARL/SRL (dengan beragam sebutan, dengan istilah
Portugis, Polandia mengacu pada Society with Responsibility Limited)
6. Malaysia Berhad (Bhd)
7. Swedia Aktiebolag (AB)
8. Australia Privately Limited (Pty Ltd.)

Tidak mengherankan bahwa mayoritas badan usaha yang besar berbentuk PT, meskipun terdapat
kerugian seperti:

1. Kerumitan dalam proses pendirian;


2. Biaya pendirian yang relative mahal
Proses Pembentukan PT
Berdasarkan UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, syarat
formal pembentukan PT yang harus dipenuhi adalah sbb:
1. Pendiri minimal terdiri atas 2 (dua) orang atau lebih.
2. Akta Notaris yang berbahasa Indonesia
3. Setiap pendiri hrs mengambil bagian atas saham, kecuali dlm rangka peleburan.
4. Akta Pendirian harus disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM, dan diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI)
5. Modal dasar minimal Rp50.000.000 dan modal disetor minimal 25% dari modal
dasar.
6. Minimal harus memiliki 1 (satu) orang direktur dan 1 (satu) orang komisaris.
7. Pemegang saham harus WNI atau Badan Hukum yang didirikan menurut hukum
Indonesia, kecuali yang merupakan Penanaman Modal Asing.
Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan untuk memenuhi persyaratan ketentuan
diatas adalah sbb:
1. Pengajuan nama PT melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) dalam
Kementerian Hukum dan HAM.
2. Pembuatan Akta Pendirian yang disahkan di depan notaris
3. Pengajuan Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP) di kantor kelurahan
setempat.
4. Permohonan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) setempat.
5. Pengajuan pengesahan Anggaran Dasar (AD) perusahaan di Kementerian
Hukum dan HAM.
6. Pengajuan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) di kantor Dinas Perindustrian dan
Perdagangan setempat.
7. Pengajuan pengumuman di Berita Negara Republik Indonesia (BNRI).
Salah satu bagian akun yang penting bagi perusahaan adalah
struktur permodalan atau ekuitas.
Untuk perseroan terbatas, komponen ekuitas terdiri atas:
1. Modal disetor
2. Saldo laba
Modal Disetor
Untuk perusahaan dengan bentuk PT, kepemilikan terbagi dalam lembar saham.
Secara umum, pemilik setiap lembar saham memiliki hak sbb:
1. Pembagian keuntungan (dan kerugian) perusahaan secara proporsional sesuai
dengan persentase kepemilikan.
2. Partisipasi dalam manajemen, seperti hak suara untuk menunjuk direksi dan
komisaris, secara proporsional sesuai dengan persentase kepemilikan.
3. Pembagian aset perusahaan pada saat likuidasi secara proporsional sesuai
dengan persentase kepemilikan.
4. Hak prioritas untuk membeli saham yang baru diterbitkan secara proporsional
sesuai dengan persentase kepemilikan, yang dikenal sebagai hak memesan
terlebih dahulu atau preemptive right.
Preemptive right yaitu suatu hak untuk menjaga proporsi kepemilikan saham bagi
pemegang saham lama di suatu perusahaan sehubungan dengan akan
dikeluarkannya saham baru. Mis. perusahaan publik yg 51% sahamnya dimiliki oleh
pemerintah, dengan dikeluarkannya saham baru maka untuk mempertahankan
proporsi kepemilikan 51% tersebut, pemerintah sebagai pemegang saham lama
mempunyai hak untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan.
Terdapat dua jenis saham yang bisa diterbitkan oleh PT, yaitu sbb:
1. Saham biasa (ordinary share), yang merupakan kepemilikan
perusahaan residual, karena:
a. Menanggung seluruh risiko kerugian;
b. Menerima manfaat terbesar atas sukses perusahaan;
c. Tidak ada jaminan untuk memperoleh dividen atau pada saat
likuidasi, hasil penjualan asset.
2. Saham preferen (preferred share), yang timbul karena kontrak
dengan pemegang saham, yang bersedia mengorbankan beberapa
hak tertentu untuk mendapatkan kepastian hak atau privilege
(istimewa) lainnya, seperti prioritas pembagian dividen.
Saldo Laba
Saldo laba atau retained earnings merupakan bagian dari ekuitas pemegang saham
yang berasal dari akumulasi laba bersih perusahaan yang tidak dibagikan kepada
pemilik atau pemegang saham.
Laba bersih perusahaan yang diperoleh dalam satu periode adalah hak pemegang
saham. Apabila dibagikan kepada pemegang saham, dikenal sebagai dividen, yang
diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Setiap lembar saham mendapat pembagian yang sama, misalnya Rp100/lembar,
sehingga semakin besar saham yang dimiliki, maka semakin besar dividen yang
diterima.
Bagian laba yang diakumulasikan sebagai saldo laba biasanya akan menambah atau
memperkuat permodalan ekuitas perusahaan.
Ada kalanya saldo laba ini telah disisihkan untuk keperuan tertentu, misalkan untuk
investasi atau pembelian asset tertentu, yang dikenal sebagai saldo laba yang
diapropriasikan (appropriates retained earnings).
Penghasilan Komprehensif Lain
Penghasilan Komprehensif (comprehensive income) adalah akun-akun
yang mempengaruhi nilai ekuitas perusahaan, yang tidak terkait langsung
dengan pemegang saham.
Biasanya penghasilan komprehensif dibagi menjadi laba bersih dan
penghasilan komprehensif lainnya (OCI).
Oleh karena laba bersih sudah ditampung dalam akun Saldo Laba, maka OCI
ini menjadi akun tersendiri dalam bagian Ekuitas Pemegang Saham.
Contoh saldo keuntungan/kerugian belum terealisasi dari investasi sekuritas
kategori tersedia untuk dijual (unrealized gain/loss from available for sale
securities) atau keuntungan/kerugian akibat translasi laporan keuangan.
PT Galaxi, Tbk
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2012
Pendapatan penjualan Rp800.000.000
Beban pokok penjualan 600.000.000
Laba bruto Rp200.000.000
Beban operasi 90.000.000
Laba bersih Rp110.000.000
Pendapatan komprehensif lain:
Keuntungan kepemilikan yang belum direalisasi, setelah pajak 30.000.000
Pendapatan komprehensif Rp140.000.0
Setiap saham yang diterbitkan merupakan representasi dari modal yang
disetor dan ditempatkan.
Jumlah dari modal disetor (paid in capital) ini tidak selalu sama dengan
jumlah modal dasar (authorized capital).
Modal dasar adalah jumlah modal maksimal yang dapat diterbitkan oleh
suatu perusahaan, yang tercantum dalam akta perusahaan atau Anggaran
Dasar.
Umumya modal disetor lebih kecil dari modal dasar.
Apabila perusahaan telah menerbitkan saham senilai modal dasar, dan
kemudian dirasakan adanya kebutuhan tambahan modal, maka perusahaan
harus merubah Anggaran Dasar.
Terdapat 2 jenis saham biasa yang dapat diterbitkan perusahaan yaitu
saham biasa dengan nilai nominal dan saham biasa tanpa nilai nominal.
Penerbitan dengan Nilai Nominal
Saham dapat diterbitkan dengan nilai nominal (par value) tertentu untuk
setiap lembarnya. Penentuan besar kecilnya nilai nominal ini bergantung
pada masing-masing perusahaan.
Umumnya nilai nominal ini lebih rendah daripada harga saham perdana
atau harga penerbitan saham. Nilai nominal yang rendah ini menghindari
perusahaan untuk menghadapi liabilitas kontinjensi lebih lanjut.
Apabila harga saham perdana atau harga penerbitan saham lebih tinggi
daripada nilai nominal, maka perusahaan akan mencatat timbulnya agio
saham (share premium).
Contoh 1

Penerbitan Saham Biasa dengan Nilai Nominal

PT Obat Jaya menerbitkan 1.000.000 lembar saham biasa bernilai nominal Rp100, dengan harga Rp500
per lembar yang dibayar tunai oleh sejumlah investor yang membelinya. Perusahaan mencatat
penerbitan saham tersebut dengan jurnal sbb:

Kas 500.000.000
Modal Saham Biasa 100.000.000
Agio Saham Biasa 400.000.000
Penerbitan Tanpa Nilai Nominal
Di beberapa Negara, saham dapat diterbitkan tanpa nilai nominal, dengan
alasan agar:
1. Perusahaan terhindar dari liabilitas kontinjensi
2. Perusahaan maupun investor terhindar dari kebingungan antara
mencatat nilai nominal atau nilai wajar pasar
Memang biasanya terdapat kerugian, yaitu adanya pajak yang tinggi di
beberapa Negara untuk penerbitan saham tanpa nilai nominal.
Selain itu, seluruh harga yang dibayarkan atas saham tanpa nilai nominal
dianggap sebagai modal legal, yang dapat mengurangi fleksibilitas
perusahaan ketika melakukan pembagian dividen.
Di Indonesia, undang-undang yang berlaku melarang perusahaan
menerbitkan saham tanpa nilai nominal. Nilai nominal terendah saham
ditetapkan sebesar Rp 5 per lembar.
Contoh 2

Penerbitan Saham Biasa Tanpa Nilai Nominal

Misalkan dalam kasus PT Obat Jaya pada contoh 1, yang menerbitkan 1.000.000 lembar saham, namun
tanpa nilai nominal. Harga penerbitan saham Rp500 per lembar dibayar tunai oleh sejumlah investor
yang membelinya. Perusahaan mencatat penerbitan saham tersebut dengan jurnal sbb:

Kas 500.000.000
Modal Saham Biasa 500.000.000

Di beberapa Negara, saham tanpa nilai nominal tetap harus memiliki nilai yang ditetapkan (stated
value), yang berfungsi seperti nilai nominal. Perbedaan utamanya adalah nilai yang ditetapkan ini
sepenuhnya merupakan keputusan manajemen dan tidak terikat dengan anggaran dasar perusahaan.
Contoh 3

Penerbitan Saham Biasa Tanpa Nilai Nominal tetapi memiliki Nilai yang Ditetapkan

Melanjutkan Contoh 2, jika PT Obat Jaya menerbitkan 1.000.000 lembar saham biasa tanpa nilai nominal
dengan harga Rp500 per lembar yang dibayar tunai oleh sejumlah investor yang membelinya.
Manajemen memutuskan nilai ditetapkan saham adalah Rp100 per lembar. Perusahaan mencatat
penerbitan saham tersebut dengan jurnal sbb:

Kas 500.000.000
Modal Saham Biasa 100.000.000
Agio Saham Biasa 400.000.000
Penerbitan dengan Sekuritas Lain
Ada kalanya perusahaan menerbitkan saham bersama dengan surat
berharga atau sekuritas lain. Penerbitan seperti ini dilakukan untuk
meningkatkan daya tarik saham perusahaan, sehingga semakin banyak
investor yang bersedia untuk menanamkan dana di perusahaan atau
dengan harga yang relative tinggi.
Dari segi pencatatan akuntansi, terdapat dua cara untuk mengakui dana
yang diterima, yaitu sbb:
1. Metode Proporsional
2. Metode Inkremental
Metode Proporsional adalah jika nilai pasar wajar atau dasar lainnya
yang baik untuk menentukan nilai relative setiap kelompok sekuritas
tersedia, maka nilai lump sum yang diterima dialokasikan antara
kelompok-kelompok sekuritas atas dasar proporsional.

Metode Inkremental adalah jika nilai pasar wajar semua kelompok


sekuritas tidak dapat ditentukan, maka metode incremental dapat
digunakam. Nilai pasar sekuritas itu digunakan sebagai dasar untuk
kelompok-kelompok yang telah diketahui dan sisa dari nilai lump sum
dialokasikan ke kelompok di mana nilai pasar tidak diketahui.
Contoh 4

Penerbitan dengan Sekuritas Lain

PT Obat Jaya menerbitkan 3.000.000 lembar saham biasa bernilai nominal Rp100 dan 1.000.000 lembar
saham preferen bernilai nominal Rp500. Total dana yang diperoleh secara total adalah Rp1.350.000.
Saham biasa memiliki nilai pasar sebesar Rp200 dan saham preferen memiliki nilai pasar Rp900 per
lembar.

Apabila dicatat dengan metode proporsional, maka perhitungan alokasinya adalah sbb:

Tabel 3 Alokasi dengan Metode Proporsional

Jumlah Nilai Total Persentase


Saham Biasa 3.000.000 Rp200 Rp600.000.000 40%
Saham Preferen 1.000.000 Rp900 Rp900.000.000 60%
Nilai Pasar Wajar Rp1.500.000.000 100%
Alokasi:
Saham Biasa Saham Preferen
Harga Penerbitan Rp1.350.000.000 Rp1.350.000.000
%Alokasi 40% 60%
Jumlah Rp540.000.000 Rp810.000.000

Adapun jurnal yang dicatat adalah sbb:

Kas 1.350.000.000
Saham Preferen (1.000.000 x Rp500) 500.000.000
Agio Saham Preferen (Rp810.000.000-Rp500.000.000) 310.000.000
Saham Biasa (3.000.000 x Rp100) 300.000.000
Agio Saham Biasa (Rp540.000.000 – Rp300.000.000) 240.000.000
Sementara apabila dicatat dengan metode incremental, maka perhitungannya adalah sbb:

Tabel 4 Alokasi dengan Metode Inkremental

Jumlah Nilai Total


Saham Biasa 3.000.000 Rp200 Rp600.000.000
Saham Preferen 1.000.000
Nilai Pasar Wajar Rp600.000.000
Alokasi:
Saham Biasa Saham Preferen
Harga Penerbitan Rp1.350.000.000
Alokasi Rp(600.000.000)
Jumlah Rp600.000.000 Rp750.000.000

Adapun jurnal yang dicatat adalah sbb:

Kas 1.350.000.000
Saham Preferen (1.000.000 x Rp500) 500.000.000
Agio Saham Preferen (Rp750.000.000-Rp500.000.000) 250.000.000
Saham Biasa (3.000.000 x Rp100) 300.000.000
Agio Saham Biasa (Rp600.000.000 – Rp300.000.000) 300.000.000
Penerbitan Secara Non Tunai
Penerbitan saham juga dapat dilakukan ketika perusahaan melakukan
transaksi untuk membeli aset atau properti, ataupun memperoleh
layanan atau service dalam bentuk selain kas tunai. Secara umum
dalam transaksi seperti ini, perusahaan perlu mencatat saham yang
diterbitkan sebesar:
1. Nilai barang atau jasa yang diterima; atau
2. Jika nilai barang atau jasa tidak dapat diukur secara andal, maka
sebesar nilai wajar saham yang diterbitkan.
Contoh 5

Saham yang Diterbitkan dalam Transaksi Non-Tunai

Pada 1 Desember 2014 PT Obat Sejahtera membeli merk dagang obat flu “Flukena” dari salah satu
perusahaan farmasi dari Malaysia. Untuk pembelian ini, PT Obat Sejahtera tidak melakukan pembayaran
tunai, melainkan menerbitkan 100.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp1.000.

Kondisi 1

PT Obat Sejahtera tidak dapat menentukan nilai wajar merk dagang tersebut, namun berdasarkan harga
penutupan perdagangan, harga saham per lembar PT Obat Sejahtera diketahui sebesar Rp1.600 per
lembar.

Jurnal yang dicatat adalah sbb:

Merk Dagang 160.000.000


Saham Biasa 100.000.000
Agio Saham Biasa 60.000.000
Kondisi 2

PT Obat Sejahtera tidak dapat menentukan nilai wajar saham, namun nilai wajar merk dagang
diperkirakan sebesar Rp175.000.000.

Jurnal yang dicatat adalah sbb:

Merk Dagang 175.000.000


Saham Biasa 100.000.000
Agio Saham Biasa 75.000.000

Kondisi 3

PT Obat Sejahtera tidak dapat menentukan nilai wajar saham maupun merk dagang. Dalam kondisi
seperti ini, perusahaan dapat meminta bantuan dari konsultan penilai independen. Dari analisis model
arus kas terdiskonto, misalkan nilai merk dagang diestimasi sebesar Rp130.000.000.

Jurnal yang dicatat adalah sbb:

Merk Dagang 130.000.000


Saham Biasa 100.000.000
Agio Saham Biasa 30.000.000
Biaya Penerbitan Saham
Berdasarkan ketentuan PSAK 21 Akuntansi Ekuitas, biaya yang
dikeluarkan selama proses penerbitan saham dikategorikan sebagai
biaya langsung, seperti biaya penjaminan emisi efek, biaya imbalan
jasa audit dan penasihat hukum, biaya percetakan dokumen, dan
pajak, dikurangkan langsung dari penerimaan uang yang diperoleh
melalui penerbitan saham tersebut.
Apabila pengeluaran tersebut dikeluarkan secara terpisah, maka
dicatat sebagai pengurang terhadap agio saham yang diterbitkan.
Karakteristik
Saham preferen (preffered stock) merupakan jenis saham yang diterbitkan oleh
perusahaan dengan karakteristik atau fitur tertentu, seperti:
1. Preferensi saat pembagian dividen
2. Preferensi saat pembagian asset, dalam proses likuidasi perusahaan
3. Dapat dikonversikan (convertible) menjadi saham biasa atau sekuritas lainnya
4. Dapat ditarik kembali (callable), sebagai eksekusi hak opsi bagi perusahaan;
5. Tidak memiliki hak suara
6. Sifat dividen dapat kumulatif, artinya dividen yang tidak dibagikan dapat
diakumulasikan ke periode berikutnya;
7. Partisipasif, yaitu kemungkinan mendapatkan dividen tambahan setelah
pengalokasian dividen untuk pemegan saham biasa
8. Dapat dijual kepada pihak perusahaan yang menerbitkan saham (redeemable).
Dari sekian banyak preferensi ini, perusahaan dapat menentukan
salah satu atau beberapa bahkan seluruhnya atas saham preferensi
yang ditawarkan, selama tidak melanggar aturan hukum yang
berlaku.
Meski demikian, karena saham preferen tidak memiliki hak suara
maka banyak calon investor yang memandang saham preferen
sebagai instrument yang kurang strategis.
Sebagai contoh, saham preferen yang diperdagangkan di Bursa Efek
Indonesia hanya berasal dari tiga perusahaan public yaitu PT Mas
Murni Indonesia, Tbk. (MAMIP), PT Centex, Tbk.(CNTX), dan PT
Taisho Pharmaceutical (SQBI). Itupun saham preferen ini tidak terlalu
aktif diperdagangkan seperti halnya saham biasa emiten lainnya.
Penerbitan Saham
Contoh 6

PT Obat Manjur menerbitkan 100.000 lembar saham preferen bernilai nominal Rp100 per lembar,
saham ini dibeli tunai para investor dengan harga perdana sebesar Rp150 per lembar.

Perusahaan mencatat jurnal sbb:

Kas 15.000.000
Saham Preferen 10.000.000
Agio Saham Preferen 5.000.000

Untuk saham preferen yang memiliki fitur konvetible pada saat dilakukan konversi, misalkan terhadap
saham biasa, maka mengunakan nilai wajar aset atau saham yang diperoleh.

Meski terdapat beberapa fitur yang dimungkinkan, fitur preferensi atas pembagian dividen adalah yang
paling umum ditemukan untuk saham preferen.
Pembagian Dividen
Fitur preferensi pembagian dividen untuk saham preferen bergantung pada jenis
dan karakteristik. Secara umum ada dua karakteristik umum dividen saham
preferen.
1. Dividen kumulatif
2. Dividen partisipatif
Karakteristik dividen kumulatif adalah pembagian dividen suatu periode
mendahulukan dividen periode sebelumnya yang tidak dibagikan (dividend in
arrears). Jika masih ada sisa, maka barulah dianggap sebagai dividen periode
berjalan.
Dividen partisipatif adalah kebijakan dividen suatu periode yang memberikan
tambahan dividen kepada pemegang saham preferen jika masih terdapat kelebihan
dividen setelah pemegang saham biasa memperoleh alokasi dividen dalam
persentase yang sama terlebih dahulu.
Contoh 7

Pembagian Dividen Tunai

Pada 1 November 2015 PT Obat Manjur melakukan pembagian dividen tunai sebesar Rp50.000.000
kepada para pemegang saham. Komposisi pemegang saham terdiri sbb:

Saham Preferen 6% dengan total nilai nominal Rp100.000.000


Saham Biasa, dengan total nilai nominal Rp400.000.000

Selama tahun 2013 dan 2014, PT Obat Manjur tidak membagikan dividen karena kebutuhan dana
investasi yang besar. Diasumsikan komposisi pemegang saham tidak berubah selama 2013-2015.

1. Dividen Saham Preferen Bersifat Non-kumulatif dan Non-partisipatif


Dalam kasus ini, pembagian dividen untuk saham preferen dan saham biasa dihitung sbb:

Tabel 5 Perhitungan Non-Kumulatif dan Non-Partisipasif


Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
6% x Rp100.000.000 Rp 6.000.000 Rp 6.000.000
Sisa Rp44.000.000 Rp44.000.000
Jumlah Rp 6.000.000 Rp44.000.000 Rp50.000.000

Pada kasus ini, pemegang saham preferen menerima dividen sebesar 6% dari nilai nominal (yaitu
Rp6.000.000) dan sisanya (yaitu Rp44.000.000) dialokasikan untuk pemegang saham biasa.
21. Dividen Saham Preferen Bersifat Kumulatif dan Non-Partisipatif

Tabel 6 Perhitungan Kumulatif dan Non-Partisipasif


Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen in arrears 2 tahun: 2 x 6% x Rp 12.000.000 Rp12.000.000
Rp100.000.000
6% x Rp100.000.000 Rp 6.000.000 Rp 6.000.000
Sisa Rp32.000.000 Rp32.000.000
Jumlah Rp 18.000.000 Rp32.000.000 Rp50.000.000

Pada kasus ini, pemegang saham preferen menerima dividen sebesar Rp 18.000.000, terdiri atas
dividen 2 tahun sebelumnya yang belum dibagikan (masing-masing Rp6.000.000, total
Rp12.000.000) dan dividen tahun berjalan sebesar 6% dari nilai nominal (yaitu Rp6.000.000). sisanya
sebesar Rp32.000.000 dialokasikan untuk pemegang saham biasa.
3. Dividen Saham Preferen Bersifat Non-Kumulatif dan Partisipatif Penuh
Tabel 6 Perhitungan Non-Kumulatif dan Partisipasif Penuh
Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen tahun berjalan :6% Rp 6.000.000 Rp24.000.000 Rp30.000.000
Dividen Partisipatif: 4% Rp 4.000.000 Rp16.000.000 Rp 20.000.000
Jumlah Rp 10.000.000 Rp40.000.000 Rp50.000.000

Setelah pemegang saham preferen dan saham biasa mendapatkan dividen tahun berjalan dengan
persentase yang sama yaitu 6% dari nilai nominal, sisanya akan dibagikan sebagai dividen
partisipasif dengan perhitungan sbb:

Tabel 7 Perhitungan Non-Kumulatif dan Partisipasif (Lanjutan)


Total Dividen Tahun Berjalan Rp30.000.000
Dividen Tersedia untuk Partisipasif Rp20.000.000 (Rp50.000.000 – Rp30.000.000)
Nilai nominal saham preferen dan biasa Rp500.000.000 (Rp100.000.000 + Rp400.000.000)
Tingkat Partisipasi 4% (Rp20.000.000 / Rp50.000.000)
Besarnya dividen partisipasif saham preferen = 4% x Rp100.000.000 = Rp4.000.000
Besarnya dividen partisipasif saham biasa = 4% x Rp400.000.000 = Rp16.000.000

Dengan demikian, pemegang saham preferen menerima total dividen sebesar Rp10.000.000 dan
pemegang saham biasa sebesar Rp40.000.000
4. Dividen saham preferen bersifat kumulatif dan partisipasif penuh

Tabel 8 Perhitungan Kumulatif dan Partisipasif Penuh

Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total


Dividen in arrears 2 tahun: 2 x 6% x Rp 12.000.000 Rp12.000.000
Rp100.000.000
6% x Rp100.000.000 Rp 6.000.000 Rp24.000.000 Rp 30.000.000
Dividen Partisipatif 1,6% Rp 1.600.000 Rp 6.400.000 Rp 8.000.000
Jumlah Rp 19.600.000 Rp30.400.000 Rp50.000.000
Tingkat Partisipasi 1,6% (Rp8.000.000 / Rp50.000.000)
Besarnya dividen partisipasif saham preferen = 1,6% x Rp100.000.000 = Rp1.600.000
Besarnya dividen partisipasif saham biasa = 1,6% x Rp400.000.000 = Rp6.400.000

Dengan demikian, pemegang saham preferen menerima total dividen sebesar Rp19.600.000 dan
pemegang saham biasa sebesar Rp30.400.000.
ILUSTRASI
Ilustrasi Agio Saham
• Meskipun kata agio saham kerap dibicarakan berkaitan
dengan emiten yang belum lama listing di Bursa Efek Indonesia
(BEI). Istilah ini bukanlah istilah yang populer diketahui oleh
investor karena tidak berkaitan langsung dengan kepentingan
investor. Nilai agio saham sendiri sangat terkait dengan
kesepakatan pendiri saat perusahaan resmi didirikan.
• Berikut adalah ilustrasi Agio saham sejak perusahaan dibentuk
hingga ekspansi dengan melakukan penawaran umum perdana.
#1 Awal Pembentukan Perusahaan Perseroan Terbatas
Misalkan ada 5 orang, sebut saja, Ali, Budi, Choky, Deni, dan
Endy mendirikan perusahaan ritel dengan modal dasar Rp100
miliar. Kelima orang tersebut sepakat untuk menyetor modal
masing-masing sebesar Rp10 miliar, sehingga terkumpul modal
disetor sebesar Rp50 miliar. Dengan demikian, ada kekurangan
Rp50 miliar yang belum disetor. Sejauh ini diketahui:
• Modal dasar: Rp100 miliar
• Modal disetor: Rp50 miliar
• Modal dicadangkan: Rp50 miliar
Kelima orang tersebut menyepakati saham dari perusahaan yang akan dibentuk diberi nominal Rp1.000
per lembar saham, sehingga masing-masing orang mendapatkan 10 juta lembar saham (Rp10 miliar
dibagi dengan Rp1.000 per lembar saham). Dari kesepakatan itu, dibuatlah akta notaris sebagai berikut:

Modal Disetor

Ali Budi Choky Deni Endy

Modal Disetor (Rp) 10 miliar 10 miliar 10 miliar 10 miliar 10 miliar

Nominal Per Lembar Saham (Rp) 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000

Jumlah Lembar Saham 10 juta 10 juta 10 juta 10 juta 10 juta

Persentase Kepemilikan (%) 20 20 20 20 20

Total Modal Disetor (Rp) 50 miliar

Total Saham Beredar 50 juta


Adapun modal yang belum disetor sebesar Rp50 miliar merupakan saham yang belum beredar dengan
jumlah saham sebanyak 50 juta lembar dengan nilai nominal yang sama, yaitu Rp1.000 per lembar.
Saham belum beredar tersebut biasanya dikenal sebagai saham dalam portopel. Dalam akta notaris pun
dicatat sebagai berikut:

Modal Dicadangkan (Belum Dikeluarkan)

Dalam Portopel (Belum Dikeluarkan)

Modal Disetor (Rp) 50 miliar

Nominal Per Lembar Saham (Rp) 1.000

Jumlah Lembar Saham Belum Dikeluarkan 50 juta

Pada bagian neraca di laporan keuangan perusahaannya pun, akan tertulis seperti ini:

Modal 50 miliar

Laba Ditahan 0

Agio Saham 0

Total Ekuitas 50 miliar


#2 Operasional Perusahaan Setelah 3 Tahun

Perusahaan tersebut beroperasi, dan seiring dengan berjalannya waktu perusahaan itu berkembang
cukup baik dan berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp75 miliar dalam tempo 3 tahun.
Keuntungan tadi tidak diambil oleh pemegang saham, namun dijadikan laba ditahan. Dari seluruh
keuntungan ini pun belum ada yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, sehingga
dalam neraca keuangan perusahaan akan terlihat:

Modal 50 miliar

Laba Ditahan 75 miliar

Agio Saham 0

Total Ekuitas 125 miliar


#3 Ekspansi Perusahaan
• Melihat perkembangan bisnis yang baik ini, pengelola perusahaan
pun mengajukan usul untuk melakukan ekspansi usaha kepada 5
pemegang saham perusahaan. Nilai investasi yang dibutuhkan
perusahaan mencapai Rp200 miliar. Namun, tidak satupun
pemegang saham berniat menyuntik modal tambahan.
• Berdasarkan kalkulasi tingkat keuntungan perusahaan dan prospek
keuntungan perusahaan ke depannya, pemegang saham pun
menyepakati bahwa sisa saham di portopel yang sebanyak 50 juta
lembar, akan dijual dengan harga Rp5.000 per lembarnya.
• Diasumsikan penjualan lembar saham tersebut akan terserap
dengan baik di pasar. Manajemen pun akan mendapatkan dana
segar sebanyak Rp250 miliar, dari menjual 50 juta lembar saham
tersebut di harga Rp5.000. Selisih antara nilai nominal saham
seharga Rp1.000 dengan nilai jual saham portopel sebesar
Rp5.000, yang sebesar Rp4.000 itu yang disebut agio saham.
Perusahaan pun mendapat tambahan ekuitas sebagai berikut:

 Modal Tambahan Hasil IPO = 50 juta lembar x Rp1000 = Rp50 miliar

 Total Modal = Modal Disetor + Modal Tambahan = Rp50 miliar + Rp50 miliar = Rp100 miliar

 Agio Saham = 50 juta lembar x Rp4.000 = Rp200 miliar

Dan laporan neraca di bagian ekuitasnya menjadi:

Modal 100 miliar

Laba Ditahan 75 miliar

Agio Saham 200 miliar

Total Ekuitas 375 miliar


Dari laporan di atas, maka diketahui terdapat Rp200 miliar ekuitas yang berasal dari agio saham.
Sementara, nilai Rp1.000 lainnya dicatatkan sebagai ekuitas yang bersumber dari modal disetor.
Komposisi pemegang saham pun berubah menjadi:

Ali Budi Choky Deni Endy Publik

Modal Disetor (Rp) 10 miliar 10 miliar 10 miliar 10 miliar 10 miliar 50 miliar

Nominal Per Lembar Saham (Rp) 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000

Jumlah Lembar Saham 10 juta 10 juta 10 juta 10 juta 10 juta 50 juta

Persentase Kepemilikan (%) 10 10 10 10 10 50

Total Modal Disetor (Rp) 100 miliar

Total Saham Beredar 100 juta


TS adalah saham milik perusahaan yang telah diterbitkan dan beredar, kemudian
dibeli kembali oleh perusahaan.
Perusahaan dapat membeli kembali saham miliknya untuk berbagai alasan,
diantaranya adalah:
• Diberikan sebagai bonus kepada pejabat dan karyawan perusahaan
• Meningkatkan volume perdagangan saham di bursa efek dengan harapan dapat
mendongkrak harga pasar saham
• Memperoleh tambahan saham yang akan dipergunakan dalam rangka akuisisi
perusahaan lain
• Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar, yang pada akhirnya akan
memperbesar laba per lembar saham.
• Metode yang sering digunakan untuk mencatat pembelian dan penjualan kembali
TS adalah metode harga pokok (cost method). Dengan metode harga pokok,
saham yang diperoleh kembali akan di debet sebesar harga yang dibayar untuk
mendapatkan saham tersebut. Pembelian TS akan mengurangi modal pemegang
saham.
PT Tobatus Aliano
Neraca (sebagian)
Modal Pemegang Saham
Modal Disetor
Modal Saham :
Saham preferen (nilai pari Rp 1.400 per lembar), Rp 1.400.000
3.500 lbr diotorisasi, 1.000 lbr diterbitkan & beredar)
Saham Biasa (nilai pari Rp 600 per lembar, 8.000 lbr Rp 4.200.000
diotorisasi, 7.000 lbr diterbitkan & beredar)
Total Modal Saham Rp 5.600.000
Tambahan Modal Disetor:
Kelebihan di atas Nilai Pari-Saham Preferen Rp 300.000
Kelebihan di atas Nilai Pari-Saham Biasa Rp 1.340.000
Total Tambahan Modal Disetor Rp 1.640.000
Total Modal Disetor Rp 7.240.000
Laba Ditahan Rp 40.000.000
Total Modal Pemegang Saham Rp 47.240.000
Pada tanggal 9 Januari 2010, perusahaan memperoleh kembali 3.000 lembar saham biasanya dengan
harga Rp 840 per lembar

Saham yang Diperoleh Kembali 2.520.000


Kas 2.520.000
PT Tobatus Aliano
Neraca (sebagian)
Modal Pemegang Saham
Modal Disetor
Modal Saham :
Saham preferen (nilai pari Rp 1.400 per lembar), Rp 1.400.000
3.500 lbr diotorisasi, 1.000 lbr diterbitkan &
beredar)
Saham Biasa (nilai pari Rp 600 per lembar, 8.000 lbr Rp 4.200.000
diotorisasi, 7.000 lbr diterbitkan & beredar)
Total Modal Saham Rp 5.600.000
Tambahan Modal Disetor:
Kelebihan di atas Nilai Pari-Saham Preferen Rp 300.000
Kelebihan di atas Nilai Pari-Saham Biasa Rp 1.340.000
Total Tambahan Modal Disetor Rp 1.640.000
Total Modal Disetor Rp 7.240.000
Laba Ditahan Rp 40.000.000
-/- Saham yang Diperoleh Kembali (TS) 3.000 lbr (Rp 2.520.000)
Total Modal Pemegang Saham Rp 44.720.000
Pada tanggal 15 Januari 2010, perusahaan menjual kembali 1.200 lembar TS dengan harga Rp 880 per
lembar.

Kas 1.056.000
Saham yang Diperoleh Kembali 1.008.000
Modal Disetor dari TS 48.000
PT Tobatus Aliano
Neraca (sebagian)
Modal Pemegang Saham
Modal Disetor
Modal Saham :
Saham preferen (nilai pari Rp 1.400 per lembar), Rp 1.400.000
3.500 lbr diotorisasi, 1.000 lbr diterbitkan &
beredar)
Saham Biasa (nilai pari Rp 600 per lembar, 8.000 lbr Rp 4.200.000
diotorisasi, 7.000 lbr diterbitkan & beredar)
Total Modal Saham Rp 5.600.000
Tambahan Modal Disetor:
Kelebihan di atas Nilai Pari-Saham Preferen Rp 300.000
Kelebihan di atas Nilai Pari-Saham Biasa Rp 1.340.000
Modal disetor dari TS 48.000
Total Tambahan Modal Disetor Rp 1.688.000
Total Modal Disetor Rp 7.288.000
Laba Ditahan Rp 40.000.000
-/- Saham yang Diperoleh Kembali (TS) 1.800 lbr (Rp 1.512.000)
Total Modal Pemegang Saham Rp 45.776.000
Tampilan neraca PT Anggara Interland pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sbb:

PT Anggara Interland
Balance Sheet
December 31, 2012
Assets Liabilities 180.000.000
Cash 135.000.000
Accounts Receivable 40.000.000 Stockholders’ Equity
Land 250.000.000 Paid in Capital:
Building 200.000.000 C/S (10.000 shares issued) 250.000.000
Equipment 90.000.000 PIC in Excess of Par-C/S 10.000.000
Total Paid in Capital 260.000.000

Retained Earnings: 275.000.000


Total Equity 535.000.000

Total Assets 715.000.000 Total Liabilities & Equity 715.000.000


Transaksi treasury stock sepanjang bulan Januari tahun 2013, adalah sbb:

01 Januari Dibeli kembali 500 lembar saham biasa yang beredar dengan harga Rp30.000 per
lembar. Komisi broker yang dibayarkan adalah sebesar Rp 200.000
10 Januari Dijual saham treasury sebanyak 200 lembar dengan harga Rp 40.000 per lembar
28 Januari Dijual saham treasury sebanyak 170 lembar dengan harga Rp 25.000 per lembar

Diminta:

a. Buatlah ayat jurnal yang diperlukan, apabila metode akuntansi yang dipakai untuk mencatat
pembelian dan penjualan kembali saham treasury adalah cost method!
b. Sajikan neraca per 31 Januari 2013!
Solusi:

a)

Treasury Stock 15.200.000


Cash 15.200.000

Cash 8.000.000
Treasury Stock 6.080.000
PIC from Treasury Stock 1.920.000

Cash 4.250.000
PIC from Treasury Stock 918.000
Treasury Stock 5.168.000
PT Anggara Interland
Balance Sheet
January 31, 2013
Assets Liabilities 180.000.000
Cash 132.050.000
Accounts Receivable 40.000.000 Stockholders’ Equity
Land 250.000.000 Paid in Capital:
Building 200.000.000 C/S (10.000 shares issued) 250.000.000
Equipment 90.000.000 PIC in Excess of Par-C/S 10.000.000
PIC from Treasury Stock 1.002.000
Total Paid in Capital 261.002.000

Retained Earnings: 275.000.000


Treasury Stock: (3.952.000)
Total Equity 532.050.000

Total Assets 712.050.000 Total Liabilities & Equity 712.050.000


SELESAI