Anda di halaman 1dari 44

FITOTERAPI KANKER

Danang Raharjo (V100180009)


Prisca Anggela (V100180004)
Sari Trisnawati (V100180002)
1. Pendahuluan

2. Prinsip Terapi dengan Obat Herbal

3. Tanaman Antikanker

4. Contoh Tanaman

2
PENDAHULUAN

3
Kanker
 Kanker adalah istilah yang digunakan dimana
sel-sel abnormal membelah tanpa kontrol
dan mampu menyerang jaringan lain.
 Sel-sel kanker dapat menyebar ke bagian lain
dari tubuh melalui darah dan sistem limfe.
 Ada lebih dari 100 jenis kanker, diberi nama
sesuai organ atau jenis sel dimana mereka
dimulai, misalnya kanker usus besar (karena
dimulai dari usus besar)

4
Kanker
Kanker dapat dikelompokkan menjadi:

1. Carcinoma: kanker yang dimulai di kulit atau pada jaringan


yang mencakup garis atau organ internal.
2. Sarcoma: kanker yang dimulai di tulang, tulang rawan, lemak,
otot,pembuluh darah, atau lainnya.
3. Leukemia: kanker yang dimulai di jaringan pembentuk darah
dan menyebabkan sejumlah besar sel darah diproduksi
abnormal dan masukkan darah.
4. Lymphoma dan myeloma: kanker yang dimulai di sel-sel
sistem kekebalan tubuh (kelenjar limfe dan sumsum tulang).
5. Adenoma: kanker yang dimulai pada kelenjar, seperti prostat,
mammae
6. Melanoma: kanker pada kulit
(www.dharmais.co.id)

5
SEL KANKER

Kanker adalah tumor yang ganas. Tumor merupakan massa


neoplasma yang menimbulkan benjolan pada jaringan tubuh.
Neoplasma adalah hasil pertumbuhan baru sel/jaringan dari
neoplasia. Neoplasia adalah pembentukan jaringan baru yang
ditandai dengan berproliferasi cepat

6
Ciri Sel Kanker
antara lain:
 Tidak mengikuti perkembangan sel normal;
 Melakukan invasi lokal;
 Cenderung menyebar ke bagian tubuh lain;
 Cenderung mempertahankan ciri-ciri
jaringan sekitar;
 Morfologi selnya kurang berdiferensiasi;
 Membelah diri lebih cepat dari sel normal.

7
Gejala
 Umum:
- nyeri hebat
- penurunan berat badan mendadak
- kepenatan total

 Khusus:
- pendarahan abnormal
- benjolan

8
Penyebab Kanker
1. Faktor Lingkungan
2. Faktor Keturunan

Terganggunya siklus sel akibat


mutasi dari gen-gen yang
mengatur pertumbuhan

9
Faktor Lingkungan

- radiasi X-ray, sinar gamma


- virus (HPV 16)
- obat kemoterapi
- Zat karsinogen: nitrosamin,
benzopiren, aflatoksin, okratoksin,
dioksin, pewarna azo

10
Proses timbulnya kanker

11
Penanganan Kanker
1. Pengobatan (Cure)
2. Memperpanjang hidup (prolongation of life)
3. Meningkatkan kualitas hidup

Metode standar pengobatan kanker:


1. Operasi
2. Kemoterapi
3. Terapi radiasi
4. Immunotherapy dan terapi biologis
(WHO, 2002; www. dharmais.co.id) 12
Prinsip obat (kemoterapi):

 Berdasasrkan mekanisme sintesis sel


1. Anti metabolit, dengan menghambat
pembentukan polimerisasi asam deoksinukleat
sehingga sintesis DNA terganggu.
2. Penghambat mitosis, dengan menghambat
tubulin dan menghambat mikrotubulin.
3. Antibiotik, dengan memecah/mengikat DNA.
4. Alkilator, mempengaruhi cross linking DNA.

13
PRINSIP-PRINSIP
TERAPI DENGAN
OBAT HERBAL

14
Terapi Obat Herbal
 Belum ada tanaman dengan aktivitas
antikanker  isolat vinkristin, vinblastin
bukan fitoterapi
 Pengobatan melalui aktivitas lain:
• Antioksidan
• Antiinflamasi
• Imunomodulator
• analgesik
Pengobatan untuk mengurangi efek samping
terapi kanker: antimual dan analgesik.
15
Metode Screening Antikanker
1. Memiliki aktivitas antioksidan
2. Uji sitotoksisitas
3. Uji Mutagenik (Ames, 1982)
4. Metoda Brine Shrimp Letality Test (Meyer,
1982)
5. Memiliki aktivitas antimikroba
(mekanisme penghambat sintesis sel)

Maksum Radji, Uji Mutagenisitas dan Antikanker ekstrak Aseton dan n-


Heksana dari Kulit Batang Sesoot, Majalah Ilmu Kefarmasian, Agustus 2004) 16
Metode Screening Antikanker
 National Cancer Institute (NCI) memiliki
database dan program COMPARE,
fingerprint obat antikanker dengan
indikator:
◦ GI50 = konsentrasi penghambatan
pertumbuhan sel 50%
◦ TGI = konsentrasi penghambatan
pertumbuhan sel 100%
◦ LC50= konsentrasi kematian sel 50%

Heinrich, et al., 2004;


http://dtp.nci.nih.gov/docs/compare/compare_methodology.html 17
18

Herbal Anti Kanker


sebagai Paliatif dan Supportif Kanker
 Tanaman herbal antikanker:
1. Sambiloto (Andrographis paniculata Burm. F, Ness)
2. Kunyit (Curcuma longa L.)
3. Temu putih (Curcuma zedoria (Berg.) Roscoe)
4. Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens (Lour)
Merr.)
5. Daun Dewa (Gynura pseudochina L.)
6. Pala (Myristica fragrans Houtt.)
7. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.)
8. Ciplukan (Physalls minima L.)
9. Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme Lodd.)

(Fitoterapi Dasar, 2011)


19

Herbal Anti Kanker


sebagai Paliatif dan Supportif Kanker
1. Sirsak (Annona muricata L.)
2. Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban)
3. Kunyit Putih (Kaempferia rofunde L.)
4. Sambiloto (Andrographis paniculata Burm. F,
Ness)
5. Ceplukan (Physalls minima L.)
6. Manggis (Garcinia mangostana L.)
7. Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme Lodd.)

(Formularium Obat Herbal Asli Indonesia, 2011)


Andrographis paniculata
(Burm. F.) Wallich ex Nees

20
Andrographis paniculata
(Burm. F.) Wallich ex Nees
 Sinonim : Andrographis subspathulata C. B. Clarke.
 Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Scrophulariales
Suku : Acanthaceae
Marga : Andrographis
Jenis : Andrographis paniculata (Burm. F.) Wallich ex Nees
 Nama umum : Sambiloto
 Nama daerah : Sambilata (Melayu); Sambiloto (Jawa
Tengah); Ki Oray (Sunda); Pepaitan (Maluku).
21
Deskripsi
 Habitus berupa herba semusim dengan
tinggai 30-100 cm. Batang berkayu,
pangkalnya bulat. Bila masih muda bentuk
batang segi empat dan setelah tua
bentuknya bulat, percabangan
monopodial, berwarna hijau. Daun
tunggal, bentuknya bulat telur, berseling
berhadapan, pangkal dan ujungnya
meruncing dengan tepi rata, panjang daun
5-10 cm dan lebarnya 1,2-2,5 cm,
pertulangan daun menyirip dengan
panjang tangkai ±30 mm, berwarna hijau
keputih-putihan.
 Akar tunggang berwarna putih
kecoklatan.
22
Deskripsi
 Bunga majemuk, bentuknya tandan, terdapat di
ketiak daun dan ujung batang, kelopak bunga
lanset, terbagi lima dengan pangkal berlekatan,
berwarna hijau, jumlah benang sari dua,
bentuknya bulat panjang, kepala sarinya bulat
berwarna ungu, putiknya pendek, kepala putiknya
berwarna ungu kecoklatan, mahkota bunga
lonjong dengan pangkal berlekatan dan ujungnya
pecah menjadi empat, bagian dalamnya warnanya
putih bernoda ungu sedangkan bagian luarnya
berambut dan berwarna merah.

 Buah kotak bulat panjang berbentuk


kapsul dengan ujungnya yang runcing
bagian tengahnya beralur. Biji bulat kec
dan apabila masih muda berwarna put
kotor sedangkan bila sudah tua banya
biji berwarna coklat.
23
Penggunaan tradisional
 Bagian yang digunakan : Herba
 kolik, otitis media, vaginitis, pelvic
inflammatory disease, cacar, eczema and
luka bakar.

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 2, 2002)


24
Kandungan kimia
 diterpene lactones (dalam bentuk bebas dan
glikosida) termasuk andrografolid,a
deoksiandrografolida 11,12-didehidro-14-
deoksiandrografolida, neoandrografolida,
andrografisidea deoksiandrografisida dan
andropanosid.

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 2, 2002) 25


Farmakodinamik
 Kandungan andrografolida dari bagian atas tanaman
memiliki efek hepatoprotektor secara in vitro dan in
vivo
 Mekanisme kerja belum jelas, kemungkinan
meningkatkan produksi senyawa antioksidan endogen
dan glutation
 Ektrak metanol aerial part sambiloto (861,3 mg/kg BB)
pada tikus yang diindulksi CCl4.
 Pemberian intraperitoneal andrografolida 100 mg/kg
BB dan 500 mg/kg BB meningkatkan aktivitas serum
glutamat oksaloasetat tranaminase, serum glutamat
piruvat transaminase, alkalin fosfatase, bilirubin dan
hepatik trigliserida.

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 2, 2002) 26


Sediaan
 Simplisia
 Kapsul
 Tablet
 Pil

Dosis
Dalam bentuk serbuk 1,5-3,0 gram sehari
tiga kali atau bentuk sediaan lain yang
setara.
27
Uji Praklinik
 Secara in vitro penghambatan proliferasi
sel kanker.
Fraksi diklormetan ekstrak metanol
menghambat sel kanker kolon 
andrografolida
 Secara in vivo sebagai antiinflamasi
pemberian infusa daun pada mencit 51,4
mg/100g BB

28
Penggunaan lain
 Antimikroba
 Anti HIV
 Imunomodulator
 Antipiretik
 Antidiare
 Anti inflamasi
 Antimalaria
 Antivenom

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 2, 2002) 29


Keamanan
 Kandungan senyawa aktif sambiloto terbukti
aman. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan
LD50 sambiloto mencapai 27,5 g/kg BB. Pada
pengujian toksisitas lainnya, pemberian
ekstrak kering sambiloto sampai 100 mg/kg
selama 60 hari tidak memberikan efek toksik
pada organ reproduksi.
 Belum diketahui efek teratogenik dan
gangguan fertilitas
 Tidak menimbulkan efek mutagenik.
 Pada dosis 5000 mg/kg tidak memberikan
efek toksik selama 14 hari
30
Interaksi
 perlambatan eliminasi teofilin, dan obat
yang dimetabolisme CYP1A2
 Wanita hamil dan ibu menyusui
 Alergi tanaman suku Acanthaceae
 Efek sinergis dengan Isoniazid

31
Curcuma domestica
Valenton.

Curcuma domestica Val.


Klasifikasi
 Divisi : Spermatophyta
 Sub divisi : Angiospermae
 Kelas : Monocotyledoneae
 Bangsa : Zingiberales
 Suku : Zingiberaceae
 Marga : Curcuma
 Jenis : Curcuma domestica Val.
 Sinonim : Curcuma domestica Rumph.;
Curcuma longasensu Val non L.
 Nama umum : Kunyit
 Nama daerah : Kakunye (enggano); Kunyet (Adoh); Kuning
(Gayo); Kunyit (alas); Hunik (Batak); Odil (Simalur); Undre
(nias); Kunyit (Lampung); Kunyit (Melayu); Kunyir (Sunda);
Kunir (Jawa Tengah); Temo Koneng (Madura); Kunit
(Banjar); Henda (Ngayu); Kunyit (Olon Manyan); Cahang
(Dayak); Panyambung Dio (Panihing); Kalesiau (Kenya);
Kunyit (Tidung); Kunyit (Sasak); Huni (Bima); Kaungi
(Sumba Timur); Kunyi (Sumba Barat); Kewunyi (Sawu);
Koneh (Flores); Kuma (Solor); Kumeh (Alor); Kunik (Roti);
Hunik Kunir (Timor); Uinida (Talaud); Kuni (Sangir);
Alawaha (Gorontalo); Kolalagu (Buol); Pagidon (Toli-toli);
Kuni (Toraja); Kunyi (Ujungpandang); Kunyi (Selayar); Unyi
(Bugis); Kuni (Mandar); Kurlai (Leti); Lulu Malai (Babar);
Ulin (Tanimbar); Tun (Kayi); Unin (Ceram); Kunin (Seram
Timur); Unin (ambon); Gurai (Halmahera); Garaci (Ternate);
Rame (Kapaur); Kandeifa (Nufor); Nikwai (Windesi);
Mingguai (Wandamen); Yaw (Arso).
Habitus berupa semak dengan tinggi ±70 cm.
Batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang.
Berwarna hijau kekuningan. Daun tunggal,
berbentuk lanset memanjang. Helai daun tiga
sampai delapan. Ujung dan pangkal daun
runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12
cm. Pertulangan daun menyirip. Daun berwarna
hijau pucat. Bunga majemuk, berambut, bersisik.
Panjang tangkai 16-40 cm. Panjang mahkota ±3
cm, lebar ±1cm, berwarna kuning. Kelopak
silindris, bercangap tiga, tipis dan berwarna
ungu. Pangkal daun pelindung putih. Akar
berupa akar serabut dan berwarna coklat muda.

Deskripsi
Penggunaan tradisional
 Bagian yang digunakan : akar
 Peptik ulser, inflamasi (rhematoid
arthritis), amenor, dismenor, diare, epilepsi,
nyeri, sakit kulit

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 1, 1999 36


Kandungan kimia
 monoterpenes dan sesquiterpenes, termasuk
zingiberene, curcumene, α- and -turmerone.
 Kurkuminoid mempengaruhi 5% warna kunyit
 50–60% merupakan campuran kurkumin,
monodesmethoxycurcumin dan
bisdesmethoxycurcumin

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 1, 1999 37


Farmakodinamik
 Kurkumin memperlihatkan aktivitas
penghambatan proliferasi berbagai sel
kanker secara in vitro.
 Mekanisme tersebut melalui modulasi
reseptor hidrokarbon atau aktivitas
dekarboksilasi ornitin.
 aktivitas antioksidan kurkumin

38
Sediaan
 Serbuk simplisia (akar)

Dosis
 450-3600 mg kurkumin selama seminggu
 750 mg tablet kurkumin sehari 2 kali

39
Uji Praklinik
 Studi in vitro ekstrak kunyit dan kurkumin sebagai
antikanker  menghambat proliferasi berbagai sel
kanker
 Studi in vivo kurkumin  pemberian 0,2-0,5% kurkumin
memberikan efek preventif, kuratifm dan proapoptosis
pada kanker kolon, prostat, lambung dan kulit

Uji Klinik
Uji klinik tahap I dan II mengindikasikan kurkumin dapat
ditoleransi sampai dosis 8000 mg sehari. Dapat mencegah
kanker kolon.
40
Penggunaan lain
 Antiinflamasi
 Peptik ulser dan dispepsia

WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 1, 1999 41


Keamanan
 Ekstrak alkohol kunyit berbagai dosis sampai 3 g/kg
BB, serbuk kunyit 2,5 g/kg atau ekstrak etanol 300
mg/kg pada tikus, marmut dan monyet tidak
menimbulkan tanda-tanda toksik.
 Nilai LD50 secara intraperitoneal pada mencit untuk
ektrak alkohol 3,980 g/kg BB; ekstrak air 0,430 g/kg
BB; kurkumin1,5 g/BB
 Tidak mutagenik dan genotoksik sampai dosis 5 g/kg
BB pada tikus
 Tidak teratogenik pada tikus selama 12 minggu
dengan pemberian kunyit 0,15% dan kurkumin 0,015 g
 NOAEL (No Observed Adverse Effect Level) kurkumin
250-320 mg/kg.

42
Daftar Pustaka
 http://dtp.nci.nih.gov/docs/compare/compare_method
ology.html
 WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 1,
1999
 WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol 2,
2002
 Formularium Obat Herbal Asli Indonesia, 2011
 Fitoterapi Dasar, 2011
 Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman
Obat Citeureup, 2008
 Heinrich, et al., Fundamentals Pharmacognosy and
Phytotherapy, 2012,
 Arif et al., Cara Belajar Mudah Farmakologi , 2014.

43
TERIMA KASIH

44