Anda di halaman 1dari 11

1.

Kegagalan Pembarantasan Hama Konvensional


2. Kesadaran Akan Kualitas Lingkungan Hidup
3. Pola Perlindungan Tanaman
4. Kebijakan Pemerintah

ALVI MAGHFIROH
IGNATIUS PRABOWO
AYU SEPTIA ANDRIANI
ANISA DAMAYANTI
SEJARAH
Di Indonesia :
Di Luar Negeri : • 1960an : Intensifikasi Nasional pestisida
menjadi salah satu faktor pendukung dalam
• Sejak PD II ditemukan pestisida usahatani
organik sintetik, yaitu DDT. • Dalam Pelita III Prinsip PHT masuk ke dalam
Pertanian bertumpu pada GBHN
penggunaan pestisida • 1986 : Inpres No.3/1986 merupakan
dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan
• 1959, Stern : mengembangkan PHT di Indonesia 57 jenis pestisida dilarang
Integrated Pest Management digunakan
yang didahului oleh Integrated • 1989 : subsidi pestisida dicabut
Pest Control
• 1989 : mulai dilaksanakan pemasyarakatan
• 1972, Rachel Carlson menulis PHT melalaui pelatihan
buku berjudul “Silent Spring” • 1992 : Undang-undang No.12 Tahun 1992
yang menggambarkan bahaya tentang sistem Budidaya Tanaman :
pestisida bagi lingkungan hidup 1. Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan
sistem PHT
2. Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi
tanggung
jawab masyarakat dan pemerintah
PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)

• PHT (Pengendalian Hama Terpadu) : konsepsi


pengendalian OPT (Organisme Pengganggu
Tumbuhan) dengan pendekatan ekologi untuk
mengelola populasi hama dan penyakit
dengan memanfaatkan beragam taktik
pengendalian yang kompatibel dalam suatu
kesatuan koordinasi pengelolaan
MENGAPA HARUS PHT?
• Kegagalan Pembarantasan Hama Konvensional
• Kesadaran Akan Kualitas Lingkungan Hidup
• Pola Perlindungan Tanaman
• Kebijakan Pemerintah
1. Kegagalan Pembarantasan Hama Konvensional
Ciri ciri pengendalian hama secara konvensional adalah sebagai berikut (Sastrosiswojo
dan Untung, 1994)
1. Tujuan pengendalian hama adalah untuk meberantas dan memusnahkan hama
semaksimal mungkin.
2. Usaha pemberantasan hama yang paling baik adalah dengan melindungi tanaman
dengan bahan kimia yang beracun (pestisida) dengan program penyemprotan
pestisida berjadwal
3. Ketergantungan terhadap pestisida sintetis berspektrum luas
4. Cara pemberantasan dengan jenis pestisida yang memberikan hasil yang efektif
(cepat dan banyak membunuh hama)
5. Pengambilan keputusan pelaksanaan pengendalian tidak dilakukan atas
pengamatan dan keadaan lapangan (ekosistem)
6. Program pengendalian kurang dilandasi pengetahuan dan keterampilan yang
cukup tentang tanaman, ekosistem dan prinsip budidaya tanaman
7. Teknologi pengendalikan hama diterapkan secara seragam baik secara spasial
(antar tempat)maupun temporal (antar waktu).
8. Program pengendalian hama dan perlindungan tanaman pada umumnya masih
dianggap sebagai suatu bagian yang mandiri dari program produksi tanaman guna
mencapai sasaran peningkatan produksi dan penghasilan petani.
Kegagalan Pembarantasan Hama Konvensional

1. RESISTENSI
• Karena hama terus menerus mendapat
tekanan oleh pestisida maka melalui
proses seleksi alam spesies hama mampu
membentuk strain yang lebih tahan
terhadap pestisida tertentu yang sering
digunakan oleh petani.
• Hama-hama tanaman padi seperti wereng
coklat (Nilaparvata lugens), hama walang
sangit (Nephotettix inticeps) dan ulat
penggerek batang (Chilo suppressalis).
dilaporkan mengalami peningkatan
ketahanan terhadap pestisida.
• Semakin tahannya hama terhadap
pestisida, petani terdorong untuk semakin
sering melakukan penyemprotan dan
sekaligus melipat gandakan tinggkat dosis.
Kegagalan Pembarantasan Hama Konvensional
2. RESURJENSI
 Peristiwa meningkatnya populasi hama
setelah hama tersebut memperoleh
perlakuan insektisida tertentu.
 Resurjensi hama terjadi karena pestisida,
sebagai racun yang berspektrum luas,
juga membunuh musuh alami. Akibatnya
populasi hama meningkat tajam segera
setelah penyemprotan.
 Resurgensi hama, selain disebabkan
karena terbunuhnya musuh alami,
ternyata dari penelitian lima tahun
terakhir dibuktikan bahwa ada jenis-jenis
pestisida tertentu yang memacu
peningkatan telur serangga hama. Hasil
ini telah dibuktikan International Rice
Research Institute terhadap hama
Wereng Coklat (Nilaparvata lugens).
Kegagalan Pembarantasan Hama Konvensional
3. Ledakan Populasi Hama Sekunder
o Peristiwa ledakan hama sekunder terjadi,
apabila setelah perlakuan pestisida
menghasilkan penurunan populasi hama
utama, tetapi kemudian terjadi
peningkatan populasi pada spesies yang
sebelumnya bukan hama utama, sampai
tingkat yang merusak.
o Ledakan ini seringkali disebabkan oleh
terbunuhnya musuh alami, akibat
penggunaan pestisida yang berspektrum
luas.
o Peristiwa terjadinya ledakan populasi
hama sekunder di Indonesia, dilaporkan
pernah terjadi ledakan hama ganjur di
hamparan persawahan Jalur Pantura
Jawa Barat, setelah daerah tersebut
disemprot intensif pestisida Dimecron
dari udara untuk memberantas hama
utama penggerek padi kuning
Scirpophaga incertulas.
2. Kesadaran Akan Kualitas Lingkungan Hidup
 Pestisida sebagai bahan beracun, termasuk bahan pencemar yang
berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
 Residu pestisida sintesis sangat sulit terurai secara alami. Bahkan untuk
beberapa jenis pestisida, residunya dapat bertahan hingga puluhan tahun.
 Kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan pengaruh negatif
terhadap organisma bukan sasaran.
 Di daerah Simalungun, diketahui paling tidak dua jenis spesies burung
yang dikenal sebagai pengendali alami hama serangga, saat ini sulit
diketemukan dan mungkin saja sedang menuju kepunahan. Penyebabnya,
salah satu adalah akibat pengaruh buruk pestisida terhadap lingkungan,
yang tercemar melalui rantai makanan.
 Kesadaran akan perlunya kualitas lingkungan hidup yang tinggi dari
masyarakat, pemerintah dan masyarakat dunia ini yang mendorong dan
mengharuskan kita untuk segera menerapkan PHT karena dengan PHT
penggunaan pestisida dapat ditekan sekecil-kecilnya.
3. Pola Perlindungan Tanaman
Pola Perlindungan Tanaman

Dr. Ray Smith dari Universitas


California sebagai salah satu
pencetus konsep PHT,
mengambil kesimpulan bahwa
dalam menanggulangi masalah
hama di ekosistem pertanian
biasanya kita akan mengikuti
pola atau urutan tertentu.
4. Kebijakan Pemerintah
• UU No. 12 Tahun 1992
Tentang: Sistem Budidaya Tanaman
Bagian Keenam
Perlindungan Tanaman
Pasal 20
(1) Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem
pengendalian hama terpadu.
• Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995
Tentang: Perlindungan Tanaman
Pasal 3
(1) Perlindungan tanaman dilaksanakan melalui sistem
pengendalian
hama terpadu.