Anda di halaman 1dari 26

OLEH :

LUH PUTU ARI ANGGARI (P07120215024)


KETUT DIAN WAHYUNI (P07120215025)
I.G.A ROSITA TRI.R (P07120215026)
Stuart dan Laraia (2005), menyatakan bahwa perilaku kekerasan adalah
hasil dari marah yang ekstrim (kemarahan) atau ketakutan (panik) sebagai
respon terhadap perasaan terancam baik berupa ancaman serangan fisik
atau konsep diri.

Kekerasan (violence) merupakan suatu bentuk perilaku agresi (aggressive


behaviour) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan
penderitaan atau menyakiti orang lain, termasuk terhadap hewan atau
benda-benda
Agresi adalah suatu respon terhadap kemarahan, kekecewaan, perasaan
dendam atau ancaman yang memancing amarah yang dapat
membangkitkan suatu perilaku kekerasan sebagai suatu cara untuk
melawan atau menghukum yang berupa tindakan menyerang, merusak,
hingga membunuh.

Agresi tidak selalu diekspresikan berupa tindak kekerasan menyerang


orang lain, agresivitas terhadap diri sendiri, serta penyalahgunaan narkoba
hingga tindakan bunuh diri juga merupakan suatu bentuk perilaku agresi.
Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996).

Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan Keperawatan Pada Pasien


Dengan Gangguan Penyakit Jiwa Jilid 1 edisi 1, halaman 52 tahun 1996,
marah adalah pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil /
tujuan yang harus dicapai terhambat

Respon adaptif adalah respon individu dalam penyesuaian masalah yang


dapat diterima oleh norma-norma social dan kebudayaan, sedangkan
respon maladaptif, yaitu respon individu dalam penyelesaian masalah yang
menyimpang dari norma-norma social dan budaya lingkungannya.
Rentang kemarahan dapat berfluktasi dalam rentang adaptif sampai
maladaptif. Rentang respon kemarahan (Keliat, 2003) dapat digambarkan
sebagai berikut :

Respon adaptif Respon Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Ngamuk


Pengertian Dari Masing Masing Respon
Kemarahan
a. Faktor Predisposisi
b. Faktor Presipitasi
1. Faktor Psikologis
 Psyschoanalytical Theory :

Freud berpendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua insting. Pertama, insting
hidup yang diekspresikan dengan seksualitas dan kedua, insting kematian yang diekspresikan
dengan agresivitas.
 Frustation-agression Theory :

Teori yang dikembangkan oleh pengikut Freud ini berawal dari asumsi bahwa bila usaha
seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan, maka akan timbul dorongan
agresif yang pada gilirannya akan memotivasi prilaku yang dirancang untuk melukai orang
atau objek yang menyebabkan frustasi. Jadi, hampir semua orang melakukan tindakan agresif
mempunyai riwayat perilaku agresif.
 Pandangan psikologi lainnya mengenai perilaku agresif : mendukung pentingnya peran dari
perkembangan predisposisi atau pengalaman hidup. Ini menggunakan pendekatan bahwa
manusia mampu memilih mekanisme koping yang sifatnya tidak merusak.
2. Sosial budaya

Sosial Learning Theory, teori ini mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda
dengan respon-respon yang lain. Agresi dapat dipelajari melalui observasi atau
imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan, maka semakin besar
kemungkinan untuk terjadi. Jadi, seseorang akan berespon terhadap keterbangkitan
emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang dipelajarinya.
Pembelajaran ini bisa internal atau eksternal.

3. Faktor biologis
Penelitian neurobiology mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus elektris
ringan pada hipotalamus binatang ternyata menimbulkan prilaku agresif.
Perangsangan yang diberikan terutama pada impuls periforniks hipotalamus dapat
menyebabkan seekor kucing mengeluarkan cakarnya, mengangkat ekornya,
mendesis, mengeram, dan hendak menerkam tikus atau objek yang ada
disekitarnya.
Jadi, terjadi kerusakan fungsi sistim limbic (untuk emosi dan perilaku), lobus
frontal (untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal (untuk interprestasi indra
penciuman dan memori).
4. Perilaku
Reinforcment yang terima pada saat melakukan kekerasan dan sering
mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini
menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan (Keliat, 1996).
Secara umum, seseorang akan mengeluarkan respon marah apabila merasa dirinya
terancam. Ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama
sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. Oleh karena itu, baik perawat
maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasinya.

Faktor presipitasi bersumber dari klien, lingkungan, atau interaksi dengan orang
lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan,
ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku
kekerasan.
Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang
mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai atau pekerjaan , dan
kekerasan merupakan factor penyebab lain. Interaksi social yang provokatif dan
konflik dapat pula pemicu perilaku kekerasan (Keliat, 1996).
Data Subjektif : Data Objektif :
 Ungkapan berupa ancaman  Wajah memerah dan tegang
 Pandangan tajam, Otot tegang
 Ungkapan kata-kata kasar
 Mengatup rahang dengan kuat
 Ungkapan ingin memukul / melukai
 Mengepalkan tangan
 Bicara kasar, Suara tinggi, menjerit atau
berteriak
 Memaksakan kehendak
 Memukul jika tidak senang
 Perasaan malu terhadap diri sendiri.
 Memperlihatkan permusuhan
 Melempar atau memukul benda atau orang
lain.
Keliat (2002) mengemukakan bahwa tanda-tanda marah adalah sebagai berikut :
 Emosi : tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam), jengkel.
 Fisik : muka merah, pandangan tajam, napas pendek, keringat, sakit fisik,
penyalahgunaan obat dan tekanan darah.
 Intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan.
 Spiritual : kemahakuasaan, kebajikan / kebenaran diri, keraguan, tidak bermoral,
kebejatan, kreativitas terhambat
 Social : menarik diri, pengasingan , penolakan, kekerasan, ejekan, dan humor.
POHON MASALAH
Terapi Medis

Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan gejala gangguan jiwa. Menurut Depkes RI (2000), jenis obat
psikofarmaka adalah :

 Clormromazine (CPZ, Largactile)


Indikasi untuk mensupresi gejala-gejala psikosa : agitasi, ansietas, ketegangan,
kebingungan, insomnia, halusinasi, waham dan gejala-gejala lain yang biasanya
terdapat pada penderita skizoprenia, mania depresif, gangguan personalitas, psikosa
involution, psikosa masa kecil.
 Haloperidol (Haldol, Serenace)
Indikasinya yaitu manifestasi dari gangguan psikotik, sindroma gilles de la
Tourette pada anak-anak dan dewasa maupun pada gangguan perilaku berat
pada anak-anak. Dosis oral untuk dewasa 1-6 mg sehari yang terbagi 6-15
mg untuk keadaan berat. Kontraindikasinya depresi system saraf pusat atau
keadaan koma, penyakit Parkinson, hipersensitif terhadap haloperidol. Efek
sampingnya sering mengantuk, kaku, tremor, lesu, letih, gelisah.
 Trihexiphenidyl (THP, Artane, Tremin)
Indikasi untuk penatalaksanaanya manifestasi psikosa khususnya gejala
skioprenia.
 ECT ( Electro Convulsive Therapy)
ECT adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang granmall secara
artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang
satu atau dua temples. Terapi kejang listrik diberikan pada skizofrenia yang
tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi
kejang listrik 4-5 joule/detik.
FORMAT PENGKAJIAN
Keliat (2002) mengemukakan cara khusus yang dapat dilakukan keluarga dalam
mengatasi marah klien, yaitu :
 Latihan secara non verbal / perilaku

Arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak dan tidak
menyebabkan cedera pada klien itu sendiri seperti bantal, kasur, dst.
 Latihan secara social atau verbal

bantu klien relaksasi misalnya latihan fisik maupun olahraga. Latihan pernapasan 2
x / hari, tiap kali 10 kali tarikan dan hembusan napas. Kemudian berteriak, menjerit
untuk melepaskan perasaan marah. Bisa juga mengatasi marah dengn dilakukan
tiga cara, yaitu : mengungkapkan, meminta, menolak dengan benar. Bantu melalui
humor. Jaga humor tidak menyakiti orang, observasi ekspresi muka orang yang
menjadi sasaran dan diskusi cara umum yang sesuai.
Fokus pengkajian :
Alasan utama klien dibawa ke Rumah Sakit adalah perilaku kekerasan
di rumah.
Data Subyektif :
 Keluarga mengatakan klien mengamuk

 Keluarga mengatakan klien marah-marah

 Keluarga mengatakan klien merusak barang-barang (memecah


piring, membanting gelas, dll)
 Keluarga mengatakan klien mengancam ataupun sampai melukai
orang lain, dsb.
 Keluarga mengatakan klien memiliki trauma masa kecil akibat
kekerasan dalam keluarga, pelecehan seksual.
 Keluarga mengatakan klien tidak mampu menerima keadaan dirinya
akibat sakit yang diderita, kecelakaan, kecacatan.
Data obyektif :
 Pada hasil observasi ditemukan adanya pandangan tajam,
muka merah, otot tegang, mengatupkan rahang dengan kuat,
nafas pendek.
 Agitasi motoric : bergerak cepat, tidak mampu duduk diam,
mengepalkan tangan , melempar barang, memukul dengan
tinju kuat, merampas, mengapit kuat, respirasi meningkat,
membentuk aktivitas motoric tiba-tiba (katatonia)
 Verbal : mengancam pada objek yang tidak nyata mengaau
minta perhatian, berdebat, meremehkan, bicara keras-keras,
menunjukkan adanya delusi pikiran paranaoid.
 Afek : marah, permusuhan, kecemasan yang ekstrim, mudah
terangsang, euphoria tidak sesuai atau berlebihan.
 Tingkat kesadaran : bingung, status mental berubah tiba-
tiba, disorientasi, kerusakan memori, tidak mampu dialihkan.
Perilaku Kekerasan
Definisi : Kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak
terkendali secara verbal sampai dengan mencederai orang lain dan / atau
merusak lingkungan.

Penyebab :
 Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah
 Stimulus lingkungan
 Konflik interpersonal
 Perubahan status mental
 Putus obat
 Penyalahgunaan zat / alcohol
Subjektif :
 Mengancam

 Mengumpat dengan kata-kata kasar

 Suara keras

 Bicara ketus

Objektif :
 Menyerang orang lain

 Melukai diri sendiri / orang lain

 Merusak lingkungan

 Perilaku agresif / amuk


Objektif :
 Mata melotot atau pandangan tajam

 Tangan mengepal

 Rahang mengatup

 Wajah memerah

 Postur tubuh kaku

Subjektif :
 (tidak tersedia)

(SDKI, 2016)
Kondisi Klinis Terkait :
 Attetion deficit / hyperactivity disorder (ADHD)

 Gangguan perilaku

 Oppositional defiant disorder

 Gangguan Tourette

 Delirium

 Demensia

 Gangguan amnestic

(SDKI, 2016)
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN