Anda di halaman 1dari 25

Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Magister Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Jakarta

PRESENTED BY : Edwin Frymaruwah & Hadi Cahyadi


PENDAPATAN (PSAK 23)
2

 TUJUAN
Penghasilan didefinisikan dalam Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
sebagai peningkatan manfaat ekonomi selama
periode akuntansi dalam bentuk arus masuk atau
peningkatan aset atau penurunan liabilitas yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal
dari kontribusi penanam modal Penghasilan (income)
meliputi :
1. Pendapatan (revenue)
2. Keuntungan (gain)
PENDAPATAN (PSAK 23)
3

 Ruang Lingkup
Pernyataan standar ini diterapkan untuk :
 Penjualan barang
 Barang meliputi barang yang diproduksi oleh entitas untuk dijual dan barang
yang dibeli untuk dijual kembali.
 Penjualan jasa
 Penjualan jasa biasanya terkait dengan kinerja entitas atas tugas yang telah
disepakati secara kontraktual untuk dilaksanakan selama suatu periode waktu
 Penggunaan aset entitas oleh pihak yang menghasilkan bunga, royalti dan
dividen

Pernyataan ini tidak mengatur pendapatan yang timbul dari :


 perjanjian sewa (lihat PSAK 30 (revisi 2007) : Sewa) ;
 dividen yang timbul dari investasi yang dicatat sesuai metode ekuitas (lihat
PSAK 15 (revisi 2009): Investasi pada Entitas Asosiasi) ;
PENDAPATAN (PSAK 23)
4

 Definisi
Berikut merupakan definisi dari istilah-istilah yang digunakan
dalam pernyataan ini:
 Nilai wajar adalah jumlah dimana suatu aset dapat
dipertukarkan atau suatu liabilitas diselesaikan antara pihak
yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi
wajar (arm’s length transaction).

 Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi


yang timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode
jika arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas,
yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
PENDAPATAN (PSAK 23)
5

 Ruang Lingkup
Pernyataan ini tidak mengatur pendapatan yang timbul dari :
 perjanjian sewa (lihat PSAK 30 (revisi 2007) : Sewa) ;
 dividen yang timbul dari investasi yang dicatat sesuai metode ekuitas
(lihat PSAK 15 (revisi 2009): Investasi pada Entitas Asosiasi) ;
 kontrak asuransi yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 28: Akuntansi
Asuransi Kerugian dan PSAK 36: Akuntansi Asuransi Jiwa.
 perubahan nilai wajar dari aset dan liabilitas keuangan atau
pelepasannya (lihat PSAK 55 (revisi 2006): Instrumen Keuangan:
Pengakuan dan Pengukuran);
 perubahan nilai aset lancar lainnya;
 ekstraksi hasil tambang (lihat PSAK 33: Akuntansi Pertambangan Umum).
PENDAPATAN (PSAK 23)
6

 Pengukuran Pendapatan
Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima
atau dapat diterima dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat
volume yang diperbolehkan oleh entitas.

Pada umumnya, imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas


dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas yang
diterima atau yang dapat diterima. Namun, jika arus masuk dari
kas atau setara kas ditangguhkan, maka nilai wajar dari imbalan
tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang
diterima atau dapat diterima.
PENDAPATAN (PSAK 23)
7

 Penjualan barang
Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh kondisi
berikut dipenuhi:
1. entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan
barang secara signifikan kepada pembeli;
2. entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya

terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan


pengendalian efektif atas barang yang dijual;
3. jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal;

4. kemungkinan besar manfaat ekonomi yang terkait dengan

transaksi tersebut akan mengalir kepada entitas tersebut; dan


5. biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi
penjualan tersebut dapat diukur dengan andal.
PENDAPATAN (PSAK 23)
8

 Penjualan jasa
Jika hasil transaksi yang terkait dengan penjualan jasa dapat diestimasi
dengan andal, pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut harus diakui
dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca.
Hasil transaksi dapat diestimasi dengan andal jika seluruh kondisi berikut ini
dipenuhi:
1. jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal;

2. kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut

dapat diperoleh entitas;


3. tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat

diukur dengan andal; dan


4. biaya yang timbul untuk transaksi dan biaya menyelesaikan transaksi

tersebut dapat diukur dengan andal.


PENDAPATAN (PSAK 23)
9

 Pengungkapan
Entitas mengungkapkan:
1. kebijakan akuntansi yang digunakan untuk pengakuan pendapatan,

termasuk metode yang digunakan untuk menentukan tingkat penyelesaian


transaksi yang melibatkan pemberian jasa;
2. jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan yang diakui selama
periode tersebut, termasuk pendapatan yang berasal dari: penjualan
barang; penjualan jasa; bunga; royalti;dividen; dan
3. jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau jasa yang

tercakup dalam setiap kategori signifikan dari pendapatan.


KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
10

 Tujuan
Tujuan Pernyataan ini adalah menentukan kriteria untuk pemilihan
dan perubahan kebijakan akuntansi, bersama dengan perlakuan
akuntansi dan pengungkapan atas perubahan kebijakan
akuntansi, perubahan estimasi akuntansi, dan koreksi kesalahan.
Pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi dan
keandalan laporan keuangan entitas, daya banding laporan
keuangan tersebut dan dengan laporan keuangan entitas
lainnya.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
11

 Definisi
Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, peraturan dan praktik tertentu
yang diterapkan entitas dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Penerapan retrospektif adalah penerapan kebijakan akuntansi baru untuk
transaksi, peristiwa, dan kondisi lain seolah-olah kebijakan tersebut telah diterapkan.
Penerapan prospektif suatu perubahan kebijakan akuntansi dan pengakuan dampak
perubahan estimasi akuntansi, masing-masing adalah:
a. penerapan kebijakan akuntansi baru untuk transaksi atau peristiwa dan kondisi
lainnya yang terjadi setelah tanggal perubahan kebijakan tersebut; dan
b. pengakuan dampak perubahan estimasi akuntansi pada periode berjalan dan
periode mendatang yang dipengaruhi oleh perubahan tersebut.

Penyajian kembali retrospektif adalah koreksi pengakuan,


pengukuran, dan pengungkapan jumlah unsur-unsur laporan
keuangan seolah-olah kesalahan periode lalu tidak pernah
terjadi.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
12

 Kebijakan Akuntansi
Pemilihan dan Penerapan Kebijakan Akuntansi Ketika suatu PSAK secara
spesifik berlaku untuk suatu transaksi, peristiwa atau kondisi lain, kebijakan
akuntansi yang diterapkan untuk pos tersebut menggunakan PSAK tersebut.

SAK menentukan kebijakan akuntansi untuk menghasilkan laporan keuangan


yang berisi informasi relevan dan andal atas transaksi, peristiwa dan
kondisi lainnya. Kebijakan akuntansi tersebut tidak perlu diterapkan ketika
dampak penerapannya tidak material.

Namun, hal yang tidak tepat untuk membuat, atau membiarkan


ketidaktepatan, penyimpangan dari SAK untuk mencapai suatu penyajian
tertentu atas posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
13

 Kebijakan Akuntansi
SAK dilengkapi dengan pedoman untuk membantu entitas dalam menerapkan
persyaratan dalam SAK. Pedoman yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SAK
bersifat wajib diterapkan.

Sementara pedoman yang bukan bagian tidak terpisahkan dari SAK tidak berisi
pengaturan untuk laporan keuangan. Dalam hal tidak ada SAK yang secara spesifik
berlaku untuk transaksi, peristiwa atau kondisi lainnya, maka manajemen menggunakan
pertimbangannya dalam mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan akuntansi
yang menghasilkan informasi yang:
a. relevan untuk kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi oleh pemakai; dan
b. andal, dalam laporan keuangan yang:
 menyajikan secara jujur posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas;
 mencerminkan substansi ekonomi transaksi, peristiwa atau kondisi lainnya, dan
bukan hanya bentuk hukum;
 netral, yaitu bebas dari bias;
 pertimbangan sehat; dan
 lengkap dalam semua hal yang material
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
14

 Konsistensi Kebijakan Akuntansi


Entitas memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi secara
konsisten untuk transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya yang
serupa, kecuali PSAK secara spesifik mengatur atau mengizinkan
kelompok item-item dimana kebijakan akuntansi yang berbeda
adalah hal yang mungkin sesuai dengan keadaan.

Jika suatu PSAK mengatur atau mengizinkan pengelompokkan


semacam itu, maka kebijakan akuntansi yang tepat dipilih dan
diterapkan secara konsisten untuk setiap kelompok.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
15

 Perubahan Kebijakan Akuntansi


Entitas mengubah suatu kebijakan akuntansi hanya jika perubahan tersebut:
 dipersyaratkan oleh suatu PSAK; atau
 menghasilkan laporan keuangan yang memberikan informasi yang andal
dan lebih relevan tentang dampak transaksi, peristiwa atau kondisi lainnya
terhadap posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas entitas.

Berikut ini bukan merupakan perubahan kebijakan akuntansi :


1. penerapan suatu kebijakan akuntansi untuk transaksi, peristiwa atau
kondisi lainnya yang berbeda secara substansi daripada yang terjadi
sebelumnya; dan
2. penerapan suatu kebijakan akuntansi baru untuk transaksi, peristiwa atau
kondisi lainnya yang tidak pernah terjadi sebelumnya atau tidak material.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
16

 Penerapan Perubahan Kebijakan Akuntansi


Penerapan Perubahan Kebijakan Akuntansi bergantung kepada:
a. Entitas mencatat perubahan kebijakan akuntansi akibat dari
penerapan awal suatu PSAK sebagaimana yang diatur dalam
ketentuan transisi dalam PSAK tersebut, jika ada;
b. Jika tidak ada ketentuan transisi atau perubahan kebijakan
dilakukan secara sukarela maka entitas menerapkan
perubahan tersebut secara retrospektif.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
17

 Penerapan Retrospektif
Ketika perubahan kebijakan akuntansi diterapkan
secara retrospektif, maka entitas menyesuaikan:
a. Saldo awal setiap komponen ekuitas yang
terpengaruh untuk periode sajian paling awal.
b. Jumlah komparatif lainnya diungkapkan untuk setiap

periode sajian seolah-olah kebijakan akuntansi baru


tersebut sudah diterapkan sebelumnya.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
18

 Keterbatasan Penerapan Retrospektif


Ketika penerapan retrospektif disyaratkan, maka
perubahan kebijakan akuntansi diterapkan
secara retrospektif, kecuali sepanjang tidak
praktis untuk menentukan dampak spesifik
periode atau dampak kumulatif periode
tersebut.
KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN
KESALAHAN (PSAK 25)
19

 Estimasi Akuntansi
Ketika penerapan retrospektif disyaratkan, maka perubahan
kebijakan akuntansi diterapkan secara retrospektif, kecuali
sepanjang tidak praktis untuk menentukan dampak spesifik
periode atau dampak kumulatif periode tersebut.

Perubahan Estimasi melibatkan pertimbangan berdasarkan


informasi terkini yang tersedia dan andal. Entitas harus mengakui
efek dari perubahan estimasi secara prospektif
PAJAK PENGHASILAN (PSAK 46)
20

 Estimasi Akuntansi
Badan diatur dalam PSAK 46 tentang Pajak atas Laba Perusahaan.
Dalam hal ini penghasilan dipotong pajak oleh pihak lain saat
menerima penghasilan. PSAK 46 Pajak atas Laba Perusahaan mengatur
tentang Badan memotong PPh 21 atas gaji pegawai dan PPN atas
penyerahan barang/ jasa.

Dalam hal ini, beban yang terdiri dari PBB, Materai BPHTB, dan Pajak
Daerah disetorkan kepada kas Negara kemudian dilaporkan kepada
KPP. SPT Pajak terdiri dari: Penghasilan, Beban yang dapat
dikurangkan, Penghasilan kena pajak x tarif pajak, Pajak terutang 1
tahun fiscal, Kredit pajak, Angsuran pajak (PPh 25), Dipotong pihak lain
(22,23), Pajak Luar Negeri (24), Pajak kurang/ lebih bayar (29/28)
PAJAK PENGHASILAN (PSAK 46)
21

 Perubahan PSAK 46 (Revisi 2014)


PAJAK PENGHASILAN (PSAK 46)
22

 Perbedaan Pajak dan Akuntansi


Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) seringkali tidak sama atau
bertentangan dengan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia dalam
menentukan Laba atau penghasilan kena pajak.
Dalam hal perbedaan tersebut, ada yang bersifat sementara (temporary different)
dan ada yang bersifat tetap (permanent different). Atas perbedaan tersebut harus
dilakukan suatu tahapan yang disebut rekonsiliasi fiskal, sehingga pada akhirnya
dapat diketahui laba fiskal perusahaan. Perbedaan tetap adalah merupakam suatu
konsekuensi yang harus diterima bahwa hal tersebut harus dikeluarkan dari laporan
laba rugi karena secara fiskal atau berdasar peraturan pajak tidak dapat
dibebankan atau bukan merupakan penghasilan.
Berbeda dengan perbedaan tetap, perbedaan sementara baik secara standar
akuntansi maupun peraturan perpajakan boleh diakui, hanya saja waktu
pengakuannya yang berbeda, tetapi pada akhirnya mempunyai nilai yang sama.
Akun terkait dengan perbedaan sementara adalah Pajak Tangguhan: Aset/ Liabilitas
dan Beban/Pendapatan.
PAJAK PENGHASILAN (PSAK 46)
23

 Definisi
a. Aset pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan pada
periode masa depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan,
akumulasi rugi pajak belum dikompensasi, akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam
hal peraturan perpajakan mengizinkan. (Laba Pajak lebih besar dari Laba Akuntansi).
b. Liabilitas pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan terutang pada periode masa
depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak. (Laba Akuntansi lebih besar
dari Laba pajak)
c. Beban pajak (Penghasilan pajak) adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan
yang diperhitungkan dalam menentukan laba atau rugi pada satu periode dipadankan
dengan dengan laba akuntansi
d. Laba akuntansi adalah laba atau rugi selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.
e. Laba kena pajak atau laba fiskal (rugi pajak atau rugi fiskal) adalah laba (rugi) selama satu
periode yang dihitung berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas Pajak atas
pajak penghasilan yang terutang (dilunasi).
f. Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan
pajak ini dikenakan atas laba kena pajak entitas
PAJAK PENGHASILAN (PSAK 46)
24

 Definisi
a. Aset pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan pada
periode masa depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan,
akumulasi rugi pajak belum dikompensasi, akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam
hal peraturan perpajakan mengizinkan. (Laba Pajak lebih besar dari Laba Akuntansi).
b. Liabilitas pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan terutang pada periode masa
depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak. (Laba Akuntansi lebih besar
dari Laba pajak)
c. Beban pajak (Penghasilan pajak) adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan
yang diperhitungkan dalam menentukan laba atau rugi pada satu periode dipadankan
dengan dengan laba akuntansi
d. Laba akuntansi adalah laba atau rugi selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.
e. Laba kena pajak atau laba fiskal (rugi pajak atau rugi fiskal) adalah laba (rugi) selama satu
periode yang dihitung berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas Pajak atas
pajak penghasilan yang terutang (dilunasi).
f. Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan
pajak ini dikenakan atas laba kena pajak entitas
25

Terima kasih