Anda di halaman 1dari 39

REFERAT: MORBUS HANSEN

DISUSUN OLEH: PEMBIMBING:


Ivany Lestari Goutama (406181049)
DR. GINA TRIANA SUTEDJA,
Nailah Rahmah (406181048)
Kartika Sanra Dila (406181084) SP.KK
DR. NOVIA YUDHITIARA, SP.KK
Latar Belakang
 Penyakit kusta atau lepra atau Morbus Hansen infeksi menular kronis
 Mycobacterium leprae  saraf tepi (primer) dan kulit serta organ-organ
lain (sekunder). 
 2 tipe (WHO)  pausibasilar (PB) dan multibasilar (MB).
 Penyakit kusta masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh sebagian
besar masyarakat dunia terutama di Negara berkembang, dan Indonesia
merupakan penyumbang penyakit kusta setelah India dan Brazil. 1,12
 Kusta bukan penyakit keturunan, tetapi merupakan penyakit menular
pernapasan dan kontak kulit.
 Kusta merupakan penyakit yang ditakuti karena bukan hanya dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan saraf besar yang irreversibel di wajah,
ekstremitas, motorik dan sensorik, dan kerusakan berulang pada daerah
anestetik disertai paralisis dan atrofi otot, serta komplikasi seperti
ulserasi, multilasi, dan deformitas, namun juga dapat menyebabkan
penderita penyakit ini dikucilkan oleh masyarakat sekitar.1,5
Kusta/ Lepra/ Morbus
Definisi
hansen
 1874Dr. Gerhard Armauwer
Hansen
 penyakit infeksi kronik
Mycobacterium leprae.
 Kusta berasal dari bahasa
india kustha, yang telah
dikenal sejak 1400 tahun SM,
yang berarti kumpulan gejala-
gejala kulit secara umum.
Kusta
Kusta tipe Multi
Kusta tipe Pausi-Bacillary
Bacillary 
 disebut juga kusta kering  disebut juga kusta basah
 bercak keputihan seperti panu  bercak putih kemerahan yang
dan mati rasa atau kurang tersebar satu-satu atau merata
merasa, permukaan bercak diseluruh kulit badan, terjadi
kering dan kasar serta tidak penebalan dan pembengkakan
berkeringat, tidak tumbuh pada bercak, bercak pada kulit
rambut/bulu, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat.
antara 1-5 tempat.  Kerusakan banyak saraf tepi
 Ada kerusakan saraf tepi pada dan hasil pemeriksaan
satu tempat, hasil bakteriologi positif (+).
pemeriksaan bakteriologis  Tipe seperti ini sangat mudah
negatif (-). menular.
 Tipe kusta ini tidak menular.
DefinisiReaksi Kusta
 a/ suatu reaksi imun patologik + gejala konstitusi,
aktivasi &/timbulnya efloresensi baru di kulit
 => hasil interupsi dari episode akut perjalanan
penyakit kusta yang sebenarnya sangat kronik.
 Reaksi kusta dapat terjadi sebelum pengobatan,
namun lebih sering selama atau setelah
pengobatan.
Reaksi lepra tipe 1/ Reaksi lepra tipe 2/
Reaksi reversal atau upgrading Eritema Nodusum Leprosum (ENL)

reaksi lepra non-nodular/reaksi


borderline.
 reaksi lepra nodular
 terjadi saat peningkatan  terjadi akibat reaksi
imunitas yang diperantarai
oleh sel (cell mediated
hipersensitivitas
immunity) (diduga diperantarai humoral.
reaksi hipersensitivitas tipe IV
atau tipe lambat).
Etiologi Kusta
 Mycobacterium leprae
 ukuran 3-8 ɥm x 0,5ɥm
 basil tahan asam dan alkohol
 bakteri gram positif (intraselular
obligat)
 menyerang saraf perifer kulit
dan mukosa traktur respiratorius
bagian atas organ lain kecuali
susunan saraf pusat.
 menular  manusia (kontak
langsung dengan penderita)
 Kulit
 Inhalasi droplet
 Membelah dalam jangka 14-21
hari
 Masa inkubasi rata-rata 2-5 tahun.
Epidemiologi Kusta
 Awal penyebaran (diduga China)  perpindahan
penduduk  India  Indonesia (abad ke IV-V)
 1991 World Health Organisation (WHO): resolusi tentang
Eliminasi Kusta tahun 20001 kasus per 10.000
penduduk.
 WHO: Jumlah penderita kusta pada 121 negara:
 2008 ±249.007 penderita
 Awal 2009 ±213.036 penderita
 Indonesia, 2009 ±21.538 orang (kasus baru) jumlah
tertinggi di Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua.
 Jumlah penderita kusta terdaftar ini membuat Indonesia
menjadi salah satu Negara di dunia yang dapat mencapai
eliminasi kusta sesuai target yang ditetapkan oleh World
Health Organisation pada tahun 2000.
Faktor predisposisi
Kontak kulit Kondisi sosial
Sistem
atau inhalasi ekonomi dan
Imunitas
via droplet lingkungan
Seluler
penderita yang buruk

Usia Jenis kelamin


Asupan gizi • menyerang • Pria memiliki
yang buruk semua usia, tingkat terkena
paling banyak kusta dua kali
pada 25- 35 lebih tinggi dari
tahun wanita.
Kemungkinan
Penyertaan Varian genetik
reservoir lain
penyakit lain (masih dalam
(masih dalam
seperti HIV penelitian)
penelitian
Klasifikasi
a. Klasifikasi Internasional (1953)
 1.    Indeterminate (I)

 2.    Tuberkuloid (T)

 3.    Borderline-Dimorphous (B)

 4.    Lepromatosa (L)

b. Klasifikasi untuk kepentingan riset /klasfikasi Ridley-


Jopling (1962).
 1.    Tuberkoloid (TT)

 2.    Boderline tubercoloid (BT)

 3.    Mid-berderline (BB)

 4.    Borderline lepromatous (BL)

 5.    Lepromatosa (LL)
Klasifikasi spektrum Ridley-Jopling
berdasarkan patogenesis kusta
Klasifikasi
Klasifikasi untuk kepentingan program kusta
/klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988)
1.    Pausibasilar (PB):
 Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan
BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau
tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid.
2.    Multibasilar (MB):
 Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT
menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L
menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA
positif.
Klasifikasi Kusta menurut
WHO
PB MB
1.Lesi kulit  1-5 lesi  > 5 lesi
(makula yang  Hipopigmentasi/erite  Distribusi lebih
datar, papul yang ma simetris
meninggi,infiltrat  Distribusi tidak  
, plak eritem, simetris  
nodus)    
2.Kerusakan   Hilangnya sensasi
saraf(menyebabk   kurang jelas
an hilangnya  Hilangnya sensasi  Banyak cabang saraf
senasasi/kelema yang jelas
han otot yang  Hanya satu cabang
dipersarafi oleh saraf
saraf yang
terkena)
Klasifikasi Kusta tipe PB menurut WHO
Borderline
Karakteristik Tuberkuloid Indeterminat
tuberculoid
lesi (TT) e (I)
(BT)
Tipe Makula dibatasi Makula dibatasi Makula
infiltrat infiltrat saja  
       
Jumlah Satu atau Satu dengan lesi Satu atau
  beberapa satelit beberapa
       
Distribusi Asimetris Bervariasi
  Terlokalisasi &    
  asimetris    
Permukaan   Kering, skuama Dapat halus
  Kering, skuama   agak berkilat
       
Sensibilitas   Hilang Agak
  Hilang    terganggu
BTA    Negatif atau 1 +  
Pada lesi kulit Negatif Biasanya
Tes lepromin Positif (2 +) negatif
Klasifikasi Kusta tipe MB menurut WHO
Borderline Mid-borderline
Karakteristik Lepromatosa (LL)
lepromatosa (BL) (BB)
Tipe Makula, infiltrat difus, Makula, plak, papul Plak, lesi berbntuk
papul, nodus kubah, lesi
punched-out
Jumlah Banyak, distribusi luas, Banyak, tapi kulit sehat
praktis tidak ada kulit masih ada Beberapa, kulit
sehat sehat (+)
Distribusi Cenderung simetris
simetris asimetris
Permukaan Halus dan berkilap
Kering, skuama sedikit berkilap,
Halus dan berkilap beberapa lesi
Sensibilitas Sedikit berkurang kering
Tidak terganggu
BTA berkurang
Pada lesi kulit  Banyak
Banyak (globi)
Pada hembusan Biasanya tidak ada agak banyak
hidung Banyak (globi)
tidak ada
Tes lepromin Negatif
Negatif
biasanya negatif,
dapat juga (±)
Tipe indeterminate (I)
 Salah satu tipe  Gambaran klinis:
 lesi biasanya berupa makula
penyakit kusta hipopigmentasi dengan
yang tidak sedikit sisik dan kulit di
sekitarnya normal.
termasuk dalam  Lokasi biasanya di bagian
klasifikasi Ridley- ekstensor ekstremitas,
bokong atau muka, kadang-
jopling tetapi kadang dapat ditemukan
makula hipestesi atau sedikit
diterima secara penebalan saraf.
luas oleh para ahli  Diagnosis tipe ini hanya
dapat ditegakkan, bila
kusta. dengan pemeriksaan
histopatologik.
Klasifikasi lain
 Kusta histoid  Kusta tipe neural
 variasi dari lesi tipe  gambaran klinis yakni tidak
lepromatosa yang pertama ada dan tidak pernah adanya
kali dikemukakakn oleh lesi kulit, ada satu atau lebih
WADE pada tahun 1963, pembesaran saraf, adanya
anestesia dan atau paralisis,
 gambaran klinis berbentuk
serta atrofi otot pada daerah
nodus yang berbeatas
yang disarafi, dengan hasil
tegas, dapat juga berbentuk
bakterioskopik negatif, dan
seperti plak, disertai hasil tes lepromin umumnya positif,
bakterioskopik positif tinggi, dan untuk menentukan tipe
yang umumnya timbul biasanya tipe tuberkuloid,
sebagai kasus relaps sensitif borderline atau nonspesifik,
atau resisten. harus dilakukan pemeriksaan
histopatologik saraf.
 Tipe tuberkuloid (TT)

 Tipe Borderline
Tuberculoid (BT)

Tipe borderline
lepromatous (BL)

 Tipe lepromatosa (LL)


Eritema Nodusum Leprosum
(ENL)/reaksi lepra nodular
 Gambaran klinis:
 nodus eritema dan nyeri dengan tempat
predileksi di lengan dan tungkai.
 Gejala konstitusionaldemam,
menggigil, nyeri sendi, mual, sakit saraf,
dan otot dari ringan sampai berat.
 Jika mengenai organ lain dapat disertai
dengan gejala seperti iridosiklitis,
neuritis akut, limfadenitis, artritis, orkitis
dan nefritis akut dengan adanya
proteinuria.
 Reaksi peradangan pada tempat
M.leprae berada umunya terjadi pada
pengobatan 6 bulan pertama. Neuritis
akut dapat menyebabkan kerusakan
saraf secara mendadak.
 timbul pada tipe lepromatosa polar
dan dapat pula pada tipe polar.
 Pada ENL, tidak terjadi perubahan tipe
Reaksi reversal/ reaksi
lepra non-nodular
 Gambaran klinis:
 sebagian atau seluruh lesi yang
telah ada sebelumnya bertambah
aktif atau timbul lesi baru pada
waktu yang relatif singkat, seperti
contohnya lesi hipopigmentasi
menjai eritema, lesi eritema menjadi
makin eritematosa dan lesi lama
bertambah luas.
 Adanya gejala neuritis akut perlu
diperhatikan untuk pertimbangan
pemerian kortikosteroid.1,2,3,14
 terjadi hanya pada tipe borderline
(Li, BL,BB, BT, Ti) (=reaksi
borderline)
 Perubahan tipe secara mendadak
dan cepat tergantung SIS.
Fenomena Lucio
Klinis:
 reaksi kusta yang 

 berupa plak atau infiltrat difus,


sangat berat merah muda, bentuk tak teratur
dan nyeri.
 terjadi pada kusta  Lesi lebih berat tampak lebih
eritematosa, purpura, bula, terjadi
tipe lepromatosa nekrosis dan ulserasi yang nyeri.
non nodular difus  Lesi lambat menyembuh dan
terbentuk jaringan parut.
 biasanya  Pada pemeriksaan histopatologi,
dapat menunjukkan nekrosis
ditemukan di epidermal iskemik, edema,
Meksiko dan proliferasi endotelial pembuluh
darah dan banyak basil
Amerika tengah. M.leprae di endotel kapiler.
perifer
1. Pembesaran saraf (biasanya asimetris),
 N. fasialis : Lagoftalmus.     terutama pada bagian yang dekat
 N. ulnaris : Anastesia pada ujung
dengan kulit, dikarenakan lokasi tersebut
jari bagian anterior kelingking
dan jari manis, Clawing merupakan yang paling rendah suhunya,
kelingking dan jari manis, Atrofi seperti pada nervus aurikularis besar,
hipotenar dan otot interoseus nervus ulnaris, nervus radialis kutaneus,
dorsalis pertama.   nervus peroneus superficial, nervus sural,
 N. medianus : Anastesia pada dan nervus tibial posterior.
ujung jari bagian anterior ibu
jari, telunjuk dan jari tenga, 2. Kerusakan sensorik pada lesi kulit.
Tidak mampu aduksi ibu 3. Silent neuropathy: Hilangnya kekuatan
jari,  Clawing ibu jari, telunjuk
dan jari tengah, Ibu jari
sensorik dan motorik (kelemahan dan/
kontraktur. atau atrofi) yang dapat disertai tanda dan
 N. radialis :  Anastesia dorsum dan gejala peradangan pada pangkal
manus, Tangan gantung batang saraf.
(wrist/hand drop), Tidak mampu
4. Pola stocking-glove dari gangguan
ekstensi jari-jari atau
pergelangan tangan.  sensorik, dengan hilangnya serat tipe C
 N. poplitea lateralis : Kaki secara perlahan, yang melibatkan
gantung (foot drop),   diskriminasi suhu panas dan dingin
 N.tibialis posterior: Anastesia sebelum kehilangan rasa sakit atau
telapak kaki,  Clow toes.  sentuhan ringan, mulai dari daerah akral,
dan seiring waktu, baru meluas ke pusat,
Gejala kerusakan pada
mata
 Primer dan sekunder
 Primer 
 alopesia pada alis mata dan bulu mata,
 mendesak jaringan mata yang lainnya
 Sekunder 
 Rusaknya N. Facialis yang dapat membuat
paralisis N. Orbikularis palpebrarum sebagian
atau seluruhnya,
 Lagophtalmus,
 kebutaan
Patogenesis dan cara
penularan
Anamnesis & Pemeriksaan
Pemeriksaan saraf tepi
Pemeriksaan penunjang
Diagnosa banding
Tatalaksana
 Umum
 Mengedukasi pasien tentang penyakit dan

tatalaksananya.
 Penyakit kusta adalah penyakit yang disebabkan
infeksi bakteri M.leprae yang dapat menyebabkan
kelainan pada kulit, saraf serta bagian tubuh lain
termasuk mata dan otot. Adapun penyakit ini
dapat disertai dengan reaksi yang timbul
sebelum, bersamaan atau paling sering sesudah
pengobatan yang dapat memperburuk gejala dari
penyakit yang dialami jika tidak ditangani lebih
lanjut.
 Prinsip terapi lepra adalah untuk menghentikan
infeksi, dengan obat antikusta, mencegah dan
mengobati reaksi dan mengurangi resiko
kerusakan saraf, mengobati komplikasi kerusakan
saraf (anestesia, trauma, kelumpuhan) serta
rehabilitasi pasien dari segi sosial dan psikologis.
Sistemik (Kusta)
Sistemik (Reaksi kusta)
Pencegahan Cacat (Depkes
RI, 2005)
 Pemeliharaan kulit harian
 1)   cuci tangan dan kaki setiap malam sesudah bekerja dengan sedikit sabun (jangan
detergen)
 2)   Rendam kaki sekitar 20 menit dengan air dingin
 3)   kalau kulit sudah lembut. Gosok kaki dengan karet busa agar kulit kering terlepas.
 4)   kulit digosok dengan minyak.
 5)   secara teratur kulit diperiksa (adakah kemerahan, hot spot, nyeri, luka dan lain-lain)
 Proteksi tangan dan kaki
 1)   Tangan :
 a)  pakai sarung tangan waktu bekerja
 b)  stop merokok
 c)  jangan sentuh gelas/barang panas secara langsung
 d)  lapisi gagang alat-alat rumah tangga dengan bahan lembut

 2)   Kaki
 a)    selalu pakai alas kaki
 b)   batasi jalan kaki, sedapatnya jarak dekat dan perlahan
 c)    meninggikan kaki bila berbaring
 c)    Latihan fisioterapi
 Tujuan latihan adalah :
 1)   Cegah kontraktur

 2)   Peningkatan fungsi gerak

 3)   Peningkatan kekuatan otot

 4)   Peningkatan daya tahan (endurance)

 Senam Kusta
 suatu gerakan badan yang berfokus pada olah gerak motorik saraf untuk membantu
mendeteksi kemunduran saraf pada penderita kusta itu sendiri, membantu latihan olah
gerak badan yang terganggu lebih lanjut, dan menjadi acuan perawatan diri untuk
mencegah cacat.
Komplikasi Kusta
 gangguan saraf perifer (irreversibel)
 biasanya pada tangan atau kaki, serta pada mata,
seperti keratitis, lesi camera oculi anterior, dan
sampai dengan kebutaan.
 hilangnya kelemahan otot sampai kontraktur,
jaringan parut dan terbentuknya deformitas lain
 disertai superinfeksi bakteri yang berulang dan
kelainan mati rasa
 insufisiensi vena cikal bakal terbentuknya
ulkus dan dermatitis statis
 terbentuknya jaringan parut
Prognosis Kusta
 Penderita kusta tipe TT, atau tipe BT yang mengalami
reaksi upgrading ke TT, umumnya dapat sembuh
dengan sendirinya atau kadang bisa menjadi lebih
buruk dikarenakan adanya cedera saraf atau
superinfeksi bakteri akibat reaksi kusta.
 Neuritis periferal dapat diredakan dengan pengobatan
kortikosteroid.
 Dengan adanya obat-obat kombinasi, pengobatan
menjadi lebih sederhana dan lebih singkat, sehingga
prognosis menjadi lebih baik. Namun jika sudah
disertai dengan kontraktur dan ulkus kronik, maka
prognosis menjadi kurang baik.12
Daftar Pustaka
1. Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine ed VIII.
McGraw-Hill Companies. United States; 2012.
2. Menaldi SLSW. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin ed 7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2016.
3. CDC. Hansens's Disease (Leprosy), retrieved September, 26 2018 from
http://cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/hansen-a.htm.htm; February 11, 2004.
4. Daili, dkk.. Kusta. Jakarta: UI PRES; 1998
5. WHO. Elimination of Leprosy as a Public Health Problem. retrieved September 26, 2018 from
http://who.int.com/lep/stat2002/global02.htm; January 10, 2005.
6. Djuanda A, Menaldi SL, Wisesa TW, dan Ashadi LN. Kusta : diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
7. Graham R, Burns T. Lecture Notes Dermatologi. 8th Ed. Jakarta: Erlangga; 2005.
8. Leisinger KM. Leprosy in the year 2005: Impressive success with the treatment of a biblical disease. retrieved September 26,
2018 from http://novartisfoundatin.com/en/about/organization/board/klaus-leisinger.htm; 2005.
9. Djuanda, Edwin. Rahasia Kulit Anda. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1990.
10. Barrett. TL., Wells. MJ., Libow.L., Quirk.C., and Elston DM. Leprosy, retrieved September 29, 2018
from http://emedicine.com/derm/byname/leprosy.htm; April 10, 2002.
11. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Buku Pedoman Program P2 Kusta Bagi Petugas
Puskesmas. Jakarta : Sub Direktorat Kusta & Frambusia; 2009.
12. Siregar RS. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. 2nd ed. Jakarta: ECG; 2013.
13. Vanderborght PR, Matos HJ, Salles AM, Vasconcellos SE, Silva-Filho VF, Huizinga TWJ, et al. Single nucleotide polymorphism
(SNPs) at -238 and -308 positions in the TNFα promoter: Clinical and bacteriological evaluation in leprosy. Internat J Leprosy.
2004; 72,2: 143-8.
14. Haslett PAJ, Roche P, Butlin CR, MacDonald M. Effective treatment of erythema nodosum leprosum with thalidomide is
associated with immune stimulation. J Infect Dis. 2005; 192 (12): 2045-53.
15. Nadesul H. Bagaimana Kalau Terkena Penyakit Kulit Edisi 2. Jakarta; 1997.
16. Kakhawita IP, Walker SL, Lockwood DNJ. Leprosy type 1 reaction and erythema nodosum leprosum. AN Bras Dermatol. 2008;
83(1): 75-82.
17. Mohanty KK, Joshi B, Katoch K, Sengupta U. Leprosy reaction: Humoral and cellular immune responses to M. leprae 65kDa,
28kDa, and 18kDa antigens. Internat J Leprosy. 2004; 72,2: 149-58.