Anda di halaman 1dari 17

AKREDITASI RUMAH SAKIT

Disusun Oleh :
Eva Nurul Kusuma Dewi (16330135)
Nurul Hidayati Hasanah (16330137)
Fina Adenia Habeahan (16330139)
Kaleb Mahasem Sihombing (17330742)
Dosen:
Ainun Wulandari, S. Farm., M. Sc., Apt
PENGERTIAN AKREDITASI RUMAH SAKIT

Akreditasi Rumah Sakit dihubungkan dengan penilaian mutu.


Namun sebenarnya mutu itu sendiri sebagai outcome dari
DEPKES RI (199 pelaksanaan akreditasi, sedangkan akreditasi hanya menilai
6) pelayanan tersebut telah memenuhi standar atau tidak tanpa
mengukur mutu pelayanannya.

Akreditasi adalah suatu rangkaian kegiatan untuk menilai tingkat


perkembangan rumah sakit yang ditujukan utuk kepentingan
Widjaja (1996) pembinaan rumah sakit yang pada akhirnya memberikan
pengakuan karena telah memenuhi standar yang telah
ditentukan

Akreditasi adalah pengakuan terhadap Rumah Sakit yang


diberikan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi
yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, setelah dinilai bahwa
Permenkes RI N
o. 012 Tahun 201
Rumah Sakit itu memenuhi Standar Pelayanan Rumah Sakit
2 yang berlaku untuk meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit
secara berkesinambungan
LANDASAN HUKUM

UU No 44 tahun 2009 pasal 40 (Akreditasi rumah


sakit)
Undang-undang RI nomor 23 tahun 1992 pasal 59
(mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit)
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 436/93
(standar pelayanan Rumah Sakit dan standar
pelayanan medis di Indonesia)
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
159b/Menkes/Per/II/1998 (pengaturan cara-cara
akreditasi Rumah Sakit)
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 012 Tahun
2012 Tentang Akreditasi Rumah Sakit
Akreditasi Nasional Rumah Sakit
Di Indonesia akreditasi rumah sakit baik tingkat
nasional maupun internasional sudah diatur oleh
pemerintah melalui Undang-Undang maupun
peraturan tertulis lainnya, yaitu:
 UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
pasal 40 ayat 1 dan 2.
 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 29
Akreditasi Internasional oleh Joint Co
mmission Internastional (JCI)
Menurut Depkes RI (2009) Akreditasi internasional rumah sakit
adalah akreditasi yang diberikan oleh pemerintah dan atau Badan
Akreditasi Rumah Sakit taraf Internasional yang bersifat Independen
yang telah memenuhi standar dan kriteria yang ditentukan.

Joint Commission International (JCI) merupakan lembaga akreditasi


internasional yang berwenang melakukan akreditasi. Kementerian
Kesehatan menetapkan JCI sebagai lembaga atau badan yang dapat
melakukan akreditasi rumah sakit bertaraf Internasional yang
ditetapkan dalam Keputusan Menkes No.
1195/MENKES/SK/VIII/2010.
Pada tahun 2012 penilaian Akreditasi Rumah Sakit akan mengacu
pada Standar JCI, yang dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu

• Kelompok sasaran yang berfokus pada pasien


• Kelompok standar manajemen rumah sakit
• Kelompok keselamatan pasien dan
• Sasaran MDGs.
TUJUAN AKREDITASI RUMAH SAKIT

Tujuan Umum → Mendapatkan gambaran seberapa jauh Rumah


Sakit di Indonesia telah memenuhi berbagai standar yang
ditentukan, dengan

Tujuan Khusus
1. Memberikan pengakuan dan penghargaan kepada Rumah Sakit
yang telah mencapai tingkat pelayanan kesehatan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan.
2. Memberikan jaminan kepada petugas Rumah Sakit bahwa
semua fasilitas, tenaga dan lingkungan yang diperlukan tersedia.
3. Memberikan jaminan dan kepuasan kepada pelanggan dan
masyarakat.
MANFAAT AKREDITASI RUMAH SAKIT

Bagi Rumah Sakit

a) Akreditasi menjadi forum komunikasi dan konsultasi antara Rumah


Sakit dan badan akreditasi.
b) Dengan self evaluation, rumah sakit dapat mengetahui pelayanan
yang berada dibawah standar atau perlu ditingkatkan.
c) Penting untuk rekruitmen dan membatasi turn over staf Rumah Sakit.
d) Status akreditasi menjadi alat untuk negosiasi.
e) Status akreditasi menjadi alat pemasaran kepada masyarakat.
f) Suatu saat pemerintah akan mempersyaratkan akreditasi sebagai
kriteria untuk memberi izin Rumah Sakit pendidikan.
g) Status akreditasi merupakan status simbol bagi Rumah Sakit dan
dapat meningkatkan citra dan kepercayaan masyarakat kepada
Rumah Sakit.
Bagi Pemerintah

a) Salah satu pendekatan untuk mengingkatkan dan


membudayakan konsep mutu pelayanan Rumah Sakit
b) Memberikan gambaran keadaan perumah sakitan di
Indonesia dalam pemenuhan standar yang ditentukan

Bagi Perusahaan Asuransi

a) Negosiasi klaim asuransi kesehatan dengan Rumah Sakit


b) Memberi gambaran, Rumah Sakit mana yang dapat
dijadikan mitra kerja
Bagi Masyarakat

a) Masyarakat dapat mengenal dan memilih Rumah Sakit


yang dianggap baik pelayanannya
b) Masyarakat akan merasa lebih aman
Bagi Pemilik Rumah Sakit

a) Pemilik mempunyai rasa kebanggaan


b) Dapat menilai seberapa baik pengelolaan sumber daya
(efisiensi Rumah Sakit, ini dilakukan oleh manajemen dan
seluruh tenaga yang ada, sehingga misi dan program
rumah sakit dapat lebih mudah tercapai (efektifitas)

Bagi Pegawai/Petugas Rumah Sakit

a) Petugas Rumah Sakit merasa lebih senang dan aman


serta terjamin bekerja.
b) Biasanya pada unit pelayanan yang mendapat nilai baik
sekali akan mendapat imbalan (materi/non materi) dalam
usahanya memenuhi standar,
c) Self assessment akan menambah kesadaran akan
pentingnya pemenuhan standar dan peningkatan mutu
sehingga dapat memotivasi pegawai.
INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT

Standar pelayan rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Menteri


Kesehatan dengan SK Menkes Nomor 436/93, terdiri dari 20 pelayanan:

1. Pelayanan Administrasi dan 11. Pelayanan Perinatal Risiko


Manajemen; Tinggi;
2. Pelayanan Medis; 12. Pengendalian Infeksi;
3. Pelayanan Gawat Darurat; 13. Pelayanan Anestesi;
4. Pelayanan Keperawatan; 14. Pelayanan Rehabilitasi Medis;
5. Pelayanan Rekam Medis; 15. Pelayanan Gizi;
6. Pelayanan Radiologi; 16. Pelayanan Intensif;
7. Pelayanan Laboratorium; 17. Strerilisasi Sentral;
8. Pelayanan Kamar Operasi; 18. Pemeliharaan Sarana;
9. Pelayanan Farmasi; 19. Pelayanan Lain, dan
10. Keselamatan Kerja, 20. Pelayanan Perpustakaan.
Kebakaran dan Kewaspadaan
Bencana (K-3);
Dari 20 (dua puluh) pelayanan rumah sakit ini kemudian
disusunlah instrumen akreditasi lengkap berjumlah 16
(enam belas) pelayanan, hal ini dikarenakan ada
penggabungan-penggabungan pelayanan.

Akreditasi tingkat dasar dengan 5 (lima) pelayanan

1. Pelayanan Administrasi dan Manajemen;


2. Pelayanan Medis;
3. Pelayanan Gawat Darurat;
4. Pelayanan Keperawatan; dan
5. Pelayanan Rekam Medis.
Akreditasi tingkat lanjut dengan 12 (dua belas) pelayanan

1. Pelayanan Administrasi dan Manajemen;


2. Pelayanan Medis;
3. Pelayanan Gawat Darurat;
4. Pelayanan Keperawatan;
5. Pelayanan Rekam Medis;
6. Pelayanan Kamar Operasi;
7. Pelayanan Laboratorium;
8. Pelayanan Radiologi;
9. Pelayanan Perinatal Risiko Tinggi;
10. Pengendalian Infeksi;
11. Pelayanan Farmasi dan
12. Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan
Bencana (K-3).
Akreditasi tingkat lengkap dengan 16 (enam belas) pelayanan

1. Pelayanan Administrasi dan Manajemen;


2. Pelayanan Medis;
3. Pelayanan Gawat Darurat;
4. Pelayanan Keperawatan;
5. Pelayanan Rekam Medis;
6. Pelayanan Kamar Operasi;
7. Pelayanan Laboratorium;
8. Pelayanan Radiologi;
9. Pelayanan Perinatal Risiko Tinggi;
10. Pengendalian Infeksi;
11. Pelayanan Farmasi;
12. Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan
Bencana (K-3);
13. Pelayanan Rehabilitasi Medis;
14. Pelayanan Intensif;
15. Pelayanan Gizi dan
16. Pelayanan Darah.
7 standar pada Standar 1 : Falsafah dan Tujuan.

masing-masing
pelayanan Standar 2 : Administrasi dan Pengelolaan.

Standar 3 : Staf dan Pimpinan.

Standar 4 : Fasilitas dan Peralatan.

Standar 5 : Kebijakan dan Prosedur.

Standar 6 : Pengembangan Staf dan Program


Pendidikan.

Standar 7 : Evaluasi dan Pengendalian Mutu.


Pelaksanaan Survei Akreditasi RS

Pelaksanaan survei akreditasi rumah sakit dijelaskan oleh


Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dalam buku
Pedoman Tata Laksana Survei Akreditasi Rumah Sakit Edisi
II Tahun 2013.
Tujuan survei akreditasi ialah untuk menilai seberapa jauh
rumah sakit mematuhi standar yang ditetapkan.
Rumah sakit yang menjalani survei akreditasi untuk
pertama kali diharuskan memiliki catatan balik 4 (empat)
bulan ke belakang sebagai bukti sudah mematuhi standar.
Rumah sakit yang menjalani survei ulang diharuskan dapat
menunjukan catatan balik ke belakang selama 12 (dua
belas) bulan.
Langkah-langkah pelaksanaa survei
1. Pembukaan pertemuan.
2. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien dan MDGs.
3. Perencanaan survei.
4. Telaah dokumen.
5. Verifikasi dan masukan.
6. Telaah rekam medis pasien secara tertutup (pasien sudah
pulang).
7. Kunjungan ke area pelayanan pasien yang di pandu oleh
kegiatan telusur.
8. Kegiatan survei yang terarah (terfokus/diluar rencana;
karena ada temuan).
9. Telaah dari lingkungan, bangunan, sarana dan prasarana.
10. Wawancara dengan pimpinan (beberapa jenjang).
11. Persiapan surveior membuat laporan.
12. Pertemuan penutup survei dengan pimpinan (exit
conference).