Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

SOLUSIO PLASENTA
Pembimbing : dr. Iaman Gantina Barus, Sp. OG (K)
Disusun oleh : Santi Prima Natasia Pakpahan / 112017127
Kepaniteraan Klinik Kandungan dan Kebidanan
FK UKRIDA - RSUD Koja Jakarta Utara
Periode 4 Maret – 11 Mei 2019
PENDAHULUAN
• Solusio Plasenta / Abruptio Plaentae / Ablatio Placentae /
Perdarahan aksidential
Bayi Lahir

20 minggu Solusio Plasenta Aterm

• Solusio plasenta →perdarahan antepartum yang


memberikan kontribusi terhadap kematian maternal (6%)
dan perinatal (20-35%) di Indonesia.
• Di negara berkembang, penyebab kematian yang
disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan, dan
nifas adalah perdarahan, infeksi, pre-eklamsi/eklamsi.
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny. TH
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Usia : 30 tahun
• Alamat : Warakas, Jakarta Utara
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Agama : Islam
• Suku / Bangsa : Jawa
• Status Perkawinan : Menikah 1 kali (tahun 2015)
• Dikirim Oleh : Puskesmas Warakas
• Tanggal masuk RS : 18 April 2019 (19:37)
• Nomor RM : 00318486
ANAMNESIS
• Keluhan utama : Nyeri perut bawah dan gerakan janin tidak ada sejak 2
jam SMRS.
• Riwayat perjalanan penyakit
Pasien rujukan dari Puskesmas Warakas atas indikasi hamil 26
minggu dengan nyeri perut, gerakan janin tidak ada dan hipertensi.
Pasien mengeluh nyeri perut dan gerakan janin tidak ada sejak 2
jam SMRS. Pasien tidak mengalami mules-mules menjalar ke
pinggang yang makin lama makin sering dan kuat, tidak keluar air-
air, lendir dan darah. Pasien mengeluh perut terasa keras namun
tidak ada riwayat perdarahan sebelumnya. Pada saat di RS Koja,
pasien keluar darah mengalir aktif dari vagina dan nyeri perut
semakin berat dirasakan pasien. Pasien mengaku bahwa ada
riwayat pijat perut 1 hari SMRS. Riwayat minum alkohol, merokok,
minum obat-obatan disangkal oleh pasien.
• Riwayat obstetrik
Pasien dengan status G2P1A0 (AH 0). Kehamilan pertama lahir
secara normal di bidan pada tahun 2016, berat lahir 1800
gram, jenis kelamin laki-laki, meninggal saat usia 7 hari.
• Riwayat ANC
Pasien baru 1 x melakukan ANC dan USG di Puskesmas
Warakas (14 April 2019). Pada saat melakukan ANC pasien tidak
ada keluhan, PF yang didapati saat ANC : TD : 120/70 mmHg, Berat
badan 68 Kg, DJJ 138 x/menit, TFU 21 cm, kepala berada di
bawah, dan hasil USG : Janin Presentasi Kepala Tunggal Hidup,
usia kehamilan 27+1minggu, air ketuban cukup, plasenta di fundus,
TBJ : 1400 gram.
• Riwayat Haid • Riwayat Kontrasepsi
• Menarche : 16 tahun • Pil KB :-
• SIklus : tidak teratur • Suntik KB : -
• Lama : 4-5 hari • Susuk KB : -
• Banyak : 2-3 x ganti pembalut • AKDR :-
• Nyeri haid : Tidak ada • MOW :-
• HPHT : 10 Oktober 2018
• Taksiran Persalinan : 17 Juli 2019
• Riwayat penyakit / operasi
sebelumnya : Riwayat asma, diabetes
mellitus, dan hipertensi disangkal.
Riwayat operasi sebelumnya disangkal.
• Riwayat Penyakit Keluarga : Ayah :
Hipertensi
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis :
• Keadaan umum : Tampak sakit berat
• Kesadaran : Compos mentis • Tanda – tanda vital
Tekanan darah : 160/120 mmHg
• Anemis : Konjungtiva anemis +/+ Nadi : 102 x/menit, lemah
Pernapasan : 24 x/menit
• Ikterik : -/-
Suhu : 36,30C
• Sianosis :-
• Berat badan : 68 kg
• Tinggi badan : 151 cm

• Paru – paru : vesikuler di seluruh lapang paru, wheezing (-/-), ronki(-/-)


• Jantung :katup aorta dan pulmonal bunyi jantung II>I, murni regular,
murmur (-), gallop(-), Katup mitral dan tricuspid bunyi jantung I>II,
murni regular, murmur (-), gallop(-).
• Abdomen :distensi abdomen, nyeri tekan (+)
• Ekstremitas : Udem (-/-)
PEMERIKSAAN FISIK
Status obstetrik
Pemeriksaan luar
• TFU : 21 cm
• DJJ : sulit dinilai
• His : 3 x 10 menit selama 15 detik
• TBJ : 1600 gram

Status Ginekologis
• Inspeksi : Vulva dan uretra tenang, perdarahan aktif +
• Periksa dalam (VT) : canalis cervicalis tidak ada pembukaan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Hb : 8,5 g/dL* ( 12,5 – 16,0 g/dL )


• Leukosit : 29.180/uL* ( 4000 – 10.500/uL)
• Ht : 25 %* ( 37 – 47 % )
• Trombosit : 168.000/uL* ( 182.000 – 369.000/uL)
• Natrium : 133 mEq/L* (135 – 147 mEq/L )
• Kalium : 2,91 mEq/L* ( 3,5 – 5 mEq/L )
• Ureum : 12,8 mg/dL* (16,6 – 48,5 mg/dL )
• Kreatinin : 0,84 mg/dL (0,51 – 0,95 mg/dL )
• Anti HIV : Non Reaktif ( Non Reaktif)
• HbsAg : Non Reaktif ( Non Reaktif)
USG
• Tampak Hematom Retro Plasenta ~ kesan : Hematochel
DIAGNOSIS
 Solusio Plasenta pada G2P1A0 (AH 0) hamil 27 minggu, janin IUFD,
PEB, syok hipovolemik, dan anemia.
TATALAKSANA
• Resusitasi cairan dengan Infus NaCl 0,9%
• Oksigen 3 liter/menit
• MgSo4 40% iv bolus 4 gram
• Dilakukan tindakan seksio sesarea cito
LAPORAN SC
• Pasien dibaringkan di meja operasi. Dilakukan tindakan antiseptik dan antiseptik pada daerah
operasi dan sekitarnya.
• Dilakukan insisi pada pfanenstil 1 cm di atas simfisis sampai 2 jari dibawah pusat.
• Fascia diperlebar ke arah kranial dan kaudal secara tumpul.
• Otot dipisahkan secara tumpul ke kanan dan kiri, kemudian peritoneum parietal dibuka, tampak
cairan berwarna kemerahan, kesan : darah, ± 3000 cc,
• Plika vesikouterina dipisahkan dan diinsisi berbentuk semilunar dan disisihkan ke kaudal.
• Segmen bawah rahim diinsisi berbentuk semilunar kemudian diperlebar dan diperdalam secara
tumpul.
• Bayi dilahirkan denga menggunakan forcep, lahir bayi jenis kelamin lak-laki, berat 1200
gram, IUFD.
• Plasenta dilahirkan praabdominal kesan : lengkap, berat : 250 gram, ditemukan retro plasenta
hematom dan kalsifikasi
• Segmen bawah rahim dijahit jelujur terkunci dengan polisob no. 1
• Pada eksplorasi kedua tuba dan ovarium normal, dipastikan tidak ada perdarahan. .
• Abdomen dijahit lapis demi lapis
• Operasi selesai dikerjakan.
• Perdarahan sekitar 3250 cc.
• Keadaan ibu tidak stabil setelah operasi sehingga di rawat di ICU.
INSTRUKSI DAN TERAPI POST OPERASI
• Observasi keadaan umum, TTV dan perdarahan
• Transfusi darah hingga Hb ≥ 10 mg/dl
• Infus NaCL + drip oksitosin 10 IU tiap 8 jam selama 24 jam 20 tpm
• Ceftriaxon 1x 2 gram
• Tramadol 3x1 amp
• OMZ 3x1
• Pro ICU
PROGNOSIS
• Ibu : dubia ad malam
• Bayi : ad malam
FOLLOW UP SABTU, 20 APRIL 2019 PUKUL 08:00 DI RUANG ICU LT 6
• S : lemah, pusing (+), mual/muntah • abdomen : soepel,BU(lemah)
(-), nyeri luka operasi (+),
St. obstetric : TFU 2 jari di bawah
perdarahan luka bekas operasi (-),
pusat, kontraksi uterus baik
perdarahan pervaginam (-)
St. gynec : I u/v : Tenang,
• O:
perdarahan aktif (-)
• KU : tampak sakit berat
• Lab tgl (19/4/19) :
• kesadaran : compos mentis • Hb/Ht/L/T: 4,7 g/dl
• TD : 169/109 mmHg /13,5%/17120/uL/84000/uL

• nadi : 95 x/menit • PT/APTT : 11,8 detik/ 36,6


detik
• napas : on ventilator (14)
• E : 135 / 3,6 / 108 (mEq/L)
• suhu : 36,3oC
• Ur/cr : 23,5 / 1,37 (mg/dL)
• Sat O2 : 100%

 A: POD 3 Post SC a.i. Syok hipovolemik grade IV e.c. Solutio Plasenta


pada Ibu dengan PEB, Anemia.
FOLLOW UP SABTU, 20 APRIL 2019 PUKUL 08:00 DI RUANG ICU LT 6

• P :
• observasi keadaan umum, TTV dan perdarahan
• oksigen 5 liter/menit
• transfusi darah
• infus NaCl 0,9% + oksitosin 10 IU / 8 jam
• Ceftriaxon 1 x 2 gram
• Asam traneksamat 3 x 500 mg (IV)
• Pro tranfusi PRC sampai Hb ≥ 10 gr/dl
• Captopril 3x25 mg
• OMZ 3x1 vial
• GV hari ini
• ketorolac 30 mg
FOLLOW UP SENIN, 22 APRIL 2019 PUKUL 08:00 DI RUANG ICU LT 6
• S : kontak adekuat, nyeri luka operasi (VAS 3-4), kembung 0, flatus -, perdarahan -
• O :
• keadaan umum : tampak sakit berat
• kesadaran : CM
• TD : 170/110 mmHg
• nadi : 94 x/menit
• napas : 22x/menit
• suhu : 36,90C
• Sat O2 : 96%
• St generalis : mata : konjungtiva anemis : +/+, sclera ikterik -/-
• St. Obstetric : TFU tepat setinggi umbilikus,kontraksi uterus baik
• St. Gynec : lochia rubra
• Lab (21/4/19) :Hb/Ht/L/T:10,8 g/dL/30,6%/18780/ul/144000/uL

 A : POD 5 P2 (AH 0) post SC a.i. syok hipovolemik grade IV e.c. Solutio


Plasenta. Ibu dengan PEB, Anemia.
FOLLOW UP SENIN, 22 APRIL 2019 PUKUL 08:00 DI RUANG ICU LT 6
• P : - observasi keadaan umum, TTV dan perdarahan
• - IVFD NaCl 0,9 %
• - Ceftriaxone 1x2 gr iv
• - Asam traneksamat 3 x 1 gr iv
• - metoclopramide 3x1 iv
• - captopril 3x2 gram iv
• - tramadol 3x 1 amp
• - ketorolac 30 mg
• - GV hari ini
• - boleh pindah ruangan
FOLLOW UP SELASA, 23 APRIL 2019 PUKUL 08:00 DI RPKK SELATAN
• S : nyeri di luka operasi • P :
berkurang, buang angin +, BAB +,
• Cefixime 2x2 gram
BAK (terpasang selang), keluar
flek-flek dari vagina, mual -, • Asam mefenamat 3 x 500 mg
muntah -, pusing-
• Asam tranexamate 3 x 500 iv
• O :
• OMZ 2x1 po
• KU/Kes : Baik/ CM
• Captopril 3 x 25 mg
• TD :130/98 mmHg, HR : 81,
• Tramadol 3x1 amp
RR : 20x/m, S : 36,5
• St. Obs : TFU 2 jari dibawah
pusat, kontraksi baik
• St. Gyn : I u/v : Tenang,
Perdarahan aktif –

A : POD 6 P2 (AH 0), post SC a.i. riwayat Syok Hipovolemik grade


IV ec Solutio Placenta, PEB, anemia
FOLLOW UP RABU, 24 APRIL 2019 PUKUL 08:00 DI RPKK SELATAN (ACC RAJAL)

• S : nyeri di luka operasi berkurang, P : - Cefixime 2x2 gram


buang angin +, BAB +, BAK (terpasang - Asam mefenamat 3 x 500 mg
selang), keluar flek-flek dari vagina - Asam tranexamate 3 x 500 iv
(sedikit), mual -, muntah -, pusing- - OMZ 2x1 po
• O : - Captopril 3 x 25 mg
- Tramadol 3x1 amp
• KU/Kes : Baik/ CM - pronalges 3x1
• TD : 120/80 mmHg, HR : 8, RR : - GV
20x/m, S : 36,5oC - SF 2x1 caps

• St. Obs : TFU 2 jari dibawah pusat,


kontraksi baik
• St. Gyn : I u/v : Tenang, Perdarahan
aktif –

• A : POD 7 P2 post SC a.i. Syok Hipovolemik grade IV ec Solutio Placenta.


RINGKASAN KASUS
• Ny. TH, usia 30 tahun datang dengan keluhan nyeri perut berat
dan tidak ada gerakan janin 4 jam SMRS, Pasien merasakan
nyerit perut pada jam 18:00 dan tidak ada gerakan janin 30
menit stelah itu. sesaat setelah sampai di IGD Ponek, keluar
darah mengalir aktif dari vagina, nyeri perut yang semakin
berat. Pasien ada riwayat pijat perut 1 hari SMRS. Setelah di
anamnesis, PF : TD : 160/110 mmHg, HR 102 x/m, konjungtiva
anemis +/+, TFU 21 cm, DJJ : tidak ada, perdarahan aktif dari
vagina, dan hasil USG : tampak Hematom Retro plasenta,
kesan : hematochele, Tatalaksana pada kasuss ini adalah
Sectio Caesarea cito atas indikasi Sousio Plasenta, IUFD dan
PEB.
DIAGNOSIS POST OPERASI
• Post SC pada P2(AH 0) atas indikasi syok hipovolemik e.c. solusio
plasenta, anemia, PEB.
SOLUSIO PLASENTA
• Terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari
implantasi normalnya (korpus uteri) setelah kehamilan 20
minggu dan sebelum janin lahir.
KLASIFIKASI
• Ruptura sinus marginalis
• Solusio parsialis
• Solusio plasenta totalis

Solusio Plasenta Parsial Solusio Plasenta Total


Solusio Plasenta Dengan
Disertai Perdarahan Disertai Perdarahan
Perdarahan Eksternal
Tersembunyi Tersembunyi
Gambaran Klinik
• Solusio plasenta ringan
• Luas plasenta yang terlepas < 25% atau < 1/6 bagian
• Jumlah darah yang keluar biasanya < 250 ml.
• warna darah yang kehitamam, perut sedikit nyeri
• Komplikasi terhadap ibu dan janin belum ada.
• Solusio Plasenta Sedang
• Luas plasenta yang terlepas telah melebihi 25% - 50% atau > ¼ bagian.
• Jumlah darah yang keluar 250 - 1000 ml
• Gejala-gejala dan tanda-tanda sudah jelas seperti nyeri pada perut yang terus-
menerus, denyut janin menjadi cepat, hipotensi, dan takikardi.
• Solusio Plasenta Berat
• Luas plasenta yang terlepas > 50% atau > 2/3 luas permukaan
• Jumlah darah yang keluar > 1000 ml.
• Gejala dan tanda klinik jelas, keadaan umum disertai syok, dan hampir semua janinnya
telah meninggal. Komplikasi koagulopati dan gagal ginjal yang ditandai pada oligouri
biasanya telah ada.
ETIOLOGI
• Sebab primer → tidak diketahui.
• Terdapat beberapa keadaan patologik yang terlihat lebih sering
bersama dengan atau menyertai solusio plasenta dan dianggap
sebagai faktor risiko:

1. Meningkatnya usia dan paritas 7. Wanita Perokok

2. Preeklamsi 8. Trombofilia

3. Hipertensi kronik 9. Penggunaan kokain

4. Ketuban Pecah Dini 10. Riwayat Solusio Plasenta

5. Kehamilan Ganda 11. Mioma di belakang plasenta

6. Hidroamnion 12. Trauma abdomen dalam


kehamilan
PATOFISIOLOGI
• Semua penyakit ibu yang dapat menyebabkan pembekuan trombosis dalam pembuluh darah
desidua atau dalam vaskular vili dapat berujung kepada iskemia dan hipoksia setempat yang
menyebabkan kematian sejumlah sel dan mengakibatkan perdarahan sebagai hasil akhir.
• Perdarahan tersebut menyebabkan desidua basalis terlepas kecuali selapisan tipis yang tetap
melekat pada miometrium.
• Dengan demikian, pada tingkat permulaan sekali dari proses terdiri atas pembentukan hematom
yang bisa menyebabkan pelepasan yang lebih luas, kompresi dan kerusakan pada bagian plasenta
kecuali terdapat hematom pada bagian belakang plasenta yang baru lahir.
• Dalam beberapa kejadian pembentukan hematom retroplasenta disebabkan oleh putusnya arteria
spiralis dalam desidua. Hematoma retroplasenta mempengaruhi penyampaian nutrisi dan oksigen
dari sirkulasi maternal/plasenta ke sirkulasi janin.
• Hematoma yang terbentuk dengan cepat meluas dan melepaskan plasenta lebih luas/banyak
sampai ke pinggirnya sehingga darah yang keluar merembes antara selaput ketuban dan
miometrium untuk selanjutnya keluar melalui serviks ke vagina (revealed hemorrhage).
• Perdarahan tidak bisa berhenti karena uterus yang lagi mengandung tidak mampu berkontraksi
untuk menjepit pembuluh arteria spiralis yang terputus. Walaupun jarang, terdapat perdarahan
tinggal terperangkap di dalam uterus (concealed hemorrhage).
PATOFISIOLOGI
Penyakit / faktor resiko ibu → pembekuan
trombosis dalam a. spiralis → iskemia &
hipoksia setempat → a. spiralis terlepas
(perdarahan) → membentuk hematom
→mempengaruhi penyampaian nutrisi & O2
dari sirkulasi maternal – janin → hematoma
meluas & melepaskan plasenta >luas →
darah rembes antara selaput ketuban &
miometrium → perdarahan eksternal
DIAGNOSIS

• Berdasarkan gejala dan tanda klinik yaitu perdarahan melalui


vagina, nyeri pada uterus, kotraksi tetanik pada uterus, dan
pada solusio plasenta yang berat terdapat kelainan denyut
jantung janin pada pemeriksaan dengan KTG.
• Gejala mirip persalinan prematur, ataupun datang dengan
perdarahan tidak banyak dengan perut tegang, tetapi janin telah
meninggal.

• Diagnosis definitif hanya bisa ditegakkan secara resrospektif


yaitu setelah partus dengan melihat adanya hematoma
retroplasenta.
HEMATOMA RETROPLASENTA
DIAGNOSIS BANDING
Kriteria Solusio Plasenta Plasenta Previa
Perdarahan Merah tua – coklat Merah segar, berulang, Tidak Nyeri
kehitaman, terus menerus,
disertai nyeri
Uterus Tegang, bagian janin tidak Tidak tegang, Tidak nyeri tekan
teraba, Nyeri tekan
Syok / Anemia Sering. Tidak sesuai dengan Jarang. Sesuai dengan jumlah darah
jumlah darah yang keluat yang keluar.

Fetus 40% sudah mati, tidak Biasanya hidup, disertai kelainan letak.
disertai kelainan letak
Pemeriksaan Ketuban menonjol walaupun Teraba plasenta atau perabaan fornix
dalam tidak ada his ada bantalan antara bagian janin
dengan jari pemeriksaan
KOMPLIKASI
• Komplikasi pada ibu : anemia, syok hipovolemik, insufisiensi
fungsi plasenta, ganguan pembekuan darah, gagal ginjal
mendadak, dan uterus Couvelaire disamping komplikasi
sindroma insufiensi fungsi plasenta pada janin berupa angka
kematian perinatal yang tinggi.
• Kematian janin, kelahiran prematur dan kematian perinatal
merupakan koplikasi yang paling sering terjadi pada solusio
plasenta. Solusio plasenta berulang dilaporkan juga bisa terjadi
pada 25 % perempuan yang pernah menderita solusio plasenta
sebelumnya.
TATALAKSANA
Penanganan solusio plasenta didasarkan kepada berat atau ringannya gejala klinis,
yaitu:

a. Solusio plasenta ringan


• Ekspektatif, bila kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada perbaikan → tirah
baring dan observasi ketat, kemudian tunggu persalinan spontan.
• Bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin
jelas, pada pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah luas) →
Terminasi . Bila janin hidup, lakukan seksio sesaria, bila janin mati lakukan
amniotomi disusul infus oksitosin untuk mempercepat persalinan.

b. Solusio plasenta sedang dan berat


Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas ditemukan, penanganan
di rumah sakit meliputi transfusi darah, amniotomi, infus oksitosin dan
seksio sesaria.
PROGNOSIS
• Solusio plasenta mempunyai prognosis
yang buruk baik bagi ibu hamil dan lebih
buruk lagi bagi janin.
PERMASALAHAN
Pada kasus ini, permasalahan yang dialami oleh Ny. TH yaitu:
• Solusio plasenta
• Syok hipovolemik
• Intrauterine fetal death (IUFD)
• PEB
PEMBAHASAN – SOLUSIO PLASENTA
• Pada kasus, pasien Ny. TH, 30 tahun datang dengan keluhannyeri abdomen yang hebat, tidak
terasa gerakan janin dan perdarahan pervaginam berupa darah segar dalam jumlah yang
banyak. Pada kasus ini pasien mengalami perdarahan antepartum berupa solusio plasenta.
Perdarahan yang terjadi dalam banyak kejadian akan merembes anatara plasenta dan
miometrium untuk seterusnya menyelinap di bawah selaput ketuban dan akhirnya memperoleh
jalan ke kanalis servikalis dan keluar melalui vagina (revealed hemorrhage).
• Berdasarkan gejala klinik pada pasien berupa perdarahan hebat disertai dengan nyeri dan
tegang pada perut, dan kemungkinan terjadinya IUFD maka pasien masuk dalam klasifikasi
kelas III atau solusio plasenta berat. Pada kelas III gejala yang ditemukan berat dan terdapat
pada hampir 24% kasus, perdarahan pervaginam dari tidak ada sampai berat; uterus tetanik
dan sangat nyeri; syok maternal; hipofibrinogenemi, koagulopati serta kematian janin. Pada
solusio plasenta berat kejadian terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan
syok dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Pada
keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan
kelainan/gangguan fungsi ginjal
PEMBAHASAN – SYOK HIPOVOLEMIK
• Syok pada solusio plasenta diperkirakan terjadi akibat pelepasan tromboplastin dari
desidua dan plasenta masuk kedalam sirkulasi maternal dan mendorong pembentukan
koagulasi intravaskular beserta gambaran klinik lain sindroma emboli cairan ketuban
termasuk hipotensi. Sindroma Sheehan terdapat pada beberapa penderita yang terhindar
dari kematian setelah penderita syok yang berlangsung lama yang menyebabkan iskemia
dan nekrosis adenohipofisis sebagai akibat solusio plasenta.
• Fungsi plasenta akan terganggu apabila peredaran darah keplasenta mengalami
penurunan yang berarti. Sirkulasi darah keplasenta menurun manakala ibu mengalami
perdarahan banyak dan akut seperti pada syok.
• Cara mengatasi syok diantaranya dengan pemberian infus NS/RL untuk restorasi cairan,
berikan 500 ml dalam 15 menit pertama dan 2 L dalam 2 jam pertama. Serta pemberian
transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulopati.
PEMBAHASAN - IUFD
• Kematian janin, kelahiran prematur dan kematian perinatal merupakan koplikasi yang
paling sering terjadi pada solusio plasenta. Solusio plasenta mempunyai prognosis yang
buruk baik bagi ibu hamil dan lebih buruk lagi bagi janin. Nasib janin tergantung dari
luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Apabila sebagian besar atau
seluruhnya terlepas, anoksia akan mengakibatkan kematian janin. Apabila sebagian kecil
yang terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali, atau mengakibatkan gawat janin.
• Solusio plasenta berat mempunyai prognosis paling buruk terhadap ibu lebih-lebih
terhadap janinnya. Umumnya pada keadaan yang demikian janin telah mati dan
mortalitas maternal meningkat akibat salah satu komplikasi. Pada solusio plasenta
sedang dan berat prognosisnya juga tergantung pada kecepatan dan ketepatan bantuan
medik yang diperoleh pasien. Transfusi darah yang banyak dengan segera dan terminasi
kehamilan tepat waktu sangat menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal dan
perinatal.4
PEMBAHASAN - PREEKLAMSI
• Preeklampsia berat adalah timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuria +3 dan atau edema
pada kehamilan setelah 20 minggu. Pada kasus ini pasien dikatakan mengalami preeklampsia berat karena
pasien sudah hamil lebih dari 20 minggu dan mengalami hipertensi, yaitu tekanan darahnya sebesar
160/100 mmHg dan disertai proteinuria +3. Walaupun edema pada pasien ini tidak ada, namun terdapatnya
kriteria tekanan darah tinggi disertai proteinuria +3 sudah cukup untuk mendiagnosis pasien menjadi
preeklamsia berat.
• Hipertensi terjadi sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tahanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat
tercukupi. Proteinuria terjadi karena pada preeklampsia permeabilitas pembuluh darah terhadap protein
meningkat. Edema terjadi karena terjadi penimbunan cairan yang berlebihan dalam ruang interstitial. Pada
preeklampsia dijumpai kadar aldosteron yang rendah dan konsentrasi prolaktin yang tinggi daripada
kehamilan normal. Aldosteron penting untuk mempertahankan volume plasma dan mengatur retensi air dan
natrium. Pada preeklampsia terjadi perubahan pada ginjal yang disebabkan oleh aliran darah kedalam ginjal
menurun sehingga mengakibatkan filtrasi glomerulus berkurang atau mengalami penurunan. Penurunan
filtrasi glomerulus akibat spasmus arteriole ginjal menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus menurun
yang menyebabkan retensi garam dan juga retensi air.
• Terapi preeklampsia berat menggunakan MgSO4 40% 6 gr dalam 500 cc larutan RL (drip 28 tetes/ menit)
dan MgSO4 40% 4 gr IV (bolus) dalam kasus ini terbukti efektif dalam mencegah terjadinya kejang pada
penderita. Pemberian Nifedipin 3 x 10 mg peroral juga efektif pada pasien ini. Setelah bayi lahir keadaan
tekanan darah pasien segera turun dan berada dalam keadaan normotensi (tekanan darah normal).
Walaupun tekanan darah pasien sudah turun namun namun pemberian MgSO4 tetap dilanjutkan hingga 24
jam post partum untuk mencegah terjadinya kejang yang dapat juga terjadi saat post partum.