Anda di halaman 1dari 101

FILSAFAT ILMU

BIDANG/WILAYAH FILSAFAT

Estetika

Etika,
Religi
MANUSIA

F. Ilmu
Logika
Metodologi
Problem yang dibahas dalam
Filsafat Ilmu Pengetahuan:

• Problem Epistemologis tentang ilmu


• Problem metafisis (ruang-waktu,
asumsi-asumsi, kausalitas Dll.)
• Problem metodologis tentang ilmu
• Problem logis tentang Ilmu
• Problem etis tentang ilmu
• Problem estetis tentang Ilmu
Filsafat Ilmu dibedakan:

• Filsafat Ilmu umum (Philosophy of Science in-general). Membahas


permasalahan/prinsip ilmu pengetahuan secara umum
• Filsafat Ilmu Pengetahuan umum, bisa dibedakan atas:
- Filsafat Ilmu Pengetahuan alam dan
- Filsafat Ilmu sosial & Humaniora
• Filsafat Ilmu Pengetahuan khusus (Philosophy of Specific
Sciences): Filsafat matematika, fisika, teknologi, fisafat ilmu
pengetahuan sosial, dll.)
Sumber Pengetahuan (Ted
Hondrich, 1995. 935):

1. Persepsi (Perception).
2. Reason (rasio): Deduction, induction,
abduction; dialectic
3. Introspection
4. Sumber lain: Intuition, telepathy,
clairfoyance (tembus mata), precognition.
Sumber Pengetahuan (Hosper,
1967, 123-24):

1. Sense experience (pengalaman indrawi)


2. Reason (akal)
3. Authority
4. Intuition
5. Relevation (Wahyu)
6. Faith (kepercayaan)
Obyek Pengetahuan

1. Fenomena/gejala alam fisis (External


world)
2. Masa lalu (the Past)
3. Masa depan (The future)
4. Values (etis, estetis, religius)
5. Abstraksi
6. Mind (dimensi dalam/psikis)
Struktur pengetahuan
(hubungan Subyek-Obyek):

1. Obyektivisme (subyek pasif)


2. Subyektivisme (subyek aktif)
3. Relativisme
4. Fenomenalisme
5. Konstruktivisme
• F. Bacon (1561-1626) menyebut filsafat
sebagai “the great mother of the sciences”
(ibu agung dari ilmu-ilmu)
• “The queen of all sciences” (ratu dari ilmu-
ilmu
• Hendry Sidwick (1839-1900) Scientia
Scientiarum” (ilmu dari Ilmu-ilmu)
• Pengetahuan prailmiah = commonsense = pengetahuan
eksistensial
• Filsuf Sophis (yang mempermasalahkan segala sesuatu,
mempertanyakan pengetahuan; pendiri epistemologi)
• Relativisme (Protagoras): manusia individu ukuran
segalanya
• Epistemology : episteme (pengetahuan) + logos (teori,
ilmu) = pengetahuan sistematis mengenai pengetahuan
(Theory of knowledge)
• Plato dan Aristoteles menanggapi pandangan para sofis
(ada pengetahuan yang tetap dan abadi)
• Filsafat & pengetahuan awalnya menyatu
• Filsafat disebut induk ilmu (matter
scientarum)
• Ilmu memisahkan diri dari filsafat dengan
tuntutan jastifikasi ilmiah dapat
ditingkatkan menjadi ilmu
• Teori Kebenaran:
1. T. Korespondensi (the correspondence theory of truth). Aristoteles
“Veritas est adequatio intellectus et rhei”
2. T. Konsistensi atau koherensi (the Concistence theory of truth)
3. T. Pragmatis (The Pragmatic theory of truth). Tokoh pragmatisme
Amerika Charles Sander Pierce (1834-1914);m William James
(1842-1920); John Dewey (1859-19 ), Kemanfaatan, kegunaan,
efekltivitas yang menetukan kebenaran. James “Something is true
it is works”. Ilmu dilihat sebagai problem solving. Ilmu sebagai
instrumen(talisme).
4. T. Performatif atau tindak bahasa (John Langshaw Austin (1911-
1960)
5. T. Paradigmatis (berdasarkan aturan paradigma yang digunakan)
• Batas Pengetahuan
• Batas pengetahuan tergantung pada jenis
pengetahuan:
1.Pengetahuan biasa
2.Pengetahuan ilmiah
3.Pengetahuan filosofis
4.Pengetahuan teologis
Paradigma Newtonian

Ilmu pengetahuan modern didasarkan atas paradigma Newtonian yang


memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut;
• Alam semesta adalah sebuah mesin yang mengikuti hukum-hukum
sebab-akibat (cause-effect);
• Ruang dan waktu adalah realitas yang obyektif yang
keberadaannya terlepas dari pengamat;
• Atom adalah unit terdasar dari materi (ingat penemuan sub-atomik
dan quantum makanik);
• Manusia seperti mesin, panas tubuh adalah akibat gelombang radio
yang bergerak kontinyu;
• Ilmu pengetahuan pada akhirnya dapat membawa pengetahuan
yang sempurna (obyektif) tentang universe ( bandingkan dengan
tentative theory dari Popper dan Kritik Thomas Kuhn dan
postmodernis)
• Stephen Korner, Fundamental Questions
in Philosophy: One Philosopher’s Answer,
1971,278-280 (Philosophical reflection will
cease only when non-philosophical
reflection too is at its end” (pemikiran
filsafat berhenti hanya bilamana pemikiran
non-filsafat juga tiba pada akhir
(kematiannya)”
Positivisme
Positivisme bertujuan untuk menjadikan ilmu pengetahuan
dengan fundasi yang kuat dan terpercaya. Ajaran dasar
positivisme antara lain:
• Dalam alam terdapat hukum-hukum yang dapat
diketahui
• Penyebab adanya benda-benda dalam alam tidak dapat
diketahui, karena ilmuwan tidak dapat melihat penyebab
itu (misalnya apakah alam diciptakan atau alam terjadi
dengan sendirinya berada di luar jangkauan indrawi).
• Setiap pernyataan yang secara prinsip tidak dapat
dikembalikan pada fakta tidak mempunyai arti nyata dan
tidak masuk akal.
• Hanya hubungan antara fakta-fakta saja yang dapat
diketahui.
• Perkembangan intelektual merupakan sebab utama
perubahan sosial (Osborne, 2001, 134-135).
• Prosedur penelitian empiris-eksperimental Comte dapat dirumuskan
sebagai berikut:
– Observasi: meneliti dan mencari hubungan antara fakta-fakta, lalu
meninjaunya dari hukum statika dan dinamika sosial. Dari Observasi
dapat dirumuskan hipotresa yang akan dibuktikan melalui penelitian.
– Eksperimen: fenomen sosial dengan cara tertentu diintervensi cara
tertentu, sehingga dengan demikian dapat dijelaskan sebab-akibat
fenomena masyarakat ( Misalnya studi tentang pathologi dan
keresahan) dan mendapat pemahaman tentang bagaimana masyarakat
yang normal.
– Perbandingan (komparasi) dan metode historis, misalnya dalam biologi
dikenal anatomi komparatif. Dalam sosiologi studi komparatif bisa
dilakukan antara dua masayarakat/kebudayaan (studi antropologi) atau
antara dua periode dalam masyaratakt tertentu (sosiologi historis).
Metode historis dimaksudkan adalah penelusuran terhadap hukum-
hukum yang menguasai petkembangan pemikiran manusia.
Susunan ilmu pengetahuan (hirarkhi) yang didasarkan atas logika ilmiah menurut
Comte dapat dilukiskan sebagai berikut: (Osbern Richard, 2001: 135).

Tata Logis Tata yang benar-benar di dapat


(kompleksitas)
Matematika 1 6
Astronomi 2 5
Fisika 3 4
Kimia 4 3
Biologi 5 2
Sosiologi 6 1
.
• Soberg dan Nett ,mengemukakan berberapa asumsi-asumsi yang
teradapat dalam metode ilmiah antara lain:
• Bahwa ada peristiwa atau fenomena yang terjadi secara berulang
kembali atau peristiwa yang mengikuti alur/pola tertentu.
• Ilmu pengetahuan adalah lebih utama dari kebodohan.
• Ada keyakinan bahwa pengalaman memberikan dasar yang dapat
dipercaya bagi kebenaran ilmu pengetahuan.
• Ada tatanan kausalitas dalam fenomena alam dan fenomena sosial
dan manusia.
• Ada asumsi yang berkaitan dengan pengamat, antara lain:
• Dorongan untuk memperolah pengetahuan sebagai alat
memperbaiki kehidupan manusia.
• Pengamat/peneliti mampu menarik hakekat yang ada pada
fenomena yang diteliti.
• Masyarakat ilmiah mendukung metode empiris sebagai dasar
pencarian ilmu pengetahuan (Chadwick, 1991: 14).
• Makna verfikasi adalah:
• Satu proposisi hanya berarti bila proposisi itu dapat dibuktikan
benar-salahnya. Misalnya, kalau saya katakan, bahwa , ada tuyul
di dalam kelas, atau Si Ali sakit karena santet, maka pernyataan itu
dinyatakan tidak ilmiah karena tuyul dan santet itu tidak dapat
diverifikasi (tidak dapat dibuktikan).
• Ada bentuk-bentuk kebenaran logis dan bentuk-bentuk kebenaran
faktual. Kebenaran logis dan matematis adalah kebenaran yang
sifatnya rasional, sedangkan kebenaran faktual jastifikasinya
(pembenarannya) adalah verifikasi fakta yang dapat dilakukan oleh
orang yang indranya baik (normal).
• Kebenaran faktual hanya dapat dibuktikan melalui pengalaman
indrawi (verifikasi). (bandingkan dengan Osborne, 2001; 149).
• Dari pembahasan di atas dapat dirumuskan asumsi-asumsi yang
terkandung dalam paradigma positivisme itu melalui tabel berikut,
(bandingkan dengan Smith, 1998; 76,. Lubis, ):
Asumsi Definisi Implikasi
Naturalisme Positivis mengakui pandangan Ilmu hanya sosial-budaya bertolak dari
bahwa fenomena alam sama tingkah laku, dan institusi masyarakat
(manusia secara prinsip sama yang teramati. Dalam cara yang sama
dengan hewan, dan alam fisis), manusia dapat diteliti sebagai proses
karenanya metode ilmu alam dapat kimia atau biologi. Ilmu alam menjadi
diterapkan pada ilmu sosial-budaya model untuk penelitian sosial-budaya
(unification of method, kesatuan
metode ilmiah)
Fenomenalisme Ilmu pengetahuan hanya bersum Realitas dibatasi pada yang dapat dilihat
ber dari fenomena yang dapat diraba, disentuh, didengar dan dicium
diamati (fisikalisme), hal yang saja. Kesadaran, motivasi, tujuan

abstrak dan metafisik berada di luar hidup/kebahagiaan adalah hal yang


ilmu pengetahuan subyektif (ada dalam pikiran) saja.

Nominalisme Konsep universal sebagai gambaran Semua konsep dan Ide yang tidak
murni sulit diterima karena hanya didasarkan atas pengamatan langsung
didasarkan pada fakta individual. tidak bermakna. Konsep: kesadaran,
Konsep adalah suatu nama/sebutan keadilan, jiwa, makna/tujuan hidup
kebahasaan yang disepakati. dinyatakan tidak bermakna
Atomisme Atomisme adalah pendekatan khusus untuk Unit terkecil yang dapat diobservasi
mendefinisikan obyek studi. Objek dapat menjadi fokus riset. Dalam penelitian
dipecah dalam bagian-bagian kecil. Objek sosiologi ia bertolak dari individu;
merupakan jumlah total dari komponen masyarakat dipandang tidak lain dari
atomiknya. kumpulan individu-individu.
Hukum- Tujuan ilmu pengetahuan adalah nememukan Pencarian hukum ilmiah diadopsi oleh
hukum hukum (nomotetis). Bertolak dari observasi ilmuwan sosial dengan asumsi
ilmiah terhadap fenomena alam dicari “empirical- keteraturan empiris, misalnya:
regularity”. Hukum ilmiah adalah merokok menyebabkan kanker
pernyataan umum yang dapat menjelaskan
paru-paru. Biasanya dirumuskan:
keberaturan pengalaman pada tempat dan
jika p maka q.
waktu yang berbeda
Fakta dan Fakta dan nilai dilihat sebagai dua hal yang Para ahi ilmu sosial-budaya yang
Nilai berbeda/terpisah. Fakta dapat diobservasi, menerima asumsi ini menyatakan bahwa
diukur dan diverifikasi. Nilai-nilai termasuk proposisi ilmiah bebas dari nilai.
penilaian subyektif, tuntutan tentang apa
yang seharusnya tidak boleh masuk dalam
wilayah ilmu pengetahuan
Dari penelitian yang dilakukan Durkheim dapat ditarik lima aturan
fundamental dalam metodenya ( lihat Giddens, Anthony, Daniel Bell,
dan Michel Forse’ Cs. (2004, 47) yaitu:
1. Mendefinisikan obyek yang dikaji secara obyektif.
Obyek dan focus penelitian adalah peristiwa (fenomena)
masyarakat yang dapat diobservasi yang berada di luar kesadaran
individu. Definisi tidak boleh mengandung prasangka dan terlepas
dari apapun yang kira-kira akan menjadi kesimpulan studi. Misalnya
Durkheim merumuskan definisi tujuan pendidikan sebagai berikut,
“Pemdidikan adalh tindakan yang dilaksanakan oleh generasi-
generasi dewasa kepada generasi yang belum dewasa dalam
kehidupan sosial. Pendidikan bertujuan untuk membangkitkan dan
mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelektual dan moral pada
anak seperti yang dituntut masyarakat politik terhadap si anak
dalam keseluruhan dan lingkungan sosial yang diperuntukkannya”
2. Memilih satu atau beberapa kriteria yang obyektif.
Dalam buku pertamanya De la division du travail socia l (pembagian
Kerja Sosial). Durkheim mempelajari bebagai bentuk solidaritas
sosial yang berbeda-beda dari sudut hukum. Ia juga berusaha
mencari penyebab tindakan bunuh diri dengan mempergunakan
angka klematian akibat bunuh diri. Kana tetapi harus diperhatian
berbagai kriteria yang digunakan dalam menganalisis bunuh diri itu
3. Menjelaskan kenormalan patologi
Ada beberapa situasi yang bersifat kebetulan dan sementara yang
bisa mengacaukan keteraturan peristiwa. Kita harus dapat
membedakan situasi normal yang menjadi dasar bagi kesimpulan-
kesimpulan teoritis. Dapat kita bendingkan dengan pemikiran
dengan metode ideal-tipikasl dari Max Weber. Yang riil akan selalu
terlihat orisinal dalam kompleksitasnya, akan tetapi bisa pula kita
mencari struktur dan ciri khas yang menonjol .
4. Menjelaskan masalah sosial secara sosial.
Satu peristiwa sosial tidak hanya dapat dijelaskan melalui keinginan
individual yang sadar namun juga melalui peristiwa atau tindakan
sosial sebelumnya. Semua tindakan kolektifmemiliki sati
sugnifikansi dalam sebuah sistem interaksi dan sejarah. Inilah yang
disebut dengan metode fungsionalis.
5. Mempergunakan metode komparatif secara sistematis
demonstrasi sosiologis.
“ old paradigm” (paradigma lama) yang pandangannya
terlalu ekstrem dan mengandung beberapa ciri dan kelemahan antara lain:

• menyingkirkan hegemoni agama (Kristen) pada zaman Pertengahan


dengan menggantinya dengan hegemoni ilmu pengetahuan (Paul
Feyerabend, 1975). Reduksi realitas pada fakta yang teramati telah
menyingkirkan dimensi dan perspektif lain, dan memandang
manusia hanya sebagai obyek, pandangan ini tidak dapat
dibenarkan;
• positivisme telah menciptakan satu model rasionalitas ilmiah
(rasionalitas instrumental menurut Habermas) dengan
menyingkirkan model rasionalitas lain. Selama tiga dasawarsa
terakhir proyek-proyek besar dan kebenaran absolut dan ide
rasionalisme Pencerahan (modern) mulai berantakan diserang dari
berbagai sisi oleh perkembangan fisika kuatum, postrukturalis dan
dekonstruksionis (tentang postrukturalis & Dekonstruksionis akan
dibahas secara khusus pada kuliah selanjutnya).
• positivisme tidak mengakui sifat kontigensi, relativitas dan historisitas pikiran (rasio)
manusia. Pendukung positivisme seperti dikemukakan Hillary Putnam, seakan dapat
memposisikan diri sebagaimana Tuhan melihat realitas dengan transparan apa
adanya. Pandangan ini ditolak oleh Putnam (1983; 1989), Gadamer, Heidegger.
Kuhn , Rorty, dan tokoh paradigma Konstruktivis (tema ini akan dibahas
selanjutnya). Putnam dan Rorty dengan jelas mengemukakan bahwa manusia adalah
makhluk yang terbatas, sehingga tidak mampu melihat realitas dengan transparan
dan holistik
• pandangan evolusionisme, pandangan tentang keseragaman serta kesatuan hukum
alam (grand theory) tidak mampu menjelaskan keberagaman budaya manusia,
karena itu pandangan positivisme ini cendrung ditolak oleh pendukung
pascapositivisme dan postmodernisme. Pandangan kesatuan ilmu pengetahuan tidak
mampu memperhitungkan situasi budaya lokal, etnis, budaya multikultural, psikologi
pribumi (indigeneous psychology), studi budaya-budaya, dan teori-teori feminis yang
banyak menjadi perhatian pada pluralisme budaya sekarang ini. Grand-theory tidak
menerima cerita-cerita kecil dan suara dari kelompok yang terpinggirkan, karena itu
dalam ilmu sosial-budaya pandangan ini banyak dikritik dan ditinggalkan.
• Kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan akan membawa pada kemajuan ternyata di
sisi lain juga menimbulkan hal-hal yang negatif bagi kehidupan (persaingan
senjata/perang, kesenjangan antara negara kaya dan miskin, masalah ekologi) dan
lain-lain. Masalah ini menjadi salah satu kritik kaum pospositivis terhadap
pandangan positivisme ilmiah yang sangat mempercayai kemampuan ilmu
pengetahuan untuk menciptakan kemakmuran, keadilan dalam masyarakat modern.
Ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata bersifat ambivalen, artinya di samping
memberi harapan dan kemudahan bagi umat manusia, akan tetapi di sisi lain
menimbulkan dampak negatif yang sangat memprihatinkan.
Untuk memberikan gambaran lebih lengkap tentang perbedaan antara ilmu-
ilmu empiris dengan nonempiris dapat dilihat pada tabel berikut:

No Kelompo Subjek-Objek Metode Tujuan


k Ilmu
1 Ilmu - Obyeknya Dunia III - Deduktif- axiomatis - Kepastian
Formal - Universal - Universalitas
(apriori)
2 Ilmu - Obyek anorganis - Empiris - Eksplanasi kausal-
Alam - Jarak S-O - Deduktif mekanis
- Induktif - Prediksi, -
Retrodiksi
- Nomotetis
3 Ilmu - Obyek organik - Empiris: - Eksplanasi
Hayat - Deduktif - Fungsional
- Induktif
4 Ilmu - Manusia dan - Empiris - Eksplanasi
Sosial Masyarakat - Deduktif - Kualitatif
- Induktif - Verstehen
- Intuitif
- Fenomenologis
- Hermeneutis
5 Ilmu - Manusia dan - Empiris - Deskripsi,
Budaya budaya/ Kar-yanya - Fenomenologi, - - Retrodiksi
(termasuk (Cultur-al studies: Hermeneutika, - - Verstehen
Cultural Budaya pop, Semiotika, - - Kualitatif
Studies budaya mas-sa, Framing, dll.
berkemba budaya tinggi,
ng tahun buda-ya kulit hi-
1980-an) tam, budaya
pinggiran dll).
The Basic Beliefs (metaphysics) of alternative Inquiry Paradigms

Item Positivis Postpositivism Critical Theory et. Constructivism


m al.
Onto Naive Critical realism- Historical realism- Relativism-local
lo-gy realism- “real” reality but only virtual reality shaped and specific
imperfectly and by social, political, constructed realities
probabilis-tically cultural, economic,
apprehend-able ethnic, and gender
values
Epist Dualist, Modified Transactional/sub- Transactional/
e- objectivist dualist/objectivist, jectivist, value- subjectivist; created
molo ; findings critical tradition/ madiated findings findings
gy true community, findings
probably true
Meto Experime Modified Dialogic/ dialectical Hermeneutical/
- ntal/manip experimental/ma- dialectical
dolo ulative, nipulative; critical
gy verificatio multiplism;
n of falsification of
hypothesi hypotheses, may
s; chiefly include qualitative
quantitati methods
ve
methods
Perbedaan doktrin pronaturalis (Paradigma positivisme) dan antinaturalis
(Anti Positivisme) :

Problem
o Ilmu-ilmu Alam/ Biologi Ilmu Sosial-Humaniora
1 Generalisasi Ya: Uniformitas alam Tidak: Keunikan & heterogenitas
2 Eksperimen Ya: Terkontrol Tidak/sulit dikontrol
3 Kebaruan Statis Dinamis
4 Kompleksit Tidak rumit/dapat diisolasi Kompleks/sulit diisolasi
as
5 Prognosa/ Ya Sulit
prediksi
6 Obyektivita Ya Tidak: interaksi subjek-obyek
s
7 Holisme Tidak (tapi atomistis) Ya (Ganzheit)
8 Interpretasi/ Tidak Ya
Intuisi
9 Nominalis- Nominalis: konsep umum Esensialis: memahami
Esensialis hanya nama (wakil) fakta-
fakta individual
1 Kuantitatif Ya Tidak ( tapi kualitatif)
0
• Kuhn menggunakan pengertian paradigma
dengan dua puluh satu pengertian yang
berbeda-beda. Masterman membantu untuk
menjelaskan pengertian paradigma Kuhn
dengan mereduksir kedua puluh satu konsep
Kuhn itu pada tiga tipe paradigma. Tipe
paradigma itu antara lain: 1) paradigma
metafisik (metaphysical paradigm) ,: 2)
Paradigma sosiologis (sociological paradigm)
dan; 3) Paradigma konstruk (construct
paradigm) (Ritzer,2002;4).
• Paradigma metafisik, memerankan beberapa fungsi:
• Untuk menentukan masalah ontologi (realitas, obyek)
yang menjadi fokus atau obyek kajian ilmiah dari
komunitas ilmuwan tertentu. Misalnya dalam paradigma
Positivisme dalam sosiologi obyek yang dikaji adalah
fakta sosial
• Menunjuk pada komunitas ilmuwan tertentu bagaimana
mereka menemukan realitas atau obyek (problem
ontologi) yang menjadi pusat perhatiannya.
• Menunjuk kepada ilmuwan yang berharap untuk
menemukan sesuatu yang sunguh-sungguh ada sesuai
dengan pandangan (1) dan (2). (Bandingkan dengan
Ritzer; 2002; 5).
• Paradigma sosilogi;Pengertian yang dikemukakan Masterman
tentang paradigma sosilogi ini mirip dengan exemplar pada Kuhn.
Eksemplar berkaitan dengan bekiasaan-kebiasaan, keputusan-
keputusan dan aturan yang diterima serta hasil penelitian yang
diterima secara umum, Hasil penelitian yang diterima secara umum
inilah yang dimaksudkan dengan eksemplar. Misalnya penelitian
Durkheim, Max Weber, Atfred Schulz dalam sosiologi; Freud,
Skinner, Maslow dalam psikologi, yang hasil penelitian ini kamudian
dijadikan contoh penelitian oleh pendukung paradigma tersebut.
Durkeim menjadi model bagi paradigma fakta sosial, Max Weber
dengan Social Action-nya menduduki eksempakr bagi sosiologi
interpretatif, sehingga mereka disebut sebagai “jembatan
paradigma”. Hal Yang sama tentu dapat diberikan pada Freud
(paradigma Psikoanalisa; Skinner (paradigma Behaviorisme) dan
Maslow (paradigma Humanistik) sebagai “jembatan paradigma”
ilmiah dalam psikologi
• Paradigma Konstruk; adalah konsep
yang paling sempit dari ketiga paradigma
yang dikemukakan Masterman. Untuk
menjelaskan paradigma konstruk ia
memberikan contoh: pembangunan
reaktor nuklir merupakan paradigma
konstruk dalam fisika nuklir, mendirikan
laboratorium menjadi paradigma konstruk
bagi psikologi eksperimental
(behaviorisme) dan seterusnya.
Pergeseran paradigma ilmiah itu mengandung beberapa
unsur/pengertian:
• Munculnya cara berpikir baru mengenai masalah masalah baru
• Dapat berupa prinsip yang selalu hadir, akan tetapi tidak kita
kenal/sadari (bandingkan dengan dimensi yang telah terungkap
menurut Michel Polanyi)
• Paradigma baru tidak dapat diterapkan kecuali dengan
meningggalkan paradigma lama (prinsip incommonsurable)
• Paradigma baru selalu dihadapi/ditanggapi dengan kecurigaan dan
permusuhan (ingat tantangan terhadap Gelileo Galilei sewaktu
mengajukan teori heliosentris yang menggeser teori geosentris yang
didukung oleh tokoh-tokoh gereja) (Smith, Linda & W. Raeper,2000,
247).
Dalam sosiologi menurut George Ritzer setidaknya ada
tiga paradigma yang bersaing dengan beberapa varian
teori yang dipayunginya. Paradigma itu antara lain:
• Paradigma fakta sosial dengan variannya: a) teori
fungsionalisme struktural; b) teori konflik; c) teori sistem;
d) teori siologi makro.
• Paradigma Definisi sosial dengan varian teori yang
dipayunginya antara lain: a) teori aksi (action thory); b)
interaksionisme simbolik (simbolic interactionism); c)
fenomenologi (Phenomenology).
• Paradigma perilaku sosial yang dikenal juga dengan
pendekatan behavioris. Varian teorinya adalah, a)
Sosilogi tingkah-laku (behavioral sociology); b) teori
exhange atau teori pertukaran Ritzer, 2002).
• Skema Revolusi ilmiah Kuhn
(Smith;1998; ):
. Pra paradigma
• Paradigma A normal Science
Anomalies Crisis Scientific
Revolution Paradigma B
Ian Hacking mengemukakan bahwa pemikiran Kuhn telah
menghancurkan beberapa gagasan penting dalam ilmu pengetahuan
(khususnya positivisme), antara lain:

1. Realisme ilmiah: di mana ilmu pengetahuan dianggap sebagai upaya untuk


menemukan/menjelaskan suatu dunia nyata, bahwa kebenaran teori adalah
sesuai dengan realitas/ obyek apa adanya, dengan demikian teori adalah
pencerminan realitas tanpa keterlibatan subjek di dalamnya.
2. Demarkasi, maksudnya ada garis batas yang jelas dan tegas antara teori
ilmiah dengan non-ilmiah atau jenis keperca-yaan lainnya.
3. Kumulasi, yang mengandung pengertian bahwa ilmu penge-tahuan
berkembang secara kumulatif dan berkembang berdasarkan apa yang
sudah diketahui dan berdasarkan paradigma sebelumnya.
4. Pemilahan antara teori dengan observasi, karena tidak ada keterkaitan
antara teori/paradigma dengan observasi.
5. Fundasionalisme, karena adanya pandangan bahwa observasi dan
eksperimen merupakan fundasi terpercaya bagi kebenaran hipotesa dan
teori (karena dapat diverifikasi).
6. Struktur deduktif teori, yakni bahwa pengujian atas teori-teori
berlangsung dengan cara mendeduksi laporan-laporan observasi
dari postulat-postulat teoretis.
7. Presisi, yakni bahwa konsep-konsep ilmiah memiliki ketepatan dan
memiliki makna yang pasti.
8. Penemuan dan pembenaran, yakni bahwa antara konteks
pembenaran dan konteks penemuan adalah dua hal yang benar-
benar terpisah. Dalam ilmu pengetahuan harus benar-benar
dipisahkan secara tegas antara dimensi sosial, histo-ris, psikologis
di mana suatu penemuan dilakukan dengan basis logismetodologis
yang mengukuhkan kepercayaan pada fakta-fakta yang ditemukan.
9. Kesatuan ilmu pengetahuan, yakni bahwa ilmu pengetahuan
ditegakkan di atas fundasi (bahasa, obyek, metode) yang sama.
Paradigma positivisme (metode ilmu alam) menjadi model
terpercaya dan dapat diandalkan bagi semua ilmu pengetahuan
(Hacking, 1981: 1-2).
Critical Theory
ajaran Marx yang ditinggalkan oleh Tokoh Mazhab Frankfurt antara lain:
1. Teori nilai pekerjaan Marx dianggap kehilangan arti, karena dalam
masyarakat industri maju ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tenaga
produktif yang utama. Jika Marx menganggap ekonomi sebgaia infrastruktur
yang menentukan suprastruktur, maka pada abad xxi ini sering disebut
sebagai era ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan. Jadi ilmu
pengetahuan dianggap sebagai modal (capital) utama.
• Pertentangan modal (kapital) dengan pekerjaan juga kehilangan
relevansinya, karena penindasan manusia tidak lagi penindasan kaum
kapitalis pada pekerja (buruh), akan tetapi semuanya ditindas oleh sistem,
di mana proses produksi yang ditentukan oleh teknologi sudah tidak
terkontrol lagi. Dengan demikian analisis kelas yang begitu penting dalam
pemikiran Marx, kehilangan fundamennya atau tidak relevan lagi.
• Hilangnya pertentangan kelas, disebabkan meleburnya kaum proletariat ke
dalam “sistem” sehingga tidak lagi memiliki semangat revolusioner,
Proletariat bukan lagi subyek bagi revolusi menyeluruh.
Critical Theory
• Generasi I Teori Kritis menghasilkan karakter Teori
sbb :
1. Teori bersifat historis, maksudnya teori didasarkan
atas situasi mesyarakat yang kongkrit, lalu
melakukan kritik terhadap kondisi masyarakat yang
tidak adil dan tidak manusiawi.
2. Teori Kritis bersifat kritis terhadap
pandangan/teorinya sendiri
3. Metode dialektik yang digunakan memunculkan
kecurigaan terhadap kondisi masyarakat aktual.
4. Teori tidak bersifat kontemplatif tapi bertujuan
praxis, di mana teori mendorong transformasi
masyarakat yang hanya mungkin bisa diterapkan
melalui praxis
Kritik Teori Kritis mencakup:

1. Kritik terhadap marxisme yang terlalu deterministik. Teori kritis


mengatasi determinisme ekonomi dengan memperhatikan
aspek sosial-budaya di samping ekonomi
2. Kritik terhadap positivisme yang menyamakan kehidupan
sosial-budaya dengan alam (fisikalisme), Habermas
menyatakan bahwa positivisme mengabaikan peran individu
(actor, egent). Positivisme merendahkan pandangan terjhadap
manusia dan hukum ilmiah tidak begitu saja berlaku bagi
manusia.
3. Kritik terhadap positivisme dalam sosiologi yang menyebabkan
sosiologi berwatak konservatif dan mempertahankan status-
quo.
4. Teori Kritis menolak ilmu yang kontemplatif dengan
mengaitkan teori dengan praxis –emansipatoris.
Keterkaitan antara pengetahuan dengan Kepentingan :
No Kelompok Tujuan Kepentingan
Ilmu
1 Empiris Nomotetis (rasio Teknis &
Analitis (Ilmu Instrumental) Penguasaan,Kontrol
alam & alam/manusia
Positivisme
Ilmu Sosial
2 Historis- Menangkap Perluasan
Hermeneutis makna Intersubyektivitas,
(Sejarah-ilmu saling memahami &
Humaniora) Komunikasi
3 Kritis- Refleksi diri Pencerahan,
Refleksif dan Emansipatoris
(Filsafat, Lingkungan
Psikoanalisa, kekuasaan
K, Ideologi)
Ilmu dan kepentingan (Habermas)

o
Kelompok Ilmu Tujuan & Kepentingan
Empiris-analitis:
1 Nomotetis: mencari
ilmu-ilmu alam & hukum alam
Ilmu sosial Kepentingan : teknis
Positivis
2
Historis- Idiografis: pengungkapan
Hermenutis: makna
Sejarah, sastra Kepentingan: Perluasan
wawasan dan komunikasi,
tindakan bersama
3
Ilmu-ilmu Refleksi kritis
Tindakan: Kepentingan:
Sosiologi, Emansipatoris
politik, filsafat,
teori feminisme
No Pandangan Rasionalisme Teori Kritis
Positivisme Kritis
Logis
1 Ilmu bebas Mendukung ilmu Menolak: Pandangan itu
nilai bebas nilai ideologis
1 dan menyembunyikan
kepentingan yang
ada di dalamnya
2 Verifikasi Ditolak: Validitas Ditolak: Validitas diarah
sebagai ilmiah didasarkan kan oleh rasionalitas-
2 dasar pada putusan kepentingan
validitas ilmuwan untuk ilmuwan/manusia
ilmiah menyepakati
dasarnya

3 Persoalan Konsensus Pengamatan tidak bebas


basis (fakta ilmuwan yang nilai, Kepentingan untuk
atomik menentukan menguasai alam menjadi
sebagai basis bahwa pernyataan dasar
pernyataan (teori) sesuai ilmu-ilmu alam. Hasil
ilmiah) dengan realitas penelitian diarahkan oleh
metode penelitian (pilihan
peneliti)
Teori Ilmiah Teori Kritis
1
Tujuan Nomotetis, Mencerahkan,
Manipulasi dunia Emansiparoris,
eksternal menemukan
kepentingan
sejati
masyarakat
2
Struktur Mengobyektivasi, Refleksi, teori
kognitif merepresentasikan merupakan
obyek bgn dari obyek
yg
dideskripsikan
3
Konfirmasi Empiri & Scr Kognitif
Verifikasi sbg diterima jika
Justifikasi mampu
bertahan oleh
proses
evaluasi; teori
benar-benar
refleksif
Emancipatory Politics Life Politics
1 Pembebasan kehidupan sosial Keputusan keputusan politik yang keluar dari
dari tradisi dan adat-istiadat kebebasan memilih dan kekuasaan generatif
(kekuatan sebagai kemampuan transformatif)
2 Pengurangan atau penghapusan Pembentukan bentuk-bentuk kehidupan yang
eksploitasi, ketidaksamaan dan dapat dibenarkan secara moral akan
penindasan. Perhatian terhadap mendukung aktualisasi diri dalam konteks
pendistribusian yang divisive global
terhadap
kekuasaan.sumberdaya.
3 Kataatan terhadap prinsip- Pengembangan etika tentang “bagaimana
prinsip keadilan, persamaan, kita harus hidup” dalam tatanan
dan partisipasi postradisional serta terhadap permasalahan
eksistensial
Asumsi Epistemologi Praktis
(Pragmatisme):
1. Tidak ada dasar epistemilogi yang pasti bagi
ilmu pengetahuan (antifundasionalisme).
2. Pengetahuan adalah kepingan-kepingan
pengalaman.
3. Ilmu pengetahuan adalah konstruksi kognitif
& interaksi yang berkaitan dgn lingkungan.
4. Kebenaran ilmu pengetahuan ditentukan
oleh kegunaan praktisnya.
• Akibatnya revolusi kehilangan arti, revolusi ternyata
hanya akan mengembalikan keadaan semula.
• Kritik ekonomi kapitalis Marx yang parsial, digantikan
oleh kritik yang lebih menyeluruh yaitu kritik terhadap
kebudayaan teknokratis.
• Karena dalam upaya emansipasi tekanan fungsi
kesadaran bersifat primer, maka bidang produksi tidak
lagi memiliki kedudukan sentral, Akibatnya skema
basis- bangunan atas dianggap tidak berlaku lagi.
• Atas dasar itu ajaran (dogma) inti Marxisme tentang
hukum perkembangan ekonomi umat manusia yang
niscaya menuju penghapusan masyarakat berkelas
dan ke arah kebebasan manusia, juga tertolak.
(Magnis, 1992; 167-68).
• Upaya untuk membebaskan diri dari dogmatisme ajaran Marx telah
memunculkan berbagai pandangan baru yang berkembang seperti:
• bukan kebutuhan manusia yang menentukan proses produksi melainkan
kebutuhan itu sendiri diciptakan, agar hasil-hasil produksi bisa laku;
perkembangan teknologi ternyata menuruti hukum-hukumnya sendiri dan
lepas dari kontrol manusia;
• kebahagiaan yang ditawarkan industri konsumsi ternyata kebahagiaan
semu, karena ternyata membuatnya semakin tergantung pada benda-
benda (pemilikan) dan menghilangkan nilai pada dirinya sendiri;
• bekerja bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pengembangan
diri, akan tetapi merupakan keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan yang
diciptakan;
• teknologi modern ternyata bukan memanusiakan manusia akan tetapi
sebaliknya semakin memperbudaknya;
• kemajuan sarana komunikasi ternyata mengisiolosi manusia dan bukan
meningkatkan interaksi dan komunikasi individu (Magnis. 1992; 169).
Arthur Asa Berger mengemukakan beberapa metode hermeneutika atau interpretasi teks
yang banyak digunakan dalam interpretasi teks (realitas sosial-budaya) dalam dunia
akademis sekarang ini (bab V, halaman: 231-233) antara lain:

Feminist Theory Semiotics Ethical Criticism

Sociological Marxist
Text
Theory Theory

Aesthetic Psychoanalytic Literary


Theory Theory Theory

Jika kita melakukan penelitian tentang masalah perempuan yang kita anggap sebagai
teks, maka metode hermeneutika dengan variannya: teori psikoanalisa, teori estetika,
teori literatus, teori marxis, teori semiotika, teori kritis, teori-teori feminis atau bahkan
dekonstruksi model Derrtida dapat saja kita gunakan.
Teori Feminis
• Ada tiga faktor yang membantu terciptanya gelombang
aktivitas feminis akhir-akhir ini antara lain:
– Berkembangnya pemikiran kritis pada tahun 1960-/1970an.
– Kemarahan aktivis perempuan yang terhimpun dalam gerakan
anti perang, penegakan hak-hak sipil, gerakan mahasiswa yang
hanya bertujuan menentang menentang sikap seksis dan liberal
di dalam gerakan tersebut.
– Pengalaman kaum perempuan dalam menghadapi prasangka
dan diskriminasi yang mereka alihkan menjadi tuntutan upah
dan pendidikan yang lebih tinggi (Ritzer dan Goodman, 2004:
98).
Teori Feminis
Jika diteliti secara rinci dapat dilihat ciri utama teori sosiologi feminis
dalam upaya membangun sosiologi yang prefosional anatara lain:
1. Menekankan bahwa pengalaman, pekerjaan, dan kehidupan
perempuan sama pentingnya dengan, pengalaman, pekerjaan dan
kehidupan kaum laki-laki.
2. Penekanan itu diiringi oleh kesadaran bahwa ,mereka berbicara
dari pendirian hendak diwujudkan bukan dengan nada keangkuhan
obyektivisme, karena mereka ingin menjadikan teori sosiologi laki-
laki sebagai patner bagi teori yang mereka bangun.
3. Kesadaran bahwa sosiologi bertujuan untuk mereformasi
kehidupan sosial, di mana tujuan akhirnya adalah untuk
meningkatkan kualitas kehidupan manusia melalui kehidupan.
4. Kesadaran bahwa ketimpangan sosial sebagai masalah utama
dalam upaya mencapai kemajuan, karena itu ketimpangan dan
ketidak adilan itu harus diatasi .
Dalam mengembangkan teorinya pendekatan feminis tidak menerima
pendekatan positivis atau fungsionalis karena pertimbangan berikut:
1. Karena pendekatan positivis menekankan pada penemuam
kebenaran universal dengan metode verifikasi.
2. Komitmennya pada obyektivitas dan netralitas peneliti.
3. Klasifikasinya yang dikotomis serta penekanannya pada prinsip
kausalitas.
4. Pandangan-pandangannya yang ahistoris.
5. Tidak melihat pemakaian bahasa sebagai medium untuk
menyampaikan pemikiran-pemikiran, konsep-konsep dan teori-teori
(Ollenburger & Helen A. Moore, 1996: 46).
Janet Chavetz mengemukakan beberapa unsur yang
terdapat dalam teori sosiologi feminis sebagai berikut:
1. Masalah jenis kelamin sentral dalam semua teori
2. Hubungan jenis kelamin tidak dipandang sebagai
masalah
3. Hubungan jenis kelamin tidak dipandang sebagai
alamiah dan kekal
4. Kriteria teori sosiologi feminis dapat digunakan untuk
menentang, meniadakan atau mengubah suatu status
quo yang merugikan atau merendahkan derajat
perempuan (Olenburger & Helen A. Moore, 1996: 45).
Sandra Harding merumuskan metode (epistemologi) feminis sebagai alternatif.
Ia merumuskan lima macam kecenderungan penelitian interdisipliner yang
perlu dikembangkan oleh kaum feminis:
1. Suatu penelitian yang adil didorong oleh politik reformis liberal untuk
menguji perlawanan dan diskriminasi terhadap wanita di dalam dunia
ilmiah. Pendidikan serta proses sosialisasinya menanamkan minat dan
bakat dalam ilmu pengetahuan.
2. Penelitian terhadap penyalahgunaan ilmu-ilmu sosial, bilogi dan teknologi
diperlukan untuk menunjukkan adanya proyek-proyek sosial yang bersifat
sexist, racist dan homophobic
3. Kajian dari kaum konstruktivisme sosial diperlukan untuk mengusahakan
kemungkinan adanya ilmu pengetahuan murni.
4. Kajian kelompok dekonstruksionis diperlukan untuk menemukan kebenaran
laporannya, terutama yang berkaitan dengan batas bahasa, struktur retoris
dan lain sebagainya.
5. Kajian epistemologis diperlukan untuk mengeksplorasi fundasi-fundasi
pengetahuan dalam kaitannya dengan relasi sosial, perwujudannya serta
kaitannya dengan struktur kekuasaan.
Shulamit Reinharzt mengemukakan sepuluh tema metodologi feminis ( dalam
Feminst Methods In Social Research, 1992) sebagaiu berikut:
1. Feminisme adalah suatu perpektif bukan metode penelitian
2. Feminist menggunakan bermacam-macam metode penelitian
3. Penelitian femins melibatkan kritik berkelanjutan terhadap penelitian dan
kegiatan ilmiah di luar Kajian feminis
4. Penelitian feminis dituntun oleh teori feminis
5. Penelitian feminis bersifat interdisipliner/multididipliner
6. Penelitian feminis bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial
7. Penelitian feminis berupaya untuk menampilkan keberagaman manusia.
8. Penelitian feminis sering menyertakan peneliti sebagai seorang pribadi
9. Penelitin fiminis sering berupaya mengemvbangkan hubungan khusus
dengan orang-orang yang diteliti (penelitian interaktif, partisipatif)
10. Penelitian feminis sering menetukan hubungan khusus dengan pembaca (
Shulamit; : 336).
Richardson dan Taylor menyusun lima metode feminis sebagaimana dikamukakan
oleh Judith Cook dan Mary Margaret Fonow sebagai berikut:

1. Memperkenalkan tentang adanya pengaruh gender (male biased) ketimpangan


gender dalam semua kegiatan sosial manusia.
2. Menyingkapkan bagaimana hubungan gender dengan system lain yang
mempengaruhi perbedaan seperti: ras, kelas sosial, etnis, umur dan lain sebagainya.
Ada pengalaman dan harapan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan antara
kelas, ras kulit putih dengan kulit hitam dan berwarna.
3. Meningkatkan dan menyebarkan kesadaran (conciuosness rising) yang diyakini
dapat membantu memperkecil atau menghilangkan ketidak adilan/penindasan
terhadap kaum perempuan.
4. Memikirkan dan mengubah pandangan dualisme antara si peneliti dengan obyek
yang diteliti dengan pandangan yang dialogis, partisipatif. Karena tuntutuan
obtektivitas ilmiah ternyata membuat hubungan yang tidak sejajar (tidak adil). Dialog
dan sikap kritis diperlukan untuk memahami perspektif, pengalaman dan harapan
kaum perempaun.
5. Menekankan perlunya pemberdayaan dan transformasi yang secara tidak langsung
telah menimbulkan berbagai kritik.
• Dalam proses pengetahuan ini yang terjadi bukanlah dualisme subyek-
obyek, rasio dan emosi. Akan tetapi proses yang menyatukan antara
tangan, kepala dan hati (hand, brain, and heart).
• Dalam pandangan ini ilmu pengetahuan menjadi holistik, relasional serta
bertangungjawab terhadap berbagai proses keputusan kelompok. Ada tiga
pengertian analitis menuju ke suatu teori yang holistik (terpadu) yaitu:
1. Memberi tempat bagi mereka yang tertekan, sebagai cara untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan penelitian yang adil,
bertangungjawab. Subyek yang dijadikan sebagai obyek penelitiasn justru
harus diposisikan sebagai mitra dialog;
2. Ilmu dan penelitian diakui tidak netral, terdapat hubungan antara gaya
kognitif dengan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial;
3. Ciri relasional ilmu dan penelitian mengakui dan menjalani proses, dan tidak
dapat meninggalkan sumbangan pengalaman prarasional sekalipun. (lihat
tulisan J.B. Banawiratma, dalam, Budi Susanto, 1994, 97).
Table 1. 2 Interpretive Paradigms (Denzin & Yvonna, 1998; 27):
Paradigm/Theory Kriteria Bentuk teori Tipe Narasi
Positivist/postpositiv Internal, validitas eksternal Logical-deductive, Laporan ilmiah
ist ilmiah, grounded (teori
dari dasar)
Konstruktivis Keterpercayaan, Formal-substantif Interpretasi, studi
ckredibilitas, dapat kasus, ethnografik,
ditransfer, konfirmabilitas fiksi
Feminist Lokal, pengalaman hidup, Kritis, standpoint Essei, historis, .
dialok, Kepedulian, tulisan
akuntabilitas, ras, klas, eksperimentasi
gender,
reflesivitas, praxis,
perasaan, didasarkan fakta
nyata
Ethnic Afrosentris, pengalaman Standpoint, kritis, Essei, cerita (narasi),
hidup, dialog, keprihatinan, historis drama
akuntabilitas, ras,
klass,gender
Marxist Teori emansi- historis-kultural, Historis, ekonomis,
patoris, dapat difalsifikasi, economis analisis sosial-budaya
dialogis, ras, klas, gender

Cultural Studies Praksis budaya, Teks sosial, Kritisisme Sosial Teori budaya sebagai
(studi budaya) subjektif kritik
Table 1. 2 Interpretive Paradigms (Denzin & Yvonna, 1998; 27):
Paradigm/Theory Kriteria Bentuk teori Tipe Narasi
Positivist/postpo Internal, validitas Logical-deductive, Laporan ilmiah
sitivist eksternal ilmiah, grounded
(teori dari dasar)
Konstruktivis Keterpercayaan, Formal-substantif Interpretasi, studi
ckredibilitas, dapat kasus, ethnografik,
ditransfer, fiksi
konfirmabilitas
Feminist Lokal, pengalaman Kritis, standpoint Essei, historis, .
hidup, dialok, tulisan
Kepedulian, eksperimentasi
akuntabilitas, ras, klas,
gender,
reflesivitas, praxis,
perasaan, didasarkan
fakta nyata
Ethnic Afrosentris, Standpoint, kritis, Essei, cerita, drama
pengalaman hidup, historis
dialog, keprihatinan,
akuntabilitas, ras,
klass,gender
Marxist Teori emansipatoris, historis-kultural, Historis, ekonomis,
dapat difalsifikasi, economis analisis sosial-
dialogis, ras, klas, budaya
gender
Pengertian Modernitas

• Menurut G. Simmel, Weber : modernitas adalah


proses yang melahirkan negara industri
kapitalis modern. Modernitas merangkum
pengertian yang sistem sosial, ekonomi, politik
yang muncul di Barat sejak abad 18.
• Posmodernitas berarti yang muncul setelah
modernitas (kebudayaan posmodern yng
muncul setelah kebudayaan modern).
Posmodern bisa juga disebut sebagai cara
berpikir baru.
Modernisasi
• Modernisasi; proses perubahan sosial-
ekonomi (budaya) yg diakibatkan
perkembangan ilmu pengetahuan &
teknologi (industrialisasi)
• Posmodernisme adalah gerakan
kebudayaan kapitalis lanjut(late capitalism,
postindustrial, consumer society, trans-
national capitalism).
Dalam perspektif Cultural Studies, politik budaya feminis dapat dibagi
secara luas setidaknya dalam lima kategori yang bersaing:
1. Politik liberal dan feminis liberal yang menekankan pentingnya
persamaan dan kesmpatan dalam bidang – bidang seperti:
pekerjaan, akses pendidikan, perawatan anak. Dalam pandangan
ini menekjankan individualitras perempuan tanpa berfokus pada
perbedaan mereka dengan kaum laki-laki.
2. Politik budaya yang terpusat pada perempuan, dipihak lain
memusatkan perhatian pada perspektif yang mengistemewakan
kaum perempuan. Keanekaragaman politik budaya kaum
perempuan ditujukan sebagai upaya menulis ulang sejatrah
perempuan dari perspektif mereka
3. Feminis Marxis melihat gender sebagai fenomena budaya.
Perbedaan dalam praktek kebudayaan tidak dilihat sebagai tanda
adanya perbedaan esensial antara kedua jenis kelamin tersebut.
Perbedaan gender dilihat sebagai bagaimana perbedaan itu
bermanfaat bagi kapitalisme.
Dalam feminisme posmodern perbedaan ras dan gender tidak memiliki
makna yang tetap. Setiap individu dianggap sebagai gabungan unsur-
unsur berbagai mode subyektivitas yang ada Unsur-unsur yang
bertentangan pun bisa saja cocok pada waktu yang berbeda Feminitas dan
maskulinitas dikonstruksi secara sosial dan merupakan situs perjuangan
politik tentang makna.
4. Konstruksi sosial merupakan relasi, karena itu feminis posmodern tidak
tertarik pada autensitas. Feminisme posmpdern membuka ruang bagi
perbedaan dan (beragam suara) serta interpretasi baru mengenai identitas.
5. Feminisme kulit hitam dan feminisme non barat berkonsentrasi pada
rasisme dan kolonialisme.dan memandang hal ini sebagai alat untuk
memahami relasi gender. Bagi feminism kulit hitam ras tetap merupakan
suatu bentuk penindasan yang hakiki (Sardar danBoris van Loon,2001:
142-145). Feminsme Dunia Ketiga umumnya menolak pemikiran feminisme
Barat sebagai tolak ukur dan representasi dari gerakan feminis, Feminisme
NonBarat berakar dari rasisme dan kolonialisme, pengakuan terhadap
peranan negara modern dalam mengabadikan keduanya.
Posmodern
Sebelum kita menjelaskan posmodern ada baiknya kita jelaskan
asumsi ilmiah paradigma positivisme yg dominan pd era modern yang
ditolak oleh epistemologi posmodernis, antara lain:
• Metode ilmiah adalah metode yang baku: (konstruksi sosial,
Feyerabend)
• Pertanyaan manusia dan sosial-budaya dapat dijawab dengan
metode ilmiah yang baku itu (maksudnya positivisme).
• Eksistensi manusia (human being) itu seperti mesin.
• Obyektivitas total itu dapat dicapai.
• Kuesioner itu selalu mengemukakan kebenaran.
• Proses penelitian benar-benar bebas dari bias personal.
• Semua yang ada hanya merupakan sebuah teka-teki sosial yang
akan terpecahkan melalui metode eksperimen.
Posmodern
• megemukakan pengertian post-modern sebagai
sesudah modern. Ia mengemukakan bahwa
pengertain postmodern itu merupakan
campuran beberapa atau gabungan seluruh
pengertian berikut: hasil dari modernisme; anak
dari modernisme; akibat dari modernisme;
penyangkalan akan modernisme; penolakan
terhadap modernisme (Appinnanesi, Chris
Garrat, 1995).
• Istilah modern berasal dari kata Latin modo yang berarti ‘barusan”.
Istilah itu dimunculkan tahun 1127 oleh Suger seorang kepala
biarawan Basilika St. Denis di Paris Waktu itu Ia melakukan
renovasi yang hasilnya berupa karya arsitektur yang benar-benar
baru (bukan seperti arsitektur Yunani, bukan Romawi) karena itu
Suger mengalami kesulitan untuk menyebutnya, sehingga ia
menggunakan istilah opus modernum (sebuah karya modern)
(Appignanesi, Richard dan Chris Garratt1995: 6). Dalam filsafat era
Renaisans dan Pencerahan sering disebut sebagai awal zaman
modern. Modernisme dalam pengertian kultural dimulai pada tahun
1900-an ketika terjadi inovasi teknologi massal, yaitu gelombang
pasang kedua revolusi industri yang telah terjadi sekitar tahun 1800-
an
• Periode dari tahun 1890-an sampai 1920-an dapat disebut sebagai
masa kejayaan zaman modern sedangkan masa sesudah tahun
1960-an/1970-an disebut sebagai zaman posmodern.
Pemikir yg mempengaruhi Posmodern:

N0 Pemikir Pikirannya
1 Nietzsche Perspektif, Kematian obyektivitas dan kepastian
(anti esensialis), gerak sejarah siklus
2 Karl Marx Kesadaran kelas, posisional/standpoint
epistemology, konstruksi sosial
3 Martin Menolak konsep “obyektivitas” Vs
Heidegger “Subyektivitas”

4 Ludwig Language games (antifundationalism)


Wittgenstein

5 Thomas Kuhn Mempopulerkan konsep paradigma, Ilmu sbg


consensus komunitas
6 Francois Abad informasi, Menolak
Lyotard universalitas & grand-
narrative, little/mini-narrative

7 Jacques Derrida Menolak metafisika


kehadiran, Menolak
Logosentrisme, dekonstruksi
8 Michel Foucault Kuasa dan kebenaran,
episteme, diskursus,

9 Roland Barthes Semiotics, Ideologi,

10 Richard Rorty Antifundasionalis, menolak


teori cermin, kontigensi
11 Jean Budrillard Simulacra, hyperreality,
Menurut teoritisi sosial postmodern era postmodern
ditandai oleh beberapa hal berikut:

1. Globalitas: Bangsa-bangsa dan wilayah semakin terhubung satu


sama lain sehingga mengaburkan perberdaan antara wilayah dan
bangsa dan wilayah maju (Dunia Pertama) dengan bangsa dan
wilayah terbelakang (Dunia Ketiga). Dengan Era informasi tidak
ada satu Negara atau wilayah pun di dunia yang dapat mengurung
diri dalam batas geografisnya.
2. Lokalitas: kecendrungan global berdampak langsung pada
lingkungan lokal, sehingga memungkinkan kita untuk memahami
dinamika global dengan mempelajari manifestasi lokal. Dalam
pemikiran posmodernis dimensi local dan global merupakan dua hal
yang berjalan beriringan , karena itu sering juga disebut global
paradoks. Dari satu sisi era informasi cendrung menghilangkan hal-
hal yang bersifat lokal, akan tetapi di sis lain memungkinkan hal-hal
yang bersihat local itu memasuki wilayah nasional dan gobal.
Contoh jelas paradoks ini dapat kita lihat bagaimana TV selama dua
puluh empat jam menyuguhkan masalah global, akan tetapi juga TV
lokal menyiarkan masalah dan budaya lokal ke dunia internasional.
3. “Akhir dari Sejarah” : Modernitas sebagaimana diteorikan pendukung
pencerahan, bukanlah akhir dari sejarah, yang muncul dari era
postindustrial dimana kebutuhan dasar material semua orang dipenuhi
sehingga konflik kolompok dan pertentangan ideologi semakin
menghilang. Akan tetapi posmodernitas adalah keterputusan
(diskontinuitas) sejarah yang halus, perkembangan evolusioner kapitalis
sebagai mana dirancamg oleh pendukung Pencerahan dan pendiri teori
sosiologi dan ekonomi borjuis. Akhir sejarah diartikan berakhirnya
pertentangan idologi kapitalis dengan sosialis, dan semakin
merajalelanya kapitalisme gobal (neokapitalisme)
4. “Kematian individu” konsep borjuis tentang subyektivitas tunggal dan
tetap secara jelas dan dibedakan dengan dunia luar tidak dianggap
masuk akal lagi oleh pemikir postmodernitas. Kini diri atau self
(individualitas) menjadi arena pertarungan tanpa batas antara “diri” dan
yang di “ luar diri” atau pertarungan antara “diri” dengan “lingkungan
sosial-budaya”.
(Jacques Lacan, 1977, 1982) mengkonsepkan masyarakat sebagai
subyek tunggal serta sekaligus subyek yang tengah dan selalu berubah.
5. “Mode informasi” cara produksi, dalam terminoligi marxis, kini tidak lagi
relevan, era sekarang adalah “era informasi” “era postindustri” . Era dimana
masyarakat postmodern mengorganisir dan menyebarkan informasi dan
hiburan.
6. “Simulasi” Jean Baudrillard (1983) menyatakan bahwa apa yang disebut
dengan realitas, sekarang tidaklah stabil dan tidak dapat dilacak dengan
konsep ilmiah tradisional (maksudnya positivisme), termasuk juga
Marxisme. Masyarakat semakin “tersimulasi”, tertipu dalam “dunia citraan”
dan “Wacana” yang secara cepat menggantikan pengalaman manusia atas
realitas. Goldman dan Parson (1995) mengemukakan bahwa, iklan
merupakan wahana utama dunia simulasi itu.
7. “Perbedaan dan penundaan dalam bahasa”: Bahasa ,menurut Jacques
Derrida tidak lagi berada dalam hubungan representasional pasti atas
”realitas”. Bahasa tidak lagi dapat menggambarkan realitas dunia secara
jernih dan transparan. Bahasa dianggap bersifat licin, media ambigu yang
bisa mengaburkan pemahaman yang jelas menjadi tak pasti. Posmodern
mengkritisi pandangan obyektivisme–universalisme dalam wacana ilmiah.
Dekonstruksi atau pembacaan kreatif atas teks dari Derrida, membuka
ruang bagi penafsir untuk menyingkapkan kekayaan makna teks.
8. “ Polivokalitas” : Segala hal atau obyek dapat dikemukakan dengan
perspektif atau paradigma yang berbeda, yang kedudukannya satu
sam lain memiliki kesejajaran atau kedudukan yang sama. Karena
itu ilmu pengetahuan dihadapkan pada “multi narasi” yang satu
sama lain saling melengkapi, saling bersaing, di mana satu
perspektif atau paradigma tidak memiliki keunggulan epistemologis
dari yang lain. Ketika Amerika menginvasi Irak, Presiden Bush
menyatakan bahwa ia memerdekakan rakyat Irak dari penguasaan
Saddam. Berbagai TV seperti CNN, Aljazira, Al-Arabiya, Metro TV,
dan yang lain menyiarkan kejadian yang sama berdasarkan sudut
pandang dan kepentinganya masing-masing, sehingga fakta
(kejadian yang sama) ditafsirkan secara beragam.
9. Kematian analisis oposisi biner: model berpikir yang didasarkan
atas analisis polaritas (oposisi biner) misalnya: laki-laki Versus
Perempuan, benar versus salah, negara maju Vs negara
terbelakang, model berpikir ini dianggap tidak lagi relevan, karena
munculnya keanekaragaman/pluralitas posisi subyek atau manusia.
10. Lahirnya Gerakan sosial baru: akhir-akhir ini
bermunculan berbagai gerakan akar rumput yang
mendorong berbagai perubahan sosial progresif, seperti
gerakan perempuan, gerakan perempuan kulit hitam,
gerakan anti kolonialisme, gerakan lingkungan hidup,
gerakan kaun lesbian, gay dan lain-lain.Gerakan ini tidak
selalu tepat dengan analisis oposisi biner atau analisis
hitam-putih, namun yang jelas gerakan ini menuntut
perubahan sosial baru, menuntut penghargaan pada
perbedaan etnis, budaya, agama dan lain-lain. Gerakan
sosial baru ini sangat berkembang dalam kajian
multikuturalisme.
11. Kritik terhadap narasi besar: Lyotard mengemukakan bahwa pada era
postmodern kepercayaan pada penjelasan makro atau cerita besar/ cerita
.agung sejarah seperti diungkapkan oleh Marx, dilektika Roh model Hegel,
kemajuan yang dipercayai oleh modernitas sudah tidak relevan lagi.
Posmodernitas lebih mempercayai pada polivokalitas, keanekaragaman
daripada keseragaman, mengharagai perbedaan, dan interpersonal..
Posmodern menolak bentuk pemikiran yang monodimensional yang
otoritarian. Posmodern menurut Lyotard lebih menekankan dan
mempercayai narasi kecil tentang masalah sosial, cerita tentang masalah
kehidupanm dan perjuangan pada tingkat budaya, etnis, bahasa yang
bersifat lokal.
12. Otherness (ke-liyan-an) : Pemikir postmodernis memberikan ruang dan
penghargaan pada kelompok yang selama ini terpinggirkan
(termarjinalkan). Penghargaan pada kel;ompok atau suara yang
terpinggirkan selama ini, berkaitan erat dengan munculnya gerakan dan
perjuangan hak-hak sipil serta penghargaan pada multikutural(isme) akhir-
akhir ini.
Pandangan postmodernisme sebagai titik balik peradaban ditunjukkan
melalui beberapa pandangan pemikir:

– Vattimo : Berakhirnya modernitas


– Daniel Bell: Akhir ideology, Masyarakat postindustri
– Francois Lyotard : matinya Metanarasi
– Akhir dari Sosial, ( Jean Baudrillard)
– Akhir dari Teori, Masyarakat Konsumer (Fredrich
Jameson)
– Matinya Logos ( Jacques Derrida)
– Matinya Ilmu Pengetahuan (The End of Science)
– Matinya Ilmu Ekonomi (Omerod)
– Matinya Realitas (Leary)
(Yasraf 244).
Perlu dibedakan konsep postmodernity
(postmodernitas) dengan dengan postmodernisme:

• Postmodernitas mengacu pd periode historis


yang mengikuti era modern.
• Postmodernisme mengacu pada produk cultural
(seni, film, arsitektur, ilmu pengetahuan) yang
berbeda dengan produk kultural modern
• Munculnya teori social-budaya postmodern
(subyektif, local, relative, mini-narrative)
menggantikan atau melengkapi teori modern
(obyektif, rasional, universal, grand-narrative).
Barry Smart dalam, Postmodernity (1993) membedakan
tiga pendirian yang berbeda dikalangan postmodernis:

1. Tipe Moderat: Postmodern(isme) sebagai lanjutan


modern(isme). Kekurangan pada modernisme dicoba
atasi oleh postmodernisme . Tokohnya J. Habermas,
Daniel Bell (postindustrial Society)
2. Postmodernis ekstrem/Radikal: ada keterputusan antara
masyarakat/pemikiran modern dengan postmodern.
Tokoh yang termasuk ini: Francios Lyotard, Jean
baudrillard, M. Foucault, J. Derrida, Gilles Deleuze, Felix
Quattari, Richard Rorty
3. Modern dan Posmodern sebagai pilihan dalam
melihat/menjelaskan masalah social-budaya
Ciri Filsafat Posmodern

1. Berubah dari ilmu pengetahuan universal


(metanarasi, grandnarrative) ke narasi yang
bersifat lokal mini/little narative)
2. Menolak rasionalitas yg universal. Rasionalitas
selalu dikondisikan dalam narasi partikular,
tradisi, dan intitusi dan praksis tertentu
3.Posmodern menolak kesatuan, totalisasi, dan
skema universal dengan merayakan pluralitas,
perbedaan, fragmentasi, dan kompleksitas
4. Menolak individu yg otonom dan rasionalitas yg
transenden. Individu senantiasa terkait dengan
lingkungan budaya, bahasa, sejarah
5. Postmodernis anti metafisika, dimana
sejarah dan nilai-nilai diturunkan dari
kepercayaan itu (ingat abad kegelapan).
6. Pengetahuan kita tentang sesuatu
merupakan konstruksi bahasa dan
konstruksi sosial.
7. Bahasa adalah konstruksi sosial,
melaluinya kita berpikir, dan mengubah
keberadaan kita.
Ciri Kebudayaan Posmodern (Zygmunt Bauman, 1992) :

1. Pluralistis
2. Berjalan di atas perubahan yg konstan
3. Kurang dlm “otoritas universal”
4. Hieterarkhis & Permainan
5. Merujuk pada “Polivalensi penafsiran”
6. Dominasi media & Pesan-pesannya
7. Anti esensialis (semua tanda-tanda)
8. Didominasi pemirsa, pembaca
Bauman membedakan Tipe Intelektual modern (legislator) & Tipe
postmodern (Interpreter)

• Tipe Legislator:
1. Memiliki kewenangan mengatasi perbedaan
2. Pendapat legislator benar & mengikat
3. Otoritas karane ilmu yg lebih unggul
4. Ilmuwan memiliki akses yg lebih baik pd ilmu
5. Ilmuwan pemilik kolektif atas pengetahuan yg dihasilkan
6. Ilmu dianggap berhubungan langsung dg perbaikan sosial
7. Ilmuwan tdk terikat dgn tradisi lokal serta menjastifikasinya.
8. Ilmuwan melakukan kontrol thdp aturan & aplikasi ilmu
Tipe Interpreter:

1. Interpreter menafsirkan ide-ide dlm komunitas


2. Interpreter tidak berorientasi mencari ide terbaik, tujuannya utk
memfasilitasi komunikasi bebas antar komunitas
3. Interpreter berusaha mencegah distorsi dlm komunikasi
4. Interpreter perlu pemahaman yg dalam & luas
5. Interpreter perlu menjaga keseimbangan antar tradisi yg
berlawanan
Perbedaan Modern dengan Posmodern

No Modern Posmodern
1 Pengetahuan ilmiah Scientific Kearifan (pengetahuan cultural), wisdom
knowledge) (cultural knowledge)
2 Teori besar (grand-theory) Kesatuan cultural relative (Relative
Cultural Corpuses)
3 Universalisme (Universalism) Partikularisme (Particularism)
4 Monovokalitas (monovocality Polivokalitas (Poly-Vocality)
5 Makna simbolic (symbolic Meaning) Simulacra
6 Koherensi (Coherence) Pasticke
7 Holisme (holism) Fragmentasi (fragmentation)
8 History (Sejarah ) Sejarah-sejarah (histories)
9 Ego rasional Libidinal self
10 Intelektual Tactiler
Perbedaan modern dgn
Posmodern
No MODERN POSMODERN
1 Narasi Besar Narasi Kecil
2 Obyektivisme Naturalisme
3 Pemusatan (centring) Tersebar,lokalitas,perbedaan,the other
4 Monisme Pluralisme,multivokal
5 Mataerialisme Semiosis, interpretatif
6 Dunia Cetak Elektronik
7 Mekanistik Nonmekanistik
8 Linear Nonlinear
9 Deterministik Nondeterministik
10 Mekanika Newton Mekanika kuantum
11 Patriarkhis Pascapatriarkhis
12 Mekanis Ekologis
13 Reduktif Holistik
14 Hierarkhis Heterarkhis
15 Kepastian Kebetulan
16 Antroposentrisme Kosmosentrisme
17 Tujuan Permainan
18 Pemusatan (centring) Tersebar (decentring, ,lokalitas)
19 Kehadiran Ketidak hadiran
20 Dualisme Partisipasi/dialog
21 Ahistoris Historis
22 Konsensus Disensus
23 homologi heterologi
Perbedaan modern dgn posmodern (Eduardo P. Schetti dalam
Kuper, Adam & Jessica Kuper, 1996, 653) :

No Modernity Postmodernity
1 Scintific knowledge Wisdom (kearifan, pengetahuan cultural)
(pengetahuan ilmiah)
2 Grand-theory (teori besar, Relative cultural corpuses (teori-teori
metanarasi) kecil, kesatuan cultural kecil)
3 Universalism (universalisme) Particularism (paticulturalisme
4 Mono-vokality Poly-vocality (polivokalitas)
(monovikalitas)
5 Symbolic meaning (Makna Simulacra (simulacra, citraan)
simbolik)
6 Coherence (koherensi) Fragmentation (fragmentasi)
7 Holism (holisme, Pastiche ( rangkaian potongan-potongan)
keseluruhan)
8 History Histories (sejarah, sejarah, keragaman)
9 Rational ego (ego rasional) Libidinal self ( hasrat, keinginan)
10 Intelectual (intelektual) Tactile
Tipe Pemikiran Posmodernis:

1. Tokoh Posmodern radikal menolak modern: Francois Lyotard, Jacques


Derrida, Michel Foucault, Jean Baudrilard. Paul Virilio. Tokoh
postmodernisme radikal ini memfokuskan pemikirannya pada
pengembangan model, teori sosial- budaya, pengetahuan dan wacana,
serta praktek-praktek posmodern.
• Para pemikir postmodern radikal/garis keras menyatakan bahwa teori
totalitas, universalitas modern dipastikan akan membawa kemunduran dan
dapat memicu tumbuhnya pemikiran totaliter dan politik kotor (Francois
Lyotard).
• Baudrrilard menyatakan bahwa dalam masyarakat yang sangat terpecah
(hyperfragmented) dan masyarakat yang dibanjiri media tidak mungkin
untuk menyatakan mana yang hayalan dan mana yang kenyataan, mana
tanda (signs) dan mana penanda (signifier), alhasil seseorang tidak bisa
membuat perbedaan, penghubungan, dan analisis yang sistematis yang
sebelumnya merupakan ciri teori sosial klasik (modern).
• Bagi aliran Posmodernisme keras, realitas sosial tidak bisa didefinisikan
dan dipetakan, hal yang terbaik yang mungkin kita bisa lakukan adalah
tinggal dalam serpihan-serpihan sebuah perpecahan dalam tatanan
masyarakat (Steven Best, 272).
2. Tipe posmodernis yang moderat yang menyatakan bahwa
postmodern itu hanya lanjutan dari modernitas. Jurgen Habermas,
David Hervey, fredrich Jameson, Daniel Bell. Pemikir ini masih
menggunakan konsep modern (misalnya Marxisme) untuk
menganalisis bentuk sosial-budaya postmodern. Kelompok ini tidak
terlalu mempertentangkan apakah Nietszche, Marx modernis atau
posmodernis. Yang jelas dalam pemikiran Nietzsche dan Marx
sudah terkandung pemikiran postmodern yang sekarang disebut
poskapitalisme, dan masyarakat konsumer. Jameson
mengembangkan konsep marxisme dalam posmodernitas, serta
menyatakan bahwa ia bukan menolak dan mendukung
posmodernisme (Jameson, 1991). Karya Michel Ryan, Marxism
and Deconstructionism (1982), adalah satu karya yang baik sekali
yang menunjukkan betapa Teori Kritis dan Posmodernisme sebagai
dua teori yang saling memperkaya, sehingga menghasilkan
perpaduan teoritis yang menarik.
3. Kelompok ketiga yang menyatakan bahwa postmodernitas sebagai
perspektif alternative, paradigma alternatif yang dapat kita jadikan
sebagai alternative untuk memahami dan penyelesaian masalah
secara baru. Tokohnya antaralain Barry Smart, dan oleh Ritzer
dimasukkan Francois Lyotard yang menurut penulis Lyotard lebih
cendrung masuk dalam postmodernisme radikal (Ritzer, George,
2003; 18). Penggunaan istilah posmodern setelah tahun 1970-an
kita temukan dalam berbagai bidang, yakni: seni rupa, arsitektur,
politik, sastra, antropologi, sosio-logi, feminisme, psikologi, filsafat
dan lain-lain. Istilah posmo-dern digunakan secara luas dengan
pengertian yang agak longgar bahkan cenderung ambigu dan
seakan-akan “memayungi” ber-bagai aliran pemikiran yang satu
sama lain tidak selalu ber-kaitan. Kekaburan itu juga terdapat pada
pemakaian awalan ‘pos’ dan akhiran ‘isme’ pada (pos-) modern
(isme) yang biasa-nya dibedakan dengan istilah posmodernitas.
Daniel Bell
• Dalam buku The Coming of Postindustrial Society, ia
mengemukakan beberapa elemen perubahan dalam masyarakat,
antara lain:

• Dalam bidang ekonomi; perubahan dari keunggulan barang-barang


produksi ke pelayanan (jasa). Pelayanan/jasa itu terlihat pada:
bisnis eceran, perbankan, kesehatan, pendidikan, penelitian, serta
pelayanan pemerintahan sebagai hal penting dan menentukan
dalam masyarakat postindustri.

• Hadirnya pekerjaan professional dan teknis yang kini menguasai


lapangan kerja. Pada Era posindustri peran para ilmuwan dan
teknisis menjadi sangat penting dan dominant. Pada era ini ilmu
pengetahuan (capital intelektual) dianggap sebagai modal utama,
menggantikan peran uang pada era modern.
• Pengetahuan teoritis menjadi esensial bagi masyarakat
industri. Ada keterkaitan erat antara teori dengan
praksis. Ilmu pengetahuan menjadi sumber utama
perubahan struktural dalam masyarakat, perubahan dan
inovasi dalam hubungan dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kebijakan publik, sesungguhnya didorong
oleh perubahan dalam karakter ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan (teoritis) telah
mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan,
berkembangnya teknologi intelektual baru, terciptanya
penelitian-penelitian sistematik di dunia perguruan tinggi
dan lembaga lain yang didukung anggaran penelitian
oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar
(Bell, 1973: 44).
• Masyarakat posindustri berorientasi pada prediksi dan
kontrol atas teknologi serta berbagai dampaknya. Bell
melihat peran besar dari “peramalan dan kontrol” serta
teknik-teknik pemetaan yang melahirkan sejarah baru
ekonomi, karena lebih memungkinkan ekonomi dan
kemajuan yang terencana, sehingga memperkecil
ketidak menentuan ekonomi dan masa depan.
• Pengambilan “kebijakan” ikut menciptakan sebuah
“teknologi intelektual” baru seperti: teori informasi,
sibernetika, teori keputusan, teori permainan, teori
daya guna, proses-proses yang melibatkan variable
yang bervariasi (Giddens, 1973: 29).
Pengantar Ke Pemikiran
Posmodernis: Lyotard
Gagasan Teori Kritis:

• Pada Teori kritis sudah dikemukakan kritik tokohnya pada ilmu pengetahuan &
Kebudayaan modern.
• Max Horkheimer & Theodor Adorno, Dialectic of Enlightenment (1944) mengkritik
dorongan untuk menguasai alam dan dominasi kapitalisme lanjut adalah satu bentuk
fasisme barbar dan irasional. Teori kritis sudah tidak mempercayai Narasi modern.
• Melalui buku itu Habermas membedakan:
• a) tindakan instrumental & strategis: tujuannya keberhasilan dlm relasinya dengan
lingkungan (fisik-sosial)
• B) tindakan komunikatif: tujuan bukan kepentingan ehois, tapi untuk mendapatkan
saling pemahaman
• Habermas melalui teori komunikatifnya mengusulkan untuk menggantikan
subyektivitas & rasionalitas yang monologis dengan konsep yang dialogis
• Habermas sudah mengemukakan tentang keberagaman rasionalitas & diskursus.
Tanpa terjebak pada relativisme/skeptisisme dgn asumsi: rasionalitas komunikatif
karena pencapaian kesepahaman tanpa tekanan diantara subyek yang bertemu &
bertindak. (Habermas masih mempercayai keunggulan rasionalitas- Neonitszchean
justru melihat kekurangannya).
Pokok Pikiran Strukturalis:
Pemikir Postrukturalis:
• Jaen Francois Lyotard
• Jacques Derrida
• Michel Foucault
• Richard Rorty
• Jean Baudrillard
• Gillesd Deleuze & Guattari
• Anthony Giddens
• Pierre Baourdieu
• Dll.
Jean Francois Lyotard (1924-
• Lahir di Versailles tahun 1924-
• Belajar Filsafat dan sastra di Sorbonne
• Ia dipengaruhi oleh Kant , Husserl (buku pertamanya La
phenomenologie (1954)
• Ia pernah mengajar di Algeria, pengalaman ini
membuatnya menjadi seorang ilmuwan & politisi yg
radikal. Skembalinya di Prancis ia bergabung dengan
kelompok Socialisne ou Barbarie (kiri dan anti perang. Ia
mengritik dan menyatakan Marxisme tidak lagi memadai.
Tahun 1966 Ia keluar dari Socialisme ou Barbarie
• Ia menjadi dosen di Universitas Nanterre dan aktif
terlibat dlm gerakan mahasiswa 1968 dan politik oposisi
Tahun 1971 ia menyelesaikan Disertasinya
Discourse Figure dan ia diangkat menjadi profesor
filsafat di Vincennes University.
Karyanya:
1. Discours Figure (1971)
2. Derive a partirr de Marx et Freud (1973),
3. Des dispositifs pulsionels (1973)
4. Economic Libidinale (1974)
5. The Postmodern Condition
Penolakan terhadap grand-narrative ini sering disebut
sebagai anti fundasioal sebagai salah satu ciri
posmodernisme
Antifundasionalisme itu dapat dimengerti sebagai berikut:
1. Antifundasionalis dalam teori sosial-budaya dan filsafat
me-negaskan bahwa meta-narasi yang dijadikan fundasi
dituntut dalam modernitas Barat dengan universalitas
dan hak-hak isti-mewanya dalam gagasan mengenai
ilmu pengetahuan, humanisme, sosialisme dan lain-lain
adalah cacat, karena itu kita harus mencoba untuk
menghasilkan mode pengetahuan yang lebih sensitif
terhadap berbagai bentuk perbedaan. Hal ini
dimungkinkan ketika para intelektual mengganti peran
mere-ka sebagai legislator kepercayaan menjadi
seorang interpre-ter (Lyotard, 1984, Keller, 1988,
Bauman, 1988).( 234).
2. Pemberian hak istimewa pada hal-hal yang bersifat lokal dan
vernakuler (daerah), ini diterjemahkan sebagai seorang
demokrat dan populis yang menghancurkan hierarkhi simbolik
di kalangan akademisi dan intelektual serta seni (perbedaan
seni tinggi dan populer).
3. Peralihan dari bentuk upaya diskursif ke arah bentuk budaya
figural yang tampak dalam penekanan dan imaji visual dan
bukan kata-kata, proses primer ego dan bukan proses
sekunder, apresiasi dengan cara membenamkan/ melibatkan
diri dan bukan dengan cara mengambil jarak dari penonton
yang tidak memihak (Lash, 1988),
4. Aspek ini ditangkap sebagai fase “budaya dangkal
posmodern”
(Jameson, 1984).