Anda di halaman 1dari 54

Menyembah Allah swt.

sebagai Ungkapan Rasa Syukur

Anggota Keompok 3 :
1. Asil Khusna Azizah (03)
2. Dewi Yulia Pratiwi (06)
3. Istianah (11)
4. Khoirunnisa Kurnia Putri (12)
5. Nur Sangadah (17)

XII Akuntansi 4
2018/2019
Menganalisis
dan Mengevaluasi Makna
Q.S. Luqman Ayat 13-14

Isi Kandungan
Q.S. Luqman Ayat 13-14
Menyembah
Allah swt.
sebagai Ungkapan
Rasa Syukur Kaitan antara Beribadah dan Bersyukur
kepada Allah Swt. dalam
Q.S. Luqman ayat 13-14

Hikmah dan Manfaat Beribadah dan


Bersyukur kepada Allah Swt.
A.

Menganalisis
dan Mengevaluasi Makna Q.S.
Luqman Ayat 13-14
Makna Q.S. Luqman ayat 13-14

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya,


ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai
anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-
benar kezaliman yang besar.”
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)
kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada kedua orangtuamu, hanya kepada-Ku lah
kembalimu.” (Q.S. Luqman/31:14)
Hukum Bacaan
yang terdapat dalam
Q.S. Luqman ayat 13-14
Lafal Hukum Bacaan Keterangan

Harakat fathah diikuti huruf


Mad Tabi’i alif. Dibaca panjang 2 harakat
atau 1 alif.
Terdapat salah satu huruf
qalqalah (qaf) berharakat sukun
Qalqalah Sugra di tengah kata.
Cara membaca dengan
dipantulkan ke dalam huruf
qalqalah tersebut (qaf).

Terdapat salah satu huruf


qalqalah (ba’) berharakat sukun
di tengah kata.
Qalqalah Sugra Cara membaca dengan
dipantulkan ke dalam huruf
qalqalah tersebut (ba’).
Lafal Hukum Bacaan Keterangan

Mad Shilah Terdapat kata ganti (ha’


Qashirah dhamir)yang didahului dengan
huruf yang berharakat. Panjang
bacaan 2 harakat (1 alif).

Huruf lam dalam lafal Allah


Lam Muraqqah didahului oleh harakat kasrah,
(Tarqiq) maka harrus dibaca tipis.

Huruf nun diikuti tanda tasydid.


Ghunnah Maka harus dibaca dengan
berdengung.
Lafal Hukum Bacaan Keterangan
Huruf lam bertemu dengan
salah satu huruf syamsiyah
Alif Lam Syamsiyah (syin).
Maka, alif lam tidak dibaca
dan langsung masuk ke dalam
huruf setelahnya.

Harakat tanwin dammah


bertemu dengan salah satu
Idhar Halqi huruf idhar (‘ain).
Maka, harus dibaca jelas
tanpa berdengung.

Terdapat bacaan mad tabi’i


bertemu dengan huruf
Mad ‘Arid Lissukun hijaiyah hidup (mim) yang
dibaca mati
(waqaf/berhenti).
Lafal Hukum Bacaan Keterangan

Huruf shad berharakat


Mad Layyin fathah sebelum ya’ sukun

Nun mati bertemu dengan


salah satu huruf ikhfa (sin).
Ikhfa Maka, cara membacanya
adalah dengan berdengung.

Huruf mim diikuti tanda


Ghunnah tasydid.
Maka, harus dibaca dengan
berdengung.
Lafal Hukum Bacaan Keterangan

Harakat tanwin fathah


bertemu dengan salah satu
Idhar Halqi huruf idhar(‘ain).
Maka, harus dibaca jelas
tanpa berdengung.
Tanwin kasrah bertemu
dengan salah satu huruf
Idgam Bigunnah idgam bigunnah (wau).
Maka, dibaca dengan
memasukkan ke dalam huruf
berikutnya dengan
mendengung.
Alif lam bertemu dengan
salah satu huruf qamariyah
Alif Lam (mim).
Qamariyah Maka, alif lam harus dibaca
jelas.
Asbabun Nuzul
Q.S. Luqman
Q.S. Luqman terdiri atas 34 ayat, termasuk golongan
surat Makkiyah, dan diturunkan setelah Q.S. Ash-Shaffat.
Dinamai Luqman karena pada ayat 12 disebutkan bahwa
Luqman telah diberi oleh Allah nikmat dan ilmu
pengetahuan. Oleh sebab itu, dia bersyukur kepada-Nya
atas nikmat yang diberikan itu. Dan pada ayat 13 sampai 19
terdapat nasehat-nasehat Luqman kepada anaknya.
Nasehat Luqman dimulai dengan menekankan perlunya
menghindari syirik(mempersekutukan Allah swt.)
Pesannya merupakan larangan jangan mempersekutukan
Allah swt. untuk menekanakn perlunya meninggalkan
sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan
yang baik.
B.

Isi Kandungan
Q.S. Luqman Ayat 13-14
Dalam Q.S. Luqman ayat 13-14
menginformasikan atau berisi tentang wasiat
Luqman kepada anaknya:

1.
Perintah menyembah Allah tanpa menyekutukan-
Nya

2.

Berbuat baik kepada orang tua

3.

Bersyukur kepada Allah


1. Perintah menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya

Definisi Ibadah

Secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu abida-


ya,'budu-abdan-'ibadan yang berarti taat tunduk patuh
dan merendahkan diri di hadapan Allah yang kita sembah

Ibadah
Secara istilah berarti mengesakan dan mengagungkan
Allah sepenuhnya serta menghindarkan diri dan
menundukann jiwa kepada-Nya (makna berdekatan)

Kesimpulan:
Ibadah merupakan bentuk penyembahan manusia kepada Allah Swt dengan
upaya pendekatan kepada -Nya, melakukan segala yang diperintahkan-Nya
dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya, serta melakukan hal yang
diizinkan-Nya.
Hakikat dan Makna Ibadah

1. Ibadah merupakan tujuan hidup kita (QS. Az Zariyat ayat 56)

2. Hakikat ibadah itu melaksanakan apa yang Allah cintai dan


ridhoi dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah

3. Hakikat ibadah adalah sebagai cinta

4. Jihad fisabilillah (berusaha sekuat tenaga untuk meraih segala


sesuatu yang dicintai Allah.

5. Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada


segala bentuk dan jenis makhluk melebihi ketakutannya kepada Allah
Hal-hal yang Mewajibkan Manusia Menyembah Allah swt.

1.
Karena memang hakikat diciptakannya manusia adalah untuk
beribadah dan memurnikan ketaatan Allah. (QS. Az Zariyat ayat
56).
Definisi ibadah disini jangan terlalu sempit, tetapi harus imbang.
Maksudnya adalah ibadah bukan hanya ibadah saja, tetapi segala
aktivitas manusia dalam kehidupan sehari hari bisa terhitung
sebagai ibadah jika dilakukan atas dasar dorongan agama, bekerja
untuk pemenuhan nafkah keluarga.

2.
Sebagai tanda syukur kepada-Nya atas segala nikmat yang tak
terhingga besarnya dan tak terhitung jumlahnya.
3. Manusia wajib beribadah karena merupakan konsekuensi dari
janji sumpah setia kepada Allah saat berada dalam alam rahim
(kandungan QS. Al araf 172)

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi


(tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya
berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab, “Benar, (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu
tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah
terhadap ini.”
4.
Syarat memperoleh rahmat Allah.
Rahmat berasal dari kata masdar dari kata rahima yarhamu
yang berarti kasih sayang. Rahmat Allah sangat bwrmacam-
macam. Namun rahmat Allah yang sangat utama adalah rahmat
yang menyebabkan sesorang dimasukkan ke dalam jannah-Nya.
" Rasulullah SAW bwrsabda salah seorang dari kalian tidak
akan diselamatkan oleh amalnya. para sahabat bertanya tidak
juga dengan engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab : tidak
juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmatNya
kepada-Ku (HR. Bukhari)
Artinya, sesorang yang masuk surga bukanlah karena amalnya,
namun karena rahmat Allah. Meskipun demikian, amal shaleh
tetap harus dilakukan karena merupakan perantara untuk
mendapatkan rahmat Allah di akhirat kelak
5.
Karena Allah lah yang paling tepat untuk disembah Dia lah yang
menciptakan langit dan bumi, serta apa yang ada di antara
keduanya, termasuk manusia baik lahir maupun batin. Ini artinya
bahwa Allah adalah Maha Segala Sesuatu (QS. Ath Thalaq ayat
12)

Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan)


bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan
ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.
Cakupan Ibadah

Ibadah Ghairu
Ibadah Mahdhah
Mahdhah
Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya


memang merupakan ibadah, berdasarkan nash atau lainnya yang menunjukkan
perkataan dan perbuatan tersebut haram dipersembahkan kepada selain Allâh swt.
Ibadah mahdhah ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Ibadah hati yaitu keyakinan dan amalan
Ibadah hati yang terbagi menjadi dua bagian:
Qaulul qalbi (perkataan hati), dan dinamakan i’tiqâd (keyakinan; kepercayaan). Yaitu
keyakinan bahwa tidak ada Rabb (Pencipta; Pemilik; Penguasa) selain Allâh, dan
bahwa tidak ada seorangpun yang berhak diibadahi selain Dia, mempercayai seluruh
nama-Nya dan sifat-Nya, mempercayai para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para
Rasul-Nya, hari Akhir, taqdir baik dan buruk, dan lainnya.
‘Amalul qalbi (amalan hati), di antaranya ikhlas, mencintai Allâh swt., mengharapkan
pahala-Nya, takut terhadap siksa-Nya, tawakkal kepada-Nya, bersabar
melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dan lainnya.
b. Ibadah perkataan atau lisan
Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tauhid, membaca al-Qur’an, berdzikir
kepada Allâh dengan membaca tasbîh, tahmîd , dan lainnya; berdakwah untuk
beribadah kepada Allâh, mengajarkan ilmu syari’at, dan lainnya.
c. Ibadah badan
Di antaranya adalah melaksankan shalat, bersujud, berpuasa, haji, thawaf, jihad,
belajar ilmu syari’at, dan lainnya.
d. Ibadah harta
Di antaranya adalah membayar zakat, shadaqah, menyembelih kurban, dan lainnya.
Ibadah Ghairu Mahdhah

Ibadah ghairu mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-


perkataan yang asalnya bukan ibadah, akan tetapi berubah menjadi
ibadah dengan niat yang baik.
Namun, jika perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan ini
dilakukan dengan niat yang buruk akan berubah menjadi
kemaksiatan, dan pelakunya mendapatkan dosa. Seperti, melakukan
jual beli untuk mendapatkan harta dengan niat untuk melakukan
maksiat; makan minum agar memiliki kekuatan untuk mencuri;
mempelajari ilmu yang mubah, seperti kedokteran atau teknik,
dengan niat untuk mendapatkan pekerjaan yang dengan pekerjaan itu
dia bisa melakukan perbuatan maksiat.
Jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan dan perkataan-
perkataan ini dengan tanpa niat yang baik atau niat buruk, maka
perbuatan tersebut tetap pada hukum asalnya, yaitu mubah.
Ibadah ghairu mahdhah ini mencakup hal-hal:

a.
Melaksanakan wâjibât (perkara-perkara yang diwajibkan) dan mandûbât
(perkara-perkara yang dianjurkan) yang asalnya tidak masuk ibadah, dengan
niat mencari wajah Allah.
Misalnya:
1. Mengeluarkan harta untuk keperluan diri sendiri, seperti makan, minum, dan
sebagainya, dengan niat menguatkan badan dalam melaksanakan ketaatan
kepada Allâh.
2. Berbakti kepada orang tua dengan niat melaksanakan perintah Allâh.
3 Memberi nafkah kepada anak dan istri dengan niat melaksanakan perintah
Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
4. Mendidik anak dan membiayai sekolahnya dengan niat agar mereka bisa
beribadah kepada Allâh dengan baik.
5. Menikah dengan niat menjaga kehormatan diri sehingga tidak terjatuh ke
dalam zina.
6. Memberi pinjaman hutang dengan niat menolong dan mencarai pahala Allâh.
7. Memberi hadiah kepada orang dengan niat mencari wajah Allâh.
8. Memuliakan tamu dengan niat melaksanakan perintah Allâh.
9. Memberi tumpangan kepada seorang yang tua agar sampai ke tempat tujuannya
dengan niat mencari wajah Allâh.
b.

Meninggalkan muharramât (perkara-perkara yang diharamkan) untuk mencari


wajah Allâh Azza wa Jalla
Termasuk dalam hal ini adalah meninggalkan riba, meninggalkan perbuatan
mencuri, meninggalkan perbuatan penipuan, dan perkara-perkara yang
diharamkan lainnya. Jika seorang Muslim meninggalkannya karena mencari
pahala Allâh, takut terhadap siksa-Nya, maka itu menjadi ibadah yang
berpahala.
Namun jika seorang Muslim meninggalkan suatu perbuatan maksiat karena
tidak mampu melakukannya, atau karena takut terhadap had dan hukuman,
atau tidak ada keinginan, atau sama sekali tidak pernah memikirkannya, maka
dia tidak mendapatkan pahala.
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allâh berfirman: Jika hamba-Ku berkeinginan melakukan keburukan, maka
janganlah kamu menulisnya sampai dia melakukannya. Jika dia telah
melakukannya, maka tulislah dengan semisalnya. Dan jika dia meninggalkannya
karena Aku, maka tulislah satu kebaikan untuknya. Jika dia berkeinginan
berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka tulislah satu kebaikan
untuknya. Jika dia telah melakukannya, maka tulislah baginya sepuluh kalinya
sampai 700 kali”. (HR. Al-Bukhâri, no. 7501)
c.

Melakukan mubâhât (perkara-perkara yang dibolehkan)


untuk mencari wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala
Di antaranya tidur, makan, menjual, membeli, dan usaha
lainnya dalam rangka mencari rezeki. Semua ini dan yang
semacamnya hukum asalnya adalah mubah. Jika seorang
Muslim melakukannya dengan niat menguatkan diri untuk
melaksanakan ketaatan kepada Allâh, maka hal itu menjadi
ibadah yang berpahala.
2. Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

a.
Makna Berbuat Baik Kpd Kedua Orang Tua
Berbakti kepada orang tua adalah Berbuat baik terhadap
orang tua (birrul walidain) memberi kebaikan atau
berkhidmat kepada keduanya serta mentaati perintahnya
(kecuali yang ma'siat) dan mendoa'kannya apabila keduanya
telah wafat.

b.
Hukum Berbuat Baik Kpd Ortu
Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik
waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan
sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai
cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah
lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti
kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila
kedua orang tua sudah tua dan lemah
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Isra' ayat 23 dan 24:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah


selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah
seorang diantara keduanya atau kedua duanya sampai berusia lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau
membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan
yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih


sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.”
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman bahwa:
Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada
manusia agar tidak beribadah melainkan hanya
kepada Allah saja. Kemudian hendaklah
manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua
orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-
duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka
jangan katakan kepada keduanya perkataan
'uh' serta tidak boleh membentak keduanya,
memukulkan tangan, menghentakkan kaki
karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua
orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya
dengan perkataan yang mulia.
c.
Cara Berbuat Baik Kpd Orang Tua
Allah mengatakan 'kibara', kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut,
sedangkan 'indaka' berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang
menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa
tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya
menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua
orang tua pada usia lanjut karena :

 Pertama :
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya
membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada
saat itu sangat lemah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

َ ‫ضى َرب َُّك أَالَّ تَ ْعبُدُوا ِإآل ِإيَّاهُ َوبِ ْال َوا ِلدَي ِْ ِ ِإ ْح‬
‫سانًا‬ َ َ‫َوق‬
"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut (dalam pemeliharaanmu), maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia." (Al-Isra`: 23).
 Ke Dua :
Rendah hati terhadap keduanya. Allah swt. berfirman :

َّ ِ َ ‫ض لَ ُه َما َجنَا َح الذُّ ِل ِم‬


‫الر ْح َم ِة‬ ْ ‫َو‬
ْ ‫اخ ِف‬
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan." (Al-Isra`: 24).

 Ke Tiga :
Mendoakan keduanya; baik semasa hidupnya ataupun sesudah
meninggalnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

‫يرا‬ َ ‫ار َح ْم ُه َما َك َما َربَّيَا ِني‬


ً ‫ص ِغ‬ ْ ‫ب‬ِ ‫َوقُل َّر‬
"Dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil'." (Al-Isra`: 24).
 Ke Empat :
Menaati keduanya dalam kebaikan.
Allah swt. berfirman :

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan


sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka
janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di
dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada
Ku. Kemudian hanya kepada Ku tempat kembalimu, maka akan
Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
 Ke Lima :
Memintakan ampun bagi keduanya sesudah meninggal, yaitu apabila
meninggal dalam keadaan Islam.

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapapun yang memasuki
rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan
perempuan . Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang
zalim itu selain kehancuran.”
 Ke Enam :
Melunasi hutangnya dan melaksanakan wasiatnya, selama tidak
bertentangan dengan syari'at. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam
membenarkan ucapan seorang wanita yang berpendapat bahwa
hutang ibunya wajib dilunasi, dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wasallam menambahkan bahwa hutang kepada Allah Subhanahu
Wata’ala berupa puasa nadzar, lebih berhak untuk dilunasi.

 Ke Tujuh :
Menyambung tali kekerabatan mereka berdua, seperti paman dan
bibi dari kedua belah pihak, kakek dan nenek dari kedua belah
pihak.

 Ke Delapan :
Memuliakan teman-teman mereka berdua. Rasulullah sallallahu
‘alaihi wasallam memuliakan teman-teman istrinya tercinta Khadijah
radhiallahu ‘anha, maka kita muliakan pula teman-teman istri kita.
Dan teman-teman orang tua kita lebih berhak kita muliakan, karena
di dalamnya ada penghormatan kepada orang tua kita.
d.
Hikmah Berbuat Baik kepada Orang Tua

1. Termasuk sebab masuknya seseorang ke surga.


Allah berfirman:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan


mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan bagi orang-orang bertakwa.

2. Merupakan salah satu sebab-sebab diampuninya dosa


3. Merupakan sebab bertambahnya umur.
Diantarnya hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-
mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah
panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung
silaturrahim”.

4. Merupakan sebab barokahnya rizki


Bersyukur Kepada Allah

syukur diambil dari kata syakara, yaskuru,


Kamus Arab syukran dan tasyakkara yang berarti
mensyukuri-Nya, memuji-Nya.
– Indonesia
syukuran yang berarti mengingat akan
segala nikmat-Nya.

suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa


menghormati serta mengagungkan atas
Syukur Bahasa segala nikmat-Nya, baik diekspresikan
dengan lisan, dimantapkan dengan hati
maupun dilaksanakan melalui perbuatan.

bersyukur dan berterima kasih kepada


Allah, lega, senang dan menyebut nikmat
Istilah yang diberikan kepadanya dimana rasa
senang, lega itu terwujud pada lisan, hati
maupun perbuatan.
Dalil Tentang Bersyukur
Kepada Allah

Q.S. Saba : 13

Artinya :
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya
dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-
piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap
(berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk
bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu
yang berterima kasih ”. (QS. Saba: 13).
Ayat ini tergolong surah Makkiyah yang tidak ditemukan asbab
al-Nuzul,
ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyebut-nyebut apa yang
pernah Dia anugrahkan kepada Sulaiman as,. Yaitu mereka
melaksanakan perintah Sulaiman as untuk membuat istana-
istana yang megah dan patung-patung yang beragam tembaga,
kaca dan pualam. Juga piring-piring besar yang cukup untuk
sepuluh orang dan tetap pada tempatnya, tidak beripndah
tempat. Allah berkata kepada mereka “agar mensyukuri-Nya
atas segala nikmat yang telah Dia limpahkan kepada kalian”.
Cara Bersyukur Kepada Allah

1. Syukr al-Qalb (Syukur hati), yaitu syukur


dengan cara mengingat-ingat ni’mat.

Menurut 2. Syukr al-Lisân (Syukur lidah), yaitu memuji


Al-Raghib kepada yang memberi ni’mat.

3. Syukr sâiri al-Jawârih (Syukur semua


anggota badan), yaitu membalas ni’mat
sesuai dengan kepatutan (kepantasannya).
a. Syukr al-Qalb (Syukur hati)

Dilakukan dengan mengingat-ingat ni’mat atau meng-


gambarkan ni’mat yang telah diberikan Allâh dengan
perasaan hati. Misalnya dulu tidak punya apa-apa
sekarang punya kekayaan, dulu tidak bekerja sekarang
dapat pekerjaan, dulu sakit-sakitan sekarang ada dalam
kesehatan, kita cukup sandang dan pangan sementara
orang lain hidup dalam kesulitan. Dengan demikian akan
muncul perasaan hati untuk lebih bersyukur kepada
pemberi ni’mat. Al-Maraghi (I:29) menyebutkan, syukur
dengan hati itu dengan melahirkan ketulusan, kemurnian
hati dan rasa cinta kita pada Allâh (al-Nashu wa al-
Mahabbah).
b. Syukr al-Lisân (Syukur lidah)

Yaitu bentuk syukur yang diucapkan dengan lisan, baik kepada Allâh,
juga kepada sesama manusia. Syukur lisan kepada Allâh antara lain
kita mengucapkan kalimat al-Hamdulillah. Ibnu Abbas menyebutkan
al-Hamdulillah adalah kalimat syukur, jika hamba menyebut al-
Hamdulillah, Allâh Swt berfirman, Syakaranî ‘Abdî. Pada kesempatan
lain Ia mengatakan al-Hamdu adalah al-Syukru dan al-Iqrâru
bini’amihi wa hidâyatihi. Dan Jalaludin al-Suyuthi (I:30) mengutif
riwayat Ibnu Jarir dan al-Hâkim, menyebutkan hadits Nabi Saw,
“Rasulullah Saw bersabda, apabila kalian mengucapkan “al-
Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin” dengan demikian engkau telah bersyukur
kepada Allâh dan Dia akan menambah ni’mat-Nya” Dan syukur lisan
kepada sesama manusia dilakukan dengan mengucapkan kata-kata
pujian, kata yang baik (al-Madhu-Al-Tsana`u) terhadap orang yang
berbuat ihsan (baik), sebagai ungkapan rasa syukur
(Al-Maraghi, I:29)
c. Syukr sâiri al-Jawârih (Syukur semua anggota badan)

Dilakukan dengan membalas ni’mat atau kebaikan dengan kepatutan atau


kepantasan yang layak. Syukur Jawarih kepada Allâh, dilakukan dengan
membalas ni’mat Allâh dengan ibadah kepada Allâh. Untuk itu Ibnu al-
Mundzir dalam al-Suyuthi (I:31) menyebutkan, “Shalat itu adalah
syukur, shaum juga syukur, seluruh kebaikan yang dilakukan atas dasar
karena Allâh itu adalah syukur.”

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika


kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS.
Ibrahim: 7).
Jadi

Wajib bagi kita untuk bersyukur, minimal


dengan mengucap Alhamdulillah dan rasa
syukur itu hendaknya diterapkan dalam
kehidupan sehari hari kita. Karena manfaat
dan keutamaan syukur nikmat ini sangatlah
besar. Salah satunya adalah rezeki akan
ditambah oleh ALLAH Swt. Dan justru bagi
yang kufur nikmat akan mendapatkan
kesusahan yang besar.
C.

Kaitan antara Beribadah dan Bersyukur


kepada Allah Swt. dalam
Q.S. Luqman ayat 13-14
Ibadah adalah proses mendekatkan
Syukur dapat diartikan sebagai
diri kepada Allah Swt. dengan
ungkapan terima kasih kepada
melakukan segala yang diperintahkan
pihak yang telah berjasa kepada
dan meninggalkan segala yang
kita baik dalam bentuk moril
dilarang-Nya, serta melakukan
maupun materiil.
sesuatu yang diizinkan-Nya.

Bersyukur dapat ditujukan kepada Allah Swt. dan kepada manusia.


Perwujudan dari syukur kepada manusia adalah dengan cara membalas
perbuatan baik dengan yang lebih baik (ihsān) atau setidaknya sama.
Begitupun bersyukur kepada Allah Swt. perwujudannya tidak lain
adalah dengan beribadah, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya.
Ibadah meliputi aspek aspek ritual, seperti sholat dan sejenisnya,
dan aspek sosial, yaitu yang mencakup segala aktivitas hidup sehari-
hari, dari persoalan yang paling sepele. Seperti bersin, sampai yang
paling dianggap besar, apapun bentuknya.
Dalam ayat ke 14 surah Luqman, Allah Swt.
memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada
kedua orang tua. Allah Swt menyebutkan jasa-jasa
sang ibu yang telah mengandungnya dalam keadaan
menderita. Kemudian, Allah Swt. Menutup ayat-Nya
dengan perintah bersyukur kepada-Nya dan kepada
kedua orang tua. Sementara pada ayat sebelumnya,
Allah Swt melalui lisan Luqman mengingatkan bahaya
perbuatan syirik yang berarti juga melarang
menyembah apapun kecuali hanya Allah Swt. yang Esa.
Kesimpulan

Perwujudan nyata dari


bersyukur kepada Allah
Swt. adalah dengan
melaksanakan segala
perintah dan menjauhi
segala larangan Allah
Swt., dan itulah ibadah.
D.

Hikmah dan Manfaat Beribadah dan


Bersyukur kepada Allah Swt.
1.
Mendapat keberkahan dari setiap rizki yang kita terima,
sebagaimana janjinya dalam Firman-Nya; “... Jika kalian
bersyukur, niscaya akan Kami tambah nikmat baginya, dan jika
kalian kufur (mengingkari nikmat-Ku) maka sesungguhnya
siksa-Ku itu teramat pedih.” (Q.S. Ibrahim:7)

2.
Menemukan ketenangan batin dan kedamaian hati dalam
menjalani semua aktivitas sehari-hari karena kerelaannya
dalam menyikapi pemberian Allah Swt.

3.
Terhindar dari siksa api neraka, karena telah menjdi hamba
yang tahu diri dengan selalu bersyukur atas karunia Allah Swt.
Sebagaimana yang dijanjikan-Nya dalam Q.S. Ibrahim ayat 7.
PERTANYAAN
1. Sebutkan contoh cara bersyukur dalam
kehidupan sehari hari? (Alinda K. 02)
2. Jelaskan mengapa hakikat ibadah
sebagai cinta? (Intan S. 09)
3. Sebutkan kiat kiat untuk pelajar agar
selalu bersyukur dalam menghadapi
segala hal? (Luthfiah F. 14)