Anda di halaman 1dari 46

HUBUNGAN STRUKTUR

AKTIVITAS OBAT
BERDASARKAN TERAPI
OBAT SUSUNAN SYARAF PUSAT/
ANESTETIKA
Syulastri Effendi, M.Si.
2018
ANASTETIKA
• Obat-obat golongan anestetika umumnya digunakan dalam pembedahan/operasi.
Penggunaannya dimaksudkan untuk mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan
nyeri (analgesia), memblokir reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan serta
menimbulkan pelemasan otot (relaksasi).
• Berdasarkan jenis terapinya anestetika digolongkan ke dalam anestetika umum dan
anestetika lokal (setempat).
A. ANESTETIKA UMUM
• Anestetika umum adalah obat yang dapat menimbulkan anesthesia atau narkosa, yakni suatu
keadaan depresi umum di susunan saraf pusat yang bersifat reversible, dimana seluruh perasaan
dan kesadaran ditiadakan, sehingga agak mirip keadaan pingsan.
• Anestetika umum dapat menekan SSP secara bertahap, yakni :
a. Analgesia : kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang dan terjadi euphoria (rasa nyaman)yang
disertai impian yang mirip halusinasi.
b. Eksitasi : kesadaran hilang dan timbul kegelisahan, hingga tahap ini disebut juga taraf induksi.
c. Anesthesia : pernapasan menjadi dangkal dan teratur, seperti pada keadaan tidur
(pernapasan perut), gerakan mata dan reflex mata hilang, sedangkan otot menjadi lemas.
d. Kelumpuhan sumsum tulang : kegiatan jantung dan pernapasan terhenti, tahap ini sedapat
mungkin dihindari.
• Berdasarkan penggunaannya anestetika umum ini dibagi ke dalam dua kelompok yakni
anestetika inhalasi dan anestetika intravena.

Anestetika Inhalasi
• Anestetik inhalasi yang umum digunakan saat ini adalah dinitrogen oksida (N2O), halotan,
isofluran, desfluran, dan sevofluran.
• Anestetika umum tidak memiliki gugus farmakofor (posisi geometrik tiga dimensi dari
gugus-gugus yang terdapat di dalam suatu obat yang membentuk suatu pola yang
unik yang dapat dikenali oleh reseptor secara spesifik) meski demikian struktur
kimianya memiliki hubungan dengan aktivitas dari molekul obat.
Struktur Kimia Anestetika Inshalasi
Hubungan struktur aktivitas anestetika inhalasi :

a. Alkana/Sikloalkana
• Potensi anestetik alkana, sikloalkana dan hidrokarbon aromatik meningkat berbanding
lurus dengan jumlah atom karbon dalam strukturnya hingga batas tertentu.
• Pada n-alkana batas tersebut adalah 10, dimana n-dekana memiliki potensi anestetik yang
minimal. Pada sikloalkana, batasannya adalah delapan (8) dimana sikloalkaana tidak
menunjukkan adanya potensi anestetik pada tikus.
• Berkurangnya aktivitas anestetik hingga batas atom karbon tertentu bisa saja disebabkan
oleh sulitnya mencapai organ target (karena berkurangnya tekanan penguapan atau sukar
larut dalam darah) atau ketidakmampuan terikat pada tempat kerja (site of action).
Sikloalkana dengan jumlah atom C yang sama banyak dengan n-alkana memiliki
aktivitas anestetik yang lebih besar dibanding hidrokarbon rantai lurus, Karena memiliki nilai
MAC (Minimum Aveolar Concentration) yang lebih kecil. Semakin kecil nilai MAC semakin
besar aktivitas anestetiknya.
MAC (Minimum Aveolar Concentration) : kadar minimal zat tersebut dalam alveolus pada
tekanan satu atmosfir yang diperlukan untuk mencegah gerakan pada 50 % pasien yang
dilakukan insisi standar.
b. Alkanol
• Meningkatnya jumlah rantai karbon pada alkanol, dimana alkanol dengan jumlah atom karbon
yang sama dengan alkana memiliki aktivitas yang lebih baik.
c. Efek Halogenasi/Eter Terhalogenasi
• Eter dan siklopropan merupakan anestetika inhalasi pertama dan senyawa ini menyebabkan
laryngospasm, juga bersifat eksplosif dan mudah terbakar sehingga butuh penanganan khusus.
• menghalogenasi eter akan mengurangi sifat mudah terbakar, meningkatkan stabilitas dan
aktivitas anestetiknya.
• Halogen dengan massa atom yang lebih besar akan meningkatkan potensi lebih baik
dibandingkan halogen massa atom kecil.
• Contohnya mengganti florin(F2) pada desfluran (CF2HOCFHCF3) dengan klorin (Cl2)
menjadi isoflurane, sehingga akan meningkatkan aktivitas lebih dari 4 kali aktivitas desfluran.
• Menggantikan Cl2 dengan Br2 akan meningkatkan aktivitas 3 kali lipat dari sebelumnya.
d. Efek ikatan jenuh (saturasi)
• Reaksi eliminasi/Penambahan ikatan rangkap dua atau ikatan rangkap tiga pada molekul
anestetika yang memiliki enam atom C atau kurang, akan meningkatkan aktivitas anestetik.
Contoh anestetika ikatan jenuh :
i. Dinitrogen oksida (N2O)
N2O akan berwujud gas (suhu ruang), cairan (wadah silinder metal bertekanan).
N2O oksida merupakan anestetika disosiatif dan menyebabkan euphoria ringan dan
halusinasi.
Potensinya yang rendah (MAC=104%), sehingga tidak dapat digunakan secara tunggal.
N2O dapat menonaktifkan enzim methionine synthase, yakni suatu enzim yang penting
dalam sintesa DNA (tidak cocok untuk ibu hamil dan pasien defisiensi vitamin B12).
N2O merupakan anestetika yang populer digunakan oleh dokter gigi dan umumnya
disebut gas ketawa.
ii. Halotan
• Halotan merupakan etana terhalogenasi (F, Cl dan Br) yang berbentuk cairan, tidak
mudah terbakar, tidak berbau tajam dan mudah menguap, mudah teroksidasi bila terpapar
sinar matahari menjadi HCl, HBr, Cl-, Br- dan fosgen (COCl2),.
• Halotan dapat meningkatkan denyut jantung, menyebabkan aritmia jantung, meningkatkan
aliran darah otak dan tekanan intracranial.
• Untuk mencegah oksidasi Halotan sebaiknya ditempatkan pada wadah botol coklat
dengan menambahkan timol 0,01% sebagai penstabil.
• Halotan memiliki potensi anestetika yang tinggi (MAC 0,75%),koefisien partisi darah : gas
adalah 2,4.
iii. Metoksifluran
• Berbentuk cairan yang mudah menguap (bp=105oC), memiliki koefisien partisi darah : gas yang tinggi
sehingga masa induksi lama dan masa recovery (sadar kembali)
• Sekitar 75% obat termetabolisme menjadi dikloroasetat, difluorometoksiasetat, oksalat dan ion flourida
• Bersifat nefrotoksik (bersifat meracuni atau mengganggu fungsi ginjal), sehingga pada tahun 2000 izin
edarnya telah dicabut di AS dengan alasan keamanan.
iv. Enfluran
• Berbentuk cairan yang mudah menguap (bp=56,5oC), koefisien partisi darah: gas adalah 1,8 dan MAC
1,68%.
• Sekitar 2-8% obat ini termetabolisme utamanya menjadi kloroflorometil karbon.
• Dapat meningkatkan denyut jantung, menyebabkan aritmia jantung, meningkatkan aliran darah otak dan
meningkatkan tekanan intracranial, namun efeknya lebih ringan dibandingkan halotan.
• Dapat menyebabkan konvulsi (kejang) klonik-tonik bila digunakan pada konsentrasi tinggi
v. Isofluran
• Isofluran merupakan cairan yang mudah menguap (bp=48,5oC), koefisien partisi darah: gas
adalah 1,43, MAC 1,15% serta memiliki kelarutan yang tinggi dalam lemak.
• Merupakan struktur isomer dari enflurane, Isofluran dapat mengiritasi pernafasan namun
efeknya lebih ringan dibandingkan desfluran.
• Sekitar 0,2% obat akan termetabolisme dan sisanya akan dikeluarkan lewat pernafasan
tanpa diubah.
• Resiko hepatoksisitas dan nefrotoksisitasnya jauh lebih rendah dibandingkan metoksifluran.
• Belum ada laporan terjadinya kejang pada penggunaan isofluran.
vi. Desfluran
• Berbentuk cairan yang sangat mudah menguap (bp=22,8oC), tidak berwarna, koefisien partisi
darah:gas 0,42 dan MAC 7,3%.
• Rendahnya koefisien partisi darah:gas menyebabkan waktu induksi yang lebih singkat
begitupun dengan masa recovery.
• Tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak-anak karena meningkatkan insiden laringospasm
(50%), batuk (72%), dan meningkatnya sekresi (21%).
• Hanya sekitar 0,02% desfluran yang termetabolisme , dan sisanya dikeluarkan melalui urin.
• Desfluran melepaskan sedikit ion flour dan sangat sedikit asam trifloroasetat.
• Fakta ini sejalan dengan tidak adanya laporan desfluran menyebabkan kerusakan hati dan ginjal.
vii.Sevofluran
• Berbentuk cairan yang mudah menguap, tidak berbau tajam, tidak mudah terbakar, dan tidak
mudah meledak (bp=58,6oC). Koefisien partisi darah: gas 0,65 sedangkan koefisien partisi
minyak : gas 50 dan MAC 2,1%.
• Sekitar 5-8% obat termetabolisme menjadi heksafloroisopropanol, CO2, dan ion florida yang
dapat menyebabkan nefrotoksik.
• Telah dilaporkan menyebabkan epilepsy, kejang saat operasi khususnya pada anak-anak.
viii.Xenon
• Gas inert yang tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak, memiliki koefisien partisi
darah:gas yang rendah (0,12) sehingga onset dan recoverynya cepat, namun potensi
anestetiknya lemah dengan nilai MAC 71%.
• Gas xenon ramah lingkungan /tidak menyebabkan kerusakan pada lapisan ozon, sehingga
ANESTETIKA INTRAVENA
a. Propofol
• Propofol merupakan injeksi hipnotik-sedatif yang digunakan untuk menginduksi anesthesia dan
sedasi, memiliki onset yang cepat serta masa recovery yang singkat.
• Agak sukar larut dalam air, sehingga diformulasi dalam emulsi tipe minyak dalam air.
• Tidak memiliki struktur kimia yang sama dengan anestetika inhalasi propofol juga merupakan
modulator positif reseptor GABAA- (Asam γ-aminobutirat) – (Neurotansmiter dan hormon
otak) yang menghambat reaksi-reaksi dan tanggapan neurologis yang tidak menguntungkan
• Penghambat alami atau inhibitor dari GABA adalah Cl-, Jika kadar Cl- dalam darah tidak
terkendali, maka akan mengurangi kadar GABA yang kemudian akan menghasilkan kecemasan
yang berkepanjangan, ketakutan yang tidak rasional dan terlepasnya beberapa hormon otak lain
tanpa kendali.
b. Etomidat
• Etomidat merupakan imidazol terkarboksilasi yang digunakan untuk menginduksi anesthesia umum.
• Etomidat terdistribusi dengan cepat setelah pemberian secara intravena ke seluruh tubuh, dan
konsentrasi pada jaringan biasanya sama atau melebihi konsentrasi plasma.
• Kelarutan dalam lemak yang tinggi, sehingga obat dapat dengan mudah menembus sawar darah otak,
dimana konsentrasi tertinggi dalam otak tercapai hanya dalam 1 menit. Mekanisme kerja etomidat
diduga berasal dari modulasi positifreseptor GABAA.
c. Ketamin
• Ketamin merupakan obat yang beraksi cepat yang dapat digunakan untuk induksi anesthesia
baik digunakan secara tunggal maupun kombinasi dengan obat lainnya.
• Berbeda dengan anestetika umum lainnya, ketamin tidak beraksi pada reseptor GABAA.
• Ketamin beraksi sebagai antagonis non-kompetitif terhadap reseptor glutamay yakni N-methyl-
Daspartate (NMDA) yang terletak di otak.
B. ANESTETIKA LOKAL
• Anestetika lokal adalah obat yang menghasilkan keadaan anesthesia setempat dengan cara
memblok penghantaran saraf secara reversible.
• Merupakan hilangnya rasa atau fungsi gerak pada bagian tubuh tertentu, digunakan secara
lokal pada jaringan saraf dalam kadar yang cukup.
• Efeknya dihasilkan dari kemampuan memblok impuls saraf dari saraf aferen kulit,
permukaan mukosa dan otot ke sistem saraf pusat.
Sifat-sifat ideal yang diinginkan dari anestetika lokal yakni :
1. Tidak mengiritasi jaringan dan tidak menyebabkan kerusakan permanen
2. Toksisitas sistemik rendah
3. Efektif jika disuntikkan ke dalam jaringan atau digunakan secara setempat di kulit atau
membran mukosa.
4. Awal kerja anesthesia cepat dengan masa kerja yang pendek.

Mekanisme Kerja Anestetika Lokal


• Bekerja dengan cara mencegah transmisi impuls sepanjang serat saraf dan pada ujung saraf.
• Pemblokan ini menyebabkan hambatan depolarisasi (keadaan dimana saraf sedang
menjalankan rangsang) dan pertukaran ion.
• Pada keadaan istirahat, membran saraf yang terpolarisasi bersifat impermeable (tidak
semua zat bisa menembus) selektif terhadap ion natrium.
• Pada fase awal depolarisasi, impuls saraf mengakibatkan pelepasan ion kalsium terikat
sehingga terjadi peningkatan permeabilitas terhadap ion natrium.
• Depolarisasi terjadi akibat gangguan aliran ion Na+ dan K+ dalam melintasi membran.
• Anestetika lokal dapat menghambat pelepasan ion kalsium terikat atau menggantikan ion
kalsium pada tempatnya sehingga menstabilkan membran terhadap depolarisasi, akibatnya
impuls saraf tidak ditransmisikan.
• Molekul anestetika lokal yang berikatan dengan membran dapat mempengaruhi
permeabilitas membran dengan cara menimbulkan gangguan pada lemak penyusun
membran saraf.
• Molekul anestetika lokal juga meningkatkan tekanan permukaan lapisan lemak dan
menutup pori tempat lewat ion-ion.
• Kedua mekanisme tersebut menghalangi terbukanya saluran ion natrium dan
menyebabkan penurunan permeabilitas, suatu perubahan penting untuk menghasilkan
potensial aksi dan transmisi impuls.

Hubungan Struktur Aktivitas Anestetika Lokal


• Struktur kimia dari kebanyakan anestetika lokal terdiri atas 3 bagian penting yaitu: cincin
aromatik, rantai antara (linker), dan gugus amin yang biasanya adalah tersier amin dengan
pKa antara 7,5 – 9,0.
• Adanya keseimbangan antara bagian lipofilik dan hidrofilik dari molekul yang berakibat
pada aktivitas anestetik.
a) Cincin aromatik
• Cincin aromatik merupakan bagian lipofilik dari anestetika lokal yang membantu dalam
penetrasi ke dalam membran biologis.
• Adanya substituent pada cincin aromatik dapat meningkatkan sifat lipofilik dari cincin sehingga
meningkatkan aktivitas.
• Substituent lipofilik dapat meningkatkan kemampuan molekul untuk berpenetrasi ke dalam
membran saraf dan meningkatkan afinitasnya pada reseptor.
b) Rantai antara (linker)
• Rantai antara (linker) : ester atau gugus amida sepanjang rantai hidrofobik dengan panjang
yang berbeda-beda.
• Umumnya apabila jumlah atom karbon pada rantai antara meningkat, maka kelarutan
dalam lemak, ikatan protein, durasi dan toksisitas juga meningkat.
• Ester dan amida merupakan bioisosterik yang memiliki kemiripan dalam hal ukuran,
bentuk dan struktur elektroniknya, hal ini menandakan bahwa ester dan amida memiliki
sifat ikatan yang sama dan biasanya berbeda hanya pada stabilitasnya in vitro dan in vivo.
• Molekul yang memiliki rantai antara berupa amida lebih stabil dibandingkan dengan ester
c) Gugus Amin/Nitrogen
• Anestetika lokal umumnya mempunyai nitrogen tersier dengan pKa antara 7,5 dan 9,5.
• Pada pH fisiologis molekul akan berada pada bentuk kation dan bentuk netral.
• Pada pH fisiologis jumlah molekul anestetika yang terionisasi dan tidak terionisasi dapat
dihitung dengan persamaan Henderson-Hasselbalch :

“Teori hubungan struktur aktivitas anestetika terbaru menyatakan bahwa komponen anestetika
yang terikat pada reseptor anestetik dalam kanal natrium adalah bentuk terionisasi. Molekul
berpenetrasi ke dalam membrane sel dalam bentuk kation, di dalam sel molekul akan mengalami
keadaan setimbang dan terionisasi menjadi bentuk kation kembali. Bentuk terionisasi inilah yang
kemudian terikat pada reseptor anesthetic.”
• Berdasarkan struktur kimianya anestetika lokal dikelompokkan menjadi dua
alkaloida yakni kokain ( ester aminoalkil benzoate ) dan isogramin (turunan 2-
(aminoalkil) indol.).

Hubungan Struktur Aktivitas Turunan Asam Benzoat


Turunan asam benzoat adalah senyawa sintetik yang diturunkan dari struktur kokain.
Gugus Aril
• Aril terikat secara langsung ke gugus karbonil atau terikat melalui gugus vinil.
• Jika sistem terkonjugasi ikatan rangkap diputus melalui pemasukan gugus -CH2- atau
CH2-CH2- (alkilen) antara cincin aromatic dan gugus karbonil, aktivitas akan turun/hilang.
• Ester-ester asam karboksilat alisiklik dan aril alifatik bersifat aktif, konjugasi gugus
aromatik dengan karbonil akan meningkatkan aktivitas anestetik local.
• Substitusi gugus aril dengan substituent donor electron (CH3, OR, NR2) yang
meningkatkan kerapatan electron oksigen karbonil, dapat meningkatkan aktivitas karena
senyawa yang dihasilkan terikat ke reseptor lebih kuat.
• Substitusi gugus aril dengan substituent akseptor elektron (contoh NO2) akan
menurunkan atau menghilangkan aktivitas karena senyawa tidak dapat terikat ke reseptor.
Jembatan X
• Susbtituen X dapat berupa atom karbon, oksigen, nitrogen atau sulfur, modifikasi ini
sangat menentukan kelompok kimia tiap turunan senyawa dan juga mempengaruhi masa
kerja dan toksisitas relatif. Pada umumnya, amida (X=N) lebih resisten terhadap hidrolisis
metabolic daripada ester (X=O).Tioester (X=S) dapat menyebabkan dermatitis
(peradangan kulit).
• Resistensi turunan amida terhadap hidrolisis ditingkatkan oleh efek sterik gugus metal
pada posisi orto gugus amida yang memberikan halangan sterik terhadap serangan pada
karbonil.
Gugus Aminoalkil
• Gugus aminoalkil tidak penting untuk aktivitas anestetik lokal, tetapi digunakan untuk
membentuk garam yang larut air.
• Gugus amino dianggap bagian hidrofilik molekul anestetika local, amina tersier
menghasilkan obat yang lebih bermanfaat; amina sekunder bekerja lebih lama tetapi lebih
mengiritasi; amina primer tidak terlalu aktif dan menyebabkan iritasi.
• Gugus alkil yang merupakan rantai penghubung terikat ke X terutama mempengaruhi
kelarutan relatif dalam lemak (koefisien distribusi)
Hubungan Struktur Aktivitas Turunan Lidokain (Turunan Benzoat)

Gugus Aril
• Obat tipe ini mempunyai gugus fenil yang terikat pada atom karbon sp melalui jembatan
nitrogen.
• Substitusi gugus fenil dengan metil pada posisi 2, atau 2 dan 6, meningkatkan aktivitas
• Ikatan amida lebih stabil terhadap hidrolisis dibanding ikatan ester
Substituen X
• X dapat berupa atom karbon (isogramin), oksigen (lidokain), atau nitrogen (fenakain).
• Turunan lidokain (X=O) lebih bermanfaat secara klinik.
• Gugus Aminoalkil Pengaruhnya serupa dengan turunan asam benzoat.
Saat ini, anestetika lokal dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu :
1. turunan ester
2. turunan amida
3. dan turunan lain-lain.

a. Turunan Ester
1. Turunan Ester Asam Benzoat
Contoh : kokain, meprilkain, isobukain, siklometilkain, piperokain,
a. Kokain,
• merupakan alkaloida, molekul kokain mengandung bagian ekgonin yang mempunyai
empat atom karbon asimetris.
• Atom C-1 dan C-5 berhubungan intramolekuler sehingga hanya terdapat delapan isomer
aktif optic (empat rasemat).
• Pada kokain, gugus benziloksi (C-3) dan metoksikarbonil (C-2) adalah cis terhadap
jembatan nitrogen.
• Pada (+)-pseudokokain yang juga aktif, gugus metoksikarbonil pada posisi trans.
• Kokain bersifat memutar bidang polarisasi ke kiri.
b. Meprilkain,
• Terutama digunakan pada tindakan kedokteran gigi dalam bentuk larutan yang
mengandung epinefrin, untuk anesthesia infiltrasi dan pemblokan saraf.
• Meprilkain lebih poten dan terhidrolisis lebih cepat dalam serum disbanding prokain.

c. Isobukain
• strukturnya berbeda dengan meprilkain karena mempunyai gugus N-isobutyl, sehingga
lebih aktif
• Mempunyai masa kerja lebih pendek daripada prokain, biasa digunakan di kedokteran gigi.
d. Siklometilkain
• anestetika lokal yang efektif pada kulit yang rusak atau berpenyakit (luka bakar, abrasi) dan
pada membrane mukosa rectal serta urogenital.
• Tidak boleh untuk penggunaan pada membrane mukosa system pernafasan bagian atas
atau mata.
e. Piperokain
• Strukturnya berbeda dengan siklometilkain karena tidak adanya gugus 4-sikloheksiloksi.
• Digunakan terutama untuk anesthesia mata (larutan 24%), hidung dan tenggorokan (2-
10%), untuk infiltrasi dan pemblok saraf (0,52%).

II.Turunan Ester Asam Aminobenzoat


• Obat anestetika lokal kelompok ini tidak boleh digunakan bersama dengan turunan
sulfonamide karena potensi inkompatibilatas farmakologi.
• Produk hidrolisisnya adalah asam p-aminobenzoat (p-aminobenzoic acid, PABA);
sulfonamide merupakan penghambat PABA dalam biosintesis asam dihidrofolat.
• Contoh : benzokain, prokain, klorprokain, dan tetrakain.
a) Benzokain
• Merupakan ester-etil p-aminobenzoate, tidak mempunyai gugus amino alifatis untuk
membentuk garam.
• Elektron bebas pada nitrogen aromatik terdelokalisasi oleh cincin dan protonasi, sehingga
sukar larut dalam air.
• Dapat diabsorpsi melalui permukaan luka dan membrane mukosa untuk meredakan nyeri
yang berhubungan dengan luka bernanah, luka tergores dan permukaan mukosa yang
meradang.
• Kerjanya berlangsung hanya selama kontak dengan kulit atau permukaan mukosa, tidak
mengiritasi dan tidak toksik
b) Prokain Hidroklorida,
• merupakan prototip amina aromatik primer sasaran dekomposisi oksidatif.
• Gugus aromatik primer dapat bereaksi dengan glukosa membentuk prokain N-glukosida,
tetapi tidak mengubah efek klinik.
• Tidak efektif pada kulit utuh atau membrane mukosa, tetapi cepat bekerja jika digunakan
secara infiltrasi.

c) Klorprokain,
• analog prokain yang mempunyai substituent klor pada posisi 2 cincin aromatik.
• Atom klor yang menarik elektron menurunkan kestabilan gugus ester terhadap hidrolisis
sehingga klorprokain terhidrolisis dalam plasma empat kali lebih cepat dibanding prokain.
d) Tetrakain
• merupakan senyawa yang paling mudah diabsorpsi diantara analog prokain.
• Kecepatan absorpsi oleh membrane mukosa hampir sama dengan injeksi intavena,
sedangkan prokain diabsorpsi lebih lambat.
• Perbedaan absorpsi ini karena perbedaan kelarutan dalam lemak.
• Adanya gugus n-butil yang nonpolar pada atom nitrogen aromatik meningkatkan kelarutan
tetrakain dalam lemak.
• Tetrakain sepuluhkali lebih poten dan lebih toksik daripada prokain.
b.Turunan Amida
Contoh : bupivakain, butanilikain, dibukain, etidokain, lidokain, mepivakain, oksetazain, prilokain,
tolikain dan trimekain.
a) Lidokain
• Senyawa mempunyai potensi sekitar dua kali prokain dan toksisitasnya satu setengah kali.
• Reaksi samping sistemik dan efek iritasi lokalnya kecil.
• Lidokain relatif bebas reaksi sensitisasi dan tampak tidak ada sensitisasi silang dengan
turunan asam benzoate.
• Bentuk basa dan garam HCl-nya efektif sebagai anestetik lokal topical.
• Lidokain HCl digunakan untuk anesthesia infiltrasi, pemblokan saraf perifer, dan anesthesia
epidural.
b) Mepivakain HCl,
• digunakan sebagai campuran rasemat karena kedua isomer optiknya mempunyai toksisitas
dan potensi yang sama;
• potensi dan toksisitasnya sebanding dengan lidokain, tetapi masa kerjanya lebih besar
daripada lidokain, walaupun tanpa vasokonstriktor.
• Tidak digunakan sebagai anestetika local topical.

c) Prilokain HCl
• Senyawa mempunyai stabilitas, potensi, toksisitas dan masa kerja seperti anilida lainnya, masa
kerjanya di antara lidokain dan mepivakain.
• Efek sampingnya serupa anilida lainnya kecuali methemoglobinemia.
• Metabolit utama prilokain adalah o-toluidin yang menyebabkan methemoglobinemia.
Sedangkan hasil metabolit lidokain dan anilida lainnya tidak menyebabkan methemoglobinemia.
d) Bupivakain HCl,
• strukturnya berhubungan dengan mepivakain dan sifatnya sangat mirip.
• Masa kerjanya 2-3 kali lidokain dan mepivakain, 20-30% lebih lama daripada tetrakain.
• Potensinya sebanding dengan tetrakain tetapi sekitar 4 kali mepivakain dan lidokain.

e) Etidokain HCl,
• strukturnya berhubungan erat dengan lidokain. Sifat kimia fisika serta aktivitas
farmakologisnya sangat menyerupai lidokain tetapi mempunyai potensi anestetik lebih besar
dan masa kerja lebih panjang.
c.Turunan Lain-lain
• Obat-obat golongan ini tidak berhubungan secara struktur.
• Contoh :fenakain, dimetisokuin, diperodon, pramoksin, diklonin, dibukain, dan zolamin.

1. Fenakain HCl,
• Strukturnya berhubungan dengan anilida; cincin aromatiknya terikat karbon sp melalui
jembatan nitrogen.
• Fenakain sedikit mengiritasi, lebih toksik daripada kokain dan tidak dapat digunakan untuk
injeksi, tetapi bekerja cepat dan sangat efektif pada membran mukosa. Karena
toksisitasnya, terutama hanya digunakan pada oftalmologi
II. Diperodon HCl,
• Strukturnya seperti anilida sehingga hasil hidrolisisnya adalah aniline dan mempunyai efek
samping toksis methemoglobinemia.
• Setelah injeksi intravena, diperodon HCl mempunyai toksisitas sebanding dengan kokain.
• Senyawa ini digunakan untuk meredakan nyeri dan iritasi pada abrasi kulit dan membrane
mukosa, terutama hemoroid.

III. Dimetisokuin HCl,


• strukturnya dianggap berhubungan dengan turunan asam benzoate : cincin fenil terikat
langsung pada karbon sp dan rantai samping basa terikat oleh jembatan oksigen.
• Senyawa ini aman dan efektif untuk pemakaian umum sebagai anestetika topical.
IV. Pramoksin HCl,
• terlalu mengiritasi untuk penggunaan pada mata tetapi merupakan anestetika local dengan
indeks sensitisasi dengan reaksi toksis rendah.
• Digunakan untuk meredakan nyeri dan gatal karena gigitan serangga, luka ringan dan
hemoroid.

V. Dibukain HCl,
• senyawa anestetika lokal yang sangat poten dengan masa kerja yang panjang.
• Strukturnya mengandung gugus amida yang sukar terhidrolisis dalam serum dan
dimetabolisis agak lambat, sehingga toksisitas senyawa juga tinggi.

Anda mungkin juga menyukai