Anda di halaman 1dari 33

MINICASE PEDIATRIC INFECTION DIVISION

A 5 Years Old Boy with HIV Stage 1

By :
Nisak Humairok, MD

Tutor:
Irene Ratridewi, MD, Paed (C)
1
Identitas Pasien

• Nama :M
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Usia : 5 tahun 3 bulan
• Tanggal Lahir : 17 Desember 2013
• Alamat : Lawang Malang
• Tanggal MRS : 2 April 2019

2
Anamnesis

Keluhan Utama: Demam

Pasien demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam tinggi terus-menerus tidak turun
dengn penurun panas biasa. Batuk (+) pilek(+) sejak 1 minggu SMRS. Dahak
(+)berwarna putih kental sulit keluar. Terdapat benjolan yang dikeluhkan sejak kurang
lebih 1 bulan yang lalu di leher sebelah kanan. Benjolan tampak tidak membesar.
Terdapat bintik2 kecil yang muncul di area pipi sebelah kanan dan kiri, berisi air sejak 1
minggu SMRS, gatal (+) nyeri(-).

pasien terdiagnosis hiv pada Desember 2018, kedua orang tua pasien telah meninggal dan keduanya positive
terdiagnosis HIV. Pasien telah memulai pengobatan sejak 3 bulan yang lalu dari poli infeksi RSSA. Saat ini pasien tinggal
Bersama kakek dan tantenya,

3
Riwayat hamil : Ibu pasien tidak rutin control di bidan tiap bulannya. DM (-) Ht(-) riwayat penyakit saat hamil (?)
Riwayat kelahiran : lahir spontan di bidan, langsung menangis, riwayat biru (-), kuning (-)
Riwayat Nutrisi : ASI dari lahir sampai dengan usia 2 tahun, Bubur susu sejak usia 6 bulan hingga satu tahun. Makanan
keluarga saat berusia 1 tahun.
Riwayat Imunisasi : imunisasi dasar lengkap sampai usia 9 bulan.
Riwayat Tumbuh Kembang : angkat kepala usia 3 bulan, merangkak usia 6 bulan, berjalan usia 1,5 tahun, saat ini pasien
mengalami perkembangan sesuai teman seusianya.

Riwayat social ekonomi :


Pasien adalah anak ke 2
Anak 1/ pr/22 th/sehat ( dari suami pertama)
Ibu pasien / meninggal dunia usia 43 tahun (2 tahun yang lalu)  HIV (+)
Ayah pasien/ meninggal dunia usia 48 tahun ( 2 tahun yang lalu)  HIV (+)

4
Pemeriksaan Fisik
Status Antropometri
Berat Badan : kg (-2SD -mean)
Tinggi Badan : 102 cm (mean-+2SD) ~ 3 tahun 11 bulan
Lingkar Kepala : 49.5 cm (-1SD-mean)
Lingkar Lengan Atas : cm (-1SD-mean)
BB/TB :

5
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan Umum : Cukup, napas spontan
• Tanda Vital :
Nadi : 92x/minute, RR : 20x/minute, Tax : 37 C, SaO2 : 98% dengan O2 ruangan
TD : 100/60 mmHg
• Kepala/leher :
Anaemia -/-, Icteric -/-, Oedema -/-, sianosis-/-
Normosefali , oral thrush (-), facialis nerve paralysis (-), tinnitus (-)
Leher :bengkak -/+, nyeri tekan (+), kemerahan (-)
Tonsil: T4/T3 pseudomembran +/+
• Thorax:
Simetris, retraksi (-)
Jantung : single S1, normal S2, murmur (-), gallop (-)
Paru: vesicular/vesicular, Rhonki -/-, Wheezing -/-
• Abdomen:
Soefl, meteorismus (-), bising usus(+) normal, nyeri tekan (-).
• Ekstremitas :
akral hangat , CRT <2”

6
Pemeriksaan
Planning of Diagnostik
Diagnosis
• Darah Lengkap
• Swab Tenggorok

7
Pemeriksaan Laboratorium (30/10/2018)
Haemoglobin 11.50
Leucocyte 15790
Thrombocyte 185000
Hematocrite 33.90
Diff Count
Eosinophil 0
Basophil 0,2
Neutrophil 36
Limfosit 51.8
Monosit 11.9
AST/ALT 56/50
Albumin 4,22
RBS (Random Blood Sugar) 93
Ur/Cr 16.70/0.27
Electrolyte Level
Sodium 136
Potassium 3.78
Chloride 104
Calcium 9,5
8
Phosphat 3
Manifestasi
Manifestasi Klinis
Klinis

9
Diagnosis
Diagnosis
1. Difteri Tonsil dengan Bullneck

10
Terapi
Terapi
1. Oksigen Ruangan
2. IVFD C1:2 700cc/24 jam ~ 29cc/jam.
3. IV Penicillin Procaine 1x80000 IU
Metamizole 200 mg (Tax 38.5C)
4. IV ADS 80000 IU
5. Diit/oral: nasi 3x1/2- 1 porsi
susu 3x200 cc

11
Diskusi
Diskusi
Anamnesis :
1. Prodormal sign : Physical Examination :
a. systemic Bull neck +/-
fever (+) Tonsil T4/T3, Pseudomembran +/+
Laboratory Examination:
b. local
Throat Swab : C. Dyptheriae
Dysphagia (+)

Tonsilitis Diphteriae

12
DEFINISI DAN
A ETIOLOGI

Difteri adalah suatu infeksi akut yang


diakibatkan oleh bakteri gram positif
Corynebacterium diphteriae yang terutama
menyerang saluran pernafasan bagian atas.

• batang gram positif Penularannya melalui droplet dan ditandai


dengan terbentuknya eksudat yang berbentuk
• tidak bergerak, pleomorfik dan
membran pada tempat infeksi, diikuti oleh
tidak berkapsul, gejala-gejala umum yang ditimbulkan oleh
• tidak membentuk spora, eksotoksin yang diproduksi oleh basil ini.
• mati pada pemanasan 60ºC,
• tahan dalam keadaan beku dan
kering
Masa inkubasi antara 2-5 hari dengan
• Kuman tumbuh secara aerob, perjalanan penyakit bersifat insidious
tumbuh baik dalam media yang (perlahan-lahan)
mengandung K-tellurit atau
media Loeffler
• kemampuannya memproduksi
Profil Kesehatan
Indonesia 2016
Patogenesis Bakteri Difteri
Patofisiologi Penyakit Difteri
Kontak dengan Masuk lewat
Corynebacterium orang atau barang saluran pencernaan
diphteriae yang atau saluran
terkontaminasi. pernafasan.

Membentuk
pseudomembran Masa inkubasi 2 – 5
Aliran sistemik
dan mengeluarkan hari.
toksin (eksotoksin)

Peradangan
Mukosa,
Nasal, Tonsil, Laring Tenggorokan sakit,
Demam
MANIFESTASI KLINIS
Difteri tonsilofaring • Eritema faring dengan pseudomembran
menebal, melekat, warna kehijauan hingga
(Faucial diphtheria, abu-abu
Diphtheritic • Limfadenitis servikalis dengan edema
diphtheria) jaringan sekitarnya (bull neck) Tidak terlalu
tinggi
Difteria laring • Stridor pada inspirasi,
• Sesak yang progresif hingga gelisah (air
(Croupous hunger) sampai sianosis dan
diphtheria) • Pseudomembran tampak pada laring

• Pseudomembran pada konkha nasi dan


Difteria Difteria septum nasi dengan gejala sekret hidung
hidung serosanguinus atau mukopurulen, umumnya
unilateral, disertai banyak krusta
• Kulit: ulkus dangkal dengan tepi yang meninggi
tertutup pseudomembran (tropical ulcers,
desert ulcers), atau mirip impetigo, ektima,
piodermia seperti gigitan serangga, luka kering
Difteria kulit, bersisik
genital dan • Genital: ulkus dengan pseudomembran, edema
dan pembesaran kelenjar regional pada penis,
konjungtiva vulva dan vagina
• Konjungtiva: Radang kataral atau purulen,
MANIFESTASI KLINIS
Difteri tonsilofaring • Eritema faring dengan pseudomembran
menebal, melekat, warna kehijauan hingga
(Faucial diphtheria, abu-abu
Diphtheritic • Limfadenitis servikalis dengan edema
diphtheria) jaringan sekitarnya (bull neck)

Difteria laring • Stridor pada inspirasi,


• Sesak yang progresif hingga gelisah (air
(Croupous hunger) sampai sianosis dan
diphtheria) • Pseudomembran tampak pada laring

• Pseudomembran pada konkha nasi dan


Difteria Difteria septum nasi dengan gejala sekret hidung
hidung serosanguinus atau mukopurulen, umumnya
unilateral, disertai banyak krusta
• Kulit: ulkus dangkal dengan tepi yang meninggi
tertutup pseudomembran (tropical ulcers,
desert ulcers), atau mirip impetigo, ektima,
piodermia seperti gigitan serangga, luka kering
Difteria kulit, bersisik
genital dan • Genital: ulkus dengan pseudomembran, edema
dan pembesaran kelenjar regional pada penis,
konjungtiva vulva dan vagina
• Konjungtiva: Radang kataral atau purulen,
Diagnosis Banding
• Difteri tonsilofaring
– Tonsilofaringitis akut karena virus, streptokokus, mononukleosis,
candida, herpes simplex, tularemia
– Angina Plaut-Vincent
– Ludwig’s angina
– Abses peritonsiler atau retrofaring
– Post tonsilektomi
• Difteri laring
– Croup (infeksius dan non infeksius)
– Epiglotitis
– Benda asing
• Difteri hidung
– Benda asing
Pemeriksaan Penunjang
• Darah rutin
• Pengecatan/apusan gram dan biakan dari usap
hidung, tenggorok, ulkus kulit, konjungtiva,
telinga, vagina
DIAGNOSIS
Suspek difteri adalah orang dengan gejala faringitis, tonsilitis, laringitis, trakeitis (atau
kombinasi), tanpa demam atau kondisi subfebris disertai dengan adanya
pseudomembran putih keabu-abuan/ kehitaman pada salah satu atau kedua tonsil
yang berdarah bila terlepas dan dilakukan manipulasi. Sebanyak 94% kasus difteri
mengenai tonsil dan faring.

Probable difteri adalah orang dengan Pernah kontak dengan kasus (< 2 minggu)

gejala laringitis, nasofaringitis, atau Status imunisasi tidak lengkap, termasuk belum dilakukan
booster
tonsilitis ditambah pseudomembran putih Stridor dan bullneck
keabu-abuan yang tidak mudah lepas dan Perdarahan submukosa atau petekie pada kulit
mudah berdarah di faring, laring, tonsil Gagal jantung toksik, gagal ginjal akut
(susp. Difteri) ditambah salah satu dari : Miokarditis dan/ atau kelumpuhan motorik 1 s/d 6 minggu
setelah onset
Meninggal

Konfirmasi difteri :Kasus probable yang hasil isolasi ternyata positif C.


difteriae yang toksigenik (dari usap hidung, tenggorok, ulkus kulit, jaringan,
konjungtiva, telinga, vagina) atau serum antitoksin meningkat 4 kali lipat atau
lebih (hanya bila kedua sampel serum diperoleh sebelum pemberian toksoid
difteri atau antitoksin)
Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Timur. Pedoman Penanggulangan KLB Difteri Provinsi Jawa Timur. Surabaya: Dinas
TATALAKSANA
Nyeri menelan
Gejala infeksi saluran napas atas
Demam (+/-)
Malaise (+/-)
(Petugas kesehatan menggunakan APD
dan memeriksa tenggorok)

Iya
Terlihat pseudomembran atau
limfadenopati yang luas
Iya
Pseudomembran berdarah dan/Tanda bahaya : Stridor,
Napas cepat, Retraksi dinding dada, Letargi, CRT Pseudomembran tidak mudah lepas dan berdarah
memanjang, Bull neck, Takikardia, ekstremitas dingin
dan sianosis sentral

Iya tidak
Probable
Difteri

Probable Suspek
Stabilisasi (Pastikan Airway, Breathing Difteri
Difteri
dan Circulation aman)

TATALAKSANA 1 TATALAKSANA 2
TATALAKSANA
TATALAKSANA 1:
Isolasi
Stabilisasi (Pastikan Airway, Breathing dan Circulation TATALAKSANA 2:
aman) Isolasi
Berikan anti difteri serum sesegera mungkin antibiotik oral selama 14 hari.
Antibiotik penicilline procaine (PP) 25.000 U/kg tiap 6 Eritromisin 10 mg/kg tiap 6
jam (IM atau IV) selama 14 hari diberikan pada pasien jam. Maksimum 500 mg
dengan tanda bahaya , ketika pasien sudah mampu per kali.
menelan, dapat diubah ke antibiotik oral hingga hari ke- Azitromisin 10 mg/kg tiap
14. 24 jam.
Eritromisin 10 mg/kg tiap 6 jam. Maksimum 500 Lakukan SWAB tenggorok
mg per kali s/d hari 14
Azitromisin 10 mg/kg tiap 24 jam s/d hari 14.
Lakukan SWAB tenggorok
 Isolasi dilakukan minimal 48 jam setelah
• Pasien dirawat selama 2-3 minggu, apabila klinis pemberian antibiotika.
penderita setelah terapi baik (selesai masa pengobatan  Setelah pengobatan tetap dilakukan
10 hari), maka dapat pulang tanpa menunggu hasil kultur pengambilan kultur pada Penderita
laboratorium. Evaluasi kembali swab tenggorok setelah 2  (sebaiknya pada hari ke 8 dan ke 9
minggu pemberian antibiotika. pengobatan)
• Setelah pulang, Penderita tetap dipantau oleh Dinas  Setelah pulang, Penderita tetap dipantau oleh
Kesehatan setempat sampai mengetahui hasil kultur Dinas Kesehatan setempat sampai
terakhir negatif. mengetahui hasil kultur terakhir negatif.
• Semua Penderita setelah pulang harus melengkapi  Semua Penderita setelah pulang harus
imunisasi nya sesuai usia. melengkapi imunisasi nya sesuai usia.
TATALAKSANA
Definisi kontak:
Orang serumah dan teman
bermain; kontak dengan sekret
nasofaring; individu seruang
dengan penderita dalam waktu ≥
4 jam selama 5 hari berturu-turut
atau > 24 jam dalam seminggu
(teman sekelas)

Tatalaksana kontak
• Identifikasi semua orang yang kontak dekat dengan pasien.
• anak-anak: profilaksis antibiotik eritromisin dengan dosis 40
mg/kg/hari selama 10 hari untuk atau azitromisin 10-12 mg/kg
sekali sehari maksimal 500 mg/hari selama 10 hari.
• Dewasa : eritromisin sebanyak 1 gram/hari dibagi 4 dosis selama
10 hari, atau azitromisin 500 mg sekali sehari selama 10 hari.
• Semua yang kontak dekat dengan pasien diobservasi selama 10
hari untuk pengawasan kemungkinan munculnya gejala.
TATALAKSANA

Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit atau uji mata terlebih
dahulu karena dapat terjadi reaksi anafilaktik. siapkan larutan adrenalin
1:1000 dalam semprit. Uji kulit dilakukan dengan penyuntikkan 0,1 ml ADS
dalam larutan garam fisiologis 1:1.000 secara intrakutan. Hasil positif bila
dalam 20 menit terjadi indurasi >10 mm. Uji kepekaan pada mata dengan
pemberian 1 tetes antitoksin
TATALAKSANA
PENCEGAHAN
PENCEGAHAN

• Saat ini vaksin untuk imunisasi • Imunisasi tersebut diberikan


rutin dan imunisasi lanjutan
yang diberikan guna dengan jadwal
mencegah penyakit Difteri ada • Imunisasi dasar : Bayi usia 2, 3 dan 4
3 macam, yaitu: bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib
– DPT-HB-Hib (vaksin kombinasi dengan interval 1 bulan.
mencegah Difteri, Pertusis, • Imunisasi Lanjutan:
Tetanus, Hepatitis B dan • Anak usia 18 bulan diberikan
Meningitis serta Pneumonia vaksin DPT-HB-Hib 1 kali
yang disebabkan oleh • Anak Sekolah Dasar kelas 1
Haemophylus infuenzae tipe B). diberikan vaksin DT pada Bulan
– DT (vaksin kombinasi Difteri Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Tetanus).
• Anak Sekolah Dasar kelas 2 dan 5
– Td (vaksin kombinasi Tetanus
diberikan vaksin Td pada Bulan
Difteri).
Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
• Td pada usia 10-12 tahun dan
booster Td diulang tiap 10 tahun.
PENCEGAHAN
• Sasaran ORI adalah anak
usia 1 tahun sampai dengan
< 19 tahun tanpa
memandang riwayat
imunisasi .
• ORI dengan menyuntikkan
vaksin DPT atau DT atau Td
sesuai usia, sebanyak 3 kali.
Suntikan pertama pada 0
bulan, suntikan berikutnya
berjarak 1 bulan dan
suntikan ketika diberikan 1
kali berjarak 6 bulan dari
Penyulit
• Obstruksi pernapasan
• Miokarditis
• Polineuritis
• Gagal ginjal
33