Anda di halaman 1dari 50

Hasil Diskusi Kasus

Pemicu 3

Kelompok 2
Fasilitator: dr. Francisca Diana Alexandra, M.Sc.
Anggota Kelompok:
• Veny Elizabeth FAA 117 007
• Ibra Hafish Bagaskara FAA 117 008
• Hotmaida Suryani Hasian Purba FAA 117 009
• Yohana Virda Eka Setiawati FAA 117 010
• Aqualytta Setyaningtyas Rivai FAA 117 011
• Muhammad Ikhwan Rizky FAA 115 004
• Ivan Edsel Aden FAA 115 023
• Ikrimah FAA 115 036
• Aprilois Perdana FAA 115 038
• Andreyan Philiatama FAA 115 040
PEMICU 3
“ MERASA SEPERTI MAU MATI”
Seorang wanita usia 30 tahun datang ke Poli Jiwa dengan keluhan selalu merasa seperti mau mati. Ini
dialami sejak 2 bulan yang lalu dan memberat sejak 1 minggu yang lalu. Pasien kadang tiba-tiba
merasa sesak nafas hebat dan jantung selalu berdebar-debar seperti nyawanya akan dicabut. Saat
serangan datang pasien tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya mondar-mandir dalam rumah.
Serangan ini bisa berlangsung sampai 30 menit. Akhir-akhir ini serangan datang hampir tiap hari dan
biasanya muncul pada saat masuk waktu magrib. Hal ini membuat pasien sering merasa cemas dan
tidak berani keluar rumah sendiri tanpa ditemani orang lain, pasien takut masuk kamar mandi karena
merasa sebentar lagi akan mati. Pasien juga sering terbangun dimalam hari saat tidur karena takut
tertidur terlalu nyenyak, pasien takut tidak bisa terbangun lagi.
Pasien baru pertama kali berobat di RS tersebut, sebelumnya pasien hanya berobat kampung
namun tidak ada perbaikan. Awalnya gejala yang dirasakan pasien adalah rasa tercekik dileher namun
rasanya hilang sendiri dan berlangsung cepat. Semakin lama pasien merasa kondisinya semakin
memburuk. Pasien merasa cemas kalau nanti serangannya tiba-tiba datang. Namun saat terjadi
serangan pasien masih bisa melakukan pekerjaan sehari-hari dirumah.
Kata sulit
•Cemas
Merupakan perasaan subjektif mengenai ketegangan mental
sebagai reaksi dan ketidakmampuan mengatasi suatu masalah
atau tidak ada rasa aman
Kata kunci
• Identitas pasien : 30 thn
• Onset : 2 bulan yang lalu
• KP : sesak napas, jantung berdebar debar, tercekik di leher, sering terbangun
di malam hari.
• Sifat keluhan : datang hampir setiap hari, saat waktu masuk magrib
• Durasi keluhan : 30 menit
• R.pengobatan : obat kampung
• R.penyakit sekarang : gejala seperti tercekik di leher,lalu hilang sendiri, berlangsung cepat
semakin lama semakin memburuk.
• Hubungan keluhan dengan aktivitas pasien : Tidak bisa melakukan apapun dan hanya mondar
mandir saat serangan datang. Tidak berani keluar rumah sendiri, takut ke kamar mandi.
Identifikasi masalah
• Perempuan 30 tahun mengalami keluhan merasa mau mati, onset 2 bulan yang
lalu dengan durasi 30 menit
• Keluhan disertai dispnea, palpitasi, merasa tercekik di leher, agoraphobia,
anxietas, sering terbangun di malam hari, dan rasa takut tidak dapat bangun lagi
Analisis masalah
30 thn

Poli jiwa

anamnesis p.fisik

Gangguan psikiatri

DD DX

• Gang.anxietas Gang. panik


menyeluruh
• Death anxiety
• Panic attack
Hipotesis
• Laki laki 30 thn didiagnosis berdasarkan anamnesis p.fisik mengalami
gangguan panik
Pertanyaan terjaring
1. Intrepetasi data tambahan
2. Jelaskan tabel diagnosis banding
3. Gangguan panik
a. Definisi
b. Etiologi
c. Epidemiologi
d. Patogenesis
e. Patofisiologi
f. Klasifikasi
g. Tanda & Gejala
h. Faktor risiko
i. Penegakan diagnosa
j. Komplikasi
k. Tatalaksana
l. Pencegahan
m. Prognosis
4. Jelaskan mekanisme cemas
INTERPRETASI
DATA TAMBAHAN
PEMERIKSAAN HASIL KETERANGAN
Hendaya/disfungsi
Hendaya dalam bidang sosial Positif (+)
Hendaya dalam bidang pekerjaan Positif (+)
Hendaya dalam bidang penggunaan waktu senggang Positif (+)
Factor Stressor Psikososial Belum ditemukan
Hubungan gangguan, sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya
Riwayat Penyakit Dahulu ( RPD ) Negatif (-)
Riwayat trauma Negatif (-)
Riwayat kejang Negatif (-)
Riwayat penggunan obat obatan terlarang dan zat aditif Negatif (-)
Riwayat Gangguan Sederhana
1. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada penyakit fisik (infeksi,
trauma kapitis dan kejang) (-)
2. Riwayat penggunaan zat psikoaktif Tidak mengkonsumsi obat-
obatan terlarang (-)
Merokok (-)
3. Riwayat penyakit psikiatri sebelumnya Tidak Ada
PEMERIKSAAN HASIL KETERANGAN

Riwayat Kehidupan Pribadi

1. Riwayat Prenatal dan Perinatal Lahir normal cukup bulan di RS, Ibu selama hamil sehat. Bayi tidak
pernah panas tinggi dan kejang
2. Riwayat masa kanak awal (1-3 tahun) Pertumbuhan dan perkembangan sesuai dan tidak ada masalah
menonjol
3. Riwayat masa kanak pertengahan (4-11 tahun) Prestasi bagus di sekolahnya dan pasien mudah bergaul

4. Riwayat masa kanak akhir dan remaja (12-18 tahun) Pasien hanya tamat SMA dan tidak melanjutkan sekolah hanya
melakukan pekerjaan sehari-hari dirumah
5. Riwayat masa dewasa

a. Riwayat pekerjaan Pekerjaan tetap (-)


b. Riwayat pernikahaan Menikah (-)
c. Riwayat agama Islam dan menjalankan kewajiban agama dengan baik
d. Riwayat militer Kegiatan militer (-)
e. Riwayat pelanggaran hokum Tidak pernah terlibat masalah hukum

f. Aktivitas social Dikenal sebagai seseorang yang baik, rajin beribadah dan mempunyai
cukup teman
6. Riwayat keluarga Ke-2 orangtua masih hidup anak ke-4/4, hubungan dengan keluarga
baik. (3laki-laki,1 wanita)
7. Situasi kehidupan sekarang Hidup dengan tante dan sepupunya, ekonomi cukup

8. Presepsi pasien tentang diri dan kehidupannya Pasien merasa sakit dan butuh pertolongan
PEMERIKSAAN HASIL KETERANGAN
Pemeriksaan Fisik dan Neurologi
A. Status Internus
1. Keadaan Umum Tidak Tampak 6. Suhu Tubuh 36,7˚C
sakit
2. Kesadaran Compos Mentis 7. Konjungtiva anemis (-/-)
3. Tekanan Darah 110/80 mmHg 8. Sklera ikterik (-/-)
4. Nadi (HR) 80x/menit 9. Jantung,paru dan Dalam Batas
abdomen Normal
5. Frekuensi Nafas 22x/menit 10. Ektremitas atas dan Tidak ada TD ↓
(RR) bawah Kelainan RR 
B. Status Neurologi
1. Kaku Kuduk (-) 5. Refleks cahaya (+/+)

2. Kerning’s sign (-) 6. Fungsi motoric dan Dalam Batas


sensorik Normal
3. Bentuk pupil Bulat dan Isokor 7. Refleks patologis (-)
4. Diameter pupil 2,5mm/2,5mm NORMAL
PEMERIKSAAN HASIL KETERANGAN
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan Tampak seorang wanita menggunakan kemeja kotak-kotak Untuk penampilan dan perilaku pasien
warna coklat, memakai celana panjang jeans dan jilbab sudah sesuai
berwarna coklat. Wajah sesuai umur, perawakan sedang dan
perawatan diri cukup.
2. Kesadaran Baik Normal
3. Prilaku dan Aktivitas Psikomotor Tenang Normal
4. Pembicaraan Spontan, Lancar, dan Intonasi Sedang Normal
5. Sikap terhadap pemeriksa Kooperatif Normal
B. Keadaan Aktif
1. Mood Cemas Pada pasien tidak dapat menanggapi
pertanyaan
2. Afek Cemas Labil, artinya mood dan afek memiliki
kesesuaian
3. Empati Dapat Dirabarasakan Normal
C. Fungsi Intelektual (Kognitif)
1. Taraf Pendidikan Pengetahuan umum dan kecerdasan pasien sesuai dengan tingkat Normal
pendidikannya.

2. Daya Konsentrasi Tidak Terganggu Normal


PEMERIKSAAN HASIL KETERANGAN
3. Orientasi
a. Waktu Tidak terganggu c. Orang Tidak terganggu Normal

b. Tempat Tidak terganggu Normal

4. Daya Ingat
a. Jangka Segera Tidak terganggu c. Jangka Panjang Tidak terganggu Normal

b. Jangka Pendek Tidak terganggu Normal

5. Pikiran Abstrak Tidak terganggu Normal


6. Bakat Kreatif Belum ditemukan Normal
7. Kemampuan Menolong Diri Sendiri Tidak terganggu Normal

D. Gangguan Presepsi
1. Halusinasi (-) 3. Depersonalisasi (-) Normal

2. Ilusi (-) 4. Derealisasi (-) Normal


PEMERIKSAAN HASIL KETERANGAN
E. Proses Berpikir
1. Arus Pikiran b. Kontinuitas Relevan dan koheren Arus pikiran tidak ada masalah

a. Produktivitas Cukup c. Hendaya berbahasa Tidak ada Produktivitas tidak ada masalah

2. Isi Pikiran
a. Preokupasi Tidak b. Gangguan isi pikiran Tidak ditemukan Isi pikiran tidak ada masalah
ditrmukan

F. Pengendalian impuls tidak terganggu Pengendalian impuls normal


G. Daya Nilai
1. Norma Sosial tidak terganggu Penilaian Realitas tidak terganggu Normal pasien tidak ada
gangguan dlm bersosialisasi
2. Uji Daya Nilai tidak terganggu

H. Tilikan (Insight) Tilikan 6 :menyadari sepenuhnya tentang Pasien sudah dapat memahami
situasi dirinya disertai motivasi untuk mencapai situasi yang dihadapinya.
perbaikan

I. Taraf dapat dipercaya Pasien dapat dipercaya Pasien berkata dengan jujur
TABEL DD
Diagnosis Definisi Etiologi Tanda & gejala
Gangguan Merupakan jenis Faktor biologis (e.g. genetik Jantung berdebar-debar, berkeringat, gemetar,
Panik gangguan kecemasan dan ketidakseimbangan kesulitan bernapas, perasaan tercekik, nyeri
yang ditandai dengan biokimia otak); atau ketidaknyamanan di dada, mual, pusing
“serangan panik” Faktor psikologis (e.g. orang atau pingsan, rasa panas dan menggigil, sensasi
berulang-ulang, yang mudah merasa cemas, kesemutan atau mati rasa di anggota tubuh,
berupa periode mudah putus asa); Faktor derealisasi (merasa dalam keadaan seperti
perasaan ketakutan lingkungan (e.g. pengalaman mimpi di mana lingkungan tampak tidak
yang intens dan masa kecil, mengalami nyata) atau depersonalisasi (merasa berada di
berhubungan dengan musibah, respon ancaman, luar diri sendiri tanpa sensasi pengendalian
gejala fisik seperti respon stres karena pekerjaan apapun), takut mati, agorafobia, takut
jantung berdebar- atau masalah interpersonal). kehilangan kontrol atau menjadi gila
debar, sesak napas, Disebut Gangguan panik bila terjadi episode
berkeringat, gemetar, serangan panik secara sering dan berulang atau
palpitasi, pusing dan terjadi beberapa kali namun memiliki
gejala lainnya. kekhawatiran yang menetap bahwa serangan
akan muncul di masa depan
Diagnosis Definisi Etiologi Tanda & gejala
Gangguan Adalah sekelompok kondisi yang Genetik/keturunan, berada di Kecemasan dan rasa takut yang
Cemas memberi gambaran kecemasan situasi stres yang berlangsung berlebihan dan tidak dapat
Menyeluruh berlebihan yang disertai respon lama, pengalaman buruk di dikendalikan, merasa putus
perilaku, emosional, dan fisiologis. masa kecil terhadap hal-hal harapan, sulit berkonsetrasi,
Dimana penderita mengalami tertentu, rokok dan kafein emosi yang tidak terkontrol,
kecemasan yang konstan/kontinyu gangguan fungsi sosial. Gejala
dan tidak sebanding dengan tingkat fisik seperti kelelahan, tegang
stresor yang sesungguhnya dalam otot, dan sulit tidur
kehidupan.

Kecemasan Death anxiety atau kecemasan Berbagai kombinasi faktor Rasa cemas dan takut yang
kematian kematian adalah salah satu bentuk antara genetik dan lingkungan, berlebihan dan tidak terkontrol
gangguan kecemasan, dimana pasien termasuk pengalaman, akan kematian dapat diikuti
secara khusus memiliki ketakutan kebudayaan, dan kepercayaan oleh gejala gejala lain seperti
dan kecemasan berlebihan religius jantung berdebar, sulit tidur,
kematian, proses kematian, atau takut perasaan sesak dan mual
menjadi tidak ada (non-existence)
Diagnosis Definisi Etiologi Tanda & gejala
Serangan Serangan panik adalah Gabungan antara faktor Serangan panik dengan gejala yang sama
Panik ketakutan atau genetik dan lingkungan, seperti gangguan panik, namun disebut
kecemasan yang intens respon dari stresor yang tidak serangan panik jika kejadiannya sangat jarang
dengan dan disertai dapat diatasi, respon dari atau tidak terjadi berulang kali
gejala jantung ancaman, rasa takut
berdebar, nyeri dada, mengalami masalah, musibah
perasaan tercekik, atau bencana
berkeringat, gemetar,
pusing, atau perasaan
takut mati
.
PANIC DISORDER
A. DEFINISI
• Gangguan Panik merupakan serangan panik yang berulang-ulang dengan
onset cepat dan durasi sangat singkat .
• Gangguan Panik (Panic Disorder) adalah satu perasaan serangan cemas
mendadak dan terus menerus disertai perasaan perasaan akan datangnya
bahaya / bencana, ditandai dengan ketakutan yang hebat secara tiba-tiba.
• Gangguan Panik disebut juga Anxietas Paroksismal Episodik.
Etiologi
• Faktor Biologik
Gangguan Panik ditemukan peningkatan aktifitas syaraf simpatis.
Neurotransmitter yang berpengaruh pada Gangguan Panik adalah Epinefrin,
Serotonin, dan Gama Amino Butyric Acid (GABA).
• Genetik
• Psikososial
Pasien dengan riwayat pelecehan fisik dan seksual pada masa anak juga
beresiko untuk menderita Gangguan Panik.
Epidemiologi
• Prevalensi hidup Gangguan panik kira-kira 1-4% populasi, sedangkan serangan Panik
sekitar 3-6%. Wanita 2-3 kali lebih banyak menderita gangguan ini dibanding laki-
laki. Prevalensi dengan Agorafobia kira-kira 2-6%.
• Laporan tertinggi gangguan panik didapatkan berasal dari penduduk asli Amerika
dan diikuti oleh ras kulit putih (sekitar 2-3%). Sedangkan ras kulit hitam, Hispanik,
dan Asia memiliki laporan kasus yang relatif lebih rendah (sekitar 0,1 – 0,8%).
Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan respon adaptasi dari stresor
yang muncul dan kemungkinan perbedaan kebudayaan atau kebiasaan
• Gangguan panik dapat menyerang semua usia, namun onset rata-rata usia penderita
gangguan panik tertinggi adalah 20 – 24 tahun, persentasi yang lebih kecil muncul di
usia yang lebih muda atau lebih tua
Patogenesis
Faktor Biologis
Gejala gangguan panik terkait dengan suatu kisaran abnormalitas biologis dalam struktur danfungsi otak.
Beberapa studi menghasilkan hipotesis yang melibatkan disregulasi sistem
saraf perifer dan pusat dalam patofisiogi gangguan panik. Terjadi peningkatan tonus simpatik, beradaptasi lamb
at terhadap stimulus berulang, dan berespons berlebihan terhadap stimulussedang.Sistem neurotransmitter
utama yang terlibat adalah norepinefrin, serotonin, dan asam gamma-aminobutirat (GABA).
• Hipersensitivitas serotonin pascasinaps
• Melemahnya transmisi inhibisi lokal GABAnergik di amigdala basolateral, otak tengah, dan hipotalamus.
• Hiperaktivitas sistem noradrenergik, terutama reseptor α2 prasinaps yangmerangsang letupan pada locus
ceruleus.
• Faktor Genetik
Data saat ini mendukung kesimpulan bahwa gangguan ini memiliki komponen
genetik yangkhas. Berbagai studi menemukan peningkatan resiko empat hingga
delapan kali untuk gangguan panik di antara kerabat derajat pertama pasien
dengan gangguan panik dibandingkan dengan kerabat derajat pertama pasien
psikiatri lain. Studi kembar yang telahdilakukan umumnya melaporkan bahwa
kedua kembar monozigot lebih mudah terkenaserangan bersamaan daripada
kembar dizigot.
• Faktor Psikososial
Teori perilaku kognitif menyatakan bahwa ansietas adalah respons yang
dipelajari baik darimenirukan perilaku orang tua maupun melalui proses
pembelajaran klasik. Di dalam
metode pembelajaran klasik pada gangguan panik dan agorafobia, stimulus berb
ahaya yang timbul bersama stimulus netral dapat mengakibatkan penghindaran
stimulus netral. Teori perilakulain menyetakan hubungan antara sensasi gejala
somatik ringan (seperti palpitasi) dantimbulnya serangan panik
PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI
Pembagian gangguan anxietas dapat dilihat dari tabel berikut:
Gangguan
Anxietas

Gangguan Anxietas Kontinyu Anxietas Episodik


Gangguan Anxietas Menyeluruh

Pada situasi Pola campuran Pada


tertentu Agorafobia sembarang
Gangguan Fobik dengan panik situasi
Gangguan Panik

Fobia Fobia Agorafobia


Spesifik Sosial
TANDA GEJALA
Serangan Panik adalah Sebuah periode terpisah dari rasa takut yang intens di mana 4
gejala berikut tiba-tiba berkembang dan puncaknya dalam waktu 10 menit :
1. Palpitasi atau denyut jantung cepat, berkeringat, Gemetar atau bergetar, sesak
napas
2. Perasaan tersedak, nyeri dada atau ketidaknyamanan, mual
3. Menggigil atau sensasi panas parestesia, merasa pusing atau pingsan, derealisasi
atau depersonalisasi takut kehilangan kontrol atau menjadi gila dan takut mati
TANDA GEJALA
1. Kecemasan yang intens disertai dengan simtom-simtom fisik seperti jantung yang
berdebar-debar, nafas cepat, nafas tersengal atau kesulitan bernafas, banyak
mengeluarkan keringat, dan terdapat rasa lemas dan pusing
2. Mengalami serangan panik secara berulang dan tidak terduga (sedikitnya dua kali).
3. Sedikitnya satu dari serangan tersebut diikuti oleh setidaknya satu bulan rasa takut
yang persisten dengan adanya serangan berikutnya atau merasa cemas akan
implikasi atau konsekuensi dari serangan (misalnya, takut kehilangan akal menjadi
gila‟ atau serangan jantung) atau perubahan tingkah laku yang signifikan
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder
Edition “DSM-5”. Washinton DC: American Psychiatric Publishing. Washinton DC
Faktor Risiko
• Genetik atau keturununan
• Riwayat gangguan status mental
• Hidup di lingkungan yang penuh stresor dan paparan stresor dalam waktu yang
lama (misalnya masalah pekerjaan, rumah tangga, atau anggota keluarga yang sakit
parah)
• Mengalami kejadian traumatis di masa kecil (misalnya bencana atau kecelakaan)
• Konsumsi rokok, dan kafein yang berlebihan
• Riwayat mengalami kekerasan seksual dimasa lalu
Diagnosis
Serangan Panik (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV
(DSM IV) )
Adanya satu periode ketakutan sangat hebat atau kegelisahan dimana 4 (empat)
atau lebih gejala-gejala dibawah ini dapat ditemukan dan mencapai puncaknya
dalam waktu 10 menit :
1. Palpitasi, jantung terasa berat dan peningkatan denyut jantung.
2. Keringat banyak.
3. Menggigil atau gemetaran.
4. Perasaan nafasnya pendek atau tertahan-tahan.
5. Merasa tercekik.
6. Nyeri dada.
7. Mual atau rasa tidak nyaman diperut.
8. Merasa pusing, goyang / hoyong, kepala terasa ringan atau nyeri.
9. Derealisasi (merasa tidak didunia realita), atau depersonalisasi (merasa terpisah dari diri sendiri).
10. Takut kehilangan kendali diri atau menjadi gila.
11. Takut mati
12. Parestesia (menurunnya sensasi).
13. Merasa kedinginan atau merah kepanasan.
Gangguan Panik (DSM IV)
Harus ada 1 dan 2 kriteria dibawah ini :
1. Adanya Serangan Panik yang tidak diharapkan secara berulang-ulang.
2. Paling sedikit satu Serangan Panik diikuti dalam jangka waktu 1 bulan (atau lebih)
oleh satu (atau lebih) keadaan-keadaan berikut :
a) Kekhawatiran yang terus menerus tentang kemungkinan akan mendapat serangan
panik.
b) Khawatir tentang implykasi daripada serangan panik atau akibatnya (misal: hilang
kendali diri, mendapat serangan jantung atau menjadi gila).
c) Adanya perubahan yang bermakna dalam perilaku sehubungan dengan adanya
serangan panik.
• Ada atau tidak adanya agorafobia.
• Serangan Panik tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari satu zat
(misal: penyalahgunaan zat atau obatobatan) atau kondisi medis umum
(hipertiroid).
• Serangan Panik tidak bisa dimasukkan pada gangguan mental emosional lain.
PENATALAKSANAAN
1. SSRI- Serotonin Selective Reuptake Inhibitors
* Sertralin
* Fluoksetin
* Escitalopram
2. Benzodiazepines
* Lorazepam
* Alprazolam
* Clonazepam
RESEP OBAT
dr . bambang
SIP : 117024/09.P/541
JL. YOS SUDARSO PALANGKA RAYA. TELP. 89765
JADWAL PRAKTEK : 15.00-21.00 WIB
SENIN- SABTU

Palangka Raya, 12 Juni 2020

R/ Alprazolam tab 4 mg No. XXI


S s dd tab I p.c
R/ citalopram tab 40 mg No. XXX
S s dd tab I p.c

Pro : Ny. S (30 tahun)


Alamat : Jl. Bukit Raya XI No 10 Palangka Raya
NONFARMAKOLOGI
PSIKOTERAPI
1. TERAPI RELAKSASI
 Melatih pernafasan (menarik nafas dalam dan lambat, mengeluarkan dengan
lambat pula)
 Mengendurkan seluruh otot tubuh
 Melakukan sugesti pikiran ke arah konstruktif atau yang diinginkan akan
dicapai
2. TERAPI KOGNITIF PERILAKU
 Restrukturisasi kognitif : membentuk kembali pola perilaku dan pikiran yang
irasional dan menggantikannya dengan rasional.
 Terapi berlangsung 30-45 menit
 Membuat daftar pengalaman harian dalam menyikapi berbagai peristiwa
 Terapi : 10-15 kali pertemuan (tergantung kondisi pasien)
3. PSIKOTERAPI DINAMIK
 Mengajak individu lebih memahami diri dan kepribadiannya
 Bukan sekedar menghilangkan gejala semata
 Pasien lebih banyak berbicara, dokter lebih banyak mendengar
 Memerlukan waktu panjang : berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
KOMPLIKASI

• Agorafobia
• Gangguan depresi mayor
• Peningkatan morbiditas dan kematian
• Gangguan kecemasan sosial penurunan kualitas hidup
• Penyalahgunaan narkoba
PENCEGAHAN
• Primer : waspada bila dalam keluarga ada yang pernah mengalami gangguan
panik

• Sekunder : Melakukan latihan relaksasi secara teratur dan terus menerus,


datang konsultasi sampai dinyatakan sembuh oleh dokter
PROGNOSIS
• Walaupun gangguan panik merupakan penyakit kronis, namun penderita
dengan fungsi premorbid yang baik serta durasi serangan yang singkat
bertendensi untuk prognosis yang lebih baik.
• Untuk agorafobia, dimana sebagian besar kasusnya dianggap diakibatkan
oleh gangguan panik, sering membaik seiring waktu ketika gangguan
paniknya diobati. Untuk perbaikan agorafobia yang cepat dan sempurna,
kadang-kadang diindikasikan terapi perilaku. Gangguan depresif dan
ketergantungan alkohol mempersulit perjalanan gangguan.
1. Saddock BJ & Saddock VA. Panic disorder and agoraphobia. In: Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Ed. USA: Lippincott
Williams & Wilkins; 2007. Sec.16.2. p. 588-97.
2. Kusumadewi I, Elvira S. Gangguan panik. Dalam: Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI; 2013. h. 258-63.
Mekanisme cemas
Mekanisme cemas
STIMULUS STIMULUS
STIMULUS
Sistem Auditorius, Viseral Akan Dibawa Melalui
Sistem Olfaktorius Melalui
Visual Dan Nukleus Paragigantoselular Dan
Traktus Olfaktorius
Somatosensori Nukleus Traktussolitarius Vagus

Secara Tidak
Korteks
Thalamus Langsung Melalui
Periamigdala
Locus Cereleus

Nukleus Lateralis
Amigdala

Nukleus Sentralis
Amigdala
Nukleus
Sentralis
Amigdala

Locus cereleus

Paraventrikular Dorsal Motor


Nukleus Di Nucleus Of
Hipothalamus Vagus Yang Akan
Mengaktifkan
Sistem
Lateral Parasimpatis
Hypothalamus
Untuk
Mengaktivasi
Simpatis
Referensi
• Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penterjemah: Irawati, Ramadani D, Indriyani F.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006
• Sherwood, L. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC
• American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder Edition “DSM-5”.
Washinton DC: American Psychiatric Publishing. Washinton DC
• Sawchuk, Craig N. Et al. Panic Attacks and Panic Disorder in the American Indian Community. Journal of Anxiety
Disorder. 2016
• De Jonge, Peter. Et al. Cross-national Epidemiology of Panic Disorder and Panic Attacks in the World Mental
Health Surveys. Author Manuscrip: Depress Anxiety. 2016 Dec: 33(12) : 1155-1177
• Saddock BJ & Saddock VA. Panic disorder and agoraphobia. In: Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Ed. USA: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. Sec.16.2. p. 588-97.
• Kusumadewi I, Elvira S. Gangguan panik. Dalam: Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI; 2013. h. 258-63.