Anda di halaman 1dari 32

Mislisa Ersamayang Putri

30101407242
1. BATASAN DAN RUANG LINGKUP DOKTER TERAPI
MEDIS DALAM MELAKSANAKAN FITOTERAPI
Kewajiban dokter, dokter gigi, dan tenaga
kesehatan
1. Menghormati hak pasien

2. Merujuk kasus bila diperlukan

3. Menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pasien

4. Memberikan informasi yang sesuai

5. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan

6. Melakukan pencatatan
Standar pelayanan medik herbal
1. Melakukan anamnesis

2. Melakukan pemeriksaan, meliputi pemeriksaan fisik dan penunjang

3. Menegakkan diagnosis secara ilmu kedokteran

4. Memperoleh informed consent dari penderita sesuai ketentuan yang berlaku

5. Pemberian obat herbal dilakukan pada pasien usia dewasa

6. Pemberian terapi berdasarkan hasil diagnosis yang telah ditegakkanpenggunaan pegobatan herbal
dilakukan dengan menggunakan tanman berkhasiat obat
Syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan tindakan komplemener medis di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut
meliputi :

• Mempunyai ijazah pendidikan tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat dll)

• Mendapatkan rekomendasi dari oraganisasi profesi

• Mempunyai sertifikasi dan di nyatakan lulus uji kompetensi keahlian tertentu di bidang pengobatan komplementer

• Mempunyai SBR-TPKA (Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobatan Komplementer - Alternatif)

• Mempunyai ST-TPKA (Surat Tugas Tenaga Pengobatan Komplementer - Alternatif)

• Mempunyai SIK-TPKA (Surat Ijin Kerja Tenaga Pengobatan Komplementer - Alternatif)


Terapi dengan menggunakan herbal medik ini diatur lebih lanjut oleh Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 121/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Medik Herbal. Ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, yaitu :

• Memiliki sertifikasi kompetensi dibidang herbal dan telah mendapatkan kewenangan dari organisasi seminat
Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT)

• Standar ketenagaan (SDM) adalah dokter atau dokter gigi dan atau dokter spesialis yang sudah memiliki kompetensi

• Bahan yang digunakan harus yang telah terstandar (obat jadi) namun apabila meracik sendiri dokter pelaksana harus
didampingi asisten apoteker

• Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan medik herbal wajib mendapatkan izin dari Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia

• Tenaga kesehatan dan tenaga lainnya yang melakukan penelitian berbasis pelayanan jamu kepada pasien harus
melakukan pencatatan dalam rekam medis (medical record).

• Pengobat tradisional hanya dapat menggunakan peralatan yang aman bagi kesehatan dan sesuai dengan
metode/keilmuannya
2. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN DOKTER
HERBAL MEDIS
Keuntungan

1. Herbal dalam bentuk jamu banyak digunakan oleh masyarakat untuk pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit,
termasuk penyakit-penyakit berat seperti kanker, diabetes mellitus, jantung, hipertensi, stroke, hepatitis, dan AIDS.

2. Obat herbal adalah hasil pengolahan yang sederhana atas akar, umbi, buah, bunga, kulit kayu dan bagian tanaman lainnya.
Kesederhanaan prosesnya membuat pengolahan obat herbal tidak memerlukan teknologi canggih dan modal riset yang
besar.

3. Obat herbal dapat digunakan untuk pengobatan lebih dari satu penyakit. Misalnya Habbatussauda (jintan hitam) bisa
membantu menghilangkan asam urat, diabetes, migren, kanker sampai hepatitis. Bawang putih tidak hanya bersifat antivirus
namun juga menurunkan kadar kolesterol dan menguatkan jantung. Banyak sekali bahan alami lainnya yang multi-khasiat
seperti itu.

4. Efek samping tidak ada jika penggunaannya secara benar, hal ini mengingat tanaman obat bersifat kompleks dan organis
yang cocok untuk tubuh yang bersifat kompleks dan organis, sehingga tanaman obat dapat disetarakan dengan makanan,
suatu bahan yang dikonsumsi dengan maksud merekonstruksi organ atau sistem yang rusak.
5. Efektif untuk penyakit yang sulit disembuhkan dengan obat kimia, seperti kanker, tumor, darah tinggi, darah rendah, diabetes,
hepatitis, stroke, sinusitis, herpes, bau badan, bisul dan lain-lain.

6. Aman digunakan jangka panjang. Tidak seperti obat kimia yang bisa memberikan efek negatif jangka panjang, obat herbal
biasanya lebih aman. Bahkan, penggunaan obat herbal memang harus dilakukan secara berkesinambungan.
Kerugian

1. Di Indonesia, masyarakat dapat menggunakan herbal secara bebas tanpa harus berkonsultasi dengan dokter atau tenaga
medis lainnya. Kecenderungan yang ada adalah masyarakat telah bertindak menjadi “dokter” untuk dirinya sendiri dalam
penggunaan herbal, bahkan tidak jarang mereka mengkonsumsinya bersamaan dengan obat konvensional.

2. Masyarakat seringkali “bereksperimen” dalam penggunaan herbal dan jamu untuk mengobati penyakitnya. Hal ini terjadi
karena mayoritas dari mereka menganggap herbal adalah aman untuk dikonsumsi karena berasal dari alam dan sudah
digunakan secara turun temurun. Fenomena ini tentu saja sangat mengkhawatirkan karena paradigma “alami berarti aman”
dan “herbal dan jamu pasti aman” merupakan hal yang salah.

3. Banyak jenis herbal yang dalam penggunaannya perlu pengawasan ketat dari tenaga medis professional karena cukup
berbahaya.

4. Penggunaan herbal seringkali memiliki interaksi negatif bila dikonsumsi bersamaan dengan obat konvensional. Dari
penelitian diungkap bahwa sekitar 63% tanaman obat tradisional Indonesia dapat menyebabkan interaksi farmakokinetik
dengan obat-obat konvensional bila dikonsumsi secara bersamaan.
Kerugian

5. Membutuhkan waktu. Tidak seperti obat kimia yang langsung bisa memberikan efek nyata untuk penyembuhan penyakit, obat
herbal membutuhkan waktu dan keberlanjutan dalam proses penyembuhannya, sehingga hal ini akan membuat penderita
penyakit harus lebih bersabar.

6. Produk herbal tidak diatur secara ketat, konsumen juga beresiko membeli herbal dengan kualitas rendah. Kualitas produk
herbal dapat berbeda antara merek atau produsen. Hal ini mempersulit mengatur dosis herbal. Jadi, gunakan herbal sesuai dengan
anjuran dokter.
3. SYARAT DOKTER HEBAL TERAPIS MEDIK
Syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan tindakan komplemener medis di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut
meliputi :

• Mempunyai ijazah pendidikan tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat dll)

• Mendapatkan rekomendasi dari oraganisasi profesi

• Mempunyai sertifikasi dan di nyatakan lulus uji kompetensi keahlian tertentu di bidang pengobatan komplementer

• Mempunyai SBR-TPKA (Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobatan Komplementer - Alternatif)

• Mempunyai ST-TPKA (Surat Tugas Tenaga Pengobatan Komplementer - Alternatif)

• Mempunyai SIK-TPKA (Surat Ijin Kerja Tenaga Pengobatan Komplementer - Alternatif)


Terapi dengan menggunakan herbal medik ini diatur lebih lanjut oleh Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 121/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Medik Herbal. Ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, yaitu :

• Memiliki sertifikasi kompetensi dibidang herbal dan telah mendapatkan kewenangan dari organisasi seminat
Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT)

• Standar ketenagaan (SDM) adalah dokter atau dokter gigi dan atau dokter spesialis yang sudah memiliki kompetensi

• Bahan yang digunakan harus yang telah terstandar (obat jadi) namun apabila meracik sendiri dokter pelaksana harus
didampingi asisten apoteker

• Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan medik herbal wajib mendapatkan izin dari Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia

• Tenaga kesehatan dan tenaga lainnya yang melakukan pelayanan herbal kepada pasien harus melakukan pencatatan
dalam rekam medis (medical record).

• Pengobat tradisional hanya dapat menggunakan peralatan yang aman bagi kesehatan dan sesuai dengan
metode/keilmuannya
Standar pelayanan medik herbal
1. Melakukan anamnesis

2. Melakukan pemeriksaan, meliputi pemeriksaan fisik dan penunjang

3. Menegakkan diagnosis secara ilmu kedokteran

4. Memperoleh informed consent dari penderita sesuai ketentuan yang berlaku

5. Pemberian obat herbal dilakukan pada pasien usia dewasa

6. Pemberian terapi berdasarkan hasil diagnosis yang telah ditegakkanpenggunaan pegobatan herbal
dilakukan dengan menggunakan tanman berkhasiat obat
4. SYARAT OBAT HERBAL YANG BISA DIJADIKAN
FITOTERAPI
Herbal harus memenuhi kriteria :

1. aman sesuai dengan persyaratan

2. bahan baku telah terstandarisasi

3. klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris yang ada

4. memenuhi persyaratan mutu dan kualitas

5. kandungan senyawa kimia telah diketahui sebelumnya

6. Telah melalui tahapan uji preklinik sehingga telah diketahui LD50% dan ED50%

7. Telah melalui tahap uji standarisasi sediaan dan uji klinik pada manusia

8. Penandaan adalah keterangan yang lengkap mengenai khasiat, keamanan dan cara penggunaan serta informasi lain yang
dianggap perlu yang dicantumkan pada etiket dan atau brosur yang disertakan pada obat herbal

9. Aman digunakan dalam jangka panjang

10. Memiliki tingkat efektivitas dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
Herbal harus memenuhi kriteria :

11. Indikasi dan kontraindikasi telah diketahui

12. Dosis dan aturan pakai telah paten


5. HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM
PEMAKAIAN TANAMAN OBAT HERBAL
Penatalaksanaan herbal

Mengikuti kaidah lima tepat (K5T), yang terdiri dari TEPAT:

1. Bahan obat

2. Dosis

3. Bentuk sediaan obat

4. Cara pemberian obat

5. Waktu pemberian obat

WASPADA TERHADAP EFEK SAMPING


Dalam memberikan obat herbal perlu dilakukan hal berikut :

a. Sedapat mungkin tidak mengkombinasi dengan obat klinis

b. Mencatat hasil pelayanan baik efek terapi maupun efek samping

c. Mencatat setiap intervensi jenis obat herbal yang diberikan termasuk dosis/takaran, cara
pemberian obat dan bentuk sediaan

d. Menanyakan pada pasien riwayat pengobatan terdahulu dan alergi obat

e. Mengetahui interaksi obat herbal dengan obat yang akan dikombinasikan

f. Kontraindikasi obat herbal


6. KHASIAT, EFEK SAMPING, MEKANISME KERJA,
INTERAKSI, KOMPOSISI, DOSIS, ATURAN PAKAI, BUKTI
KEAMANAN, INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI DAUN
SALAM
Tanaman salam mempunyai kandungan kimia :
a. minyak atsiri 0,2% (sitral, eugenol)
b. flavonoid (katekin dan rutin)
c. tannin
d. metil kavicol (methyl chavicol) yang dikenal juga sebagai
estragole atau p-allylanisole
Manfaat Kandungan Senyawa :

a. Tanin dan flavonoid merupakan bahan aktif yang mempunyai efek anti inflamasi dan antimikroba

b. Minyak atsiri secara umum mempunyai efek sebagai antimikroba, analgesik, dan meningkatkan kemampuan
fagosit. Minyak atsiri daun salam terdiri dari fenol sederhana, asam fenolat misal asam galat, seskuiterpenoid, dan
lakton. Juga mengandung saponin, lemak, dan karbohidrat.

c. Flavonoid adalah senyawa polifenol yang sesuai dengan struktur kimianya terdiri dari flavonol, flavon, flavanon,
isoflavon, katekin, antosianidin dan kalkon. Flavonoid bermanfaat sebagai anti viral, anti alergik, anti platelat, anti
inflamasi, anti tumor dan anti oksidan sebagai sistem pertahanan tubuh.
1. Mengurangi dislipidemia, khususnya hipertrigliseridemia.

Hardhani (2008) pemberian ekstrak daun salam pada tikus putih jantan galur Wistar hiperlipidemia dengan dosis
bertingkat yang diperoleh dari daun salam segar sebesar 0,18 gram, 0,36 gram, dan 0,72 gram setiap hari selama 15
hari, dapat menurunkan kadar trigliserida serum tikus tersebut, dengan penurunan paling besar pada
pemberian dosis 0,72 gram daun salam segar. Adanya penurunan kadar trigliserida setelah pemberian ekstrak daun
salam membuktikan bahwa terdapat senyawa senyawa aktif dalam daun salam yang mampu menurunkan kadar
trigliserida serum. Hanya dalam kurun waktu yang singkat yaitu selama 15 hari, pada dosis 0,72 gam/hari didapatkan
rerata kadar trigliserida yang lebih rendah dari kadar trigliserida hewan coba pada awal masa adaptasi (pengambilan
darah hari ke-0). Senyawa-senyawa yang diduga mampu menurunkan kadar nitrigliserida tersebut adalah niasin,
serat, tannin, dan vitamin C. Mekanisme kerja tannin yaitu bereaksi dengan protein mukosa dan sel epitel usus
sehingga menghambat penyerapan lemak. Berdasarkan hal tersebut maka daun salam berpotensi untuk dipakai
sebagai bahan obat untuk menurunkan kadar trigliserida pada manusia.
2. Menurunkan kadar LDL

Pemberian diet ekstrak daun salam peroral pada tikus wistar hiperlipidemia dengan dosis 0,18 g daun salam segar/hari;
0,36 g daun salam segar/hari; 0,72 g daun salam segar/ hari selama 15 hari dapat menurunkan kadar low density
lipoprotein (LDL) kolesterol serum tikus secara bermakna. Semakin tinggi dosis yang diberikan semakin tinggi
penurunan kadar LDL kolesterol serum tikus (Pidrayanti, 2008). Daun salam dapat menurunkan kadar LDL
kolesterol serum secara bermakna sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan karena daun salam
mengandung senyawa aktif seperti quercetin yang terkandung dalam flavonoid selain sifatnya sebagai
antioksidan, dapat menghambat sekresi dari Apo-B100 ke intestinum, sehingga jumlah Apo B akan mengalami
penurunan. Apo-B merupakan pembentuk VLDL dan LDL. Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 40.000
wanita dewasa di Amerika Serikat, didapatkan bahwa wanita yang mengkonsumsi makanan dengan kandungan
flavonoid, 35% di antaranya terbebas dari penyakit penyakit kardiovaskuler. Kandungan quercetin yang tinggi
dalam suatu makanan dapat memodulasi aktivitas dari platelet untuk mencegah timbulnya penyakit
kardiovaskuler.
3. Potensi menurunkan kadar asam urat.

Hasil penelitian Muhtadi, dkk (2010) berdasarkan data uji praklinik antihiperurisemia, ekstrak daun salam dengan dosis
tunggal 200 mg/kgBB terbukti berpotensi menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit putih jantan galur
BalbC yang diinduksi potassium oksonat dengan prosentase penurunan kadar asam urat berturut-turut adalah 79,35%,
61,29%, dan 72,90%. Sedangkan penurunan oleh allopurinol sebesar 93,55%. Dari hasil standarisasi ekstrak air daun
salam adalah parameter kadar fenolat total dalam ekstrak daun salam sebesar 1,08% dan total flavonoid mempunyai
kadar 0,196%. Senyawa identitas dari ekstrak daun salam adalah fluoretin.

4. Untuk penderita Diabetes Melitus

Flavonoid yang mengandung quercetin bertindak sebagai antidiabetik karena memiliki gugus cincin C hidroksil yang
menginhibisi dari enzim alfa glukosidase yang merupakan biokatalisator dalam peningkatan pemecahan karbohidrat
menjadi glukosa.
1. Efek Konstipasi
Daun salam merupakan salah satu jenis bumbu makanan dengan senyawa yang sulit dicerna oleh tubuh dan karenanya dapat
menyebabkan efek konstipasi seperti sulit buang air besar. Umumnya, efek samping ini menyerang mereka yang
menggunakan daun salam sebagai obat sehingga mengonsumsinya dalam intensitas yang rutin dan jumlah yang besar
misalnya pada penderita hipertensi.
2. Efek Pernapasan
Senyawa dalam daun salam juga diketahui dapat berakibat buruk pada penderita gangguan pernapasan seperti asma. Karena
itu, para ahli tidak menyarankan penderita asma untuk mengonsumsi daun salam dalam jumlah yang berlebih.
3. Eksim
Seorang pasien melaporkan bahwa dirinya menderita eksim di wajah dan tangan setelah mengkonsumsi daun salam.
4. Gangguan pada Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
Konsumsi daun salam dapat membahayakan janin dan menurunkan kualitas air susu ibu sehingga akan berefek negatif pada
bayi.