Anda di halaman 1dari 59

A A = PUTARAN PADA

AXLE SHAFT
B = GESEKAN PADA
JALAN

B
Putaran pada axle shaft “A” merupakan hasil penerus daya dari
mesin yang menghasilkan momen (torsi) untuk memutarkan roda.

Gesekan pada jalan “B” akan menghasilkan daya dorong pada


kendaraan sesuai momen (torsi) pada axle shaft yang disebut traksi.

Jika daya dorong yang dihasilkan kecil walaupun momen yang


diberikan besar dikarenakan ban slip terhadap jalan, maka dikatakan
traksi kecil.

Kondisi ban slip terhadap jalan akan mengakibatkan kendaraan


membuang (spin) / ngepot.

Kondisi ini sering terjadi jika pedal akselerasi diinjak kuat-kuat pada
awal kendaraan bergerak, terutama pada jalan licin / berpasir.
Akibat yang ditimbulkan:
1. Traksi yang dihasilkan kecil.
2. Momen yang dipindahkan ke roda-roda tidak maksimum.
APLIKASI PADA TRACTION CONTROL

Untuk mengontrol traksi pada roda dan momen pada axle shaft /
drive shaft maka dilakukan:
1. Mengatur momen (torsi) yang dihasilkan oleh mesin sesuai
kondisi slip yang terjadi.
2. Mengatur putaran roda yang dihasilkan axle shaft/drive shaft
sesuai slip yang terjadi.

Hasil yang didapat:


1. Awal akselerasi (bergerak) stabil/aman.
2. Kecepatan kendaraan stabil
3. Percepatan dapat diperoleh dengan baik.
Cara kerja traction control

1. Speed Sensor, main throtle position sensor dan


sensor lainnya memberikan sinyal pada ECU.
2. ECU mengirim arus pada acuator sub throttle untuk
mengatur momen (torsi) mesin/output mesin.
3. ECU mengirim arus listrik ke aktuator rem traction
control untuk mengatur putaran roda.

Actuator sub throttle mengurangi momen mesin


dengan menutup/mengurangi udara yang mengalir
ke intake manipold.

Actuator rem traction control mengurangi putaran


roda dengan menambah/memberikan tekanan
minyak rem dengan menggunakan pompa traction
control.
A : Tahanan pada system rem
dengan putaran roda
B : tahanan pada putaran roda
dengan jalan

Bila tahanan di A lebih kecil dibanding dengan tahanan


di B, maka roda tidak akan slip terhadap jalan sehingga
kendaraan masih dapat dikendalikan dengan baik.

Bila tahanan di A lebih besar dibandingkan dengan


tahanan di B, maka roda akan terkunci sehingga slip
terhadap jalan, akibatnya tidak memungkinkan untuk
mengarahkan kendaraan.
SLIP terjadi dikarenakan roda yang sudah
berhenti masih terdorong modi kendaraan yang
masih meluncur dikarenakan masih memiliki
tenaga inersia.

A : Kecepatan roda
B : Kecepatan Body Kendaraan

Kecepatan A lebih kecil dari kecepatan B maka akan


terjadi slip.
Kecepatan A lebih besar dari kecepatan B maka tidak
terjadi Slip.
Slip Ratio 10 s/d 30% menghasilkan pengereman
yang baik dan dapat dikendalikan dengan baik.
Slip ratio lebih dari 30% maka kemampuan
pengereman semakin berkurang → Unstable
SLIP RATIO

Perbedaan ratio antara kecepatan body kendaraan dengan


kecepatan roda-roda

Kecepatan kendaraan  Kecepatan roda


SLIPRATIO  x100%
Kecepatan kendaraan

SLIP RATIO 0% : (FREE ROLLING)


Roda berputar dan menapak dengan baik pada jalan serta dapat
dikendalikan dengan baik → Tidak terjadi slip → Stable

SLIP RATIO 100% : (LOCKED)


Roda berhenti berputar terkunci dan tidak menapak dengan baik
pada jalan serta tidak dapat dikendalikan dengan baik
Terjadi slip → Unstable
APLIKASI PADA SISTEM ABS

Bila roda-roda mengunci maka kendaraan mulai membuang dan


tidak mungkin mengarahkan kendaraan.

Untuk mendapatkan kestabilan arah, pengemudi harus mengocok


(memompa) pedal rem agar kendaraan dapat berhenti tanpa
membuang.

Fungsi memompa (mengocok) secara otomatis pada sistem ABS


dilakukan. Sistem ABS akan mengatur besar tekanan minyak rem
yang dikirim ke masing-masing silinder roda.

Pengaturan tekanan minyak rem akan mengatur besarnya tahanan


pada sistem rem dengan putaran roda (A) sehingga tahanan pada
putaran roda dengan jalan (B) dapat terkontrol pada slip ratio 10 –
30%.
Sensor kecepatan roda mendeteksi setiap perubahan
kecepatan roda, data kecepatan roda diterima oleh
ECU/ECM ABS untuk dibandingkan dengan perubahan
kecepatan roda dan kecepatan kendaraan.

Hasil kalkulasi pada ECU/ECM ABS akan dirubah


menjadi sinyal perintah pada ABS actuator untuk
mengatur besar kecilnya tekanan minyak rem yang
dikirim ke masing-masing silinder roda.

Program pada ECU/ECM ABS mengatur 3 mode:


1. Mode pengurangan tekanan.
2. Mode penahanan (Holding)
3. Mode penambahan tekanan
Contoh :

Kecepatan kendaraan 100 km/jam → 100 km/jam → 100 →100 → 100 → 100
Kecepatan roda 100 km/jam → 90 km/jam → 60 → 40 → 20 → 0

100 - 100
Slip Ratio  x100%  0%
100
100  90
Slip Ratio  x100%  10%
100
100 - 60
Slip Ratio  x100%  40%
100
100 - 40
Slip Ratio  x100%  60%
100
100 - 20
Slip Ratio  x100%  80%
100
100 - 0
Slip Ratio  x100%  100%
100
APA ITU ABS ?
Biasanya rem bekerja untuk memperlambat atau menghentikan kendaraan dengan menggunakan dua jenislahanan

ABS mengontrol tekanan minyak rem yang bekerja

Pada sistem rem yang biasa tanpa ABS, bila penge


Akan tetapi, bila hubungan ini terbalik, maka ban-ban akan mengunci dan kendaraan m

Tahanan antara ban dan jalan

Tahanan sistem rem

Akibatnya, bila rodadepan mengunci, tidak mungkin untuk mengarahkan kendaraan. Bila
it
terjadinya ngepot ("tail spin") pada bagian belakang kendaraan.
PRINSIP

Bila kendaraan dijalankan pada kecepatan


konstan, maka kecepatan kendaraan dan roda-
roda adalah sama (dengan kata lain ; ban-ban
tidak membuang). Akan tetapi, bila
pengemudi menginjak pedal rem untuk
memperlambat kendaraan, maka kecepatan
roda-roda akan berangsur-angsur berkurang
dan tidak lagi sesuai dengan kecepatan body
kendaraan yang m'elaju dalam kelambanan
(inersia) sendiri. (Mungkin akan terjadi sedikit
slip antara ban-ban dan permukaan jalan).
Perbedaan ratio antara kecepatan bcdy
kendaraan dan kecepatan roda-roda, disebut
"slip ratio". Slip ratio dapat ditentukan dengan
perhitungan seperti berikut :
Slip Ratio = 0 20 40 60 80 100

Kecepatan kendaraan - Kecepatan roda X 100 % : Braking force


: Cornering force
Kecepatan kendaraan
PENTING !
REFERENSI Di atas jalan-jalan yang kasar,
Slip ratio 0% menunjukkan suatu kerikil atau jalan-jalan yang
keadaan di-mana roda-roda berputar tertutup salju, pengoperasian
bebas tanpa tahanan. Slip ratio 100% ABS dapat menghasilkan jarak
menunjukkan suatu keadaan di-mana penghentian yang lebih jauh
roda-roda mengunci total dan ban-ban dibandingkan dengan
akan 1 membuang (skidding) pada kendaraan yang tidak
permukaan jalan. menggunakan ABS.
Bila perbedaan antara kecepatan roda dan kecepatan kendaran
terlampau besar, maka slip akan terjadi antara ban-ban dan permukaan
jalan. Hal ini akan menimbulkan gesekan dan akhirnya dapat berlaku
sebagai tenaga pengerem serta memperlambat kecepatan kendaraan.
Hubungan antara daya pengereman dan slip ratio dapat lebih jelas
dipahami dari grafik ini.
Kekuatan pengereman tidak harus seimbang dengan slip ratio, dan
mencapai maksimumnya pada waktu slip ratio berada diantara 10 dan
30%. Bila melampaui 30%, maka tenaga pengereman akan berkurang
secara bertahap. Oleh karena itu, untuk menjaga agar tenaga
pengereman pada tingkat maksimal, maka slip ratio harus diusahakan
agar selalu berada dalam tingkat TO sampai 30%. ABS direncanakan
untuk menggunakan slip ratio ini dan memaksimalkan kemampuan
pengereman tanpa memperhatikan keadaan jalan.