Anda di halaman 1dari 51

PENGENDALIAN DAN

PENJAMINAN MUTU

PERTEMUAN 1
PENDAHULUAN

YUSNAWATI, ST., MT.


Tata Tertib
 Memakai kemeja/dilarang memakai jas
almamater di dalam ruangan maupun topi
 Tidak memakai celana koyak-koyak
 Memakai sepatu tertutup
 Hp di non aktifkan
 Bagi perempuan dilarang memakai baju ketat
 Sopan dalam memberikan interupsi
 Jangan terlambat
 Dilarang titip absen
Kontrak Kuliah
<75% Kehadiran,
 Absen : 5% tidak diizinkan ikut ujian!

 Tugas : 10%
 Quiz : 15%
 UTS : 30%
 UAS : 40%
100%
PENDAHULUAN
 Definisi Mutu
 Sejarah dan evolusi sistem manajemen
mutu
 Benefit Mutu Dan Pengendalian Mutu
 Konsep QC, QA, TQC, TQM
I. DEFINISI MUTU
1.1 MUTU MENURUT GURU MUTU
1.1.1 Deming’s 14 points
Dr. Edwards Deming adalah salah salah satu figur terkemuka
dalam bidang mutu. Dr. Deming telah banyak menerima pujian atas
prestasinya dalam mentransformasi Jepang dari negara kalah
perang yang menghasilkan produk-produk bermutu rendah menjadi
negara yang sangat dikenal sebagai superpower dalam bidang
manufakturing. Pandangannya tentang mutu dapat dijelaskan
sebagai berikut:

Menurut Deming, mutu terletak pada kemampuan memberikan


kepuasan kepada pelanggan (satisfying customer or customer
needs). Kebutuhan pelanggan menurut Deming termasuk
karakteristik dari produk, ketersediaan di pasar dan harganya..
Deming mengemukakan pendekatannya dalam mendapatkan mutu
dalam 14 point yang menurutnya sebagai tanggung jawab top
management :

1) Lakukan perbaikan secara terus menerus terhadap produk dan


pelayanan. Lakukan inovasi dan alokasikan sumberdaya dalam
jangka panjang.
2) Adopsi filosofi baru, jangan berikan toleransi terhadap suatu
penyimpangan atau cacat yang sering ditemui.
3) Hentikan ketergantungan pada inspeksi secara masal untuk
men-dapatkan mutu. Inspekasi tidak melakukan perbaikan
mutu tetapi hanya memisahkan produk tidak bermutu dari
produk bermutu. Mutu hanya dapat diperoleh melalui proses
yang diciptakan untuk itu.
4) Akhiri praktek pemberian penghargaan hanya berdasarkan har-ga.
Minimalkan total biaya melalui kerjasama dengan supplier tunggal.
5) Perbaiki secara terus menerus setiap proses dalam peren-canaan,
produksi, dan pelayanan. Perbaiki secara periodik metode pengujian
dan identifikasi masalah mulai dari tahap yang paling awal hingga
distribusi kepada pelanggan.
6) Lembagakan on the job training. Di Jepang, para manajer memulai karir
mereka dengan long internship. Mereka bekerja dalam procurement,
accounting, distribution dan sales
7) Adopsi dan lembagakan leadership. Pekerjaan manajemen bu-kan
supervisi tetapi leadership
8) Hindarkan perasaan takut. Perasaan takut sangat menghambat
keberhasilan. Keberhasilan hanya dapat diperoleh melalui rasa
percaya diri.
9) Uraikan hambatan diantara para staf. Bentuk tim yang ber-
anggotakan semua sektor untuk mencegah timbulnya masalah
serta pemecahan masalah
10) Hindari slogan-slogan, peringatan - peringatan (exhortations) dan
target-target pada karyawan. Poster dan slogan tidak pernah
membantu dalam melakukan pekerjaan yang baik
11) Eliminasi kuota secara kuantitatif bagi karyawan dan sasaran
kuantitatif bagi manajemen
12) Hilangkan hambatan-hambatan yang merampas rasa bangga
karyawan. Eliminasi pembuatan annual rating atau annual merit
system
13) Lembagakan program yang jelas dan tangkas untuk pendidikan
self-improvement bagi setiap orang
14) Letakkan setiap orang dalam perusahaan untuk bekerja guna
menyelesaikan transformasi.
1.1.2 Crosby’s Four Absolutes
Menurut Philip B. Crosby, mutu adalah kesesuaian dengan
kebutuhan (quality is conformance with requirements). Bagi Crosby,
ada empat prinsip yang bersifat fundamental dalam pencapaian
mutu yaitu “ do it right from the first time”.

1) Definisi mutu ialah kesesuaian dengan kebutuhan. Agar mutu


dapat diukur maka kata kebutuhan (requirements) perlu
dinyatakan secara jelas sehingga tidak menimbulkan
kesalahpahaman. Pengukuran harus dilakukan secara
berkesinambungan untuk memastikan bahwa kesesuaian
dengan kebutuhan telah dicapai.
2) Sistem mutu adalah pencegahan. Salah satu kesalahan utama
dalam praktek mutu konvensional berada pada bidang
penilaian bahwa penilaian dilakukan setelah fakta terjadi. Cara
demikian akan sangat mahal dan tidak handal dalam
membangun mutu. Untuk membangun mutu, pencegahan harus
diutamakan.
3) Standar kinerja adalah zero defects (tanpa cacat). Istilah a
shipped-product quality level bermakna toleransi terhadap error
secara terencana. Juga istilah acceptable quality level juga
tidak berbeda bahwa ada sejumlah item yang bersifat non-
conformance dalam acceptable lot.
4) Pengukuran mutu adalah harga dari ketidak sesuaian (non-
cormance). Mutu dipandang bukan sebuah fungsi manajemen
tetapi secara teknikal. Mutu juga tidak boleh dilihat dari sudut
finansial tetapi diukur berdasakan indeks dan cacat.
1.1.3 Juran’s Trilogy
Bagi Dr. Joseph M. Juran, mutu memiliki arti yang sinonim dengan fitness for
use, sebuah definisi yang mencakup kebebasan dari cacat dan features yang
membawa kepuasan. Beliau mengemukakan sebuah pendekatan konseptual
untuk mengelola mutu- sebuah trilogi proses dalam pengelolaan mutu. Quality
should be planned, controlled and improved.

1) Quality Planning
Suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan mengenai kebutuhan mereka,
produk dan fitur yang diinginkan dan proses yang menjamin produk-produk
yang dikirim kepada pelanggan memiliki atribut yang sesuai dan
memfasilitasi transfer of knowledge to the producing arm of the organization
2) Quality Control
Suatu proses pengujian dan evaluasi produk terhadap kebutuhan yang telah
ditetapkan oleh pelanggan. Masalah yang ditemukan kemudian dikoreksi

3) Quality improvement
Suatu proses dalam mekanisme yang berkelanjutan yang dilaksa-nakan untuk
mendapatkan mutu yang semakin baik. Mekanisme ini mencakup alokasi
sumberdaya, penugasan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap mutu,
pelatihan dalam proyek-proyek lanjutan menciptakan struktur permanen
berkenaan dengan pe- ningkatan mutu dan pemeliharaan keberhasilan.
1.1.4 Feignbaum’s Total Quality Control
Dr. Armand V. Feignbaum (mantan manajer manufacturing
operation and quality control for General Electric) mendiskusikan
mutu dalam sektor manufakturing. Bukunya berjudul Total Quality
Control (artinya sebenarnya total control of quality bukan control
of total quality) merekomendasi extended management of quality
yang diaplikasikan pada setiap tahapan mulai dari perancangan
(design) hingga delivery of product.

Menurut Feigenbaum, prinsip total control ialah setiap fungsi


dalam manajemen bertanggung jawab terhadap mutu. Untuk itu,
beliau pada awalnya mengembangkan cost of quality sebagai alat
untuk mengkuantifikasi benefit yang diperoleh dalam penerapan
total quality control
1.1.5 Kaoru Ishikawa
Kaoru Ishikawa seperti cara Jepang pada umumnya mengem-
bangkan suatu konsep pengelolaan mutu yang mencakup semua
kegiatan dalam bisnis disamping external partner. Ishikawa
menyebutnya sebagai companywide quality control.
1.2 REDEFINISI MUTU
1.2.1 American National Standards Institute / American Society of
Quality Control:
Quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability
to satisfy a given need (mutu adalah keseluruhan fitur dan karakteristik suata produk atau jasa
yang memberikan kemampuan produk memuaskan keperluan tertentu
1.2.2 Evolusi Konsep Marketing (Phillip Kotler)
◦ Production Concept
Pelanggan memandang bahwa daya tarik utama suatu produk adalah harga yang murah dan
faktor ketersediaan yang tinggi. Produser harus berkonsentrasi terhadap peningkatan
volume melalui standardisasi produk dan service dengan menggunakan mass production
technology.
◦ The product concept
Pelanggan lebih mengutamakan produk-produk yang mengandung
sejumlah fitur dan benefit dan service yang dapat digunakan
secara memuaskan (performed properly). Fitur-fitur dan benefit ini
merupakan faktor yang sangat menentukan dalam membangun
loyalitas dan kesediaan pelanggan membayar lebih.
◦ The selling concept
Pelanggan tidak akan membeli produk hanya atas dasar
kemampuan penjual (providers) menawarkan produk-produk
tersebut. Tetapi pelanggan selalu membeli value yang dianggap
sebagai solution terhadap masalah mereka.
◦ Marketing approach
Pelanggan hanya akan membeli dan menjadi loyal customer jika
mereka mendapat kepuasan dari apa yang mereka beli.
1.2.3 Evolusi dari Konsep Mutu
David Garvin dalam bukunya Managing Quality menjelaskan lima
pendekatan utama terhadap mutu, yang sebagian paralel dengan
pendekatan marketing yang dikemukakan oleh Kotler.
◦ Transcendent
Mutu hanya dapat dipahami setelah penampilan terhadap serangkaian
objek yang memperlihatkan karakteristik dari mutu tersebut. Sebagai
contoh, mutu seorang artis hanya dapat diketahui secara jelas apabila
dia muncul dalam serangkaian panggung.
◦ Product-based
Mutu didasarkan pada ada / tidaknya atribut tertentu yang diinginkan /
tidak diinginkan dalam produk atau service yang dihasilkan. Jika
atribut yang dimaksud sangat diinginkan maka produk dikatakan
bermutu apabila atribut tersebut ditemukan dalam jumlah besar atau
sebaliknya.
◦ Manufacturing-based
Mutu dalam manufakturing didefinisikan sebagai kesesuaian
(conformance) dari produk atau jasa yang dihasilkan terhadap
seperangkat predetermined requirements atau spesifikasi yang telah
ditetapkan sebelumnya. Apabila produk terkait tidak memenuhi
requirements tersebut maka produk tersebut dinilai bermutu rendah.
◦ User-based
Mutu diukur dari tingkat kepuasan pelanggan dalam menggunakan
produk tersebut. Jika persepsi pelanggan sama atau mendekati harapan
(expectation) maka produk dikatakan bermutu.
◦ Value-based
Mutu terdiri dari penawaran produk atau service kepada pelanggan
dengan karakteristik tertentu pada biaya yang wajar menurut pelanggan
Definisi-definisi di atas menjelaskan bahwa mutu terkait dengan
kepentingan pelanggan, dan perusahaan. Juga perlu disadari
bahwa pelanggan sangat bervariasi dalam hal tipe dan kebutuhan
masing-masing. Maka untuk mengakomodasi berbagai variasi
kebutuhan tersebut, definisi mutu yang dipandang lebih
representatif ialah:
………Quality is a basic business strategy that provide goods
and services that completely satisfy internal and external
customers by meeting their explicit and implicit expectations …

1.2.4 Definisi Berdasarkan Konsep Engineering


(Genichi Taguchi)
The loss of a product causes to society after being shipped other
than any losses caused by its intrinsic functions. Definisi Taguchi
sangat berbeda dengan definisi lain karena Taguchi hanya melihat
dari aspek engineering sedangkan yang lain dari value to customer.
1.2.6 Definisi Mutu Menurut ISO 8402
ISO sebuah kata yang dalam bahasa Greek artinya equal (sama).
Tetapi dalam konteks mutu, ISO adalah sebuah singkatan dari
Interna-tional Organization for Standarization. Namun demikian,
menurut Kelada, kata ISO bukan sebuah singkatan tetapi sebuah
simbol dari lembaga internasional berbentuk federasi dari badan-
badan standar nasional. Objek dari ISO ialah:

◦ mempromosikan di seluruh dunia pengembangan standar dan


kegiatan yang berkaitan dengannya termasuk penilaian faktor ke-
sesuaian (conformity assessment),
◦ memperbaiki komunikasi dan kolaborasi
◦ meningkatkan pertumbuhan secara lebih merata dan kelancaran
perdagangan internasional
◦ memfasilitasi pertukaran barang dan jasa secara internasional
◦ mengembangkan kerjasama dalam bidang intelektual, ilmu pe-
ngetahuan, teknologi, dan ekonomi.

ISO menghasilkan kesepakatan teknikal internasional yang


dipublikasi sebagai standar internasional. Ruang lingkup kerja ISO
meliputi standarisasi dalam semua bidang kecuali dalam bidang
electrical dan electronic engineering yang telah menjadi
tanggungjawab dari International Electrotechnical Commission
(IEC).
Pada tahun 1979, ISO membentuk sebuah komite teknik yang
disebut Technical Committee 176 (TC 176) untuk Quality
Management dan Quality Assurance. Berdasarkan hasil kerja
komite ini, maka pada tahun 1987 diciptakan ISO 9000 series
standards, sebuah series yang terdiri dari lima standar internasional
tentang manajemen mutu dan penjaminan mutu yaitu ISO 9000,
9001, 9002, 9003 dan 9004. Untuk membangun kesamaan persepsi
tentang standar-standar yang diciptakan oleh ISO maka diterbitkan
pula ISO 8402 Quality-Vocabulary yang berisikan terminologi dan
definisi-definisi yang relevan dengan manajemen mutu dan
penjaminan mutu.
Tabel- : ISO 9000 Series
Standar Title Use
ISO 9000-1 Quality Management and Menjelaskan fundamental dari konsep mutu, dan
Quality Assurance - Part 1: pedoman dalam pemilihan dan penggunaan dan
Guidelines for Selection and penyesuaian ISO 90001, 9002, dan 9003
Use
ISO 9001 Quality Systems- Model for Mencakup semua elemen yang terdapat dalam ISO
Quality Assurance in Design, 9002 dan 9003. Selanjutnya, menjelaskan design,
Development, Production development, service capabilities. ISO 9002 merupa-
and Servicing kan standar yang paling komprehensif.
ISO 9002 Quality Systems- Model for Menjelaskan pencegahan, pendeteksian, dan peng-
Quality Assurance in oreksian masalah-masalah selama masa produksi dan
Production and Instalation instalasi. ISO 9002 lebih ekstensif dan lebih canggih
dari ISO 9002
ISO 9003 Quality Systems- Model for Menjelaskan persayaratan untuk pendeteksian dan
Quality Assurance in Final pe-ngontrolan masalah dalam final inspection dan
Inspection and Test pengujian. ISO 9003 bersifat kurang komprehensif
ISO 9004-1 Quality Management and Memberikan petunjuk bagi supplier untuk digunakan
Quality System Elements- dalam pengembangan dan implementasi sistem mutu
Part1: Guidelines dan dalam menemukan sistem mutu mana yang dapat
digunakan. ISO 9004-1 memeriksa masing-masing
elemen sistem mutu
Menurut ISO 8402: mutu ialah seluruh karakteristik suatu produk,
proses, organisasi, orang, kegiatan ataupun sistem yang
memberikan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan tertentu
pada pihak yang membutuhkannya. Karakteristik produk menurut
ISO 8402 terdiri dari:

◦ Suitability yaitu kesesuaian produk tersebut dengan maksud dari


pembuatan produk tersebut (product’s suitability for an intended
use). Kata kesesuaian dapat berupa kesesuian dengan fungsi
(functional suitability) ataupun non-fungsi (non-functional
suitability). Bila sebuah pedang diproduksi untuk digunakan
dalam pertarungan maka kesesuian yang dimaksud ialah
functional suitability. Tetapi apabila pedang tersebut dibuat
sebagai hiasan dinding (sebagai benda ukiran) maka kesesuaian
yang dimaksud adalah non-functional suitability.
◦ Durability yaitu daya tahan atau lamanya masa pakai produk tersebut. Suatu
produk bermutu tidak hanya faktor kesesuaian yang harus dipenuhi tetapi juga
kemampuannya untuk digunakan secara memuaskan dalam jangka waktu
tertentu seperti diharapkan.

◦ Uniformity yaitu keseragaman dari produk dalam berbagai atribut yang dinginkan
pelanggan misalnya karakteristik fisik, proses / prosedur pengiriman dan lain-
lain. Produk berupa makanan misalnya Mc Donald, di restoran manapun akan
ditemukan rasa, aroma, ukuran dan cara pelayanan yang seragam.

◦ Maintainability yaitu kemudahan dalam melakukan perawatan untuk mendapatkan


faktor ketersediaan (availability) yang tetap tinggi. Karakteristik ini dipengaruhi
oleh kemudahan mendapat-kan tenaga teknisi perawatan, ketersediaan suku
cadang dan alat-alat / fasilitas pendukung perawatan produk tersebut.
◦ Dependability yaitu kinerja dari produk tersebut. Karakteristik ini
sebenarnya perpaduan dari karakteristik maintainability, reliability.

◦ Compatibility yaitu kemampuan dari entitas tertentu untuk


digunakan secara bersama dalam kondisi tertentu dengan
memenuhi persyaratan atau dipertukarkan (interchangeability)
atau kemampuan suatu entitas untuk digunakan dalam di tempat
lain tanpa memerlukan modifikasi dengan tetap memenuhi
persyaratan yang sama misalnya faktor keselamatan, capaian
kinerja dan lain-lain.
II. SEJARAH PERKEMBANGAN MUTU
2.1 PERIODESASI KONSEP MUTU
Sejarah mutu dalam dunia manufakturing sudah berlangsung lebih
dari 200 tahun yaitu sejak pesatnya perkembangan dan persaingan
pasar produk-produk industri manufakturing yang pada masa itu
disebut machanical industries (Pyzdek, T., 1999). Namun,
kesadaraan mutu dalam dunia bisnis (bukan hanya di sektor industri
manufakturing) mengalami pertumbuhan pesat sejak tahun 1970
seiring dengan bangkitnya kesadaran produktivitas di Amerika Serikat
setelah secara beruntun kalah bersaing dengan Jepang dalam
industri otomotif, kimia dan elektronik.

Kesadaran mutu pada para pebisnis terkait kuat dengan kenyataan


dilapangan bahwa perusahaan-perusahaan yang menghasilkan
produk-produk dan service yang bermutu tinggi menikmati market
share dan profitability yang semakin tinggi.
Garvin (1985) mencatat bahwa selama Abad XIX mutu telah mengalami
pekembangan melalui empat era yang disebutnya sebagai quality eras
yaitu inspection, statistical quality control, quality assurance dan
strategic quality management. Era ke lima yang sedang muncul ialah
complete integration of quality into overall business system.

2.1.1 Era Inspeksi (The Inspection Era)


Dalam era ini, yaitu sebelum revolusi industri, produk-produk dihasilkan
sebagai barang kerajinan oleh craftmen untuk kepentingan pelanggan
secara individual. Produser (craftmen) membuat produk yang bersifat truly
customize dan setiap item unik. Seluruh proses mulai dari pengadaan
bahan, produksi, inspeksi, penjualan dan dukungan supplier dilakukan
sendiri oleh para craftmen. Revolusi industri di Amerika kemudian merubah
situasi secara dramatik.
Para produser tidak lagi membuat produk secara crafting tetapi telah
menggunakan special-purpose machinery untuk membuat parts dan
komponen yang dapat dipertukarkan (interchangeable). Tata urutan
operasi telah ditentukan sebelum operasi dilakukan oleh orang-
orang yang mengoperasikan mesin-mesin untuk memproduksi part
yang identik satu dengan yang lain dengan tujuan agar penggantian
part / komponen dapat dilakukan. Dengan munculnya metode pre-
established sequence of operation tersebut maka operator yang
kurang terampil dapat melakukan operasi dengan baik sehingga
labour cost dapat diturunkan sekali gus meningkatkan produktivitas
secara signifikan.

Kunci keberhasilan dari interchageable part tersebut ialah akurasi


setiap part terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Sehubungan
dengan itu upaya besar diberikan pada pembuatan prototipe kerja.
Manufacturing process dirancang untuk repreduksi prototipe dengan
variasi yang minimal. Tooling, jig dan fixture dan lain-lain diproduksi
dengan toleransi yang tepat
Mutu bahan, dikontrol secara ketat dan inspeksi yang ketat juga dilakukan
pada setiap tahap proses dengan menggunakan sistem pengukuran.
Hingga awal tahun 1900-an inspeksi telah matang hingga tahapan tertentu
yang oleh F. W. Taylor disebut sebagai salah satu kegiatan yang harus
memiliki bos tersendiri.

2.1.2 Era Pengendalian Mutu (Quality Control Era)


Era ini, ditandai dari penolakan pendekatan mutu berdasarkan inspeksi
yang diawali oleh Walter A. Shewhart. Buku beliau yang dijadikan sebagai
landmark berjudul Economic Control of Quality of Manufacturing (1931)
diperkenalkan sebagai era modern dari manajemen mutu. Dalam tahun
1924, Shewhart menjadi bagian dari working group di Western Electric’s
Inspection Engineering Departement of Bell Laboratories.
.
Anggota-anggota lain adalah Harold Dodge, Harry Roming, G.D. Edwards dan
Joseph Juran yang semuanya sangat dikenal dalam who is who di bidang
manajemen mutu.

Menurut Shewhart, variasi tidak akan mungkin dieliminasi sepenuhnya. Oleh


karena itu tugas utama pengendalian mutu bukan pada identifikasi variasi
terhadap kebutuhan tetapi membedakan variasi satu dengan variasi lain yang
merupakan hasil normal setiap proses. Pandangan ini membawa Shewhart
kepada konsep baru yang dikenal sebagai statistical quality control. Konsep
statistical quality control menurut Shewhart adalah sebagai berikut:
A phenomenon will be said to be controlled when, through the use of past experience,
we can predict, at least within limits, how the phenomenon may be expected to vary in the
future. Here, it is understood that prediction means that we can state at least
approximately the probability that the observed phenomenon will fall within the given limits
(Shewhart, 1931,p.6)
.
Pendekatan Shewhart dalam mutu adalah mengidentifikasi limit dari
va-riasi yang dapat diharapkan dari proses dalam keadaan normal.
Berbeda dengan inspeksi, pendekatan Shewhart tidak
membutuhkan 100 % inspeksi tetapi menggunakan sampel dan
pendekatan ini dikenal sebagai Statistical Process Control (SPC).
Salah satu tool dari SPC ialah control chart.

Sementara Shewhart mempopulerkan process-focused approach,


Dodge dan Roming mengemukakan product sampling yang dikenal
sebagai acceptance sampling. Asumsinya ialah, informasi yang
memadai terhadap mutu produk yang dikirimkan dapat diperoleh
dari sampel.
Dengan acceptance sampling, 100 % inspeksi yang selain memakan
waktu banyak juga biaya yang tidak kecil akan dapat dihindarkan.
Da-lam implementasinya, pendekatan acceptance sampling ini
menunjuk-kan keberhasilan besar seperti dilaporkan oleh The War
Department USA yang secara intensif digunakan dalam pengadaan
alat-alat tempur semasa PD II.

Dalam era ini mulai tumbuh asosiasi yang berlatar belakang mutu,
yang diawali oleh beberapa perusahaan komersial yang
menggunakan pendekatan SPC. Kisah sukses berbagai perusahaan
menggunakan pendekatan SPC kemudian mendorong munculnya
asosiasi-asosiasi baru yang mempunyai interest yang sama seperti
Society of Quality Engineers (1945), American Sosiety for Quality
(1946), The Buffalo Society of Quality Engineers (1944) yang
kemudian menerbitkan jurnal Industrial Quality Control yang
merupakan jurnal pertama di bidang mutu.
2.1.3 Era Penjaminan Mutu (The Quality Assurance
Era)
Salah satu faktor utama dari acceptance sampling ialah ide tentang
acceptance quality level (AQL). Secara konseptual, AQL adalah suatu less-
than-perfect level of quality yang manajemen bersedia
mempertahankannya dalam jangka panjang. Secara formal, AQL
didefinisikan sebagai berikut:

The maximum percentage or proportion of variant unit in a lot or batch that for
purposes of acceptance sampling can be considered satisfactory as a process
average. (ASQ Statistics Division, 1983, p.46).

Quality accurance (penjaminan mutu) didasarkan pada premis bahwa


cacat-cacat dapat dicegah, misalnya berbagai losses akibat mutu yang
rendah dapat secara ekonomi dieliminasi
Juran (1951) mendasarkan teorinya bahwa biaya mutu dapat
dibagi ke dalam biaya pencegahan (costs of prevention) dan biaya
kegagalan (costs of failure). Dengan melakukan investasi dalam
perbaikan mutu, manajemen dapat meraih pendapatan yang
signifikan dalam menurunkan tingkat kegagalan. Model Juran dalam
biaya mutu dapat dijelaskan dengan Gbr- 1.

Model biaya mutu di atas menunjukkan bahwa total quality cost


optimum pada salah satu titik dibawah tingkat mutu yang sempurna
(less than perfect). Pada tingkat mutu di atas optimum biaya
pencegahan (prevention cost) akan meningkat tajam sedangkan
dibawah optimum, biaya kegagalan (failure cost) semakin
meningkat
Cost Total cost

Optimum Quality
Level

Prevention cost
Failure cost

Quality Level Perfect Quality

Gbr- 1 : Model Biaya Mutu


Dengan pola pikir model di atas, manajer akan dimotivasi untuk
menemukan investasi yang tepat untuk mutu dari produk-produk
yang dihasilkannya. Biaya kegagalan tinggi digunakan untuk
menjastifikasi pertambahan biaya untuk perbaikan mutu. Sebaliknya
juga, biaya kegagalan rendah digunakan untuk menjastifikasi
perbaikan mutu.

Model biaya mutu yang dikembangkan oleh Juran tersebut


mempunyai implikasi pada manajemen secara umum. Model
tersebut menunjukkan bahwa uang yang dikeluarkan dalam area di
luar inspeksi membawa pengaruh pada mutu misalnya keputusan
dalam design engineering. Sehubungan dengan itu, pada tahun
1956, Arman Feignbaum memperkenalkan ide Total Quality
Control. Menurut pengamatan beliau, manufakturing hanyalah salah
satu elemen dari rantai kegiatan yang panjang dalam pembuatan
suatu produk baru. Kegiatan-kegiatan lain yang terlibat antara lain:
design, procurement, storage, delivery, installation.
Prinsip pertama yang harus dipahami ialah quality is everyone’s
job. Total quality artinya setiap fungsi mempunyai peran penting
dalam penjaminan mutu. Feignbaum mengembangkan sebuah
matriks yang memperlihatkan kaitan dari area fungsional dan
kegiatan pengendalian mutu yang bersesuaian. Total quality control
yang artinya total control of quality bukan to control total quality
haruslah diimplentasikan secara seksama di seluruh level organisiasi
termasuk pada unit yang menangani suppliers.

Phillip Crosby mempopulerkan pendekatan zero defect dalam


jaminan mutu. Philosophy zero defects diawali pada sebuah
perusahaan industri manufakturing Martin yang memproduksi fasilitas
missile di Orlando Amerika Serikat. Program yang dikembangkan
oleh Martin dalam mengimplementasikan zero defect philosophy ialah
menumbuhkan motivasi karyawan. Pengalaman Martin telah
menjelaskan bahwa defect adalah hasil dari motivasi kerja yang
rendah.
Pengalaman Martin telah menjelaskan bahwa defect adalah hasil dari
motivasi kerja yang rendah. Pengalaman yang diperoleh Martin
dalam mengimplementasikan zero defect philosophy menyimpulkan
bahwa dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk membangun
motivasi tetapi sangat singkat untuk menerapkan teknik zero defect
tersebut.

2.1.4 Era Manajemen Mutu Strategis (Strategic


Management Era)
Perspektif penjaminan mutu (quality assurance) dalam implementasi
sering mengalami berbagai hambatan yang dinilai cukup serius
terutama karena pendekatan tersebut hanya fokus pada faktor
internal. Spesifikasi dirancang oleh para product designer yang dalam
kenyataan tidak jarang berdasarkan ide-ide yang kabur tentang apa
sebenarnya yang diinginkan oleh pelanggan.
Ruang lingkup penjaminan mutu pada umumnya dibatasi pada
aktivitas-aktivitas yang berada dibawah kendali langsung
manajemen sedangkan berbagai aktivitas seperti transportasi,
storage, installation, dan service yang diluar kendali manajemen
sering terabaikan atau hanya sedikit mendapat perhatian.
Penjaminan mutu hanya sedikit bahkan sering mengabaikan
masalah persaingan.

Dalam kaitannya dengan persaingan bisnis, pendekatan mutu yang


diadopsi oleh perusahaan-perusahan yang besaing sangat
bervariasi. Sebagian quality leaders menjadi pionir serta
memproteksi posisinya dalam paten atau copyright, yang lain fokus
pada citra dan pelayanan.
Sebagian perusahaan melakukan identifikasi terhadap kebutuhan
spesifik segmen pelanggan dan ada pula pada pengembangan
operasi-operasi dan teknologi yang berdampak value-added yang
tinggi.

Apabila perusahaan telah memperoleh keunggulan mutu maka


keunggulan tersebut terus dipelihara dan ketika pasar telah
mengalami fase kematangan (mature or saturated market) maka
kompetisi akan memerosotkan keunggulan tersebut. Mutu harus
dipandang dari perspektif pelanggan dan bukan pada keseuaian
terhadap apa yang diperkirakan menjadi kebutuhan pelanggan.
Namun demikian, mutu tidak boleh hanya berdasarkan pendapat
pelanggan karena pelanggan juga tidak luput dari keterbatasan
yaitu kesadaran mereka tentang potensi innovasi.
Hasil inovasi sering membuat selera / keinginan pelanggan berubah
secara drastis dari apa yang mereka inginkan selama ini.

2.2 DARI INSPEKSI KE MANAJEMEN MUTU


TERPADU
Pengendalian mutu adalah suatu proses manajemen yang
berkenaan dengan semua proses yang ditujukan kepada tercapainya
kondisi operasi yang mampu menghasilkan produk sesuai dengan
standar mutu yang diharapkan.

Pengendalian mutu terdiri dari proses pengawasan, monitoring dan


pengumpulan data mutu serta pelaksanaan tindakan perbaikan
terhadap setiap penyimpangan yang ditemukan.
Manajemen mutu
terpadu

Manajemen
mutu
Quality Level

Penjaminan
mutu

Pengendalian
proses statistik

Pengendalian
Inspeksi

Period
Gbr-1 : Perkembangan Konsep Pengendalian Mutu
Pha Nomen- Description
se lature
1 Inspection Inspection of finished products in manufacturing
2 Control Quality control of manufactures products (tests, labs, etc)
3 Statistcal Quality control of incoming materials,wip, and finished products.
Process
Controll
4 Quality Quality planning and control in product design, incoming materials, wip
Assurance and finished products

5 Quality Quality planning, control and assurance in product design, supplier


Management evaluation, incoming materials, wip, finished goods and after sale
service. ISO 9000 standard applied in (1) manufacturing and service
industries (2) partnership in up and down stream
6 Total Quality Objective: Shareholder-customer-people satisfaction
Management Mean : Leadership in quality, internal and external partnershps, top
management involvement, continuous improvement and
innovation, total quality management, business re-
engineering.
Quality Enginerring,
15/07/2019 Copyright by S. Sinulingga
III. BENEFIT MUTU DAN PENGENDALIAN MUTU

3.1 BENEFIT MUTU


Sejumlah benefit yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang mena-
warkan superior quality produk atau service kepada pelanggan antara
lain ialah: stronger customer loyalty, more repeat purchase, less
vulnerability to price war, ability to command higher relative price
without affecting market share, lower marketing costs and market-
share improvement.

Disamping benefit di atas, mutu juga mempengaruhi pertumbuhan


bisnis. Pelanggan selalu mempersepsikan bahwa mereka menerima
value yang lebih tinggi dalam pembelian jika mereka memperoleh
produk / service bermutu tinggi.
Dengan demikian, mutu yang tinggi potensial menumbuhkan chain
reaction. Superior quality dan market share akan menumbuhkan
produktivitas yang tinggi.

3.2 PENGENDALIAN MUTU


Karena demikian besarnya benefit yang diperoleh dari superior
quality maka para pemimpin bisnis selalu berupaya untuk
menemukan strategic quality advantages.

3.2.1 Klasifikasi Quality Control


Cara untuk memperbaiki / mengendalikan mutu produk secara garis
besar dapat dibedakan atas on-line control dan off-line control. On-
line dan off-line control masing-masing didefinisikan sebagai berikut
(Taguchi, G., 1989):
◦ On-line Quality Control
On-line quality control is a set of quality control activities that conducted during
the production cycle of a product
(seperangkat kegiatan pengendalian mutu yang dilakukan selama
siklus produksi dari suatu produk).

◦ Off-line Quality Control


Off-line quality control is quality control activities at the production planning,
design, production engineering phases
(kegiatan pengendalian mutu yang dilakukan dalam fase product
planning, design dan product engineering).
Dari definisi di atas terlihat perbedaan bahwa off-line quality control
adalah pengendalian mutu atas produk yang akan dibuat melalui
tahapan proses sebelum proses manufakturing sedangkan on-line
quality control adalah pengendalian mutu ketika proses
manufakturing sedang berlangsung.

On-line quality control juga dapat dibedakan atas dua tipe (lihat
Tabel-4).
◦ Pertama ialah tipe konvensional yang dikenal sebagai control
chart-based approach. Tipe pengendalian mutu kovensional ini
dikenal sebagai variable control chart (peta x dan peta R) dan
attribute control chart (peta p, peta c dan peta u) yang sering
dikenal sebagai Pengendalian Kualitas Statistik (Statistical Quality
Control).
◦ Kedua ialah pengendalian yang dilakukan dengan menemukan
optimal control limits untuk parameter-parameter proses produksi dan
pemeriksaan interval untuk mendapatkan total loss yang minimum.

Salah satu dari on-line quality control tipe ke dua ini adalah on-line
feedback quality control yang akan dibahas dalam sub-bab ini.
Yang dimaksud dengan on-line feedback quality control ialah
karakteristik produk pertama di ukur dan hasil pengukuran ini
selanjutnya dianalisis dan kemudian diinput kepada upstreem
process untuk penyesuaian. Dengan cara ini, variasi pada
karakteristik produk pada urutan berikutnya diharapkan akan
berkurang.
Tabel- 4 : Off-Line and On-Line Quality Control

On-Line Quality Control


Off-Line QC
(Quality Tradisional Non-Tradisional
Engineering) Variable Attribute Variable Attribute Process
Control Control Control Control Improvement

Product Plan-
x Chart p Chart Feedback
ning Quality Control
Design Engi- Process Para-
neering
R Chart c Chart meter Control
Production
Engineering
 Chart u Chart
Tugas
 Uraikan dengan jelas konsep QC, QA,
TQC, TQM