Anda di halaman 1dari 14

z

Asuransi berasal dari kata insurance yang artinya pertanggungan. Asuransi


merupakan suatu perjanjian antara tertanggung atau nasabah dengan
penanggung atau perusahaan asuransi. Pihak penanggung bersedia
menanggung sejumlah kerugian yang mungkin timbul dimasa yang akan datang
setelah tertanggung menyepakati pembayaran uang yang disebut premi. Premi
merupakan uang yang dikeluarkan oleh tertanggung sebagai imbalan kepada
penanggung.
z

Dalam menerjemahkan istilah asuransi ke dalam konteks asuransi Islam


terdapat beberapa istilah, antara lain takaful (bahasa Arab), ta’min (bahasa
Arab) dan Islamic insurance (bahasa Inggris). Istilah-istilah tersebut pada
dasarnya tidak berbeda satu sama lain yang mengandung makna
pertanggungan atau saling menanggung. Apabila kita memasukkan
asuransi takaful ke dalam lapangan kehidupan muamalah, maka takaful
dalam pengertian muamalah mengandung arti yaitu saling menanggung
risiko di antara sesama manusia sehingga di antara satu dengan lainnya
menjadi penanggung atas risiko masing-masing. Dengan demikian,
gagasan mengenai asuransi takaful berkaitan dengan unsur saling
menanggung risiko di antara para peserta asuransi, di mana peserta yang
satu menjadi penanggung peserta yang lainnya
z

1. Asuransi Jiwa
Jenis mekanisme pengalihan risiko yang satu ini memiliki tujuan menanggung kerugian finansial
dari risiko kematian yang menimpa tertanggungnya akibat hal yang tidak terduga. Pemberian
tanggungan tersebut biasanya diserahkan kepada ahli waris yang merupakan keturunan tertanggung.
Dengan adanya nilai pertanggungan tersebut, diharapkan kehidupan keluarga dari tertanggung yang
meninggal mendadak tersebut tidak semakin sulit. Asuransi jiwa juga memberikan pertanggungan
kepada tertanggung yang telah mencapai usia lanjut, kemudian tidak mampu lagi beraktifitas guna
mencari penghasilan. Risiko tidak mampunya mencari nafkah ini akan ditanggung oleh pihak
asuransi jika pihak tersebut memiliki polis asuransi jiwa. Banyaknya kepentingan yang menyangkut
tentang kesempatan hidup seseorang dan kualitas hidupnya membuat pihak asuransi memiliki
berbagai produk asuransi jiwa yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. Bermacam produk tersebut
seperti di bawah ini.
z

1. Asuransi Umum
Pertanggungan asuransi umum ditujukan kepada harta benda yang mengalami
risiko kehilangan atau rusak. Jenis asuransi yang satu ini juga dapat
memberikan jaminan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang
dirugikan dari pergerakan harta benda tersebut. Produk-produk dari asuransi
umum, antara lain sebagai berikut :
• Asuransi Pengangkutan
• Asuransi Kebakaran
• Asuransi Kendaraan Bermotor
• Asuransi Kecelakaan Diri
• Asuransi Kesehatan
z

• Memindahkan Resiko seseorang ataupun perusahaan dapat memindahkan resiko


kepada perusahaan asuransi dengan membayar premi yang relatif kecil bila
dibandingkan kerugian yang mungkin terjadi.
• Praktis kita secara otomatis akan diwajibkan menyisihkan dana untuk membayar
premi, hal ini sangat menguntungkan terutama untuk mereka yang kurang disiplin.
• Mampu memberikan dana dengan segera Misalkan kita sakit dan perlu biaya
berobat yang cukup besar, dan saat itu kita tidak memiliki uang tunai yang cukup.
Kita tidak perlu khawatir kalau memiliki asuransi kesehatan. Hal ini dikarenakan,
sebagian atau seluruh biaya pengobatan akan dibayar oleh perusahaan asuransi
Anda. Tentunya ini tergantung perjanjian yang tertera dalam polis asuransinya.
• Dapat berfungsi sebagai tabungan Manfaat ini biasanya ada pada asuransi jiwa
seumur hidup. Sederhananya, premi yang Anda bayarkan akan kita terima kembali
kalau-kalau kita membatalkan polis atau asuransi sudah jatuh tempo.
z

Keunggulan Asuransi Syariah


• Transparansi Pengelolaan Dana Peserta Asuransi syariah dengan perjanjian di
awal yang jelas dan transparan serta aqad yang sesuai syariah, dana tabarru’
akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah melalui
investasi syar’i dengan berlandaskan prinsip syariah.
• Pengelolaan Dana Peserta secara Islami dengan menghindarkan Riba (Bunga),
Maisir (Judi) dan Gharar (Ketidakjelasan).
Asuransi Syariah menghindarkan dari fungsi asuransi konvensional yang
mengandung Riba (Bunga) Maisir (Judi) dan Gharar (Ketidakjelasan). Dana
Tabarru’ akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi
terjadinya musibah/bencana/klaim yang terjadi diantara peserta asuransi. Melalui
asuransi syariah, dapat mempersiapkan diri secara finansial dengan
tetap mempertahankan prinsip – prinsip transaksi yang sesuai dengan fiqh Islam.
Jadi tidak ada keraguan untuk berasuransi syari’ah
z

 Premi kita akan hangus bila tidak terjadi klaim sampai jangka waktu asuransi habis.
Nasabah asuransi memindahkan resiko rugi pada perusahaan dan mendapat imbalan berupa
rasa aman. Nah, rasa aman itulah yang dibayarkan dengan premi. Jadi, bila asuransi jatuh
tempo, uang yang kita bayarkan tidak akan kembali. Karena pada masa asuransi tersebut,
sebetulnya kita telah membeli perlindungan.
 Lingkup Penanggulangan Resiko terbatas Potensi kerugian yang ditanggung perusahaan
asuransi sangat terbatas pada resiko-resiko yang dapat diukur nilai ekonomisnya. Selain itu,
asuransi hanya akan membayar bila kita mengalami kerugian akibat kejadian yang
tercantum pada polis. Bila kita membeli asuransi kebakaran, tentunya kita tidak akan
mendapat santunan bila rumah kita rusak karena gempa bumi.
z
“ Islam tidak melarang Anda memiliki asuransi. Asuransi diperbolehkan asalkan
dana yang terkumpul dikelola sesuai dengan syariat-syariat Islam. Hal ini
disebutkan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) NO: 21/DSN-
MUI/X/2001 tentang pedoman asuransi syariah. Fatwa tersebut memuat tentang
bagaimana asuransi yang sesuai dengan syariat agama islam.”

MUI juga menegaskan aturan akad yang digunakan dalam asuransi. Akad yang
dimaksud adalah perikatan antara peserta asuransi dengan perusahaan asuransi.
Di dalam akad tidak boleh terdapat unsur gharar (penipuan), maysir (perjudian),
riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat karena
tujuan akad adalah saling tolong-menolong dengan mengharapkan ridha dan
pahala dari Allah.
z
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.
(Qs. Al-Maidah [5]:2)

“Barang siapa yang melepaskan kesulitan


orang mukmin di dunia, Allah akan
melepaskan kesulitannya pada hari kiamat,
dan Allah senantiasa menolong hambanya
selama ia suka menolong saudaranya”
(Hr. Muslim:7028)”
z

1. Akad, Asuransi Konvensional menggunakan akad tabaduli, yakni akad jual beli.
Tentunya di dalam akad jual beli menurut syara' harus jelas ada penjual, pembeli,
barang (objek) yang diperjualbelikan, harga, dan sighat (ijab qabul). Sedangkan
dalam asuransi syariah, akad yang digunakan adalah akad takaful (akad tolong
menolong), yaitu suatu akad tolong menolong sesama peserta, jika salah seorang
peserta terkena musibah maka peserta yang lainnya membantu dengan dana tabarru'
(dana sosial).

2. Prinsip Dasar, Dalam asuransi syariah menggunakan pola saling menanggung resiko
antara perusahaan dan peserta (risk sharing), sedangkan dalam asuransi
konvensional memindahkan resiko dari peserta kepada perusahaan secara penuh
(risk transfer).
z

3. Kepemilikan Dana, Kepemilikan dana pada asuransi syariah merupakan hak


peserta, perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya
secara syariah. Sedangkan pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul
dari nasabah menjadi milik perusahaan, sehingga perusahaan bebas
menentukan alokasi investasinya.
4. Objek. Dalam asuransi syariah, membatasi pengelolaan dananya hanya untuk
objek-objek yang halal (jelas) dan tidak boleh mengandung syubhat. Namun
dalam asuransi konvensional tidak membedakan objek yang halal atau haram
yang terpenting objek tersebut mendatangkan keuntungan.
5. Investasi Dana. Dalam asuransi syariah, jika premi dari nasabah belum dipakai,
maka dana tersebut di investasikan kepada lembaga keuangan yang berbasis
syariah dan di dasarkan pada system bagi hasil. Adapun dalam asuransi
konvensional pengelolaan investasinya pada system bunga yang mengandung
unsur riba.
z

6. Pembayaran Klaim. Asuransi syariah menggunakan system pencairan dana di


tabungan bersama, yaitu dana yang sudah nasabah ikhlaskan untuk tolong
menolong antar nasabah. Sedangkan dalam asuransi konvensional dapat
diketahui berdasarkan perbandingan resiko dan modal. Selain itu, dana
pertanggungan juga diambil dari rekening perusahaan asuransi.
7. Dewan Pengawas Syariah. Asuransi syariah diawasi oleh Dewan Pengawas
Syariah untuk memastikan tidak adanya penyelewengan investasi ataupun
manajemen system pengelolaan yang tidak berdasarkan hukum Islam.
Sedangkan asuransi konvensional tidak memiliki dewan pengawas khusus.
Dewan pengawas untuk asuransi konvensional ialah berdasarkan hukum yang
berlaku di negara tersebut.
8. Dalam asuransi syariah, system pembukuan finansialnya terbuka. Asuransi
syariah memiliki pembukuan keuangan yang terbuka karena berdasarkan
hukum Islam. Segala pihak terutama nasabah asuransi dapat mengetahui
semua pembukuan dananya, sehingga semua keuangan bersifat transparan.
Sedangkan asuransi konvensional memiliki system pembukuan yang tidak
terbuka (tertutup). Semua pembukuan sepenuhnya dikelola oleh pihak
perusahaan dan nasabah tidak perlu tahu hal itu. Semuanya akan diatur oleh
z