Anda di halaman 1dari 31

GEOLOGY OF INDONESIA

KALIMANTAN
Geology Of Kalimantan
Allin Dinda A.S H1F012025
RizkyYoditia H1F012026
Ryoko Razany W H1F012028
Prajarto BudiW H1F012030
Amalia Oktaviany H1F012032
Hilmi Alfian H1F012033
Fuad Ferry F H1F012034
GEOLOGI PULAU KALIMANTAN
 Kerangka tektonik Pulau Kalimantan
 Tatanan Tektonik Pulau Kalimantan
 Tatanan Stratigrafi Pulau Kalimantan terkait
hubungan tektonik dan pengendapan
cekungan di Kalimantan (Cekungan Barito dan-
Cekungan Kutai)
 Potensi-potensi dari Pulau Kalimantan
Pulau KALIMANTAN terletak di
bagian tenggara dari lempeng Eurasia.
Bagian utara Kalimantan dibatasi oleh
cekungan marginal Laut Cina Selatan,
Bagian Timur oleh Selat Makassar, dan
bagian selatan oleh Laut Jawa.
Kerangka tektonik Pulau Kalimantan (Bachtiar,2006)
BAGIAN UTARA :
Kompleks akresi Crocker-Rajang-Embaluh berumur kapur dan
Eosen-Miosen.Dibagian selatan dari kompleks ini terbentuk cekungan
Melawi-Ketungai dan Cekungan Kutai selama Eosen Akhir, dipisahkan
oleh zona ofiolit-melange Lupar-Lubok Antu dan Boyan.

BAGIAN SELATAN :
Schawnner Mountains
berumur Kapur Awal-
Akhir berupa Batholit
granit dan granodiorit
yang menerobos batuan
metamorf regional
derajat rendah

BAGIAN TENGGARA :
Tinggian Meratus yang
membatasi cekungan
barito dan cekungan
asem-asem .Tinggian
Meratus merupakan
sekuens ofiolits dan
busur volkanik Kapur
Awal.
TATANAN TEKTONIK KALIMANTAN
 Basement Pre-Eosen
Bagian Barat daya dari Pulau Kalimantan ini tersusun atas kerak yg
stabil (Kapur Awal) sebagai bagian dari lempeng Asia
Tenggara.Ofiolit dan Sedimen dari busur kepulauan dan fasies laut
dalam ditemukan di Pegunungan Meratus,yang diperkirakan berasal
dari subduksi mesozoikum.Di Wilayah antara Sarawak dan
Kalimantan terdapat sedimen laut dalam berumur kapur-
oligosen(Kelompok Rajang), Ofiolit di Lupar Line,Boyan Melange
antara cekungan ketungai dan Melawi dan unit lainnya yg
menunjukkan adanya komplek Subduksi.Terdapat Intrusif besar
bersifat Granitik berumur Trias diantara cekungan Mandai dan Kutai
atas ( Peter dan Supriatna,1989)
Rekonstruksi Penampang sayatan dari Barat Laut-Tenggara pada crestaceous
akhir dan Eosen (Pertamina BPPKA,1997,op cit.,Bachtiar.,2006)
Permulaan Cekungan Eosen

Keberadaan zona subduksi di bawah barat


laut kalimantan pada periode kapur dan tersier
awal dapat menjelaskan kehadiran
ofiolit,melanges, dan struktur tektonik
kelompok rajang di serawak, formasi crocker
di bagian barat sabah, dan kelompok embaluh,
batas sebelah timur sundaland selama Eosen.
Wilayah Sulawesi yang merupakan batas
konvergensi pada tersier dan kebanyakan
sistem akresi terbentuk sejak Eosen.
Paleocene – Middle Eocene SE Asia tectonic reconstruction.
SCS = South China Sea, LS = Lupar Subduction, MS = Meratus Subduction,
WSUL = West Sulawesi, I-AU = India Australia Plate, PA = Pacific plate
(Pertamina BPKKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006)
Cross section reconstruction of North Kalimantan that show Lupar
subduction in Eocene
(Hutchison, 1989, op cit., Bachtiar 2006))
Tektonisme pada Oligosen
Tektonisme pada Oligosen di sebagian Asia Tenggara
termasuk Kalimantan dan bagian utara lempeng benua
Australia diperkirakan sebagai readjustment dari lempeng
pada Oligosen.Ketidakselarasan pada pertengahan
oligosen hadir di laut cina selatan dan wilayah sekitarnya.
Ketidakselarasan ini dihubungkan dengan pemekaran
lantai samudera di laut cina selatan.Subduksi pada barat
laut Kalimantan terhenti secara progresif dari barat daya
sampai timur laut.Di bagian barat daya berhenti pada
Oligosen dan timur laut pada Miosen Awal
(Holloway,1982, op cit.,Van de Weerd dan Armin,1992).
Late Oligocene – Early Miocene SE Asia tectonic reconstruction.
(Pertamina BPPKA,1997,op cit.,Bachtiar 2006)
NW – SE cross section schematic reconstruction (A) Oligocene – Middle Miocene, and
(B) Middle Miocene - Recent
(Pertamina BPPKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006).
Tektonisme Miosen

Pada Miosen awal-tengah terjadi perubahan


yang sangat penting, yaitu pemekaran lantai
samudera di laut cina selatan berhenti, sebagai
subduksi di palawan dan sabah,mulai terjadinya
pembukaan Laut Sulu dan obduksi ofiolit di
Sabah.
TATANAN STRATIGRAFI KALIMANTAN

 Cekungan Barito
Secara tektonik, cekungan Barito terletak pada batas
bagian tenggara dari Schwanner Shield , Kalimantan
Selatan. Cekungan ini dibatasi oleh Tinggian Meratus pada
bagian timur, dan pada bagian utara terpisah dengan
cekungan kutai oleh pelenturan berupa sesar adang, ke
selatan masih membuka ke Laut Jawa dan ke barat dibatasi
oleh Paparan sunda.
 Cekungan barito merupakan cekungan asimetrik, memiliki
cekungan depan ( foredeep) dan bagian paling timur dan
berupa platform pada bagian barat. Cekungan Barito
terbentuk pada Kapur Akhir, setelah tumbukan (collision)
antara microcontinent paternoster dan baratdaya
Kalimantan (Metcalfe,1996; Satyana,1996).
 Tersier Awal
Deformasi ekstensional sebagai dampak dari tektonik konvergen dan
menghasilkan pola rifting Barat laut-Tenggara.Rifting ini menjadi tempat
pengendapan sedimen lacustrine dan kipas alluvial dari formasi tanjung
bagian bawah diikuti oleh pengendapan formasi tanjung bagian atas
dalam hubunganTransgresi
 Awal Oligosen- Miosen Awal
Pengangkatan yg diikuti oleh pengendapan formasi Berai bagian bawah
yg menutupi formasi tanjung bagian atas secara selaras dalam hubungan
regresi
 Miosen Tengah
Pengangkatan kompleks meratus yg mengakibatkan regresi bersamaan
dengan diendapkannya formasi Warukin bagian bawah.Pengangkatan ini
terus berlangsung hingga akhir miosen tengah yg mengakibatkan
ketidakselarasan regional antara formasi warukin dengan formasi dahor
berumur miosen atas-pliosen.
 Plio-Plistosen
Tektonik terakhir dimana seluruh wilayah
terangkat,terlipat,dan terpatahkan.Sumbu struktur sejajar
dengan tinggian Meratus. Sesar-sesar naik terbentuk dengan
kemiringan arah timur, mematahkan batuan-batuan tersier
dan daerah tinggian meratus.
Urutan Stratigrafi Cekungan Barito dari
Tua ke Muda :
 Formasi Tanjung (Eosen-Oligosen Awal)
 Formasi Berai (Oligosen Akhir-Miosen
Awal)
 Formasi Warukin ( Miosen Bawah-Miosen
Tengah)
 Formasi Dahor (Miosen Atas-Pliosen)
Cekungan Kutai
Cekungan Kutai di sebelah utara
berbatasan dengan Bengalon dan Zona
sesar sangkulirang, diselatan berbatasan
dengan zona sesar adang, di barat
dengan sedimen-sedimen paleogen dan
metasedimen kapur yg terdeformasi
kuat dan terangkat membentuk
kalimantan tengah, di bagian timur
terbuka dan terhubung dengan laut
dalam dari cekungan Makassar bagian
utara.
 Fase Paleogen
Dimulai dengan ekstensional dan pengisian cekungan selama eosen dan memuncak
pada fase longsoran tarikan post-rift dengan diendapkannya serpih laut dangkal dan
karbonat selama oligosen akhir.
 Fase Neogen
Dimulai sejak miosen bawah sampai sekarang,menghasilkan progradasi delta dari
cekungan kutai sampai lapisan paleogen.Sedimen-sedimen yg mengisi cekungan kutai
banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel dengan pantai.Intensitas
perlipatan semakin berkurang kearah timur, sedangkan lipatan di daerah dataran pantai
dan lepas pantai terjal, antiklin yg sempit dipisahkan oleh sinklin yg datar.Lipatan
terbentuk bersamaan dengan sedimentasi berumur neogen.Banyak lipatan asimetris
terpotong oleh sesar naik yg kecil.
Oligosen (tersier awal) :Cekungan kutai mulai turun dan terakumulasi sedimen
sedimen laut dangkal dari formasi serpih bogan dan formasi pamaluan
Awal Miosen : Pengangkatan benua (Dataran tinggi Kuching) ke arah barat dari
tunjaman yg banyak menghasilkan banyak sedimen yg mengisi cekungan Kutai .Ciri khas
sedimen delta terakumulasi pada formasi pulau balang diikuti lapisan formasi
Balikpapan.Subsidence yang berlangsung terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam
dan terbentuk sesar-sesar pada sedimen.
 Pliosen : Pengendapan pada formasi balikpapan dilanjutkan dengan
akumulasi lapisan-lapisan Kampung baru.Serpih-serpih bogan dan formasi
pamaluan menjadi kelebihan tekanan dan tidak stabil menghasilkan
pergerakan diapir dari serpih ini melewati sedimen diatasnya
menghasilkan antiklin-antiklin rapat yang dipisahkan oleh sinklin lebih
datar melewati cekungan kutai dan pada kawasan pinang terbentuk
struktur kerucut pinang dan sinklin lembak.
POTENSI PULAU KALIMANTAN
 Potensi Emas
Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer
dan letakan (placer). Endapan letakan (placer) banyak ditemukan
di sungai, danau, rawa-rawa dan paleo chanel (gosong), sedangkan
yang merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic
berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam dan juga sering
berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit, arseno pirit,
tetrahidrit, kalkopirit dan sedikit pada galena dan spalerit).
Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di
beberapa kabupaten seperti Kab.Kapuas, Kab.Gunung Mas, Kota
Palangka Raya, Kab.Murung Raya, Kab.Barito Timur
,Kab.Seruyan,Kab.Katingan
 Potensi Gambut
Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih dari
20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk dataran rendah dan
rawa. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat,
tengah dan selatan pantai pulau Kalimantan.Sumber energi gambut
biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga
digunakan untuk bahan baker dan memasak yang biasanya dalam
bentuk briket.
Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan
Tengah adalah Daerah antara Sampit dan Kota Besi,daerah antara
Sampit dan Pangkalan Bun,daerah antara Palangka Raya dan Pulang
Pisau.
 Potensi Intan
Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau
Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan berkembang diberbagai
tingkatan sampai sekarang. Intan dipotong dan dipoles/digosok di
Martapura Kalimantan Selatan.Secara umum endapan utama intan
berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit,
contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika
Selatan.
Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang
endapan intan alluvial mempergunakan peralatan dan metode yang
masih sederhana. Intan yang terdapat dalam endapan alluvial
biasanya terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum,
rutile, brookite, quartz, emas, platinum dan pirit. Pasir hitam yang
terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano
magnetite, kromit, garnet, spinel, hyacinth, topaz, dan ruby.
 Potensi Batubara
Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak
awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah
ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar
7.000 ton pertahun saat itu.Batubara banyak ditemukan di Muara
Bakah, Bakanon, Sungai Montalat, Sungai Lahei, Sungai Maruwai
dan sekitarnya. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan
mencapai 1,5 – 7 meter.Lokasi lain yang juga memiliki potensi
kandungan batubara dengan nilai kalori <6.000 kal/gr antara lain :
- Kab.Gunung Mas : Kec.Tewah, Rungan, Kurun, Manuhing.
- Kotawaringin Timur : Kec.Mentaya Hulu, Mentaya Hilir dan
Cempaga.
- Kab.Katingan : Kec.Katingan Tengah, dan Tewang Sangalang garing.
- Kab.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin
Lama
 Potensi Hidrokarbon

Potensi Hidrokarbon di Kalimantan juga cukup banyak terutama


pada daerah Kalimantan Timur, Beberapa lapangan minyak dan gas di
Kalimantan adalah sepanjang pantai timur di Mahakam dan Delta
Tarakan kompleks dan berasosiasi dengan deep water slope channel
dan submarine fan deposit selat Makassar.Cekungan Tarakan
(IBS,2006) merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di
Kalimantan Timur bagian utara.Selain itu, LapanganTanjung di
cekungan Barito adalah salah satu dari banyak lapangan yang
memproduksi minyak dari batupasir akhir Eocene. Di Cekungan
Kutai, hampir semua jalur antiklin di Jalur Antiklinorium Samarinda
dari daratan ke lepas pantai, baik yang tersesarkan maupun yang tidak,
menjadi lapangan-lapangan minyak dan gas. Lapangan-lapangan
minyak dan gas masih ditemukan sampai ke laut dalam yang sudah
masuk ke Cekungan Selat Makassar Utara dengan perangkap berupa
toe-thrust di lereng paparan dan kipas laut dalam di dasar
cekungan(Satyana, 2006).
SEKIAN
DAN
TERIMAKASIH