Anda di halaman 1dari 22

KELOMPOK 3

ALPANDI LAKORO
DESVITA M. ABDUL
ERSAT G. HINTA
KARMILA ISHAK
KRINSA P. PUTRA
A.PENGERTIAN
 Respiratory distress syndrome (RDS) adalah
perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan
atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru.
Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan
dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru.
Gangguan ini biasanya dikenal dengan nama
hyalinemembrane disease (HMD) atau penyakit
membrane hialin, karena pada apenyakit ini selalu
ditemukan pada membrane hialin yang melapisi
alveoli.
B.ETIOLOGI
 Dihubungkan dengan usia kehamilan. Berat badan
bayi lahir kurang dari 2500 gram. Sering kali pada bayi
dengan berat lahir kurang dari 1000 gram. 20%
berkembang dengan bronchopulmunary dysplasia
(BPD). Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi
surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal,
maternal diabetes, seksio sesaria. Respiratory Distress
Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membran
Disease (HMD) didapatkan pada 10% bayi prematur,
yang disebabkan defisiensi surfaktan pada bayi yang
lahir dengan masa gestasi kurang. Surfaktan biasanya
didapatkan pada paru yang matur.
C. PATOFISIOLOGI
.

 RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang


disebabkan kurangnya zat yg disebut surfaktan.
 Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme
anerobik dengan penimbunan asam laktat asam
organic>asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus
alveolaris>transudasi kedalam alveoli>terbentuk
fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang
nekrotik>lapisan membrane hialin.
 Pada bayi dengan RDS, dimana adanya
ketidakmampuan paru untuk mengembang dan
alveoli terbuka. RDS pada bayi yang belum matur
menyebabkan gagal pernafasan karena imaturnya
dinding dada, parenchyma paru, dan imaturnya
endothelium kapiler yang menyebabkan kolaps paru
pada akhir ekspirasi.
 Pada bayi dengan RDS disebabkan oleh menurunnya
jumlah surfaktan atau perubahan kualitatif surfaktan,
dengan demikian menimbulkan ketidakmampuan
alveoli untuk ekspansi. Terjadinya perubahan tekanan
intra-extrathoracic dan menurunnya pertukaran
udara.
D. TANDA DAN GEJALA
Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :
- Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40
kali per menit)
-Sianosis sentral pada suhu kamar yang menetap atau memburuk
pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yg spesifik
- Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi
- Grunting : suara merintih saat ekspirasi
- Pernapasan cuping hidung
- Pernafasan terlihat paradoks
-Apnea (berhentinya pernafasan)
-Murmur
-Menurunnya daya complain paru
-Hipotensi sistemik (pucat perifer, edema, pengisian kapiler
tertunda lebih dari 3 sampai 4 detik.
E.KOMPLIKASI
 Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi :
1. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (
pneumothorak, pneumomediastinum,
pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi
dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala
klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya
asidosis yang menetap.
2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan
penderita yang memburuk dan adanya perubahan jumlah
leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena
tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter,
dan alat-alat respirasi.
3. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan
merupakan komplikasi bayi dengan RDS terutama pada
bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.
F.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Kegunaan

Kultur darah Menunjukkan keadaan bakteriemia

Analisis gas darah Menilai derajat hipoksemia dan keseimbangan asam basa

Glukosa darah Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia dapat


menyebabkan atau memperberat takipnea

Rontgen toraks Mengetahui etiologi distress nafas

Darah rutin dan hitung jenis Leukositosis menunjukkan adanya infeksi


Neutropenia menunjukkan infeksi bakteri
Trombositopenia menunjukkan adanya sepsis

Pulse oximetry Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen


G.PENATALAKSAAN TERAPEUTIK
 1. Perbaikan oksigenasi dan pertahankan volume paru optimal
 2. pemantauan transkutan dan oksimetri nadi
 3.Pemberian aerosol bronkodilator
 4. Fisioterapi thorax
 5.Opsi kardiorespiratori tambahan (ventilasi frekuensi tinggi,
oksigenasi membrane ekstrakorporea, oksida nitrat, ventilasi
cairan).
 6. Pertahankan kestabilan suhu.
 7 .Berikan asupan cairan elektrolit dan nutrisi yang seimbang.
 8. Pantau nilai gas darah arteri, hemoglobin dan hematokrit
serta bilirubin.
 9. Lakukan tranfusi darah seperlunya untuk mempertahankan
hematokrit
 10. Pertahankan jalur arteri (arterial line) untuk memantau
PaO2 dan pengambilan sampel darah.
LANDASAN ASUHAN
KEPERAWATAN
1.PENGKAJIAN
A.IDENTITAS KLIEN
Riwayat maternal
- Menderita penyakit seperti diabetes mellitus
- Kondisi seperti perdarahan placenta
- Tipe dan lamanya persalinan
- Stress fetal atau intrapartus
Status infant saat lahir
- Prematur, umur kehamilan
- Apgar score, apakah terjadi aspiksia
- Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar
Cardiovaskular
- Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat
- Murmur sistolik
- Denyut jantung dalam batas normal
Integumen
- Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral
- Pitting edema pada tangan dan kaki
- Mottling
Neurologis
- Immobilitas, kelemahan, flaciditas
- Penurunan suhu tubuh
- Pulmonary
- Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 – 100 x )
- Nafas grunting
- Nasal flaring
- Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
Status Behavioral
- Lethargy
C.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1 Gangguan pertukaran gas b.d imaturitas paru dan
neuromuskular, defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan
alveolar.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal,
peningkatan resistensi jalan nafas
3. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan
ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak
berfungsinya ventilator dan posisi bantuan ventilator yang
kurang tepat.
4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap,
penurunan motilitas usus.
C.IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas b.d imaturitas paru
dan neuromuskular, defisiensi surfaktan dan
ketidakstabilan alveolar.
 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam diharapkan pola nafas efektif.
 KH: - Jalan nafas bersih
Frekuensi jantung 100-140 x/i
Pernapasan 40-60 x/I
Takipneu atau apneu tidak ada
Sianosis tidak ada
 Intervensi
a.Posisikan untuk pertukaran udara yang optimal;
tempatkan pada posisi telentang dengan leher
sedikit ekstensi dan hidung menghadap keatap
dalam posisi ’mengendus’
R: untuk mencegah adanya penyempitan jalan nafas.
b. Hindari hiperekstensi leher
R: karena akan mengurangi diameter trakea.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan
dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan
sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan
nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola
nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk
dengan atau tanpa sputum, cyanosis.
 Tujuan :
- Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan
bunyi nafas yang jernih dan ronchi (-)
- Pasien bebas dari dispneu
3. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan
dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator,
tidak berfungsinya ventilator dan posisi bantuan
ventilator yang kurang tepat.
 Tindakan :
 Independen
a. Kaji status pernafasan, catat peningkatan respirasi
atau perubahan pola nafas
b. Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi
nafas tambahan seperti crakles, dan wheezing
c. Kaji adanya cyanosis
d. Observasi adanya somnolen, confusion, apatis, dan
ketidakmampuan beristirahat
e. Berikan istirahat yang cukup dan nyaman
4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan
menghisap, penurunan motilitas usus.
Tujuan : Mempertahankan dan mendukung intake
nutrisi
 Intervensi Rasional
 a. Berikan infus D 10% W sekitar 65 – 80 ml/kg bb/
hari
 R: Untuk menggantikan kalori yang tidak didapat
secara oral
b. Pasang selang nasogastrik atau orogastrik untuk
dapat memasukkan makanan jika diindikasikan atau
untuk mengevaluasi isi lambung
5. resiko tinggi volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan sensible dan deficeinsensible
 Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit
 Intervensi Rasional
a. Pertahankan pemberian infus Dex 10% W 60 – 100
ml/kg bb/hari
b. Tingkatkan cairan infus 10 ml/kg/hari, tergantung
dari urine output, penggunaan pemanas dan jumlah
feedings
6. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan
ansietas, perasaan bersalah, dan perpisahan dengan
bayi sebagai akibat situasi krisis
 Tujuan : Meminimalkan kecemasan dan rasa bersalah, dan
mendukung bounding antara orangtua dan infant
 Intervensi Rasional
a. Kaji respon verbal dan non verbal orangtua terhadap
kecemasan dan penggunaan koping mekanisme
7. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d
belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
 Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3
x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap normal.
 Kriteria Evaluasi :
 - Suhu 37 °C
 - Bayi tidak kedinginan
 Intervensi dan Rasional :
 a. Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
 R : Mencegah terjadinya hipotermi
 b. Atur suhu incubator
 R : Menjaga kestabilan suhu tubuh
TERIMA KASIH