Anda di halaman 1dari 35

ETIKA AKUNTANSI PERPAJAKAN DUNIA

BISNIS DAN PROFESI

Eksaudina Oktaverina (1551143)


Grace Martha (1551146)
Elvina (1651058)
Nathasia Jubelena (1651097)
Jesica Isarani (1651122)
TEORI
Etika Profesi Akuntansi
Etika Profesi Akuntansi merupakan suatu ilmu yang membahas
tentang perilaku yang baik dan manusia yang dapat diperbin
cangkan oleh pikiran manusia terhadap pekerjaan yang me
mbutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap pengetahu
an khusus sebagai
Prinsip Dasar Etika Profesi Akuntan
Integritas

Objektivitas

KompetensisertaSikapKecermatand
anKehati-hatian

Kerahasiaan

PerilakuProfesional
Integritas
Menurut Ketua BPK Anwar Nasution (2008)

Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan berterus


terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan
kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integri
tas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pend
apat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
Objektivitas
Menurut Ketua BPK Anwar Nasution (2008)

Objektivitas adalah kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan
anggota. Prinsip obyektivitas memilih anggota adil, tidak memihak, jujur, ind
ependen, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepenti
ngan atau bertentangan kepentingan pihak lain.
Harry Azhar Azis (2015) permasalahan itu merupakan

gabungan ketidaksesuaian
Kompetensi serta Sikap Kecer
matan
Menurut dan
Ketua BPK Kehati-hatian
Anwar Nasution (2008)

Setiap anggota harus mengelola profesionalnya dengan hati-hati, kompete


nsi dan ketekunan, serta memiliki kewajiban untuk mempertahankan penge
tahuan dan keterampilan.

Kompetensi menentukan apa saja yang menentukan dan mengatur tingkat


pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan anggota untuk mem
berikan layanan dengan kecerdikan.
Menurut Ketua BPK Harry Azhar Azis (2015) permasalahan itu merupakan

gabungan ketidaksesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, kelemahan sistem, pengenda


lian sistem, maupun ketidakpatuhan terhadap
Kerahasiaan
Menurut Ketua BPK Anwar Nasution (2008)

Setiap Anggota berhak untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang k


lien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui layanan profesional yang di
berikannya, anggota dapat saja menjelaskan kerahasiaan jika ada hak ata
u dapat meminta profesional atau hukum yang mengungkapkannya. Kewa
jiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan k
lien atau pemberi layanan berakhir.
Perilaku Profesional
Menurut Ketua BPK Anwar Nasution (2008)

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi ya


ng baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewaji
ban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus
dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada
penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan ma
syarakat umum.
Definsi Akuntansi Perpajakan

AKUNTANSI
PAJAK

AKUNTANSI PAJAK

Akuntansi adalah suatu proses pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran suatu transaksi keuangan
dan diakhiri dengan suatu pembuatan laporan keuangan.

Pajak adalah iuran atau pungutan wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak)
untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditu
njuk secara langsung.
Definsi Akuntansi Perpajakan

Akuntansi Pajak adalah suatu proses pencatatan, penggolongan


dan pengikhtisaran suatu transaksi keuangan kaitannya dengan
kewajiban perpajakan dan diakhiri dengan pembuatan laporan
keuangan fiskal sesuai dengan ketentuan dan peraturan perpajaka
n yang terkait sebagai dasar pembuatan Surat Pemberitahuan Tahu
nan.
Prinsip Akuntansi Perpajakan

KesatuanUsaha

Kesinambungan

HargaPertukaranyangObyektif

Konsisten

Konservatif
Kesatuan Usaha
Entitas dianggap sebagai kesatuan ekonomi yang terpisah deng
an pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumber-sumber en
titas. Ada pemisahan yang jelas antara entitas dengan para stak
e holder. Pasal 28 ayat 7 UU KUP, pada dasarnya pembukuan har
us memisahkan harta dari Wajib Pajak.

Kesinambungan
Suatu entitas ekonomi diasumsikan akan terus menerus melanj
utkan usahanya dan tidak akan dibubarkan. Pasal 28 ayat 11
UU KUP, data yang berkaitan dengan pembukuan Wajib Pajak
harus disimpan di Indonesia paling tidak dalam jangka waktu
10 Tahun.
Harga Pertukaran yang Obyektif

Transaksi keuangan harus dinyatakan dengan nilai uang. Transaksi a


ntara penjual dan pembeli akan menghasilkan harga pertukaran, y
ang oleh penjual disebut harga jual dan oleh pembeli disebut harga
perolehan (Cost). Harga Pertukaran yang obyektif/wajar:

a. Tidak dipengaruhi oleh adanya hubungan istimewa


b. Dapat diuji oleh pihak-pihak yang independen
c. Tidak terdapat transfer pricing.
d. Tidak ada mark-up. Tidak ada KKN, dan sebagainya
Konsisten

Penggunaan metode dalam pembukuan tidak boleh berubah-ubah.


Berdasarkan Pasal 28 ayat 5 UU KUP, pembukuan diselenggarakan de
ngan prinsip atau asas konsisten, artinya apabila WP telah memilih sal
ah satu metode pembukuan maupun dalam perhitungannya, metod
e tersebut harus diikuti setiap tahunnya secara konsisten, misalnya pe
nentuan tahun buku, metode penyusutan, metode penilaian persedi
aan dan pengakuan nilai kurs valuta asing menggunakan kurs tetap
atau kurs tengah Bank Indonesia.
Konservatif

Kemungkinan rugi (belum direalisasi, masih merupakan tafsiran) suda


h diakui sebagai kerugian, dengan cara membentuk penyisihan atau
cadangan. Sementara itu, kemungkinan laba yang tibul tidak diakui.
Pasal 9 ayat 1 UU PPh, dimana WP tidak diperbolehkan membentuk d
ana cadangan (penyisihan).
Fungsi Akuntansi Perpajakan
mengelola data kuantitatif untuk menyajikan laporan keuangan yang
memuat perhitungan perpajakan, yang kemudian akan digunakan s
ebagai pertimbangan pengambilan keputusan
Adapun tujuan kualitatif akuntansi perpajakan antara lain sebagai ‘
berikut :
1. Relevan
2. Dapat dimengerti
3. Daya Uji
4. Netral
5. Tepat waktu
6. Daya Banding
7. Lengkap
Peran Akuntansi Perpajakan dalam Perusahaan
1. Memberikan membuat perencanaan dan strategi perpajakan
(dalam artian positif)
2. Memberikan analisa dan prediksi mengenai potensi pajak peru
sahaan di masa yang akan datang
3. Dapat menerapkan perlakuan akuntansi atas kejadian perpaja
kan (mulai dari penilaian/penghitungan, pencatatan (pengak
uan) atas pajak, dan dapat menyajikannya di dalam laporan k
omersial maupun laporan fiskal perusahaan.
4. Dapat melakukan pengarsipan dan dokumentasi perpajakan
dengan lebih baik, sebagai bahan untuk melakukan pemeriksa
an dan evaluasi.
Tanggung Jawab Akuntan Pajak
1. Akuntan pajak memiliki kewajiban untuk tidak berbohong atau menjadi
pihak yang berbohong pada pengembalian pajak
2. Internal Revenue Service (IRS) mengemukakan bahwa tanggung jawab
utama praktisi pajak adalah sistem pajak.
3. Tanggung jawab terakhir adalah pentingnya pervasive (peresapan).
4. Menurut William L. Raby dalam Armstrong (1993 : 85) sistem pajak yang
mendukung IRS akan menimbulkan perdebatan pajak.
Etika Akuntan Pajak
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 1, Tax Return Position
s (Posisi Pengembalian Pajak)
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 2, Answers to Questio
ns on Returns (Jawaban Pertanyaan atas Pengembalian)
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 3, Certain Procedural
Aspects of Preparing Returns (Aspek prosedur tertentu dalam menyia
pkan Pengembalian
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 4, Use of Estimates (P
enggunaan Estimasi)
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 5, Departure From a
Position Previously Concluded in an Administrative Proceeding or Co
urt Decision (Keberangkatan dari suatu posisi yang sebelumnya disa
mpaikan di dalam suatu kelanjutan administrative atau keputusan p
engadilan)
Etika Akuntan Pajak
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 6, Knowledge
of Error: Return Preparation(Pengetahuan Kesalahan: Persiap
an Kembalian)
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 7, Knowledge
of Error: Administrative Proceedings (Pengetahuan Kesalahan
: Cara kerja administrasi)
• Statement on Responsibilities in Tax Services No. 8, Form and
Content of Advice to Taxpayers(Format dan isi nasihat pada
klien)
Kode Etik Konsultan Perpajakan
Kode Etik Kepribadian
V Konsultan Pajak Indonesia wajib:
• Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasa
r 1945.
• Patuh pada hukum dan peraturan perpajakan, serta menjunjung tinggi in
tegritas, martabat dan kehormatan profesi Konsultan Pajak.
• Melakukan tugas profesi dengan penuh tanggung jawab, dedikasi tinggi
dan independen.
• Menjaga kerahasiaan dalam menjalankan profesi.
X Konsultan Pajak Indonesia dilarang:
• Melakukan kegiatan profesi lain yang terikat dengan pekerjaan sebagai
pegawai negeri, kecuali dibidang riset, pengkajian dan pendidikan.
• Meminjamkan ijin praktik untuk digunakan oleh pihak lain.
• Menugaskan karyawannya atau pihak lain yang tidak menguasai penget
ahuan perpajakan untuk bertindak, memberikan nasehat dan menanga
ni urusan perpajakan.
Kode Etik Konsultan Perpajakan
Kode Etik dengan Teman Seprofesi

X Konsultan Pajak Indonesia dilarang:


• Menarik pelanggan yang diketahui atau patut dapat diketahui bahwa p
elanggan tersebut merupakan pelanggan Konsultan Pajak lain.
• Membujuk karyawan dari Konsultan Pajak lain untuk pindah menjadi kary
awannya.
• Menerima pelanggan pindahan dari Konsultan Pajak lain tanpa memberi
tahukan kepada Konsultan Pajak lain tersebut, dan harus secara jelas da
n meyakinkan secara legal bahwa pelanggan tersebut telah mencabut k
uasanya dari Konsultan Pajak lain tersebut.
Kode Etik Konsultan Perpajakan
Kode Etik dengan Wajib Pajak

Konsultan Pajak Indonesia wajib:


• Menjunjung tinggi integritas, martabat dan kehormatan dengan memelih
ara kepercayaan masyarakat; bersikap jujur dan berterus terang tanpa
mengorbankan rahasia penerima jasa; dapat menerima kesalahan yang
tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak boleh
menerima kecurangan atau mengorbankan prinsip; mampu melihat man
a yang benar, adil dan mengikuti prinsip obyektivitas dan kehatihatian.
• Bersikap profesional: senantiasa menggunakan pertimbangan moral dala
m pemberian jasa yang dilakukan; senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan dan menghormati kepercayaan masyarakat dan pemerintah;
melaksanakan kewajibannya dengan penuh kehati-hatian, dan mempun
yai kewajiban mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan.
Kode Etik Konsultan Perpajakan
Kode Etik dengan Wajib Pajak

Konsultan Pajak Indonesia dilarang:


• Memberikan petunjuk atau keterangan yang dapat menyesatkan
Wajib Pajak mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan.
• Memberikan jaminan kepada Wajib Pajak bahwa pekerjaan yang
berhubungan dengan instansi perpajakan pasti dapat diselesaikan.
• Menetapkan syarat-syarat yang membatasi kebebasan Wajib Pajak
untuk pindah atau memilih Konsultan Pajak lain.
• Menerima setiap ajakan dari pihak manapun untuk melakukan tinda
kan yang diketahui atau patut diketahui melanggar peraturan perun
dang-undangan perpajakan.
Kode Etik Konsultan Perpajakan
Kode Etik dalam Hal Publikasi

Konsultan Pajak Indonesia wajib mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut:


• Nama kantor konsultan pajak yang dicantumkan pada papan nama adalah
sesuai dengan nama yang tercantum dalam ijin praktek dari Menteri Keuan
gan/Direktur Jenderal Pajak
• Pada papan nama harus dicantumkan nomor ijin praktek Konsultan Pajak
• Apabila Konsultan Pajak berbentuk persekutuan, Nomor ijin praktek yang har
us dicantumkan pada papan nama adalah nomor ijin praktek salah seorang
dari anggota persekutuan
• Ukuran dan warna papan nama disesuaikan dengan kebutuhan. Konsultan
Pajak Indonesia dilarang memasang iklan untuk mendapatkan pelanggan.
Sanksi Pelanggaran Kode Etik Profesi
Pasal 13 Kode Etik Konsultan Pajak menegaskan Sanksi terhadap pelanggaran Kode
Etik antar lain berupa :

1. Teguran tertulis
2. Pemberhentian sementara
3. Pemberhentian tetap.
Kompleksitas Aturan Perpajakan Vs Tuntutan Klien
1. Pajak Ganda pada Dividen

Secara teori Indonesiamenganut klasikal sistem. Artinya, ada pembedaan subyek paj
ak yaitu subyek pajak badan dan subjek pajak perseorangan. Yang bermasalah dala
m pajak dividen adalah terjadi economic double taxation yang artinya ialah bahwa
sebelum dividen dibagi kepada pengusaha, laba tersebut merupakan laba perusah
aan yang dikenakan pajak, atau disebut Pajak Korporat. Namun, ketika dibagi lagi k
epada pemegang saham di korporat, pemegang saham itu harus dikenakan pajak l
agi. Inilah yang disebut sebagai pajak ganda.
Kompleksitas Aturan Perpajakan Vs Tuntutan Klien
2. Sengketa Pajak

Kalau terjadi DISPUTE, yakni hitungan wajib pajak (WP) dengan petugas pajak berbed
a. Pada UU KUP 2000 kewenangan aparat fiscus terlalu luas. Jika terjadi sengketa SPT,
maka apapun yang akan dipakai adalah hitungan aparat pajak, dan hitungan itu h
arus dibayar lebih dahulu oleh WP sebesar 50 persen dari hitungan petugas pajak seb
elum bisa dibawa kepada pengadilan pajak. Kalau hitungan WP yang dinyatakan p
engadilan benar maka WP berhak menerima restitusi. Namun, uang restitusi itu kenyat
aannya tidak segera dibayarkan oleh fiscus.

Jika uang restitusi jumlahnya milyaran, jelas saja mengganggu cash flow para pengus
aha. Inilah persoalan dalam dispute antara WP dengan aparat pajak. Untungnya, da
lam UU KUP 28/2007 perhitungan SPT ditentukan secara bersama-sama. Jika ada perb
edaan klaim angka, maka yang lebih dahulu dipakai adalah klaim WP. Sebelum mas
uk ke pengadilan pajak, WP hanya cukup membayar sebesar 50 persen dari klaim hit
ungan WP sendiri.
Kompleksitas Aturan Perpajakan Vs Tuntutan Klien
3. Tarif Pajak Yang Tinggi

Ketua Tax Centre UI, Tafsir Nurchamid dan pengusaha Anton J Supit mengatakan bah
wa tarif yang tinggi kalau diturunkan punya dampak pada seretnya penerimaan neg
ara. Padahal disaat yang sama pendapatan negara itu sebagian besar ditujukan unt
uk membayar hutang dan obligasi rekap. Meskipun semestinya menurut Anton J Supit
penerimaan dari pajak itudigunakan untuk membangun infrastruktur. Banyak kalanga
n perpajakan seperti Permana Agung, Gunadi, dan Haula Rusdiana mengatakan seb
aiknya ada kebijakan untuk membuat tarif menjadi lebih rendah
KASUS DAN ANALISIS
Kasus KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono yang diduga menyuap pajak

September tahun 2001, KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono harus menanggung ma


lu. Kantor akuntan publik ternama ini terbukti menyogok aparat pajak di Indonesia se
besar US$ 75 ribu. Sebagai siasat, diterbitkan faktur palsu untuk biaya jasa profesional
KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman Christensen, anak perusahaan Baker H
ughes Inc. yang tercatat di bursa New York. Berkat aksi sogok ini, kewajiban pajak Eas
man memang susut drastis. Dari semula US$ 3,2 juta menjadi hanya US$ 270 ribu. Nam
un, Penasihat Anti Suap Baker rupanya was-was dengan polah anak perusahaannya.
Maka, ketimbang menanggung risiko lebih besar, Baker melaporkan secara suka rela
kasus ini dan memecat eksekutifnya. Badan pengawas pasar modal AS, Securities & E
xchange Commission, menjeratnya dengan Foreign Corrupt Practices Act, undang-u
ndang anti korupsi buat perusahaan Amerika di luar negeri. Akibatnya, hampir saja B
aker dan KPMG terseret ke pengadilan distrik Texas. Namun, karena Baker mohon am
pun, kasus ini akhirnya diselesaikan di luar pengadilan KPMG pun terselamatkan.
Analisis Kasus

Dari kelima prinsip dasar etika profesi akuntan yaitu integritas, objektivitas, kompetensi
professional dan kecermatan, kerahasiaan, dan perilaku professional. Prinsip-prinsip d
asar etika profesi akuntan yang dilanggar antara lain :
1. Integritas, dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Da
lam kasus ini akuntan KPMG-Siddharta tidak menjaga integritasnya, karena telah
melakukan penyogokan aparat pajak di indonesia.
2. Objektifitas, dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen
atau tidak memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan KPMG memihak kepada
kliennya dan melakukan kecurangan dengan menyogok aparat pajak di Indones
ia.
3. Perilaku Profesional, dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara
professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal KPM
G-Siddharta Siddharta & Harsono kurang bertanggung jawab karena dia terbukti
menyogok aparat pajak di Indonesia sebesar US$ 75 ribu.
Dari keempat kode etik akuntan pajak yaitu kode etik kepribadian, teman
seprofesi, wajib pajak, dan hal publikasi. Kode Etik yang dilanggar antara l
ain:
1. Kode Etik Kepribadian:
• Tidak patuh pada hukum dan peraturan perpajakan, serta tidak m
enjunjung tinggi integritas, martabat dan kehormatan profesi Konsu
ltan Pajak.
• Tidak melakukan tugas profesi dngan dedikasi tinggi dan independ
en.
2. Kode Etik dengan Wajib Pajak
• Memberikan petunjuk atau keterangan yang dapat menyesatkan
Wajib Pajak mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan.
• Memberikan jaminan kepada Wajib Pajak bahwa pekerjaan yang
berhubungan dengan instansi perpajakan pasti dapat diselesaikan.
Terima Kasih