Anda di halaman 1dari 12

METODE ANALISA TITRIMETRI

Khalisa Claudia Putri Marpaung


152114079
Analisa titrimetri/volumetri
 Analisis kuantitatif dengan mereaksikan larutan
baku sekunder yang dianalisis dengan larutan baku
yang telah diketahui konsentrasi nya secara teliti
(larutan baku primer), Dan reaksi antara zat yang
dianalisis dan larutan standart tersebut
berlangsung secara kuantitatif
Reaksi Kimia
 Reaksi asam-basa
 Reaksi oksidasi-reduksi
 Reaksi pengendapan
 Reaksi pembentukan kompleks
Berdasarkan Cara Titrasi
 Titrasi langsung
 Titrasi kembali
PERSYARATAN REAKSI DALAM TITRIMETRI

1. Reaksi harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu


dan tidak boleh ada reaksi samping.
2. Reaksi harus benar-benar selesai pada titik ekivalensi.
Untuk ini konstanta kesetimbangan reaksi haruslah amat
besar sehingga akan ada perubahan yang besar dalam
konsentrasi analit atau titran pada titik ekivalensi.
3. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan
titik ekivalen tercapai, atau harus tersedia indikator atau
metode instrumental agar titik ekivalen terdeteksi.
4. Reaksi harus berjalan cepat, sehingga titrasi dapat
diselesaikan dalam beberapa menit.
STANDAR PRIMER
 Standar primer harus mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Harus tersedia dalam bentuk murni, atau dalam suatu tingkat kemurnian
yang diketahui. Secara umum jumlah pengotor tidak boleh melebihi 0,01
sampai 0,02%.
2. Substansi tersebut harus stabil. Harus mudah dikeringkan dan tidak
terlalu higroskopis sehingga tidak banyak menyerap air selama
penimbangan.
3. Standar primer diharapkan mempunyai berat ekivalen yang cukup
tinggi agar dapat meminimalisasi konsekuensi galat pada saat
penimbangan.
Contoh standarisasi:
Sebuah sampel Na2CO3, dengan berat 0,3542 g dilarutkan dalam air
dan dititrasi dengan larutan HCl. Volume HCl yang dibutuhkan untuk
mencapai titik ekivalen = 30,23 ml. Hitung molaritas dari HCl.
Reaksi yang terjadi : Na2CO3 + 2HCl ------------- NaCl + H2O + CO2
penyelesaian
Pada titik ekivalen :
mmol HCl = 2 x mmol Na2CO3
VHCl x MHCl = 2 x mg Na2CO3/BM Na2CO3
30,23 x M HCl = 2 x 354,2/106,0
M HCl = 0,2211 mmol/mL
TITRASI ASAM – BASA (NETRALISASI)
 Titrasi asam - basa digunakan untuk menentukan kadar analit yang bersifat
asam/basa atau zat yang dapat diubah menjadi asam/basa.
 Air umumnya digunakan sebagai pelarut karena mudah diperoleh, murah, tidak
beracun dan mempunyai koefisien suhu muai yang rendah.
 Penentuan titik ekivalen secara umum dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu
dengan penambahan indikator (penambahan dilakukan sebelum titrasi) atau
monitoring perubahan pH dengan pH meter selama proses titrasi berlangsung yang
kemudian dilakukan plot perubahan pH terhadap volume titran. Titik tengah dari
kurva titrasi tersebut merupakan titik ekivalen.
 Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan
warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit
mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.
 Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-
ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
 Mol ekivalen = perkalian antara Normalitas dengan volume = N x V
 Normalitas = Molaritas x jumlah H+ pada asam atau OH- pada basa
Metode Titrasi Asam Basa
 Alkalimetri
Merupakan metode dengan menggunakan larutan
baku skunder basa dan larutan baku primer asam.

 Asidimetri
Merupakan metode dengan menggunakan larutan
baku skunder asam dan larutan baku skunder asam
dan larutan primer basa.
INDIKATOR ASAM - BASA

Nama pH range Warna Tipe (sifat)

Biru timol 1,2 – 2,8 Merah – kuning asam


8,0 – 9,6 Kuning - biru
Kuning metil 2,9 – 4,0 Merah - kuning basa
Jingga metil 3,1 – 4,4 Merah - jingga basa
Hijau bromkresol 3,8 – 5,4 Kuning - biru asam
Merah metil 4,2 – 6,3 Merah - kuning basa
Ungu bromkresol 5,2 – 6,8 Kuning - ungu asam
Biru bromtimol 6,2 – 7,6 Kuning - biru asam
Merah fenol 6,8 – 8,4 Kuning - merah asam
Ungu kresol 7,6 – 9,2 Kuning - ungu asam
Fenolftalein 8,3 - 10 t.b - merah asam
Timolftalein 9,3 – 10,5 t.b - biru asam
Kuning alizarin 10,0 – 12,0 Kuning - ungu basa
10
KURVA TITRASI
 Untuk menentukan bisa atau tidaknya suatu reaksi digunakan dalam titrasi, kita
perlu membuat suatu kurva titrasi. Kurva ini merupakan plot antara pH atau pOH
11 dengan mililiter titran. Kurva ini juga berguna dalam pemilihan indikator yang
sesuai.

Fenolftalein
Kurva asam kuat –
Bromtimol biru
pH basa kuat

Metil merah

50
mL NaOH