Anda di halaman 1dari 18

GRAVITASI UNIVERSAL

OLEH :

HERLINA KATMAS 201158001


TEORI GEOSENTRIS DAN HELIOSENTRIS

 TEORI GEOSENTRIS

Pada umumnya bangsa Yunani dan orang-orang yang hidup


pada abad pertengahan memiliki pegangan yang kuat sebagai
pandangan mereka tentang alam semesta, yaitu teori geosentris
(Bumi sebagai pusat). Menurut teori ini, Bumi sebagai pusat
alam semesta berada dalam keadaan diam dan planet-planet,
Matahari, serta benda-benda langit lainnya bergerak
mengitarinya. Gerak semu (apparent motions) planet, bulan, dan
matahari relatif terhadap bintang dan terhadap satu sama lain
dijelaskan secara lengkap dalam teori geosentris Hipparchus
yang dikembangkan sekitar tahun 140 sebelum masehi.
Hipparchus adalah ahli astronomi terbesar di masa Yunani Kuno
(Ancient Greece). Selanjutnya teori tersebut dikembangkan oleh
Claudius Ptolemaeus (Ptolemy) sekitar tahun 150 T M (Tarikh
Masehi) dan disebut sebagai teori Ptolemaic (Tjasyono, 2003).
Dalam teori Ptolemaic, Bumi berada pada pusat alam semesta (universe).
Bulan berputar mengelilingi Bumi dengan orbit yang paling dekat, sementara bintang-
bintang terletak dalam bulatan angkasa (celestial sphere) yang besar dan berputar dalam
orbit yang paling jauh. Di antara orbit Bulan dan Bintang-Bintang terletak orbit Matahari.
Planet-planet (dalam bahasa Yunani berarti pengembara) yang memiliki gerak relatif
terhadap Bintang digambarkan dengan nama-nama kunonya. Planet-Planet ini bergerak
mengelilingi Bumi pada masing-masing orbitnya sendiri. Orbit Planet Venus dan Merkurius
berada diantara orbit Bulan dan Matahari, sedangkan orbit Plabet-Planet yang lain seperti
Mars, Jupiter, dan Saturnus terletak diantara orbit Matahari dan Bintang-Bintang, seperti
ditunjukkan pada Gambar 6.1. Teori geosentris bertahan cukup lama yaitu kira kira
14 abad lamanya.
HERLINA
NEXT

Kelemahan dari model geosentris ini adalah adanya kesulitan untuk


menjelaskan fenomena retrogresi (gerak balik) periodik dari planet-planet.
Lintasan semu planet sepanjang tahun relatif terhadap bintang-bintang adalah
berupa lengkungan (kurva) yang tidak rata. Malahan, adakalanya planet-planet
teramati seolah-olah bergerak mundur (berbalik) sebelum akhirnya bergerak
maju kembali selama periode orbitnya.
Untuk menjelaskan gerak mundur semu ini dalam kerangka teori
geosentris, maka perlu menganggap bahwa planet-planet bergerak dalam
lintasan-lintasan sirkular kecil yang disebut episiklus (epicycles), ketika
planet-planet bergerak dalam orbit besarnya mengelilingi Bumi. Akan tetapi,
anggapan ini justru tidak sesuai dengan hasil pengamatan.
NEXT

 TEORI HELIOSENTRIS
Sebenarnya  seorang  ahli  astronomi  Yunani  yang  bernama 
Aristarchus  (kira­kira  tahun  310  –  230  SM)  pernah  menyatakan 
bahwa  Matahari  mungkin  berada  pada  pusat  alam  semesta,  dan 
Bumi  mergerak  mengitarinya.  Tetapi  kemudian  ia  menolak  sendiri 
gagasannya  tersebut.  Konsep  matahari  sebagai  pusat  tata  surya 
(heliosentris)  saat  itu  belum  mendapat  tempat  dalam  bidang 
astronomi.  Kapan  gagasan  heliosentris  ini  muncul  kembali  ?   
Gagasan tentang heliosentris ini muncul kembali pada sekitar tahun 
1543.  Pada  tahun  itu  terjadi  revolusi  ilmiah  besar­besaran  yang 
dilakukan  oleh  Nicolaus  Copernicus,  seorang  astronom  Polandia, 
yang  dengan  berani  mengajukan  penggantian  model  geosentris 
dengan model heliosentris yang lebih sederhana. 
Bagaimana  susunan  alam  semesta  menurut  model  heliosentris  ini? 
Dalam  model  ini,  selain  oleh  planet­planet,  Matahari  juga  dikitari 
oleh benda­benda antar planet lainnya seperti Komet, Asteroid, dan 
Meteoroid. Sistem dengan Matahari sebagai pusat yang dikitari oleh 
planet­planet  dan  benda­benda  antar  planet  lain    dinamakan  Tata 
Surya (Tjasyono, 2006). 
NEXT

Dalam  model  heliosentris  Copernicus,  Matahari  dianggap 


berada  pada  pusat  alam  semesta,  bintang­bintang  terletak  pada 
bulatan  angkasa  dan  berputar  mengelilingi  Matahari.  Diantara 
Bintang­bintang  dan  Matahari  terdapat  planet­planet  termasuk 
Bumi  yang  berputar  mengelilingi  Matahari  dalam  masing­masing 
orbitnya  dengan  lintasan  orbit  berbentuk  lingkaran,  seperti 
ditunjukkan  pada  Gambar  6.2.  Gerak  mundur  semu  dalam 
peredaran planet­planet yang sulit dijelaskan oleh model geosentris, 
dapat  dijelaskan    dengan  mudah  dalam  model  heliosentris,  dengan 
menggunakan  konsep  gerak  relatif  antara  Bumi  dan  planet­planet 
lain  yang  bergerak  disekitar  Matahari  dengan  kecepatan  sudut 
putar yang berbeda­beda. 
NEXT
NEXT

Apakah model tatasurya yang dipakai sekarang adalah 
murni gagasan Copernicus? Ternyata bukan, karena model 
heliosentris Copernicus memiliki kekurangan. Kekurangan model 
Copernicus terjadi pada dua hal, yakni pertama Neptunus adanya 
fakta bahwa Bintang­Bintang tidak berputar mengelilingi Matahari, 
dan kedua lintasan orbit planet­planet bergerak mengelilingi 
Matahari bukan berupa lingkaran (sirkular). 
Kesimpulan bahwa lintasan planet­planet bukan lingkaran 
diambil karena berdasarkan pengamatan ternyata jarak suatu 
planet ke Matahari selama periode revolusinya tidaklah tetap, 
melainkan berubah­ubah, kadang­kadang menjauh kadang­kadang 
mendekat. Hal ini tidak akan terjadi jika lintasan edar planet 
mengitari matahari berupa lingkaran (Tjasyono, 2006). 
Hukum Keppler
Hukum keppler merupakan hukum – hukum yang menjelaskan
tentang gerak planet.
Orbit Planet

Perihelium Aphelium
Jarak terdekat Jarak terjauh
planet dari planet dari
matahari matahari

Garis edar planet ( orbit ) lintasan yang dilalui planet


saat mengitari matahari
1. Hukum I Keppler
Orbit planet berbentuk elips dimana matahari
terletak pada salah satu titik fokusnya.
Hukum II Keppler
• Garis yang menghubungkan planet ke matahari dalam
waktu yang sama menempuh luasan yang sama
• Jika waktu planet untuk
berevolusi dari AB sama
dengan waktu planet untuk
berevolusi dari CD sama
dengan waktu planet untuk
berevolusi dari EF
• Maka luas AMB = luas CMD
= luas EMF
• Sehingga kecepatan revolusi planet dari AB lebih besar
kecepatan revolusi planet dari CD dan kecepatan revolusi
planet dari CD lebih besar kecepatan revolusi planet dari EF.
• Semakin dekat matahari kecepatan revolusi planet semakin
besar
• Semakin jauh dari matahari kecepatan revolusi planet semakin
lambat.
Hukum III Keppler
Kuadrat kala revolusi planet sebanding dengan pangkat
tiga jarak rata – rata planet ke matahari

d2
d1

T1 = Periode revolusi planet 1


T d 2 3
T2 = Periode revolusi planet 2

1 1
d1 = jarak rata – rata planet 1 ke matahari
T 2
d 2 3
2 d2 = jarak rata – rata planet 2 ke matahari
HUKUM GRAVITASI NEWTON

Selain  mengembangkan  tiga  hukum  mengenai  gerak,  Sir 


Isaac Newton juga meneliti gerak planet­planet dan Bulan. Terutama, 
ia  mempertanyakan  tentang  gaya  yang  harus  bekerja  untuk 
mempertahankan Bulan pada orbitnya yang hampir berupa lingkaran 
mengelilingi  Bumi.  Newton  juga  memikirkan  tentang  masalah 
gravitasi.  Karena  benda  yang  jatuh,  dipercepat.  Newton 
menyimpulkan  bahwa  pasti  ada  gaya  yang  bekerja  pada  benda  itu, 
yang  Newton  dan  kita  sebut  saat  ini  dengan  gaya  gravitasi.  Ketika 
sebuah  benda  mempunyai  gaya  maka  gaya  itu  pasti  diberikan  oleh 
benda lain. Tetapi apa yang memberikan gaya gravitasi? 
Setiap  benda  pada  permukaan  Bumi  merasakan  gaya 
gravitasi,  dan  tidak  peduli  di  manapun  benda  itu  berada,  gaya 
tersebut  mempunyai  arah  menuju  pusat  bumi  (Gambar  5).  Newton 
menyimpulkan  bahwa  pasti Bumi itu sendiri yang memberikan gaya 
gravitasi pada benda­benda di permukaannya. 
NEXT

Dengan demikian Ia mengusulkan hukum gravitasi 
universalnya yang terkenal, yang bisa kita nyatakan sebagai 
berikut : 
Semua partikel di dunia ini menarik semua partikel 
lain dengan gaya yang berbanding lurus dengan hasil 
kali massa partikel­partikel itu dan berbanding 
terbalik dengan kuadrat jarak di antaranya. Gaya ini 
bekerja sepanjang garis yang menghubungkan kedua 
partikel itu. Besar gaya gravitasi dapat dituliskan sebagai :  

M 1 .M 2
F=G R2
Dengan m1 dan m2 adalah massa kedua partikel, r adalah 
jarak antara keduanya dan G adalah konstanta universal 
yang harus diukur secara eksperimen dan mempunyai nilai 
numerik yang sama untuk semua benda. 
TAFSIRAN NEWTON TERHADAP HUKUM KEPLER
 Tafsiran Newton terhadap Hukum I Kepler
Ketika gaya gravitasi FG lebih besar dari gaya sentrifugal FS akan 
mendekati matahari M, sehingga jarak planet ke matahari (R) 
menjadi lebih kecil dan kecepatan v bertambah besar. Akibatnya F 
saat gaya sentrifugal ini lebih besar dari gaya gravitasi FS, maka 
planet P akan membesar, sampai suatu G. Agar planet P tidak 
meninggalkan orbitnya, maka planet P akan menjauhi matahari M, 
sehingga gaya sentrifugal FS akan mengecil lagi dari gaya gravitasi 
FG. 
Proses ini berulang terus, sehingga jarak planet P ke matahari M, 
yaitu R, selalu berubah­ubah, tetapi tetap dalam satu orbit. Hal ini 
hanya bisa terjadi kalau orbitnya berbentuk elips. Hukum Kepler 
pertamalah yang mengharuskan gaya 17 gravitasi bergantung pada 
kuadrat jarak. Ternyata hanya gaya ini yang dapat menghasilkan 
lintasan­lintasan planet berbentuk elips, dengan matahari terletak 
pada salah satu fokusnya
NEXT

 Tafsiran Newton terhadap Hukum II Kepler
Misalkan planet berada di titik A dan bergerak 
menuju titik B, pada selang waktu tertentu. 
Tetapi karena gaya gravitasi, gerakan planet ini 
menjadi ke titik C, sehingga BC sejajar AM. 
Pada selang waktu yang sama, planet dari titik 
C akan bergerak menuju titik D, tetapi karena 
gaya gravitasi, gerakannya menjadi ke titik E, 18 
penghubung planet dan matahari, dalam selang 
waktu yang sama.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH