Anda di halaman 1dari 20

OLEH:

dr. MUTHMAINAH, MKes


DEFINISI

Asma bronkial adalah sindrom dengan tiga tanda


utama yaitu: obstruksi jalan napas yang
reversibel, hipereaksi jalan napas, dan inflamasi
jalan napas.
KLASIFIKASI

2 TIPE

ASMA ALERGIKA ASMA IDIOPATIK


(EKSTRINSIK) (INTRINSIK)

BERHUB DG ALERGEN / ATOPI TDK BERHUB DG ALERGEN / ATOPI


FAKTOR PENCETUS: PILEK, STRES FISIK, STRES
PSIKIS, UDARA DINGIN.
PATOGENESIS

Gangguan saraf otonom : terjadi hipereaktivitas saraf


parasimpatis dan terjadi blokade terhadap reseptor
adrenergik beta (sistem saraf simpatis).

Gangguan sistem imun ditandai oleh adanya reaksi


hipersensitivitas tipe I, dimana tubuh mengadakan reaksi
imun yang berlebihan terhadap antigen yang masuk ke dalam
tubuh.
Simpatis Parasimpatis

ATP GTP

Adenilat Siklase Bronkus Guanilat Siklase

Relaksasi Konstriksi
cAMP cGMP

Fosfodiesterase

5’AMP 5’GMP

Teofilin

Histamin, Prostaglandin, Leukotrien


dsb
Sel Mast
SEL DENDRITIK
ALERGEN (APC) CD4+

TH2

IL-4
GM-CSF IL-13
IL-3
IL-5 IL-9

EOSINOFIL SEL MAST


SEL B → IgE
IgE IgE
IgE
ALERGEN

DEGRANULASI MASTOSIT MEDIATOR INFLAMASI GEJALA ASMA


Mediator-mediator: histamin,
prostaglandin, leukotrien, PAF,
ECF-A, TNF, chymase,
tryptase

Bronkokonstriksi Hipersekresi Inflamasi


mukus

Sebukan sel-sel
radang
TAHAP-TAHAP
ASMA
BRONKIAL AMIN BIOGENIK
(histamin)
FASE
AWAL ENZIM
(chymase)

PENINGKATAN PERMEABILITAS VASKULER


FASE VASODILATASI
LANJUT BRONKOKONSTRIKSI
HIPERSEKRESI MUKUS

MEDIATOR LIPID
(prostaglandin, leukotrien,
PAF, ECF-A)
INFLAMASI
SITOKIN
KERUSAKAN JARINGAN
(misalnya: TNF)

ENZIM
(tryptase)
GAMBARAN
KLINIS

Pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan


gejala klinis.

Pada waktu serangan tampak penderita bernapas cepat dan


dalam, gelisah, duduk dengan tangan menyangga badan ke
depan serta tampak otot-otot bantu pernapasan bekerja
dengan keras. Adapun gejala asma yang klasik terdiri atas
sesak napas, batuk dan mengi (wheezing).
DIAGNOSIS

Pada anamnesis: adanya riwayat asma sebelumnya, riwayat penyakit


alergi seperti rinitis alergika, dan riwayat atopi dalam keluarga serta
faktor-faktor yang dapat mencetuskan terjadinya serangan asma
seperti udara dingin, stres psikis dan fisik.

Pada pemeriksaan fisik: tergantung dari derajat obstruksi jalan napas.


Ekspirasi memanjang, mengi (wheezing), hiperinflasi dada, takikardi,
pernapasan cepat sampai sianosis dapat dijumpai pada penderita
asma saat serangan.

Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan dengan spirometri, tes provokasi


bronkial, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan eosinofil darah,
pemeriksaan kadar IgE darah, pemeriksaan sputum dan analisis gas
darah.
PENATALAKSANAAN

TUJUAN

Menjaga fungsi paru seoptimal mungkin.

Mencegah eksaserbasi asma.

Menghindari reaksi samping obat asma.

Mencegah kematian karena asma.

 Mempertahankan agar pasien tetap dapat


beraktivitas secara normal.
PENATALAKSANAAN

MEDIKAMENTOSA:
Obat bronkodilator misal: agonis 2, teofilin
Obat antiinflamasi misal: kortikosteroid

NON MEDIKAMENTOSA:
Pendidikan pada penderita asma dan keluarganya
Menghindari faktor-faktor pencetus/alergen
Perbaikan mental/psikis
Olah raga
Akupunktur
TERAPI AKUPUNKTUR
PADA ASMA BRONKIAL

Didasarkan pada patogenesis dari asma (gangguan


sistem imun dan sistem saraf otonom) → terapi
ditujukan untuk mengatasi gangguan sistem imun
dan sistem saraf otonom.
Atasi gangguan sistem imun → dipilih titik
akupunktur yg dpt memperbaiki sistem imun seperti:
Zusanli (St 36) dan Hegu (LI4).
Atasi gangguan sistem saraf otonom → dipilih titik
yg mengaktivasi sistem saraf simpatis.
Mekanisme kerja
Gangguan sistem imun akupunktur
(reaksi hipersensitivitas tipe I)

Degranulasi sel mast

Gangguan sistem saraf


otonom
(penekanan reseptor Bronkokonstriksi
adrenergik beta/saraf
simpatis) Reaksi radang berupa:
• Aktivasi dan perekrutan sel-sel radang
• Peningkatan permeabilitas pembuluh
Hipersekresi mukus darah  Edema
AMP siklik meningkat kelenjar bronkus • Vasodilatasi pembuluh darah 
Hiperemia

Medula adrenal menghasilkan


katekolamin
Penurunan ambang rangsang
reseptor beta

Aktivasi saraf simpatis Steroid

ACTH

AKUPUNKTUR CRF
PENELITIAN AKUPUNKTUR PADA
SISTEM IMUN DAN ASMA

 Chin et al. dalam Saputra (2000) menyatakan bahwa perangsangan titik Hegu (LI4)
pada penderita hepatitis B ternyata dapat meningkatkan kadar IFN-.

 Yim et al. (2007) memperlihatkan bahwa ekstrak herbal Perillae fructus yang
diinjeksikan secara subkutan pada titik Zusanli (ST36) 3x/minggu selama 8 minggu
dapat menurunkan jumlah eosinofil pada jaringan paru mencit asma.

 Nurwati (2015) membuktikan bahwa akupunktur pada titik Zusanli (ST36) dan
Feishu (BL13) dapat mengurangi jumlah eosinofil, neutrofil, dan kadar IL-17
sehingga berpengaruh mengendalikan airway remodelling (ketebalan epitel, otot
polos, dan jumlah sel goblet) bronkiolus pada mencit model asma kronik.
DAFTAR PUSTAKA

Abbas AK, Litchman AH, and Pillai S. 2012. Cellular and Molecular Immunologi. 7th edition..
United States of America: Elsevier Sunders, p: 408-409.

Baratawidjaja KG dan Rengganis I. 2014. Imunologi Dasar. Edisi XI, cetakan II. Jakarta. Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pp: 319-348.

Nurwati I. 2015. Pengaruh akupunktur titik Feishu (BL13) dan Zusanli (ST36) pada inflamasi dan
airway remodelling mencit model asma kronik. Program Studi Ilmu Kedokteran (S-3)
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ringkasan Disertasi. Pp: 46-47.

Saputra K. 2000. Akupunktur Dalam Pendekatan Ilmu Kedokteran. Cetakan I. Airlangga


University Press. Surabaya. pp: 65-9.

Solomon WR. 2006. Asma bronkial. Dalam: Price SA and Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit. Alih bahasa: Pendit BU, Hartanto H, Wulansari P, dan
Mahanani DA. Edisi VI, volume I. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. pp: 177-190

Sundaru H dan Sukamto. 2014. Asma bronkial. Dalam: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata
M, Setiyohadi B, dan Syam AF (Eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi VI,
cetakan I. Jakarta: Interna Publishing, Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam, pp: 478-
494.
DAFTAR PUSTAKA

Wilson LM. 2006. Pola obstruktif pada penyakit pernapasan. Dalam: Price SA and Wilson LM.
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Alih bahasa: Pendit BU, Hartanto H,
Wulansari P, dan Mahanani DA. Edisi VI, volume II. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. pp: 784-785.

Yim YK, Lee H, Hong KE, Kim YI, Ko SK, Kim JE, Lee SY. et al. 2007. Antiinflammatory and
immune-regulatory effects of subcutaneous Perillae fructus extract injections on OVA
induced asthma in mice. Evidence-based Complementary and Alternative Medicine, Oxford
Journal;10.1093/ecam/nem118.
TERIMA KASIH