Anda di halaman 1dari 48

WHO Malaria Report 2018

Malaria Global Epidemiology:


Status Global & Regional dan
tools Pengendalian Malaria
Dr. Ferdinand Laihad MPHM
Training course on Management of Malaria, Papua,
Timika, 25-28 Maret 2019
Negara dengan kasus indigenous pada tahun 2000 dan statusnya pada tahun 2017

One or more cases in 2017 No malaria


Zero cases in 2017 Not applicable
Zero cases ( ≥ 3 years) in 2017 Certified malaria free since
2000
Beban Malaria Global & Regional

Kasus Malaria
• Kasus malaria global: 2010  239 juta kasus (95% CI: 219–285 juta);
2016 217 juta kasus (95% CI: 200–259 juta); 2017  diperkirakan 219
juta kasus malaria (95% confidence interval [CI]: 203–262 juta).
• Diperkirakan 20 juta lebih kasus malaria 2017 dari 2010, data selama
periode 2015–2017 menurunnya kasus malaria global belum signifikan
dalam periode tsb.
• Kebanyakan kasus 2017 berada di wilayah WHO Afrika (200 juta atau
92%), diikuti wilayah WHO South-East Asia 5% dan wilayah WHO Eastern
Mediterranean 2%.
Beban Malaria Global & Regional -
2
Kasus Malaria
• 80% beban malaria global berada 15 negara di sub-Saharan Afrika dan India. 50%
kasus malaria dunia berada di 5 negara: Nigeria (25%), Democratic Republic of the
Congo (11%), Mozambique (5%), India (4%) dan Uganda (4%).
• Tahun 2016 2017 dilaporkan kasus malaria meningkat di 10 negara dengan beban
malaria tertinggi di Afrika di Nigeria, Madagascar dan Democratic Republic of the
Congo dimana meningkatnya tertinggi yaitu semua lebih dari 500,000 kasus.
• India 2016 2017 dilaporkan menurun 3 juta kasus pada periode yang sama (24%).
• Rwanda 2016 2017 perkiraan pengurangan beban malaria, dengan 430.000
• Ethiopia dan Pakistan 2016 2017 memperkirakan penurunan lebih dari 240.000
kasus selama periode yang sama.
Beban Malaria Global & Regional -
3
Kasus Malaria
• Malaria global 2010 2017 menurun 18%: 72  59 kasus per 1000 pddk berisiko.
• Malaria SEARO 2010 2017 menurun 59%: 17  7 kasus per 1.000 pddk berisiko.
• Malaria PAHO mencatat kenaikan, disebabkan oleh peningkatan penularan malaria
di Brasil, Nikaragua dan Venezuela (Republik Bolivarian).
• Malaria AFRO tetap pada 219 kasus per 1000 populasi beresiko untuk tahun kedua
berturut-turut.
• 2017: Pf adalah parasit malaria yang paling umum di AFRO 99,7% di SEARO 62,8%,
EMRO 69% dan WPRO 71,9%. P. vivax adalah parasit utama di PAHO, 74,1% kasus
malaria
Beban Malaria Global &
Regional - 4
Kematian akibat Malaria
• Kematian malaria 2010: 607.000 2016: 451.000  2017: 435.000.
• Kematian Balita 2017 menyumbang 61% (266.000) dari semua
kematian akibat malaria.
• AFRO menyumbang 93% kematian malaria pada tahun 2017 juga
menyumbang 88% dari 172.000 penurunan kematian malaria
dibandingkan dengan 2010.
Beban Malaria Global &
Regional - 5
Kematian akibat malaria
• Kematian malaria global 80% pada 2017 terkonsentrasi di 17 AFRO
dan India; tujuh dari negara-negara ini menyumbang 53% dari semua
kematian akibat malaria global: Nigeria (19%), Republik Demokratik
Kongo (11%), Burkina Faso (6%), Republik Persatuan Tanzania (5%),
Sierra Leone (4) %), Niger (4%) dan India (4%).
• Penurunan kematian 2010 2017 terbesar terjadi di SEARO 54%,
AFRO (40%), EMRO 10%. Pengurangan kematian malaria juga telah
melambat sejak 2015, yang mencerminkan tren yang diperkirakan
terjadi dalam insiden kasus malaria.
Beban Malaria Global &
Regional - 6
Malaria terkait anemia
• Laporan tahun ini mencakup bagian tentang anemia terkait malaria,
suatu kondisi yang, jika tidak diobati, dapat mengakibatkan kematian,
terutama di antara populasi rentan seperti wanita hamil dan anak-
anak berusia di bawah 5 tahun.
• Anemia pernah menjadi indikator utama kemajuan dalam
pengendalian malaria, dan prevalensinya digunakan untuk
mengevaluasi kemanjuran intervensi. Beberapa tahun terakhir telah
terlihat penurunan pemanfaatan indikator beban anemia terkait
malaria.
Beban Malaria Global &
Regional - 7
Malaria terkait anemia
• Meskipun anemia penting sebagai konsekuensi langsung dan tidak
langsung dari malaria, namun prevalensi anemia pada populasi yang
rentan terhadap penyakit ini belum dilaporkan secara konsisten
sebagai metrik penularan dan beban malaria.
• Survei rumah tangga di 16 negara Afrika beban tinggi 2015 - 2017
menunjukkan Balita prevalensi anemia adalah 61%, anemia ringan
25%, anemia sedang 33%, dan anemia berat 3%. Dari anak-anak yang
dinyatakan positif malaria, prevalensi anemia adalah 79%, anemia
ringan 21%, anemia sedang 50% dan anemia berat 8%.
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria
Pengendalian Malaria dan Investasi Eliminasi
• 2017, diperkirakan US $ 3,1 miliar diinvestasikan dalam upaya pengendalian dan
eliminasi malaria lebih rendah dari angka yang dilaporkan 2016
• 3/4 (US $ 2,2 miliar) investasi pada tahun 2017 dikeluarkan untuk AFRO, diikuti
SEARO (US $ 300 juta), PAHO (US $ 200 juta), dan EMRO dan WPRO (masing-
masing US $ 100 juta).
• 2017, US $ 1,4 miliar diinvestasikan di negara-negara berpenghasilan rendah, US $
1,2 miliar di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah dan US $ 300 juta
di negara-negara berpenghasilan menengah ke atas. Pendanaan internasional
mewakili sumber utama pendanaan di negara-negara berpenghasilan rendah dan
menengah ke bawah, masing-masing sebesar 87% dan 70%.
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria - 2
Pengendalian Malaria dan Investasi Eliminasi
• Negara endemik menyumbang 28% total pendanaan (US $ 900 juta) 2017, angka yang
tidak berubah dari 2016. Dua pertiga dari dana yang bersumber dari dalam negeri
diinvestasikan dalam kegiatan pengendalian malaria yang dilakukan oleh program malaria
nasional (NMP), dengan sisanya pangsa diperkirakan sebagai biaya perawatan pasien.
• Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat (AS) adalah sumber pembiayaan
malaria internasional terbesar, menyediakan AS $ 1,2 miliar (39%) pada 2017. Anggota
negara Komite Bantuan Pembangunan bersama-sama menyumbang US $ 700 juta (21 %).
Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara menyumbang sekitar US $ 300 juta (9%)
sementara Yayasan Bill & Melinda Gates menyediakan US $ 100 juta (2%).
• Dari US $ 3,1 miliar yang diinvestasikan pada tahun 2017, US $ 1,3 miliar disalurkan
melalui Global Fund untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria.
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria - 3
Prospek investasi
• Meskipun pendanaan untuk malaria tetap relatif stabil sejak 2010,
tingkat investasi pada 2017 jauh dari yang dibutuhkan untuk
mencapai dua tonggak pertama GTS; yaitu, pengurangan setidaknya
40% dalam insiden kasus malaria dan tingkat kematian secara global
pada tahun 2020, dibandingkan dengan tingkat 2015.
• Untuk mencapai target GTS 2030, diperkirakan bahwa pendanaan
malaria tahunan akan perlu ditingkatkan hingga setidaknya US $ 6,6
miliar per tahun pada tahun 2020.
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria - 4
Prospek investasi
• Meningkatkan investasi dalam penelitian dan pengembangan malaria
adalah kunci untuk mencapai target GTS. Pada tahun 2016, US $ 588
juta dihabiskan di area ini, mewakili 85% dari perkiraan kebutuhan
tahunan untuk penelitian dan pengembangan.
• Meskipun dana penelitian dan pengembangan untuk vaksin dan obat
malaria menurun pada 2016 dibandingkan dengan 2015, investasi
dalam produk-produk pengendalian vektor hampir dua kali lipat, dari
US $ 33 juta menjadi US $ 61 juta
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria- 5
Pengiriman komoditas malaria
Kelambu berinsektisida
• Antara 2015 dan 2017, total 624 juta kelambu berinsektisida (ITN), terutama
kelambu insektisida tahan lama (LLIN), dilaporkan oleh produsen telah dikirim
secara global. Ini merupakan peningkatan yang substansial dibandingkan periode
sebelumnya 2012-2014, ketika 465 juta ITN dikirimkan secara global.
• Diperkirakan 552 juta ITN didistribusikan oleh NMP secara global, dengan
sebagian besar (459 juta atau 83%) dikirim di Afrika sub-Sahara selama periode
2015-2017.
• Secara global, 85% ITN didistribusikan melalui kampanye distribusi massal gratis,
8% di fasilitas perawatan antenatal dan 4% sebagai bagian dari program imunisasi.
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria - 6
Pengiriman komoditas malaria
Rapid diagnostic tests
• Diperkirakan 276 juta tes diagnostik cepat (RDT) dijual secara global pada tahun
2017.
• Pada 2017, 245 juta RDT didistribusikan oleh NMP. Sebagian besar RDT (66%)
adalah tes yang hanya mendeteksi P. falciparum dan dipasok ke Afrika sub-
Sahara.
• Di Afrika sub-Sahara, RDT menjadi semakin metode yang paling banyak
digunakan untuk menguji diagnosis malaria di antara pasien yang diduga malaria
di fasilitas kesehatan masyarakat. Pada 2017, sekitar 75% tes malaria dilakukan
menggunakan RDT, naik dari 40% pada 2010.
Investasi dalam program dan
penelitian Malaria - 7
Pengiriman komoditas malaria
Artemisinin-based combination therapy
• Diperkirakan 2,74 miliar kursus pengobatan terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT)
telah dibeli oleh negara-negara selama periode 2010-2017. Diperkirakan 62% dari
pengadaan ini dilaporkan telah dibuat untuk sektor publik.
• Selama periode 2010-2017, 1,45 miliar kursus pengobatan ACT diberikan oleh NMP, di
mana 1,42 miliar (98%) berada di Wilayah WHO Afrika.
• Dengan peningkatan dalam tes diagnostik dalam beberapa tahun terakhir, kursus
pengobatan ACT menjadi lebih ditargetkan pada pasien yang dinyatakan positif malaria.
Ini ditunjukkan oleh rasio ACTs yang berkurang secara signifikan terhadap tes (0,8 pada
2017 dibandingkan dengan 2,5 pada 2010). Namun demikian, ini menyiratkan bahwa
sekitar 30% pasien yang menerima ACT tidak diuji untuk malaria.
Regional profile: South-East Asia
Region
Epidemiology:
• Population at risk: 1.6 billion
• Parasites: P. falciparum and mixed
(62%), P. vivax (37%) and other (<1%)
• Vectors: An. albimanus, An. annularis,
An. balabacensis, An. barbirostris, An.
culicifacies, An. dirus, An. farauti, An.
fluviatilis, An. maculatus, An.
0
0-0.1
minimus, An. philippiensis, An.
0.1-1 sinensis, An. stephensi, An. subpictus,
1-10
10-50 An. Sundaicus and An. varuna
50-100
> 100
Insufficient data
Not applicable
Regional profile: South-East Asia
Region - 2
Kasus dan kematian yang dilaporkan, 2010-2017
• Total dugaan dan kasus yang dikonfirmasi: 4,887 juta (2010), 1,651
juta (2015), 1,244 juta (2017); penurunan 2010-2017: 75%;
penurunan 2015–2017: 25%
• Total kasus yang dikonfirmasi: 2,676 juta (2010), 1,618 juta (2015),
1,233 juta (2017); penurunan 2010-2017: 54%; penurunan 2015–
2017: 24%
• Total kematian: 2421 (2010), 620 (2015), 299 (2017); penurunan
2010-2017: 88%; penurunan 2015–2017: 52%
Regional profile: South-East Asia
Region - 3
Perkiraan kasus dan kematian, 2010-2017
• Kasus: 25,5 juta (2010), 14,0 juta (2015), 11,3 juta
(2017) penurunan 2010–2017: 56%
• Kematian: 39 800 (2010), 25 200 (2015), 19 700
(2017); penurunan 2010–2017: 50%
Estimasi kasus malaria, 2017 dan
Persentase spesies Plasmodium dari
kasus indigenous, 2010 & 2016
1.0% 0.4% India P. falciparum and mixed P. vivax Other
13.6% Indonesia
2010 2016
Myanmar Bangladesh
Other countries Timor-Leste
Myanmar
Indonesia
India
Thailand
85.0% Nepal
Bhutan
DPR of Korea
Negara-negara diproyeksikan penuranan
insiden kasus sebesar <40% tahun 2020
2 500 000
Indonesia India

2 000 000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Regional profile: South-East Asia
Region - 4
• Therapeutic efficacy tests (clinical and parasitological failure, %)
Percentile
Study No. of Median
Medicine Min. Max.
years studies 25 75
AL 2010–2018 70 0.0 0.0 14.3 0.0 1.975
AS+SP 2010–2017 54 0.0 0.0 21.4 0.0 1.325
AS-MQ 2010–2016 22 0.0 1.75 49.1 0.0 14.825
DHA-PPQ 2010–2017 26 0.0 0.0 5.9 0.0 1.95

AL: artemether-lumefantrine; AS-MQ: artesunate-mefloquine;


AS+SP: artesunate-sulfadoxine-pyrimethamine; DHA-PPQ:
dihydroartemisinin-piperaquine
Regional profile: South-East Asia
Region - 5
Pembiayaan (US$), 2010–2017
• 247,6 juta (2010), 197,1 juta (2015), 365,0 juta (2017); meningkat
2010–2017: 47%
• Proporsi sumber domestik * pada 2017: 50%
• Mekanisme pendanaan regional: Penghapusan Malaria di Greater
Mekong Sub-region (GMS): Myanmar dan Thailand
* Sumber domestik tidak termasuk biaya pengiriman layanan pasien
dan pengeluaran out-of-pocket.
Malaria funding* by source, 2010–2017
Domestic Global Fund World Bank USAID UK Other

Global Fund: Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria; USAID: United States Agency for International
Development; UK: United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland. * Excludes patient service delivery costs
and out-of-pocket expenditure.
Malaria funding* per person at risk,
average 2015–2017
Domestic International
Timor-Leste
Myanmar
Thailand
Bhutan
Bangladesh
Nepal
Democratic People’s Republic of Korea
Indonesia
India
* Excludes costs related to health staff, costs at sub-national level and out-of-pocket expenditure
Regional profile: South-East Asia
Region - 6
Intervensi, 2010–2017
• Negara dengan cakupan ≥50% dengan LLIN atau IRS pada
2017: Semua negara kecuali India
• Jumlah RDT yang didistribusikan: 11,4 juta (2010), 23,5 juta
(2015), 5,9 juta (2017)
• Jumlah kursus ACT yang didistribusikan: 3,476 juta (2010) ),
2,819 juta (2015), 812 000 (2017)
Regional profile: South-East
Asia Region - 7
Akselerasi menuju eliminasi
• Negara-negara dengan program eliminasi nasional:
Bhutan, Republik Rakyat Demokratik Korea, Nepal, dan
Timor-Leste
• Negara-negara dengan program eliminasi subnasional:
India, Indonesia, Myanmar dan Thailand
• Bersertifikat bebas malaria sejak 2010: Maladewa dan Sri
Lanka
Regional profile: South-East
Asia Region - 8
PESAN-PESAN KUNCI
1. Malaria endemik di sembilan dari 11 negara di kawasan ini, terhitung hampir 70% dari
beban di luar Wilayah Afrika WHO. Hampir 62% kasus disebabkan oleh P. falciparum. India
dan Indonesia masing-masing menyumbang 68% dan 21% dari kasus yang dilaporkan dan
65% dan 16% kematian akibat malaria. Meskipun menjadi negara dengan beban tertinggi
di kawasan ini, India menunjukkan penurunan 22% dalam kasus yang dilaporkan dalam
setahun.
2. Tujuh dari sembilan negara berada pada target untuk mencapai pengurangan lebih dari
40% dalam kasus pada tahun 2020, dan India dan Indonesia berada di jalur untuk
pengurangan 20-40%. Kasus-kasus di Timor-Leste terus menurun, dari 94 menjadi hanya
16 kasus antara 2016 dan 2017 (pengurangan 83%). Bhutan melaporkan hanya 11 kasus
asli dan 13 kasus yang diperkenalkan pada tahun 2017.
Regional profile: South-East
Asia Region - 9
PESAN-PESAN KUNCI
3. Kematian malaria di wilayah ini menurun dari 2.421 pada 2010 menjadi
299 pada 2017 (pengurangan 88%). Bhutan telah melaporkan nol
kematian sejak 2003 tetapi memiliki satu kematian pada 2017. Timor-
Leste melaporkan nol kematian selama 3 tahun terakhir (mis. Sejak 2015).
4. Maladewa dan Sri Lanka, masing-masing disertifikasi bebas malaria pada
tahun 2015 dan 2016, mempertahankan status bebas malaria mereka.
Semua negara di kawasan ini memiliki rencana strategis yang bertujuan
untuk menghilangkan malaria pada tahun 2030 (meskipun Bhutan
bertujuan untuk tahun 2018).
Regional profile: South-East
Asia Region - 10
PESAN-PESAN KUNCI
5. Resistensi vektor terhadap piretroid dikonfirmasikan di sepertiga negara.
Resistensi terhadap organofosfat dikonfirmasi di kurang dari sepertiga
negara. Ada kesenjangan yang signifikan dalam pemantauan resistensi
standar untuk organoklorin dan karbamat.
6. Tantangan termasuk beberapa kegagalan terapi kombinasi berbasis
artemisinin di negara-negara GMS dan resistensi vektor terhadap
piretroid. Upaya sedang dilakukan untuk meningkatkan pelaporan dari
sektor swasta dan organisasi non pemerintah, dan pengawasan berbasis
kasus untuk mempercepat eliminasi
TOOLS PENGENDALIAN MALARIA:
MENCEGAH MALARIA
Vector control
• Setengah dari orang yang berisiko terkena malaria di Afrika tidur di bawah
ITN: pada 2017, 50% populasi dilindungi oleh intervensi ini, meningkat
dari 29% pada 2010. Selanjutnya, persentase populasi dengan akses ke
ITN meningkat dari 33% pada 2010 menjadi 56% pada 2017. Namun,
cakupan hanya meningkat sedikit sejak 2015 dan macet sejak 2016.
• Rumah tangga dengan setidaknya satu ITN untuk setiap dua orang
berlipat ganda menjadi 40% antara 2010 dan 2017. Namun, angka ini
hanya mewakili peningkatan sederhana selama 3 tahun terakhir, dan
masih jauh dari target cakupan universal.
TOOLS PENGENDALIAN
MALARIA:
MENCEGAH MALARIA - 2
Vector control
• Lebih sedikit orang yang berisiko malaria dilindungi oleh penyemprotan residu dalam ruangan
(IRS), suatu metode pencegahan yang melibatkan penyemprotan dinding bagian dalam
tempat tinggal dengan insektisida. Secara global, perlindungan IRS menurun dari puncaknya
5% pada 2010 menjadi 3% pada 2017, dengan penurunan terlihat di semua wilayah WHO.
• Di Wilayah Afrika WHO, cakupan IRS turun dari 80 juta orang yang berisiko pada 2010, ke titik
terendah 51 juta pada 2016 sebelum naik menjadi 64 juta pada 2017. Di wilayah WHO
lainnya, jumlah orang yang dilindungi IRS pada 2017 adalah 1,5 juta di Amerika, 7,5 juta di
Mediterania Timur, 41 juta di Asia Tenggara, dan 1,5 juta di Pasifik Barat
• Penurunan cakupan IRS terjadi ketika negara mengganti insektisida dengan menggunakan
bahan kimia yang lebih mahal dan saat strategi operasional berubah missal dengan
berkurangnya pddk berisiko di negara-negara eliminasi malaria.
TOOLS PENGENDALIAN
MALARIA:
MENCEGAH MALARIA - 3
Terapi pencegahan
• Untuk melindungi wanita di daerah penularan malaria sedang dan tinggi di
Afrika, WHO merekomendasikan "perawatan pencegahan intermiten pada
kehamilan" (IPTp) dengan obat antimalaria sulfadoxine-pyrimethamine. Di antara
33 negara Afrika yang melaporkan tingkat cakupan IPTp pada 2017, diperkirakan
22% wanita hamil yang memenuhi syarat menerima tiga atau lebih dosis IPTp
yang direkomendasikan, dibandingkan dengan 17% pada 2015 dan 0% pada 2010
• Pada 2017, 15,7 juta anak-anak di 12 negara di sub-wilayah Sahel Afrika
dilindungi melalui program seasonal malaria chemoprevention (SMC). Namun,
sekitar 13,6 juta anak-anak yang dapat memperoleh manfaat dari intervensi ini
tidak ditanggung, terutama karena kurangnya dana
TOOLS PENGENDALIAN MALARIA :
DIAGNOSTIC TESTING AND TREATMENT
Mengakses perawatan
• Diagnosis dan pengobatan yang cepat adalah cara paling efektif untuk mencegah kasus malaria
yang ringan dari berkembang menjadi penyakit parah dan kematian. Berdasarkan survei rumah
tangga nasional yang diselesaikan di 19 negara di sub-Sahara Afrika antara 2015 dan 2017,
median 52% (kisaran interkuartil [IQR]: 44-62%) anak-anak dengan demam (demam) dibawa ke
dokter yang terlatih penyedia layanan. Ini termasuk rumah sakit dan klinik sektor publik, fasilitas
kesehatan sektor swasta formal dan petugas kesehatan masyarakat.
• Meskipun lebih banyak anak yang demam dibawa utk dirawat di sektor kesehatan publik
(median: 36%, IQR: 30-46%) daripada di sektor swasta medis formal (median: 8%, IQR: 5-10%),
proporsi yang tinggi anak-anak yang demam tidak mendapat perhatian medis (median: 40%, IQR:
28-45%). Akses yang buruk ke penyedia layanan kesehatan atau kurangnya kesadaran akan gejala
malaria di antara pengasuh adalah salah satu faktor yang berkontribusi.
TOOLS PENGENDALIAN MALARIA :
DIAGNOSTIC TESTING AND TREATMENT - 2

Mengakses perawatan
• Survei nasional mengungkapkan perbedaan dalam akses ke
perawatan kesehatan berdasarkan pendapatan dan lokasi rumah
tangga: persentase anak-anak yang mendapatkan perawatan demam
lebih tinggi di rumah tangga yang lebih kaya (median: 72%, IQR: 62-
75%) dibandingkan dengan rumah tangga yang lebih miskin (median:
58%, IQR: 47-67%), dan lebih tinggi di antara mereka yang tinggal di
daerah perkotaan (median: 69%, IQR: 59-76%) dibandingkan dengan
daerah pedesaan (median: 60%, IQR: 51-71%) .
TOOLS PENGENDALIAN
MALARIA:
DIAGNOSTIC TESTING AND
TREATMENT- 3
Mendiagnosis malaria
• Menurut 58 survei yang dilakukan di 30 negara Afrika sub-Sahara antara 2010 dan
2017, persentase anak-anak dengan demam yang menerima tes diagnostik di
sektor kesehatan publik telah meningkat, mencapai rata-rata 59% (IQR: 34-75% )
selama periode 2015–2017, naik dari median 33% (IQR: 18–44%) untuk 2010-2012
• Data yang dikumpulkan dari 56 survei yang dilakukan di sub-Sahara Afrika
mengungkapkan bahwa persentase anak-anak yang demam yang menghadiri
fasilitas kesehatan umum yang menerima tes diagnostik malaria sebelum
pengobatan antimalaria naik dari median 35% (IQR: 27–56%) 2010–2012 hingga
74% (IQR: 51–81%) pada 2015–2017. Peningkatan serupa telah dicatat di sektor
kesehatan swasta formal, dari 41% (IQR: 17-67%) pada 2010-2012 menjadi 63%
(IQR: 41-83%) pada 2015-2017.
TOOLS PENGENDALIAN
MALARIA:
DIAGNOSTIC TESTING AND
Mengobati malariaTREATMENT - 4
• Berdasarkan 19 survei rumah tangga yang dilakukan di Afrika sub-Sahara antara 2015 dan 2017,
persentase anak-anak berusia di bawah 5 tahun yang menderita demam yang menerima obat
antimalaria adalah 29% (IQR: 15-48%).
• Anak-anak lebih mungkin diberikan ACTs - obat antimalaria yang paling efektif - jika perawatan medis
dicari di sektor publik dibandingkan dengan sektor swasta. Data dari 18 survei nasional yang
dilakukan di sub-Sahara Afrika menunjukkan bahwa untuk periode 2015-2017, diperkirakan 88%
(IQR: 73–92%) anak-anak yang dibawa demam untuk pengobatan malaria di sektor kesehatan publik
menerima ACT, dibandingkan dengan 74% (IQR: 47-88%) di sektor swasta medis formal.
• Untuk menjembatani kesenjangan pengobatan di antara anak-anak, WHO merekomendasikan
penggunaan manajemen kasus masyarakat terpadu (iCCM). Pendekatan ini mempromosikan
manajemen terpadu dari kondisi umum yang mengancam jiwa pada anak - malaria, pneumonia dan
diare - di fasilitas kesehatan dan tingkat masyarakat. Pada 2017, dari 21 negara Afrika dengan beban
malaria tinggi, 20 memiliki kebijakan iCCM, 12 di antaranya telah mulai menerapkan kebijakan itu.
TOOLS PENGENDALIAN MALARIA
:
MALARIA SURVEILLANCE
SYSTEMS
• Surveilens yang efektif terhadap kasus dan kematian malaria sangat penting
untuk mengidentifikasi daerah atau kelompok populasi yang paling terkena
dampak malaria, dan untuk menargetkan sumber daya untuk dampak
maksimum. Sistem surveilens yang kuat membutuhkan akses tingkat lebih
tinggi pada perawatan dan deteksi kasus, dan pelaporan lengkap informasi
kesehatan oleh semua sektor, baik pemerintah maupun swasta.
• Pada tahun 2017, di antara 52 negara dengan beban sedang hingga tinggi,
tingkat pelaporan malaria adalah 60% atau lebih. Di Wilayah Afrika WHO, 36
dari 46 negara menunjukkan bahwa setidaknya 80% dari fasilitas kesehatan
masyarakat telah melaporkan data tentang malaria melalui sistem informasi
kesehatan nasional mereka.
TOOLS PENGENDALIAN
MALARIA:
MALARIA ELIMINATION
• Secara global, jaringan eliminasi melebar, dengan lebih banyak negara
bergerak menuju nol kasus indigenous: pada 2017, 46 negara
melaporkan kurang dari 10.000 kasus seperti itu, naik dari 44 negara
pada 2016 dan 37 negara pada 2010. Jumlah negara dengan kurang dari
100 kasus indigenous - indikator kuat bahwa eliminasi meningkat dari 15
negara pada 2010 menjadi 24 negara pada 2016 dan 26 negara pada
2017.
• Paraguay disertifikasi oleh WHO sebagai bebas malaria pada tahun
2018, sementara Aljazair, Argentina dan Uzbekistan telah mengajukan
permintaan resmi kepada WHO untuk sertifikasi. Pada 2017, Cina dan El
Salvador melaporkan nol kasus indigenous.
TOOLS PENGENDALIAN MALARIA
:
MALARIA ELIMINATION - 2
• Salah satu milestone penting GTS untuk tahun 2020 adalah eliminasi
malaria di setidaknya 10 negara yang endemis malaria pada tahun 2015.
Pada saat ini, kemungkinan milestone ini akan tercapai.
• Pada tahun 2016, WHO mengidentifikasi 21 negara yang berpotensi untuk
eliminasi malaria pada tahun 2020. WHO bekerja sama dengan pemerintah
di negara-negara ini - yang dikenal sebagai "negara-negara E-2020" - untuk
mendukung tujuan percepatan eliminasi mereka.
• Meskipun 11 negara E-2020 tetap berada di jalur yang tepat untuk
mencapai tujuan eliminasi mereka, 10 negara telah melaporkan
peningkatan kasus malaria indogenous pada 2017 dibandingkan dengan
2016.
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI
• Banyak tantangan yang dihadapi respons malaria global seperti yang
disoroti dalam laporan tahun ini, hambatan langsung untuk mencapai
milestone GTS yang cepat tahun 2020 dan 2025 adalah peningkatan
malaria yang terus-menerus di negara-negara dengan beban penyakit
tertinggi serta tidak memadainya pendanaan internasional dan
domestik.
• Pada saat yang sama, terus timbulnya resistensi parasit terhadap
obat-obatan antimalaria dan resistensi nyamuk terhadap insektisida
menjadi ancaman bagi kemajuan.
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI - 2
Negara-negara dengan beban tinggi
• Pada 2017, 11 negara menyumbang sekitar 70% dari perkiraan kasus malaria dan kematian
secara global: 10 di Afrika sub-Sahara dan India. Di antara negara-negara ini, hanya India yang
melaporkan kemajuan dalam mengurangi kasus malaria di 2017 dibandingkan dengan 2016.
• Untuk mendapatkan respons malaria global kembali ke jalurnya, pendekatan baru yang
digerakkan oleh negara - “Beban tinggi terhadap dampak tinggi” - akan diluncurkan di
Mozambik pada 19 November 2018, bersamaan dengan rilis laporan malaria Dunia 2018.
• ikatalisasi oleh WHO dan Kemitraan RBM untuk Mengakhiri Malaria, pendekatan ini
didasarkan pada empat pilar: menggembleng perhatian politik nasional dan global untuk
mengurangi kematian malaria; mendorong dampak di negara melalui penggunaan informasi
secara strategis; menetapkan pedoman, kebijakan, dan strategi global terbaik yang cocok
untuk semua negara endemis malaria; dan mengimplementasikan respons negara yang
terkoordinasi
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI - 3
Pembiayaan
• Di 24 dari 41 negara dengan beban tinggi, yang sebagian besar mengandalkan
pendanaan eksternal untuk program malaria, tingkat rata-rata pendanaan yang
tersedia per orang berisiko menurun pada 2015-2017 dibandingkan dengan
2012-2014. Ini berkisar dari pengurangan 95% di Kongo (tertinggi) hingga
penurunan 1% di Uganda (terendah) dibandingkan poin waktu dibandingkan.
• Di negara-negara yang mengalami penurunan 20% atau lebih dalam total
pendanaan per orang yang berisiko, pembiayaan internasional menurun,
kadang-kadang dikombinasikan dengan investasi domestik yang lebih rendah.
• Di antara 41 negara dengan beban tinggi, secara keseluruhan, pendanaan per
orang yang berisiko malaria mencapai US $ 2,32.
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI - 4
Resistensi obat anti Malaria
• ACT telah menjadi bagian integral dari keberhasilan pengendalian malaria global baru-baru
ini, dan melindungi kemanjurannya untuk pengobatan malaria adalah prioritas kesehatan
global.
• Sebagian besar penelitian yang dilakukan antara 2010 dan 2017 menunjukkan bahwa ACTs
tetap efektif, dengan tingkat kemanjuran keseluruhan lebih dari 95% di luar subregion
Mekong Besar (GMS). Di Afrika, resistensi artemisinin (sebagian) belum dilaporkan sampai
saat ini.
• Meskipun resistensi multi-obat, termasuk resistensi artemisinin (parsial) dan resistensi obat
pasangan, telah dilaporkan di empat negara GMS, telah terjadi pengurangan besar-besaran
dalam kasus malaria dan kematian di subkawasan ini. Pemantauan kemanjuran obat
antimalaria telah menghasilkan pembaruan segera kebijakan pengobatan malaria di
sebagian besar negara GMS.
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI - 5
Resistensi insektisida
• Laporan WHO Global yang baru-baru ini dirilis tentang resistensi insektisida dalam
vektor malaria: 2010-2016 menunjukkan bahwa resistensi terhadap empat kelas
insektisida yang umum digunakan - piretroid, organoklorin, karbamat dan
organofosfat - tersebar luas di semua vektor malaria utama di seluruh wilayah WHO
di Afrika, Benua Amerika, Asia Tenggara, Mediterania Timur, dan Pasifik Barat.
• Dari 80 negara endemik malaria yang menyediakan data untuk 2010-2017,
resistensi terhadap setidaknya satu dari empat kelas insektisida dalam satu vektor
malaria terdeteksi di 68 negara, meningkat dari tahun 2016 karena peningkatan
pelaporan dan tiga negara baru melaporkan resistensi untuk pertama kalinya. Di 57
negara, resistensi terhadap dua atau lebih kelas insektisida dilaporkan.
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI - 6
Resistensi insektisida
• Resistensi terhadap piretroid - satu-satunya kelas insektisida yang saat ini
digunakan di ITN - tersebar luas dan terdeteksi dalam setidaknya satu vektor
malaria di lebih dari dua pertiga dari lokasi yang diuji dan tertinggi di wilayah
WHO di Afrika dan Mediterania Timur.
• Resistensi terhadap organoklorin terdeteksi untuk setidaknya satu vektor
malaria di hampir dua pertiga dari lokasi dan tertinggi di Wilayah Asia
Tenggara WHO. Resistensi terhadap karbamat dan organofosfat kurang lazim
dan terdeteksi di 33% dan 27% dari situs yang diuji, masing-masing. Prevalensi
tertinggi untuk karbamat di Wilayah Asia Tenggara WHO dan untuk
organofosfat di Wilayah Pasifik Barat WHO.
TANTANGAN PENGENDALIAN
MALARIA AGAR TETAP DI JALUR
YANG SESUAI - 7
Resistensi insektisida
• Mengingat situasi saat ini, pemantauan resistensi dan rencana
pengelolaan sangat penting, sejalan dengan rencana Global WHO untuk
pengelolaan resistensi insektisida pada vektor malaria. Hingga saat ini,
40 negara telah menyelesaikan rencana ini.
• ITN terus menjadi alat yang efektif untuk pencegahan malaria, bahkan
di daerah di mana nyamuk telah mengembangkan resistensi terhadap
piretroid. Ini dibuktikan dalam evaluasi multi-negara besar yang
dikoordinasikan oleh WHO antara 2011 dan 2016 di seluruh lokasi studi
di lima negara.
Trima Kasih