Anda di halaman 1dari 63

ANESTESI

PADA PASIEN
CARCINOMA
COLON

dr.Adi Chandra, Sp.An, M.Biomed

INTAN SAHARA

71 2016 062
LATAR BELAKANG

– Kanker kolorektal merupakan penyakit kanker yang menempati


urutan ketiga terbesar di dunia dan penyebab kematian keempat
terbanyak di dunia
– Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC)
(2013) dari evaluasi data-data didapatkan 1,4 juta kasus kanker
kolorektal di dunia.
– di Indonesia kolorektal merupakan urutan ke sepuluh setelah
kanker lain (leher rahim, payudara, kelenjar getah bening, kulit,
nasofaring, ovarium, dan tiroid).
LATAR BELAKANG

– Prinsip terapi pada carcinoma rectum selalu diawali dengan


tindakan operasi
– Selama proses pembedahan dengan pemberian anestesi umum,
salah satu usaha untuk mempertahankan jalan nafas adalah
dengan pemasangan endotrakeal tube
ANATOMI
HISTOLOGI
DEFINISI

– Kanker kolorektal (colo-rectal carcinoma)


atau disebut juga kanker usus besar
merupakan suatu tumor ganas yang
ditemukan di colon atau rectum
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Carcinoma Colon

– Usia – Pola makan


– Polip colon – Kurang aktivitas fisik
– Inflamatory bowel – Obesitas
disease – Merokok
– Genetik – Konsumsi alkohol
– DM type 2
Gejala klinis

– Gejala klinis kanker kolorektal pada lokasi tumor di kolon kiri berbeda dengam
kanan.
– Tumor di kolon kiri sering bersifat skirotik sehingga lebih banyak menimbulkan
stenosis dan obstruksi karena feses sudah menjadi padat. Tumor pada kolon kiri dan
rektum menyebabkan perubahan pola defekasi seperti konstipasi atau defekasi
dengan tenesmi, semakin distal letak tumor feses semakin menipis atau seperti
kotoran kambing atau lebih cair disertai darah atau lendir. Pada kanker kolon kanan
jarang terjadi stenosis karena feses masih cair.
– Gejala umumnya adalah dispepsia, kelemahan umum penurunan berat badan dan
anemia. Pada kanker di kolon kanan didapatkan masa di perut kanan bawah.
Tatalaksana

– Pembedahan
– Radiasi
– Kemoterapi
ANESTESI UMUM

– Tindakan untuk menghilangkan nyeri secara sentral disertai


dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau
reversible.
– tujuan anestesi umum
– Hipnotik/sedasi yaitu hilangnya kesadaran
– Analgesia yaitu hilangnya respon terhadap nyeri
– Muscle relaxant untuk relaksasi otot rangka.

Pemilihan Cara Anestesi

– Umur
– Status fisik
– Posisi pembedahan
– Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah
– Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi
– Keinginan pasien
– Bahaya kebakaran dan ledakan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anestesi

– Faktor respirasi
– Faktor sirkulasi
– Faktor jaringan
– Faktor zat anestesika
Persiapan Pra-Anestesi

– Mempersiapkan mental dan fisik secara


optimal.
– Merencanakan dan memilih teknik serta obat-
obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan
kehendak pasien.
– Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA
(American Society Anesthesiology):
KLASIFIKASI ASA

– ASA I : Pasien normal sehat, kelainan


bedah terlokalisir, tanpa kelainan faali,
biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas 2%.
– ASA II : Pasien dengan gangguan sistemik
ringan sampai dengan sedang sebagai akibat
kelainan bedah atau proses patofisiologis. Angka
mortalitas 16%.
– ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik
berat sehingga aktivitas harian terbatas. Angka
mortalitas 38%.
– ASA IV : Pasien dengan gangguan sistemik
berat yang mengancam jiwa, tidak selalu sembuh
dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ,
angina menetap. Angka mortalitas 68%.
– ASA V : Pasien dengan kemungkinan hidup
kecil. Tindakan operasi hampir tak ada harapan.
Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa
operasi / dengan operasi. Angka mortalitas 98%.
– ASA VI : Pasien mati otak yang organ
tubuhnya akan diambil (didonorkan)
JALAN NAFAS

– Dengan penilaian mallampati :


– Mallampati I

– Palatum molle, uvula, dinding posterior oropharynk, tonsilla palatina dan


tonsilla pharingeal.
– Mallampati II

– Palatum molle, sebagian uvula, dinding posterior uvula.


– Mallampati III

– Palatum molle, dasar uvula.


– Mallampati IV

– Palatum durum saja.


PREMDIKASI ANESTESI

Premedikasi anestesi adalah pemberian obat sebelum


anestesi
– Analgesik narkotik
– Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
– Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
– Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3µgr/kgBB
– Analgesik non narkotik
– Ponstan
– Tramol
– Toradon
– Hipnotik
– Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
– Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
– Sedatif
– Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1
mg/kgBB
– Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis 0,1mg/kgBB
– Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5
mg/kgBB
– Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB

– Antiemetic
– Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25
mg),dosis 0,001 mg/kgBB
– DBP
– Narfoz, rantin, primperan.
Induksi anestesi
INDUKSI

tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar.


– Persiapan induksi diperlukan :
– Scope
– Tube
– Airway
– Tape
– Introduce
– Connector.
INDUKSI INTRAVENA

Tiopental Propofol

Ketamin Opioid
INDUKSI INHALASI

N20 Halotan Enfluran

Isofluran Desfluran Sevofluran


Induksi intramuskular Induksi per rectal

– Sampai sekarang hanya – Cara ini hanya untuk


ketamin (ketalar) yang anak atau bayi
dapat diberikan secara menggunakan thiopental
intramuscular dengan atau midazolam.
dosis 5-7 mg/kgBB dan
setelah 3-5 menit pasien
tidur.
Induksi mencuri

– Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang


tidur. Induksi inhalasi biasa hanya sungkup
muka tidak kita tempelkan pada muka
pasien, tetapi kita berikan jarak beberapa
sentimeter, sampai pasien tertidur baru
sungkup muka kita tempelkan.
Pemeliharaan Anestesi

– Nitrous Oksida (N2O)


– Mempunyai sifat anestesi yang kurang kuat, tetapi dapat
melalui stadium induksi dengan cepat, karena gas ini
tidak larut dalam darah. Gas ini tidak mempunyai sifat
merelaksasi otot, oleh karena itu pada operasi abdomen
dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot.
OBAT PELUMPUH OTOT

– Atracurium besylate : obat pelumpuh otot non


depolarisasi
– Dosis intubasi : 0,5 – 0,6 mg/kgBB/iv
– Dosis relaksasi otot : 0,5 – 0,6 mg/kgBB/iv
– Dosis pemeliharaan : 0,1 – 0,2 mg/kgBB/ iv.
Terapi cairan

– Memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang


hilang selama operasi.
– Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena
terapi yang diberikan. Pemberian cairan operasi dibagi:
– Pra operasi
Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml
/ kg BB / jam. Setiap kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan
cairan bertambah 10-15 %.
– Selama operasi
– Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses
operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa untuk
operasi :
– Ringan = 4 ml/kgBB/jam.
– Sedang = 6 ml/kgBB/jam
– Berat = 8 ml/kgBB/jam.
– Setelah operasi
– Pemberian cairan pasca operasi
ditentukan berdasarkan defisit cairan
selama operasi ditambah kebutuhan
sehari-hari pasien.
PEMULIHAN
No. Kriteria Skor

1 Aktivitas motorik  Mampu menggerakkan ke-4 ekstremitas atas perintah atau secara sadar. 2
 Mampu menggerakkan 2 ekstremitas atas perintah atau secara sadar.
Aldrete score ≥  Tidak mampu menggerakkan ekstremitas atas perintah atau secara sadar. 1

8, tanpa nilai 0,
0
maka dapat dipindah
2 Respirasi  Nafas adekuat dan dapat batuk 2
ke ruang perawatan.  Nafas kurang adekuat/distress/hipoventilasi 1
 Apneu/tidak bernafas 0

3 Sirkulasi  Tekanan darah berbeda ± 20% dari semula 2


 Tekanan darah berbeda ± 20-50% dari semula 1
 Tekanan darah berbeda >50% dari semula
0

4 Kesadaran  Sadar penuh 2


 Bangun jika dipanggil 1
 Tidak ada respon atau belum sadar 0

5 Warna kulit  Kemerahan atau seperti semula 2


 Pucat 1
 Sianosis 0
INTUBASI

– Memasukan pipa ke dalam rongga tubuh melalui


mulut atau hidung.
– Untuk mempertahankan jalan nafas agar tetap
bebas dan mencegah kemungkinan terjadinya
aspirasi lambung.
Tujuan intubasi

– Mempermudah pemberian anestesia.


– Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta
mempertahankan kelancaran pernapasan.
– Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi lambung (pada
keadaan tidak sadar, lambung penuh dan tidak ada reflex batuk).
– Mempermudah pengisapan sekret trakeobronkial.
– Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
– Mengatasi obstruksi laring akut.
intubasi

Indikasi kontraindikasi

– mengontrol jalan napas,


– trauma servikal yang
menyediakan saluran udara
memerlukan keadaan
yang bebas hambatan untuk
imobilisasi tulang vertebra
ventilasi dalam jangka
servical.
panjang, meminimalkan
risiko aspirasi,
menyelenggarakan proteksi
terhadap pasien
Persiapan intubasi

– Persiapan untuk intubasi termasuk mempersiapkan


alat‐alat dan memposisikan pasien. ETT sebaiknya dipilih
yang sesuai. Pengisian cuff ETT sebaiknya di tes terlebih
dahulu dengan spuit 10 milliliter. Jika menggunakan
stylet sebaiknya dimasukkan ke ETT.
Cara Intubasi Endotrakea

– Mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop dipegang dengan
tangan kiri
– Daun laringoskop dimasukkan dari sudut kanan dan lapangan pandang akan
terbuka
– Daun laringoskop didorong ke dalam rongga mulut. Gagang diangkat ke atas dengan
lengan kiri dan akan terlihat uvula, faring serta epiglotis.
– Ekstensi kepala dipertahankan dengan tangan kanan. Epiglotis diangkat sehingga
tampak aritenoid dan pita suara yang tampak keputihan berbentuk huruf V.
– Tracheal tube diambil dengan tangan kanan dan ujungnya dimasukkan melewati pita
suara sampai balon pipa tepat melewati pita suara.
– Bila perlu, sebelum memasukkan pipa asisten diminta untuk menekan laring ke
posterior sehingga pita suara akan dapat tampak dengan jelas. Bila
mengganggu, stylet dapat dicabut.
– Ventilasi atau oksigenasi diberikan dengan tangan kanan memompa balon dan
tangan kiri memfiksasi. Balon pipa dikembangkan dan daun laringoskop
dikeluarkan selanjutnya pipa difiksasi dengan plester.
– Dada dipastikan mengembang saat diberikan ventilasi. Sewaktu ventilasi,
dilakukan auskultasi dada dengan steteskop, diharapkan suara nafas kanan dan
kiri sama.
Ekstubasi Perioperatif

– Syarat-syarat ekstubasi adalah sebagai berikut.


– Vital capacity 6 – 8 ml/kg BB.
– Tekanan inspirasi diatas 20 cm H2O.
– PaO2 diatas 80 mm Hg.
– Kardiovaskuler dan metabolic stabil.
– Tidak ada efek sisa dari obat pelemas otot.
– Reflek jalan napas sudah kembali dan penderita sudah
sadar penuh.
LAPORAN KASUS

– Nama : Tn.R – Bangsa : Indonesia


– No. RM : 56.91.40 – Pekerjaan : Pegawai kapal
– Tanggal Lahir : 6 Oktober 1974 – Alamat : Tepi sungai ogan RT
– Umur : 45 tahun 030 RW 009

– Jenis Kelamin : Laki-laki – Tanggal Masuk : 23 Maret 2019

– Status Perkawinan : Menikah – Visite Pre-op : 25 maret 2017,


pukul 06.00 WIB
– Agama : Islam
– Tindakan Operatif : 25 maret 2017,
pukul 10.00 WIB
Keluhan Utama
– Nyeri perut seperti tertarik ± 2 bulan yang
Keluhan Tambahan
– Perut membesar, nyeri dan terasa penuh, mual,
muntah sulit BAB dan buang angin.


Riwayat Perjalanan Penyakit

– Os datang ke POLI RSUD Palembang BARI pada tanggal 21 maret


2019 dengan keluhan nyeri perut seperti tertarik dan berpindah-
pindah, nyeri perut yang dialami sudah lama sejak 1 tahun terakhir
namun baru memberat 2 bulan terakhir, os juga mengeluh mual,
muntah, sulit BAB dan buang angin sejak 2 bulan SMRS. Os juga
merasakan nyeri perut sejak 2 bulan SMRS, dirasakan hilang timbul
dan intensitas nya semakin hari semakin nyeri. Selain itu, os
mengaku perutnya membesar dan terasa penuh sejak 1 minggu
SMRS.
– Sebelumnya os juga sering merasa mudah kelelahan dan mengalami penurunan
nafsu makan. Os juga mengalami penurunan berat badan drastis dalam 2 bulan
terakhir. Akibat keluhan ini os dirawat di Bangsal Bedah Kelas III (G18) dan
dilakukan pemeriksaan endoscopy di dapatkan diagnosis menderita Ca colon
dengan Obstruksi dan dilakukan tindakan berupa reseksi hemikolektomi kanan
pada tanggal 25 maret 2019
– Saat pemeriksaan pada tanggal 27 maret 2019 os dalam keadaan stabil. Nyeri
post operasi (+), BAB dan BAK (+) normal, mual (-), muntah (-), sakit kepala (-).
Riwayat Penyakit Dahulu

– Riwayat diabetes melitus disangkal


– Riwayat hipertensi disangkal
– Riwayat asthma disangkal
– Riwayat alergi makanan dan alergi obat-obatan
disangkal.
Riwayat Kebiasaan

– Makan sehari 3x, selalu makan makanan


cepat saji dan mie instant setiap hari dan
jarang konsumsi buah dan sayur.
– Merokok sejak pasien SD dan konsumsi
alkohol kadang-kadang.
– Riwayat Pengobatan
– Tidak ada.

– Riwayat Pembedahan
– Belum pernah
Riwayat Penyakit Keluarga

– Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal


– Riwayat diabetes melitus di keluarga disangkal
– Riwayat hipertensi di keluarga disangkal
– Riwayat asthma di keluarga disangkal
– Riwayat alergi makanan dan alergi obat-obatan di
keluarga disangkal
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, ASA II
Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan Darah : 120/80 mmHg


Denyut Nadi : 88x/menit
Frekuensi napas : 22x/menit
Temperatur : 36,6oC
Tinggi Badan : 168 cm
Berat Badan : 61 kg
STATUS GENERALIS
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
– Hematologi
– Hemoglobin : 10,7 g/dl
– Eritrosit : 3.92 jt/ul
– Leukosit : 11.300/ul
– Trombosit : 389.000/ul
– Hematokrit : 32%
– Hitung Jenis:
– Basofil : 0%
– Eosinofil : 0%
– Batang : 0%
– Segmen : 90%
– Limfosit : 6%
– Monosit : 4%
– Kimia Darah :
– Albumin : 3.4,7 g/dl
– Diagnosis Klinis : Carcinoma Colon dextra dengan
Obstruksi
– Diagnosis Anestesi : ASA II, mallampati I
– Rencana Operasi: Reseksi Hemikolektomi kanan
– Rencana Anestesi : General Anesthesia dengan
pemasangan Endotracheal Tube (ETT).
TATALAKSANA POST
OPERASI

– IVFD RL 1000 cc/ 24 jam


– Inj. Ceftriaxone 2x1gr
– Inj. Metronidazole 3 x 500mmg
– Inj. Ketorolac 3x30mg bolus
– Puasa selama 24 jam, nutrisi melalui
parentral
Status fisik : ASA II

Penyulit tidak Premedikasi : Teknik : GA


ada Ondansentron 4 mg dengan intubasi
(i.v).
Asam Tranexamat 10 ml
Drip di dalam RL 500 cc Jalan napas : LMA
Posisi : Terlentang uk 7,5
Dexametasone 10 mg
(i.v)
Ketorolac 10 mg (i.v)
INDUKSI ANESTESI

Induksi inhalasi Obat tambahan


Induksi IV Dexamethason dosis 0.5-
• Sevoflurane, O2, 25 mg IV
• Fentanyl N20 Asam Tranexamat 10 ml
• Propofol Drip di dalam RL 500 cc
Ketorolac dosis 30 mg IV
Atracurium dosis 0,5 – 0,6
mg/kgBB IV
Skor ALDRETTE : 8
Lama pembiusan :
2 jam 20 menit ( di ruang
pemulihan)

Follow up : tidak
terdapat tanda =-
tanda
hipokalsemia
PEMBAHASAN

– Pada kasus ini, seorang laki-laki berinisial Tn. R, 45 tahun, dengan


diagnosis Carcinoma Colon dextra, status ASA II dan mallampati I,
direncanakan untuk dilakukan tindakan Reseksi Hemikolektomi
kanan melalui general anesthesia dengan pemasangan
endotracheal tube(intubasi)
– Ondansentron, sebagai anti emetic, suatu antagonis selektif 5-HT3,
menghambat serotonin dan bekerja berdasarkan mekanisme
sentral dan perifer.
– Fentanyl : 1-3 mcg/ kgBB, onset 30 detik – 1 menit, durasi 30-60
menit.
– Ketorolac : analgesik non narkotik, OAINS, hambat
sintesis prostaglandin.
– Dosis awal yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan
10–30 mg tiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan.
– Dexametason : glukokortikoid sintetik dengan aktivitas
imunosupresan dan anti-inflamasi
– Dosis dexamethason injeksi antara 0.5 – 0.9 mg/kgBB.
– Injeksi IV Propofol 100 mg. Propofol dipilih karena obat ini
memiliki onset yang cepat, serta duration of action yang singkat.
– Dosis : 2-2,5 mg/kgBB. Onset dari propofol sangat cepat yaitu 30 –
45 detik dengan durasi 20 – 75 menit.
– Pemberian RL ini merupakan salah satu tindakan terapi cairan,
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap cairan
yang banyak keluar saat operasi berlangsung.
– Atracurium Besylate 10 mg (i.v) ditujukan sebagai
terapi penunjang anestesi untuk memudahkan
intubasi endotrakeal dan untuk menghasilkan
relaksasi otot rangka selama pembedahan.
– Follow up pasien post operasi : tidak terdapat
keluhan dan tanda hipokalsemia, Chvostek sign (-
), Trosseau sign (-).
Terimakasih