Anda di halaman 1dari 5

Cara Merumuskan Tindak Pidana

Asas Legalitas
Syarat untuk memungkinkan adanya penjatuhan
pidana adalah adanya perbuatan (manusia) yang
memenuhi rumusan delik dalam UU. Ini
merupakan konsekuensi logis dar asas legalitas
sebagai prinsip kepastian.
Perumusan per-UU-an Hukum Pidana
• Subyek Hukum yang menjadi sasaran norma
(orang, korporasi, atau orang tertentu)
• Perbuatan yang dilarang, baik dalam bentuk
melakukan sesuatu, tidak melakukan sesuatu
dan menimbulkan akibat
• Ancaman pidana atau sanksi pidana
Cara Merumuskan Norma
• Perumusan normanya ada 3 (tiga) cara :
– diuraikan atau disebutkan satu persatu unsur-unsur
perbuatan (perbuatan, akibat dan keadaan yang
bersangkutan, misalnya pasal 154, 281 dan 305.
– tidak diuraikan, tetapi hanya disebutkan kualifikasi delik,
misal 297. 351. karena tidak disebutkan unsurnya secara
tegas, maka perlu penafsiran historis (contoh:
penganiayaan, tiap perbuatan yang dilakukan dengan
sengaja dan ditujukan kepada orang lain yang
mengakibatkan sakit atau luka). Cara ini tidak dibenarkan
karena memunculkan penafsiran yang berbeda-beda
sehingga tidak menjamin kepasatian hukum.
– penggabungan cara pertama dan kedua, misalnya pasal
124, 263, 338, 362, dll.
Penempatan Norma dan Sanksi
• Penempatan norma dan sanksi ada 3 (tiga) cara :
– Penempatan norma dan sanksi sekaligus dalam satu pasal.
Cara ini dilakukan dalam Buku II dan III KUHP kecuali pasal
112 sub 2 KUHP
– Penempatan terpisah, artinya norma hukum dan sanksi
pidana ditempatkan dalam pasal atau ayat yang terpisah.
Cara ini diikuti dalam peraturan pidana di luar KUHP.
– sanksi pidana telah dicantumkan terlebih dahulu,
sedangkan normanya belum ditentukan. Cara ini disebut
ketentuan hukum pidana yang blanko (Blankett
Strafgesetze) tercantum dalam pasa 122 sub 2 KUHP, yaitu
normanya baru ada jika ada perang dan dibuat dengan
menghubungkannya dengan pasal ini.