Anda di halaman 1dari 35

“DEFANS MUSCULAR”

Oleh:
dr. Maria Melita Lake
PENGERTIAN

 Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh


lapangan abdomen yang menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietale
 Penyakit Penyebab defans muscular :

- peritonitis
- appendicitis
- trauma abdomen
- hernia
PENDAHULUAN

 Peradangan peritoneum (peritonitis)


merupakan komplikasi berbahaya yang
sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari
organ-organ abdomen
 Keputusan untuk melakukan tindakan bedah
harus segera diambil karena setiap
keterlambatan akan menimbulkan penyakit
yang berakibat meningkatkan morbiditas
dan mortalitas.
 Ketepatan diagnosis dan
penanggulangannya tergantung dari
kemampuan melakukan analisis pada
anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang
ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONEUM
 Menutupi sebagian dari organ abdomen dan
pelvis
 Membentuk pembatas yang halus sehingga
organ yang ada dalam rongga peritoneum
tidak saling bergesekan
 Menjaga kedudukan dan mempertahankan
hubungan organ terhadap dinding posterior
abdomen
 Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah
yang membantu melindungi terhadap infeksi.
 Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang
merupakan pembungkus visera dalam rongga perut.
 Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel
mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. Terbagi menjadi
bagian viseral, yang menutupi usus dan mesenterium
dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen
dan berhubungan dengan fasia muskularis.

 Peritonitis adalah keadaan akut abdomen akibat


peradangan sebagian atau seluruh selaput peritoneum
parietale atau visceral pada rongga abdomen.
Penyebab tersering adalah perforasi dari organ
lambung, colon, kandung empedu dan apendiks.
Infeksi dapat juga menyebar dari organ lain yang
menjalar melalui darah.
Faktor resiko terjadinya peritonitis :

 Melalui organ yang terinfeksi


 Kegiatan seksual
 Infeksi rahim dan saluran telur
 Kelainan hati & gagal jantung
 Pasca pembedahan
 Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal)
 Iritasi tanpa infeksi
 Materi kimia yang iritan (asam lambung dari
perforasi usus, empedu dari laserasi hepar).
patofisiologi

kantong-kantong
keluarnya eksudat nanah (abses)
invasi bakteri
fibrinosa diantara perlekatan
fibrinosa

dapat menetap
sebagai pita-pita Perlekatan biasanya
obstruksi usus. fibrinosa menghilang bila
infeksi menghilang
klasifikasi
Akut akut
sekunder
(supurativa)

Bentuk lain
Peritonitis
bakterial
tersier

spesifik

akut

Non spesifik
 Peritonitis primer dibedakan menjadi
(1) spesifik yaitu peritonitis yang disebabkan
oleh infeksi kuman yang spesifik seperti
kuman TB.
(2) Non Spesifik yaitu peritonitis yang
disebabkan oleh infeksi kuman yang non
spesifik seperti pneumonia
2. sekunder (berhubungan dengan proses
patologi yang berlangsung di organ dalam),
peritonitis sekunder merupakan bentuk
peritonitis yang paling sering terjadi,
disebabkan oleh perforasi atau nekrosis
(infeksi transmural) organ-organ dalam
dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal.
Berbeda dengan SBP, peritonitis sekunder
lebih banyak disebabkan bakteri gram positif
yang berasal dari saluran cerna bagian atas.
 Anamnesis :
nyeri pada seluruh lapangan perut  kadang
disertai dengan :
- Demam
- Mual / Muntah
- BAB tidak ada  khas
- kadang mencret
 Inspeksi
Pada inspeksi, pemeriksa mengamati adakah
jaringan parut bekas operasi menunjukkan
kemungkinan adanya adhesi, perut
membuncit dengan gambaran usus atau
gerakan usus yang disebabkan oleh
gangguan pasase. Pada peritonitis biasanya
akan ditemukan perut yang membuncit dan
tegang atau distended
 Palpasi
- Defans muskular (perut memapan)
- Nyeri tekan pada seluruh lapangan perut

 Perkusi. Nyeri ketok menunjukkan adanya iritasi pada


peritoneum, adanya udara bebas atau cairan bebas juga
dapat ditentukan dengan perkusi melalui pemeriksaan
pekak hati dan shifting dulnesss. Pada pasien dengan
peritonitis, pekak hepar akan menghilang, akibat dari
perforasi usus yang berisi udara sehingga udara akan
mengisi cavum peritoneum sehingga pada perkusi hepar
terjadi perubahan redup menjadi timpani dan perkusi
abdomen hipertimpani karena adanya udara bebas.
 Auskultasi
Auskultasi dilakukan untuk menilai apakah
terjadi penurunan suara bising usus. Pasien
dengan peritonitis umum,bising usus akan
melemah atau menghilang sama sekali, hal
ini disebabkan karena peritoneal yang
lumpuh sehingga menyebabkan usus ikut
lumpuh/tidak bergerak`(ileus paralitik).
Gejala klinis :

 Rangsangan peritoneum (+)

 Peritonitis bakterial: suhu badan , takikardia, hipotensi,


letargi, syok

 Nyeri subjektif nyeri waktu bergerak: jalan, bernafas,


batuk, atau mengejan.

 Nyeri objektif nyeri jika digerakkan: palpasi, nyeri tekan


lepas, tes psoas, atau tes lainnya
 Gambaran klinik
 inspeksi : perut distensi
 Palpasi : nyeri tekan, nyeri lepas, defans
muskular
 Perkusi : hipertimpani
 Auskultasi : suara peristaltik menghilang
Pemeriksaan lab :

Didapatkan :
 Leukositosis
 Hematokrit
 Asidosis metabolik ( ph = 7.31 PCO2 : 40 BE : -4)
Foto polos abdomen 3 posisi
Didapatkan :
 Gambaran udara kabur dan tidak tersebar
merata
 Penebalan dinding usus
 Perselubungan menyeluruh atau pun di
bagian-bagian tertentu
 Gambaran garis permukaan cairan dalam
usus (air-fluid levels) atau dalam rongga
peritoneal (intraperitoneal fluid level)
 Kalau terdapat perforasi akan terlihat udara
bebas di bawah diafragma.
 Apendisitis
 Pankreatitis
 Gastroenteritis
 Kolesistitis
 Salpingitis
 kehamilan ektopik terganggu
PENATALAKSANAAN

 Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang


secara intravena

 Pemberian antibiotika yang sesuai

 Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis


yang difus menggunakan larutan kristaloid
(saline)

 tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.


 Resusitasi hebat dengan larutan saline
isotonik

 dekompresi saluran cerna dengan


penghisapan nasogastrik dan intestinal

 Pembuangan fokus septik atau penyebab


radang lain laparotomi
 Komplikasi dini
 Septikemia dan syok septik
 Syok hipovolemik
 Sepsis intra abdomen rekuren
 Abses residual intraperitoneal
 Portal Pyemia (misal abses hepar)
 Komplikasi lanjut
 Adhesi
 Obstruksi intestinal rekuren
 Prognosis untuk peritonitis lokal dan ringan
adalah baik

 Pada peritonitis umum prognosisnya


mematikan akibat organisme virulen
Resume :

Peritonitis adalah peradangan pada


peritonium yang merupakan pembungkus
visera dalam rongga perut.

Diagnosis dari peritonitis ditegakkan dari


gambaran klinik, pemeriksaan laboratorium
dan radiologis
 Prinsip umum terapi pada peritonitis
adalah penggantian cairan dan elektrolit
yang hilang yang dilakukan secara
intravena, terapi antibiotika, terapi
analgesik diberikan untuk mengatasi
nyeri, dan tindakan bedah mencakup
mengangkat materi terinfeksi dan
memperbaiki penyebab.
2. Appendicitis