Anda di halaman 1dari 23

Kejang Demam

Sederhana
Dipo Alam Kencono
N 111 13 053

Pembimbing Klinik
dr. Amsyar Praja, Sp.A
 Kejang demam ialah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh
suatu proses ekstrakranium.
 Menurut Consensus Statement on Febrile
Seizure, kejang demam adalah suatu
kejadian pada bayi atau anak, biasanya
terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun,
berhubungan dengan demam tetapi tidak
terbukti adanya infeksi intrakranial atau
penyebab tertentu.

Pendahuluan
 Identitas Pasien
 Nama: An. RH
 Usia: 1 tahun 3 bulan
 Jenis kelamin: Laki-laki
 Tanggal Masuk: 1/10/2014

Status Pasien
 Keluhan utama: Kejang
 Riwayat penyakit sekarang
Pasien anak laki-laki 1 tahun 3 bulan masuk rumah sakit
dengan keluhan kejang. Keluhan dialami kurang lebih 5
menit, serangan kejang 1 kali. Kejang dialami 20.00 wita.
Kejang ditandai dengan tangan mengepal, badan kaku dan
kaki tangannya tampak tersentak. Pasien sebelum kejang
mengalami demam. Sudah diberi obat penurun panas, tapi
masih panas. Kesadaran anak baik sebelum kejang dan
setelah kejang pasien seperti mengantuk. Pasien dibawa
berobat ke Puskesmas pagi harinya tetapi kejang kembali
muncul pada pukul 10.00 wita sehingga pasien dibawa ke
UGD RSUD Undata. Pasien muntah 3 kali ketika di UGD,
tanpa lendir maupun darah, tidak ada batuk maupun pilek,
tetapi demam sudah turun dan kejang tidak timbul. Buang
air besar dan kecil pasien biasa.
 Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien pernah kejang pertama kali di usia
6 bulan, frekuensi 1 kali, disertai demam
sebelumnya.
 Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada di keluarga yang mengalami
gejala atau keluhan yang sama dengan
pasien.
 Riwayat sosial ekonomi
Keluarga pasien memiliki status sosial ekonomi menengah
 Riwayat kehamilan dan persalinan
Pasien lahir spontan di rumah sakit dibantu oleh dokter.
Lahir cukup bulan. Warna air ketuban tidak diketahui.
Berat bayi lahir 3200 gram.
 Anamnesis makanan
Pasien minum ASI sejak lahir sampai umur 6 bulan. Dari
umur 6 bulan sampai 8 bulan pasien minum susu formula
ditambah dengan bubur sun. Dari umur 8 bulan sampai 1
tahun bubur sun diganti dengan bubur saring dan masih
mendapatkan susu formula. Umur 1 tahun sampai
sekarang diberikan makanan keluarga.
 Imunisasi: imunisasi dasar lengkap
 Keadaan umum: sakit sedang
 Kesadaran: compos mentis
 Berat badan: 8.8 kg
 Panjang badan: 75 cm
 Status gizi: Z-Score -2-(-1) (gizi baik)
 Tanda-tanda vital
Nadi: 126 x/menit Suhu: 37.5 °C
Respirasi: 32 x/m CRT: < 2 detik

Pemeriksaan Fisik
 Kulit : tidak ada kelainan
 Kepala : tidak ada kelainan
 Leher : tidak ada kelainan
 Thorax : tidak ada kelainan
 Abdomen : tidak ada kelainan
 Ekstremitas : tidak ada kelainan
 Refleks : dalam batas normal
WBC 9,8 x 103/uL 5 - 10/uL

NEU 2,8 x 103/mm3 2,0 – 7,5 x 103/mm3

LYM 2,30 x 103/mm3 1 – 4 x 103/mm3

RBC 3,76 x 106/uL 3,6 – 6,5 x 106/uL

HBG 12,0 g/dL 11,5 – 16 g/dL

MCV 83 um3 80-100 um3

MCH 27,8 pg 27 – 32 pg

MCHC 32,1 g/dL 32 – 36 g/dL

HCT 37,4 % 37 – 47 %

PLT 210 x 103/mm3 150 – 500 x 103/ mm3


 Pasien anak laki-laki 1 tahun 3 bulan masuk
rumah sakit dengan keluhan kejang. Keluhan
dialami kurang lebih 5 menit, serangan kejang 1
kali pada malam hari, didahului dengan febris
sebelumnya. Kejang ditandai tangan mengepal,
badan kaku dan ekstremitas tersentak. Kejang
kemudian terjadi lagi pada pagi harinya satu kali.
Kesadaran baik sebelum kejang dan setelah
kejang pasien seperti mengantuk. Febris (+) dari
sore sampai siang keesokan harinya. Pasien
sudah tidak febris dan tidak kejang ketika masuk
UGD. Memiliki riwayat kejang sekali ketika usia 6
bulan, didahului dengan febris.

Resume
 Kejang Demam Sederhana

Diagnosis
 IVFD Ringer Laktat 14 tpm
 Parasetamol 4 x 3/4 cth
 Stesolid syr 2 x 1/2 cth

Terapi
 2-10-2014
 S:kejang (-), demam (-), muntah (-)
 O: Nadi: 122 x/menit Suhu: 36.5 °C Respirasi: 38 x/m

 Kulit : tidak ada kelainan


 Kepala : tidak ada kelainan
 Leher : dalam batas normal
 Dada : dalam batas normal
 Abdomen : dalam batas normal
 Ekstremitas : tidak ada kelainan
 Refleks : dalam batas normal

 A: post kejang demam sederhana


 P: IVFD Ringer Laktat 14 tpm
Parasetamol 4 x 3/4 cth
Stesolid syr 2 x 1/2 cth

Follow Up
 3-10-2014
 S: tidak ada keluhan
 O: Nadi: 120 x/menit Suhu: 36.5 °C Respirasi: 32 x/m

 Kulit : tidak ada kelainan


 Kepala : tidak ada kelainan
 Leher : dalam batas normal
 Dada : dalam batas normal
 Abdomen : dalam batas normal
 Ekstremitas : tidak ada kelainan
 Refleks : dalam batas normal

 A: post kejang demam sederhana


 P: IVFD Ringer Laktat 14 tpm  lepas infus
Parasetamol 4 x 3/4 cth
Stesolid syr 2 x 1/2 cth
Boleh Pulang
 Kejang demam sederhana merupakan
kejang demam yang berlangsung singkat,
kurang dari 15 menit, dan umumnya akan
berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum
tonik dan atau klonik, tanpa gerakan
fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu
24 jam.
 Merupakan 80% di antara seluruh kejang
demam. Kejang demam terjadi pada 2-
4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun.
 Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai
4 tahun
 Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15
menit.
 Kejang bersifat umum.
 Kejang timbul dalam 16 jam pertama
 Pemeriksaan neurologis sebelum dan sesudah
kejang normal
 Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1
minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan
kelainan.
 Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak
melebihi 4 kali.

Kriteria Livingstone
 Pengobatan fase akut
 Profilaksis intermitten
 Profilaksis terus menerus
 Pada waktu pasien sedang mengalami kejang,
semua pakaian yang ketat harus dibuka dan
pasien dimiringkan apabila muntah untuk
mencegah terjadinya aspirasi.
 Jalan napas harus bebas agar oksigen terjamin.
Pengisapan lendir dilakukan secara teratur,
diberikan oksigen, kalau perlu dilakukan intubasi.
 Awasi keadaan vital seperti kesadaran, suhu,
tekanan darah, pernapasan dan fungsi jantung.
 Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan
pemberian kompres dan antipiretik.
 Paracetamol 10-15 mg/kgbb, diazepam
0.3mg/kgbb

Pengobatan fase akut


 Pengobatan profilaksis intermitten dengan
antikonvulsan segera diberikan pada waktu
pasien demam dengan suhu rektal lebih dari 38.
 Diazepam intermittent dapat diberikan per-oral
maupun rektal.
 Dosis rektal tiap 8 jam adalah 5 mg untuk pasien
dengan berat badan kurang dari 10 kg, serta 10
mg untuk pasien dengan berat lebih dari 10 kg.
 Diazepam oral dapat diberikan dengan dosis 0,3
mg/kgBB perhari dibagi dalam 3 dosis, diberikan
bila pasien menunjukkan suhu 38,5 atau lebih

Profilaksis intermitten
 Pemberian fenobarital 3-4 mg/kgBB/hari
menunjukkan hasil yang bermakna untuk mencegah
berulangnya kejang demam.
 Pemberian asam valproat sebagai profilaksis. Dosis
asam valproat adalah 15-40 mg/kgBB.
 Indikasi profilaksis terus menerus
◦ Sebelum kejang demam pertama sudah ada kelainan
neurologis atau perkembangan
◦ Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau
saudara kandung
◦ Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti
kelainan neurologis sementara atau menetap
◦ Dapat dipertimbangkan pemberian profilaksis bila kejang
demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan
atau terjadi kejang multipel dalam satu episode demam
Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-
2 tahun setelah kejang berakhir, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan.

Profilaksis terus menerus


 Saat ini diazepam merupakan obat pilihan utama
untuk kejang demam fase akut, karena
diazepam mempunyai masa kerja yang singkat.
Diazepam dapat diberikan secara intravena atau
rektal
 Pada kasus ini pengobatan yang diberikan yaitu
stesolid syrup untuk mencegah agar kejang tidak
terjadi,sebab saat pasien dirawat pasien sudah
tidak mengalami kejang, sehingga diberikan
profilaksis dengan stesolid syrup serta diberikan
paracetamol sirup untuk demamnya akan tetapi
jika sudah tidak demam dapat dihentikan
 Prognosis dari kejang demam sederhana
dengan penanggulangan yang tepat dan
cepat prognosisnya akan baik dan tidak
perlu menyebabkan kematian
Terima Kasih