Anda di halaman 1dari 18

POLIP NASI 1

DISUSUN OLEH:
Fauziyah Abidah, S.Ked
111 2017 2035
PEMBIMBING:
dr. Rismayanti, Sp. THT-KL

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN KESEHATAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019
2

Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam


rongga hidung berwarna putih bening atau keabu-abuan,
mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan (polip
edematosa).

Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning-


kuningan atau kemerah-merahan, suram dan lebih kenyal
(polip fibrosa).
3

Hidung Luar Kerangka Hidung Hidung Dalam


1) pangkal hidung (bridge), 2) batang 1) sepasang kartilago nasalis lateralis Yang terbesar dan letaknya paling bawah
hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung superior, 2) sepasang kartilago nasalis ialah konka inferior, yang lebih kecil adalah
(hip), 4) ala nasi, 5) kolumela, dan 6) lateralis inferior dan 3) tepi anterior konka media, lebih kecil lagi ialah konka
lubang hidung (nares anterior). kartilago septum. superior.

Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam : Soepardi EA, Iskandae N, Ed .Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi keenam. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.h.118-119.
4

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari


cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum
terdapat anastomosis dari cabang-cabang
a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior
dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus
Kiesselbach.

Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara


ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus
kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup,
sehingga merupakan faktor predisposisi untuk
mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.
5

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan


sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang
dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus. Rongga
hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan
sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina.
Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan
sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau
otonom untuk mukosa hidung.
Pengatur
Indra Proses
kondisi
Penghidu Bicara
udara

Sebagai
Sebagai penyaring Resonansi Refleks
jalan nafas dan Suara Nasal
pelindung
7

Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada
mukosa hidung.

Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang
kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat.

Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan
tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah.

Van Der Baan. Epidemiology and natural history dalam Nasal Polyposis. Copenhagen: Munksgaard, 1997. 13-1
8

Edema mukosa Stroma terisi Mukosa sembab Turun ke dalam


Mukosa sembab
di meatus cairan semakin rongga hidung
menjadi polipoid
medius interseluler membesar menjadi polip

The Power of PowerPoint - thepopp.com


9

Ketidakseimbangan Hipotesis
Infeksi
Vasomotor Superantigen

Alergi Nitrit Oksida Infeksi Jamur

Predisposisi
Fenomena Bernoulli Cystic Fibrosis
Genetik

Teori Ruptur Epitel Intoleransi Aspirin Kompisisi Seluler Kimia Mediator

The Power of PowerPoint - thepopp.com


1
0

Rasa sumbatan di hidung. Sumbatan ini tidak hilang – timbul dan makin lama semakin
berat keluhannya.

Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia.

Sering juga ada keluhan pilek lama yang tidak sembuh-sembuh, suara sengau, serta sakit
kepala.

Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya akan terjadi
sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore.

Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung.

Drake Lee AB. Nasal Polyps. In: Scott Brown’s Otolaryngology, Rhinology. 5th Ed. Vol 4. Butterworths. London, 1987: 142-53.
1
1

polip yang masif.


polip sudah keluar dari
meatus medius, tampak di
ronggga hidung tapi
belum memenuhi rongga
hidung.

polip masih terbatas di


meatus medius

Drake Lee AB. Nasal Polyps. In: Scott Brown’s Otolaryngology, Rhinology. 5th Ed. Vol 4. Butterworths. London, 1987: 142-53.
1
3

ANAMNESIS PEM. FISIS PEM PENUNJANG


• hidung rasa tersumbat dari yang • Pada pemeriksaan rinoskopi • Naso-endoskopi
ringan sampai berat anterior terlihat sebagai massa yang
• Pemeriksaan Radiologi : Foto polos
berwarna pucat yang berasal dari
• rinore mulai yang jernih sampai sinus paranasal (posisi Waters, AP,
meatus medius dan mudah
purulen, hiposmia atau anosmia. Cadwell dan lateral) dapat
digerakkan.
memperlihatkan penebalan mukosa
• Mungkin disertai bersin-bersin, rasa
• Polip nasi yang massif dapat dan adanya batas udaracairan di
nyeri pada hidung disertai rasa sakit
menyebabkan deformitas hidung dalam sinus, tetapi kurang
kepala di daerah frontal.
sehingga hidung tampak mekar bermanfaat pada kasus polip.
• Tanyakan riwayat rhinitis alergi, karena pelebaran batang hidung.
asma, intoleransi terhadap aspirin
dan alergi obat lainnya serta alergi
makanan.

John E McClay GOOD. Nasal Polyps. Associate Professor of Pediatric Otolaryngology, Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Children's Hospital of Dallas, University of Texas
Southwestern Medical School. update Oct 22, 2008. http://www.medicine.com. Di akses pada tanggal 30 Juni 2015 .
Medikamentosa Non-Medikamentosa
Kortikosteroid topikal hidung atau nasal spray, Kortikosteroid Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa
Sistemik, Antibiotik atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah.
1
5

Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga perlu ditujukan kepada penyebabnya,
misalnya alergi. Terapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab
dan eliminasi.
1
6
Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung,
berwarna putih bening atau keabu-abuan, mengkilat, lunak karna
mengandung cairan. Penyebab polip nasi sebagai akibat reaksi
hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip nasi terjadi
karena adanya mukosa yang edema yang kebanyakan terdapat di daerah
meatus medius, kemudian stroma akan terisi oleh cairan intraseluler
sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid, bila mukosa yang
sembab makin membesar akan turun ke dalam rongga hidung sambil
membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip.
Gejala utama polip nasi adalah rasa sumbatan pada hidung. Pada
rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka
hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaannya adalah
massa berwarna pucat berasal dari meatus medius, bertangkai, mudah
digerakkan, konsistensi lunak, tidak nyeri bila ditekan, tidak mudah
berdarah dan pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak
mengecil.
Salah satu pengobatan yang efektif untuk polip nasi adalah kortikosteroid,
baik oral maupun topikal, yang dapat mengurangi ukuran polip dan
mengurangu gejala sumbatan hidung. antibiotik dapat diberikan untuk
mencegah terjadinya infeksi oleh karena obstruksi dari sinus. Bila tidak
membaik dengan terapi pengobatan atau polip yang sangat masif dapat
dipertimbangkan untuk terapi bedah.
1
7

1. Mangunkusumo E. Wardani S R. Polip hidung. Dalam: Soepardi, Efiaty. Iskandar, Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok. Edisi ke Enam. Jakarta: Fakkultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. h. 123-5.
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam : Soepardi EA, Iskandae N, Ed .Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala leher. Edisi keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.h.118-119.
3. Van Der Baan. Epidemiology and natural history dalam Nasal Polyposis. Copenhagen: Munksgaard, 1997. 13-1
4. Alper Nabi Erkan, MD, Özcan Çakmak, MD, and Nebil Bal, MD.Frontochoanal polyp article by All Rights Reserved
http://www.entjournal.com . Di akses pada tanggal 30 Juni 2015.
5. Drake Lee AB. Nasal Polyps. In: Scott Brown’s Otolaryngology, Rhinology. 5th Ed. Vol 4. Butterworths. London, 1987: 142-53.
6. John E McClay GOOD. Nasal Polyps. Associate Professor of Pediatric Otolaryngology, Department of Otolaryngology-Head and
Neck Surgery, Children's Hospital of Dallas, University of Texas Southwestern Medical School. update Oct 22, 2008.
http://www.medicine.com. Di akses pada tanggal 30 Juni 2015 .
7. S. P. Gulati, Anshu, R. Wadhera & A. Deeo : Efficacy of Functional Endoscopic Sinus Surgery in the treatment of Ethmoidal polyps .
The Internet Journal of Otorhinolaryngology. 2007 Volume 7 Number 1. Di akses pada tanggal 30 Juni 2015 .
8. Newton, JR. Ah-See, KW. A Review of nasal polyposis. Therapeutics and Clinical Risk Management 2008:4(2) 507–512

The Power of PowerPoint - thepopp.com


ANY QUESTIONS?