Anda di halaman 1dari 41

Oleh :

SRI WAHYUNINGSIH
110.2011.
INVAGINASI
Konsulen Pembimbing :
dr. Sp.A
Laporan Kasus
Identitas Pasien
◎ Nama : By. Ny. E
◎ Tanggal Lahir : 03 Februari 2019
◎ Usia : 5 bulan
◎ Jenis kelamin : Laki-laki
◎ Alamat : Kp. Harapan Baru
◎ Suku Bangsa : Sunda
◎ Agama : Islam
◎ Tanggal masuk RS : 6 Juli 2019
◎ Tanggal pemeriksaan : 12 Juli 2019
KELUHAN

⬗ Utama
◇ BAB hijau
bercampur darah
dan muntah
kuning
⬗ Tambahan
◇ Tidak ada

4
20 menit setelah popok
pasien datang ke RSUD
pasien diganti, pasien
Kabupaten Bekasi pasien hanya minum ASI
BAB kembali namun
dengan rujukan dari dan belum makan
bercampur darah segar,
dokter umum di dekat apapun.
darah juga menempel di
rumah pasien.
anus.

Orang tua pasien Ibu pasien mengatakan


Pasien langsung dibawa
mengatakan pasien BAB bahwa ± 1 minggu yang
ke dokter umum oleh
hijau bercampur darah lalu, pasien pernah diurut
orangtua pasien.
sejak 4 jam SMRS area perutnya oleh paraji.

Awalnya pasien BAB Di tempat praktek dokter,


kuning, mencret, dan pasien muntah cair
berbau pada malam hari berwarna kuning
SMRS sebanyak 1 kali.

Orang tua pasien


pada jam 1 dini hari,
mengatakan akhirnya
pasien menangis
pasien dirujuk ke RSUD
kencang dan ketika dilihat
Kabupaten Bekasi karena
oleh ibu pasien, pasien
dokter disana curiga
BAB bewarna hijau.
pasien ususnya terjepit.
Riwayat Penyakit Riwayat Penyakit
Riwayat Kelahiran Riwayat Imunisasi
Dahulu Keluarga

• Pasien tidak pernah • Pada keluarga • Lahir di rumah sakit • Hep B 1x


mengalami keluhan pasien tidak ada dengan bantuan • Polio 4x
serupa sebelumnya riwayat penyakit dokter secara SC. • BCG 1X
maupun keluhan • Lahir pada usia 38 • DPT 3X
serupa dengan minggu
pasien. • PCV 1X
• BB 3600gr dan PB
46cm
• * PCV kedua belum
sempat dilakukan
karena pasien
sempat sakit

6
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Kesadaran : TD : Tidak Nadi : 110
: Tampak Sakit
Kompos mentis dilakukan x/menit
Sedang

Panjang Badan Berat Badan : Nafas : 38x


Suhu : 36,7°C
: 64 cm 7,2 kg /menit

Status gizi :
Normal
• Bentuk & ukuran kepala • Palpebra edema - / - , • Normotia
normosefali ptosis - / - • Tidak terlihat adanya
• Rambut berwarna • Konjungtiva anemis - / - , serumen
hiperemi - / -
hitam, distribusi rambut
• Sklera ikterik - / -
belum merata, tidak
mudah dicabut • Pupil refleks cahaya + /+,
isokor +
• Lensa tampak jernih

Kepala Mata Telinga

• Bentuk: normal, • Mukosa bibir tidak • Tidak ada kelainan


simetris, deviasi septum pucat • Tidak teraba adanya
(-) • Tidak kering pembesaran kelenjar
• Pernafasan cuping • Tidak kebiruan getah bening.
hidung (-)

Hidung Mulut Leher


Paru: Jantung:
Inspeksi : Bentuk normal, Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus
simetris dalam keadaan statis dan dinamis, cordis, thrill (-)
retraksi sela iga (-) Palpasi : Massa (-)
Palpasi : Taktil fremitus kanan Perkusi : Tidak dilakukan
sama dengan kiri
Auskultasi : BJ I/ II normal, murni
Perkusi : Sonor dikedua lapang paru reguler, murmur (-), gallop (-)
Auskultasi : Suara napas
bronkovesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-
/-)

Abdomen:
Inspeksi : Datar, tidak tampak
gambaran vena, tidak tampak gerakan
peristaltik usus, tampak kuning.
Auskultasi : Bising usus terdengar
normoperistaltik.
Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak
teraba, turgor kulit tidak menurun.
Perkusi : Timpani di seluruh lapang
abdomen.
Akral hangat Sianosis
• •

Edema
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
RADIOLOGI
USG ABDOMEN
◎ Hepar: Tidak membesar, permukaan rata, echoparenchyma homogen normal, SOL (-), tak
tampak pelebaran system vaskuler dan bilier intrahepatik.
◎ Gallblader: Bentuk dan ukuran normal, tidak tampak echobatu maupun sludge di dalamnya,
dinding tak menebal.
◎ Pancreas: Bentuk dan ukuran normal, ductus pancreaticus tidak dilatasi, Echoparenkim normal,
tak tampak SOL
◎ Lien: Bentuk dan ukuran normal, echoparenchym normal, hilus baik.
◎ Renal: Bentuk dan ukuran kedua renal normal, echocortex, medulla dan sinus normal, tidak
tampak echobatu maupun SOL di dalamnya
◎ Vesica urinaria: Permukaan rata, dinding tidak menebal, tidak tampak echobatu/ SOL di
dalamnya.
◎ Uterus: Ukuran tidak membesar, tak tampak SOL
◎ Adneksa: Tak tampak SOL. Tampak gambaran 'renal like' di daerah rectocaecal dengan fluid
collection di sekitarnya.
KESAN:
◎ Curiga invaginasi daerah rectocaecal,
◎ Organ-organ lainnya intraabdomen dalam batas normal.
20 menit setelah popok pemeriksaan fisik
Pasien datang ke RSUD
pasien diganti, pasien didapatkan pasien
Kabupaten Bekasi
rujukan dari dokter umum
dengan suspek
invaginasi.
BAB kembali namun
bercampur darah segar,
darah juga menempel di
tampak lemas keadaan
umum komposmentis
tampak sakit sedang, BU
RESUME
anus (+) normoperistaltik

Ibu pasien mengatakan Di tempat praktek dokter,


pemeriksaan lab
bahwa pasien BAB hijau pasien muntah cair
didapatkan peningkatan
bercampur darah sejak 4 berwarna kuning
leukosit dan trombosit
jam SMRS sebanyak 1 kali

Awalnya pasien BAB pemeriksaan USG


Pasien masih ASI
kuning, mencret, dan abdomen dicurigai
eksklusif dan belum diberi
berbau pada malam hari adanya invaginasi daerah
makan apapun.
SMRS rectocaecal.

Kemudian pada jam 1 dini


hari, pasien menangis
Pasien pernah diurut area
kencang dan ketika dilihat
perutnya oleh paraji
oleh ibu pasien, pasien
BAB bewarna hijau
Diagnosis Kerja:
“Hematoschezia et causa invaginasi”

14
15

Prognosis:
Medikamentosa Non Medikamentosa
Quo ad vitam
dubia ad bonam ○ IVFD KA-EN 3A ○ NGT
800 cc / 24 jam ○ Pro Laparotomy
Quo ad functionam
dubia ad bonam ○ Injeksi Ceftriaxone
1 x 400 mg EDUKASI
Quo ad sanationam
○ Injeksi Ranitidine 2 ○ Menjelaskan pada
dubia ad bonam
x 7 mg keluarga pasien
tentang penyakit
pasien dan
tatalaksana yang
akan dilakukan
Tinjauan Pustaka

Invaginasi adalah kondisi kegawatdaruratan
yaitu masuknya satu bagian usus ke bagian
usus yang lain. Invaginasi diawali dari
masuknya usus bagian proksimal
(intususeptum) ke dalam usus bagian distal
(intususipien).
Dapat terjadi
pada semua 18
usia

Penderita laki-
laki lebih besar
75% pada dua
dibandingkan
perempuan.
EPIDEMIOLOGI tahun pertama
kehidupan
Rasio 1:2 atau
3:2

40% pada usia


3-9 bulan
ETIOLOGI

◍ “
Etiologi masih belum jelas
◍ terdapat beberapa faktor predisposisi yang dapat
menyebabkan invaginasi seperti polip, divertikulum meckel,
henoch schonlein purpura, limfoma, parasit, infeksi
adenovirus dan rotavirus.
◍ Penyebab lainnya yaitu perubahan motilitas usus, gerakan
peristaltik yang berlebihan dan sumbatan fekal.
GENERAL 20

SPESIFIK KLASIFIKASI ANATOMI

LAINNYA
Algoritma patogenesis invaginasi
Patofisiologi
◎ Pada beberapa kasus, invaginasi memiliki lesi yang dapat
diidentifikasi dan berfungsi sebagai lead point yang
menggambarkan intususeptum masuk ke dalam usus distal oleh
aktivitas peristaltik.
◎ Mesentrium usus bagian proksimal ditarik masuk ke dalam usus
distal, didekompresi sehingga terjadi obstruksi vena dan edema
pada dinding usus.
◎ Jika reduksi invaginasi tidak dilakukan, insufisiensi dari arteri
akan menyebabkan iskemia dan nekrosis dari dinding usus.
◎ Penyempitan pada mesentrium dapat menghambat aliran balik
vena, edema dan perdarahan dari mukosa yang menyebabkan
tinja berdarah dan kadang-kadang mengandung lendir.
◎ Kebanyakan invaginasi tidak menyebabkan strangulasi usus
dalam 24 jam pertama dan setelah itu bisa menyebabkan gangren
usus dan syok.
ETIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS


DIAGNOSIS

◎ Anamnesa yang baik memberikan gambaran yang cukup jelas apabila dijumpai
bayi yang sehat tiba-tiba mengalami serangan nyeri kolik abdomen. Anak tampak
gelisah dan tidak dapat ditenangkan, sedangkan di antara serangan nyeri anak
dapat tidur dengan tenang karena sudah lelah sekali.
◎ Pada pemeriksaan fisik abdomen, saat dilakukan auskultasi abdomen dapat
didengarkan adanya suara hiperperistaltik usus.
◎ Pada saat palpasi teraba massa pada beberapa lokasi di abdomen. Pada
pemeriksaan colok dubur dapat ditemukan adanya lendir darah.
◎ Tanda-tanda dari invaginasi dapat menjadi dugaan kuat untuk diagnosis
invaginasi, yang umumnya didapatkan dari pemeriksaan klinis. Radiografi
abdomen dapat digunakan untuk pemeriksaan invaginasi.
DIAGNOSIS

Gambaran target lession atau doughnut sign


RESUSITASI 26

Reduksi Reduksi
Non operatif TATALAKSANA operatif

Intususepsi
berulang
Perdarahan 27
usus

Perforasi Nekrosis

Komplikasi

perforasi
invaginasi usus
berulang dengan
peritonitis

syok dan
sepsis
Penilaian prognosis pada pasien
berhubungan langsung dengan onset
invaginasi sebelum reduksi. Peningkatan
kewaspadaan akan invaginasi dapat
mengurangi angka mortalitas.
Pembahasan
⬗ Pada anamnesis, pasien datang dengan ⬗ Pasien juga awalnya menangis
keluhan BAB hijau bercampur darah kencang yang menandakan terjadi
dan muntah kuning. Berdasarkan teori nyeri pada saat tersebut. Secara teori,
proses invaginasi pada mulanya belum awalnya bayi sehat dan biasanya
terjadi gangguan pasase isi usus secara dengan keadaan gizi yang baik, tiba–
total, anak masih dapat defekasi tiba menangis kesakitan, terlihat kedua
berupa feses biasa, kemudian feses kakinya terangkat ke atas, penderita
bercampur darah segar dan lendir, tampak seperti pucat menahan sakit,
kemudian defekasi hanya berupa serangan nyeri perut seperti ini
darah segar bercampur lendir tanpa berlangsung dalam beberapa menit.
feses. Diluar serangan, bayi kelihatan seperti
normal kembali.

30
⬗ Pasien juga muntah berwarna kuning. ⬗ Berdasarkan teori, pada pemeriksaan
Hal tersebut sesuai dengan beberapa fisik abdomen seharusnya dijumpai
kasus yang dijumpai yaitu selama distensi. Akan tetapi pemeriksa
serangan nyeri perut itu diikuti dengan mendapatkan pasien dengan kasus ini
muntah berisi cairan dan makanan setelah dilakukan operasi, sehingga
yang ada di lambung dalam pemeriksaan fisik pasien ini
tidak didapatkan kecocokan dengan
teori.

31
⬗ Gejala klasik nyeri kolik abdomen, ⬗ Secara sistematis penegakan diagnosis
tinja bercampur lendir dan darah serta pada pasien ini sesuai dengan teori.
teraba massa pada abdomen telah Data yang didapatkan berdasarkan
dilaporkan pada 20-60% kasus. Pada anamnesis memberikan gambaran
pasien ini dijumpai gejala klasik yang cukup mencurigakan bila bayi
berupa muntah dan BAB berdarah yang sehat tiba-tiba mengalami BAB
yang mengarah pada diagnosis berdarah dan muntah kunning yang
invaginasi. disebabkan oleh proses invaginasi
terjadi.

32
⬗ Dikarenakan pemeriksa tidak ⬗ Pada pemeriksaan penunjang yang
memeriksa pasien saat sebelum diusulkan pada pasien ini yaitu
operasi, maka pemeriksa tidak bias ultrasonografi (USG) abdomen,
mendapatkan data pemeriksaan fisik didapatkan kecurigaan adanya
abdomen pada saat auskultasi invaginasi pada daerah rectocaecal
abdomen yang seharusnya dapat karena terlihat gambaran ‘renal like’
terdengar adanya suara hiperperistaltik atau dalam teori disebut juga
usus, atau teraba massa pada beberapa “pseudokidney”.
lokasi di abdomen, ataupun
ditemukan adanya lendir darah saat
pemeriksaan rektal.

33
⬗ Secara teori, barium enema kontras ⬗ Penatalaksanaan pada pasien ini
dianggap sebagai gold standard untuk meliputi rehidrasi, pemasangan NGT,
diagnostik invaginasi dengan akurasi kateter dan pemberian antibiotik . Hal
diagnostik sebesar 100%. Namun pada ini sesuai dengan teori bahwa
pasien ini tidak dilakukan karena pada penanganan awal pada anak dengan
pemeriksaan USG sudah ditemukan invaginasi dimulai dengan resusitasi
ciri khas invaginasi sehingga lebih cairan yang dapat dinilai secara klinis
diarahkan untuk penatalaksanaan berdasarkan jumlah elektrolit dari
segera. sampel darah yang diambil untuk
hemogram lengkap dan sesuai saat
pemasangan infus.

34
⬗ Prognosis pada pasien ini ⬗ Beberapa kasus invaginasi tereduksi
berhubungan langsung dengan onset secara spontan. Tetapi jika tidak
invaginasi sebelum laparotomy. ditangani kebanyakan akan terjadi
Prognosisnya baik dengan komplikasi seperti perdarahan usus,
peningkatan kewaspadaan akan nekrosis, perforasi usus dengan
diagnosis dan penanganan tepat pada peritonitis, syok dan sepsis, invaginasi
invaginasi dapat mengurangi angka berulang serta dapat berakibat
mortalitas. kematian. Pada pasien ini tidak
dijumpai tanda syok dan demam tinggi
yang mengarah pada komplikasi
invaginasi.

35
Kesimpulan
⬗ Cara penegakan diagnosis invaginasi ⬗ Gejala klasik nyeri kolik abdomen,
pada pasien ini meliputi temuan tinja bercampur lendir dan darah serta
gambaran klinis klasik terlihat pada teraba massa pada abdomen telah
anak yang sebelumnya sehat, dilaporkan terjadi pada 20-60% kasus.
kemudian ditandai oleh episode kolik Pada anak diatas 2-3 tahun, gejalanya
abdomen dengan mengangkat lutut ke tidak nampak dan gejala klasik
arah abdomen lalu menangis kuat. mungkin tidak ditemukan. Pada
Serangan dapat berhenti tiba-tiba kelompok ini lead point patologis
seperti saat memulai serangan. Di berkontribusi pada sebagian besar
antara serangan anak mungkin tampak kasus.
normal dan tertidur lelap.

37
⬗ Pasien dengan feses berdarah dan ⬗ Ultrasonografi (USG) abdomen telah
lendir (red currant jelly), dibentuk menjadi teknik diagnostik standar
oleh diapedesis sel darah merah noninvasif dengan sensitivitas yang
melalui mukosa padat intususeptum dilaporkan 98% dan spesifisitas 100%.
itu. Pada sebagian besar pasien darah Ultrasonografi dapat digunakan untuk
mungkin dapat dijumpai pada sarung mengidentifikasi invaginasi, dengan
tangan setelah pemeriksaan dubur. ditemukannya tanda “doughnut” atau
target pada pandangan melintang dan
“pseudokidney” pada pandangan
longitudinal.

38
⬗ Pemeriksaan dengan menggunakan ⬗ Penanganan awal pada anak dengan
barium enema kontras dianggap invaginasi dimulai dengan resusitasi
sebagai gold standard untuk cairan yang dapat dinilai secara klinis
diagnostik invaginasi dengan akurasi berdasarkan jumlah elektrolit dari
diagnostik sebesar 100%. sampel darah yang diambil untuk
pemeriksaan darah lengkap dan sesuai
saat pemasangan infus. Pasien dapat
diberikan antibiotik profilaksis untuk
mencegah terjadinya septikemia pada
kasus tertentu.

39
⬗ Penanganan pasien ini dilakukan dengan tepat untuk
menghindari terjadinya komplikasi yang fatal akibat diagnosis
penanganan yang terlambat. Mortalitas dari invaginasi adalah
sekitar 1% akan tetapi invaginasi yang tidak ditangani dapat
berakibat fatal.

40
ThankYou