Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN TUTORIAL

IKA
TRIGGER 2
NAFASKU BERULANG LAGI

OLEH :
Kelompok Tutorial VII
Fasilitator : dr. Zukhri Zainun,Sp.M.
Ketua : Sedrial (15-051)
Sekretaris : Annisa Didel (15-052)
Anggota : Indri Zaliavani (15-049)
Rafli Rafdi Muhammad (15-050)
Sindy Sekarlina (15-053)
Shella Mailindri (15-054)
Wahyu Widya Astuti (15-055)
Wahyu Darmawan (15-056)
Trigger 2
Arsyi, seorang anak perempuan berusia 3 tahun mengalami sesak nafas
saat tidur di malam hari. Menurut ibu udara malam itu sangat dingin karena
disertai hjan. Sebelumnya, Arsyi juga sudah pernah mengalami serangan seperti
ini sekitar 2 bulan yang lalu. Ibu langsung membawa Arsyi ke IGD untuk
pertolongan lebih lanjut. Saat diperiksa oeh dokter terdengar adanya suara nafas
bronkial disertai eksperium memanjang dan wheezing. Dokter juga menanyakan
faktor pencetus, alergen serta faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit
Arsyi. Menurut keterangan dokter telah terjadi bronkospasme dan edem yang
disertai hipersekresi mucous sehingga perlu dilakukan nebulisasi dengan
bronkodilator.
Selain itu, ibunya Arsyi mengeluhkan berat badan anakanya tidak naik-
naik, tampak kevil dan kurus dibandingkan anak seusianya.setelah dokter
mengukur status gizi Arsyi dan memplot ke kurva WHO (z-score), diperoleh
status gizi dibawah presentil 3. Ibunya Arsyi khawatir ankanya terlambat
perkembangan karena penyakitnya
STEP 1 CLARIFY UNFAMILIAR TERMS

1. Bronkospasme : kaku otot bronkus


2. Hipersekresi mucus : produksi mukus yang berlebih
3. Nebulasi : fisioterapi untuk paru-paru
4. Bronkodilator :golongan obat untuk dilatasi permukaan
bronkus
STEP 2 DEFINE THE PROBLEMS

1. Gejala apa yang dialami Arsyi?


2. Bagaimana hasil anamnesa Arsyi?
3. Apa hasil pemeriksaan fisik Arsyi?
4. Apa faktor pencetus gejala yang dialami Arsyi?
5. Kenapa dokter menyarankan pemberian nebulasi pada Arsyi?
6. Bagaimana status gizi Arsyi?
7. Apa diagnosa sementara Arsyi?
STEP 3 BRAINSTROM POSSIBLE HYPOTHESIS OR
EXPLANATION

1. Sesak nafas saattidur di malam hari yang dingin


2. - sesak nafas pada malam hari
- pernah mengalami serangan yang sama 2 bulan lalu
3. - suara asma bronkial disertai eksperium memanjang
- wheezing
- edem yang disertai hipereksresi mukus
4. Suhu yang sangat dingin
5. Karena Arsyi mengalami bronkospasme dan edem yang disertai
hipersekresi mukus
6. Menurut kurva WHO (Z-score), status nutrisi Arsyi dibawah
presentil 3
7. Asma bronkial
STEP 4 ARRANGE EXPLANATION INTO A
TANTIVE SOLUTION
Arsyi (3 thn)

Anamnesa Pemeriksaan
Fisik

• sesak nafas
• suara nafas bronkial
saattidur malam hai
disertai eksperium
diduga suhu dingin
memanjang
• pernah
• edem yang diserati
mengalami gejala
hipersekresi mukus
yang sama 2 bulan
yang lalu
• BB tidah naik-naik

Diagnosis
STEP 5 DEFINE LEARNING OBJECTIVE

1. Asma Bronkhial
a) Definisi
b) etiologi
c) patofisiologi
d) Faktor pencetus alergen, faktor resiko
e) Klasifikasi asma pada anak
f) Derajat asma
g) Gejala klinis
h) Diagnosis ( anamsesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang)
i) Diagnosa banding
j) Penatalaksanaan
k) komplikasi
l) Prognosis
m) Pemeriksaan status gizi anak dan penatalaksanaannya (edukasi)
n) Gejala dan tanda gizi buruk
STEP 6 GATHER INFORMATION AND PRIVATE
STUDY

Belajar mandiri
STEP 7 SHARE THE RESULT OF INFORMATION
GATHERING OR PRIVATE STUDY
Definisi
Asma adalah suatu penyakit obstruksi padajalan nafas secara
riversible yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan
sekresi jalan nafas terhadap berbagai stimulan
Etiologi
Seranagn akut umumnya timbul akibat pajanan
terhadap faktor pencetus, seperti infeksi virus atau
alergen. Selain itu, dapat pula dicetuskan oleh cuaca
dingin, kegiatan jasmani, gastroesofageal refluks, dan
ketidakstabilan emosi (psikis).
Patofisiologi
Faktor pencetus:
Ada beberapa faktor pencetus yang erat hubungannya dengan
serangan asma, yaitu faktor alergen, keletihan, infeksi,
ketegangan emosi, serta faktor lain seperti bahan iritan, asap
rokok, refluks gastroesofagal, rinitis alergi, obat dan bahan kimia,
endokrin, serta faktor anatomi dan fisiologi.

Faktor resiko:
Penyakit keturunan
Klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis (sebelum pengobatan)
Derajat Asma Gejala Gejala Malam Faal paru
I. Intermiten
Bulanan APE ³ 80%
* Gejala < 1x/minggu * £ 2 kali sebulan * VEP1 ³ 80% nilai prediksi
* Tanpa gejala di luar APE ³ 80% nilai terbaik
serangan * Variabiliti APE < 20%
* Serangan singkat
II. Persisten
Ringan Mingguan APE > 80%
* Gejala > 1x/minggu, * > 2 kali sebulan * VEP1 ³ 80% nilai prediksi
tetapi < 1x/ hari APE ³ 80% nilai terbaik
* Serangan dapat * Variabiliti APE 20-30%
mengganggu aktiviti
dan tidur
III. Persisten
Sedang Harian APE 60 – 80%
* Gejala setiap hari * > 1x / seminggu * VEP1 60-80% nilai prediksi
* Serangan mengganggu APE 60-80% nilai terbaik
aktiviti dan tidur * Variabiliti APE > 30%
*Membutuhkan
bronkodilator
setiap hari
IV. Persisten
Berat Kontinyu APE £ 60%
* Gejala terus menerus * Sering * VEP1 £ 60% nilai prediksi
* Sering kambuh APE £ 60% nilai terbaik
* Aktiviti fisik terbatas * Variabiliti APE > 30%
Klasifikasi Derajat Asma pada Anak
Pembagian derajat penyakit asma pada anak

Parameter klinis, Asma episodik Asma episodik Asma persisten


kebutuhan obat dan jarang sering
faal paru
Frekuensi serangan < 1x/bulan > 1x/bulan Sering
Lama serangan < 1 minggu ≥ 1 minggu Hampir sepanjang
tahun, tidak ada remisi
Intensitas serangan Biasanya ringan Biasanya sedang Biasanya berat
Di antara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan
malam
Tidur dan aktifitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu
Pemeriksaan fisis Normal (tidak Mungkin terganggu Tidak pernah normal
diluar serangan ditemukan kelainan) (ditemukan kelainan)
Obat pengendali (anti Tidak perlu Perlu Perlu
inflamasi)
Uji faal paru PEF/FEV1 > 80% PEF/FEV1 60-80% PEF/FEV1 < 60%
(di luar serangan) Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru Variabilitas > 15% Variabilitas > 30% Variabilitas > 50%
(bila ada serangan)
Gejala klinis
a. wheezing
b. Dypsneu dengan lama ekspirasi
c. Batuk kering karena sekret kental dengan luman jalan nafas
sempit
d. Takypneu, ortopneu
e. gelisah
f. Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam
pernafasan
g. Intoleransi aktivitas
h. Perubahan tingkat kesadaran, cemas
i. Serangan tiba-tiba, berangsur-angsur
Berdasarkan trigger
Hasil anamnesa:
Arsyi, 3 tahun
• apakah anak mengalami batuk dan/serangan mengi berulang?
• apakah anak sering terganggu oleh batuk dan/mengi pada
malam hari?
• apakah anak mengalami mengi/batuk setelah olahraga
• apakah anak mengalami gejala mengi, dada terasa berat, atau
batuk setelah terpajan poluta/alergen?
•Apakah jika mengalami pilek, anak membutuhkan >10 hari
untuk sembuh?
• apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan
anti-asma?
•Pencetus yang spesifik dapat berupa aktivitas, emosi (mis.
Menangis/tertawa), debu, makanan dan minuman, pajaman
terhadap hewan berbuku, perubaha suhu lingkungan/cuaca,
aroma parfum, asap.
•tidak ada demam
Pemeriksaan fisik ditemukan ;
a) Sesak nafas
b) Hiperinflasi dada
c) Chest indrawing
d) Ekspirasi memanjang dan mengi
e) Sianosis
f) Retraksi, takikardi, takipneu

Pemeriksaan penunjang :
a) Pemeriksaan fungsi paru : peak flow meter, spirometer
b) Analisis gas darah : asidosis respiratorik dan metabolik pada
serangan
c) Darah lengkap dan serum elektrolit
d) Foto rongten thoraks, hiperaerasi

Diagnosis :
Asma Bronkhitis
Diagnosis Banding
Diagnosis banding asma antara lain sbb :

a. Penyakit Paru Obstruksi Kronik


• sesak nafas kronis dan progresif
• Batuk dar peroduksi sputum yang berfariasi

b. Bronkitis kronik
infesi pada bronkus
• Batuk dengan lendir
• Sesak nafas
• Demam ringan
• Sakit tenggorokan
• Hidung tersumbat
c. Gagal Jantung Kongestif
Jantung tidak dapat memompa darah cukup ke organ0organ
lainnya
• Sesak nafas
• Kehilangan nafsu makan
• Nyeri dada
• Kulit membiru
d. Emfisema paru
e. Gagal jantung kiri akut
f. Emboli Paru
penyumbatan arteri pulmonalis, infrak jaringan paru
• Trakipneu
Tatalaksana

Terdapat 2 kategori obat untuk penyembuhan asma yaitu obat pelega


yang bekerja dengan cepat dan obat kontrol untuk jangka panjang.
Obat pelega yang digunakan adalah short acting beta agonist
(SABA), anti kolinergik dan kortikosteroid oral. SABA bekerja
dengan memberikan efek relaksasi pada otot polos bronkus dan
mulai bekerja 5-10 menit setelah diberikan. Untuk obat kontrol
jangka panjang pula digunakan obat long acting beta agonist
(LABA), kortikosteroid inhalasi, teofilin dan leukotrien modifers.
LABA memberikan efek relaksasi otot polos bronkus dan bekerja
selama 12 jam, tapi obat ini tidak memberikan efek
antiinflamasiyang signifikan.
TATALAKSANA SERANGAN ASMA

RINGAN

Nebulisasi
SEDANG
Observasi 1-2 jam

PULANG RRS BERAT

Oksigen • O2, steroid


Obat rutin,
Nebulisasi • Nebulisasi
reliever dan/atau
IVFD • Hidrasi
controller
Steroid oral • Aminofilin
• Rö
• ICU (?)
Non farmako
a. Menjahui faktor pencetus (debu, serbuk bunga, dll)
b. Jauhkan perokok dari anak
c. Edukasi mengenai asma
d. Menghindari aktivitas yang terlalu berat

Komplikasi
a. Gagal nafas
b. Bronchiolitis
c. Pneumonia
d. Emphysema

Prognosis
Mortalitas akibat asma lebih rendah pada anak-anak
dibandingkan dewasa (0,3 kematian/100.000 anak vs 1,9
kematian/100.000 dewasa)
Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Status Gizi Buruk Pada Anak

Tujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan anak balita


gizi buruk dan gizi kurang melalui ‘Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi’
(PERGIZI). Intervensi PERGIZI meliputi: edukasi gizi dan kesehatan, pemberian
makanan tambahan (PMT) berupa nasi, lauk dan sayur yang dimasak dan
dimakan bersama, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, pemberian sirop
suplemen mineral zinc, serta penumbuhan partisipasi masyarakat. Partisipasi ibu
balita serta masyarakat diukur melalui kontribusi tenaga, bahan makanan atau
uang serta secara aktif terlibat dalam perencanaan, penyelenggaraan,
pemantauan, dan pemecahan masalah selama pelaksanaan PERGIZI.
Ciri – Ciri dan Gejala Kurang gizi pada bayi dan anak-anak

• Kegagalan pertumbuhan.
• Lekas marah, kelesuan dan menangis berlebihan atau rewel
(kecemasan)
• Kulit dan rambut menjadi kering dan bersisik
• Mengecilnya otot-otot anggota gerak (Atrofi otot) dan kurangnya
kekuatan pada otot.
• Pembengkakan pada perut dan kaki.
• Ada dua jenis malnutrisi energi protein (KEP) pada anak-anak, yaitu
Marasmus dan Kwashorkor.
• Pada dwarfisme anak mengalamai hambatan pertumbuhan.
KESIMPULAN

Berdasarkan diagnosa dan hasil pemeriksaan, maka kami menarik


kesimpulan bahwa Arsyi mengalami penyakit asma bronkhial
karena suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversible
yang ditandai dengan sesak nafas saat tidur di malam hari, sudah
pernah mengalami serangan yang sama sekitar 2 bulan lalu, dan
mengalami bronkospasme serta edem dengan hipersekresi mukus.
Penatalaksanaannya dengan cara pemberian terapi farmako
(seperti bronkodilator) dan non farmako (menjahui faktor
pencetus).
DAFTAR PUSTAKA

• Tanto,Chris.2014.Kapita Selekta Kedokteran edisi IV.


Jakarta:FKUI
• Lynn.2015. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan.
Jakarta:EGC
• Klikpdpi.com/konsensus/asma/asma.html.