Anda di halaman 1dari 19

KELOMPOK 4:

Raden Az’zahra Aura Althaf (P17335118061) Ganis Aulia Pratiwi (P17335118035)


Wulan Putri Dwiastut (P17335118011) Nurasyfa Syaumi Rismawati (P17335118046)
Rian Okta Firmansyah (P17335118055)
Stabilitas didefinisikan sebagai
kemampuan suatu produk obat atau
kosmetik untuk bertahan dalam batas
spesifikasi yang ditetapkan sepanjang
periode penyimpanan dan penggunaan
untuk menjamin kualitas dan kemurnian
produk tersebut

KRITERIA KESTABILAN
SEDIAAN FAKTOR KESTABILAN

Stabilitas Kimia Panas


Cahaya
Stabilitas Fisika Kelembaban
Oksigen
Stabilitas Mikrobiologi pH
Mikroorganisme, dan
Stabilitas Terapi Bahan-bahan tambahan yang digunakan
dalam formula sediaan obat
Stabilitas Toksikologi
Pengusaha obat harus dengan jelas
menunjukkan bahwa bentuk obat atau
sediaan yang dihasilkannya cukup stabil
sehingga dapat disimpan dalam jangka
waktu yang lama dimana obat tidak
berubah menjadi zat tidak berkhasiat
atau racun.

Kestabilan suatu zat merupakan


faktor yang harus diperhatikan
dalam membuat formulasi suatu
Beberapa prinsip dan proses laju yang sediaan farmasi.
berkaitan dimaksudkan dalam rantai
peristiwa ini:

Kestabilan dan tak tercakup proses laju


umumnya adalah suatu yang menyebabkan
ketidak aktifan obat melalui penguraian obat
Disolusi
Proses ADME
Kerja obat pada tingkat molekuler
Pipet volume
10mL

Vial 10 mL Spektrofoto Labu Ukur


meter UV-VIS Gelas Ukur
Oven

Aquadest Kafein
PENENTUAN PANJANG
GELOMBANG MAX

Buat larutan induk kafein 100ppm

Tentukan panjang gelombang


dengan larutan 14ppm
UJI STABILITAS Dengan Spektrofotometer UV-VIS pada
200-400 nm.
Dipercepat pada suhu 60⁰C dan 70⁰C,
dengan larutan 14ppm

10mL dimasukkan kedalam 21


vial, masukkan kedalam oven KURVA KALIBRASI

Setelah 5’, ambil 1 vial dari masing- Buat larutan dengan 5, 10, 12, 14, 16,
masing suhu 18, dan 20ppm

Serapan zat diukur pada panjang


Ukur serapan dan tentukan gelombang maksimumnya
konsentrasinya sebagai
konsentrasi awal Kurva dibuat dengan menghubungkan
konsentrasi dengan serapan kafein
USIA SIMPAN

Tentukan tingkat reaksi penguraian dengan


cara perhitungan.

Tentukan tingkat reaksi penguraian


Pada 10 15, 20, 25, 30, dan 60 menit dengan cara grafik.
diambil 1 vial dari setiap suhu
Tentukan harga konstanta kecepatan
Ukur serapan dan tentukan konsentrasinya reaksi (k) pada masing-masing suhu.

Hitung energi aktivasi (Ea) dengan membuat


Tentukan konsentrasi kafein yang kurva antara ln k dan 1/T.
tersisa setelah waktu tersebut. T adalah suhu percobaan mutlak dalam °K.
Kemiringan kurva adalah Ea/2.030.

Perhitungan konsentrasi kafein


yang tersisa dilakukan dengan Tentukan harga k pada suhu kamar
memasukkan harga serapan yang
diperoleh ke dalam persamaan Hitung usia simpan larutan kafein tersebut pada suhu
kamar.
regresi dari kurva kalibrasi.

Larutan tersebut dianggap sudah tidak dapat digunakan lagi bila telah terurai sebanyak 10%
WAKTU SIMPAN = 17 menit
Penimbangan Larutan Induk Kafein

Bahan Jumlah (gram)


Kafein - Larutan Induk 100ppm 0,050 gram
𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝟎.𝟓
Konsentrasi Larutan Induk Kafein = = = 500ppm
𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝟎.𝟏

Pembuatan Kurva Kalibrasi dan Penentuan 𝝀 Maksimum Kafein

Jumlah Larutan Induk 100 ppm yang 𝝀 Maksimum menurut literatur = 276 nm
PPM Absorban
dipipet
5 (Pustaka: Farmakope edisi V)
5 ×10 ml = 0,5 ml 0,240
100
10
10 ×10 ml = 1,0 ml 0,398
100
12 𝝀 Maksimum pengamatan = 273 nm
12 ×10 ml = 1,2 ml 0,472
100
14
Persamaan Regresi :
14 ×10 ml = 1,4 ml 0,479
100 Y= 0,0272x + 0,1145
16 r = 0,9905
16 ×10 ml = 1,6 ml 0,531
100
18
18 ×10 ml = 1,8 ml 0,593
100
20
20 ×10 ml = 2,0 ml 0,675
100
50°C
Perhitungan Kadar Kafein pada Suhu 50°C
Penentuan Tingkat Reaksi Penguraian pada
Waktu (Menit) Absorbansi Kadar (ppm) Suhu 50°C
1,596 = 0,0272 + 0,1145
0 1,596 1,596 − 0,1145
x= = 54,4669 Orde Nol Orde Satu Orde Dua
0,0272
Waktu (Menit)
1,538 = 0,0272 + 0,1145 Ct In Ct 1/Ct
10 1,538 1,538 − 0,1145 0 54,4669 3,9976 0,0184
x= = 52,3346
0,0272 10 52,3346 3,9577 0,0191
1,408 = 0,0272 + 0,1145
20 47,5551 3,8619 0,0210
20 1,408 1,408 − 0,1145
x= = 47,5551 40 40,6434 3,7048 0,0246
0,0272
1,220 = 0,0272 + 0,1145 60 36,9669 3,6110 0,0270
40 1,220 1,220 − 0,1145 R -0,9895 -0,9937 0,9944
x= = 40,6434
0,0272 Y= a+bx Y= 54,3832 - 0,3073x Y= 4,0034 – 6,8211× Y= 0,0180 + 1,5189×
1,120 = 0,0272 + 0,1145 10−3 𝑥 10−4 𝑥
60 1,120 1,120 − 0,1145
x= = 36,9669
0,0272
60°C
Perhitungan Kadar Kafein pada Suhu 60°C
Penentuan Tingkat Reaksi Penguraian pada
Waktu (Menit) Absorbansi Kadar (ppm) Suhu 60°C
1,596 = 0,0272 + 0,1145
0 1,596 1,596 − 0,1145
x= = 54,4669
0,0272 Waktu Orde Nol Orde Satu Orde Dua
1,581 = 0,0272 + 0,1145 (menit) Ct ln Ct 1/Ct
10 1,581 1,581 − 0,1145
x= = 53,9154 0 54,4669 3,9976 0,0184
0,0272
10 53,9154 3,9874 0,0185
1.,38 = 0,0272 + 0,1145
20 1,438 1,438 − 0,1145 20 48,6581 3,8848 0,0206
x= = 48,6381
0,0272 30 47,9228 3,8696 0,0209
1,418 = 0,0272 + 0,1145 40 41,2684 3,7201 0,0242
30 1,418 1,418 − 0,1145 60 37,2978 3,6189 0,0268
x= = 57,9228
0,0272
r -0,9778 -0,9771 0,9740
1,237 = 0,0272 + 0,1145
40 1,237 1,237 − 0,1145 y = 4,0273-6,7834.10- y = 0,0176-1,4971.10-
x= = 41,2684 y = a + bx y = 55,5084-0,3095x 3x 4x
0,0272
1,129 = 0,0272 + 0,1145
60 1,129 1,129 − 0,1145
x= = 37,2978
0,0272
70°C
Perhitungan Kadar Kafein pada Suhu 70°C
Penentuan Tingkat Reaksi Penguraian pada
Waktu (Menit) Absorbansi Kadar (ppm) Suhu 70°C
1,596 = 0,0272 + 0,1145
0 1,596 1,596 − 0,1145
x= = 54,4669 Waktu Orde Nol Orde Satu Orde Dua
0,0272
(menit) Ct ln Ct 1/Ct
1,549 = 0,0272 + 0,1145
10 1,549 1,549 − 0,1145 0 54,4669 3,9976 0,0184
x= = 52,7390
0,0272 10 52,7350 3,9874 0,0185
1,431 = 0,0272 + 0,1145 20 48,4007 3,8848 0,0206
20 1,431 1,431 − 0,1145
x= = 48,4007 30 45,1654 3,8696 0,0209
0,0272
1,343 = 0,0272 + 0,1145 40 40,9007 3,7201 0,0242
30 1,343 1,343 − 0,1145 60 37,1875 3,6189 0,0268
x= = 45,1654
0,0272 r -0,9899 -0,9924 0,9918
1,227 = 0,0272 + 0,1145
y = 4,0110- y = 0,0179-
40 1,227 1,227 − 0,1145 y = a + bx y = 54,6896-0,3079x
x= = 40,9007 6,7884.10-3x 1,5086.10-4x
0,0272
1,126 = 0,0272 + 0,1145
60 1,126 1,126 − 0,1145
x= = 37,1875
0,0272
Ea 1
ln K = ln A - ×( )
R T
Ea
b=-
R
Ea
34,0216 = -
1,987 kal/mol
-Ea = 67,6009 kal/mol

Hasil Pengamatan Konstanta Kecepatan Reaksi Ea = -67,6009 kal/mol


(K) pada Masing-Masing Suhu Ea = -67,9009 kal/mol
Suhu Persamaan Regresi Orde 2 K (ml/mg.menit)
Harga K pada Suhu Kamar
50oC y = 0,0180-1,5189.10-4x 1,5189.10-4
60oC y = 0,0176-1,4971.10-4x 1,4971.10-4
Ea 1
70oC y = 0,0179-1,5086.10-4x 1,5086.10-4 ln K = ln A - ×( )
R T
1
Penentuan Nilai Energi Aktivasi (Ea) = -8,9015 – 34,0216 ×
298
Suhu 1/T (oK) ln K
= -8,9015 – 0,1142
1 -8,7924
= 0,0031
273+50 ln K = -9,0157
1 -8,8068
= 0,0030
273+60 K = 1,2149.10-4 ml/mg.menit
1 -8,7992
= 0,0029
273+70 K25 = 1,2149.10-4 ml/mg.menit
r 0,4704
y = a + bx y = -8,9015 + 34,0216x
Larutan Dianggap Tidak Dapat Digunakan jika Telah Terurai 10% (T90)

Ct = 90%Co 1 1
=
Ct Co + k . t
90
= 100 × 54,4669 1 1
=
40,0202 54,4669 + k . t90
= 49,0202
1 1
− = 1,2149.10 -4 . t
40,0202 54,4669 90

2,0400.10-3 = 1,2149.10-4 . t90


2,0400.10−3
t90 =
1,2149.10−4
t90 = 16,7915 menit ≈ 17 menit
Stabilitas suatu obat adalah kemampuan suatu produk
bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode
penyimpanan dan penggunaan, tetap mempunyai sifat dan
karakteristik yang sama dengan yang dimiliki pada saat dibuat

Dalam beberapa waktu tertentu 1


vial diambil dari masing-masing Energi aktivasi kafein yang
suhu lalu didinginkan dalam lemari didapat adalah -67,6009 kal/mol
es, hal tersebut bertujuan untuk dan usia simpan larutan kafein
menghentikan reaksi penguraian. adalah 17 menit.

Diketahui bahwa ada beberapa faktor yang dapat


mempengaruhi kecepatan reaksi diantaranya suhu dari
pelarutnya, katalis, kekuatan ionik cahaya, oksigen dan
konstanta dielektrik.
Usia simpan larutan
Semakin tinggi suhu maka stabilitas
kafein yang didapatkan
suatu sediaan akan semakin menurun
adalah 17 menit

Energi aktivasi Kafein yang didapat adalah -


Tingkat reaksi penguraian
67,6009 kal/mol dan nilai K pada suhu 250
zat Kafein adalah orde dua
adalah 1,2149 × 10-4 mL/mg menit
Anonim, 2015. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Makassar: UMI.
Joshita. 2008. Obat-Obat untuk Paramedis. Jakarta: UI Press.

Kementrian Kesehatan RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V.


Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Martin, Alfred dkk. 2008. Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu
Farmasetik Edisi III. Jakarta: UI Presss.
Absorban larutan induk Absorban larutan induk Absorban larutan induk
5 PPM 10 PPM 12 PPM

Absorban larutan induk Absorban larutan induk Absorban larutan induk


16 PPM 18 PPM 20 PPM