Anda di halaman 1dari 21

Dosen Pembimning: Rina

Mardiyana,S.ST.,M.Kes
• Disusun Oleh:
• KELOMPOK 02 :
• Anis Dwi Saputri (201802014)
• Devi Indriani (201802015)
• Risalatus Zainia AS (201802016)
• Bilgis Trisna Dwi A (201802017)
• Hilda Arianti (201802018)
• Heni Sri Wulandari (201802019)
• Rinda Widya E (201802020)
• Vinka Ayu Rahayu (201802021)
• Fungky Meta Ardhana (201802022)
• Septiana Putri M (201802023)
• Fidia Sari (201802024)
• Nanda Vicha Laila (201802025)
Ilmu hukum adalah kumpulan pengetahuan tentang hukum yang
telah dibuat sistematiknya. Filosofis dasarnya adalah bahwa
manusia adalah mahluk hidup yang mempunyai rasa, karsa, dan
karya, akal dan perasaan.
• Sumber hukum formal adalah :
1. Perundang – undangan
2. Kebiasaan
3. Traktat ( perjanjian Internasional public )
4. Yurisprudensi
5. Doktrin ( pendapat pakar )
Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu
hal yang penting dan dituntut dari suatu profesi, terutama profesi
yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah
pertanggung jawaban dan tanggung gugat (accountability) atas
semua tindakan yang dilakukuannya.
Praktek kebidanan merupakan inti dari berbagai kegiatan bidan
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus terus-
menerus ditingkatkan mutunya melalui:
1. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
2. Pengembangan ilmu dan teknologi dalam kebidanan
3. Akreditasi
4. Sertifikasi
5. Registrasi
6. Uji kompetensi
7. Lisensi
• Beberapa aspek hukum dalam pelayanan kebidanan antara
lain sebagai berikut:
• UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
• UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
-Pasal 23 Ayat 1, 2, 3, dan 4 :
Ayat (1): Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
Ayat (2): Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.
Ayat (3): Dalam menyelenggarakan peayanan kesehatan, tenaga kesehatan wajib memiliki
izin dari pemerintah
Ayat (4): Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi
-Pasal 24 :
Ayat (1): Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 harus memenuhi
ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar
pelayanan, dan standar prosedur operasional.
Ayat (2): Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaiman dimaksud pada
ayat (1) diatur oleh organisasi profesi.
Ayat (3): Ketentuan mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan
standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
peraturan menteri.
• PP No 32/ Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
• BAB I (Ketentuan Umum)
-Pasal 1 : Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan;
• BAB I (Ketentuan Umum)
-Pasal 1 : Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri
dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan;
• BAB II (Jenis Tenaga Kesehatan)
-Pasal 2 : Tenaga kesehatan terdiri dari :
a. tenaga medis;
b. tenaga keperawatan;
c. tenaga kefarmasian;
d. tenaga kesehatan masyarakat;
e. tenaga gizi;
f. tenaga keterapian fisik;
g. tenaga keteknisian medis.
• BAB III (Persyaratan)
-Pasal 3 : Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan
keterampilan dibidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah
dari lembaga pendidikan.
-Pasal 4 : Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan upaya
kesehatan setelah tenaga kesehatan yang bersangkutan memiliki
ijin dari Menteri.
-Pasal 5 : Selain ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1), tenaga medis dan tenaga kefarmasian lulusan dari lembaga
pendidikan di luar negeri hanya dapat melakukan upaya
kesehatan setelah yang bersangkutan melakukan adaptasi.
PP/UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung.
• PP/UU tentang Aborsi
Dalam KUHP Bab XIX Pasal 346 s/d 350 dinyatakan sebagai berikut :
-Pasal 346 : “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun”.
-Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan
matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama lima
belas tahun.
-Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun enam bulan.(2) Jika perbuatan itu
mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
-Pasal 349 : “Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu
kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam
pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dandapat dicabut hak untuk
menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan”.
• BAB IV (Perencanaan, Pengadaan dan Penempatan)
• Bagian Kesatu Perencanaan :
-Pasal 6 : Pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan
tenaga kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat. Dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan nasional tenaga kesehatan. Perencanaan nasional tenaga kesehatan disusun dengan
memperhatikan faktor :
a. jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat;
b. sarana kesehatan;
c. jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan

• Bagian Kedua Pengadaan :


-Pasal 7 : Pengadaan tenaga kesehatan dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan di bidang
kesehatan.
-Pasal 8 : Pendidikan di bidang kesehatan dilaksanakan di lembaga pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah atau masyarakat.
-Pasal 9 : Pelatihan di bidang kesehatan dapat dilakukan secara berjenjang sesuai dengan jenis
tenaga kesehatan yang bersangkutan.
• Bagian Ketiga Penempatan :
-Pasal 15 : Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat, Pemerintah
dapat mewajibkan tenaga kesehatan untuk ditempatkan pada sarana kesehatan tertentu untuk
jangka waktu tertentu.
-Pasal 17 : Penempatan tenaga kesehatan dengan caramasa bakti dilaksanakan dengan
memperhatikan :
a. kondisi wilayah dimana tenaga kesehatan yang bersangkutan ditempatkan;
b. lamanya penempatan;
c. jenis pelayanan kesehatan yangdibutuhkan oleh masyarakat;
d. prioritas sarana kesehatan.
• BAB V (Standar Profesi dan Perlindungan Hukum)
• Bagian Kesatu Standar Profesi :
-Pasal 21 : Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban
untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan.
-Pasal 22 : Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas
profesinya berkewajiban untuk :
a. menghormati hak pasien;
b. menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien;
c. memberikan infomasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang
akan dilakukan;
d meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan;
e. membuat dan memelihara rekam medis.
-Pasal 23 : Pasien berhak atas ganti rugi apabila dalam pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
mengakibatkan terganggunya kesehatan, cacat, atau kematian yang terjadi
karena kesalahan atau kelalaian.
• Bagian Kedua Perlindungan Hukum
-Pasal 24 : Perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang
melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan.
• PP/UU tentang Bayi Tabung
Undang-undang tentang bayi tabung terdapat dalam pasal 16 UU No.
23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang berbunyi:
-Ayat 1 : Kehamilan di luar cara alami dapat dilaksanakan sebagai
upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan
-Ayat 2 : Upaya kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud
dalam ayat 1 hanya dapat dilaksanakan oleh pasangan suami istri
yang sah, dengan ketentuan: 1. Hasil pembuahan sperma dan ovum
dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri
darimana ovum itu berasal 2. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu 3. Ada sarana
kesehatan tertentu
-Ayat 3 : Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan
diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)
ditentukan dengan P.P
• Permenkes No 1464 tahun 2010
BAB I (Ketentuan Umum)
-Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1.Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi
sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.
2.Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif, yang
dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat.
3.Surat Tanda Registrasi, selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
pemerintah kepada tenaga kesehatan yang diregistrasi setelah memiliki sertifikat
kompetensi.
4.Surat Izin Kerja Bidan, selanjutnya disingkat SIKB adalah bukti tertulis yang diberikan
kepada Bidan yang sudah memenuhi persyaratan untuk bekerja di fasilitas pelayanan
kesehatan.
5.Surat Izin Praktik Bidan, selanjutnya disingkat SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan
kepada Bidan yang sudah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik bidan mandiri.
6.Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan
profesi yang meliputi standar pelayanan, standar profesi, dan standar operasional prosedur.
7.Praktik mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.
8.Organisasi profesi adalah Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
• BAB II (Perizinan)
-Pasal 2 : (1)Bidan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau
bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan. (2)Bidan yang menjalankan
praktik mandiri harus berpendidikan minimal Diploma III (D III)
Kebidanan.
-Pasal 3 : (1)Setiap bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan
kesehatan wajib memiliki SIKB. (2)Setiap bidan yang menjalankan
praktik mandiri wajib memiliki SIPB. (3)SIKB atau SIPB sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku untuk 1 (satu) tempat.
-Pasal 4 : (1)Untuk memperoleh SIKB/SIPB sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3, Bidan harus mengajukan permohonan kepada
pemerintah daerah kabupaten/kota
-Pasal 5 : (1)SIKB/SIPB dikeluarkan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota. (2)Dalam hal SIKB/SIPB dikeluarkan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota maka persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e tidak diperlukan.
-Pasal 6 : Bidan hanya dapat menjalankan praktik dan/atau
kerja paling banyak di 1 (satu) tempat kerja dan 1 (satu) tempat
praktik.
-Pasal 7 : (1)SIKB/SIPB berlaku selama STR masih berlaku dan
dapat diperbaharui kembali jika habis masa berlakunya.
-Pasal 8 : SIKB/SIPB dinyatakan tidak berlaku karena:
a.tempat kerja/praktik tidak sesuai lagi dengan SIKB/SIPB.
b.masa berlakunya habis dan tidak diperpanjang.
c.dicabut oleh pejabat yang berwenang memberikan izin.
• PP/UU Tentang Adopsi
PP/UU tentang adopsi ada pada PP No.54 Th 2007 Tentang
Pelaksanaan Pengangkatan Anak yang berbunyi:
BAB 1: Ketentuan Umum
Pasal 2: Pengangkatan anak bertujuan untuk kepentingan terbaik bagi
anak dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anak dan perlindungan
anak, yang dilaksanakan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 3:
Ayat (1) : Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang
dianut oleh calon anak angkat.
Ayat (2) : Dalam hal asal-usul anak tidak diketahui, maka agama anak
disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat.