Anda di halaman 1dari 38

VITAMIN DAN MINERAL

• Merupakan molekul organik yang ada di dalam


tubuh yang mempunyai fungsi sangat bervariasi
• Fungsi dalam metabolisme yang paling utama
adalah sebagai kofaktor
• Di dalam tubuh diperlukan dalam jumlah sedikit
 micronutrient
• Biasanya tidak disintesis di dalam tubuh. Jika
dapat disintesis  jumlah tidak mencukupi
kebutuhan tubuh. Sehingga diperoleh dari
makanan / diet
 Beberapa vitamin berfungsi langsung dalam
metabolisme penghasilan energi
 Jalur metabolisme yang menghasilkan energi
untuk mendukung kerja sel  glikolisis, siklus
kreb, transport elektron, dan β oksidasi

 Berdasarkan hidrofobisitasnya, vitamin dibagi


menjadi 2 :
› Vitamin yang larut dalam lemak : A, D, E, K
› Vitamin yang larut dalam air : B kompleks, C
Tiamin (vitamin B1)
• Defisiensi
• • penyakit beri-beri yang gejalanya terutama
tampak pada sistem saraf dan kardiovaskuler.
• • Pada sistem saraf :neuritis
• • Pada kardiovaskuler :insufisiensi jantung.
• • Pada saluran cerna :konstipasi dan nafsu
makan berkurang.
Efek samping
• Meskipun jarang, reaksi anafilaktoid dapat terjadi
setelah pemberian IV dosis besar.
Lanjutan…

• Sediaan
Tiamin HCl (vit B1, aneurin HCl) tersedia
dalam bentuk tablet 5-500 mg, larutan
steril 100-200 mg untuk penggunaan
parenteral, dan eliksir 2-25 mg/ml.,dosis
2-5 mg/hari (pencegahan) dan 5-10 mg
tiga kali sehari (pengobatan)
• Indikasi
• Wanita hamil yang kurang gizi
• Penderita emesis gravidarum
Defisiensi
 • Gejala sakit tenggorokan dan radang di sudut mulut

 (stomatitis angularis), keilosis, glositis, lidah berwarna

 merah dan licin.

Indikasi
 • Untuk pencegahan dan terapi defisiensi vitamin B2

 yang sering menyertai pellagra atau defisiensi vitamin

 B-kompleks lainnya, sehingga riboflavin diberikan

 bersama vitamin lainnya.

 • Dosis untuk pengobatan adalah 5-10 mg/hari.


Asam Nikotinat (Niasin)
Defisiensi
 • Pellagra adalah penyakit defisiensi niasin
dengan kelainan pada kulit, saluran cerna, dan
SSP.
• Untuk pengobatan pellagra pada keadaan akut
dianjurkan dosis oral 50 mg diberikan sampai 10
kali sehari, atau 25 mg niasin 2-3 kali sehari
secara intravena.
 Defisiensi
– Kelainan kulit berupa dermatitis seboroik dan
peradangan pada selaput lendir, mulut dan lidah
– Kelainan SSP berupa perangsangan sampai timbulnya
kejang
– Gangguan sistem eritropoietik berupa anemia
hipokrom mikrositik
Efek samping
• Dapat menyebabkan neuropati sensorik atau sindrom
neuropati dalam
 dosis antara 50 mg-2 g per hari untuk jangka panjang.
Lanjutan….

Sediaan dan indikasi


• Tablet piridoksin HCl 10-100 mg dan sebagai larutan steril 100 mg/ml
piridoksin HCl untuk injeksi.
• Untuk mencegah dan mengobati defisiensi vitamin B6 diberikan
bersama
vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan
pengobatan defisiensi vitamin B-kompleks. Indikasi lain untuk mencegah
atau mengobati neuritis perifer oleh obat, misalnya setelah pemberian
obat isoniazid.
Asam pantotenat

• Kebutuhan sehari
• Kebutuhan sehari 5-10 mg.
• Sediaan
• Dalam bentuk Ca-pantotenat 10 atau 30 mg dan
dalam bentuk larutan steril untuk injeksi dengan
kadar 50 mg/ml.
 Biotin
 • Gejala defisiensi biotin :dermatitis, sakit otot,
rasa lemah, anoreksia, anemia ringan.
 • Berfungsi sebagai koenzim pada berbagai reaksi
karboksilasi.
 • Jumlah biotin yang diperlukan sehari berkisar
antara 150-300 μg.
Kolin
Fungsinya:
• Sebagai prekursor asetilkolin.
• Dalam metabolisme lemak, kolin berkhasiat lipotropik (dapat
menurunkan kadar lemak dalam hati) dalam pengobatan penyakit hati
seperti sirosis hepatis, hepatitis.
• Dalam metabolisme intermedier, sebagai donor metil dalam
pembentukan berbagai asam amino esensial.
 Kebutuhan
 • Kebutuhan tubuh sehari-hari belum dapat ditentukan, tetapi dalam
makanan sehari-hari rata-rata terdapat 500-900 mg.
 • Penggunaan per oral cukup aman dengan LD50 200- 400 g.
Defisiensi
• Defisiensi dicegah dengan pemberian sayur-mayur atau
buah-buahan segar.
• Bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu
merupakan reduktor dan antioksidan.
• Gejala awal adalah malaise, mudah tersinggung, gangguan
emosi, artralgia, hiperkeratosis folikel rambut, perdarahan
hidung dan petekie. Skorbut terlihat bila kadar vitamin C
pada leukosit dan trombosit < 2 mg/dl dan ini terjadi
setelah mendapat diet yang tidak
 mengandung vitamin C selama 3-5 bulan. Orang tua,
alkoholisme, penderita penyakit menahun sangat peka
terhadap timbulnya skorbut.
 Kebutuhan sehari
• AKG vitamin C ialah 35 mg untuk bayi dan meningkat sampai kira-
kira 60 mg pada dewasa.
 Kebutuhan akan vitamin C meningkat 300-500% pada penyakit
infeksi, tuberkulosis, tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca
bedah atau trauma, pada hipertiroid, kehamilan dan laktasi.
Pada masa hamil dan laktasi diperlukan tambahan vitamin C 10-
25 mg/hari.
 Efek samping
• Dosis lebih dari 1 g/hari dapat menyebabkan diare dan dapat
meningkatka n bahaya terbentuknya batu ginjal, karena
sebagian vit C dimetabolisme dan diekskresi sebagai oksalat.
 Sediaan dan indikasi
 • Dalam bentuk tablet & larutan mengandung 50-1500 mg. Untuk
sediaan suntik mengandungvitamin C 100-500 mg.
 • Vitamin C diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan
skorbut.
VITAMIN A
Sumber
• berasal dari karoten (provitamin A) • terdapat pada mentega, telur,
hati dan daging • terdapat dalam beberapa bentuk, misalnya retinol
(vitamin A1) dan 3- dehidroretinol (vitamin A2). Asam retinoat
(tretinoin, isotretinoin) merupakan hasil oksidasi group alkohol dari
retinol.
• Farmakodinamik
• untuk regenerasi pigmen retina mata dalam proses adaptasi gelap.
• Retinol (vitamin A1) memegang peranan penting pada kesempurnaan
fungsi dan struktur sel epitel, karena retinol berperan dalam
diferensiasi sel dan proliferasi epitel.
• Vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi
dan perkembangan embrio.
 Defisiensi
 • Terjadi bila :
1. kesanggupan tubuh untuk menyimpan vitamin A
terganggu (sirosis hati)
2. terdapat defisiensi protein (transport)
3. absorpsi di usus terganggu
4. asupan vitamin A yang kurang.
• Gejala yang paling dini berupa buta senja. .
Defisiensi lebih berat menyebabkan gangguan
pada mata yang berupa xeroftalmia, timbulnya
bercak Bitot, keratomalasia, dan akhirnya
kebutaan.
Hipervitaminosis A

• terjadi akibat penggunaan vitamin A lebih dari


700-3000 IU/kg/hari untuk beberapa bulan
sampai beberapa tahun.
• kerusakan hati pada anak dapat timbul karena
penggunaan vitamin A dengan dosis yang
sesuai AKG untuk orang dewasa selama
beberapa tahun dan dengan dosis 5 kali AKG
selama 7-10 tahun pada orang dewasa.
Indikasi
• untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin A.
• tetapi retinol sejumlah 20.000 IU/hari selama 1 atau 2
bulan pada bayi atau anak sehat dengan makanan
yang baik dapat menimbulkan gejala keracunan.
• Gejala defisiensi vitamin A pada anak diberikan secara
suntikan sebanyak 100.000 unit untuk satu kali pemberian
dan dilanjutkan dengan pemberian oral.
Tambahan suntikan 20.000 unit tiap minggu dapat
dianjurkan.
• Pemberian vitamin E bersama dengan vitamin A dapat
meningkatkan efektivitas vitamin A dan mencegah atau
mengurangi kemungkinan terjadinya hipervitaminosis A.
• Vitamin A juga digunakan untuk pengobatan penyakit
kulit tertentu seperti akne, psoriasis, dan iktiosis.
Posologi
• tersedia secara oral, suntikan dan topikal.
• Vitamin A kapsul mengandung 3-15 mg retinol (10.000- 50.000 IU)
per kapsul.
• Pada defisiensi berat, dosis pemberian IM pada orang
dewasa dan anak berusia lebih dari 8 tahun: 50.000-
100.000 IU/hari selama 3 hari diikuti dengan 50.000
IU/hari untuk 2 minggu. Pada anak 1-8 tahun diberikan
dosis 5.000-15.000 IU/hari untuk 10 hari dan bayi 5.000-
10.000 IU/hari untuk 10 hari.
• Dosis oral pada orang dewasa dan anak lebih dari 8
tahun ialah 100.000 IU/hari selama 3 hari diikuti dengan
50.000 IU/hari selama 2 minggu, dilanjutkan dengan 10.000-20.000
IU/hari untuk 2 bulan.
VITAMIN D
 •Berguna untuk mencegah dan mengobati
 rakitis (dicegah ataupun diobati dengan
 minyak ikan atau dengan sinar matahari
 yang cukup).

Farmakodinamik
 • Pengatur homeostatik kalsium plasma.
 • Meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat
 melalui usus halus.
 • Pengaturan kadar kalsium plasma
 dipengaruhi juga oleh hormon paratiroid
 (HPT) dan kalsitonin.
 Defisiensi
 • Terjadi penurunan kadar kalsium plasma, selanjutnya
 merangsang sekresi HPT yang berakibat meningkatnya
 reabsorpsi tulang.
 • Pada bayi dan anak mengakibatkan gangguan
 pertumbuhan tulang (penyakit rakitis).
 • Berkurangnya kalsifikasi menyebabkan deformitas
 tulang seperti kifosis, skoliosis, tulang tasbeh pada dada,
 kraniotabes pada anak usia dibawah 1 tahun dan genu
 varus atau genu valgus pada anak yang sudah dapat
 berjalan.
Hipervitaminosis D
• Gejalanya berupa hiperkalsemia,
• kalsifikasi ektopik pada jaringan
lunak
• (ginjal, pembuluh darah, jantung
dan
• paru), anoreksia, mual, diare, sakit
kepala,
• hipertensi dan hiperkolesterolemia.
• Kebutuhan sehari
• • 400 unit/hari.
Indikasi
 Selain untuk pencegahan dan
pengobatan rakitis, vitamin D antara
lain digunakan untuk osteomalasia,
hipoparatiroidisme dan tetani infantil,
dan untuk keadaan lain dengan alasan
penggunaan yang belum atau tidak
diketahui misalnya pada psoriasis,
artritis, dan hay fever.
• Pada rakitis, dosis 1.000 unit/hari akan mengembalikan
kadar kalsium dan fosfat plasma menjadi normal setelah
±10 hari, sedangkan hasil pemeriksaan radiologik akan
menunjukkan penyembuhan dalam waktu 3 minggu.
• Hipoparatiroidisme diperlukan 50.000-250.000 unit (dosis
penunjang).
• Tambahan vitamin D diperlukan pada masa hamil, laktasi
dan pada orang tua agar asupan vitamin D per hari 400 IU.
• Pada bayi prematur atau bayi yang mendapat ASI dalam
jumlah yang tidak cukup diperlukan dosis pencegahan 400
IU/hari.
• Bayi yang kemungkinan besar mengalami rakitis (sindrom
malabsorpsi, lahir dari ibu yang mengalami defisiensi
vitamin D) memerlukan sampai 30.000 IU/hari.
VITAMIN E
• Terdapat pada telur, susu, daging, buah-buahan,
kacang-kacangan dan sayur-sayuran, misalnya selada
dan bayam.
Farmakodinamik
• Sebagai antioksidan, mencegah oksidasi bagian sel
yang penting atau mencegah terbentuknya hasil
oksidasi yang toksik (hasil peroksidasi asam lemak
tidak jenuh).
• Defisiensi biasanya lebih sering disebabkan oleh
gangguan absorpsi, misalnya steatore, obstruksi
biliaris dan penyakit pankreas.
• Bayi prematur dengan makanan yang kaya asam lemak
tidak jenuh ganda dan kurang vitamin E akan
mengalami lesi kulit, anemia hemolitik dan udem.
Kebutuhan sehari
• Asupan 10-30 mg cukup untuk mempertahankan
kadar normal di dalam darah.
Farmakokinetik
• Diabsorpsi baik melalui saluran cerna. Dalam
darah terutama terikat dengan beta-lipoprotein
dan didistribusi ke semua jaringan.
• Kebanyakan diekskresi secara lambat ke dalam
empedu, sedangkan sisanya diekskresi melalui
urine sebagai glukuronida dari asam
tokoferonat atau metabolit lain.
VITAMIN K
•Vitamin K alam:
1. vitamin K1 (filokuinon=fitonadion)
• Digunakan untuk pengobatan
• Terdapat pada kloroplas sayuran berwarna
hijau dan buah-buahan.
2. vitamin K2 (senyawa menakuinon)
• Disintesis oleh bakteri usus terutama oleh
bakteri gram-positif.
• Vitamin K sintesis. Vitamin K2
Sediaan dan indikasi
• Tablet fitonadion 5 mg. Emulsi fitonadion
mengandung 2 atau 10 mg/ml(parenteral)
• Tablet menadion 2,5 dan 10 mg. Larutan
menadion dalam minyak yang mengandung 2,
10, dan 25 mg/ml (IM)
Tablet menadion natrium bisulfit 5 mg. Larutan
menadion natrium bisulfit mengandung 5 dan
10 mg/ml (parenteral)
• Tablet menadiol natrium difosfat 5 mg. Larutan
menadiol natrium difosfat yang mengandung 5
dan 10 mg/ml (parenteral)
 Berguna untuk mencegah atau mengatasi
perdarahan akibat defisiensi vitamin K.
• Pada bayi baru lahir hiprotrombinemia terjadi karena
belum adanya bakteri yang mensintesis vitamin K
dan tidak adanya depot vitamin K. Filokuinon
merupakan obat terpilih untuk tindakan
pencegahan tersebut dan diberikan sejumlah 0,5-1
mg IM atau IV segera setelah
 bayi dilahirkan.
• Dilakukan juga pada bayi prematur atau bayi aterm
yang dilahirkan dengan bantuan forseps atau
ekstraksi vakum, dan diberikan dengan dosis 2,5 mg
untuk 3 hari berturutturut.
Untuk pengobatan perdarahan pada bayi dapat
diberikan 1 mg IM atau IV dan bila perlu dapat
diulangi setelah 8 jam.
MINERAL

Kalsium
• Untuk absorpsi diperlukan vitamin D
• Kebutuhan kalsium meningkat pada masa
pertumbuhan, selama laktasi dan pada
wanita pascamenopause.
• Bayi yang mendapat susu buatan
memerlukan tambahan kalsium.
Fosfor

• Terdapat pada semua jaringan tubuh dan di


dalam tulang dan gigi dalam jumlah yang hampir
sama dengan kalsium.
• Fosfor penting sebagai buffer cairan tubuh.
• • Perbandingan kandungan kalsium dan fosfor
dalam makanan dianjurkan 1 : 1.
• Magnesium mengaktivasi banyak sistem
enzim (misalnya alkali fosfatase, leusin
aminopeptidase) dan merupakan kofaktor
yang penting pada fosforilasi oksidatif,
pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot
dan kepekaan saraf.
• Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan
saraf dan transmisi neuromuskuler. Pada
keadaan defisiensi berat mengakibatkan
tetani dan konvulsi.
Kalium
• Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan
natrium (kation utama dalam cairan ekstrasel) mengatur
kepekaan sel, konduksi impuls saraf dan keseimbangan dan
volume cairan tubuh.
• Hipokalemia dapat terjadi pada anak-anak yang makanannya tidak
mengandung protein. Penyebab hipokalemia yang paling sering
adalah terapi diuretik terutama tiazid.
• Penyebab hipokalemia lain adalah diare yang berkepanjangan
terutama pada anak, hiperaldosteronisme, terapi cairan
parenteral yang tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan
kortikosteroid atau laksan jangka lama.
• Hiperkalemia disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal
yang dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi korteks
adrenal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal,
suplementasi vitamin K yang tidak sesuai dosis atau indikasinya,
atau penggunaan antagonis aldosteron
• Natrium penting untuk membantu
mempertahankan volume dan keseimbangan
cairan tubuh.
• Kadarnya dalam cairan tubuh diatur oleh
mekanisme homeostatik.
• Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada
pasien gagal jantung kongestif, sirosis hati dan
hipertensi.
Klorida
• Klorida merupakan anion yang paling
penting dalam mempertahankan
keseimbangan elektrolit.
• Alkalosis metabolik hipokloremik dapat
terjadi setelah muntah yang lama atau
penggunaan diuretik berlebihan.
• Kehilangan klorida berlebihan dapat
menyertai kehilangan berlebihan natrium.