Anda di halaman 1dari 76

PEMICU 5

KELOMPOK 15
24 Agustus 2018
Kelompok 15
■ Tutor : dr. Hugo
■ Ketua : Diana Putri S (405150165)
■ Sekretaris : Novitasari (405150160)
■ Penulis : Astri Gunardi (405150127)
■ Anggota :
– Christiny (405140221)
– Carrisa Meyllia K (405150017)
– Giano Florian R (405150023)
– Verren Natasya N (405150029)
– Joshua Kurnia T (405150071)
– Joseph Deni (405150136)
– Keizia Fairuz S (405150174)
– Imelda Chikka (405150198)
Dua Pasien, Beda Cerita

Hari ini, dokter jaga IGD kedatangan dua orang pasien laki-laki yang sama-sama berusia 25 thn, namun memiliki
keluhan berbeda. Ia segera melakukan pemeriksaan pada mereka satu persatu.

Pasien pertama mengeluh matanya merah setelah terkena cipratan cat tembok satu jam yang lalu. Ia terjatuh dari
tanga dan kaleng cat menimpa bagian samping kepala. Dokter segera melakukan irigasi pada matanya, baru
dilakukan pemeriksaan.

Dari pemeriksaan didapatkan :

VOD : 3/60 (bedsite)

VOS : 3/60 (bedsite)

Conjuctiva bulbi OD : Perdarahan (+)

Conjuctiva bulbi OS : Injeksi conjunctiva (+)

Kornea OD : Jernih

Kornea OS: Abrasi (+)

COA OD : Darah 1/3 COA

COA OS : Nromal

Pasien kedua, berprofesi sebagai pramugara. Ia mengeluh telinga kanannya berdarah ketika sedang dalam pesawat
beberapa jam sebelum sampai di rumah sakit.

Dia mengatakan teliga kanannya tiba-tiba berdarah, dan dia merasakan seperti ada balon yang pecah di dalam
telinganya ketika pesawat sedang menurunkan ketinggian. Sebelumnya, dia merasakan sakit yang luar biasa dalam
telinganya. Dia mencoba untuk melakukan equalizing dan mengunyah permen karet sepanjang penerbangan, tetapi
tidak juga mengurangi rasa saitnya. Bahkan telingaterasa semakin tetutup dan ditusuk-tusuk.

Dia juga mengatakan pada saat terbang dia memang sedang pilek, beringus dan hidungnya buntu, tetapi tidak bisa
menolak tugas karena jadwal maskapai sedang padat.

Apa yang saudara dapat pelajari dari kasus tersebut?


Learning Issue
1. Menjelaskan definisi dan klasifikasi dari trauma mata (laserasi kelopak
mata, hifema, erosi kornea, edema kornea, dislokasi lensa,
pendarahan subkonjungtiva, luka bakar konea dan bahan kimia, benda
asing di kornea, benda asing di konjungtiva)
2. Menjelaskan etiologi, patofisiologi dari trauma mata
3. Menjelaskan pendekatan diagnosis (anamnesis, gejala klinik,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang)
4. Menjelaskan komplikasi dan prognosis dari masing-masing trauma
mata
5. Menjelaskan pencegahan dan tatalaksana trauma mata
6. Meyebutkan jenis trauma telinga/tulang temporal (trauma auris)
7. Menjelaskan definisi, etiologi, fakto risiko, predisposisi, patofisiologi,
klasifikasi, gejala, dan tanda klinis, diagnosis, diagnosis banding,
tatalaksana dan komplikasi serta prognosis trauma telinga/tulang
temporal
HIFEMA
Hyphaema
■ perdarahan di bilik mata depan
■ Biasa merupakan komplikasi dari trauma mata tumpul
■ Sumber perdarahan biasanya dari iris root/ permukaan
badan siliar.
■ Pengobatan ditujukan untuk pencegahan perdarahan
sekunder dan kontrol dari elevasi TIO, serta neuropati optik yg
dapat menyebabkan pewarnaan jaringan mata, terutama
kornea.

Kanski 8th Edition


Traumatic hyphaema

Small hyphaema total hyphaema


Darah mengendap di kornea diwarnai
inferior  fluid level dengan darah akibat
tekanan intraokular
tinggi yg
berkelanjutan, terkait
dengan hyphaema
Total

Kanski 8th Edition


Grading Hyphema (Sheppard)
■ Grade 0: No visible layering,
but red blood cells within the
anterior chamber
(microhyphema)
■ Grade I: Layered blood
occupying less than one
third of the anterior chamber
■ Grade II: Blood filling one
third to one half of the
anterior chamber
■ Grade III: Layered blood
filling one half to less than
total of the anterior chamber
■ Grade IV: Total clotted blood,
often referred to as blackball
or 8-ball hyphema

Picture: www.aao.org
ICD-9 CM Diagnosis Code: 364.41
LASERASI
KELOPAK
MATA
Laserasi kelopak mata
■ Robekan pada kelopak mata yang disebabkan oleh trauma tajam 
laserasi kelopak mata
■ Jika disebabkan oleh benda tumpul  ruptur kelopak mata
■ Jenis :
– Full-thickness : jika mengenai seluruh lapisan atau ketebalan
kelopak, mulai dari lamela anterior sampai posterior
– Partial-thickness : sebagian saja, hanya lamela anterior
– Keduanya bias disertai atau tanpa disertai keterlibatan
kanalikulus
■ Berdasarkan lokasi robekan :
– Laserasi kelopak mata marginal : bila mengenai margo palpebra
– Laserasi non marginal : bila tidak mengenai margo palpebral
Manifestasi klinis
■ Diagnosis ditegakkan berdasarkan
– Anamnesa : mekanisme dan penyebab trauma, riwayat keadaan
bola mata, riwayatt pengobatan yang sudah didapati
– Pemeriksaan oftalmologis :
■ Ada tidaknya diskontinuitas jaringan kelopak, integritas margin, kulit,
tarsus
■ Lokasi luka dan kedalaman luka menggunakan dua kapas lidi untuk
memisahkan tepi luka  untuk memperkirakan luka termasuk partial
thickness atau full thickness & diperhatikan ada tidaknya keterlibatan
kanalikulus
■ Evaluasi fungsi levator palpebra  cara : menilai pergerakan kelopak
mata atas dan dibandingkan dengan kelopak yg sehat
– Pemeriksaan penunjang
■ Anel tes/ irigasi dan probing  bila ada keterlibatan kanalikulus
■ CT scan, rontgen  bila dicurigai adanya benda asing/fraktur
Tatalaksana
■ Prinsip : Mengembalikan posisi dan fungsi seperti normal
■ Cara :
– Pembedahan
– Antitenatus dan toxoid  anestesi  pembersihan luka
(salin/povidon-iodin)  rujuk
– Anti rabies  jika disebabkan gigitan hewan
– Antibiotik oral dan topikal, anti inflamasi, analgetik
EROSI KORNEA
Erosi Kornea
■ Terkelupasnya epitel kornea diakibatkan oleh gesekan keras
dalam waktu singkat epitel di sekitarnya dapat bermigrasi dengan
cepat dan menutupi defek tersebut.
■ Tanda dan gejala :
 Terasa sangat sakit
 Mata berair
 Lakrimasi
 Fotofobia
 Penglihatan terganggu
 Kemerahan
 Blefarospasme dan mata berair biasanya membangunkan
pasien
pada malam hari / terjadi pada saat terbangun
 Biasanya ada riwayat abrasi kornea
■ Pemeriksaan: Fotofluoresensi  kornea berwarna hijau
Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophthalmology: a systemic approach.
8th ed. UK: Saunders Elsevier. Page 211
Tatalaksana
■ Gejala akut :
 Cyclopentolate 1% dua kali sehari
 Debridemen dengan spon selulosa steril / cotton bud
 Diklofenak topikal 0,1% mengurangi rasa sakit
 Hipertonik natrium klorida 5% tetes empat kali sehari dan
salep pada waktu tidur dapat meningkatkan adhesi epitel
■ Gejala berulang :
 gel topikal pelumas atau salep, atau salin hipertonik salep
 saat tidur  bisa untuk jangka panjang
 Debridement sederhana dari epitel di daerah yang terlibat
 menghaluskan lapisan Bowman dengan laser excimer
 Bandage contact lenses
EDEMA KORNEA
Edema Kornea

■ Trauma tumpul yg keras/cepat -> edema bahkan ruptur


membran descement
■ Keluhan : penglihatan kabur, terlihat pelangi sekitar bola
lampu/sumber cahaya
■ Kornea keruh, uji plasido (+)
■ Berat -> masuknya serbukan sel radang dan neovaskularisasi
ke dalam jar stroma kornea
Edema Kornea
■ Th/ : • Komplikasi :
1. larutan hipertonik (NaCl) 5%
/ larutan garam hipertonik
kerusakan
2-8% membran
2. Glukosa 40% descement lama ->
3. Larutan albumin
keratopati bulosa ->
rasa sakit + visus
4. TIO tinggi -> asetazolamide
turun akibat
5. Penghilang rasa sakit dan astigmatisme
memperbaiki visus -> lensa
kontak lembek ireguler
DISLOKASI LENSA
ECTOPIA LENS (DISLOKASI LENSA)
DEFINISI • Ectopia lentis  perpindahan lokasi lensa dari posisi normal akibat herediter atau
didapat.
• Lensa dapat dislokasi, menyebabkan fungsi mata aphakic (luxated), atau sebagian
terlepas, yang tersisa sebagian dalam wilayah pupil (subluxated).
• Tahap awal subluksasi bermanifestasi: lensa gemetar (phacodonesis), ditunjukkan pada
lampu celah dengan goyangan lensa pada pengembalian yang cepat dari mata ke posisi
utama.

TALAK 1. Koreksi Spectacle  memperbaiki astigmatisme akibat kemiringan lensa atau efek
pada tepi mata dengan subluksasi ringan.
2. Operasi pengangkatan lensa  indikasi utk ametropia keras, amblyopia meridional,
katarak, lens-induced glaucoma or uveitis.

KOMPLIKASI 1. Kesalahan bias dari jenis posisi lensa


2. Distorsi optik karena silindris dan / atau efek tepi lensa
3. Glaukoma
4. Uveitis yg diinduksi oleh lensa.

Kanski's Clinical Ophthalmology - A Systematic Approach 8th Ed.pdf


ETIOLOGI ECTOPIA LENS (DISLOKASI LENSA)
Didapat Trauma, Pseudoexfoliation, Inflamasi (cyclitis kronik, sifilis, katarak hipermature),
Mata lebar (miopia tinggi, bupthalmos), Tumor uveal anterior.
Ectopia autosomal dominant ditandai dengan perpindahan superotemporal simetris
familial lentis bilateral; manfes kongenital / nanti.
Ectopia lentis ggn bilateral congenital langka dengan autosomal resesif, manfes: perpindahan
et pupillae pupil & lensa berlawanan arah, pupil kecil dan dilatasi buruk, dpt terdapat
Microspherophakia
Aniridia terkadang dikaitkan dgn ectopia lentis
Marfan 1. Autosomal dominant (gen: FBN1)
syndrome 2. Manfes musculoskeletal: tinggi, kurus dgn anggota badan tdk seimbang (arm
span > height), arachnodactyly, Kyphoscoliosis, Lesi Kardiovaskular: aneurisma
aorta.
3. Bilateral ectopia lentis (80%); subluksasi pada superotemporal. (jarang) lensa
dpt dislokasi ke ruang anterior atau vitreous.
Weill– 1. Autosomal resesif atau (autosomal dominant dari polimorfisme FBN1)
Marchesani 2. Ciri: perawakan pendek, brachydactyly dan kesulitan belajar.
syndrome 3. Ectopia lentis (50%): Subluksasi di inferior
(jarang) 4. Pada akhir masa kanak-kanak atau dewasa awal.
5. Microspherophakia shg memblok pupil dgn penutupan sudut mungkin terjadi
Homocystinuri 1. gangguan Autosomal resesif di mana penurunan metabolisme enzimatik hasil
a asam amino metionin akumulasi sistemik metionin dan homosistein.
2. Ciri: kasar rambut pirang , Iris biru, keterlambatan perkembangan saraf,
3. Ectopia lentis biasanya inferonasal, hampir universal usia 25 tahun dalam
kasus-kasus yang tidak diobati. zonule mengandung tinggi sistein (kekurangan
homocystinuria)  hancur  sehingga akomodasi sering hilang.
Dislokasi lensa
■ Perpindahan lokasi lensa dari posisi normal
akibat herediter atau didapat/traumatik
■ Ke dalam vitreus/ bag sebelum nya , masuk
ke dalam anterior chamber yg merupakan
faktor predisposisi pseudoexfoliation

Kanski bowling clinical opthalmology


Vaughan & asbury’s generally opthalmology
Heriditer Trauma
■ Bilateral, sering menyertai ■ Tjd setelah cedera kontusio 
homosistinuria & sind, pukulan tinju pd mata
marfan
■ Dislokasi parsial  tidak ada
■ Penglihatan kabur  gejala  tp jika lensa
khususnya bila lensa mengambang di vitreus 
mengalami dislokasi keluar pangdangan kabur & mata
garis pandangan merah
■ Jk dislokasi parsial  tepi ■ Iridodonesis  disebabbkan
lensa & serat zonula dpt hilang nya penopang lensa
terlihat di pupil
■ Komlikasi : uveitis & glaukoma
■ Dislokasi total ke dlm vitreus
 lensa terlihat di
oftalmoskop

Vaughan & asbury’s generally


opthalmology
BENDA ASING DI
KORNEA &
KONJUNGTIVA
Benda asing di kornea
■ Benda asing kornea dapat merupakan trauma minor (misal
partikel kecil yg tertanam hanya hingga kedalaman epitel)
atau trauma besar (mata pancing yg tertanam ke dlm seluruh
kornea)
Manifestasi klinis
■ Rasa mengganjal krn benda asing
■ Rasa sakit hebat bila melirik atau berkedip
■ PF: dapat terlihat bd asing secara langsung maupun melalui
pemeriksaan dgn teknik menggunakan slitlamp
■ PP
– Fluoresein topikal  melihat adanya luka yg terwarnai pd
permukaan kornea karena benda asing
– Seidel test dilakukan bila dicurigai ada ruptur/ laserasi akibat
trauma  utk melihat apakah ada kebocoran humomr aquos
akibat luka
■ DD
– Benda asing kornea
– Distikhiasis
– dryeye
TataLaksana
■ Aspek terpenting dlm TL: memastikan ada tidaknya bahan yg
tertinggal di dlm bola mata
■ Rujuk dgn dibantu pemberian antibiotik tetes bila memungkinkan
tanpa mencabut bd asing yg ada
■ Jika bd asing di superfisial
– Stlh anestesi lokal  menggunakan aplikator kapas atau
jarum suntik insulin/ needle berukuran 30
■ Jika bd asing masuk ke stroma
– Bahan tidak besar, tidak beracun/ terkontaminasi, dan tidak
menimbulkan rasa sakit/ keluhan visual  dibiarkan kecuali
menimbulkan keluhan
– Sayuran  hrs diambil krn beresiko menimbulkan respon
antigenik dan infeksi (jamur)
– Bulu hewan menghilangkan setiap bulu atau rambut yg
menonjol dari permukaan kornea dan mengurangi respon
inflamasi
Benda asing di konjungtiva
■ Trauma pada konjungtiva mempunyai prognosis baik dan
jarang perlu intervensi bedah
■ Etiologi :
– Zat kimia
– Batu/pasir/tanah
– Zat inert transparan: kaca
– Zat penghasil radikal bebas: besi
– Benda organik (tumbuhan/ serangga)
Manifestasi klinis
■ Rasa mengganjal krn benda asing
■ Rasa sakit hebat bila melirik atau berkedip
■ PF: terlihat/ tidak benda asing di konjungtiva
■ PP
– Fluoresein topikal  melihat adanya luka yg terwarnai pd
permukaan kornea karena benda asing di margo kelopak
mata atau daerah konjungtiva tarsal superior
■ DD
– Benda asing kornea
– Distikhiasis
– dryeye
TataLaksana
■ Menggunakan aplikator kapas atau jarum suntik insulin/
needle berukuran 30
■ Penggunaan forsep/ spatula tumpul
■ Irigasi pada bagian fornix dan kemudian permukaan
konjungtiva kemudian diusap dgn kapas lidi yg sudah
dibasahi dengan salin dan diberi pelembab
PENDARAHAN
SUBKONJUNGTIVA
■ Keluarnya darah ke area subepitelial konjungtiva, akibat
kerusakan/ robek/ kebocoran dinding PD
■ Akan terlihat spt bercak berwarna merah terang pd jaringan
konjungtiva, berbatas jelas/ kabur, dengan daerah sekitar yg
normal
■ Jika perdarahan berat  konjungtiva dpt terangkat dan
prolaps disepanjang fisura palpebra, bahkan konjungtiva
bulbi akan ikut terkena
■ Sebagian besar unilateral
Etiologi
■ Perdarahan dapat berasal dari PD konjungtiva atau episklera yg
bermuara ke ruang subkonjungtiva
■ Idiopatik/ spontan, biasanya yg ruptur adlh PD konjungtiva
■ Batuk, mengejan, bersin, muntah
■ HT (PD konjungtiva meruapakan PD yang rapuh, shg jika ada kenaikan
tekanan  mudah mengalami ruptur)
■ Gangguan perdarahan karena penyakit hati, DM, SLE, dan kekurangan vit
C, gangguan faktor pembekuan
■ Antibiotik, NSAID, steroid, vit D, kontrasepsi
■ Infeksi sistemik yg menyebabkan demam spt meningococcal septicemia,
scarlet fever, typhoid fever, cholera, ricketsia, malaria, dan virus
(influenza, smallpox, measles, yellow fever, sandfly fever)
■ Gejala sisa dr operasi mata
■ Trauma mata ringan
Manifestasi klinis
■ Pasien datang dgn keluhan mata merah, berair, pusing, dalam
waktu 24 jam sejak munculnya mata merah, bentuknya semakin
melebar, kemudian mengecil, awalnya merah cerah lama2 agak
gelap  harus ditanyakan: rwyt trauma, mengangkat bd berat,
batuk kronis, HT
■ Tanda pada pemeriksaan
– Perdarahan di sklera dgn warna merah terang (tipis) atau
merah tua (tebal)
– Tidak ada tanda radang
– Lingkungan sekitar radang (jika ada) tampak normal
■ PF: tajam penglihatan, reaktivitas pupil dan mencari apakan ada
defek pupil, tensi  utk mengetahui resiko HT
■ PP: darah lengkap, waktu perdarahan, Protrombin time,
tromboplastin parsial
■ DD:
– Konjungtivitis  krn kesamaan klinisnya: mata merah
– Konjungtivitis hemoragik akut
– Sarkoma kaposi
■ TL:
– Perdarahan hilang sendiri dalam 7-10 hari
– Utk mencegah perluasan  vasokonstriktor,
multivitamin, airmata buatan utk mengatasi keluhan
iritasi ringan
■ Prognosis scr umum baik, krn sifatnya diabsorbsi sendiri oleh
tubuh
TRAUMA
LUKA BAKAR DAN
KIMIA KORNEA
Luka bakar kimia
■ Semua luka bakar akibat kimia harus diterapi sbg
kegawatdaruratan
■ Pembilasan dg air keran harus segera dilakukan dilokasi
sebelum pasien di kirim
■ Mungkin diperlukan speculum palpebral mata dan infiltrasi
anestetik local untuk mengatasi blefarosme
■ Anasgesik dan anestetik topical serta sikloplegik hampir sll
diberikan
■ Gunakan aplikator berujung kapas yg dibasahi dan pinset ahli-
perhiasan utk mengeluarkan benda berbtk partikel dr forniks, yg
terutama terjd pd cedera yg berhub dg plaster bangunan/semen
■ Luka bakar alkalis menyebabkan peningkatan TIO dg segera krn
terjd kontraksi sclera dan kerusakan anyaman trabecular
■ Peningkatan tekanan sekunder (2-4 jam kemudian) terjadi
pelepasan prostaglandin, yg berpotensi menimbulkan uveitis
berat
■ Tatalaksana
– Steroid local,Obat antiglaukoma, Siklopegik 
pemberian selama 2 minggu pertama
– Setelah 2 minggu  hati-hati pemberian streroid krn
akan menghambat reepitelisasi
– Tetes mata askorbat (vit C) dan sitrat  bermanfaat
untk luka bakar alkalis derajat sedang, tp efeknya hanya
minimal dlm mencegah perlunakan pd pasien dg luka
bakar berat/defek epitel kornea persisten
– Terpajannya kornea dan adanya defek epitel yg menetap
diterapi dg air mata buatan,tarsorafi, ataubandage
contac lens
■ Komplikasi jangka panjang
– glaucoma
– pembentukan jar parut kornea
– Simblefaron
– Entropion
– keratitis sika
■ Prognosis
■ Semakin banyak jar epitel perilimbus serta PD sclera dan
konjungtiva yg rusak  indikasi prognosis yg semakin buruk
■ Transplantasi epitel limbus dr mata donor/mata sebelahnya
serta tandur (graft) membrane amnion mungkin bermanfaat
pd kasus berat untk membantu epitelisasi kornea, terutama
bila akan dilakukan tandur kornea (corneal grafting)
Zat kimia
Etiology
■ Chemical injuries range in severity from trivial to potentially
blinding.
■ The majority are accidental, but a few are due to assault
■ The severity of a chemical injury is related to the properties of
the chemical, the area of affected ocular surface, duration of
exposure
■ Alkalis tend to penetrate more deeply than acids
■ The most commonly involved alkalis are ammonia, sodium
hydroxide and lime.
■ Ammonia and sodium hydroxide characteristically produce
severe damage because of rapid penetration

Kanski Clinical Opthalmology


Pathophysiology
■ Damage by severe chemical injuries tends to progress as:
– Necrosis of the conjunctival and corneal epithelium with
disruption and occlusion of the limbal vasculature.
– Loss of limbal stem cells may lead to conjunctivalization and
vascularization of the corneal surface, or persistent corneal
epithelial defects with sterile corneal ulceration and
perforations
■ Deeper penetration causes the breakdown and precipitation of
glycosaminoglycans and stromal corneal opacification.
■ Anterior chamber penetration results in iris and lens damage.
■ Ciliary epithelial damage impairs secretion of ascorbate, which is
required for collagen production and corneal repair.
■ Hypotony and phthisis bulbi may ensue in severe cases.

Kanski Clinical Opthalmology


Healing
■ The epithelium heals by migration of epithelial cells
originating from limbal stem cells.
■ Damaged stromal collagen is phagocytosed by
keratocytes and new collagen is synthesized.

Kanski Clinical Opthalmology


Management
Emergency treatment:
■ A chemical burn is the only eye injury that requires emergency
treatment without formal clinical assessment
a. Corpus irrigation
– crucial to minimize duration of contact with the chemical and
normalize the pH in the conjunctival sac as soon as possible
– Topical anaesthetic should be instilled prior to irrigation, as this
dramatically improves comfort and facilitates cooperation
– Tap water should be used if necessary to avoid any delay, but a
sterile balanced buffered solution, such as normal saline or
Ringer lactate, should be used to irrigate the eye for 15–30
minutes

Kanski Clinical Opthalmology


b. Double-eversion of the upper eyelid should be performed
- so that any retained particulate matter trapped in the fornices is
identified and removed
c. Debridement of necrotic areas of corneal epithelium
- Should be performed at the slit lamp to promote re-epithelialization
and remove associated chemical residue
d. Admission to hospital
- will usually be required for severe injuries in order to ensure adequate
eye drop instillation in the early stages

Kanski Clinical Opthalmology


Grading of severity
■ Grade 1 is characterized by a clear cornea (epithelial
damage only) and no limbal ischaemia (excellent
prognosis)
■ Grade 2 shows a hazy cornea but with visible iris
detail and less than one-third of the limbus being
ischaemic (good prognosis)

Kanski Clinical Opthalmology


■ Grade 3 manifests total loss of corneal epithelium,
stromal haze obscuring iris detail and between one-
third and half limbal ischaemia (guarded prognosis).
■ Grade 4 manifests with an opaque cornea and more
than 50% of the limbus showing ischaemia (poor
prognosis).

Kanski Clinical Opthalmology


Medical treatment
■ Most milder (grade 1 and 2) injuries are treated with
topical antibiotic ointment for about a week
■ The main aims of treatment of more severe burns are
to reduce inflammation, promote epithelial
regeneration and prevent corneal ulceration

Kanski Clinical Opthalmology


a. Steroids
– reduce inflammation and neutrophil infiltration, and address anterior uveitis.
– However, they also impair stromal healing by reducing collagen synthesis and
inhibiting fibroblast migration.
– For this reason topical steroids may be used initially (usually 4–8 times daily,
strength depending on injury severity) but must be tailed off after 7–10 days
when sterile corneal ulceration is most likely to occur
b. Cycloplegia
– may improve comfort.
c. Topical antibiotic drops
– are used for prophylaxis of bacterial infection
d. Ascorbic acid
– reverses a localized tissue scorbutic state and improves wound healing,
promoting the synthesis of mature collagen by corneal fibroblasts
– Topical sodium ascorbate 10% can be given 2-hourly in addition to a systemic
dose of 1–2 g vitamin C (L-ascorbic acid) four times daily

Kanski Clinical Opthalmology


e. Citric acid
– a powerful inhibitor of neutrophil activity and reduces the
intensity of the inflammatory response
– Topical sodium citrate 10% is given 2-hourly for about 10 days,
and may also be given orally (2 g four times daily)
– The aim is to eliminate the second wave of phagocytes, which
normally occurs about 7 days after the injury.
– Ascorbate and citrate can be tapered as the epithelium heals.
f. Tetracyclines
– effective collagenase inhibitors and also inhibit neutrophil
activity and reduce ulceration
– can be administered both topically (tetracycline ointment four
times daily) and systemically (doxycycline 100 mg twice daily
tapering to once daily).

Kanski Clinical Opthalmology


TRAUMA AURIS
Trauma Tulang Temporal
Def: keadaaan dimana terjadi kerusakan
fisik yang disebabkan oleh blunt surface
atau penetrasi missile.
• Dapat berhubungan dgn fraktur yg
terjadi pada tulang parietal dan
oksipital
Epid :
- laki-laki dekade ke2 dan 3 (sering)
- 40-50% kecelakaan lalu lintas
- Pd anak  terjatuh dari ketinggian

Klasifikasi :
- Fraktur longitudinal (ekstrakapsular)
- Fraktur transversal
- Mixed type

Tanda & gejala:


- Tuli konduktif
- Cedera tengkorak bagian temporal
- Otore
- Lebam sepanjang proc.mastoideus
(Battle’s sign)
- LMN facial nerve palsy
Trauma Tulang Temporal
Pemeriksaan: Tatalaksana:
- Otoskopi - Isolated otic-capsule sparing
• Darah segar di MAE fracture di os temporal 
• Perforasi membrane timpani observasi saja , tidak perlu
• Hemotimpanum dilakukan pengobatan
• Deformitas dinding tulang MAE
Komplikasi :
- Radiologi : CT Scan (gold standard) - Laserasi MAE  haematorrhoea
& MRI - Perforasi membran timpani
- Pure tone audiometri - Hemotimpanum
- Timpanometri - Disrupsi osikular dg membrane
- Pemeriksaan nystagmus timpani yg intak
- ENG with caloric testing - Fraktur/ cedera labirin
assessment - Facial palsy
- Facial nerve function - CSF leak
- Cerebrospinal fluid leak
Trauma Ossicular Chain
Trauma Ossicular Chain

Definisi Trauma pada tulang pendengaran (maleus, stapes, incus)

Etiologi Trauma kepala, trauma akibat operasi, tersambar petir

Klasifikasi 1. Dislokasi inkus


2. Fraktur stapes
3. Fraktur maleus
4. Luksasio stapes
5. Fraktur incus
6. Fiksasi ossicular

Gejala & tanda 1. Gangguan pendengaran konduktif


2. Gangguan sensorineural frekuensi tinggi
Mills R, Nunez DA, Tynton SC. Ear trauma. In: Gleeson M, Browning GG,
Burtin MJ, Clarke R, Hibbert J, Jones NS et al, editors. Scott-Brown’s
Otolaryngology, vol. 2, 7th edition. London: Hodder Arnold; 2008.
p.3492-525.
Trauma Ossicular Chain
Trauma Ossicular Chain

Diagnosis Anamnesa, PF, audiometri, timpanometri  tipe A

Diferensial diagnosis

Tatalaksana 1. Dislokasi inkus  ossiculoplasty, reposisi incus


2. Fraktur malleus  small bone grafts
3. Fraktur stapes  strut/piston antara incus & stapes
4. Luksasio stapes  stapedektomi

Komplikasi Tuli konduktif permanen

Mills R, Nunez DA, Tynton SC. Ear trauma. In: Gleeson M, Browning GG,
Burtin MJ, Clarke R, Hibbert J, Jones NS et al, editors. Scott-Brown’s
Otolaryngology, vol. 2, 7th edition. London: Hodder Arnold; 2008.
p.3492-525.
Otitic Barotrauma
■ Barotrauma : trauma perubahan tekanan di ruangan berisi
udara
■ Kejadian yang ringan  penumpang pesawat terbang
■ Kejadian berat  slap trauma dan diving

Scot Brown 7th ed. p3499-3511


External Ear Barotrauma
■ Terjadi ketika ada udara terperangkap di telinga luar karena
serumen, ear plug, benda asing, eksotose
■ Mekanisme : udara terperangkap  tekanan telinga luar <<
tekanan telinga tengah  perpindahan udara dari telinga
tengah ke telinga luar  mendorong membran timfani keluar
 lama 2 rupture
■ Gejala : nyeri, pendarahan telinga

Scot Brown 7th ed. p3499-3511


Middle Ear Barotrauma
■ Terjadi umum pada penumpang pesawat dan penyelam
■ Mekanisme : Tekanan udara >>  Ambient pressure dari
telinga tengah >> tekanan telinga tengah  terkompensasi
oleh tuba eustachius terbuka (maximal 8.7kPa) ketika
mekanisme gagal (pada tekanan 13kPa)  udara dari telinga
tengah akan ke telinga luar  membran timfani terdorong
keluar  menimbulkan sensasi tekanan keluar dan tidak
nyaman

Scot Brown 7th ed. p3499-3511


Inner Ear Barotrauma
■ Mekanisme : Tekanan telinga tengah << tekanan perilymph
tingkap bundar bulging ke telinga tengah, rupture tingkap
oval
■ Peningkatan telinga dalam juga dipengaruhi oleh tekanan
intracranial dan CSF
■ Keadaan ini diperparah dengan “force valsava manuver” 
tekanan intracranial dan CSF meningkat 3x
■ Tingkap bundar akan rupture pada tekanan 16-40kPa

Scot Brown 7th ed. p3499-3511


Kriteria + Terapi

■ Terapi :
– Tipe 1 : tidak ada terapi spesifik
– Tipe 2 : nasal decongestan secara oral/topikal
– Tipe 3 : Observasi + pembersihan telinga, jika gagal
sembuh sendiri  miringoplasty
Scot Brown 7th ed. p3499-3511
OTITIC BAROTRAUMA
S O A P
1. cedera compresion • kondisi patologis pada
telinga yang disebabkan
oleh perubahan tekanan
Sering pada:
• airline passengers
• sudden large pressure
changes  slap injuries,
water skiing, high board
diving, blast injuries
• flying and subaqua diving
Pain, increasing with depth Canal skin & tympanic External ear barotrauma  Immediate decompress by
membrane  injected, petechial external ear squeeze, reversed ascending
hemorrhage, bleeding ear, reverse eae squeeze Meatus should be kept dry
• e/  earplugs, cerumen foreign Diving avoided until the skin
bodies, exostoses, tight fitting appears normal
diving hood
Occlusive ear plugs avoided
(diving > 1,5 m & when flying)
• Blocked ear with strong • Conductive hearing lose Middle ear barotrauma  • Symptoms but no sign 
desire to equalize because ossicular damage barotitis media, middle ear no treatment
• Otalgia  worsens with • Tympanic membrane  squeeze • Symptoms & sign, no
increased compression normal appearance to free perforation  oral/topical
& the inability to hemorrhage + perforation nasal decongestan
equalize the middle ear • Perforation  initial
pressure observation + cleaning of
• Sudden severe pain  the affected ear
perforation • Prevention  oral
decongestan, nasal baloon
inflation, myringotomies

Scott Brown’s Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery.


S O A P

• Tympanometry in conjunction Inner ear barotrauma Surgical result are good for
electronystagmography (Histopathological) vestibular symptoms & relatively
• Electrocochleography with tone- poor for hearing imparment. 
burst stimuli • Early surgery
• Steroids for moderate & severe
• High definiton MRI & CT 
hearing losses
promising investigations
Prevention scuba diving
contraindicated if persistent
problems, decongestants before
flying/diving
• Transient or minimal vestibular A good recovery would be expected 1. inner ear
symptoms haemorrhage;
• Mild to moderate sensorineural
hearing loss
• Vertigo • Temporal bone studies  2. labyrinthine
• tinnitus reissner’s membrane rupture membrane tears;
• hearing loss (often at 1-2kHz • Inner ear damage 
which is permanent) • Hemorrhage around
reissner’s & the round
window membrane
• Rupture of the utricle &
saccule
• Transient dysequilibrium & Dysequilibrium which worsen / 3. perilymphatic
dizziness changes to momentary vertigo fistula.
• Difficulty equalizing the middle when performing manoeuvres which
ear pressure increase the intracranial pressure
• Sudden onset of vertigo,
sensorineural hearing loss,
tinnitus
• Nystagmus usually towards the
opposite side Scott Brown’s Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery.
2. cedera pada tekanan yang stabil
3. cedera dekompresi
Symptomps
■ “clogging” of the ear
■ ear pain
■ hearing loss
■ Dizziness or vertigo
■ ringing of the ear (tinnitus)
■ hemorrhage from the ear.

http://american-hearing.org/disorders/barotrauma/
Examination
■ ear examination
– reveals fluid behind the ear drum; in severe barotrauma
there may be haemorrhagic areas in the drum
– Perforation TM
■ hearing and vestibular testing
– Conductive hearing loss
– Romberg test
■ Imaging
– Thorax X-ray

Goldman-Cecil Medicine 25th ed


http://american-hearing.org/disorders/barotrauma/
Treatment
■ outer ear
– clearing the ear canal of the obstruction
– restricting diving or flying until the blockage is corrected and the ear
canal and drum return to normal.
■ middle ear
– keeping the ear dry and free of contamination that could cause
infection.
– Topical nasal steroids and decongestants may be started in an
attempt to decongest the eustachian tube opening.
– The presence of pus may prompt the use of appropriate antibiotics.
– Most tympanic membrane perforations due to barotrauma will heal
spontaneously. If the eustachian tube demonstrates chronic problems
with middle ear equalization, the likelihood of recovery is drastically
reduced.
■ inner ear
– hospitalization and bed rest with the head elevated 30 to 40 degrees.
Once healed, a diver should not return to diving until hearing and
balance function tests are normal.

http://american-hearing.org/disorders/barotrauma/
THANK YOU 