Anda di halaman 1dari 57

Refleksi

Kasus

“ABSES TUBA OVARIUM”

Novia Putri Rahman


131777714222

Pembimbing :
dr. Heryani HS Parewasi, Sp.OG, M.Kes
BAB I
PENDAHULUAN
Tubo-ovarial abscess (TOA) atau abses
tuba ovarium: salah satu komplikasi akut
dari Pelvic inflammatory disease (PID) .

Abses ini pada umumnya terjadi pada


wanita usia produktif .

TOA terjadi sekitar 18-34% pada pasien


dengan PID.
Faktor risiko: mikroorganisme umum yang
menjadi penyebab sexually transmitted
diseases (STD, berhubungan seks dengan
partner yang memiliki agen infeksius.

Dan bila tidak ditangani dengan baik,


komplikasinya dapat menyebabkan kematian,
kemandulan dan kehamilan ektopik

Operasi ginekologi, kanker organ genital (genital


malignancy), In Vitro Fertilization (IVF)
treatment, dan apendisitis yang mengalami
perforasi juga diketahui menjadi penyebab TOA.
BAB II
Tinjauan Pustaka
ANATOMI
Tubo-ovarial abscess (TOA)
adalah pembengkakan yang
terjadi pada tuba-ovarium yang
DEFINISI ditandai dengan radang
bernanah, baik di salah satu
tuba-ovarium, maupun
keduanya.
Streptococci
Hemophilus pneumococcus
influenzae
Bacteroide
Species
Hemolytic
streptococci
and
Gonococci
Escherichia
coli
Multiple
partner

Adanya riwayat
Status ekonomi Sexualy
rendah Transmited
Faktor Disease (STD)
Risiko

Menggunakan
Riwayat Pelvic Alat
Inflamatory Kontrasepsi
Disease (PID) Dalam Rahim
(AKDR)
GEJALA KLINIS

Nyeri kiri & kanan perut


bagian bawah terutama
ditekan
Demam tinggi &
menggigil

Tenesmus ani
Mual dan muntah
Anamnesis dan
pemeriksaan
fisik
Computed
Tomography
Laboratorium (CT)

USG Kuldosintesis
Anamnesis dan
pemeriksaan
fisik
Computed
Tomography
Laboratorium (CT)

• Leukositosis
USG Kuldosintesis
• LED <64 mm/j
• CRP <20 mg/L
berdinding tebal pada
Adanya cairan bebas adneksa atau retrouterina
Anamnesis dan
pemeriksaan
fisik
Computed
Tomography
Laboratorium (CT)

Air fluid level

USG Kuldosintesis

Massa kistik, Massa bisa berlokus –


lokus dengan septum atau komponen
padat
Anamnesis dan
pemeriksaan
fisik
Computed
Tomography
Laboratorium (CT)

USG Kuldosintesis
massa peradangan dengan komponen padat
dan kistik
Anamnesis dan
pemeriksaan
fisik
Computed
Tomography
Laboratorium (CT)

USG Kuldosintesis
Anamnesis dan
pemeriksaan
fisik
Computed
Tomography
Laboratorium (CT)

USG Kuldosintesis
Pemberian
Antibiotik

Laparatomi
LANJUTAN

Curiga TOA utuh tanpa gejala


• Gol. Doksisiklin 2x100 mg/hari minggu/ ampisilin 4x500
mg/hariselama 1
• Pengawasan lanjut, bila tidak mengecil dalam 14
hari/membesar, indikasi untuk laparatomi

TOA utuh dengan gejala


• MRS, tirah baring, obs. Ketat TTV & prosuksi urin, pem. Lingkar
perut. Antibiotik massif
• Pengawasan ketat (keberhasilan terapi)
• Jika perlu lanjut laparatomi
LANJUTAN
TOA yang pecah

• Laparatomi pasang drain kultur nanah


• Antibiotik gol. Sefalosporin generasi III & metronidazol 2x1 gr
selama 7 hari
TOA yang utuh: pecah sampai sepsis reinfeksi di kemudian hari,
infertilitas, KET

TOA yang pecah: syok sepsis, abses intraabdominal, abses


subkronik, abses paru/otak
BAB III
REFLEKSI KASUS
Tanggal Pemeriksaan : 06 Mei 2019
Ruangan : Sando Husada/Kelas III
Jam : 14.00 WITA

IDENTITAS
Nama : Ny. W
Umur : 39 tahun
Alamat : Jln. Loli
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Status perwakinan: Menikah
ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA : Nyeri erut bagian bawah
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :
Wanita umur 39 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut
bagian bawah dialami sejak 2 hari yang lalu, nyeri perut bersifat hilang
timbul dan terasa memberat serta menetap diperut bagian bawah, hal ini
telah dialami sudah 4 tahun. Pasien mengatakan bahwa pada saat bulan
april, pasien mengalami keluarnya darah dari jalan lahir selama 2 hari, darah
banyak berwarna hitam dan menggumpal-gumpal. Selain itu pasien
merasakan mual, muntah 2x berisi sisa makanan, nafsu makan menurun.
Pasien juga mengeluh lemas. Ada riwayat mengalami demam sebelumnya 2
minggu yang lalu, demam bersifat naik turun, dan dialami selama 10 hari.
Pusing (-), sakit kepala (-), dan sesak (-). Buang air besar biasa, buang air kecil
lancar.
RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU
Pasien memiliki riwayat keguguran pada tahun 2014, riwayat kista ovarium
sejak tahun 2016, dan riwayat keputihan berbau sejak bulan desember
tahun 2018. Riwayat penyakit darah tinggi (-) Riwayat penyakit diabetes
mellitus (-).Riwayat penyakit asma dan alergi (-). Riwayat penyakit infeksi
organ reproduksi disangkal.
Riwayat Obstetri :
• Hamil pertama : Tahun 2009, usia kehamilan cukup bulan, persalinan
normal, BBL 2800, jenis kelamin Perempuan, anak masih hidup
• Hamil kedua : Tahun 2011, usia kehamilan cukup bulan, persalinan
normal, BBL 3100, jenis kelamin laki-laki, anak masih hidup
• Hamil ketiga : Tahun 2014, mengalami keguguran
RIWAYAT PENYAKIT DALAM KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga yang sakit serupa

RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Pasien tidak merokok dan minum minuman beralkohol

RIWAYAT PENGOBATAN
Pasien pernah di rawat di RSU dengan penyakit kista ovarium tahun 2016

RIWAYAT MENSTRUASI
Pertama kali haid pada saat berusia 13 tahun, siklus teratur tiap bulan,
lama 3-5 hari, ganti pembalut 3 kali dalam sehari, tidak nyeri saat
menstruasi. Menstruasi terakhir pada bulan april 2019.
RIWAYAT ALERGI
Tidak memiliki alergi terhadap suhu, makanan, minuman, obat, dll

RIWAYAT OPERASI
Tidak pernah operasi sebelumnya

RIWAYAT KB
Pasien pernah menggunakan KB jenis spiral sejak tahun 2012 setelah itu
dilepas pada tahun 2014
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Vital Sign
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 81x/menit
Respirasi: 20x/menit
Suhu : 36,6 oC
STATUS GENERALISATA

Kepala Leher

Bentuk: normochepal Pembesaran kelenjar getah

Mata: Eksoftalmus (-/-), bening (-/-)

konjungtiva anemis (-/- Pembesaran kelenjar tiroid


(-)
), sklera Ikterik (-/-)
Pemeriksaan Thoraks
Inspeksi : Simetris bilateral
Palpasi : Vocal fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi : Paru : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-). Jantung : S1/S2
murni regular
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Tampak datar
Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
Perkusi : Timpani 4 kuadran
Palpasi : Nyeri tekan (+) regio lumbar sinistra
Pemeriksaan Ekstremitas
Superior : Akral hangat (+/+), edema (-/-)
Inferior : Akral hangat (+/+), edema (-/-)
Pemeriksaan
• Nyeri tekan Dalam • Darah (-)
regio lumbar • Tidak • Lendir (-)
sinistra dilakukan
pemeriksaan
Pemeriksaan
Pengeluaran
Luar
Senin, 06 Mei 2019

Parameter Nilai Normal Hasil

WBC 3.6-11 x 103/ µL 28.3

RBC 4.5-5.1 x 106/ µL 4.30

HGB 12.3-15.3 g/Dl 11.2

HCT 36-45% 30.8

PLT 150-440 x 103/µL 310

CT 3-8 menit 6 menit

BT 1-3 menit 3 menit

HbsAg Negatif

Plano tes Negatif


Kesan : Susp. Abses tuba ovarium
Seorang wanita usia 39 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan
nyeri abdomen bagian suprapubik dialami sejak 2 hari yang lalu, nyeri abdomen
bersifat intermitten dan terasa memberat serta menetap di abdomen bagian
suprapbik, hal ini telah dialami sudah 4 tahun. Pada bulan april, pasien
mengalami perdarahan pervaginam selama 2 hari, darah banyak berwarna hitam
(+), menggumpal (+). Nausea (+), vomitus 2x berisi sisa makanan, nafsu makan
menurun, Lemas (+). Riwayat febris (+) 2 minggu yang lalu, febris bersifat
intermitten dialami selama 10 hari. Buang air besar biasa, buang air kecil lancar.
Riwayat keguguran 1x pada tahun 2014, dan Riwayat kista ovarium sejak tahun
2016.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit sedang, tanda-
tanda vital; tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 81 x/menit, pernapasan 20
x/menit, dan suhu 36,6 ºC. Konjungtiva anemis (-/-). Nyeri tekan pad regio
lumbar sinistra. Tidak dilakukan pemeriksaan genitalia (pemeriksaan dalam).
Pada pemeriksaan laboratorium WBC 28,3 x 103/ µL meningkat, RBC 4,30 106/
µL, HGB 11.2 gr/dL, HCT 30.8 % menurun. Pemeriksaan USG transvaginal kesan
susp. Abses tubo-ovarial dan adenomiosis.
Diagnosis
• Susp. Abses Tuba Ovarium

PENATALAKSANAAN
• IVFD RL 28 tpm
• Inj. Cefotaxim 1 gram/12jam/IV
• Inj. Ketorolac 40 mg/8jam/IV
• Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
• Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Follow Up
Perawatan hari 1, selasa, 07/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva: anemis-/-
TD : 100/70 mmHg P : 20 x/ menit
N : 78 x/menit S : 36.6 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Perawatan hari 2, rabu, 08/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 100/70 mmHg P : 20 x/ menit
N : 80 x/menit S : 36.7 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
08 Mei 2019

Parameter Nilai Normal Hasil

WBC 3.6-11 x 103/ µL 20.7

RBC 4.5-5.1 x 106/ µL 4.22

HGB 12.3-15.3 g/Dl 10.9

HCT 36-45% 30.4

PLT 150-440 x 103/µL 363

SGOT/ASAT 31 U/L 33

SGPT/ALAT 32 U/L 34

Ureum 10-50 mg/dl 33

Creatinin 0,6-2,0 mg/dl 0,8


Perawatan hari 3, Kamis, 09/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 130/70 mmHg P : 20 x/ menit
N : 85 x/menit S : 36.7 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Perawatan hari 4, Jumat, 10/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 120/70 mmHg P : 20 x/ menit
N : 80 x/menit S : 36,6 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Perawatan hari 5, Sabtu, 11/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 120/70 mmHg P : 21 x/ menit
N : 81 x/menit S : 36,7 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Perawatan hari 6, Minggu, 12/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 130/80 mmHg P : 21 x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,7 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Perawatan hari 7, Senin, 13/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 120/70 mmHg P : 22 x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,5 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Rencana Operasi besok selasa, 14/05/2019
Perawatan hari 8, Selasa, 14/05/2019

S. Nyeri perut bagian bawah (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), BAB biasa dan BAK lancar.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 120/80 mmHg P : 22 x/ menit
N : 82 x/menit S : 36,6 º C
Abdomen : Nyeri tekan di region lumbar (+)

A. Susp. Abses tuba ovarium

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Dexametason 5 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/8 jam/IV
Laporan operasi
1. Pasien dibaringkan dengan posisi supine di meja operasi dibawah pengaruh spinal
anastesia
2. Disinfeksi dan drapping procedure dengan kassa steril dan betadine
3. Pasang dook steril
4. Lakukan insisi dengan metode midline dengan ukuran + 10 cm
5. Dilakukan eksplorasi pada abdomen tampak adanya perlengketan omentum menutupi
organ pelvis dan dibelakang terlihat hidrosalping kanan dan ovarium kanan
6. Eksplorasi tampak bongkaan tumor tertutup oleh omentum (konsul bedah
7. Setelah ahli bedah melakukan adhesiolisis didapatkan pus yang telah pecah lalu
dilanjutkan dengan
8. Fimbrioplasti kanan
9. Bebaskan uterus dengan omentum
10. Bersihkan cavum abdomen dengan NaCl 0,9%, kontrol perdarahan
11. Tutup dinding abdomen lapis demi lapisan
12. Operasi selesai
Instruksi post laparatomi eksplorasif
• IVFD RL 28 tpm
• Inj. Cefotaxim 1 gram/24 jam/IV
• Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
• Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
• Inj. Ondansentron 4 mg/24 jam/IV
• Asam tranexamat 500 mg/12 jam/IV
• Drips Metronidazole 500 mg/12 jam/IV
Perawatan hari 9, Rabu, 15/05/2019

S. Nyeri luka post operasi (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (+), mual (-),
muntah (-), kembung (-), flatus (+), BAB (-) dan BAK memakai kateter.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 100/60 mmHg P : 20 x/ menit
N : 78 x/menit S : 36,6 º C

A. Abses tuba ovarium + hidrosalping dextra + post laparatomi eksplorasif H1

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Inj. Ondansentron 4 mg/24 jam/IV
Asam tranexamat 500 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/12 jam/IV
Perawatan hari 10, Kamis, 16/05/2019

S. Nyeri luka post operasi (+), keluar darah dari jalan lahir (-), pusing (-), mual (-),
muntah (-), kembung (-), flatus (+), BAB (-) dan BAK memakai kateter.

O. Keadaan umum : sakit sedang


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 100/60 mmHg P : 28 x/ menit
N : 88 x/menit S : 36,6 º C

A. Abses tuba ovarium + hidrosalping dextra + post laparatomi eksplorasif H2

P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Cefotaxim 1 gram/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
Inj. Ondansentron 4 mg/24 jam/IV
Asam tranexamat 500 mg/12 jam/IV
Drips Metronidazole 500 mg/12 jam/IV
Perawatan hari 10, Kamis, 16/05/2019

S. Nyeri luka post operasi (+) berkurang, keluar darah dari alan lahir (-), pusing (-),
mual (-), muntah (-), kembung (-), flatus (+), BAB biasa dan BAK lancar

O. Keadaan umum : Baik


Konjungtiva : anemis -/-
TD : 120/70 mmHg P : 20 x/ menit
N : 80 x/menit S : 36,6 º C

A. Abses tuba ovarium + hidrosalping dextra + post laparatomi eksplorasif H3

P. Cefixime 2x100 mg
Metronidazole 2x5000 mg
Meloxicam 3x15 mg
Sangobiad 1x1
Istirahat yang cukup
Pulang
BAB IV
PEMBAHASAN
Teori
Kasus
Kasus Berdasarkan Berdasarkan anamnesis Pada semua kasus

anamnesis, didapatkan bahwa TOA, termasuk yang


pasien perempuan usia disebabkan oleh
pemeriksaan fisik
39 tahun masuk RS Pneumococcus,
dan pemeriksaan
dengan keluhan nyeri menunjukkan gejala-
penunjang pasien
abdomen. Disertai gejala berikut: nyeri
pada kasus ini
Nausea (+), vomiting (+) (88%), demam (35%),
didiagnosis abses lebih dari 2x dalam massa adneksa (35%),
tuba ovarium. sehari. Riwayat haid diare (24%), mual dan
tidak teratur dari bulan muntah (18%), haid
April. tidak teratur (12%).

Dari pemeriksaan fisik


didapatkan nyeri tekan
pada region lumbar
sinistra.
Dari hasil pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
laboratorium di dapatkan hasil WBC 28,3 x 103/ µL

Hal ini terbukti sesuai teori yaitu pemeriksaan laboratorium


pada kasus TOA yaitu terjadi leukositosis sekitar 60-80% dari
kasus
Kasus Teori Teori

• Pada kasus ini dilakukan • Hal ini sesuai dengan • Apabila di lakukan
pemeriksaan luar di teori yaitu nyeri tekan pemeriksaan dalam
dapatkan nyeri tekan pada abdomen bagian akan di dapatkan nyeri
regio abdomennyeri bawah. goyang portio, nyeri kiri
tekan region lumbar • Menurut teori untuk dan kanan uterus atau
sinistra. kasus TOA dilakukan salah satunya, kadang-

• Pada kasus ini tidak di pemeriksaan dalam kadang terdapat

lakukan pemeriksaan untuk mendiagnosis. penebalan tuba (tuba

dalam. yang normal, tidak


teraba), seta nyeri pada
ovarium karena
meradang.
Kasus Teori
Ultrasound adalah modalitas pencitraan
Pada pasien ini dilakukan
pilihan pertama untuk diagnosis dan
pemeriksaan USG ginekologi
evaluasi TOA.
dimana tampak massa adneksa (+),
Pada pemeriksaan ultrasonografi dapat
massa kistik, hipoekhoik,
ditemukan gambaran:
berdinding tebal pada adneksa.
- massa kistik, hipoekhoik, berdinding
tebal pada adneksa atau retrouterina

- massa bisa berlokus – lokus dengan


septum atau komponen padat

- air fluid level

- Adanya cairan bebas

- Batas uterus tidak jelas


Kasus Teori
Kasus
Penanganan pada kasus ini

Teori
Hal ini sesuai dengan teori
diberikan penaganan bahwa salah satu penanganan
dengan TOA utuh dengan TOA adalah pemberian
gejala. antibiotik sefalosporin
generasi III 2-3 x / 1 gr/ hari.
Pada kasus ini di berikan
pengobatan antibiotik Pilihan pertama terapi adalah
medisinalis (antibiotik) tetapi
golongan sefalosporin
ada juga yang menyatakan
generasi ke III.
penatalaksanaan abses tidak
akan adekuat apabila tidak
disertai tindakan bedah
Pada kasus ini pasien dilakukan
tindakan laparatomi eksplorasif.

Pada kasus TOA yang masih


utuh dapat terjadi
komplikasi seperti pecah
yang dapat mengakibatkan
terjadinya sepsis reinfeksi di
kemudian hari sehingga
akan mengakibatkan
infertilitas.