Anda di halaman 1dari 29

PROLAPSUS REKTUM

Definisi

• Keluarnya mukosa maupun seluruh ketebalan dinding


rektum melalui anus.
• Apabila yang keluar tersebut terdiri dari semua lapisan
dinding rektum disebut prosidensia.
Anatomi Rektum • Kanalis analis berasal dari
proktoderm yang merupakan
invaginasi ektoderm,
• rektum berasal dari entoderm
• Rektum dilapisi oleh mukosa
glanduler usus
• kanalis analis oleh anoderm
yang merupakan lanjutan epitel
berlapis gepeng kulit luar.
• Kanalis analis berukuran • Batas atas kanalis anus
panjang kurang lebih 3 cm disebut garis anorektum
• Sumbunya mengarah ke garis mukokutan, linea
ventrokranial yaitu ke arah pektinata, atau linea
umbilikus dan membentuk dentata
sudut yang nyata ke dorsal • Cincin sfingter anus
dengan rektum dalam melingkari kanalis analis
keadaan istirahat dan terdiri dari sfingter
intern dan sfingter ekstern
• Perdarahan arteri
Arteri hemoroidalis superior adalah kelanjutan langsung a. Mesenterika
inferior. Arteri hemoroidalis medialis merupakan percabangan anterior a.iliaka
interna, sedangkan a. Hemoroidalis inferior adalah cabang a. Pudenda interna.
• Perdarahan Vena
Vena Hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus
dan berjalan ke arah kranial ke dalam v. Mesenterika inferior dan seterusnya
melalui v. Lienalis ke vena porta
• Pembuluh darah limfe
Pembuluh limfe dari kanalis membentuk pleksus halus yang menyalirka
isinya menuju ke kelenjar inguinal, selanjutnya dari sini cairan limf terus
mengalir sampai ke kelenjar limfe iliaka
Fisiologi Rektum
• Persarafan
• Persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan
sistem parasimpatik. Serabut simpatik berasal dari
pleksus mesenterikus inferior dan dari sistem
parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis
lumbal ruas kedua, ketiga, dan keempat.
• Kontinensia
• Defekasi
Epidemiologi

• Pria : Wanita  1 : 6
• Kejadian pada Wanita 80 - 90 %
• Terjadi pada segala usia, insiden puncak diamati pada usia
dekade keempat dan ketujuh kehidupan
• Pada anak-anak usia < 3 tahun
Etiologi
Dewasa
• kurangnya daya tahan jaringan penunjang rektum (mesenterium
dorsal, lipatan peritoneum, fasia pelvis parietalis, m. levator
rektum dan m. puborektalis) yang biasanya disertai dengan
peningkatan tekanan intraabdomen
Anak
• Kelainan bawaan  Paresis sfingter
• Obstipasi Kronik
 Otot dasar panggul hipotonik
Patofisiologi
• Prolaps rektum merupakan pergeseran hernia akibat defek
pada fasia panggul. (Sliding Hernia)

• Prolaps rektum dimulai sebagai intususepsi internal yang


melingkar dari rektum mulai 6-8 cm proksimal ambang
anal.
Klasifikasi
1) Prolaps internal, rektum telah prolaps, tapi tidak terlalu jauh keluar melalui
anus, seperti lipatan pada telescop, bagian rektum tidak menojol. Dikenal
sebagai prolaps tidak lengkap.

2) Prolaps parsial (atau biasanya disebut prolaps mukosa), hanya lapisan mukosa
rektum menonjol melalui anus. Prolaps mukosa biasanya terjadi pada anak usia
dibawah 2 tahun. Prolaps mukosa biasanya sulit dibedakan dengan hemorrhoid.

3) Prolaps eksternal, seluruh ketebalan rektum menonjol melewati anus. Juga


dikenal sebagai prolaps lengkap. Dapat menjadi prolaps inkarserata ataupun
strangulata.
Anamnesis
• Massa yang menonjol melalui anus. Awalnya, massa
menonjol dari anus setelah buang air besar dan biasanya
tertarik kembali ketika pasien berdiri
• Seiring berjalannya waktu menjadi prolaps kontinu
• Nyeri
• Inkontinensia feses
Pemeriksaan Fisik
• Penonjolan mukosa rektum
• lipatan mukosa konsentrik radier
• seluruh ketebalan dinding dapat dirasakan
• mukosa merah muda dan mengkilat
• Ulkus rektum
• Penurunan tonus sfingter anal
Pemeriksaan Penunjang
• Barium enema dan kolonoskopi
mengevaluasi seluruh usus besar untuk mengecualikan
setiap lesi kolon lainnya yang harus ditangani secara simultan
• Video defekografi
membantu prolaps dokumen internal atau untuk
membedakan prolaps rektum dari prolaps mukosa jika tidak
jelas secara klinis.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan imaging
• Rigid proctosigmoidoscopi
menilai rektum untuk lesi tambahan, terutama ulkus rektal
soliter.
• Manometri
mengevaluasi otot sfingter anal
Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan lab khusus yang membantu dalam
evaluasi prolaps rektum itu sendiri. Pertimbangkan pemeriksaan feses
dan kultur agen infeksius, khususnya pada pasien anak.
Diagnosa Banding
• Hemorrhoid
• Polip bertangkai
• Papil rektum hipertrofik
Penatalaksanaan
Medikamentosa
• Agen bulking
• Pelunak tinja
• Supositoria
Non-medikamentosa
• Diet serat untuk memperlancar defekasi
• Reposisi manual
• Bokong dirapatkan
• Defekasi terlentang
Operatif
Abdominal Prosedur Perineum Prosedur
• Memiliki tingkat kekambuhan • Angka kekambuhan lebih tinggi
lebih rendah • Mengurangi kapasitas
• Menjaga kapasitas penyimpanan penyimpanan rektum
rektum • Untuk pasien > 50 tahun
• Untuk pasien < 50 tahun • Morbiditas lebih rendah
• Morbiditas lebih tinggi
Abdominal Prosedur

Rektopeksi
• Dilakukan lewat laparotomi
• Rektum dimobilisasi dari panggul, dibebaskan dari jaringan
sekitarnya
• Ditarik ke atas lalu difiksasi di sakrum
• Fiksasi dengan menggunakan :
i. teflon/mersilen/marlex (ripstein procedure)
ii. Ivalon sponge
iii. Jahit langsung
Reseksi anterior
• Dilakukan sigmoidektomi, lalu kolon desendens di
anastomosis dengan sisa rektum.

Reseksi retopeksi
• Merupakan kombinasi dari reseksi anterior dan retopeksi
 Prosedur Frykman-Goldberg
Reseksi anterior dengan rectopexy
Perineum Prosedur

Perineal rectosigmoidectomy
• Altmeir procedure : seluruh ketebalan sigmoid, rektum
dieksisi 1-2 cm dari garis dentate
• Delorme procedure : proctectomy mukosa dengan lipatan
dari prolapsing dinding rektum
Transsacral rectosigmooidectomy
• Operasi dilakukan lewat bagiand epan sacral
Thiers methode
menempatkan silver wire di sekitar sfingter eksternal
pada lemak iskiorektalis
• Sekarang synthetic mesh atau tabung silikon digunakan
sebagai pengganti wire.
• Penyulit : Erosi dari bahan asing ke dalam rektum dan
infeksi
Altemeier rectosigmoidectomy
Reseksi Delorme Anal Encirclement
Komplikasi
• Infeksi
• Pendarahan
• Perlukaan usus
• Kebocoran anastomosis
• Perubahan fungsi kandung kemih dan seksual
• Konstipasi
Prognosis
• Prognosis umumnya baik dengan pengobatan yang tepat.
• Mortalitas pasca operasi rendah, namun tingkat kekambuhan
bisa setinggi 15%, terlepas dari prosedur operasi yang
dilakukan.
• Komplikasi operasi lebih tinggi untuk operasi per abdominal,
dengan tingkat kekambuhan yang lebih rendah, sebaliknya untuk
operasi perineum, yang memiliki tingkat komplikasi yang lebih
rendah, tetapi kekambuhan lebih tinggi.
Terima Kasih