Anda di halaman 1dari 44

Laporan

Kasus
Appendisitis
Akut
Penulis : Fitriani Rahmawati
Pembimbing : dr. Tjatur Budi W, Sp.B
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
PERIODE 10 JUNI – 17 AGUSTUS 2019
Pendahuluan
Apendisitis Akut adalah inflamasi pada
dari vermiform appendiks dan ini merupakan kasus
operasi intraabdominal tersering yang memerlukan
tindakan bedah. Penyebab pasti dari appendisitis
belum diketahui pasti.

Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-


laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun

Semua kasus appendisitis memerlukan tindakan


pengangkatan dari appendix yang terinflamasi, baik
dengan appendiktomi, laparotomi maupun dengan
laparoscopy. Apabila tidak dilakukan tindakan
pengobatan, maka angka kematian akan tinggi,
terutama disebabkan karena peritonitis dan shock.
IDENTITAS
Ety Haryati Jakarta, 01 Juli 1978 41 Tahun Perempuan

NAMA TEMPAT USIA JENIS


TANGGAL LAHIR KELAMIN
012106 03 Juli 2019 TNI AU Islam

NO. RM TANGGAL PEKERJAAN AGAMA


MASUK RS
Dilakukan autoanamnesis di IGD
RS Angkatan Udara Dr. Esnawan
Antariksa pada tanggal 03 Juli 2019
pukul 21.15 WIB.

Mual, muntah, bab cair, nafsu


KELUHAN UTAMA makan menurun

Nyeri di daerah perut kanan KELUHAN TAMBAHAN


KELUHAN UTAMA
bawah sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke IGD RS Angkatan Nyeri perut dirasakan Semakin diperberat dengan posisi tidur
Udara Dr. Esnawan Antariksa awalnya samar-samar, mula- miring, menekuk kaki, dan berjalan.
dengan keluhan nyeri di daerah mula nyeri dirasakan daerah Pasien juga mengeluh mual dan muntah.
perut kanan bawah sejak 1 hari ulu hati kemudian semakin
sebelum masuk rumah sakit. nyeri di daerah perut kanan
bawah seperti ditusuk-tusuk.
Nyeri semakin lama
dirasakan semakin tajam.

Kemudian pasien mengeluh Perut pasien terasa mules. Nafsu makan


Muntah dalam sehari sudah lebih BAB cair sejak pagi sebelum pasien menjadi menurun. BAK tidak ada
dari tiga kali berisi air dan masuk rumah sakit kurang keluhan. Demam disangkal oleh pasien.
makanan. lebih sudah 5 kali, ampas (+),
lendir (-), darah (-).
Pasien menyangkal anggota Riwayat nyeri di daerah perut
keluarga yang mengalami kanan bawah sebelumnya
penyakit serupa. Riwayat disangkal oleh pasien. Riwayat
diabetes mellitus, penyakit penyakit asma (+), hipertensi (-),
jantung dan hipertensi keluarga diabetes melitus (-). Riwayat
juga disangkal oleh pasien. operasi sebelumnya disangkal.
Riwayat penyakit asma (+).
TANDA VITAL

KEADAAN KESADARAN TEKANAN NADI


UMUM DARAH
TAMPAK SAKIT COMPOS 147/103 MMHG 100 X/MENIT
SEDANG MENTIS
TANDA VITAL

PERNAPASAN SUHU SP02 AKRAL

20X/MENIT 36,5°C 98% HANGAT


STATUS GENERALIS

Kepala : Normochephali
Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : Pupil bulat, isokor 3mm/3mm, Konjungtiva
anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks
cahaya tidak langsung +/+
Hidung : Sekret (-), darah (-), hipertrofi concha (-)
Mulut : Kering (-), sianosis (-)
Tenggorokan : T1/T1, arcus faring hiperemis (-)
Leher :Tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah
bening dan tiroid
STATUS GENERALIS
Thorax :
(PARU)
Inspeksi : Simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis, tidak ada
bagian dada yang tertinggal, tidak tampak retraksi sela iga
Palpasi : Vocal fremitus kanan kiri teraba sama kuat, nyeri tekan (-),
benjolan (-)
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

(JANTUNG)
Inspeksi : Ictus cordis tak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V, linea midclavicularis kiri
Perkusi :
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas atas : ICS II linea sternalis sinistra
Batas kiri : ICS V 1/3 lateral dari linea midclavicularis sinistra
Batas bawah : ICS VI linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
STATUS GENERALIS
Abdomen

Inspeksi : Bentuk perut buncit, warna kulit sawo matang,


benjolan (-), bekas operasi (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal 5x per menit

Palpasi : Supel, defens muskular (-), nyeri tekan daerah


McBurney (+), Rovsing’s sign (-), nyeri lepas Blumberg (-), massa (-), undulasi
(-), Psoas sign (-), Obturator sign (+), nyeri ketok CVA (-), nyeri tekan daerah
epigastrium (+)

Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen


Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-), CRT <3”
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI
Hemoglobin 13,2 g/dl 14,0-18,0
Leukosit 16 10˄3/uL 5,0-10,0
Hematokrit 41 % 40-52%
Trombosit 338 mm3 150-440 ribu/mm3
Waktu Perdarahan 3 Menit 1-3 menit
Waktu Pembekuan 5 Menit 1-7 menit

URINALISA

Protein Negatif /LBP Negatif

Reduksi Positif ++ /LBP Negatif

Bilirubin Negatif mg/dl Negatif

Urobilin Positif Positif

Leukosit 8-10 1-5/LBP

Eritrosit 0-1 0-1/LBP

Silinder Negatif Negatif

Epitel Positif ++ Positif

Kristal Negatif Negatif

KIMIA
RESUME
ANAMNESIS
- Nyeri di daerah perut kanan bawah sejak 1 hari SMRS
- Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Muntah dalam
sehari sudah lebih dari tiga kali berisi air dan makanan. 01
-Pasien mengeluh BAB cair sejak pagi sebelum masuk
rumah sakit kurang lebih sudah 5 kali, ampas (+)
-Nafsu makan pasien menjadi menurun.

PEMERIKSAAN FISIK
-Keadaan umum tampak sakit sedang, 05
kesadaran compos mentis. PEMERIKSAAN PENUNJANG
-Tekanan darah 147/103 mmHg, nadi 100 03
x/menit, regular, kuat, isi cukup, pernapasan 20 -Pemeriksaan darah rutin didapatkan hasil
x/menit, suhu 36,5°C, spO2 98%. leukosit 16.000 mm3.
-Pada pemeriksaan status generalis dari kepala, -Hemoglobin, hematokrit, trombosit dalam
mata, hidung, leher, thorax dan ekstremitas batas normal.
dalam batas normal. -Pada pemeriksaan urinalisa reduksi
02 06
-Pemeriksaan abdomen didapatkan bentuk perut positif ++, leukosit 8-10/LBP, dan epitel
buncit, warna kulit sawo matang, bising usus (+) positif ++.
normal 5x per menit. Pada pemeriksaan palpasi
didapatkan supel, nyeri tekan daerah McBurney
obturator sign (+), nyeri tekan daerah
epigastrium (+).
DIAGNOSA

Kolesistitis Akut
Pankreatitis

DIAGNOSA BANDING DIAGNOSA KERJA

Appendisitis Akut
Non medika mentosa:
-Edukasi kepada pasien mengenai
indikasi dan kemungkinan tindakan
operasi yang harus dilakukan
-Rujuk ke spesialis bedah umum
agar segera dilakukan tindakan
sesuai kondisi pasien
Medika mentosa:
-Puasakan
-Antiemetik
-Antibiotik preop
PROGNOSIS

AD AD AD
VITAM SANATIONAM FUNGTIONAM

DUBIA DUBIA DUBIA


AD AD AD
BONAM BONAM BONAM
ANATOMI
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung,
panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3- 15cm), dan
berpangkal di caecum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar di bagian distal.

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus


yang mengikuti a.mesenterica superior dan
a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis
berasal dari n.torakalis X.

Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis


yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini
tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi
apendiks akan mengalami gangren.
FISIOLOGI
Apendiks merupakan suatu jaringan limfoid. Jaringan
limfoid adalah jaringan yang memproduksi,
menyimpan atau memproses limfosit.

Apendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per


hari, yang dikeluarkan ke dalam lumen dan mengalir
ke caecum.

Imunoglobulin yang dihasilkan oleh GALT (Gut


Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat di
sepanjang saluran cerna termasuk apendiks ialah
IgA.

Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung


terhadap infeksi.
HISTOLOGI
Terdapat empat lapisan yaitu mukosa, submukosa,
tunika muskularis dan tunika serosa.

Terdapat beberapa kesamaan antara mukosa


appendix dan kolon yaitu epitel pelapis dengan
banyak sel goblet; lamina propria dibawahnya yang
mengandung kelenjar intestinal (kripti lieberkuhn) dan
mukosa muskularis.

Jaringan limfoid diffus didalam lamina propria sangat


banyak dan sering terlihat sampai ke submukosa
berdekatan.
Disini terdapat sangat banyak limfonoduli dengan
pusat germinal dan sangat khas untuk appendix.
Noduli ini berawal di lamina propria namun karena
ukurannya besar, noduli ini meluas dari epitel
permukaan sampai ke submukosa.
DEFINISI
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks
vermiformis dan merupakan penyebab nyeri akut
abdomen yang paling sering.

Apendisitis merupakan radang bakteri yang


dicetuskan berbagai faktor,
diantaranya adalah hiperplasia jaringan limfe,
fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris dapat
juga menimbulkan penyumbatan.
Appendisitis lebih banyak terjadi pada
laki-laki dibandingkan perempuan
dengan perbandingan 3:2.
EPIDEMIOLOGI
Appendisitis dapat ditemukan pada
semua umur, hanya pada anak
kurang dari satu tahun jarang
dilaporkan. Insidensi tertinggi pada
kelompok umur 20-30 tahun, setelah
itu menurun.

Insidensi Appendisitis akut di negara maju lebih


tinggi daripada di negara berkembang, tetapi
beberapa tahun terakhir angka kejadiannya
menurun secara bermakna. Hal ini disebabkan
oleh meningkatnya penggunaan makanan
berserat dalam menu sehari-hari.
ETIOLOGI DAN
PATOFISIOLOGI
a. Obstruksi
Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada
Appendisitis akut.

Fecalith merupakan penyebab umum obstruksi Appendix


yaitu sekitar 20% pada anak dengan Appendisitis akut
dan 30-40% pada anak dengan perforasi Appendix.

Penyebab yang lebih jarang adalah hiperplasia


jaringan limfoid di sub mukosa Appendix, barium
yang mengering pada pemeriksaan sinar X, biji-bijian,
gallstone, cacing usus terutama Oxyuris vermicularis.
ETIOLOGI DAN
PATOFISIOLOGI
b. Bakteriologi

Flora pada Appendix yang meradang berbeda


dengan flora Appendix normal.

Sekitar 60% cairan aspirasi yang didapatkan dari


Appendicitis didapatkan bakteri jenis anaerob,
dibandingkan yang didapatkan dari 25% cairan
aspirasi Appendix yang normal.
GEJALA KLINIS
Gejala appendisitis akut umumnya timbul kurang dari 36
jam, dimulai dengan nyeri perut yang didahului anoreksia.
Gejala utama Appendisitis akut adalah nyeri perut.

Umumnya, pasien mengalami demam saat terjadi


inflamasi Appendix, biasanya suhu naik hingga 38°C.
ALVARADO SCORE
Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit,
bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan.

Pada beberapa kasus yang meragukan, pasien dapat


diobservasi dulu selama 6 jam. Pada penderita
Appendisitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri
dan tanda inflamasi yang khas.
Rovsing’s sign: dikatakan posiif
jika tekanan yang diberikan pada

PEMERIKSAAN LLQ abdomen menghasilkan


sakit di sebelah kanan (RLQ),
menggambarkan iritasi
FISIK peritoneum. Sering positif tapi
tidak spesifik.

Psoas sign : Nyeri pada cara ini


menggambarkan iritasi pada otot
Appendix umumnya terletak
psoas kanan dan indikasi iritasi
di sekitar McBurney.
retrocaecal dan retroperitoneal
Namun perlu diingat bahwa
letak anatomis Appendix dari phlegmon atau abscess.
sebenarnya dapat pada Dasar anatomis terjadinya psoas
semua titik, 360° sign adalah appendiks yang
mengelilingi pangkal terinflamasi yang terletak
Caecum. retroperitoneal akan kontak
dengan otot psoas pada saat
dilakukan manuver ini.
Nyeri pada cara ini menunjukkan
peradangan pada M. obturatorius
di rongga pelvis. Perlu diketahui
PEMERIKSAAN bahwa masing-masing tanda ini
untuk menegakkan lokasi

FISIK Appendix yang telah mengalami


radang atau perforasi.

Blumberg’s sign: nyeri lepas


kontralateral (tekan di LLQ
kemudian lepas dan nyeri di
RLQ)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
USG
Gambaran USG yang
merupakan kriteria diagnosis
appendicitis acuta adalah
appendix dengan diameter
anteroposterior 7 mm atau
lebih, didapatkan suatu
appendicolith, adanya cairan
atau massa periappendix.

LABORATORIUM
Jumlah leukosit pada
penderita appendicitis
berkisar antara 12.000- CT SCAN
18.000/mm. Peningkatan Pasien-pasien yang obesitas, presentasi
persentase jumlah neutrofil klinis tidak jelas, dan curiga adanya
(shift to the left) dengan abscess, maka CT-scan dapat digunakan
jumlah normal leukosit sebagai pilihan test diagnostik.
menunjang diagnosis klinis
appendicitis.
DIAGNOSA BANDING
DIAGNOSA
BANDING ?
Pada anak-anak balita: intususepsi, divertikulitis, dan
gastroenteritis akut.
Intususepsi paling sering didapatkan pada anak-anak berusia
dibawah 3 tahun.

Diagnosis banding yang agak sukar ditegakkan adalah


gastroenteritis akut, karena memiliki gejala-gejala yang mirip
dengan appendicitis, yakni diare, mual, muntah, dan ditemukan
leukosit pada feses.

Pada pria dewasa muda: Crohn’s disease, kolitis ulserativa, dan


epididimitis.

Pada wanita usia muda: kondisi-kondisi ginekologik, seperti


pelvic inflammatory disease (PID), kista ovarium, dan infeksi
saluran kencing. Pada PID, nyerinya bilateral dan dirasakan
pada abdomen bawah. Pada kista ovarium, nyeri dapat
dirasakan bila terjadi ruptur ataupun torsi.
KOMPLIKASI
Appendicular infiltrat:
Infiltrat / massa yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari
Appendix yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum, usus halus
atau usus besar.

Perforasi Appendicular abscess:


Abses yang terbentuk akibat mikro
atau makro perforasi dari Appendix
yang meradang yang kemudian
ditutupi oleh omentum, usus halus,
atau usus besar.

Peritonitis
Peritonitis disebabkan oleh
kebocoran isi rongga abdomen
ke dalam rongga abdomen,
biasanya diakibatkan dan
peradangan, iskemia, trauma atau
perforasi peritoneal diawali
terkontaminasi material.
TATALAKSANA
Pertimbangkan kemungkinan
Pemasangan infus dan kehamilan ektopik pada
pemberian kristaloid untuk wanita usia subur dan
pasien dengan gejala klinis didapatkan beta-hCG positif
dehidrasi atau septikemia. secara kualitatif.

Puasakan pasien, jangan Pemberian antibiotika i.v.


berikan apapun per oral pada pasien yang
menjalani laparotomi.

Pembedahan Pemberian obat-obatan


analgetika harus denga
konsultasi ahli bedah.
TEKNIK
OPERASI

Teknik operasi Appendectomy


a. Open Appendectomy
1. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
2. Dibuat sayatan kulit: horizontal dan oblique
3. Dibuat sayatan otot, ada dua cara: Pararectal/
Paramedian dan Mc Burney/ Wechselschnitt/muscle
splitting
Sayatan berubah-ubah sesuai serabut otot.

•Incisi apponeurosis M. Obliquus •Splitting M. Obliquus abdominis •Splitting M. transversus


abdominis externus dari lateral atas internus dari medial atas ke lateral abdominis arah horizontal.
ke medial bawah. bawah.

•Caecum dicari kemudian


dikeluarkan kemudian taenia libera •Appendix di klem kemudian diikat
•Peritoneum dibuka ditelusuri untuk mencari Appendix.

•Appendix dipotong di antara ikatan


dan klem, puntung diberi betadine.
PROGNOSIS

AD AD AD
VITAM SANATIONAM FUNGTIONAM

DUBIA DUBIA DUBIA


AD AD AD
BONAM BONAM BONAM
Thank You