Anda di halaman 1dari 37

PROFESI MEDIS

o Merupakan noble profession.


o Diperlukan kompetensi (knowledge, clinical
skill, clinical judgment, humanistic quality
dan communication skill).
o Orientasi primernya lebih ditujukan untuk
kepentingan masyarakat (altruistic).
o Wajib memperhatikan nilai-nilai dan hak-hak
hak-hak pasien (termasuk HAM).
o Terikat oleh moral, etik, hukum dan Sumpah
Dokter (social contract).
PASIEN
Orang yang mengharapkan agar masalah
kesehatannya dapat diatasi oleh Dokter.
Umumnya mereka tdk faham ilmu kedokteran.
Tidak mempunyai kemampuan mengontrol
kinerja dan prilaku Dokter ………… sehingga
mereka termasuk golongan rentan (vulnerable
group).
Karena rentan, mereka perlu dilindungi ………
melalui Moral, Etika, Hukum dan Sumpah Dok-
ter (Social Contract).
Jadi ………………………
Kata understanding menuntut Dokter untuk
dapat memahami pasien sebagai manusia
secara utuh.
Makhluk ciptaan Tuhan, dgn biologic system
yang luar biasa komplek dan rumit.
Hanya sebagian kecil saja dari sistem itu yang
mampu dikuasai oleh kecerdasan manusia.
Makhluk unik yg terus-menerus berubah dan
berkembang (constantly changing & growing).
Pasien sebagai manusia memiliki:
o physiological demands;
o social and psychological demands; dan
o intellectual and spiritual demands.
Banyak Dr mengobati pasien berdasarkan
buku (by the book), bukan atas dasar tailored
to the patient’s specific needs.
Banyak pasien menerima terapi atas dasar
medicine by the numbers, dimana pasien
diperlakukan sbg kumpulan angka-angka dan
setiap pasien selalu dianggap sbg statistically
average patient.
Are you one of these “average patients” ???
Is anybody ??? Schneider thinks ….… No !!!
(Schneider, S, H, 2005)
SALAH SATU
KEWAJIBAN DOKTER
ADALAH
MELAKUKAN PENGELOLAAN KLINIK
(TRILOGY OF CLINICAL CASE MANAGEMENT)
DENGAN
MEMPERHATIKAN MORAL, ETIKA, dan
HUKUM
TRILOGY OF
CLINICAL CASE MANAGEMENT
1. Diagnosis:
mengenali penyebab gejala dan menentukan apa
jenis penyakitnya.
2. Treatment:
menghilangkan gejala, membuat nyaman kembali
dan merestorasi sense of well-being.
3. Prognosis:
estimasi sejauh mana pasien akan tetap menderita
sakit disebabkan oleh kondisinya yang sekarang,
baik dengan atau tanpa pengobatan.
(Curran, W, J)
DIAGNOSIS
Upaya diagnosis merupakan pekerjaan
dokter yang paling sulit, sehingga upaya
tsb bisa menghasilkan 3 kemungkinan,
yaitu:
o correct diagnosis;
o misdiagnosis (salah diagnosis); atau
o undiagnosis (tidak dapat didiagnosis).
MISDIAGNOSIS
Angka misdiagnosis di AS masih tetap tinggi,
yaitu sekitar 17 %.
Bahkan di UGD / ICU mencapai 20 % - 40 %.
Misdiagnosis bisa disebabkan oleh:
o Kesalahan Dr;
o Kesalahan Spesialis;
o Kesalahan laboratorium atau penunjang;
o Kontribusi PASIEN, melalui berbagai macam
cara.
(Curran, W, J, 1980)
MISDIAGNOSIS
Perlu difahami bahwa:
o Tidak semua misdiagnosis merupakan
malpraktek, meski misdiagnosis tsb akan
melahirkan terapi yang tidak akurat;
o Dikategorikan sebagai malpraktek hanya
apabila misdiagnosis tersebut dihasilkan
oleh kesalahan atau kelalaian dokter dalam
menerapkan PROSEDUR diagnosis !!!
MENGAPA
DIPERLUKAN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM dan PENUNJANG ???

KARENA
TIDAK SEMUA INFORMASI MEDIS TENTANG
PASIEN …………………………………………….
DAPAT DIPEROLEH HANYA DARI ANAMNESIS
dan PEMERIKSAAN FISIK SAJA !!!
LAB DAN PENUNJANG PERLU
Untuk:
1. Membantu menegakan diagnosis;
2. Memastikan stadium, keparahan dan
progresifitas penyakit;
3. Estimasi prognosis, baik dengan atau tanpa
terapi;
4. Mengetahui efektifitas suatu terapi;
5. Mengetahui kemajuan dari terapi yang telah
diberikan;
6. Menentukan kebijakan klinik, dsbnya.
HIGH TECHNOLOGY
Telah tersedia banyak alat hi-tech untuk
membantu Dr dalam menentukan diagnosis.
Tujuan utama alat high-tech hanyalah untuk:
o meningkatkan akurasi.
o menurunkan ketidak-nyamanan dan risiko.
o memperluas cakrawala Dr dalam membuat
diagnosis.
(Gibbons, T, B, 1980)

Jadi peralatan High-Tech hanya dapat mengurangi,


bukan menghilangkan angka misdiagnosis !!!
CATATAN
o Mendiagnosis dengan high sensitivity test
akan menghasilkan lebih banyak mised
diagnosis.
o Mendiagnosis dengan high specificity test
memiliki lebih banyak alarm.
o Hasil tes positif ringan boleh jadi disimpul-
kan sebagai false positive.
(Sandars, J, 2007)

Dalam upaya diagnosis seringkali diperlukan konsul.


MENGAPA
DIPERLUKAN KONSUL ?

KARENA:
“NO DOCTOR CAN BE SPECIALIST IN ALL AREAS
OF MEDICINE.”

KONSUL diperlukan dalam rangka:


o PENEGAKAN DIAGNOSIS;
o PENENTUAN PROGNOSIS;
o PENETAPAN TERAPI / PENETAPAN KEBIJAKAN
KLINIK LAINNYA.
MENGAPA
DIPERLUKAN RUJUKAN (REFERRAL)?

KARENA:
1. KETERBATASAN Dr dalam hal:
a. COMPETENCY; atau
b. CLINICAL PRIVILEGE yang dimiliki; atau
2. KETERBATASAN RUMAH SAKIT dalam hal:
a. STAF MEDIS yang ada di RUMAH SAKIT;
b. PERALATAN MEDIS yang dimiliki RUMAH
SAKIT.
konsul CONSUTING
DPJP
(Primary Doctor) DOCTOR
rekomendasi

terapi

total referral REFERRING


DPJP
(Primary Doctor) DOCTOR

terapi
partial / temporary
referral REFERRING
DPJP
(Primary Doctor) DOCTOR

terapi utama terapi


partial / temporer
CONSULTATION
Adalah permintaan dari primary Dr kepada
consulting Dr untuk memberikan pendapat
atau rekomendasinya tentang problem pasien.
Sering disebut consultation only (sebab dokter
konsultan tidak ikut memberikan terapi).
Konsultasi diperlukan karena:
1. Primary Dr ragu atau mungkin kurang
faham tentang bagian/ area tertentu saja.
2. Primary Dr perlu konfirmasi / rekomendasi.
TANGGUNG-JAWAB
Dokter konsultan bertanggung-jawab secara:
- moral; dan
- etik saja;
atas rekomedasi yang telah ia diberikan.
DPJP bertanggung-jawab secara:
- moral;
- etik; dan
- hukum
atas kebijakan terapi yang dibuat, dengan
memasukkan rekomendasi dari Consulting
Dr sebagai salah satu acuannya.
REFERRAL
Adalah permintaan DPJP kepada referal Dr
untuk menangani problem spesifik pasien
(temporer atau sebagian sampai problem yg
dirujuk teratasi atau dirujuk keseluruhan).
Dapat disebut consultation with management
karena Dr rujukan ikut memberikan terapi.
DPJP dan Dr rujukan memiliki tanggungjawab
moral, etika dan hukum atas kebijakan klinik
masing-masing.
ASPEK HUKUM
Dr rujukan yang telah menerima permintaan
dari DPJP dianggap telah menjalin hubungan
terapetik dgn pasien, baik ia datang ataupun
tidak.
Dr rujukan ……. tidak hanya wajib melakukan
layanan sesuai standar saja, tetapi juga harus
melindungi kepentingan pasien.

Kaitannya dengan operasi ……… Dr anestesi


merupakan Dr rujukan otomatis.
CATATAN
Mengingat kebijakan klinik ditentukan dari
diagnosis & prognosis ….. sudah sepatutnya
jika Dr rujukan datang untuk:
a. melihat dengan mata-kepala sendiri;
b. melakukan anamnesis sendiri;
c. memeriksa fisik pasien yang dirujuk;
d. menentukan pemeriksaan lab & penunjang
sebelum menetapkan kebijakan klinik.
Amat riskan dan rentan tuntutan hukum apabila
Dr rujukan tidak segera datang.
RAWAT TIM
Rawat Tim berbeda dengan Rawat Bersama.
o Rawat Tim:
- anggotanya terdiri dari berbagai macam dokter
spesialis (misalnya: tim operasi kembar siam).
- bekerja secara tim dan kebijakan klinik ditetapkan
bersama (sharing decision).

o Rawat Bersama:
- beberapa spesialis yang berbeda merawat pasien
yang sama dalam waktu yang bersamaan.
- kebijakan kliniknya ditetapkan sendiri-sendiri oleh
masing-masing spesialis yang ikut merawat.
SECOND OPINION
o Adalah permintaan kepada Dr lain untuk
mereview pasien yang sedang ditangani.
o Lebih merupakan hak pasien yang dijamin
UU daripada hak DPJP.
o Bisa dipakai utk konfirmasi diagnosis awal
(dikaitkan dgn treament yang sedang
berlangsung), walau pendapatnya bisa juga
menyulitkan DPJP.
o Sebaiknya dilakukan secepat mungkin guna
menghindari keterlambatan treatment.
TUJUAN TREATMENT
 Promosi kesehatan atau pencegahan penyakit.
 Mempertahankan / meningkatkan quality of life dg
mengurangi gejala, rasa sakit, dan penderitaan.
 Menyembuhkan penyakit.
 Mencegah kematian yang belum waktunya.
 Mempertahankan status fungsional atau menjaga
kondisi kompromistis.
 Edukasi dan konseling, kaitannya dengan kondisi
penyakit dan prognosis.
 Mencegah munculnya bahaya selama perawatan.
 Membimbing kematian dg tenang (peaceful death).
(Johnson, et al)
CATATAN
Terapi tanpa diagnosis dikatakan “like
a shot in the dark”, dan mungkin malah
bisa membahayakan pasien.
Mencoba-coba satu terapi ke terapi lain
thd pasien yang tidak jelas diagnosisnya
dapat menghilangkan waktu berharga
(the golden period), menimbulkan reaksi
obat atau problem lain.
(Gibbons, T, B, 1980)
RINGKASNYA
Dr mempunyai dua kewajiban, yaitu:
1. Curing:
curing harus distop jika:
a. pasien telah sembuh; atau
b. upaya curing sudah mubazir (futile).
2. Caring:
dilaksanakan sampai pasien mening-
gal dunia.
MELINDUNGI DIRI
1. Mengabdi dengan jujur sesuai perannya;
2. Bekerja sesuai kompetensi, kewenangan, dan
clinical privileges;
3. Disiplin dalam menjalankan profesi;
4. Patuh pada standar layanan dan SPO;
5. Patuh pada Etika (meliputi clinical ethics), hukum
dan Sumpah Dokter;
6. Menghormati hak-hak pasien (hak asasi manusia,
Informed Consent, confidentiality, dll).
7. Melaksanakan defensive medicine.
8. Hindari medical error (diagnostic errors, treatment
errors, preventive errors, dan others).
TINDAKAN DOKTER
1. Dari aspek moral:
Harus mempertimbangkan prinsip-prinsip
moral shg tindakan Dr dinilai BENAR.
2. Dari aspek etika:
Perlu mengaplikasikan teori pengam-
bilan keputusan dgn memperhatikan
prinsip-prinsipmoral dan clinical ethics
sehingga tindakan Dr dinilai BAIK.
3. Dari aspek hukum:
tidak melanggar hukum (tertulis & tak tertulis).
CLINICAL ETHICS
Disiplin praktis yang menyediakan
pendekatan terstruktur guna mengenali,
menganalisis dan menyelesaikan isu-isu
etik dalam kedokteran klinik.
Acuannya adalah:
1. Medical Indication.
2. Patient Preferences (misalnya: DNR).
3. Quality of Life.
4. Contextual Features.
(Jonsen, Siegler dan Winslade, 2006)
MALPRACTICE PROPHYLAXIS
o Refuse to take the case (when you suspect medico-
legal trouble may develop).
o Never guarantee a cure.
o Watch the time factor.
o Watch the reverse time factor.
o Keep up with the advance of medicine.
o Do not be too advance.
o Do not experiment.
o Get the patient’s informed consent for all procedures.
o Good housekeeping.
o Employ at least ordinary skill and care at all times.
o When in doubt, seek consultations.
o Cooperate with your profession.
o Watch your patient relations.
o Watch your public relations.
(Morris, Moritz)
JENIS-JENIS EROR
1. Diagnostic Error:
a. kesalahan atau keterlambatan dalam
mendiagnosis.
b. tidak menggunakan tes-tes diagnostik
yang diindikasikan.
c. menggunakan tes yg telah ketinggalan
zaman.
d. tidak melakukan tindakan apapun atas
hasil tes atau hasil monitoring.
2. Treatment Error:
a. kesalahan proses, prosedur kerja atau
prosedur tes.
b. kesalahan dalam memberikan terapi.
c. kesalahan dosis atau cara memberikan
obat.
d. keterlambatan yang dapat dicegah
(avoidable delay) utk memberikan terapi
atau merespon hasil abnormal suatu tes.
e. melakukan tindakan yang tidak benar
atau yang tidak diindikasikan.
3. Preventive Error:
a. tdk menyediakan prophylactic treatment.
b. tidak cukup melakukan monitoring atau
followup terhadap terapi atau tindakan
yang telah diberikan.
4. Others:
a. kegagalan komunikasi.
b. kegagalan peralatan (equipment failure).
c. kegagalan dari sistem-sistem lainnya.
Leape et al, Quality Review Bulletin, 1993
BENTUK MEDICATION ERRORS
Prescribing Transcribing Dispensing Administration
 Kontraindikasi  Salah mengkopi  Incompatible  Administration
 Extra dose error
 Duplikasi  Dibaca keliru  Kontraindikasi
 Gagal mencek
 Tidak terbaca  Ada instruksi yg  Obat tertinggal
terlewatkan instruksi di samping bed
 Instruksi tidak
 Sediaan obat buruk  Extra dose
jelas  Instruksi tidak
 Instruksi penggunaan  Kegagalan
 Instruksi dikerjakan mencek instruksi
obat tak jelas
keliru  Instruksi verbal  Tidak mencek
 Salah hitung dosis
 Instruksi tidak diterjemahkan identitas
 Salah memberi label
lengkap salah  Dosis keliru
 Salah menuliskan  Salah menulis
 Perhitungan instruksi instruksi
dosis keliru  Dosis keliru  Patient off
 Pemberian obat di  Pemberian obat
luar instruksi di luar instruksi
 Instruksi verbal
 Instruksi verbal
dijalankan keliru
dijalankan keliru.
American Hospital Association