Anda di halaman 1dari 30

Biofarmasetika

Sediaan Inhalasi
Kelompok 4:

Rezha Nur Amalia 22010317120005


Agilia Wahyu Mustafida 22010317120008
Diah Ayu Oktaviani 22010317120019
Rona Saga Suwandi 22010317120015
Felicia Yang 22010317130031
Jessica Ikhsan Titania 22010317140031
Alifatha Amartya Naufal 22010317130035
Ferisha Riani Fauziah 22010317140033
PENDAHULUAN

Terapi inhalasi adalah terapi dengan pemberian obat


secara inhalasi (hirupan) langsung masuk ke dalam sal
uran pernapasan.
Berbagai jenis obat seperti antibiotik, mukolitik, anti inf
lamasi dan bronkodilator sering digunakan pada terapi i
nhalasi. (Sohajoe,2008)
Inhaler adalah sebuah alat yang digunakan untuk memberikan
obat ke dalam tubuh melalui paru-paru.
Ada 3 tipe penghantaran obat yang ada hingga saat ini,yakni:
1. Metered Dose Inhaler (MDI),
2. Metered Dose Inhaler (MDI) dengan Spacer,
3. Dry Powder Inhaler (DPI)

Nebulizer dapat mengubah obat berbentuk larutan menjadi aer


osol secara terus-menerus, dengan tenaga yang berasal dari u
dara yang dipadatkan atau gelombang ultrasonik
Ada dua jenis nebulizer yang sering digunakan yaitu
1. Nebulizer jet
2. Nebulizer intrasonik.
PRINSIP FARMAKOLOGIS
Obat dapat mencapai organ target dengan menghasilka
n partikel aerosol berukuran optimal agar terdeposisi di pa
ru-paru dengan kerja yang cepat, dosis kecil, efek sampin
g yang minimal karena konsentrasi obat di dalam darah s
edikit atau rendah, mudah digunakan, dan efek terapeutik
segera tercapai yang ditunjukkan dengan adanya perbaik
an klinis (Rahajoe, 2008).
Obat inhalasi diberikan dalam bentuk aerosol, yakni sus
pensi dalam bentuk gas (Yunus, 1995)
Anatomi Sistem Pernafasan
Hidung
•Merupakan tempat masuknya udara,
•Memiliki 2 (dua) lubang (kavum nasi)
dan dipisahkan oleh sekat hidung (sep
tum nasi)
•Rongga hidung mempunyai permuka
an yang dilapisi jaringan epithelium.
•Udara yang masuk melalui hidung me
ngalami beberapa perlakuan, seperti d
iatur kelembapan dan suhunya dan ak
an mengalami penyaringan oleh ramb
ut atau bulu-bulu getar.
Anatomi Sistem Pernafasan
Faring atau tekak
•Merupakan tempat persimpangan
antara jalan pernapasan dan jalan
makanan.
•Faring atau tekak terdapat dibawa
h dasar tengkorak, dibelakang ron
gga hidung dan mulut setelah dep
an ruas tulang leher.
Anatomi Sistem Pernafasan
Laring (Pangkal Tenggorokan)
•Merupakan saluran udara dan bertindak
sebagai pembentukan suara
•Terletak di depan bagian faring sampai k
etinggian vertebra servikalis dan masuk k
edalam trakea dibawahnya.
•Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup ole
h sebuah empang tenggorok yang disebut
epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang ra
wan yang berfungsi pada waktu kita mene
lan makanan manutupi laring.
•Laring terdiri atas dua lempeng atau lami
na yang tersambung di garis tengah.
Anatomi Sistem Pernafasan
Trachea (Batang Tenggorokan)
•Dindingnya terdiri atas epitel, cincin tulan
g rawan yang berotot polos dan jaringan p
engikat.
•Pada tenggorokan ini terdapat bulu getar
halus yang berfungsi sebagai penolak ben
da asing selain gas.
•Struktur trakea terdiri dari: tulang rawan,
mukosa, epitel bersilia, jaringan limfoid da
n kelenjar.
Anatomi Sistem Pernafasan
Bronkhus (Pembuluh Napas)
•Cabang utama trakea .
•Struktur mirip dengan trakea hanya c
incin berupa lempeng tulang rawan tid
ak teratur.
Anatomi Sistem Pernafasan
Alveolus
•Merupakan saluran akhir dari alat pernapasan
yang berupa gelembung-gelembung udara.
•Dindingnya tipis, lembap, dan berlekatan erat
dengan kapiler-kapiler darah
•Alveolus terdiri atas satu lapis sel epitelium pip
ih dan di sinilah darah hampir langsung bersent
uhan dengan udara.
•Membran alveolaris adalah permukaan tempat
terjadinya pertukaran gas.
•Darah yang kaya karbon dioksida dipompa dar
i seluruh tubuh ke dalam pembuluh darah alveo
laris, dimana, melalui difusi, ia melepaskan kar
bon dioksida dan menyerap oksigen.
Peredaran Darah Dalam Paru

•Sirkulasi pulmonal berfungsi


membawa gas hasil pertukara
n darah kapiler dan udara alve
oli
•Sirkulasi pulmonal (ventrikel kana
n  a.pulmonalis  kapiler  v.
pulmonal  ventrikel kiri
MEKANISME ABSORBSI OBAT INHALASI
Deposisi Obat dalam saluran udara dipengaruhi oleh:
Sebagian besar partikel obat yang lebih besar dipindah-posisikan oleh dua mekanisme pertama di sal
uran udara (sedimentasi gravitasi dan impaksi), sementara partikel yang lebih kecil melewati jalan ke
wilayah perifer dari paru-paru dengan cara difusi.
MEKANISME ABSORBSI OBAT INHALASI

a. Impaksi
lmpaksi terjadi karena perubahan aliran udara. Impaksi meningkat dengan ukuran partikel dan
laju aliran. Jenis perpindahan partikel ini terjadi di seluruh paru-paru. Hal ini penting, terutama di saluran nap
as di mana sebagian besar partikel besar disaring keluar. lmpaksi kebanyakan terjadi pada saluran
pernapasan atas karena memiliki kecepatan yang tinggi. Karena pergerakan dan benturan pada permukaan
saluran napas  partikel akan menempel pada pharynx, larynx, saluran pernapasan atas

b. Sedimentasi Gravitasi
Gaya gravitasi bertindak terhadap partikel. Sedimentasi terjadi jika gaya gravitasi lebih dari
kekuatan aliran udara. Sedimentasi adalah penyusunan partikel karena aliran udara rendah. Mekanisme
gravitasi ini terjadi pada partikel ukuran besar. Partikel alam higroskopis ukurannya bisa membesar ketika m
ereka melalui saluran udara dan akan bersedimen. Partikel berada pada mukosa bronkus karena efek
gravitasi
MEKANISME ABSORBSI OBAT INHALASI

c. Difusi
Disebabkan oleh gerak Brown. Deposisi dapat terjadi dengan difusi jika ukuran partikel
kurang dari 2 mikron. Difusi adalah mekanisme deposisi untuk partikel kecil. Difusi meningkat dengan pe
nurunan ukuran partikel dan laju aliran. Deposisi lebih terjadi di wilayah alveoli karena waktu tinggal lebih
lama dan jalan nafas yang lebih kecil.
UKURAN
PARTIKEL

• >5 micron
Pharynx, larynx, saluran
pernapasan atas

• 2- 5 micron
Tracheo bronchial

• < 2 micron
Alveolar

Ukuran partikel yang optimum


untuk terapi inhalasi adalah 2-
5 micron
Kelebihan Sediaan Inhalasi

•Onset kerja lebih cepat dibandingkan obat oral


•Dosis yang diberikan kecil
•Obat langsung menuju paru-paru, sehingga paparan sistemik minimal.
•Efek samping sistemik lebih jarang dan lebih ringan dibandingkan oba
t yang diberikan secara sistemik.
• Terapi dengan obat inhalasi cenderung tidak menimbulkan nyeri,diba
ndingan obat yang diberikan melalui injeksi, dan lebih nyaman.
Kekurangan Sediaan Inhalasi
• Beberapa variabel (pola nafas yang benar, tatacara penggunaan
alat atau generator aerosol) dapat mempengaruhi deposisi paru d
an reproduktifitas dosis
• Deposisi orofaringeal dapat menyebabkan absorbsi sistemik
• Iritasi orofaringeal menyebabkan penyumbatan, nausea, vomitus,
dan aerofagi.
• Kesulitan koordinasi antara gerakan tangan dan inhalasi dengan
pMDI(Pressurized Metered Dose Inhaler) yang dapat menurunka
n keefektifan.
Kekurangan Sediaan Inhalasi
•Ketersediaan berbagai macam jenis alat akan membingu
ngkan pasien dan klinisi.
•Keterbatasan informasi tentang standarisasi teknik inhala
si kepada klinisi akan mengurangi keefektifan.
•Membutuhkan peralatan khusus dan mahal.
•Pemberian secara inhalasi lebih kompleks dibandingkan o
ral.
Faktor Yang Mempengaruhi Ab
sorbsi Obat Inhalasi
Faktor Fisikokimia
Kecepatan aerosol
Aerosol dibentuk oleh nebulizers dan dry powder inhalers (DPIs) di
angkut ke paru-paru oleh keaktifan udara yang terinspirasi. Dalam
perbedaan, pMDIs menghasilkan tetesan aerosol dengan kecepata
n lebih besar dari aliran udara inspirasi dan karena aerosol yang ak
an memiliki afinitas yang lebih besar untuk berdampak di wilayah
oropharyngeal.

Ukuran
Geometric standard deviation (GSD) didefinisikan sebagai rasio ukur
an di 84,2% pada frekuensi kurva kumulatif dengan diameter media
n. Ini menunjukan bahwa pembagian ukuran partikel Lognormal.
Faktor Fisikokimia

Bentuk
Partikel yang tidak bulat akan memiliki jumlah terkecil satu dimensi fisik ya
ng superior dari diameter aerodinamis. Panjang ekologis serat 50 μm bisa
mencapai wilayah A karena sejajar dengan aliran udara terinspirasi. Bahan
seperti itu kemudian berdampak pada saluran udara oleh prosedur interse
psi dengan dinding saluran napas.

Massa
yang memiliki kepadatan kurang dari 1 g cm-3 (unit density) dapat memili
ki diameter fisik rata-rata yang lebih besar dari batas aerodinamis. Kebany
akan obat micronized untuk inhalasi akan berisi kepadatan partikel sekitar
1, meskipun bahan yang dibuat oleh pengeringan beku atau metode spray
drying cenderung lumayan kurang padat.
Faktor Fisikokimia
Stabilitas fisik
Terapi aerosol terapi yang sering digunakan sebenarnya tidak stabil karen
a mereka memiliki konsentrasi partikel yang tinggi dan jarak antar-partikel
yang dekat dapat menyebabkan saling tolak-menolak atau reaksi antar- p
artikel lainnya. Partikel aerosol yang dihasilkan oleh DPIs kemungkinan hig
roskopis dan, partikel yang ada selama di saluran pada seluruh lingkunga
n kelembaban tinggi dari saluran udara, dapat memperbesar ukuran dan
dengan demikian memiliki kesempatan lebih besar yang tidak stabil untuk
disimpan.
Perangkat pengiriman paru
Perangkat inhalasi dipisahkan menjadi tiga kategori yang berbeda, penyem
purnaan dari nebulizer dan evolusi dua jenis kompak perangkat portabel, d
ry powder inhalers (DPI) dan metered-dose inhaler (MDI).
Faktor Formulasi
Liposom adalah vesikel fosfolipid yang disusun oleh lipid bilayers yang mel
ampirkan satu atau lebih kompartemen berair di mana obat-obatan dan za
t lain mungkin disertakan. Dalam beberapa kali, liposom telah diteliti seba
gai kendaraan untuk terapi extended-release dalam pengobatan penyakit
paru-paru, terapi gen dan sebagai metode penyampaian agen terapeutik k
e permukaan alveolar untuk pengobatan penyakit sistemik.

Nanopartikel
Sistem nanopartikel sedang diteliti untuk meningkatkan pemberian obat d
an pemberian obat intranasal. Nanopartikel adalah partikel koloid padat d
engan diameter 1-1000 nm. Nanopartikel terdiri dari bahan makromolekul
dan terapi yang digunakan sebagai adjuvatt dalam vaksin atau sebagai pe
mbawa obat, di mana zat aktif dilarutkan, terjebak, dikemas, terserap atau
bahan kimia yang melekat.
Faktor Formulasi
Mikrosfer
Teknologi microsphere telah banyak berguna dalam merancang formulasi
untuk penghantaran obat hidung. Mikrosfer biasanya didasarkan pada mu
co-perekat polimer (kitosan, alginat), yang menyediakan berbagai keuntun
gan untuk penghantaran obat intranasal. Selain itu, mikrosfer dapat melin
dungi obat dari metabolisme enzimatik dan memberikan mempertahanka
n pelepasan obat, sehingga memperpanjang efeknya.

Sistem pengiriman obat mukoadhesif


MCC adalah salah satu faktor pembatas yang paling penting untuk pengh
antaran obat ke paru-paru melalui hidung, karena mengurangi waktu yang
di tetapkan untuk penyerapan obat. Dengan demikian, sistem penghantara
n obat menggunakan mucoadhesive meningkatkan penyerapan obat hidu
ng, dan juga memperpanjang waktu kontak antara obat dan hidung muco
sa
Faktor fisiologis yang mempengaruhi
partikel deposisi dalam saluran udara
Morfologi paru
Tracheobronchial menghasilkan saluran udara jatuh diameter dan panjang.
Setiap hasil bifurkasi dalam meningkatkan kemungkinan untuk impaksi dan
penurunan diameter saluran napas dikaitkan dengan yang lebih kecil perpi
ndahan diperlukan partikel untuk melakukan kontak dengan permukaan.

Laju aliran inspirasi


Ketika inspirasi laju aliran meningkat dan meningkatkan deposisi oleh imp
aksi di beberapa pertama generasi diwilayah tracheobronchial. Peningkata
n aliran tidak hanya meningkatkan momentum partikel tetapi juga menga
kibatkan dalam peningkatan turbulensi, terutama di laring dan trakea, yan
g dengan sendirinya akan meningkatkan impaksi di proksimal daerah trak
eobronkial.
Faktor fisiologis yang mempengaruhi
partikel deposisi dalam saluran udara
Koordinasi generasi aerosol dengan inspirasi
Energi partikel aerosol yang dihasilkan dari inhaler dosis terukur bertekana
n (p MDI, sebagian besar memerintah dengan formulasi pMDI daripada IFR
subjek. MDI aerosol tetesan akan bepergian pada kecepatan dari 2.500-3.0
00 cm s-1
Volume tidal
Peningkatan IFR biasanya akan terhubung dengan sebuah memperbesar vo
lume udara yang dihirup dalam satu napas, volume tidal. Jelas peningkatan
pasang surut Volume akan menghasilkan penetrasi partikel aerosol lebih d
alam TB dan A daerah dan kesempatan yang lebih baik untuk deposisi dal
am wilayah ini.
Nafas-holding
Meningkatkan waktu antara akhir inspirasi dan awal pernafasan meningkatk
an waktu untuk sedimentasi terjadi. Nafas-holding adalah biasanya digunak
an untuk mengoptimalkan pemberian obat paru.
Evaluasi sediaan inhalasi
Evaluasi sediaan Inhalasi, meliputi:
• Isi
• Tempat penyimpanan dan katup serta komponennya
• Uji kadar logam, bahan terdegradasi, kadar logam dari kosolven,
• Keseragaman isi dosis per kontainer
• Distribusi ukuran partikel
• Evaluasi mikroskopis,
• Batas mikroba, dan
• Keseragaman dosis tiap penyemprotan.
Evaluasi sediaan inhalasi
•Pada aerosol tipe suspense, tampilan dari komponen katup dan penyimpanan harus
di evaluasi dari partikel besar dan perubahan morfologi dari lapisan atas permukaan p
artikel, pembentukan aglomerat, pertumbuh ankristal dan partikel asing. Korosi di dal
am tempat penyimpanan akan berefek pada performa obat.
•Pengkajian perubahan temperature harus dilakukan dibawah kenaikan atau penurun
an temperature yang ekstrem yang akan terjadi ketika proses distribusi yang akan men
gubah kualitas dan performa dari obat.
•Dikarenakan produk inhalasi digunakan dalam system pernafasan, penjagaan kualitas
obat dari organisme pathogen harus selalu diperhatikan dan total bakteri aerob, mold
dan yeast harus tidak ada.
Thank You 

Anda mungkin juga menyukai