Anda di halaman 1dari 32

DROP

FOOT
Pembimbing : dr. I Komang Arimbawa, Sp.S

Dewa Made Adi Arsika Widja


Kadek Anggie Wigundwipayana
Florence Diana Thomas
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang

BAB II Tinjauan Pustaka


Definisi, Epidemiologi, Etiologi, Patofisiologi, Diagnosis,
Penatalaksanaan

BAB III Penutup


Simpulan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
DROP FOOT DROP FOOT DROP FOOT
Jari kaki menyeret saat Dapat bersifat sementara Penatalaksanaan
berjalan atau permanen bervariasi.

Vision
DROP
FOOT
DAPAT
Mengetahui penyebab,
Mendiagnosis,
Penatalaksanaan
DROP FOOT DROP FOOT DROP FOOT
Ketidak mampuan Bukanlah sebuah penyakit Memiliki banyak faktor
mengangkat bagian depan resiko
kaki
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi, Epidemiologi, Etiologi, Patofisiologi, Diagnosis, Penatalaksanaan
DEFINISI

Ketidakmampuan untuk kaki melakukan dorsofleksi


atau memindahkan kaki pada bagian ankle ke dalam
atau keluar.

Adanya perubahan gaya jalan

Gangguan neurologi, otot, anatomi.


EPIDEMIOLOGI

PERONEAL USIA JENIS KELAMIN PENYAKIT


NEUROPATY SEKUNDER
Gejala paling Semua kelompok W ; P (2,8 ; 1) 90 % setelah
sering adalah usia berpeluang total kneearthroplasty
DROP FOOT.
ETIOLOGI

Kombinasi
disfungsi
Compratment neurologi, otot,
Syndrome anatomi
Ruptur tendon
tibalis anterior
Cedera dam tendon
langsung pada subkutaneus
dorsiflexor
PATOFISIOLOGI

Penyebab neurologi dari drop


foot meliputi mononeuropati nervus
peroneus yang sering disebabkan oleh
trauma yang terjadi pada kaput fibula.
Keluhan yang terjadi berupa drop foot
(parsial atau komplit), parestesia pada
bagian lateral tungkai bawah atau
kedua gejala motoris dan sensoris
tersebut.
PATOFISIOLOGI

Nervus peroneal dan distribusi kutaneusnya


PATOFISIOLOGI
• Integritas fungsional dari axon tergantung pada pasokan zat tropik yang disintesis
di perikaryon neuronal yang diangkut menuruni akson dan dikenal sebagai aliran
1` axoplasmik.

• Laserasi atau Crush injury dapat mengehentikan aliran ini. Double crush terjadi
ketika adanya cedera di proksimal dari nerve root sehingga akan menghambat
2 aliran axoplasmik, sehingga axon rentan mengalami kerusakan.

• Lesi distal pada axon tersebut dianggap bertanggung jawab atas peningkatan
risiko drop foot, biasanya terjadi pada cedera pinggul pada pasien dengan riwayat
3 stenosis tulang belakang sebelumnya.
Gejala
• Tidak bias mengangkat kaki bagian depan
• Nyeri
• Kelemahan pada kaki
• Mati rasa
• Perubahan cara berjalan

Riwayat penyakit berhubungan dengan kelemahan


kakinya.

Riwayat trauma
• Kaki
• Lutut
• Pinggul.

Riwayat kebiasaan Duduk bersila

Riwayat operasi  Pnggul atau lutut


Raut muka, cara berjalan, cara duduk dan cara tidur,
proporsi tinggi badan terhadap anggota tubuh lainnya,
keadaan simetris bagian tubuh kiri dan kanan, cara
berjalan dan tingkah laku, ekspresi wajah.

Cara berjalan (gait)


Pengamatan gait merupakan aspek penting - memberikan informasi
mengenai beberapa kondisi muskuloskeletal dan saraf. Secara khusus, ada
delapan gaits patologis dasar yang dapat dikaitkan dengan kondisi neurologis
• Hemiplegia
• Diplegic kejang
• Neuropati, miopati
• Parkinsonian
• Choreiform
• Ataxic (serebelum)
• Sensorik.
Hemiplegia Gait
 berdiri dengan kelemahan unilateral pada sisi yang terkena, lengan tertekuk, adduksi dan
diputar secara internal. Kaki pada sisi yang sama dalam ekstensi dengan fleksi plantar kaki
dan jari kaki.
 Saat berjalan, pasien akan terus memegang lengannya atau ke satu sisi dan menyeret kaki
yang terkena di setengah lingkaran (circumduction) karena kelemahan otot distal (foot drop)
dan ekstensor hypertonia di tungkai bawah.
 Stroke = hemiparesis ringan, kehilangan lengan ayun normal dan sedikit circumduction
mungkin satu-satunya kelainan .
Diplegic Gait
 Pasien memiliki keterlibatan di kedua sisi dengan kelenturan di ekstremitas bawah lebih buruk daripada
ekstremitas atas. Pasien berjalan dengan basis normal sempit, menyeret kedua kaki dan gesekan jari-jari kaki.
 Cara berjalan ini terlihat pada lesi periventrikular bilateral, seperti yang terlihat pada cerebral palsy.
 karakteristik ekstrim adductors pinggul yang dapat menyebabkan kaki untuk menyeberangi garis tengah disebut
sebagai gaya berjalan gunting.
 Di negara-negara dengan perawatan medis yang memadai, pasien dengan cerebral palsy mungkin memiliki
operasi rilis adduktor hip untuk meminimalkan scissoring.
Neuropathy Gait (steppage gait, Equine gait)

 Terlihat pada pasien dengan drop foot (kelemahan kaki dorsofleksi), penyebab gait ini adalah karena
upaya untuk angkat kaki cukup tinggi selama berjalan sehingga kaki menyeret di lantai.
 unilateral, penyebab termasuk peroneal kelumpuhan saraf dan L5 radiculopathy.
 bilateral, penyebab termasuk amyotrophic lateral sclerosis, penyakit Charcot - Marie - Tooth dan
neuropati perifer lainnya termasuk yang berhubungan dengan diabetes yang tidak terkontrol.

Miopati Gait (Waddling Gait)


 Otot panggul bertanggung jawab untuk menjaga tingkat panggul saat berjalan. memiliki kelemahan
pada satu sisi, hal ini akan menyebabkan penurunan panggul di sisi kontralateral panggul sambil
berjalan (Trendelenburg tanda).
 Dengan kelemahan bilateral, Anda akan menjatuhkan panggul di kedua sisi selama berjalan. Cara
berjalan ini terlihat pada pasien dengan miopati, seperti distrofi otot .
Gait Parkinsonian
 pasien akan memiliki kekakuan dan bradikinesia.
 membungkuk dengan kepala dan leher ke depan, dengan fleksi pada lutut. Seluruh ekstremitas
atas juga fleksi dengan jari biasanya ekstensi.
 berjalan dengan langkah-langkah agak lambat diketahui pada marche a petits pas (berjalan dari
langkah-langkah kecil).
 kesulitan memulai langkah. menunjukkan kecenderungan tak sadar untuk mengambil langkah-
langkah percepatan, yang dikenal sebagai festinasi. Kiprah ini terlihat pada penyakit Parkinson
atau kondisi yang menyebabkan lain parkinsonisme, seperti efek samping dari obat-obatan .
Choreiform Gait (Hiperkinetik Gait)
 Cara berjalan ini ini terlihat dengan gangguan ganglia basal tertentu termasuk Sydenham 's
chorea, Penyakit Huntington dan bentuk lain dari chorea, athetosis atau dystonia.
 Pasien akan menampilkan gerakan tidak teratur, gerakan involunter di semua ekstremitas.
Berjalan dapat menonjolkan gangguan gerakan dasar mereka .

Ataxic Gait (Serebelum)

 terlihat pada penyakit serebelar, cara berjalan ini digambarkan sebagai kikuk, gerakan mengejutkan dengan
kiprah berbasis lebar.
 Sambil berdiri diam, tubuh pasien akan bolak-balik dan dari sisi ke sisi, yang dikenal sebagai titubasi.
 tidak akan mampu berjalan dari tumit sampai ujung kaki atau dalam garis lurus. Kiprah keracunan alkohol akut
akan menyerupai kiprah penyakit cerebellar.
 ketidakstabilan yang lebih truncal lebih mungkin untuk memiliki penyakit cerebellar garis tengah pada vermis
Gait Sensorik
 Saat kaki menyentuh tanah, kita menerima informasi propioreceptif untuk memberitahu kita lokasi
mereka.
 Cara berjalan ataxic sensorik = kehilangan masukan propioreceptive ini.
 Kunci cara berjalan ini melibatkan eksaserbasi ketika pasien tidak dapat melihat kaki mereka (yaitu
dalam gelap).
 Cara berjalan ini juga kadang-kadang disebut sebagai gait menghentak karena pasien dapat
mengangkat kaki mereka sangat tinggi untuk memukul tanah keras.
 Gait ini dapat dilihat pada gangguan kolom dorsal (defisiensi B12 atau tabes dorsalis) atau penyakit
yang mempengaruhi saraf perifer (diabetes yang tidak terkontrol).
 Dalam bentuk yang berat, gaya berjalan ini dapat menyebabkan ataksia yang menyerupai gaya berjalan
ataksia cerebellar.
 Palpasi (Feel)
 Inspeksi (Look)
a. Suhu kulit
Inspeksi dilakukan secara sistematik;
b. Jaringan lunak; palpasi jaringan lunak dilakukan untuk mengetahui adanya
a. Kulit, meliputi warna kulit dan
spasme otot, atrofi otot, keadaan membran sinovial, penebalan membran
tekstur kulit
jaringan sinovial, adanya tumor dan sifatnya, adanya cairan di dalam/ di luar
b. Jaringan lunak yaitu pembuluh
sendi atau adanya pembengkakan.
darah, saraf, otot, tendon, ligamen,
c. Nyeri tekan = nyeri setempat atau nyeri yang bersifat kiriman dari tempat lain
jaringan lemak, fasia, kelenjar limfe.
(referred pain).
c. Tulang dan sendi
d. Tulang = diperhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang
d. Sinus dan jaringan parut
atau adanya gangguan di dalam hubungan yang normal antara tulang yang
satu dengan lainnya.
e. Pengukuran panjang anggota gerak
 Kekuatan otot (Power)
Pemeriksaan kekuatan dibagi dalam grade 0-5, yaitu:
Grade 0
Tidak ditemukan adanya kontraksi otot.
Grade 1
Kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak
dapat menggerakkan sendi.
Grade 2
Otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat melawan pengaruh gravitasi.
Grade 3
Disamping dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi tetapi tidak kuat terhadap
tahanan yang diberikan oleh pemeriksa.
Grade 4
Kekuatan otot seperti pada grade 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap tahanan yang ringan.
Grade 5
Kekuatan otot normal.
 Penilaian gerakan sendi baik pergerakan aktif maupun pasif (Move)
 dua istilah pergerakan yang aktif (penderita sendiri)
 pergerakan pasif (bantuan pemeriksa.)
a) Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif
 rasa sakit/ krepitasi
a) Stabilitas sendi
-Pemeriksaan stabilitas sendi dapat dilakukan dengan memberikan tekanan pada ligamen dan gerakan sendi diamati.

a) Pemeriksaan ROM (Range of Join Movement)


- nilai batas gerakan normal yang merupakan patokan untuk gerakan abnormal dari sendi.
- abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi, rotasi eksterna, rotasi interna, pronasi, supinasi, fleksi lateral, dorso fleksi, plantar
fleksi, inversi dan eversi.
PEMERIKSAAN SENSORIS
Pemeriksaan sistem sensori sangat bergantung pada kemampuan dan keinginan pasien untuk bekerja sama.
Sensasi dirasakan oleh pasien (sifat subjektif)
 Sentuhan ringan
 Sensasi nyeri
 Sensasi getaran
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Propriosepsi
 Gula darah puasa
 Lokalisasi taktil
 Hemoglobin A1C

PEMERIKSAAN PENCITRAAN  Tingkat sedimentasi eritrosit


 C – reaktif protein
• Foto polos
 Elektroforesis protein serum atau immunoelectro – osmophoresis
• Ultrasonografi
• MRI  BUN
 Kreatinin
 Tingkat Vitamin B-12
PENATALAKSANAAN
 Trauma terbuka
 Trauma tertutup
 eksplorasi dan identifikasi saraf. Bila luka steril seperti
 Pada neurpraksia aksonotmesis, tunggu waktu
luka kaca atau pisau operasi segera disambung.
pemulihan. Bila waktu normal penyembuhan belum
 ujung-ujung sarafnya hancur dan kotor maka ujung-ujung
terlihat tanda-tanda pemulihan maka trauma tersebut
tersebut didekarkan dengan satu jahitan, setelah 2-3
adalah neurotmesis dan segera dilakukan eksplorasi
minggu dilakukan penyambungan dengan memotong
untuk melakukan penyambungan.
ujung-ujung yang hancur dan memobilisasinya agar dapat
 Delayed repair lebih dari empat bulan perlu dipikirkan
dipertemukan.
bahwa bagian distal lesi saraf tersebut sudah
 Penjahitan interfasikular dilakukan secara bedah mikro.
mengalami fibrotic dan atrofi otot-otot sehingga hasil
identifikasi ujung-ujung saraf tersebut setelah dilakukan
akhir tidak memuaskan.
debridement dan irigasi.
 Sisa paralisis. Pemulihan bersifat irreversible sehingga paralisis
otot akan permanen. Prinsip umum penanganannya adalah:
o Mencegah deformitas dengan latihan-latihan sendi,
pemasangan removable splint/brace dan koreksi otot-otot agar
terjadi keseimbangan
o Koreksi deformitas otot dan tulang seperti passive stretching
pada kontraktur sampai melakukan pemanjangan (lengthening)
tendo, tenodesis, osteotomi atau arthrodesi
o Memperbaiki keseimbangan otot seperti pemindahan tendon
(tendon transfer)
o Kosmetil pada panjang tungkai bawah yang tidak sama (limb
discrepancy) dapat dilakukan stimulasi pada tungkai yang
pendek atau melakukan pemberhentian pusat pertumbuhan
pada sisi tungkai yang normal.
o Rehabilitasi
Ankle-Foot Orthosis (AFO)

AFO juga dapat digunakan pada masa Peroneal nerve stimulation atau Functional Electrical
penyembuhan neurologis atau penyembuhan Stimulation (FES)

setelah operasi. Penggunaan AFO secara spesifik


FES memberikan impuls listrik untuk menstimulasi respon
bertujuan untuk memberikan dorsofleksi jari-jari
saraf yang diperlukan untuk melakukan suatu dorsofleksi. FES
kaki pada saat fase mengayunkan kaki, stabilitas
dapat diprogram secara khusus menyesuaikan kebutuhan
lateral dan medial pada saat fase stasis, dan jika
individual. FES memberikan suatu range of movement yang
perlu juga dapat membantu stimulasi mendorong
normal kepada kaki dan pergelangan kaki selama fase berjalan.
ke atas pada saat fase stasis akhir
Pengalaman Positif Pengalaman Negatif
FES (eksternal) * Dapat melatih pergelangan kaki, mampu meningkatkan * Tidak reliable (susah didapat, tidak tersedia secara
tonus otot/ masa otot luas, mahal)
* Kecepatan berjalan lebih cepat, mampu mengangkat kaki * Tidak dapat digunakan pada kondisi tertentu,
lebih tinggi, jarang tersandung misalnya dekat air, jalan becek, hujan, dll
* Gaya jalan yang terlihat lebih normal * Beberapa pengguna mengalami kesulitan dalam
* Lebih mudah memilih sepatu memasang alatnya sendiri
* Mudah dipakai * Sulit memanipulasi bagian bagian sambungan
* Dapat dimatikan apabila sedang tidak digunakan berjalan * Reaksi alergi terhadap elektrode

AFO * Mudah digunakan untuk keperluan sehari-hari * Tidak nyaman, risih, tidak fleksibel
* Menggunakan AFO merupakan suatu rutinitas * Susah mendapatkan sepatu yang sesuai dengan
* Mudah memakainya orthosis
* Reliable * Tetap harus dipakai ketika duduk atau sedang tidak
* Sangat berguna untuk kondisi darurat berjalan (tidak dibutuhkan)
* Dapat digunakan selama perjalanan udara (tidak
menggunakan kabel)
* Lebih mudah dipasang sendiri
* Dapat digunakan dalam kondisi dekat air
• Metode operatif sering kali dilakukan untuk membuka ruangan dimana saraf tersebut
meninggalkan tulang belakang (foramina spinal) dengan mengalihkan diskus yang mengalami
herniasi (microdiscectomy), membuka foramen (foraminotomy) atau pada kasus yang lebih
kompleks, dilakukan kombinasi dari dua tindakan ini, dimana tulang akan di perbaiki bersama
untuk menghilangkan pergerakan yang bermasalah.
Prognosis dan Pemulihan

• Tipe trauma (neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Tanda-tanda pemulihan akan terlihat atau

terasa peningkatan kekuatan otot terutama di daerah otot proksimalnya.

• Rasa nyeri dan position of sense.

• Regenerasi akson akan terasa nyeri ketok (tinel’s sign).

• Komplikasi yang terjadi adalah neuralgia, rasa terbakar yang sangat mengganggu penderita sehingga

tindakan simipatektomi pada anggota gerak bawah perlu dilakukan.


PENUTUP
Thank You