Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIK ASUHAN KEPERAWATAN

PADA NY.Y DENGAN CARSINOMA MAMMAE


YANG DILAKUKAN TINDAKAN MASTECTOMY
DIRUANG INSTALANSI BEDAH SENTRAL RSUD
KOTA BANJAR
Pipin Tajudin AKX.16.092
Refina Agustiyah AKX.16.103
Riska Dwi Adhila AKX.16.112
Rosa Dini Maulida AKX.16.117
Sekar Arum Addhyasgarini AKX.16.118
Sukriadi Rahman AKX.16.128
Utrianto Indrawan AKX.16.133
Veronika Nona Nestry AKX.16.135
TINJAUAN TEORITIS

pelayanan anestesiologi yaitu A. Kepetugasan Perioperatif


usaha-usaha
penanggulangan nyeri dan Kata perioperatif adalah
stres pertolongan pertama gabungan dari tiga
gawat darurat yang fase pengalaman
meliputi resusitasi, pembedahan yaitu : pre
pertolongan dan terapi operatif, intra operatif
intensif, serta usaha-usaha dan post operatif.
tindakan kedokteran
perioperatif.
TINJAUAN TEORITIS
B. Pengertian Pre-Operatif
Persiapan pembedahan dapat dibagi
Fase pre operatif merupakan menjadi 2 bagian, yang meliputi
persiapan psikologi baik klien
tahap pertama dari maupun keluarga dan persiapan
petugasan perioperatif fisiologi (khusus klien).
yang dimulai ketika klien 1. Persiapan Psikologi
2. Persiapan Fisiologi
diterima masuk di ruang a. Diet Puasa
terima klien dan berakhir b. Persiapan Kulit adalah
ketika klien dipindahkan ke Daerah yang akan dioperasi
harus bebas dari rambut
meja operasi untuk c. Hasil Pemeriksaan lain yang
dilakukan tindakan dianjurkan sebelum
pembedahan. pelaksanaan operasi
d. Persetujuan Operasi
TINJAUAN TEORITIS

D. Tatalaksana Post Operatif


C. Pengertian Intra Operatif
merupakan tahap lanjutan dari
Segala macam aktivitas yang dilakukan petugasan pre operatif dan
oleh tenaga paramedis di ruang operasi intra operatif yang dimulai ketika
Anggota tim intra operatif yaitu ahli klien diterima di ruang pemulihan
anestesi dan petugas anestesi , ahli bedah (recovery room)/ post anestesi dan
dan asisten bedah . berakhir sampai evaluasi tindak
lanjut pada tatanan klinik atau di
rumah.
TINJAUAN TEORITIS
Postanestesia merupakan periode kritis, yang segera dimulai setelah pembedahan dan
anestesia diakhiri sampai klien pulih dari pengaruh anestesia
Resiko post anestesi dapat dibedakan menjadi 3 kelompok masalah :
1. Klien yang mempunyai risiko tinggi gagal napas dan gangguan hemodinamik
postanestesia/bedah, sehingga perlu napas kendali postanestesia/bedah.
2. menjamin agar klien secepatnya mampu menjaga keadekuatan respirasinya dan
kestabilan kardiovascular.
3. Klien yang menjalani operasi kecil, singkat dan rawat jalan.Klien pada kelompok
ini bukan hanya fungsi respirasinya tetapi harus bebas dari rasa ngantuk, nyeri dan
kelemahan otot, sehingga klien bisa kembali pulang.
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Diagnose Medis : Ca Mamae
Identitas Klien
Tanggal pengkajian: 04 Februari
Nama : Ny.Y 2018
Umur : 46 Tahun Tanggal operasi : 05 Februari
2018
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Wanaraga,
Pendidikan : SD RT 03/RW 01 Ds. Kalijaga, Kec.
Pekerjaan :IRT Banjarsari, Kab. Banjar,
Suku/bangsa : Sunda / Indonesia
Tanggal masuk RS : 04 Februari 2018
No RM : 364267
Ruang/kamar : Wijaya Kusuma
TINJAUAN KASUS
C. Riwayat Kesehatan
B. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. R 1. Keluhan Utama
Umur : 50 Tahun Nyeri pada bagian mammae
Pendidikan :SD
Hub. dengan klien: Suami 2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Suku/bangsa : Sunda / Indonesia Klien Ny.Y menyatakan bahwa
merasa adanya benjolan di sekitar
Alamat : Wanaraga, RT
payudara kiri dan ketika diraba
03/RW 01 Ds. Kalijaga, Kec. Mammae mengeras sekitar 2 – 5
Banjarsari, Kab. Banjar, Jawa Barat. cm, akibat benjolan itu merasa
nyeri di sekitar mammae
mengakibatkan nyeri bertambah
bila mengangkat dan
menggerakan tangan kiri dan sulit
tidur dan sering terbangun akibat
nyeri .
TINJAUAN KASUS

3. Riwayat Penyakit Dahulu 4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien Ny. Y mengatakan tidak Ny. Y mengatakan bahwa dalam


mempunyai penyakit lain selain keluarga tidak ada yang pernah
benjolan pada payudaranya. Ny. Y mengalami penyakit selama ini yang
mengatakan bahwa tidak pernah dideritanya.Ny. Y dan keluarga tidak
masuk Rumah Sakit dan melakukan memiliki penyakit menular.
operasi.
TINJAUAN KASUS
D. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum
- Tingkat Kesadaran :
Compos Mentis (GCS, E:4 V:5 M: 6 = 15)
- Tanda-tanda Vital
RR : 20 x/ menit
Nadi : 70 x / menit
Tekanan Darah : 126/90 mmHg
Suhu :36,5 C
DATA PENUNJANG
Hari/ tanggal Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal

Selasa

22/11/2017 HGB, Hemoglobin 11,6 g/dl P: 12-16, L: 14-18

HCT, Hematokrit 38,2 % P: 35-45, L: 40-50

WBC, Leukosit 8,0 10ᶺ3/ uL Dws: 5,0-10,0, Bayi: 7,0-

17,0

PLT, Trombosit 429 10ᶺ3/ uL 150-350

RBC, Eritrosit 4,35 Juta/uL P: 4,0-5,5, L: 4,5-6,0

BT, Waktu pendarahan 2’00” Menit 1-3

CT, waktu pembekuan 7’00” Menit 6-11

Kreatinin 0,7 Ma/dl 0,5-0,9

Ureum 15 Ma/dl 15-50


PRE-OPERATIF
A. Persiapan Klien

Klien masuk ke ruang persiapan jam 12.00 WIB


Memeriksa identitas klien
Memastikan inform consent,surat ijin operasi,surat ijin anestesi yang
telah disepakati
Memeriksa kembali apakah klien menggunakan bahan dari logam,gigi
palsu dan lain-lain
Menanyakan kembali apakan klien mempunyai penyakit penyerta
seperti Asma,DM,Hipertensi,Alergi obat dan lain-lain
Menanyakan kembali puasa klien apakah sesuai dengan yang
dianjurkan
Memastikan apakah infus sudah terpasang dengan baik,berjalan
dengan lancar dan sudah terpasang cairan infus
Mengganti pakaian klien dengan pakaian khusus di kamar bedah
PRE-OPERATIF
B. Persiapan Alat

Memilih ,menyiapkan dan mengecek peralatan untuk intubasi


S: Scope (Stetoscop,Laringoscop dengan blade No.3)
T: Tube (ETT ukuran 6,5;7;7,5) cek balon apakah ada kebocoran atau
tidak
A : Airway (Orofaringeal Airway No.2)
T : Tape (Plester untuk fiksasi)
I : Introducer (mandarin)
C : Conector
S : Suction (mesin suction dan kanul suction)
- Spuit 10 cc,5 cc,3 cc
- Forcep magils
- Face Mask
- Kassa
- Monitor
- Mesin Anestesi dengan sumber gas O2,N2O,dan Volatil sudah siap
digunakan.
PRE-OPERATIF
C. Persiapan obat

Premedikasi : Ondansentron
Induksi :
- Analgetik : Fentanil
- Hipnotik : Propofol
- Muscle Relaxan : Rocuronium
Analgetik tambahan : Ketorolak
Obat Emergensi : Sulfat atropine
Obat Anticholinesterase : Neostigmin
INTRA-OPERATIF

1. Klien masuk ke kamar operasi jam 12.10 WIB


2. Klien ditidurkan dalam posisi supine dan selanjutnya
dilakukan pemasangan monitor
D
3. Setelah itu masukan obat induksi yaitu fentanyl sebanyak
100 mcg secara perlahan melalui IV Line
4. Oksigenasi sebanyak 3 L klien diminta nafas dalam
sebanyak 8kali
5. Masukan propofol sebanyak 150 mg secara cepat
melalui IV line
6. Menghidupkan volatile sevofluran dengan MAC 2 vol %
7. Klien dilakukan hiperventilasi
INTRA-OPERATIF
8. Lakukan prosedur intubasi jam 12.15  e. Setelah terlihat ambil ETT
WIB dengan cara  No.7,lalu masukan pada
a. Buka mulut klien dengan cross finger  lubang trakea dan cabut
b. Pegang laringoscop dengan tangan kiri
 mandarin
 f. Kembangkan balon ETT
c. Masukan laringoscop dari arah kanan dengan spuit 10 cc, kemudian
kemudian geser lidah kearah kiri sambungkan dengan
connector,pastikan ETT masuk
d. Angkat handle sehingga rongga terbuka dengan benar menggunakan
dan terlihat lubang trakea yang terletak stetoscope. Dengarkan dan lihat
pergerakan dinding dada kanan
dibelakang epiglotis, jika belum kiri simetris atau tidak
terlihat gunakan selick manuvar yaitu  g. Setelah yakin dengan benar
menekan daerah krikoid kedalam ETT masuk, fiksasi dengan benar
menggunakan plester
sehingga lubang trakea terlihat
INTRA-OPERATIF
h. Buka N2O,turunkan volume O2 dengan perbandingan 1:1 dan
maintenance volatile sefoflurane 2%
i. Klien dilakukan control napas (Bagging)
j. Insisi dimulai pukul 12.30 WIB sampai dengan pukul 15.15
WIB,selama operasi TTV bagus dan operasi berjalan lancer
k. Tekanan darah dan Nadi di monitor tiap 15 menit sekali
INTRA-OPERATIF
INTRA-OPERATIF

l. Pada jam 15.20, berikan reverse - N2O dimatikan O2 dinaikan menjadi


neostigmine 2 mg dan atropine 0.5 5L dan sevoflurane dimatikan
mg dilanjutkan dengan pemberian O2
m. Pada jam 15.25 dilakukan dengan menggunakan facemask.
ekstubasi bangun - Lepaskan fiksasi ETT yang menempel.
n. Prosuder ekstubasi bangun : - Kempeskan balon ETT dengan spuit 10
- Sebelumnya dilakukan suction cc.
lendir sampai benar benar bersih, - Cabut ETT secara perlahan.
pada operasi promastectomy - Berikan O2.
suction dilakukan pada daerah - Operasi selesai pukul 15.30 WIB.
mulut.
POST-OPERATIF

1. Operasi selesai pukul 15.30 WIB


7. Pemberian obat ketorolac 60 mg dan
berjalan dengan lancar
ondansentron 8 mg.
2. kemudian klien keluar dari
8.Pemberian warm blanket dan obat
kamar operasi dibawa ke
petidin 25 mg
3. Recovery Room pada pukul
9.Monitoring setiap 15 menit sekali.
15.45 WIB
10.Tekanan darah dan nadi post operatif
4. Klien diposisikan dengan posisi
dimonitor tiap 15 menit sekali
supine
5. Pemberian O2 sebanyak 2 liter
6. Penyulit yang ditemukan klien
mengeluh nyeri, klien muntah,
klien terlihat kedinginan dan
menggigil.
POST-OPERATIF
POST-OPERATIF
Aldrete Score

Sadar penuh 2 2

Dapat dibangunkan
Kesadaran 1
bila dipanggil

Tidak bereaksi 0

SpO2 > 92% dengan


2 2
udara bebas

SpO2 > 92% dengan


Warna 1
tambahan O2

SpO2 < 92% dengan


0
tambahan O2

Dapat dipindahkan bila


Total Skor 10
skor ≥ 8
EVALUASI

Klien dipindahkan ke Ruang Wijaya Kusumah setelah

aldrette score berjumlah 10 pada pukul 16.45

Hasil monitoring :

TD : 140/80 mmHg

HR :68 x/menit

RR :20 x/menit

S : 36.5°C
TERIMA KASIH