Anda di halaman 1dari 20

Pengendalian

Internal

INES CAHYANI
Hakekat Pengendalian Intern
Sistem pengendalian internal Pemahaman auditor mengenai
terdiri atas kebijakan dan pengendalian intern perusahaan
prosedur yang dirancang sangat dibutuhkan sebelum
menyimpulkan suatu keputusan
untuk memberikan
atau penilaian. Sebelum
manajemen kepastian yang kesimpulan penilaian mengenai
layak bahwa perusahaan telah pengendalian tersebut
mencapai tujuan dan sasaran. diungkapkan, hendaknya auditor
menguji terlebih dahulu.

Namun ada kalanya muncul masalah semacam defisiensi pengendalian internal yang bisa menimbulkan
salah saji yang material dalam laporan keuangan. Keefektifan pengendalian internal tergantung pada
kompetensi dan orang-orang yang menggunakannya. Untuk mengatasi masalah ini, Section 404 dari
Undang-undang Sarbanes-Oxley mengharuskan auditor perusahaan publik menilai dan melaporkan
keefektifan pengendalian internal atas pelaporan keuangan , selain audit atas laporan keuangan.

2
Konsep Pengendalian Intern
Tanggung jawab atas pengendalian internal
berbeda antara manajemen dan auditor.

Konsep utama yang melandasi perancangan


dan implementasi pengendalian internal
yaitu:

1. Kepastian yang layak


2. Keterbatasan inheren

3
Tujuan Pengendalian Intern

Efisiensi Ketaatan
Reliabilitas
dan pada
pelaporan
efektivitas hukum dan
keuangan
operasi peraturan

4
Elemen Pengendalian Intern Coso
✗ Lingkungan pengendalian (control environment)

✗ Penilaian Risiko

✗ Aktivitas Pengendalian (control activities)

✗ Informasi dan Komunikasi

✗ Pemantauan

5
Lingkungan Pengendalian

 Integritas dan nilai-nilai etis


Komitmen pada kompetensi
Partisipasi dewan komisaris atau
komite audit
Filosofi dan gaya operasi
manajemen
Struktur organisasi
Kebijakan dan praktik sumber daya
manusia

6
Penilaian Risiko
Manajemen menilai resiko Auditor menilai resiko
sebagai bagian dari untuk memutuskan bukti
merancang dan yang dibutuhkan dalam
mengoperasikan audit.
pengendalian internal
untuk memperkecil
kesalahan dan
kecurangan.

7
Aktivitas Pengendalian (control activities)

1. Pemisahan tugas yang 2. Otorisasi yang sesuai 3. Dokumen dan catatan


memadai atas transaksi dan yang memadai
aktivitas

4. Pengendalian fisik 4. Pemeriksaan


atas aktiva dan independen atas
catatan kinerja

8
Informasi dan Komunikasi
✗ Kelas transaksi utama entitas
✗ Bagaimana transaksi dimulai dan
dicatat
✗ Catatan akuntansi apa saja yang
ada serta sifatnya
✗ Bagaimana sistem itu menangkap
peristiwa-peristiwa lain yang
penting bagi laporan keuangan
✗ Sifat serta rincian proses
pelaporan keuangan yang diikuti

9
Pemantauan
10
Proses Untuk Memahami Pengendalian Internal Dan Menilai
Risiko Pengendalian

Tahap 4
Tahap 1 Tahap 3
Tahap Memutuskan
Memperoleh dan Merancang,
2 Risiko Deteksi
Mendokumentasi Melaksanakan
Menilai yang
kan Pemahaman dan
Risiko Direncanaka
Tentang Mengevaluasi
Penge n dan
Pengendalian Pengujian
ndalian Pengujian
Internal Pengendalian
Substantif
Permasalahan SKANDAL
MANIPULASI
PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan LAPORAN
KEUANGAN
milik pemerintah di Indonesia. Pada audit tanggal 31
PT. KIMIA
Desember 2001, manajemen Kimia Farma FARMA TBK
melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar,
dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta &
Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan
Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu
besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah
dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan
keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali
(restated), karena telah ditemukan kesalahan yang
cukup mendasar.

12
SKANDAL
MANIPULASI
Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang LAPORAN
KEUANGAN
disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih
PT. KIMIA
rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba FARMA TBK
awal yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit
Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa
overstatedpenjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit
Logistik Sentral berupaoverstated persediaan barang
sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar
Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1
miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar.

13
SKANDAL
MANIPULASI
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan LAPORAN
KEUANGAN
timbul karena nilai yang ada dalam daftar harga
PT. KIMIA
persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui FARMA TBK
direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar
harga persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3
Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah
digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaian
persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31
Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian
berkaitan dengan penjualan adalah dengan
dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan.

14
SKANDAL
MANIPULASI
Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang LAPORAN
KEUANGAN
tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil
PT. KIMIA
dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, FARMA TBK
disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan
keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar
audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi
kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga
tidak terbukti membantu manajemen melakukan
kecurangan tersebut.

15
Sanksi dan Denda SKANDAL
MANIPULASI
Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai LAPORAN
KEUANGAN
dengan Pasal 102 Undang-undang Nomor 8 tahun
PT. KIMIA
1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan FARMA TBK
Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 jo Pasal 64
Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal maka
PT Kimia Farma (Persero) Tbk. dikenakan sanksi
administratif berupa denda yaitu sebesar Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun
1995 tentang Pasar Modal, maka:

16
SKANDAL
MANIPULASI
✗ Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode LAPORAN
KEUANGAN
1998 – Juni 2002 diwajibkan membayar sejumlah Rp
PT. KIMIA
1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk disetor ke FARMA TBK
Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek
penggelembungan atas laporan keuangan per 31
Desember 2001.
✗ Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta
dan Mustofa selaku auditor PT Kimia Farma (Persero)
Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp.
100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke
Kas Negara,

17
KETERKAITAN AKUNTAN TERHADAP SKANDAL PT KIMIA SKANDAL
FARMA TBK MANIPULASI
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan LAPORAN
pemeriksaan atau penyidikan baik atas manajemen lama KEUANGAN
PT. KIMIA
direksi PT Kimia Farma Tbk. ataupun terhadap akuntan
FARMA TBK
publik Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan
publik (Hans Tuanakotta dan Mustofa) harus bertanggung
jawab, karena akuntan publik ini juga yang mengaudit Kimia
Farma tahun buku 31 Desember 2001 dan dengan yang
interim 30 Juni tahun 2002. Akuntan publik Hans
Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam manipulasi
laporan keuangan, karena sebagai auditor independen
akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM)
seharusnya mengetahui laporan-laporan yang diauditnya
itu apakah berdasarkan laporan fiktif atau tidak.
18
KETERKAITAN MANAJEMEN TERHADAP SKANDAL PT SKANDAL
KIMIA FARMA TBK MANIPULASI
Mantan direksi PT Kimia Farma Tbk. Telah terbukti melakukan LAPORAN
pelanggaran dalam kasus dugaan penggelembungan (mark KEUANGAN
up) laba bersih di laporan keuangan perusahaan milik negara PT. KIMIA
untuk tahun buku 2001. Kantor Menteri BUMN meminta agar FARMA TBK
kantor akuntan itu menyatakan kembali (restated) hasil
sesungguhnya dari laporan keuangan Kimia Farma tahun buku
2001. Sementara itu, direksi lama yang terlibat akan diminta
pertanggungjawabannya. Dalam persoalan Kimia Farma,
sudah jelas yang bertanggung jawab atas terjadinya kesalahan
pencatatan laporan keuangan yang menyebabkan laba terlihat
di-mark up ini, merupakan kesalahan manajemen lama.

19
Thanks!

20