Anda di halaman 1dari 60

“Analisis Biaya Volume Laba”

Kelompok 7
• Susanti Nenohara 201762201115
• Fajar Pramono 201762201018
• Renaldi Mande 201762201115
• Maelny Pasolang 201762201046
A. Analisis Biaya Volume Laba
Analisis biaya volume laba adalah salah satu alat analisis yang bermanfaat
bagi para manajer untuk melaksnakan tugasnya. Alat ini membantu
memahami hubungan antara biaya, volume dan laba dalam sebuah
organisasi dengan memfokuskan hubungan antara 5 elemen, yaitu (1) harga
jual produk, (2) volume atau tingkat kegiatan, (3) biaya variable per unit, (4)
jumlah biaya tetap, dan (5) bauran produk yang dijual.
Karena analisis biaya volume laba membantu para manajer memahami
hubungan antara biaya, volume, dan laba, maka alat tersebut merupakan
alat yang penting dalam proses pembuatan berbagai macam keputusan
bisnis.
Analisis biaya volume laba juga dapat mengatasi banyak isu lainnya seperti
jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai impas, dampak pengurangan
biaya tetap terhadap titik impas, dan dampak kenaikan harga terhadap laba.
!elain itu analisis biaya volume laba memungkinkan para manajer
untuk melakukan analisis sensitivitas dengan menguji dampak dari berbagai
tingkat harga atau biaya terhadap laba.
B. Basis Analisis Biaya Volume Laba
• Basis analisis biaya volume laba adalah laporan laba rugi yang
disusun dengan konsep harga pokok variable. Laporan ini
disebut juga laporan laba/rugi kontribusi. Laporan ini
digunakan sebagai basis analisis karena format laporannya
menekankan pada perilaku biaya, oleh karena itu akan sangat
membantu para manajer dalam menghitung pengaruh
perubahan harga jual, biaya, atau volume kegiatan terhadap
laba perusahaan. Secara umum format laporan Laba/rugi
kontribusi adalah sbb:
Penjualan xxxx
Dikurang: Biaya-biaya Variabel xxxx
Contribution margin xxxx
Dikurang: Biaya-biaya Tetap xxxx
Laba Sebelum Pajak xxxx

Jika perhitungan laba sebelum pajak ini diekspreikan dalam bentuk


persamaan, maka akan terlihat sbb:
Laba sebelum pajak = Penjualan – Biaya-biaya variable – Biaya-biaya tetap
Jika digunakan simbol berikut:

P = Harga jual per unit


X = Jumlah unit yang terjual
V = Biaya Variabel per unit
F = total biaya tetap
l = laba sebelum pajak
Maka persamaan di atas akan menjadi:
l = PX – VX – F
l = (P - V)X – F
(P – V) X = F + l
Sehingga dapat dihasilkan rumus untuk menghitung jumlah unit
produk yang dijual sebagai berikut:

X =F+ l
P–V

Dalam rumus tersebut P – V sering disebut dengan marjin kontribusi


per unit (contribution per unit). Marjin kontribusi adalah selisih antara
pendapatan penjualan dan biaya-biaya variable (PX – VX). Jika kedua
variable masing-masing dibagi dengan jumlah produk yang terjual,
maka akan diperoleh penjualan per unit (P) dikurang biaya variabel per
unit (V) atau P – V adalah marjin kontribusi per unit.
C. ANALISIS BIAYA VOLUME LABA PADA
PERUSAHAAN YANG MENGHASILKAN PRODUK
TUNGGAL
Dengan menggunakan basis laporan laba/rugi kontribusi, ada dua
pendekatan yang dapat digunakan dalam analisis biaya pada
perusahaan yang hanya menghasilkan satu produk (single
product), yaitu: (1) pendekatan unit terjual (unit-sold approach),
dan (2) pendekatan pendapatan penjualan (sales revenue
approach). Pendekatan unit terjual mengukur aktivitas penjualan
dan menjawab pertanyaan diatas dalam konteks unit terjual,
sedangkan pendekatan pendapatan penjualan mengukur
aktivitas penjualan dan menjawab pertanyaan di atas dalam
konteks pendapatan penjualan.
Pendekatan Unit Terjual
Langkah pertama dalam menerapkan analisis biaya volume laba adalah
dengan menggungakan pendekatan unit terjual. Untuk sebuah perusahaan
manufaktur, penerapan pendekatan ini tidak terlalu sulit. Perusahaan jasa
lebih sulit menerapkan pendekatan ini, berikut ini ilustrasi untuk pendekatan
unit terjual.

Ilustrasi 1
PT Pangandaran memilki proyeksi laporan laba/rugi untuk tahun 2010 sebagai
berikut:
Penjualan (100 unit @ Rp4.000.00) Rp400.000.000,00
Dikurang: Biaya-biaya variable 325.000.000,00
Marjin kontribusi (contribution margin) Rp 75.000.000,00
Dikurang: Biaya-biaya tetap 45.000.000,00
Laba sebelum pajak Rp 30.000.000,00
Dari laporan laba/rugi tersebut, kita dapat memperoleh banyak
informasi. Laporan laba/rugi tersebut dibuat atas dasar asumsi
penjualan sebanyak 100 unit;
harga jual per unit (P) adalah Rp4.000.000,00;
biaya variable per unit (V) adalah Rp3.250.000,00 (325.000.000/100);
dan jumlah biaya tetap (F) adalah Rp45.000.000,00. Marjin kontribusi
per unit dapat dihitung melalui dua cara.
Pertama adalah membagi jumlah marjin kontribusi dengan jumlah
produk terjual dan menghasilkan angka Rp750.000
(Rp75.000.000,00/100).
Kedua adalah dengan rumus P – V, dan menghasilkan angka yang
sama, yaitu sebesar Rp750.000,00 (Rp4.000.000,00 – Rp3.250.000,00).
• Analisis Impas
Titik impas adalah sebuah titik atau kondisi dimana jumlah pendapatan
penjualan sama dengan jumlah biaya. Dengan demikian pada titik ini
perusahaan tidak memperoleh laba, namun juga tidak menderita rugi
(laba = 0). Analisis biaya volume laba dengan pendekatan unit terjual
dapat digunakan untuk menghitung besarnya jumlah produk yang
terjual pada titik impas. Pada titik impas, maka variable l pada
persamaan diatas sama dengan nol (l = 0), sehingga angka yang
dihasilkan adalah:

X = (F + l)/(P – V)
= (Rp45.000.000 + Rp0)/(Rp4.000.000 – Rp3.250.000)
= Rp45.000.000/Rp750.000 per unit
= 60 unit
Dengan hasil perhitungan tersebut, maka perusahaan harus
menjual produk sebanyak 60 unit agar perusahaan berada dalam
titik impas. Laporan laba/rugi yang disusun atas dasar kuantitas
penjualan sebesar titik impas adalah sbb:

Penjualan (60 unit @ Rp4.000.000) Rp240.000.000


Dikurang: Biaya-biaya variable 195.000.000
Marjin kontribusi Rp 45.000.000
Dikurang: Biaya-biaya tetap 45.000.000
Laba sebelum pajak Rp 0
Setelah melakukan perhitungan jumlah unit yang terjual agar
perusahaan mencapai titik impas, timbul pertanyaan apa informasi
tersebut? Salah satu manfaat informasi unit terjual pada titik impas
adalah informasi tersebut dapat digunakn oleh manajemen sebagai
pedoman untuk melakukan monitoring terhadap kinerja penjualan.
Jika dalam contoh di atas titik impas tercapai pada level 60 unit, maka
rata-rata per bulan perusahaan harus dapat menjual produk sebanyak
5 unit. Misalkan pada bulan ke-8 (Agustus) perusahaan baru mencapai
level penjualan sebanyak 25 unit dari seharusnya 40 unit (8 kali 5),
maka perusahaan harus segera mengambil tindakan koreksi pada sisa
4 bulan terakhir agar target penjualan sebanyak 60 unit dapat tercapai.
Analisis Target Laba
Alat analisis diatas, dapat pula digunakan untuk perencanaan laba oleh
manajemen. Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Berapa jumlah unit yang harus terjual agar perusahaan memperoleh laba
sebelum pajak sebesar Rp60.000.000,00?
2. Berapa jumlah unit yang harus terjual agar perusahaan memperoleh laba
sebelum pajak sebesar 15% dari pendapatan penjualan?
3. Berapa jumlah unit yang harus terjual agar perusahaan memperoleh laba
setelah pajak sebesar Rp48.750.000,00 apabila tarif pajak 35%?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, berapa unit produk yang harus terjual
agar perusahaan mencapai target laba sebesar Rp60.000.000, atau l =
Rp60.000.000, maka rumusan penyelesaiannya adalah sbb:
X = (F + l)/(P – V)
= (Rp45.000.000 + Rp60.000.000)/(Rp4.000.000 – Rp
3.250.000)
= Rp105.000.000/Rp750.000 per unit
= 140 unit

Dengan demikian, perusahaan harus menjual produk


sebanyak 140 unit untuk memperoleh laba sebelum pajak
sebesar Rp60.000.000,00. Laporan laba/rugi dengan target
laba tersebut adalah sbb:
Penjualan (140 unit @ Rp4.000.000) Rp560.000.000
Dikurang: Biaya-biaya variable 455.000.000
Marjin kontribusi Rp105.000.000
Dikurang: Biaya-biaya tetap 45.000.000
Laba sebelum pajak Rp 60.000.000
• Dengan mengansumsikan bahwa biaya tetap jumlahnya tidak
berubah, pengaruh pengaruh jumlah yang dijual terhadap laba
perusahaan dapat diukur dengan mengalikan marjin kontribusi
per unit dengan perubahan unit penjualan. Dalam contoh ini,
unit penjualan mengalami kenaikan sebesar 80 unit (dari 60
unit menjadi 140 unit), dengan demikian maka laba
mengalami kenaikan sebesar Rp750.000 x 80 unit =
Rp60.000.000,00.
• Sama halnya dengan angka impas, penggunaan angka
140 unit digunakan sebagai pedoman untuk memantau kinerja
penjualan dari waktu ke waktu. Dengan melakukan
pemantauan pencapaian penjualan tersebut, perusahaan
dapat segera mengambil tindakan koreksi jika ternyata
realisasi penjualan tidak mencapai target atau rencana yang
telah ditetapkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
analisis CVP merupakan salah satu alat perencanaan bagi
manajemen.
Pertanyaan kedua kehendaki perusahaan untuk menghitung
jumlah produk yang harus terjual agar diperoleh laba sebesar
15% dari pendapatan penjualan. Pendapatan penjualan
disimpulkan PX. Dengan demikian, target laba sebelum pajak
15% sama dengan 0,15 PX. Karena P sama dengan Rp4.000.000
per unit, maka laba sebelum pajak (l) adalah Rp600.000X (atau
0.15 x 4.000.000X). Target laba merupakan fungsi dari X. oleh
karena itu perhitungan X lebih tepat menggunakan persamaan l
= (F + l)/(P – V). Dengan mengganti l dengan 600.000X, maka
persamaan tersebut berubah menjadi:
l = PX – VX – F
600.000 X = 4.000.000X – 3.250.000X – 45.000.000
600.000 X = 750.000X – 45.000.000
150.000 X = 45.000.000
X = 300 unit
Selain menggunakan persamaan laba, persoalan tersebut juga
dapat diselesaikan dengan menggunakan rumus dasar
perhitungan x, yaitu sbb:
X =(F + l)/(P – V)
X =(45.000.000 + (15% x (4.000.000X))/(4.000.000
– 3.250.000)
X =(45.000.000 + 600.000X)/750.000
750.000 X =45.000.000 + 600.000X
150.000X =45.000.000
X =300 unit
Dapatkah tingkat penjualan produk sebanyak 300 unit mencapai
target laba sebesar 15% dari pendapatan penjualan? Dengan
penjualan sebesar 300 unit, maka pendapatan penjualan yang
diperoleh berjumlah Rp1.200.000,00 (300 unit x Rp4.000.000).
Laba dapat dihitung tanpa menyusun laporan laba/rugi. Dengan
asumsi tidak ada perubahan jumlah biaya tetap, marjin
kontribusi per unit sama dengan laba bersih per unit. Volume
penjualan pada titik impas adalah 60 unit. Jika produk yang
terjual sebanyak 300 unit, maka ada kenaikan penjualan
sebanyak 240 unit di atas titik impas. Dengan demikian laba
sebelum pajak adalah Rp180.000.000 (Rp750.000 x 240 unit),
yang berarti 15% dari pendapatan penjualan (15% x
Rp1.200.000.000 = Rp180.000.000.
Untuk menjawab pertanyaan ketiga yaitu berapa jumlah unit
produk yang harus terjual untuk memperoleh laba setelah pajak
sebesar Rp48.750.000,00, perlu dilakukan karena dalam rumus
perhitungan jumlah unit terjual laba yang ada adalah laba
sebelum pajak (l). pajak dihitung sebagai persentase tertentu
dari laba. Jika tariff pajak disimbolkan dengan huruf t, maka
pajak yang harus dibayarkan sebesar tl. Laba setelah pajak
dihitung dengan mengurangi laba sebelum pajak dengan jumlah
pajak sbb:
Laba setelah pajak = Laba sebelum pajak – pajak
= l – tl
= (1 – t)l
Jika kedua sisi pada persamaan tersebut dibagi dengan (1 – t),
maka persamaan tersebut akan menjadi:
l = (laba setelah pajak)/(1 – t)

Dengan demikian, untuk mengkonversi laba setelah pajak


sebesar Rp48.750.000,00 maka cukup angka laba setelah pajak
dibagi dengan (1-t).
Pertanyaan ketiga memberikan target laba setelah pajak sebesar
Rp48.750.000,00. Dengan asumsi tarif pajak sebesar 35%, maka
laba sebelum pajak dapat dihitung sebagai berikut:

Rp48.750.000 = l – 0,35l
Rp48.750.000 = 0,65l
l = Rp75.000.000
dengan tariff pajak sebesar 35%, perusahaan harus memperoleh
laba sebelum pajak sebesar Rp75.000.000,00 agar perusahaan
dapat mencapai target laba setelah pajak sebesar
Rp48.750.000,00. Dengan semikian jumlah produk yang harus
dijual dapat dihitung sebagai berikut:
X =(F+I)/(P-V)
=(Rp45.000.000 + Rp75.000.000)/(Rp4.000.000 -
Rp3.250.000)
=Rp120.000.000/Rp750.000 per unit
=160 unit
Untuk menguji akurasi perhitungan di atas, maka dapat dibuat
laporan laba/rugi atas dasar volume penjualan sebanyak 160
unit sebagai berikut :
Penjualan (160 unit @ Rp4.000.000) Rp640.000.000
Dikurangi: Biaya-biaya variabel RP520.000.000
Marjin kontribusi Rp120.000.000
Dikurangi: Biaya-biaya tetap Rp45.000.000
Laba sebelum pajak
Rp75.000.000
Dikurangi: Pajak (35%) Rp26.000.000
Laba setelah pajak Rp48.750.000
Rasio Marjin Kontribusi
Sebelum membahas lebih lanjut penerapan konsep analisis biaya
volume laba, akan diuraikan terlebih dulu salah satu konsep penting
lainnya, yaitu rasio marjin kontribusi. Rasio ini dinyatakan dalam
bentuk presentase. Rumus untuk menghitung rasio marjinkontribusi
(contribution margin rtion/CM ration) adalah sebagai berikut ;

Marjin Kontribusi
CM =
Penjualan
Angka-angka yang dimasukkan kedalam rumus tersebut dapat berupa
angka total (jumlah marjin kontribusi dan jumlah penjualan) atau
dapat pula berupa angkaper unit (marjin kontribusi per unit dan harga
jual perunit). Dengan menggunakan data proyeksi laba/rugi diatas,
maka rasio marjin kontribusi dapat dihitung sebagai berikut:
75.000.000
CM =
400.000.000
Hasilnya sama yaitu ; CM Ration = 18,75%
Rasio ini sangat bermanfaat karena rasio ini menujukkan pengaruh
penjalan terhadap marjin kontribusi. Sebagai contoh, jika perusahaan
memiliki rasio sebesar 18,75%, maka angka ini menunjukkan bahwa
setiap rupiah penjalanakan menghasilkan marjin kontribusisebesar
Rp0,1875. Dengan demikian, jika penjualan mengalami kenaikan
sebesar satu rupiah maka marjin kontribusi akan mengalami kenaikan
sebesar Rp0,1875 dengan asumsi tidak ada perubahan dalam jumlah
biaya tetap. Dengan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa pengaruh perubahan angka laba bersih dapat dihitung dengan
cara mengalihkan angka rasio marjin kontibusi dengan angka
peubahan penjualan. Dengan menggunakan contoh diatas jika
peusahaan berencana untuk meningkatkan penjualan sebesar
Rp200.000.000 untuk tahun 2011 maka perusahaan dapat
mengharapkan kenaikan marjin kontribusi sebesar Rp37.500.000
(Rp200.000.000 x 18,75%) laba bersih juga akan terpengaruh (naik)
sebesar Rp37.500.000 jika biaya tetap tidak mengalami perubahan. Hal
ini dapat dibuktikan dengan perhitungan berikut :
Penjualan
Presentas
Kenaikan e dari
penjualan
2010 2011

Penjualan Rp400.000.000 Rp600.000.000 Rp200.000.000 100,00%

Biaya Variabel 325.000.000 487.500.000 162.500.000 81,25%

Marjin Kontribusi 75.000.000 112.500.000 37.500.000 18,75%

Biaya Tetap 45.000.000 45.000.000 0

Laba Bersih 30.000.000 67.500.000 37.500.000


Menurut pengalaman, banyak manajer yang lebih menyukai
informasi berupa CM Ratio dibandingkan informasi marjin
kontribusi per unit. Rasio ini dapat digunakan pada berbagai
situasi dimana manajer harus melakukan trade-off antara
menaikkan harga jual sebuah produk atau menaikkan harga jual
produk lainnya. Dengan kata lain, untuk menaikkan penjualan
produk yang dipilih adalah produk yang mengahasilkan marjin
kontribusi dalam rupiah yang terbesar.
Contoh Aplikasi Konsep Analisis Biaya Volume Laba
Keputusan Penentuan Harga. Untuk membeikan gambaran
tentang penerapan konsep analisis hubungan biaya volume laba,
diasumsikan PT Lembah Tidar mengharapkan memiliki kinerja
laba untuk periode mendatang sebagai berikut:

Penjualan (1.600 unit@ Rp4.000.000)


Rp6.400.000.000,00
Dikuangi: Biaya-biaya variabel
Rp5.200.000.000,00
Marjin Kontribusi (contribution margin)
Rp1.200.000.000,00
Dikurangi: Biaya-biaya tetap
Rp900.000.000,00
Laba sebelum pajak
Rp300.000.000,00
Perusahaan telah melakukan riset pasar yang menghasilkan tiga
kemungkinan sebagai berikut: (1) jika biaya advertensi dinaikan
sebesar Rp80.000.000,00 maka penjualan akan naik dari 1.600
unit menjadi 1.850 unit; (2) jika harga jaul per unit diturukan
dari Rp4.000.000,00 per unit menjadi Rp3.950.000.000,00 per
unit maka penjualan akan meningkat dari 1.600 unit menjadi
1.900 unit; dan (3) jika harga perunit turun menjadi
Rp.950.000,00 dan biaya advertensi dinaikan sebesar
Rp80.000.000,00 maka penjualan akan naik dari 1.600 unit
menjadi 2.050 unit. Berdasarkan hasil riset tersebut perusahaan
harus memutuskan apakah perusahaan akan bertahan dengan
kondisi sekarang atau memilih salah satu dari tiga alternatif
tersebut. Jika alternatif ang ditawarkan menghasilkan tambahan
laba dibanding kondisi sekarang, maka tentunya alternatif baru
akan dipilih karena alternatif ada tiga macam maka akan dipilih
adalah alternatifyang menghasilkan tambahan laba yang paling
besar.
Untuk alternatif pertama bagaimana pengaruh terhadap laba
jika biaya advertensi naik sebesar Rp80.000.000,00 dan
penjualan naik sebesar 250 unit? Pertanyaan ini dapat dijawab
tanpa menggunakan persamaan namun cukup menggunakan
informasi majin kontribusi per unit. Dari data diatas dapat
diketahui bahwa majin kontribusi per unit adalah
Rp750.000.000,00 (Rp4.000.000 – Rp3.250.000) karena jumlah
unit yang terjual mengalami kenaikkan sebanak 250 unit maka
terjadi kenaikkan jumlah marjin kontribusi sebesar
Rp187.500.000,00 (250 unit x Rp750.000.000) biaya tetap
mengalami kenaikkan (berupa biaya advertensi) sebesar
Rp80.000.000 sehingga tambahan laba yang diperoleh adalah
sebesar Rp107.500.000 (Rp187.500.000 – Rp80.000.000)
perhitungan yang lebih rinci adalah sebagai berikut:
Kondisi Semula Alternatif 1
Unit terjual 1.600 unit 1.850 unit
Marjin kontribusi /unit x 750.000 x Rp750.000
Total marjin kontribusi 1.200.000.000 1.387.500.000
Dikurangi: Biaya tetap 900.000.000 980.000.000
Laba 300.000.000 407.500.000
Perhitungan Kenaikan Laba
Kenaikan volume penjualan 250 unit
Marjin kontribusi per unit x Rp750.000.000
Kenaikan marjin kontribusi Rp187.500.000
Dikurangi: kenaikan biaya tetap Rp80.000.000
Kenaikan laba Rp107.500.000
Untuk alternatif kedua, biaya tetap tidak mengalami perubahan.
Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan ini dilakukan
dengan melihat efek perubahan penjualan terhadap total marjin
kontribusi dengan harga sekarang sebesar Rp4.000.000 marjin
kontribusi per unit adalah Rp750.000 jika penjualan sebanyak
1.600 unit marjin kontribusinya adalah Rp1.200.000.000
(Rp750.000 x 1.600 unit) jika harga jual produk menjadi
Rp3.950.000 marjin kontribusi per unit juga mengalami
penurunan menjadi Rp700.000). Apabila dengan harga baru
perusahaan berhasil menjual sebanyak 1.900 unit, maka jumlah
marjin kontribusi yang baru adalah Rp1.330.000.000 (1.900 unit
x Rp700.000). Penurunan harga ini menaikkan laba sebanyak
Rp130.000.000 (Rp1.330.000.000 – Rp1.200.000.000).
perhitungan secara rinci adalah sebagai berikut:
• Kondisi Semula Alternatif 2
• Unit terjual 1.600 unit
1.900 unit
• Marjin kontribusi x Rp750.000
x Rp700.000
• Total marjin kontribusi Rp1.200.000.000
Rp1.330.000.000
• Dikurangi: Biaya tetap Rp900.000.000
Rp900.000.000
• Laba Rp300.000.000
Rp430.000.000

• Perhitungan Kenaikan Laba
• Marjin kontribusi baru
Rp1.330.000.000
• Marjin kontribusib mula-mula
Rp1.200.000.000
• Kenaikkan marjin kontibusi
Rp130.000.000
• Dikurangi: Biaya tetap
0,00
• Kenaikkan laba
Rp130.000.000
Untuk alternatif ketiga, disamping menurunkan harga jual, perusahaan
juga menaikkan biaya advertensi. Sama dengan alternatif pertama,
pengaruh alternatif ini terhadap laba dapat dihitung dengan melihat
efek kenaikkan marjin kontribusi dan biaya tetap. Perubahan laba
dapat dihitung dengan cara (1) menghitung kenaikan majin kontribusi,
(2) menghitung kanaikan biaya tetap, dan (3) menandingkan hasil
perhitungan 1 dan 2. Dengan tingkat penjualan sebanyak 1.600 unit,
marjin kontribusi marjin kontribusi yang diperoleh sebesar
Rp1.200.000.000. marjin kontribusi per unit yang baru adalah
Rp700.000.000 maka jumlah marjin kontribusi yyang baru adalah
Rp1.435.000.000 (Rp700.000 x 2.050 unit) namun untuk mencapai
kenaikkan marjin kontribusi tersebut perusahaan juga menaikkan biaya
tetap sebesar Rp80.000.000. dengan demikian secara agregat kenaikan
labanya adalah sebesar Rp155.000.000 perhitungan secara lebih rinci
adalah sebagai berikut:
• Kondisi Semula Alternatif 3
• Unit terjual 1.600 unit
2.050 unit
• Merjin kontribusi per unit x Rp750.000
x Rp700.000
• Total marjin kontribusi Rp1.200.000.000
Rp1.435.000.000
• Dikuranngi Biaya tetap Rp900.000.000
Rp980.000.000
• Laba Rp300.000.000
Rp455.000.000

• Perhitungan Kenaikan Laba
• Marjin kontribusi alternatif baru
Rp1.435.000.000
• Marjin kontribusi mula-mula
Rp1.200.000.000
• Kenaikan marjin kontribusi
Rp235.000.000
• Dikurangi Biaya tetap
Rp80.000.000
• Kenaikan laba
Rp155.000.000
Dari ketiga alternatif tersebut, ternyata ketiganya menghasilkan
tambahan laba. Kenaikan laba yanag paling besar dihasilkan oleh
alternatif yang ketiga yaitu sebesar Rp155.000.000. alternatif
pertama hanya menghasilkan tambahan laba sebesar
Rp107.500.000 dan alternatif kedua hanya mengasilkan
kenaikan laba sebesar Rp130.000.000. oleh karena itu
keputusan yang harus dibuat oleh manajemen adalah memilih
alternatif ke-3, yaitu menurunkan harga jual menjadi
Rp3.950.000 dan menaikan biaya advertensi karena alternatif ini
menghasilkan tambahan laba paling besar.
Perubahan dalam variabel laba. Untuk lebih mendalami konsep
hubungan biaya, volume, dan laba, terutama kemanfaatannya untuk
perencanaan dan pengambilan keputusan cermatilah ilustrasi berikut:
Ilustrasi 2
Berikut ini informasi yang dihimpun dari catatan akuntansi PT Semarak
Per Unit Presentase dari Penjualan
Harga jual``
Rp2.500.000 100%
Dikurangi Biaya-biaya variabel
Rp1.500.000 60%
Marjin kontribusi
Rp1.000.000 40%
Jumlah biaya tetap per bulan adalah Rp350.000.000. dengan
menggunakan data tersebut kita akan melihat efek perubahan dalam
biaya variabel, biaya tetap, harga jual, dan volume penjualan terhadap
kemampulabaan perusahaan.
Perubahan variebel biaya variebal dab volume penjualan. Dengan
menggunakan data diatas dan diasumsikan perusahaan saat ini
menjual produk sebanyak 400 unit per bualan manajer mengusulkan
untuk menggunakan komponen berkualiatas tinggi yang akan
menaikkan biaya variabel dan menurunkan marjin kontribusi sebesar
Rp100.000 per unit. Upaya tersebut akan menaikkan kualitas produk
dan diyakini akan meningkatkan penjualan sampai dengan 480 unit per
bulan. Untuk memutuskan apakah perusahaan menerima atau
menolak usulan ini analisis ang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
Jumlah marjin kontibusi yang diharapkan:
480 x Rp900.000 ........................................................Rp432.000.000
Jumlah marjin kontribusi saat ini 400 x Rp1.000.000 Rp400.000.000
Kenaikan marjin kontribusi .........................................Rp32.000.000
Perubahan biaya tetap
Dikurangi kenaikan biaya advertensi ......................Rp 0,00
Kenaikan laba ............................................................ Rp32.000.000
Perubahan dalam biaya tetap, harga jual, dan volume penjualan.
Dengan menggunakan data yang sama dan diasumsikan perusahaan saat
ini menjual produk sebanyak 400unit perusahaan ingin meningkatkan
penjualan dengan cara menurunkan harga jual sebesar Rp200.000 per unit
dan menaikkan biaya advertensi sebesar Rp100.000.000 per bulan
manajer tersebut merasa yakin jika kedua usulan tersebut diterima dan
dijalankan, penjualan akan meningkat 50% menjadi 600 unit per bulan.
Untuk memutuskan menerima atau menolak rencana ini analisis yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut:
Jumalah marjin kontribusi yang diharapkan:
600 x Rp800.000 .....................................................Rp480.000.000
Jumlah marjin kontribusi saat ini
400 x Rp1.000.000 ...................................................Rp400.000.000
Kenaikan marjin kontribusi ...................................................Rp80.000.000
Perubahan biaya tetap
Dikurangi Kenaikan biaya advertensi ................Rp100.000.000
Kenaikan laba ................................................................ Rp(20.000.000)
Berdasarkan analisis diatas maka usulan untuk menurunkan harga jual
sekaligus menambah pengeluaran biaya advertensi ditolak karena
usulan tersebut akan menurunkan laba perusahaan sebesar
Rp20.000.000 per bulan jika analisis dilakukan dengan menyusun
laporan laba/rugi maka rekomendasi yang diberikan akan tetap sama.
Lihat analisis beikut ini:
Kondisi Sekarang Kondisi yg diusulkan Selisih
Penjualan 1.000.000.000 1.380.000.000 380.000.000
Dikurang by. variabel 600.000.000 900.000.000 300.000.000
Marjin kontribusi 400.000.000 450.000.000 100.000.000
Dikurangi biaya tetap 350.000.000 450.000.000 100.000.000
Laba bersih 50.000.000 30.000.000 (20.000.000)
Perubahan dalam biaya variabel, biaya tetap, harga jual, dan volume
penjualan. Dengan menggunakan data yang sama dan diasumsikan
perusahaan saat ini menjual produk sebanyak 400 unit. Perusahaan
ingin meningkatkan penjualan dengan cara mengubah sistem insentif
aitu dengan menerapkan sistem komisisebesar Rp150.000.000 per unit
produk yang dijual dan menghapus sitem biaya gaji tetap sebesar
Rp60.000.000 per bulan. Manajer tersebut merasa yakin dengan
kebijakan ini penjualan akan meningkat 15% menjadi 460 unit
perbulan. Untuk memutuskan menerima atau menolak rencana ini
analisis yang harus dilakukan adalah sebagai beikut:
Pengubahan system insentif akan berakibat pada biaya tetap
dan biaya variable. Biaya tetap akan turun sebesar Rp 60.000.000 dari
Rp 350.000.000 menjadi Rp 290.000.000. Biaya variable per unit akan
mengalami kenaikan sebesar Rp 150.000,00 dari Rp 1.500.000
menjadi Rp 1.650.000 dan marjin kontribusi per unit turun dari
Rp1.000.000 menjadi Rp 850.000.
Jumlah marjin kontribusi yang diharapkan:
460 x Rp850.000 …………………………………… Rp391.000.000
Jumlah marjin kontribusi saat ini:
400 x Rp1.000.000 ……………………………………400.000.000
Kenaikan marjin kontribusi ……………………………… Rp (9.000.000)
Perubahan biaya tetap:
Dikurang: penurunan biaya gaji ………………… 60.000.000
Kenaikan laba …………………………………………… Rp 51.000.000

Berdasarkan analisis diatas, maka usulan untuk mengubah


kebijakan insentif karyawan penjualan dari system gaji tetap menjadi
system komisi diterima, karena usulan tersebut akan menaikan laba
perusahaan sebesar Rp51.000.000,00 per bulan. Jika analisis dilakukan
dengan menyususn laporan laba/rugi, maka rekomendasi yang di
berikan akan tetap sama. Agar lebih jelas, cermatilah analisis berikut.
Kondisi Sekarang Kondisi yg diusulkan Selisih
Penjualan 1.000.000.000 1.150.000.000 150.000.000
Dikurang by. variabel 600.000.000 759.000.000 159.000.000
Marjin kontribusi 400.000.000 391.000.000 (9.000.000)
Dikurangi biaya tetap 350.000.000 290.000.000 60.000.000
Laba bersih 50.000.000 101.000.000 (51.000.000)
Perubahan dalam harga jual regular. Dengan menggunakan data yang
sama dan diasumsikan perusahaan saat ini menjual produk sebanyak 400
unit, perusahaan memiliki peluan untuk meningkatkan penjualan sebesar
150 unit kepada distributor khusus jika perusahaan bersedia memasang
harga khusus, penjualan ini tidak akan berpengaruh terhadap penjualan
regular perusahaan. Berapa harga yang harus di bebankan kepada
distributor tersebut jika perusahaan mengharapkan kenaikan laba bulanan
sebesar Rp30.000.000?

Biaya variabel per unit ……………………………..……………Rp1.500.000


Laba yang diinginkan per unit :
Rp30.000.000 : 150 unit………………………….. 200.000
Harga jual per unit ………………..……………………… Rp1.700.000

Dalam analisis diatas, komponen biaya tetap tidak dimasukkan karena


biaya tetap tidak dipengaruhi oleh penjualan khusus ini, sehingga seluruh
tambahan pendapatan diatas biaya variabel akan menambah laba
perusahaan secara keseluruhan. Jenis keputusan ini biasanya dibuat untuk
memanfaatkan kapasitas perusahaan yang menganggur. Jika perusahaan
memiliki kapasitas menganggur, maka biaya tetap menjadi bersifat tidak
relevan, sahingga tidak perlu di pertimbangkan atau di perhitungkan
dalam analisis.
Pendekatan Pendapatan Penjualan
Kadang-kadang, ketika menggunakan analisis biaya volume laba,
manajer lebih suka menggunakan pendekatan pendapatan
penjualan. Pada dasarnya pendekatan unit terjual dapat
dikonversi menjadi pendapatan penjualan cukup dengan
mengalihkan hasilnya dengan harga jual per unit. Dalam ilustrasi
diatas (PT Pangandaran), untuk mencapai titik impas,
perusahaan harus menjual produk sebanyak 60 unit. Umtuk
memnghitungpendapatan penjualan pada titik imas, hasil
perhitungan dengan pendekatan unit terjual (60 unit) dikalikan
dengan harga jual per unit (Rp4.000.000,00) umtuk
menghasilkan angka Rp240.000.000,00. Selain itu, perhitungan
pendapatan penjualan dapat pula di hitung secara langsung
dengan menggunakan rumus khusus. Dengan demikian, prinsip
perhitungannya sebenanya sama, namun angka yang dicari
adalah angka total pendapatan penjualan.
Rumus untuk menghitung pendapatan penjualan menggunakan
variabel-variabel sebagai berikut:

R = PX (Harga x jual unit terjual)


Vr = (V/P) atau (Biaya Variabel/Penjualan
F = Total Biaya Tetap
I = Laba sebelum pajak
Variabel R adalah pendapatan penjualan. Dengan demikian,
untuk menghitung laba sebelum pajak (I) dapat digunakan
persamaan sbagai berikut:
I = R – vr(R) – F
I = (1 – vr)R – F
(1 – vr)R = F+1
F+1
R =
1−vr
Parameter (1 – vr) dalam rumus ini di sebut rasio marjin
kontribusi (CM ratio). Perhitungan rasio marjin kontribusi dapat
pula di hitung dengan rumus yang telah dibahas pada sesi
sebelumnya, yaitu dengan membagi marjin kontribusi dengan
pendapatan penjualan. Hasil perhitungannya dapat dinyatakan
dalam presentase (jika dikalikan dengan 100%) atau dalam
bentuk angka desimal.
Dibandingan dengan pendekatan unit terjual, ada dua
perbedaan mendasar, yaitu:
1. Aktivitas penjualan dalam pendekatan ini bermakna
pendapatan penjualan, sedangkan dalam pendekatan pertama
disebut dengan unit terjual.
2. Biaya variabel dalam pendekatan ini diartikan sebagai angka
presentase biaya terhadap penjualan.
Dengan menggunakan data pada ilustrasi 1, berapakah
pendapatan penjualan pada titik Impas? Dan berapakah
pendapatan penjualan (R) apabila diinginkan laba sebelum pajak
sebesar Rp60.000.000,00? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, maka variabel yang tersedia dalam data pertama-tama
harus di ubah dulu kedalam variabel yang akan dimasukkan ke
dalam rumus. Dari data yang ada, maka rasio biaya variabel
terhadap penjualan adalah 0,8125
Rp(325.000.000/400.000.000), dan jumlah biaya tetap (F) adalah
Rp45.000.000,00 dengan demikian, maka CM ratio-nya adalah
0,1875 (1– 0,8125 atau 75.000.000/400.000.000).
Titik impas. Dengan menggunakan rumus diatas, penjualan
pada titik impas (I = 0) dapat dihitung sebagai berikut:
R = (F + 1)/(1-vr)
= (Rp45.000.000 + 0)/ 0,1875
= Rp240.000.000,00
Dengan demikian, untuk mencapai titik impas, perusahaan
harus dapat menghasilkanpendapatan penjualan sebesar
Rp240.000.000.
Target Laba. Untuk menjawab pertanyaan berapa jumlah
pendapatan penjualan agar perusahaan memperoleh laba
sebelum pajak sebesar Rp60.000.000 dapat digunakan rumus
dan cara perhitungan yang sama, yaitu:
R = (F + 1)/(1 – vr)
= (Rp45.000.000 + 0)/ 0.1875
= Rp560.000.000,00
Dengan demikian, perusahaan harus menghasilkan pendapatan
penjualan sebesar Rp560.000.000,00 agar diperoleh laba
sebelum pajak sebesar Rp60.000.000. karena kondisi impas
tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp240.000.000 maka
perusahaan harus mampu menghasilkan pendapatan penjualan
senilai Rp320.000.000,00 (Rp560.000.000 – Rp240.000.000)
diatas titik impas. Dengan mengalihkan kelebihan penjualan ke
atas titik impas dengan rasio marjin kontribusi, maka akan
didapat angka laba sebelum pajak (0.1875 x Rp320.000.000 =
Rp60.000.000). Diatas titik impas, rasio marjin kontribusi adalah
rasio laba. Dengan fakta tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa setiap rupiah penjualan diatas titik impas akan
menaikkan laba sebesar Rp0,1875.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika jumlah biaya tetap tidak
berubah. Jika jumlah biaya tetap tidak berubah, maka rasio
marjin kontribusi dapat digunakan untuk menghitung kenaikan
laba karena adanya kenaikan dalam penjualan. Perhitungan total
perubahan laba dapat dilakukan dengan mengalihkan angka
rasio marjin kontribusi dengan kenaikan penjualan. Jika
penjualan diatas hanya sebesar Rp540.000.000 bagaimana
pengaruhnya terhadap laba? Penurunan penjualan sebesar
Rp20.000.000 menyebabkan penurunan laba sebesar
Rp3.750.000,00 (0,1875 x Rp20.000.000).
D. ANALISIS BEBERAPA PRODUK

Analisis ini digunakan kalau perusahaan membuat dan menjual


lebih dari satu produk. Analisis dapat dilakukan dengan
pendekatan unit terjual maupun pendekatan pendapatan
penjualan. Untuk pendekatan pertama, cara perhitungannya
agak berbeda disbanding analisis untuk produk tunggal,
sedangkan pada pendekatan kedua, cara perhitungannya yang
dilakukan sama. Agar lebih jelas cermatilah ilustrasi berikut ini!
Ilustrasi 3:
Perusahaan merencanakan menjual 2 macam produk yaitu
produk A dengan harga jual perunit Rp400.000,00 dan produk B
dengan harga jual per unit Rp800.000,00. Departemen
pemasaran merasa yakin bahwa untuk tahun depan mampu
menjual produk A sebanyak 1.200 unit dan produk B sebanyak
800 unit. Berikut ini adalah proyeksi lapora rugi-laba (projected
or pro-forma income statement) yang dibuat oleh bagian
akuntansi atas dasar peramalan penjualan.
Produk A Produk B Total
Penjualan 480.000.000 640.000.000 1.120.000.000
By Variabel 870.000.000
Contribution 390.000.000 480.000.000 250.000.000
Margin 90.000.000 160.000.000 70.000.000
Biaya tetap langsung 180.000.000
Product Margin 30.000.000 40.000.000
Biaya tetap bersama 60.000.000 120.000.000 26.250.000
Lama sebelum pajak 153.750.000
Pendekat an Unit Terjual
Menejemen perusahaan ingin mengetahui bahwa dengan menambah
produk baru, yaitu produk B berapakan jumlah masing-masing produk
yang harus taerjual agar tercapai titik impas?. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, salah satu respon yang dapat diberikan adalah
dengan menggunakan persamaan dasar penghutungan unit terjual pada
titik impas yaitu X = (F + I)/(P – V) dengan asumsi laba atau I = 0. Rusmus
ini sepintas dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, meskipun
rumus ini merupakan rumus untuk produk tunggal. Dalam kasus ini ada 2
produk, sehingga ada 2 marjin kontribusi. Marjin kontribusi per unit untuk
produk A adalah Rp75.000,00 dan marjin kontribusi per unit untuk produk
B adalah Rp200.000,00. Jika rumus tersebut digunakan, maka perhitungan
titik impas akan dihitung sendiri-sendiri per jenis produk, yaitu sebagai
berikut:
Produk A:
X = (F + I)/(P – V)
= (Rp30.000.000 + Rp0)/(Rp75.000)
= 400 unit

Produk B:
X = (F + I)/(P – V)
= (Rp40.000.000 + Rp0)/(Rp200.000)
= 200 unit
Dari perhitungan tersebut, seolah-olah untuk mencapai titik
impas perusahaan harus menjual pruduk A sebanyak 400 unit
dan produk B sebanyak 200 unit. Namun ternyata dalam
perhitungan tersebut, biaya tetap yang di perhitungkan hanya
biaya tetap langsung saja, sedangkan biaya tetap bersama belum
diperhitungkan. Jika perusahaan benar-benar menjual produk A
sebanyak 400 unit dan produk B sebanyak 200 unit, niscaya
perusahaan akan menderita rugi sebanyak jumlah biaya tetap
bersama. Kesimpulannya, rumus ini tidak cocok digunakan untuk
melakukan analisis kasus ini., karena rumus tersebut adalah
rumus untuk produk tunggal. Jika rumus tersebut dipaksakan
untuk dipakai, maka dihasilkan angka yang tidak akurat dan
bahkan menyesatkan. Agar biaya bersama ini dapat dimasukkan
dalam rumus perhitungan, maka biaya ini harus dialokasikan
lebih dulu
Pendekatan Pendapatan Penjualan
Untuk memberikan gambaran tentang bagaimana penerapan
pendekatan pedapatan penjualan untuk beberapa produk, maka kita
tetap akan menggunakan data diatas, namun hanya informasi
penjualan dan biaya total saja yang diperlukan.

Penjualan Rp1.120.000.000
Biaya variabel 870.000.000
Contribution Margin Rp 250.000.000
Biaya tetap 96.250.000
Laba sebelum pajak Rp 153.750.000

Data tersebut diambil dari ilustrasi 3 di atas dengan asumsi bauran


penjualannya sama, yaitu 3:2. Pendekatan pendapatan penjualan
menggunakan asumsi bauran tersebut sebagai dasar analisis biaya
volume laba. Dengan pendekatan ini, maka kita tidak perlu
menghitung paket CM, namun cukup menghitung CM ratio gabungan.
Jika perusahaan ingin mengetahui berapakah pendapatan penjualan
yang harus dihasilkan jika perusahaan ingin mencapai titik impas,
maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
1. Menghitung CM ratio atau (1 – vr) gabungan

𝐌𝐚𝐫𝐠𝐢𝐧 𝐊𝐨𝐧𝐭𝐫𝐢𝐛𝐮𝐬𝐢
CM Ratio =
𝐏𝐞𝐧𝐣𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧
𝟐𝟓𝟎.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎𝟎
CM Ratio =
𝟏.𝟏𝟐𝟎.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎𝟎
CM Ratio = 0,2232142857143
2. Menghitung Tingkat Penjualan Pada Titik Impas
R = (F + l)/(1 – vr)
= (Rp96.250.000 + 0)/ 0,2232
= Rp431.200.000,00
Perhitungan tersebut secara implisit menggunakan asumsi bauran
penjualan 3 : 2 namun mengabaikan perhitungan paket CM, karena
data produk secara individu tidak diperlukan dalam pendekatan ini.
Cara perhitungannya sama dengan perhitungan pada konsisi produk
tunggal dan hasilnya ditunjukan dalam satuan rupiah. Dengan teknik
ini, maka berapa pun jenis produk yang dibuat oleh perusahaan, cara
perhitungannya sama saja, karena hasil perhitungannya berupa angka
tunggal. Dengan demikian, pendekatan ini sama sekali tidak
membutuhkan informasi rinci tentang kinerja masing – masing jenis
produk.
SEKIAN
&
TERIMAKASIH