Anda di halaman 1dari 48

GLOMERULONEFRITIS

AKUT PASCA
STREPTOKOKUS

Oleh :
dr. Brenda Ruth Panjaitan
Pendamping :dr. Sastera Budi
• Glomerulonefritis Akut Pasca
Streptokokus (GNAPS) : Sindrom
nefritik yang ditandai dengan onset
tiba-tiba hematuria, edema, hipertensi,
DEFINISI dan penurunan fungsi ginjal.
• Gejala-gejala ini timbul setelah infeksi,
umumnya oleh kuman streptokokus β-
hemolitikus grup A di saluran nafas atas
atau di kulit.
EPIDEMIOLOGI

• GNAPS paling sering menyerang anak usia sekolah


(5-12 tahun) dan jarang menyerang anak usia kurang
dari 3 tahun. Laki-laki lebih sering daripada
perempuan dengan perbandingan 2:1.
ETIOLOGI

Serotipe terbanyak pada Faringitis :


1,3,4,12,25,49
Serotipe terbanyak pada piodermi :
2,49,55,57,60
PATOGENESIS
 GNAPS termasuk penyakit kompleks imun.
2 bentuk antigen yang berperan pada GNAPS yaitu :

1. Nephritis associated plasmin 2. Streptococcal pyrogenic


receptor (NAPℓr) exotoxin B (SPEB)
Antigen nefritogenik ini dapat SPEB merupakan antigen
ditemukan pada jaringan hasil nefritogenik yang dijumpai
biopsi ginjal pada fase dini
penderita GNAPS. Dapat
bersama – sama dengan
meningkatkan proses inflamasi IgG komplemen (C3)
yang pada gilirannya dapat sebagai electron dense
merusak membran basalis deposit subepithelial yang
glomerulus dikenal sebagai HUMPS.
Glomerulonefritis akut
dimediasi oleh proses
imunologik.

Terlokalisir di dinding kapiler


glomerulus dan mengaktivasi
sistem komplemen.

Sistem imun mungkin juga


diaktivasi oleh antigen
steptokokal yang menempel ke
struktur glomerulus dan
berperan sebagai “planted
antigen” atau dengan perubahan
antigen endogen
PATOFISIOLOGI

sedangkan aliran
Reaksi radang pada filtrasi glomeruli darah ke ginjal
glomerulus berkurang biasanya normal

filtrasi fraksi
berkurang sampai di
bawah 1%

reabsorbsi di tubulus distalis


retensi Na dan air. tubulus proksimalis meningkatkan
berkurang proses
reabsorbsinya
MANIFESTASI KLINIK
 Tanda kardinal :

1. Hematuria dengan urin


berwarna teh/cucian
daging tanpa disertai
disuria
2. Edema terutama
periorbital dan dapat
juga seluruh tubuh,
Urin pada GNAPS. Berwarna teh tua.
3. Hipertensi
4. Oliguria / anuria.
Pemeriksaan Laboratorium

 Proteinuria : negatif sampai dengan ++, jarang terjadi


sampai dengan +++
 Hematuria mikroskopik
 Peningkatan titer ASTO
 Aktivitas komplemen : kadar C3 menurun
 Laju endap darah : LED umumnya meninggi pada fase
akut dan menurun setelah gejala klinik menghilang
DIAGNOSIS
 Diagnosis secara klinis
GNAPS dapat ditegakkan:
1. Gross hematuria
2. Edema
3. Hipertensi
4. Penurunan fungsi ginjal
5. Bukti infeksi strptokokus
sebelumnya
6. C3 serum yang rendah.
Diagnosis Banding

 Penyakit ginjal : Glomerulonefritis kronik eksaserbasi


akut, glomerulonefritis fokal, nefritis herediter
(sindrom Alport), Rapidly progressive glomerulonefritis
(RPGN)
 Penyakit-penyakit sistemik : purpura Henoch-
Schöenlein, eritematosus dan endokarditis bakterial
subakut
Penatalaksanaan

1. Tirah Baring
2. Diet : Bila edema berat, diberikan makanan tanpa garam,
sedangkan bila edema ringan, pemberian garam dibatasi
sebanyak 0,5-1 g/hari. Protein dibatasi bila kadar ureum
meninggi, yaitu sebanyak 0,5-1 g/kgbb/hari
3. Antibiotik : golongan penisilin diberikan untuk eradikasi
kuman, yaitu Amoksisilin 50 mg/kgbb dibagi dalam 3 dosis
selama 10 hari. Jika terdapat alergi terhadap golongan
penisilin, dapat diberi eritromisin dosis 30 mg/kgbb/hari.
 Simptomatik :
a. Bendungan sirkulasi
Bila terjadi edema berat atau tanda-tanda edema paru akut,
harus diberi diuretik, misalnya furosemide. Bila tidak
berhasil, maka dilakukan dialisis peritoneal.
b. Hipertensi
Pada hipertensi ringan dengan istirahat cukup dan
pembatasan cairan yang baik.
 Pada hipertensi sedang atau berat tanpa tanda-tanda
serebral dapat diberi kaptopril (0,3-2 mg/kgbb/hari) atau
furosemid atau kombinasi keduanya
 Pada hipertensi berat atau hipertensi dengan gejala
serebral (ensefalopati hipertensi) dapat diberi klonidin
(0,002-0,006 mg/kgbb) yang dapat diulangi hingga 3 kali
atau diazoxide 5 mg/kgbb/hari secara intravena (I.V).
Kedua obat tersebut dapat digabung dengan furosemid (1
– 3 mg/kgbb).
KOMPLIKASI
 1. Ensefalopati hipertensi (EH).
 2. Gangguan ginjal akut (Acute kidney injury/AKI)
 3. Edema paru
 4. Posterior leukoencephalopathy syndrome
PROGNOSIS
 Penyakit ini dapat sembuh sempurna dalam waktu 1-2
minggu bila tidak ada komplikasi, sehingga sering
digolongkan ke dalam self limiting disease.
 Pada anak 85-95% kasus GNAPS sembuh sempurna,
sedangkan pada orang dewasa 50-75% GNAPS dapat
berlangsung kronis, baik secara klinik maupun secara
histologik atau laboratorik
LAPORAN KASUS
 IDENTITAS PASIEN
 Nama : An. Z
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Usia : 11 tahun
 Alamat : Jalan Teladan Baru
 Agama : Islam
 No. Rekam Medis : 077683
 Masuk rumah sakit : 3 April 2019
ANAMNESIS
• Keluhan utama:
Demam serta BAK lebih sedikit sejak 5 hari SMRS

Berobat ke IGD
RSUD TOBOALI

1 bulan SMRS 5 hari SMRS


Os mengeluh demam terus- 1 hari SMRS
Os demam yang tidak menerus disertai BAK yang Os mengatakan
terlalu tinggi, batuk, lebih sedikit. Os mengaku BAK sedikit 2-3
pilek. Os mengatakan BAK tampak lebih gelap dari kali sehari, ± 1/4
nyeri pada waktu biasanya. Os mengatakan gelas per kali. Os
menelan. Saat itu os kelopak mata bengkak dan di tidak merasakan
berobat ke puskesmas adanya sakit di
rasa berat saat pagi hari yaitu
diberikan syrup sekitar pinggang
saat bangun tidur dan
(dexamethason + ctm) atau nyeri saat
tampak agak berkurang saat
dan mengalami berkemih.
perbaikan.
siang hari.
Riwayat Penyakit Dahulu
 Pasien tidak pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya. Tidak
pernah bengkak dan kencing merah.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


• Riwayat penyakit dalam keluarga serupa (-), dalam keluarga tidak ada

anggota keluarga yang menderita penyakit ginjal.


Riwayat Alergi, Operasi dan Pengobatan
• Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat, atau alergi makanan.

Pasien tidak pernah menjalani operasi.


Riwayat Kelahiran (Birth History)
 Pasien lahir dengan persalinan normal, ditolong oleh bidan. Berat badan lahir 3000 gram, ibu
pasien lupa panjang badan pasien ketika lahir. Ketika lahir langsung menangis, ibu mengaku
tidak ada kelainan saat setelah bersalin
.

Riwayat kehamilan
• Kontrol rutin sebulan sekali ke bidan dekat rumah. Riwayat ibu demam
(-), hipertensi (-), diabetes melitus (-), anemia (-).

Riwayat imunisasi
• Pasien mendapat imunisasi dasar lengkap sesuai dengan jadwal.
Imunisasi dilakukan di puskesmas dekat rumah.
 Riwayat Makanan dan Minuman :
 Umur 0 – 6 bulan : anak mendapat ASI sesuai kemauan
anak
 Umur 7-12 bulan : anak mendapat makanan pendamping
ASI banyak sesuai keinginan anak tiga kali sehari.
 Umur 1-2 tahun : anak mendapat nasi lembek sesuai
keinginan anak.
 Umur 3-sekarang : anak mendapatkan makanan seperti
nasi dan lauk-pauk tiga kali sehari jarang makan sayur.
 Kesimpulan : kualitas dan kuantitas makanan cukup
 Riwayat Imunisasi :
Jenis I II III Ulangan

BCG 
DPT    
Polio    
Hepatitis
  
B
Campak  

Kesimpulan : Riwayat imunisasi dasar anak lengkap, tetapi ibu


lupa waktunya.
 Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :
 Tengkurap :4 bulan
 Merangkak :6 bulan
 Duduk :7 bulan
 Berdiri :9 bulan
 Berjalan :12 bulan
 Saat ini : Pasien Sekarang duduk dikelas 4 SD,
tidak ada masalah dengan pelajaran dan menerima
pelajaran dengan baik.
 Kesimpulan : Riwayat tumbuh kembang pasien baik sesuai
usianya
Riwayat Keluarga :

Ayah Ibu
Nama Tn.J Ny.E
Umur 36 tahun 33 tahun
Pendidikan SMP SMP
Pekerjaan Tukang IRT
Perkawinan I I
Penyakit yang Tidak ada Tidak ada
pernah di derita
Saudara Umur Keadaan
kandung sekarang
1. Farah 8 tahun Sehat

2. Abdul 3 tahun Sehat


Pemeriksaan Fisik

 Keadaan umum : sakit  Berat Badan : 32 kg


sedang  Tinggi Badan : 140 cm
 Kesadaran : CM
 BB/TB : 16,32
 Tekanan darah :140/100
 Status Gizi :gizi baik
mmHg
 Frekuensi nadi : 82x/m  Anemia : tidak ada
 Frekuensi nafas : 20x/m  Sianosis : tidak ada
 Suhu : 37,6ᴼC
 Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran KGB
 Kepala : normocephali
 Rambut : tidak mudah rontok
 Mata :Konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik, edema palpebra minimal (+ / +)
 Telinga : Tidak ada sekret, nyeri tekan tragus
- / -, nyeri tekan mastoid - / -
 Hidung : Nafas cuping hidung tidak ada, tidak
ada sekret.
 Tenggorok : tidak hiperemis pada mukosa bucal,
tonsil dan dinding faring, ukuran tonsil T3-T3
 Gigi dan mulut : tidak ada karies
 Leher :JVP 5-2cmH2O, tidak ada
pembesaran KGB
 Paru :
Inspeksi : simetris kiri dan kanan
Palpasi : fremitus sama kiri dan kanan
Perkusi : sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler, rh(-/-), wh(-/-)
 Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi :ictus cordis teraba 1 jari di linea
midklavikula sinistra pada IC 5
 Perkusi :
Batas kiri :1 jari IC 5 linea midklavikularis sinistra
Batas kanan : IC 4 linea parasternalis dextra
Batas pinggang : IC 3 linea parasternalis sinistra
Batas atas : IC 2 linea sternalis sinistra
 Auskultasi : Irama jantung reguler, bising tambahan(-)
 Abdomen :
Inspeksi : distensi tidak ada
Palpasi : nyeri tekan dan nyeri lepas (-), hepar dan lien
tidak teraba, ascites (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : BU (+) normal
 Anggota gerak : superior : akral hangat, edema (-/-),
sianosis (-/-), CRT<2 detik
 Inferior : akral hangat, pitting edema pada tungkai (-/-) ,
sianosis (-/-), CRT <2 detik
 Reflek fisiologis : ( +/+ )
 Reflek patologis : ( -/- )
 Pemeriksaan Laboratorium

 Pemeriksaan kimia darah (3 April 2019)

Nama Test Hasil Unit Nilai Rujukan

Ureum 36 mg/dl 33 – 43

Kreatinin 0,7 mg/dl 0,5 – 1,2

Bilirubin Total 0,48 mg/dl <1,2

Bilirubin Direk 0.04 mg/dl 0 – 0,35

Protein Total 7,2 g/dl 6,4-8,3

Albumin 3,1 g/dl 3,4-5,2


Pemeriksaan Urinalisis ( 3 April 2019)
a) Fisis :
c) Kimia urin
 Warna : Kuning
 Protein : +++
 Kekeruhan : Jernih
 Glukosa : -
b) Sedimen
 Bilirubin : -
 Eritrosit :-
 Urobilinogen : Normal
 leukosit :-
 Benda keton : -
 silinder :
 pH : 5,0
 hialin :-
 Nitrit : -
 granuler : -
 Darah : +++
 eri/leuko : -
 Berat Jenis : 1.030
 Epitel :-
 Leukosit : -
 Kristal :-
 Oval fat bodies : -
 Bakteri :-
 Jamur :-
Pemeriksaan serologi
 ASTO : tidak dilakukan
 CRP : tidak dilakukan

Diagnosis :
 Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus (GNAPS)

Diagnosis Banding :
 Sindroma Nefrotik
Penatalaksanaan

 Suportif
 Tirah baring
 Makanan biasa dengan diet nefritis :
 Energi : 1600 kkal/hari
 Diet rendah garam dan protein
 Medikamentosa
Pasang threeway
Ampicillin inj 4x200mg
Gentamicin inj 1 x 160mg (24 jam)
Captopril 2 x 1 12,5 mg
Nifedipin 10mg ( >99mmHg) 1 x 1/3tab
Lasix 2 x 15 mg
PCT 3 x 500mg
Follow Up
Tanggal Subjektif Objektif Assessment Planning
04/04/2 Demam (+), keadaan umum :tampak sakit GNAPS Diet makanan
019 bengkak sedang, kesadaran : compos mentis biasa nefritis
minimal TD= 120/80 mmHg, Nd= 1600kal (rendah
pada 98x/menit, reguler, Nf= 30x/menit, protein rendah
palpebra, Suhu= 37,8C. garam )
batuk (-), Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera Ampicillin 4x
muntah (-), ikterik -/-, edem palpebra +/+ 200mg
sesak nafas Tenggorokan: faring tidak Gentamicin
(-), sakit hiperemis, T3-T3 1x160mg
kepala (-), Mulut: mukosa lembab Captopril 2x
BAB dan Paru :vesikuler +/+, rhonki -/- 12,5 mg
BAK (+) wheezing -/- Nifedipin 1 x
Jantung : bunyi jantung I & II 1/3tab
normal, murmur (-), gallop (-) Lasix 2x 15 mg
Abdomen: datar, lemas, hepar lien PCT 3x500mg
tidak teraba, BU(+) N, asites (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT<
3” edema (-/-)
Follow Up
Tanggal Subjektif Objektif Assessment Planning
05/04/2 Demam (+), keadaan umum :tampak sakit GNAPS Diet makanan
019 bengkak sedang, kesadaran : compos mentis biasa nefritis
minimal TD= 120/80 mmHg, Nd= 1600kal (rendah
pada 98x/menit, reguler, Nf= 30x/menit, protein rendah
palpebra, Suhu= 37,8C. garam )
batuk (-), Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera Ampicillin 4x
muntah (-), ikterik -/-, edem palpebra +/+ 200mg
sesak nafas Tenggorokan: faring tidak Gentamicin
(-), sakit hiperemis, T3-T3 1x160mg
kepala (-), Mulut: mukosa lembab Captopril 2x
BAB dan Paru :vesikuler +/+, rhonki -/- 12,5 mg
BAK (+) wheezing -/- Nifedipin 1 x
Jantung : bunyi jantung I & II 1/3tab
normal, murmur (-), gallop (-) Lasix 2x 15 mg
Abdomen: datar, lemas, hepar lien PCT 3x500mg
tidak teraba, BU(+) N, asites (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT<
3” edema (-/-)
Follow Up
Tanggal Subjektif Objektif Assessment Planning
06/04/2 Demam (+), keadaan umum :tampak sakit GNAPS Diet makanan
019 batuk (-), sedang, kesadaran : compos mentis biasa nefritis
muntah (-), TD= 120/80 mmHg, Nd= 1600kal (rendah
sesak nafas 98x/menit, reguler, Nf= 30x/menit, protein rendah
(-), sakit Suhu= 37,8C. garam )
kepala (-), Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera Ampicillin 4x
BAB dan ikterik -/-, edem palpebra -/- 200mg
BAK (+) Tenggorokan: faring tidak Gentamicin
hiperemis, T3-T3 1x160mg
Mulut: mukosa lembab Captopril 2x
Paru :vesikuler +/+, rhonki -/- 12,5 mg
wheezing -/- Nifedipin 1 x
Jantung : bunyi jantung I & II 1/3tab
normal, murmur (-), gallop (-) Lasix 2x 15 mg
Abdomen: datar, lemas, hepar lien PCT 3x500mg
tidak teraba, BU(+) N, asites (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT<
3” edema (-/-)
Follow Up
Tanggal Subjektif Objektif Assessment Planning
07/04/2 Lemas , keadaan umum :tampak sakit GNAPS Diet makanan
019 batuk (-), sedang, kesadaran : compos mentis biasa nefritis
muntah (-), TD= 100/80 mmHg, Nd= 1600kal (rendah
sesak nafas 98x/menit, reguler, Nf= 30x/menit, protein rendah
(-), sakit Suhu= 37,6C. garam )
kepala (-), Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera Ampicillin 4x
BAB dan ikterik -/-, edem palpebra -/- 200mg
BAK (+) Tenggorokan: faring tidak Gentamicin
hiperemis, T3-T3 1x160mg
Mulut: mukosa lembab Captopril 2x
Paru :vesikuler +/+, rhonki -/- 12,5 mg
wheezing -/- Nifedipin 1 x
Jantung : bunyi jantung I & II 1/3tab
normal, murmur (-), gallop (-) Lasix 2x 15 mg
Abdomen: datar, lemas, hepar lien PCT 3x500mg
tidak teraba, BU(+) N, asites (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT<
3” edema (-/-)
Follow Up
Tanggal Subjektif Objektif Assessment Planning
08/04/2 Tidak ada keadaan umum :tampak sakit GNAPS Diet makanan
019 keluhan, sedang, kesadaran : compos mentis biasa
muntah (-), TD= 120/80 mmHg, Nd= Boleh Pulang
sesak nafas 98x/menit, reguler, Nf= 30x/menit, PCT 3 X 500mg
(-), sakit Suhu= 37,8C. Kontrol ke Sp.A
kepala (-), Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera
BAB dan ikterik -/-, edem palpebra -/-
BAK (+) Tenggorokan: faring tidak
hiperemis, T3-T3
Mulut: mukosa lembab
Paru :vesikuler +/+, rhonki -/-
wheezing -/-
Jantung : bunyi jantung I & II
normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: datar, lemas, hepar lien
tidak teraba, BU(+) N, asites (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT<
3” edema (-/-)
DISKUSI

Temuan pada pasien Teori

Anamnesis :  GNAPS paling sering


menyerang anak usia sekolah
 Usia pasien adalah (5-12 tahun) dan jarang
11tahun menyerang anak usia kurang
dari 3 tahun. Laki-laki lebih
sering daripada perempuan
 Pasien mengalami infeksi dengan perbandingan 2:1.
radang tenggorokan
sekitar 1 bulan SMRS Umumnya GNAPS yang
didahului oleh ISPA ataupun
infeksi kulit/piodermi
Temuan pada pasein Teori

 Bengkak minimal pada  Edema paling sering terjadi


mata sejak ± 5 hari yang di daerah periorbital
lalu SMRS. (edema palpebra), disusul
daerah tungkai. Jika terjadi
 Bengkak muncul terutama retensi cairan hebat, maka
pagi hari dan menghilang edema timbul di daerah
sendirinya. perut (asites), dan genitalia
eksterna (edema
skrotum/vulva)
menyerupai sindrom
nefrotik.
Temuan pada pasien Teori

Pemeriksaan Fisik :  Hipertensi terdapat pada 60-


70% anak dengan GNAPS pada
 Ditemukan tanda yang hari pertama, kemudian pada
mencolok berupa akhir minggu pertama menjadi
normal kembali. Tekanan darah
hipertensi yaitu 140/100 yang tinggi akan menyebabkan
mmHg vasokonstriksi pembuluh darah
yang menuju otak dan
berakibat pada keluhan yang
dirasakan pasien yaitu
pusing/sakit kepala hebat.
Namun, keluhan sakit kepala
pada pasien ini bersifat ringan.
Temuan pada pasien Teori
Pemeriksaan laboratorium  Pada glomerulonefritis akut paska
 Urin
streptokokus, dapat dijumpai
adanya hematuria mikroskopis
Fisis : dengan ditemukannya sedimen
 Warna : Kuning eritrosit dan silinder hialin akibat
 Kekeruhan : Jernih terjadinya proses hemolisis sel
b) Sedimen darah merah dengan pembebasan
 Eritrosit : +++ hemoglobin yang kemudian diubah
menjadi hematin pada suasana urin
 Protein : +++
yang asam yang pada akhirnya
 leukosit :- membuat warna kencing tampak
 silinder : seperti air teh atau keruh seperti
 hialin :- cucian daging.
 granuler :-  Proteinuria: kerusakan membran
 eri/leuko :- kapiler ginjal.
Temuan pada pasein Teori
 Pengobatan GNAPS bersifat suportif.
 Penatalaksanaan Pasien disarankan untuk melakukan
tirah baring selama kurang lebih 3-4
 Tirah baring minggu selama fase akut.
 Selain itu, terapi GNAPS yang penting
adalah dengan membatasi asupan air
dan natrium dalam diet (diet nefritis).
Adapun tujuan diet ini adalah
meringankan kerja ginjal, menurunkan
ureum dan kreatinin darah, dan
menurunkan retensi natrium dan air
dalam tubuh dan agar pertumbuhan
secara optimal dengan prinsip Rendah
Protein Rendah Garam (RPRG).
Temuan pada pasien Teori

Makanan biasa  Energi diberikan lebih tinggi


dengan diet nefritis : dari kebutuhan normal
menjaga agar terjadi balans
 Energi : 1600 protein positif :
kkal/hari  anak 11-14th
4060kkal/kgBB/hari
 Protein : 30 gr/hari  Protein diberikan sesuai dengan
 Garam : 1 gr/hari keadaan ginjal, tidak melebihi 1-
2 gram/kgBB/hari
 Garam dikurangi bila ada
sembab, kurang dari 500
mg/hari. Bila sembab tidak ada,
dapat diberikan 1-2 gram/hari
Temuan pada pasien Teori

 Medikamentosa  Captopril dengan dosis 3 x


12,5 mg bertujuan untuk
Po : Ampicillin 4x200mg mengurangi jumlah aldosteron
yang sifatnya meretensi natrium
Gentamicin 1 x160mg dan air. Dengan adanya
Captopril 2 x 12,5 mg Captopril yang berperan
sebagai ACE inhibitor,
Nifedipin 1 x1/3tab pembentukan angiotensin
1menjadi angiotensin 2 akan
Lasix 2x 15 mg dihambat sehingga angiotensin
2 tidak akan mampu
menginduksi pembentukan
aldosteron dari korteks
adrenal.

Anda mungkin juga menyukai