Anda di halaman 1dari 14

OLEH :

ELLY SUSANTI (16130310117)


INDAH SRI LESTARI (16130310121)
DWI SETYOWATI (16130310132)
A. PENYAJIAN KEMBALI TINGKAT HARGA UMUM DARI LAPORAN
KEUANGAN BIAYA HISTORIS

Akuntansi biaya historis memiliki asumsi bahwa satuan moneter adalaah stabil atau
perubahan yang terjadi pada nilai dari satuan moneter adalah tidak material. Akan tetapi telah kita
ketahui bersama bahwa tingkat daya beli secara umum dari dolar telah terus menerus mengalami
penurunan. Tingkat daya beli umum, yang mengacu pada kemampuan dari satuan moneter untuk
membeli barang atau jasa memiliki hubungan terbaik dengan harga dari barang-barang atau jasa yang
menjadi pertukarannya.

Perubahan-perubahan dalam daya beli dari dolar dengan menggunakan angka-angka indeks.
Indeks harga adalah rasio dari harga rata-rata sekelompok barang atau jasa pada tanggal tertentu.
Dengan harga rata-rata dari kelompok barang atau jasa yang serupa di tanggal tertentu yang lain, yang
disebut sebagai tahun dasar.
Langkah – Langkah Untuk Menyajikan Kembali Jumlah Biaya
Historis Yang Terdapat Dalam Laporan Keuangan Tradisional
Ke Dalam Satuan-satuan Tingkat Daya Beli Umum :
1. Dapatkan satu kumpulan lengkap laporan keuangan biaya historis
2. Tentukan dan dapatkan satu indeks tingkat harga umum yang
dapat diterima dimana data dari angka-angka indeks yang ada
mampu mencakup umur dari pos tertua yang terdapat di dalam
neraca
3. Klasifikasi setiap pos di neraca sebagai pos moneter atau
nonmoneter
4. Lakukan penyesuaian terhadap pos-pos nonmoneter dengan
menggunakan satu faktor konversi untuk mencerminkan tingkat
daya beli umum saat ini
5. Hitunglah keuntungan dan kerugian tingkat daya beli umum
(tingkat harga umum) yang muncul dari kepemilikan atas pos-pos
moneter
B. MENYESUAIKAN POS-POS KHUSUS AKIBAT PERUBAHAN TINGKAT
HARGA UMUM
1. Perlakuan pos-pos moneter
Perhitungan keuntungan atau kerugian akibat tingkat harga umum
Jumlah pos-pos moneter adalah tetap jika dilihat dari nilai dolarnya, dengan
melihat kontrak ataupun sebaliknya, tanpa melihat perubahan yang terjadi didalam
tingkat haraga umum atau khusus.
karenanya, mengalami keuntungan atau kerugian daya beli karena terjadi perubahan
pada tingkat harga umum.
Lebih khusus lagi selama periode harga-harga mengalami kenaikan:
• Aktiva moneter kehilangan daya beli, yang diakui sebagai suatu kerugiantingkat
harga umum dan
• Kewajiban moneter mendapatkan daya beli, yang diakui sebagai suatu keuntungan
tingkat umum.

Selama periode dimana harga-harga mengalami penurunan:


• Aktiva moneter mendapatkan daya beli, yang diakui sebagai suatu keuntungan
tingkat harga umum dan
• Kewajiban moneter kehilangan daya beli, yang diakui sebagai suatu kerugian
tingkat harga umum.
Perlakuan atas keuntungan dan kerugian tingkat harga umum
1. Accounting Resarch Study No. 6, APB NO.3, dan Draf Eksprosur dari FASB dan CICA tentang
akuntansi tingkat harga umum mengambil posisi dengan menyatakan bahwa keuntungan atau
kerugian tingkat harga umum seharusnya dimasukkan ke dalam pendapatan berbelanja.
2. Hanya kerugian tingkat harga umum yang seharusnya dimasukkan kedalam pendapatan
berjalan,keuntungungan tingkat harga umum seharusnya diperlakukan sebagai pos modal.
3. Baik keuntungan maupun kerugian tingkat harga umum seharusnya diperlakukan sebagai pos
modal.
4. Baik keuntungan maupun kerugian ingkat harga seharusnya dimasukkan kedalam pendapatan
berjalan, dengan pengecualian bagi keuntungan dan kerugian yang berhubungan dengan keajiban
jangka panjang, yang seharusnya tidak muncul sampai mereka direalisasikan melalui penebusan
kembali obligasi.
5. Seluruh keuntungan dan kerugian tingkat harga umum seharusnya dimasukkan kedalam
pendapatan berjalan, dengan pengecualian bagi keuntungandan kerugian akibatn memasukkan
pos-pos ke dalam ekuitas pemegang saham (sebagai contoh, saham-saham preferent yang
memiliki karakteristik moneter).
2. Perlakuan pos-pos nonmoneter dan ekuitas pemegang saham
Pos-pos nonmoneter disajikan kembali menurut tingkat daya beli umum saat ini
dengan mengalikan biaya dari pos yang dilaporkan dalam laporan keuangan biaya
historis dengan faktor konversi berikut ini:
𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛
𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑘𝑒𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑝𝑜𝑠 𝑛𝑜𝑛𝑚𝑜𝑛𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ

Penyajian kembali ekuitas pemegang saham, dengan pengecualian untuk saldo laba
ditahan, adalah sama dengan penyajian nkembali pos-pos nonmoneter. Modal awal
yang diinvestasikanm akan dikalikan dengan faktor konversi berikut:
𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛
𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑘𝑒𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑑𝑖𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛
C. PEMBEDAAN MONETER-NONMONETER
NO MONETER NONMONETER
1 Saham preferen yang Saham preferen yang
dicatat dalam jumlah sama dicatat dalam jumlah yang
dengan nilai likuidasinya kecil daripada nilai
dalam jumlah tetap atau likuidasinya dalam jumlah
harga kembali menjadi tetap menjadi nonmoneter
moneter
2 Tidak diklasifikasi pajak Pengklasifikasian pajak
penghasilan tangguhan penghasilan tangguhan
NO MONETER NONMONETER
3 Mata uang asing dianggap Mata uang asing yang
serupa dengan pos-pos dianggap sebagai
mata uang domestik, maka komoditas, maka
mereka adalah pos-pos merupakan pos
moneter. nonmoneter.
4 Utang jangka panjang Utang jangka panjang
dalam mata uang asing dalam mata uang asing
dinyatakan dengan dinyatakan dengan
menggunakan kurs menggunakan kurs historis.
penutupan.
5 Utang yang dapat Utang yang dapat
dikonversi ketika harga dikonversi ketika harga
pasar dari saham berada di pasar dari saham berada
bawah harga konversi. pada atau diatas harga
konversi.
D. INDEKS-INDEKS TINGKAT HARGA
1. Rumus-rumus indeks
• Rumus Laspeyres mengasumsikan bahwa indeks harga adalah suatu
jumlah tertimbang dari harga-harga periode berjalan dibagi dengan
jumlah tertimbang dari harga-harga periode dasar, di mana
pembobotnya adalah jumlah komuditas pada periode dasar.
• Rumus Paasche mengasumsikan bahwa indeks harga adalah suatu
jumlah tertimbang dari harga-harga periode berjalan dibagi dengan
jumlah tertimbang dari harga-harga periode dasar, di mana
pembobotnya adalah jumlah komuditas dari periode berjalan.
• Rumus Bobot Tetap mengasumsikan bahwa indeks harga adalah
suatu jumlah tertimbang dari harga-harga periode berjalan dibagi
dengan jumlah tertimbang dari harga-harga periode dasar, di mana
pembobotnya adalah jumlah komuditas rata-rata periode.
• Rumus Fisher mengasumsikan bahwa indeks harga adalah suatu rata-
rata geometrik dari rumus Laspeyres dan Paasche.
2. Pilihan indeks tingkat harga umum
• Indeks harga konsumen, yang dikeluarkan oleh biro
statistik tenaga kerja dari departemen tenaga kerja A.S
• Indeks harga grosir, yang dikeluarkan oleh biro statistik
tenaga kerja dari departemen tenaga kerja AS
• Indks biaya konstruksi kompisit, yang dikeluarkan oleh
divisi industri kontruksi, jasa administrasi bisnis dan
peertahanan dari departemen perdagangan AS
• Deflator harga implisist PNB (produk nasional bruto)
yang dikeluarkan oleh kantor ekonomi bisnis dari
departemen perdagangan AS
E. Evaluasi Akuntansi Tingkat Harga Umum
1. Argumentasi yang mendukung akuntansi tingkat harga
umum
 Laporan keuangan yang tidak disesuaikan dengan perubahan tingkat harga umum,
meliputi beragam jenis aktiva dan klaim yang disajikan dalam nilai dolar dengan
daya beli yang berbeda.
 Akuntansi biaya historis kenvensional tidak mengukur pendapatan secara benar
akibat pencocokan dolar dari “ukuran” yang berbeda pada laporan laba rugi.
 Akuntansi tingkat harga umum relatif mudah untuk diterapkan.
 Akuntansi tingkat harga umum memberikan informasi yang relevan bagi
manajemen dan penggunanya.
2. Argumentasi yang menentang akuntansi tingkat harga umum
 kebanyakan studi-studi empiris menunjukkan bahwa kaitan informasi
tingkat harga umum itu lemah atau tak berterima umum.
 Perubahan tingkat harga umum hanya meperhitungkan perubahan pada
tingkat harga umum dan tidak memperhitungkan perubahan yang
terjadi pada tingkat harga yang khusus.
 Dampak inflasi akan berbeda-beda antar perusahaan.
 Biaya pengimplementasian akuntansi tingkat harga umum dapat
melebihi keuntungannya.
THANK YOU