Anda di halaman 1dari 23

HAIR FALLS AND HAIR LOSS

Disusun oleh:
Ika Aulia R. 1706007463
Varda Arianti 1706125336
Hair

(Kishimoto, dan Nakazawa, 2017)


(Draelos, 2005)
Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan
Rambut
Hormon : androgen,
estrogen, tiroksin,
kortikosteroid
Gen : IL-1 α , FGF, Nutrisi : air, protein, vitamin
EGF, KGF, IGFBP-3 , A, E, B kompleks, C,
dll Yodium, Zat besi, sistein

Obat vaskularisasi

Peradangan sistemik
atau setempat
(Slobodan M. Jankovic dan Snezana V. Jankovic, 1998; Depkes
RI, 185; Soepardima, 2010)
• Kerontokan pada fase Telogen :
PERMASALAHAN kerusakan rambut akut, episodik
PADA RAMBUT atau kronik.
• Anagen : radiasi atau obat yang
Kerontokan berpengaruh
pembelahan sel
terhadap
keratinosit
merata diakibatkan
pertumbuhan rambut.
gangguan

• Alopesia andogenetika pada


perempuan,
• Kelainan batang rambut.

• akibat infeksi; trauma;


Kerontokan kerusakan batang
rambut; dan alopesia
setempat androgenetika pada
laki-laki.

(Soepardiman, Lily dan Lili Legiawati. 2017.)


ANAGEN EFFLUVIUM (AE)
 Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut yang berkisar lebih dari 120
helai per hari. Anagen effluvium adalah kerontokan yang terjadi ketika
folikel rambut berada dalam fase aktif siklus pertumbuhannya, yakni fase
anagen.
 Anagen efluvium dapat disebabkan oleh zat apapun yang mempengaruhi
aktivitas mitosis folikel rambut. Penyebab tersering adalah obat sitostatika
pada kemoterapi dan radiasi.

(Satriyo dkk, 2011)


TELOGEN EFFLUVIUM (TE)
 Telogen effluvium (TE) adalah kerontokan rambut dalam fase
telogen tanpa peradangan yang ditandai dengan kerontokan rambut
yang difus, rambut dalam fase telogen yang terlepas lebih banyak
dari normal (150–400 helai perhari), pada waktu menyisir,
menyikat, atau mencuci rambut.

(Sarah Hutapea dkk, 2011)


Alopesia Androgenetik
Alopesia androgenetik, pemendekan fase anagen dan
miniaturisasi folikel rambut sensitif terjadi sehingga
menghasilkan konversi rambut terminal tipis menjadi
bulu vellus halus. Enzim 5 -reductase type-2 memainkan
peran sentral dengan konversi testosteron intra-folikuler
ke di-hydrotestosterone

Perez-Ornelas V., et al, 2005).


Alopesia Areata (AA)
 Kebotakan yang terjadi setempat dan berbatas tegas, umumnya
terdapat pada kulit kepala, tetapi dapat juga mengenai daerah
berambut lainnya. Sebanyak 1-2% kasus dapat menjadi alopesia totalis
atau alopesia universalis.
 Faktor genetik diduga merupakan penyebab, tetapi biasanya
bersamaan dengan penyakit inflamasi lainnya. Alopesia areata
didahului dengan adanya peningkatan rambut telogen dan diantaranya
rambut tersebut distropik. Dijumpai rambut seperti tanda seru, yaitu
berupa rambut gada yang menyempit di bawah dan mudah lepas.
Folikel anagen pada area ini menunjukkan inflamasi peribulbar. Pada
lesi awal, terjadi pengecilan ukuran dari folikel bagian bawah.

(Soepardiman, Lily dan Lili Legiawati. 2017.)


Kerontokan Rambut pada Kehamilan
 Kerontokan rambut yang paling umum pada wanita
pramenopause adalah defisiensi nutrisi zat besi. Kehamilan
adalah salah satu alasan untuk rambut rontok. Dalam keadaan
ini, rambut lebih tebal di tengah kehamilan karena
berkembangnya estrogen yang meluas.

 Setelah melahirkan, kadar estrogen turun kembali ke tingkat


biasa, dan jumlah rambut ekstra turun. Keadaan yang sama
terjadi pada wanita yang mengonsumsi obat yang menstabilkan
clomiphene.

(Tyagi, 2016).
Kerontokan Rambut Akibat ES Obat
 Berberapa obat mempengaruhi folikel anagen dengan
dua proses yang berbeda: mengendapkan folikel
menjadi istirahat dini/premature rest (telogen
effluvium) atau memicu penghentian aktivitas mitosis
secara tiba-tiba dengan cepat membelah sel matriks
rambut (anagen effluvium).
 Antikoagulan, retinol, interferon, obat antihilperidemia
hanya beberapa contoh obat yang dapat menginduksi
telogen effluvium.

(Tyagi, 2016).
(Patel et al., 2015)
Terapi Konvensional
Minoxidil (Rogaine): derivat piperidinopirimidin yang merupakan vasodilator untuk
pengobatan hipertensi. Minoxidil digunakan secara topikal untuk mengembalikan pertumbuhan
rambut pada alopesia areata, alopesia totalis, alopesia universal, dan alopesia androgenetik.
Terapi topikal minoxidil efektif untuk menstimulasi pertumbuhan kembali rambut pada bagian
verteks kepala.
Mekanisme kerjanya belum diketahui, namun diduga dapat memperbaiki ukuran
diameter dan proliferasi folikel rambut, memperpanjang durasi fase anagen, vasodilator untuk
meningkatkan aliran darah ke folikel rambut, dan juga menurunkan produksi sel T, sehingga
pertumbuhan rambut dapat kembali normal. Minoxidil dapat digunakan baik oleh pria maupun
wanita.
Dosis topikal yang digunakan adalah larutan 5% atau 2% setiap hari selama dua sampai empat
bulan. Bila penggunaan dihentikan, maka rambut yang baru tumbuh akan gugur kembali.
Efek samping yang ditimbulkan akibat penggunaan minoxidil secara topikal adalah alergi pada
kulit, sakit kepala, vertigo, lemas, dan edema (McEvoy, 1999).
Finasterid (Propecia) digunakan secara oral untuk menstimulasi
pertumbuhan rambut pada pria yang mengalami alopecia androgenetik.
Mekanisme kerjanya menekan kerja enzim 5α-reduktase tipe II yang
mengubah testosteron menjadi bentuk aktifnya dihidrotestosteron (DHT).
Produksi DHT yang berlebih dapat menyebabkan kebotakan.
Dosis oral yang digunakan adalah 1 mg/hari selama 3 bulan atau lebih
tergantung kebutuhan pemakaian.
Finasterid hanya efektif digunakan oleh penderita alopesia androgenetik
yang disebabkan oleh gangguan sistem hormonal. Finasterid tidak boleh
digunakan pada wanita dan anak – anak, karena dapat menyebabkan
keracunan pada wanita selain itu juga pada wanita hamil dapat menyebabkan
abnormalitas pada organ genital eksternal janin laki – laki yang dikandung
(McEvoy, 1999).
Iritan non spesifik ; Senyawa iritan yang telah diuji secara
klinis untuk pengobatan AA adalah ditranol. Ditranol
merupakan senyawa antron yang mempunyai efek terhadap
psoriasis.
Mekanisme kerja ditranol terhadap pengobatan AA belum
diketahui, namun berdasarkan penelitian ditranol
memberikan respon positif pada 25% penderita AA

(Rook and Dawber, 1991).


Inhibitor sistem imunitas : Kortikosteroid merupakan obat imunosupresor
dengan mekanisme kerja menghambat produksi interleukin 1, interleukin 2,
dan interferon tipe gamma. Terdapat tiga jenis kortikosteroid untuk
pengobatan AA yaitu kortikosteroid sistemik, topikal dan intra-lesional.

Kortikosteroid sistemik akan mengembalikan pertumbuhan rambut secara


normal pada berbagai kasus AA. Kortikosteroid sistemik yang biasa digunakan
adalah kortison. Rambut akan mengalami repigmentasi dan penebalan batang
rambut. Untuk mengurangi efek yang berbahaya dari penggunaan
kortikosteroid sistemik, maka digunakan kombinasi dengan kortikosteroid
topikal dan intra-lesional.

Kortikosteroid topikal yang digunakan adalah fluosinolon dan halsinonid.

Kortikosteroid intra-lesional telah terbukti lebih efektif dalam meningkatkan


pertumbuhan rambut pada penderita AA dan juga dapat meningkatkan
pertumbuhan rambut alis bagi penderita alopecia totalis. Atropi merupakan
komplikasi yang dapat terjadi pada penggunaan kortikosteroid intra- lesional
dan biasanya terjadi pada daerah injeksi.

(Rook and Dawber, 1991).


Terapi Herbal
DAFTAR PUSTAKA
a. A. Rook and R. Dawber, “Diffuse Alopecia: Endocrine, Metabolic and Chemical Influences on the Follicular Cycle,”
Blackwell Science Publications, Oxford, 1982.

b. A. Tosi, C. Misciali, B. M. Piraccini, A. M. Peluso and F. Bardazzi, “Drug-Induced Hair Loss and Hair Growth.
Incidence, Management and Avoidance,” Drug Safety, Vol. 10, No. 4, 1994, pp. 310-317. doi:10.2165/00002018-
199410040-00005.

c. Depkes RI, 1985, Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

d. J. Kishimoto, Y. Nakazawa, 2017, Hair Physiology (Hair Growth, Alopecia, Scalp Treatment, etc.), in “Cosmetic
Science and Technology: Theoretical Principles and Applications” http://dx.doi.org/10.1016/B978-0-12-802005-
0.00048-3, Elsevier

e. McEvoy, G. K. 1999. AHFS Drug Information 1999. American Society of Health Sytem Pharmacists, Inc. Bethesda.

f. Rook, A. and R. Dawber. 1991. Disease of The Hair and Scalp, 2nd ed. Blackwell Scientific Pub. London.

g. Sarah Hutapea dkk. 2011. Departemen/Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya. Vol. 23 No. 1 April 2011.

h. Satryo dkk. 2011. Efflivium Anagen. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit, FK UI/RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo.
Vol. 38.No.1 Tahun 2011: 41-48.

i. Soepardiman, Lily dan Lili Legiawati. 2017. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ketujuh (Cetakan keempat).
Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.